Claim Missing Document
Check
Articles

APLIKASI PEMANFAATAN LIMBAH JAMBU BIJI MENJADI MOL SEBAGAI BIOAKTIVATOR PENGOLAHAN SAMPAH ORGANIK DI DESA PANYINGKIRAN Dini Widianingrum; Oki Imanudin; Abdul Kholik
BERNAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 2 No 4 (2021)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (680.344 KB) | DOI: 10.31949/jb.v2i4.1587

Abstract

Desa Panyingkiran Kecamatan Panyingkiran Kabupaten Majalengka merupakan sentra penghasil jambu biji merah. Limbah jambu biji merah merupakan sisa atau afkiran dari penjualan jambu biji merah karena memar, busuk, terlalu matang, ada ulatnya. Limbah jambu biji merah terdiri atas daging dan biji buah. Apabila dibiarkan akan menimbulkan polusi lingkungan, mengundang lalat, adanya bau yang tidak sedap, sehingga menimbulkan gangguan pernafasan bagi masyarakat. Hal ini sangat merugikan bagi masyarakat sehingga limbah jambu biji merah harus dimanfaatkan antara lain dijadikan MOL (mikroorganisme local) yang berfungsi sebagai bioaktivator pengolahan sampah organic. Tujuan pembuatan MOL jambu biji merah yaitu untuk pemanfaatan limbah jambu biji merah menjadi MOL, mendapatkan bioaktivator untuk mengolah sampah organic sehingga tercipta lingkungan masyarakat yang sehat, bersih, dan zero waste. Metode penyuluhan yang digunakan pada aplikasi pembuatan MOL dari jambu biji merah dilaksanakan secara demplot dan pembinaan yang terus menerus kepada karang taruna, masyarakat, pengepul dan petani jambu di Desa Panyingkiran selama 20 hari melalui pertemuan, diskusi, dan praktek pembuatan MOL. Hasilnya diperoleh MOL jambu biji merah yang baik dengan ciri fisik sebagai berikut warna coklat kehitaman, aroma khas MOL, berbentuk cair, tidak berjamur, dan tidak bau busuk. Kesimpulannya limbah jambu biji merah baik dijadikan MOL sebagai bioaktivator pengolahan sampah organic.
Pengolahan Limbah Peternakan Sapi Potong Menggunakan Bioaktivator Asal Limbah Rumah Tangga Organik sebagai Upaya Sanitasi Lingkungan di Kelompok Ternak Mulya Abadi Kertajati Majalengka Oki Imanudin; Dini Widianingrum; Aaf Falahudin
Media Kontak Tani Ternak Vol 2, No 3 (2020): Agustus
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mktt.v2i3.26929

Abstract

Kelompok Ternak Mulya Abadi merupakan kelompok usaha  ternak potong yang berlokasi di Dusun Kertamulia, Desa Mekar Jaya, Kecamatan Kertajati. Dua sampai empat ekor sapi potong dipelihara oleh para peternak kelompok ini sebagai mata pencaharian sampingan dari bertani. Pemeliharaan ternak bersifat intensif yaitu pola pemeliharaan sapi dengan cara dikandangkan. Pola pemeliharaan ini menghasilkan limbah peternakan sapi potong yang terkonsentrasi di sekitar kandang.  Di sisi lain, keluarga peternak pun menghasilkan limbah rumah tangga organik. Bila tidak ditangani dengan baik, kedua jenis limbah tersebut akan menjadi sumber pencemaran lingkungan yang berdampak pada kesehatan. Namun, limbah-limbah ini dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. Pengolahan limbah peternakan sapi potong dan limbah rumah tangga organik dapat dilakukan secara terpadu melalui teknik pengomposan dengan memanfaatkan limbah rumah tangga organik sebagai bioaktivator untuk mempercepat proses pengomposan, sehingga sanitasi lingkungan tetap terjaga sekaligus terciptanya peternakan yang ramah lingkungan dengan mengusung konsep zero waste. Pendekatan yang digunakan dalam kegiatan ini yaitu metode demplot dan pembinaan Kelompok Ternak Mulya Abadi dan ibu-ibu PKK Desa Mekar Jaya Kecamatan Kertajati secara berkala. Pembinaan dan pendampingan dilakukan secara kontinyu dalam kurun waktu 3 – 4  bulan, melalui pertemuan, diskusi dan praktek pemilahan limbah rumah tangga organik, pembuatan bioaktivator dan proses pembuatan kompos.
APLIKASI RANSUM BERBASIS ECENG GONDOK SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN PERFORMAN ENTOG DAN PENDAPATAN PETERNAK DI KELURAHAN TONJONG MAJALENGKA Dini Widianingrum; Oki Imanudin; Rachmat Somanjaya
BERNAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 3 No. 3 (2022)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (802.285 KB) | DOI: 10.31949/jb.v3i3.2425

Abstract

Muscovy duck is a meat-producing waterfowl that is mostly kept by the community, especially in rural areas. The high interest in raising muscovy duck is influenced by the fast growth, the meat is liked, and it is easy to maintain. Obstacles to raising muscovy duck include high consumption of muscovy duck rations so that production costs are also high. As a result, the income of farmers is reduced. The solution, among others, is to look for alternative feed ingredients that are cheap, easy to obtain, and do not compete with other livestock, for example water hyacinth. Water hyacinth is a plant that is easy to grow in water areas as weeds and waste from rice fields, fish ponds, and lakes. The use of water hyacinth as feed for mutton has various advantages, including high nutrient content, cheap, available, and environmentally friendly. The village of Tonjong Majalengka has the Cibudug river which flows all year round. The banks of the Cibudug river are very good for raising squid in the fish pond, which is overgrown with water hyacinth. Very good potential as a center for cattle breeding which is rich in feed sources. The purpose of community service is to apply water hyacinth-based rations as an effort to improve the performance of mutton and the income of farmers. The ingredients for the muscovy duck ration are water hyacinth and fine bran. Making rations using the square method. The method of community service is carried out by demonstration plots, counseling and continuous coaching for farmers and youth organizations in the Tonjong sub-district. Based on the results of the counseling, it was found that the goat breeders had the knowledge and practice of applying water hyacinth-based shrimp rations. In conclusion, water hyacinth is good to be used as a ration for muscovy duck.
PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG PUCUK INDIGOFERA DALAM RANSUM TERHADAP MORFOLOGI USUS ENTOG (Cairina moschata): The Effect of Addition of Indigofera Shoot Flour in the Ration on the Morphology of the Intestine of Muscovy duck Dini Widianingrum; Oki Imanudin; Abdul Jalil; Ali Nasyeh
Agrivet : Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian dan Peternakan (Journal of Agricultural Sciences and Veteriner) Vol. 9 No. 1 (2021): Juli
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (503.681 KB) | DOI: 10.31949/agrivet.v9i1.1186

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh penambahan tepung pucuk Indigofera (TPI) terhadap morfologi usus entog serta mendapatkan tingkat penggunaan Indigofera dalam ransum yang menghasilkan morfologi usus entog yang paling baik. Metode penelitian menggunakan metode eksperimental rancangan acak lengkap (RAL) 4 perlakuan ransum R0 (ransum + TPI 0%), R1 (ransum + TPI 5%), R2 (ransum + TPI 10%), dan R3 (ransum + TPI 15%) setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali. Sebanyak seratus ekor entog jantan umur 1 hari dipelihara sampai umur 12 minggu, dimasukkan ke dalam 20unit kandang. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian TPI dalam ransum memberikan pengaruh yang nyata terhadap performan entog. Ransum yang diberi TPI 10% menghasilkan performan entog jantan yang paling baik. Hal ini didukung oleh data berikut berat total usus halus 24,13 g, berat duodenum 29,47%, berat jejenum 41,59%, dan berat ileum 28,93%. Kesimpulannya penambahan Indigofera dalam ransum dapat meningkatkan morfologi usus entog.
Analisis Usaha Ayam Ras Petelur dengan Sistem Kandang Berbeda di PT. As Putra Group Kuningan Ulfa Indah Laela Rahmah; Triasih Triasih; Oki Imanudin
Bulletin of Applied Animal Research Vol 4 No 2 (2022): Bulletin of Applied Animal Research
Publisher : LPPM Perjuangan University of Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/baar.v4i2.1073

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di PT. AS Putra Group Kuningan, mulai tanggal 8 Maret sampai dengan 10 April 2021. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui analisis usaha ayam ras petelur dengan sistem kandang berbeda yaitu kandang sistem open house dan sistem close house. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dibantu dengan kuesioner. Berdasarkan hasil penelitian di PT. AS Putra Group Kuningan selama satu periode produksi (14 bulan) pendapatan usaha sistem close house Rp 8.251.431.862 dengan skala usaha 92.000 ekor daripada sistem open house Rp 4.139.136.605,15 dengan skala usaha 57.000 ekor atau keuntungan per ekor pada kandang close house sebesar Rp 89.689 > Rp 72.616 pada kandang open house. Berdasarkan hasil perhitungan dari dua sistem pemeliharaan didapat nilai R/C rasio kandang close house sebesar 1,30 > 1,23 pada kandang open house, B/C rasio kandang close house sebesar 0,30 > 0,23 pada kandang open house, BEP produksi pada kandang close house sebesar 1.294.538,7 kg dan 847.897,5 kg pada kandang open house, BEP harga pada kandang open house sebesar Rp 17.622,2 > Rp 17.552,6 pada kandang close house dan PP kandang open house sebesar 2,2 periode yaitu 30,8 bulan < 2,65 periode atau 37,1bulan pada kandang close house. Meskipun kandang close house lebih lama 6,3 bulan PP nya namun karena umur ekonomisnya lebih lama (20 tahun) dibandingkan open house (10 tahun) maka kandang close house lebih menguntungkan. Dari hasil analisis maka dapat disimpulkan bahwa usaha ayam ras petelur di PT. AS Putra Group Kuningan lebih menguntungkan dengan sistem close house.
Pemanfaatan Limbah Kol sebagai Bahan Pakan Sumber Serat Kasar dalam Ransum Entog Dini Widianingrum; Rachmat Somanjaya; Oki Imanudin
BERNAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (684.729 KB) | DOI: 10.31949/jb.v4i1.3887

Abstract

Entog merupakan unggas air yang banyak dipelihara di pedesaan sebagai sumber protein hewani bagi masyarakat dan sebagai sumber pendapatan bagi peternak. Kol dibutuhkan untuk menunjang kecepatan pertumbuhannya entog yang memerlukan pakan yang cukup banyak, berlimpah, harganya murah, dan cukup kandungan nutrientnya terutama serat kasar. Kol merupakan tanaman yang banyak digunakan oleh manusia untuk dibuat makanan, tetapi mudah busuk, sehingga menghasilkan limbah yang bau dan mencemari lingkungan. kondisi ini sangat berbahaya, sehingga limbah kol harus dimanfaatkan, antara lain untuk pakan entog. Tujuan kegiatan yaitu memanfaatkan limbah kol untuk pakan ternak. Metode penyuluhan dilakukan dengan cara ceramah, diskusi, dan demplot dengan peserta peternak entog di Kecamatan Cigasong selama 30 hari. Monitoring evaluasi dilakukan dengan pembinaan yang berkesinambungan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peternak sangat tertarik dengan pemanfaatan limbah kol untuk ransum entog. Hasil pretest menunjukkan 5% peternak yang sudah mengetahui pemanfaatan limbah kol untuk ransum entog. Hasil posttest menunjukkan bahwa 100% peternak tertarik untuk menerapkan pemanfaatan limbah kol untuk ransum entog.  Kesimpulannya peserta memahami dan tertarik menerapkan pemanfaatan limbah kol menjadi ransum entog dengan baik.
Meningkatkan Persepsi Remaja Terhadap Susu Melalui Edukasi Kandungan Gizi Susu di Kabupaten Majalengka Lili Adam Yuliandri; Ulfa Indah Laela Rahmah; Dini Widianingrum; Rachmat Somanjaya; Oki Imanudin; Aaf Falahudin
BERNAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.495 KB) | DOI: 10.31949/jb.v4i1.4329

Abstract

Susu merupakan bahan pangan yang mempunyai gizi lengkap. Susu perlu dikonsumsi secara teratur demi peningkatan kualitas gizi masyarakat, terutama remaja. Tingkat konsumsi susu per kapita masyarakat Indonesia sebesar 16,23 liter/kapita/tahun masih tergolong rendah di Asia Tenggara. Beberapa tahun belakangan ini, minum kopi, minuman coklat, susu, atau minuman berbahan dasar susu di cafe menjadi tren di hampir sebagian besar kalangan remaja. Permasalahan yang muncul dilapangan adalah intensi atau niat remaja datang ke café dan mengkonsumsi susu atau minuman berbahan dasar susu adalah untuk kesenangan. Remaja belum memahami pentingnya minum susu untuk tumbuh kembang tubuhnya dan alasan kesehatan Tujuan dari Kegiatan ini adalah untuk memberikan edukasi dan meningkatkan persepsi dan pemahaman remaja terhadap kandungan gizi yang terdapat dalam susu. Metode dalam kegiatan ini adalah metode edukasi, diskusi interaktif dan tanya jawab. Hasil kajian menunjukan bahwa remaja mengetahui manfaat dan kandungan gizi yang terdapat dalam susu yang baik untuk Kesehatan meski tidak mendalam. Bagi remaja, minum susu belum menjadi kebiasaan dan dikonsumsi secara teratur.
Aplikasi Probiotik Heryaki pada Pembuatan Silase di Peternakan Kambing Perah Salman Farm Dini Widianingrum; Rachmat Somanjaya; Oki Imanudin; Aaf Falahudin; Lili Adam Yuliandri; Yogi Kriskenda
BERNAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 3 (2023)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jb.v4i3.6132

Abstract

Peternak kambing perah menginginkan produksi susu yang tinggi dan efisiensi pakan yang baik. Pengawetan hijauan pakan dalam bentuk silase bertujuan untuk meningkatkan produksi susu dan efisiensi pakan. Pelatihan pembuatan silase di peternakan kambing perah Salman Farm bertujuan untuk menambah wawasan dan pengalaman peternak dalam pengawetan hijauan dengan kata lain beternak kambing perah tanpa ngarit. Sebelum kegiatan ini berlangsung peternak sudah pernah membuat silase, sehingga peternak sudah memiliki pengetahuan dasar pembuatan silase. Sebelumnya, peternak membuat silase selama 21 hari, sedangkan dalam pelatihan ini hanya 7 hari, karena menggunakan probiotik Heryaki. Peternak belum pernah melakukan pembuatan silase menggunakan probiotik Heryaki. Pelatihan dilakukan di peternakan kambing perah Salman Farm yang diikuti oleh 75 peternak dan penyuluh pertanian yang berasal dari kabupaten Majalengka, Kuningan, Sumedang, dan Bandung. Metode pelatihan dilakukan melalui ceramah pemaparan materi mengenai pengawetan hijauan pakan dan pembuatan silase yang diselingi dengan diskusi, kemudian dilengkapi dengan praktek pembuatan silase. Kegiatan pelatihan diakhiri dengan evaluasi berupa sesi diskusi serta pembagian kuesioner. Berdasarkan hasil pre-test didapatkan bahwa 65% peserta pelatihan belum mengetahui bahwa terdapat pengawetan hijauan pakan berbentuk silase, namun 46,67% peserta pelatihan belum mengetahui cara pembuatan silase dan 73,33% peserta pelatihan tidak mempunyai pengalaman dalam pembuatan silase. berdasarkan posttest 100% peserta memahami pembuatan silase dan 100% peserta tertarik menggunakan probiotik Heryaki. Kesimpulannya setelah mengikuti pelatihan ini, 100% peserta pengetahuan dan keterampilannya dalam membuat silase.
Peningkatan performan entog dengan pemberian ransum komplit berbasis batang pisang Dini Widianingrum; Iwan Setiawan; Oki Imanudin; Rachmat Somanjaya
Agrivet : Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian dan Peternakan (Journal of Agricultural Sciences and Veteriner) Vol. 11 No. 1 (2023): Juni
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/agrivet.v11i1.5738

Abstract

Muscovy duck was in demand by breeders because of easy maintenance, fast growth, and quick yielding. But muscovy ducks have a high level of ration consumption, resulting in high production costs. An alternative solution used cheap, abundant, and good feed nutrient ingredients, including banana stems. The objective of the research was to obtain the best performance of muscovy duck served a complete ration based on banana stems. The method used was an experimental method with a completely randomized design to 100 ducks with 5 treatments and 4 replication P0 (ration without (0%) banana stems), P1 (ration containing 25% banana stems), P2 (ration containing 50% banana stems), P3 (ration containing banana stems 75%), and P4 (85% banana stems). Maintenance of muscovy duck started from 4 to 12 weeks of age. The variables observed were ration consumption, body weight, and ration conversion. The results showed that the muscovy duck which was served a complete ration containing 50% stems showed the best musk performance, including ration consumption of 31,42+0,00 kg, daily ration consumption 52,37+0,00 gram/day, bodyweight of 24,27+0,00 kg, body weight gain 40,46+0,01 gram/day and ration conversion of 1.29+0,00. In conclusion, the best complete muscovy duck ration contains 50% banana stems.
Pelatihan Penerapan Teknologi Pengawetan Hijauan Pakan Pada Peternak Ruminansia di Kecamatan Cingambul Kabupaten Majalengka Rachmat Somanjaya; Dini Widianingrum; Oki Imanudin; Aaf Falahudin; Lili Adam Yuliandri; Ulfa Indah Laela Rahmah
BERNAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2023)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jb.v4i4.6571

Abstract

Kesulitan untuk mendapatkan hijauan pakan disaat musim kering merupakan masalah klasik bagi para peternak ruminansia konvensional. Sosialisasi dan pelatihan teknologi pengawetan hijauan pakan diharpkan dapat menjadi solusi untuk memecahkan permasalahan tersebut. Tujuan dari pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah mentransformasi pola penyediaan pakan konvensional melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam penerapan teknologi pengawetan hijauan pakan. Kegiatan dilakukan pada Bulan Juli 2023 pada peternak ruminansia yang berdomisili di Desa Cikondang, Kondang Mekar dan Muktisari di Wilayah Kecamatan Cingambul Kabupaten Majalengka. Pelatihan disampaikan melalui metode penyuluhan dan praktek. Hasilnya menunjukan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan dan keterampilan pada masyarakat peternak dalam upaya mengatasi kekurangan hijauan pakan disaat musim kering dan mampu mempraktekan cara pengawetan hijauan pakan dengan baik. Dapat disimpulkan bahwa kegiatan pengabdian kepada masayarakat ini memilki nilai manfaat dan tingkat keterserapan teknologi yang cukup tinggi.