Abdul Rozak
Institut Seni Budaya Indonesia Aceh

Published : 18 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Kesenian Tulo-Tulo: Instrumentasi dan Bentuk Musik Abdul Rozak; Nadra Akbar Manalu; Haria Nanda Pratama
Grenek: Jurnal Seni Musik Vol 12, No 2 (2023): Grenek: Jurnal Seni Musik
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/grenek.v12i2.49625

Abstract

Kesenian Tulo-tulo diciptakan oleh masyarakat Nias yang bertransmigrasi ke Kota Sabang pada tahun 1920. Kesenian ini merupakan jenis seni pertunjukan kreasi yang mentradisi, dengan penyajiannya terdiri dari unsur gerak tarian, musik dan syair yang berisikan sastra. Keberadaan musik pada kesenian ini merupakan unsur yang penting dalam penyajiannya. Konsep penyajian yang ditinjau dari aspek organologi musik dan musikologi ini dapat dilihat dari instrumentasi musik, bentuk/form, dan melodi. Ketiga unsur ini kemudian diidentifikasi dan dianalisis menggunakan teori musik konvensional.  Tujuan dalam penelitian ini adalah dapat mengetahui dan mendeskripsikan secara terstruktur terkait instrumentasi, bentuk/form dan garis melodi mulai dari awal sampai akhir penyajian kesenian Tulo-tulo. Metode dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan teknik pengumpulan data: studi pustaka, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penyajian musik pada kesenian Tulo-tulo dibagi ke dalam tiga unsur yaitu penggunaan instrumen musik, bentuk/bagian lagu, dan transkripsi notasi melodi pokok. Instrumen yang dipakai adalah jenis instrumen melodis, harmonis, dan ritmis, sedangkan bentuk/form terdiri dari lima frase yang masuk dalam bagian besar.
Musical Phenomenon in the Traditional Art of Alee Tunjang in Aceh Surya Rahman; Berlian Denada; Abdul Rozak
Grenek: Jurnal Seni Musik Vol 12, No 2 (2023): Grenek: Jurnal Seni Musik
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/grenek.v12i2.49597

Abstract

Alee Tunjang is an art form originating from North Aceh Regency that consists of melodic and rhythmic music elements. The form of this art instrument is in the form of vocals that chant verses, and mortar beaten by alu/alee in the form of percussion rhythms with six sound colors. These two types of musical instruments form a distinctive musical fabric in the presentation of the performance, where melodic and rhythmic instruments are played not only as the main melody and melodic musical accompaniment, but the two elements become inseparable, as evidenced by the musical fills of Alee Tunjang that alternate and complement each other. The purpose of this research is to analyze the musical phenomena found in the art of Alee Tunjang. The method in this research uses a qualitative approach, with data collection techniques: literature review, observation, interview, and documentation. Alee Tunjang's music is divided into three sections, namely: Saleum, Kisah, and Lani, which consists of one vocal player and five lesung players, each with a constant rhythm and repetition. The tempo and rhythm are similar in all parts of the Alee Tunjang song/chapter. The difference in rhythm and cadence is found in the lesung 4th instrument which plays the tung sound color by playing a pattern on a different weak beat in each part of the song/chapter of Alee Tunjang.
ORGANOLOGI INSTRUMEN MUSIK ALEE TUNJANG Berlian Denada; Abdul Rozak; Surya Rahman
DESKOVI : Art and Design Journal Vol. 7 No. 1 (2024): JUNI 2024
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v7i1.16538

Abstract

Alee Tunjang sebagai salah satu kesenian tradisi masyarakat Aceh yang mengandung unsur musik di dalamnya. Seiring berkembangnya zaman, keberadaan Alee Tunjang saat ini sangat jarang ditemukan. Pertunjukan kesenian ini hanya ditemukan pada beberapa wilayah di Kabupaten Aceh Utara. Alee Tunjang dimainkan dengan teknik memukulkan Alu ke dalam lesung, sehingga memunculkan warna suara yang khas. Alee Tunjang biasanya ditampilkan secara berkelompok dengan seorang syeh yang berperan sebagai vokal yang menyanyikan syair dengan menggunakan Bahasa Aceh. Dalam proses pelestarian Alee Tunjang perlu adanya dukungan dari pemerintah dan masyarakat sekitar. Selain pengenalan pada cara bermain, perlu adanya upaya memproduksi instrumen musik kesenian Alee Tunjang. Dalam proses produksi, Alee Tunjang tidak lepas dari pengetahuan terkait deskripsi alat musik yang dipakai yang disebut sebagai organologi musik. Oleh sebab itu penulis membuat artikel ini guna menjelaskan struktur organologi musik dari Alee Tunjang agar mempermudah seniman dan masyarakat dalam upaya pengenalan terhadap instrumen musik tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pendekatan dalam penelitian ini yaitu pendekatan kualitatif. Pendekatan ini dipilih berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti dilakukan dengan cara berinteraksi langsung dengan pelaku kesenian dalam proses pengumpulan data terhadap objek. Hasil penelitian ini terkait dengan deskripsi instrumen musik yang dipakai pada kesenian Alee Tunjang serta teknik permainan pada kesenian Alee Tunjang dalam menghasilkan bunyi. Alee Tunjang is one of the traditional arts of the Acehnese people that contains musical elements in it. Along with the development of the times, the existence of Alee Tunjang is currently very rare. This art performance is only found in several areas in North Aceh Regency. Alee Tunjang is played by beating the pestle into the mortar, giving rise to a distinctive sound color. Alee Tunjang is usually performed in groups with a syeh acting as a vocalist who sings verses in Acehnese. The preservation of Alee Tunjang requires support from the government and the local community. In addition to introducing how to play, there needs to be an effort to produce Alee Tunjang musical instruments. In the production process, Alee Tunjang cannot be separated from knowledge related to the description of the musical instruments used, which is called music organology. Therefore, the author created this article to explain the structure of Alee Tunjang's music organology in order to make it easier for artists and the public to recognize the instrument. This research was conducted using a descriptive method with a qualitative approach. The approach in this research is a qualitative approach. This approach was chosen based on the research conducted by the researcher by interacting directly with the performers in the process of collecting data on the object. The results of this research are related to the description of the musical instruments used in the Alee Tunjang art and the playing techniques in the Alee Tunjang art in producing sound.
BENTUK PENYAJIAN TARI RAPAI GELENG INONG DI KABUPATEN ACEH SELATAN Nadra Akbar Manalu; Abdul Rozak; Haria Nanda Pratama
DESKOVI : Art and Design Journal Vol. 7 No. 1 (2024): JUNI 2024
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v7i1.16573

Abstract

ABSTRACT Tari Rapai Geleng Inong adalah sebuah tarian etnis yang cukup populer dikalangan masyarakat Aceh pesisir.  Dulunya masyarakat Aceh hanya mengenal tari Rapai Geleng yang hanya ditarikan oleh penari laki-laki, namun di Aceh Selatan tari Rapai Geleng tidak hanya ditarikan oleh laki-laki, tarian ini juga ditarikan oleh perempuan yang kemudia dinamakan tari Rapai Geleng Inong, dimana penambahan kata Inong sendiri memiliki arti perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang bagaimana bentuk penyajian tari Rapai Geleng Inong di Kabupaten Aceh Selatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan ialah: a) reduksi data, b) display data, dan c) pengambilan keputusan. Hasil penelitian Tari Rapai Geleng Inong dalam penyajiannya memiliki 7 babak yaitu: pembukaan, aleum (salam), tahlil ( Laa ilaha illahllah), ie la’ot (air laut), peuraho dayong (perahu dayung), kisah (baik kisah Rasul, Nabi, raja dan ajaran agama), dan lani (penutup). Dalam penyajiannya juga menggunakan rias panggung, busana dengan warna khas Aceh. Pola lantai yang digunakan dalam tari Rapai Geleng Inong adalah desain dan pola lurus, segitiga (piramit), melingkar (elips) dan seroang kanan depan. Alat musik yang digunakan adalah Rapai, dan tempat pertunjukkan  dilakukakan di tempat terbuka dan tertutup. This research aims to describe how the Rapai Geleng Inong dance is presented in South Aceh Regency. The Rapai Geleng Inong dance has 7 rounds, namely: opening, aleum (greeting), tahlil (Laa ilaha illahllah), ie la'ot (sea water), peuraho dayong (rowing boat), story (both the story of the Apostle, Prophet, king and teachings). religion), and lani (covering), the make-up used is make-up that is not too thick or excessive, the clothes used are always covered and do not reveal the private parts as recommended in the Islamic religion, and the color of the clothes is not specifically recommended but must refer to on typical Acehnese color elements. The floor patterns used in the Rapai Geleng Inong dance are straight, triangular (pyramit), circular (ellipse) and right-front designs and patterns. The musical instrument used is the Rapai, and the performances are held in open and closed places. This research uses a qualitative approach. The population of this research is the Rapai Geleng Inong dance artist in Samadua District. The subjects of this research were Rapai dance artist Geleng Inong, the community, and the South Aceh district government. Data collection was carried out using observation, interviews and documentation methods. The data analysis techniques used are: a) data reduction, b) data display, and c) decision making.  
Sosialisasi Penguatan Pemahaman Kampus Merdeka dalam Menyambut Merdeka Belajar-Kampus Merdeka Hasibuan, Arnawan; Siregar, Widyana Verawaty; Candrasari, Ratri; Andiko, Benny; Wijaya, Reza Sastra; Andeska, Niko; Rozak, Abdul; Sucipto, Fentisari Desti
Jurnal Solusi Masyarakat Dikara Vol 4, No 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Yayasan Lembaga Riset dan Inovasi Dikara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.13072720

Abstract

Pendidikan merupakan faktor utama dalam menentukan kemajuan suatu negara. Negara yang maju pasti memiliki sistem pendidikan yang unggul serta strategi yang baik dalam mempersiapkan generasi penerusnya. Kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) bertujuan untuk meningkatkan kompetensi lulusan, baik soft skills maupun hard skills, agar lebih siap dan relevan dengan kebutuhan zaman, serta mempersiapkan mereka menjadi pemimpin masa depan yang unggul dan berkepribadian. kegiatan pengabdian ini mencakup seminar, berbagi pengalaman, dan pendampingan. Materi yang disampaikan tentang kampus merdeka-merdeka belajar, berbagi pengalaman dari fakultas pemateri dalam menyiapkan dan merumuskan kurikulum kampus merdeka, serta memberikan pendampingan dalam penyusunan kurikulum. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini berlangsung pada 22 November 2023 di ruang Aula Institut Seni Budaya Indonesia Aceh. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh dosen di Institut Seni Budaya Indonesia Aceh. Kegiatan ini berhasil berjalan dengan lancar dan sukses. Para peserta dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dan memahami dengan baik materi yang disampaikan oleh pemateri, serta berpartisipasi dalam sharing pengalaman dan pendampingan dalam merumuskan kurikulum untuk program kampus merdeka-merdeka belajar.
Variabilitas Ritme Musikal Kesenian Alee Tunjang di Aceh Utara Rozak, Abdul; Denada, Berlian; Rahman, Surya
DESKOVI : Art and Design Journal Vol. 7 No. 2 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v7i2.16789

Abstract

Kesenian Alee Tunjang merupakan salah satu intrumen perkusi berjenis ritmis yang tergolong pada kelompok idiophone, artinya sumber bunyi yang berasal dari bahan alat musik tersebut. Dalam hal ini Alee Tunjang dipukul menggunakan alu yang dipukulkan ke dalam lesung. Dalam permainan musiknya, Alee Tunjang memiliki warna bunyi yang disusun ke dalam pola ritme yang identik, khas, dan teratur. Permainan pola ritme tersebut dikembangkan dengan pemakaian teknik interlocking. Permainan teknik tersebut dibangun oleh beberapa bentuk ritme yang terdiri dari repertoar tradisi. Sehingga kemudian akan menghasilkan jalinan musik yang teratur. Dengan demikian penelitian ini mencoba melakukan identifikasi dan mendeskripsikan variablitas bentuk permainan pola ritme musik pada kesenian Alee Tunjang di Aceh Utara. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui bentuk variabikitas bentuk permainan pola ritme musik pada kesenian Alee Tunjang di Aceh Utara. Metode yang digunakan yaitu kualitatif yang terdiri dari tahapan: studi Pustaka, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis berupa mengidentifikasi bentuk-bentuk teknik pengembangan ritme pada kesenian Alee Tunjang. Analisa data dilakukan dengan tahapan reduksi data, display data, dan analisis data. Hasil dari penelitian ini yaitu deskripsi terkait identifikasi variasi pola ritme dalam permainan musik Alee Tunjang. Variasi ritme tersebut kemudian diidentifikasi ke dalam bentuk permainan pola lesung dengan warna bunyi tung yang dimainkan oleh pemimpin yang disebut dengan syeh.
Diskografi Musik Berbasis Digital pada Pertunjukan Uroeh Rapai Pasee Rozak, Abdul; Rahman, Surya
Grenek: Jurnal Seni Musik Vol. 13 No. 2 (2024): Grenek: Jurnal Seni Musik
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/grenek.v13i2.63587

Abstract

Rapai Pasee merupakan sebuah seni pertunjukan perkusi tradisi berasal dari Kabupaten Aceh Utara yang dimainkan pada sebuah pertunjukan Uroeh, yaitu pertunjukan dua kelompok perkusi Rapai Pasee yang memiliki ciri khas unik pada teknik penyajian pertunjukannya, baik dari segi permainan ritme motif musik maupun sajian permainan tekniknya. Perkembangan dan pelestarian sebuah seni pertunjukan tradisi, khususnya Rapai Pasee, dapat dilakukan dengan diskografi yang merupakan upaya dalam katalogisasi rekaman suara berbasis digital dengan pengidentifikasian bentuk penyajian dalam musik tradisi yang kemudian diolah menggunakan media pengolahan rekaman musik dengan teknik live recording. Tujuan penelitian ini yaitu katalogisasi rekaman suara/musik (diskografi) secara digital terhadap pertunjukan Uroeh Rapai Pasee di Kabupaten Aceh Utara. Metode penelitian yang dilakukan menggunakan penelitian kualitatif, dengan pendekatan deskriptif dengan tujuan dapat menciptakan sebuah katalogisasi rekaman suara berupa salinan diskografi musik tradisi Uroeh Rapai Pasee, dengan tahapan pelaksanaan: pra lapangan, lapangan, pengolahan data, penyajian data, dan publikasi. Hasil penelitian ini berupa diskografi musik tradisional Rapai Pasee yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pembelajaran, apresiasi, dan pelestarian seni tradisional di Aceh. Dengan pendekatan berbasis teknologi, penelitian ini diharapkan menjadi model dalam mendokumentasikan seni tradisional secara digital.
Struktur Dramatik pada Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Pratama, Haria Nanda; Abdul Rozak; Manalu, Nadra Akbar
DESKOVI : Art and Design Journal Vol. 8 No. 1 (2025): Vol. 8 No.1 JUNI 2025
Publisher : Universitas Maarif Hasyim Latif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51804/deskovi.v8i1.16794

Abstract

Penelitian berfokus pada mengungkap struktur dramatik pada alur cerita film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang merupakan film hasil diadaptasi dari novel Buya Hamka. Dalam perspektif naratif, film ini membentuk susunan dari peristiwa yang saling berhubungan satu sama lainnya. Film ini mengisahkan tentang pertentangan kisah cinta Zainuddin disebabkan perbedaan strata sosial dan tekanan dari adat yang sangat kuat membuat hubungannya dengan Hayati mencapai akhir yang tragis. Pertentangan terhadap status sosial dan adat istiadat dalam isi cerita film ini merupakan puncak terjadinya konflik pada alur cerita hingga klimaks dan penyelesaian. Penelitian ini menggunakan pendekatan strukturalisme meliputi exposition, complication, climax, reversal dan denoument. Penelitian ini dilakukan dengan metode analisis deskriptif yang menggunakan pendekatan kualitatif melalui tahapan studi literatur dan observasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa eksposisi memperkenalkan latar budaya Minangkabau dan karakter utama dengan konflik awal peristiwa. Komplikasi terjadi saat Hayati dijodohkan secara paksa dengan Aziz seorang pria kaya yang nantinya memperburuk hubungan antara Hayati dan Zainuddin. Klimaks mencapai puncaknya saat Zainuddin setelah menjadi penulis sukses dan menolak keberadaan Hayati karena dendam atas penolakan yang dia alami. Penutup cerita dengan rasa ikhlas Zainuddin atas takdir yang dialami dan memberikan penghormatan terakhir kepada cinta sejatinya. Struktur dramatik film ini efektif dalam membangun emosi, memperkuat tema universal tentang cinta, pengorbanan, dan kritik terhadap norma sosial dan budaya. Kajian ini juga menegaskan bahwa daya tarik narasi film memberikan informasi terkait pesan makna memalui aspek psikologi, aspek sosial dan aspek budaya.