Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

KESANTUNAN BERBAHASA SEBAGAI IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER PADA PEMBELAJARAN DI SMP PGRI 2 WATES KABUPATEN BLITAR: KAJIAN SOSIOLINGUISTIK ALIH KODE DAN CAMPUR KODE Muhammad Aditya Wisnu Wardana; Kundharu Saddhono; Raheni Suhita
Jurnal Pendidikan Sosiologi Undiksha Vol. 5 No. 1 (2023): Jurnal Pendidikan Sosiologi Undiksha
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembelajaran di sekolah tidak terlepas dari adanya alih kode dan campur kode yang berkaitan dengan kesantunan berbahasa di sekolah sebagai implementasi pendidikan karakter. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan menggunakan teknik rekam, teknik catat, teknik simak libat bebas, dan teknik wawancara. Lokasi penelitian berada di SMP PGRI 2 Wates sebagai, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur, sebagai sekolah sasaran dalam program Kampus Mengajar 4 Tahun 2022. Sumber data dalam penelitian ini adalah peristiwa tutur atau komunikasi antara guru dan siswa kelas VII, VIII, dan IX di SMP PGRI 2 Wates. Hasil penelitian yang diperoleh dalam pembelajaran di SMP PGRI 2 Wates terdapat alih kode dan campur kode dalam pembelajaran di kelas dengan menggunakan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia, penggunaan bahasa Jawa kepada guru siswa sudah mampu menggunakan Jawa Krama sehingga terdapat pengaruh terhadap kesantunan berbahasa sebagai implementasi pendidikan karakter dan penguatan profil pelajar Pancasila. Fungsi kesantunan berbahasa berupa unggah-ungguh berbahasa Jawa terhadap siswa kepada guru membuat interaksi yang terjadi saat pembelajaran menjadi lebih menyenangkan serta nyaman, selain itu keakraban guru dan siswa mampu terjalin dengan adanya aspek alih kode dan campur kode dalam pembelajaran di kelas. Pengaruh kesantunan berbahasa dalam pembelajaran di SMP PGRI 2 Wates tidak terlepas dari budaya Jawa masyarakat Wates yang masih melekat dengan unggah-ungguh Jawa untuk menghormati orang yang lebih tua atau orang yang dihormati dalam kesantunan berbahasa Jawa.
Merti Desa Tradition As The Local Wisdom of The Java Community in Indonesia Kundharu Saddhono; Raheni Suhita; Titi Setyoningsih
Edukasi Islami : Jurnal Pendidikan Islam Vol 11, No 02 (2022): Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/ei.v11i02.5034

Abstract

Suruhan Hamlet, Rogomulyo Village is an area in Central Java, precisely in Kaliwungu District, Semarang Regency. People in this region continue to preserve traditions, one of which is the Merti Desa tradition. This research was conducted to determine (1) the meaning of the Merti Desa tradition (uborampe, art performance) for the residents of Suruhan Hamlet, Rogomulyo Village; (2) the differences between the Merti Desa and the other traditions intended to pray for the ancestors in the same area, and their comparison with other regions; (3) the community's efforts in maintaining the Merti Desa tradition. This study employed a qualitative method involving a phenomenology approach. It focused on community activities in carrying out a tradition. The data were collected through journals, news articles, field observations, and interviews. The findings indicated that the people of Suruhan Hamlet, Rogomulyo Village preserved the Merti Desa tradition as local wisdom aimed to express public gratitude to God Almighty. Besides, several other traditions were also being preserved, including the Nyadran, to express gratitude and pray for the ancestors. The implementation of the Merti Desa tradition contained many values or meanings in each of its stages.
Sanggring Tradition as A Symbol of Religiosity of The Community of Java Indonesia : Regional Cultural Exploratory Studies Raheni Suhita; Kundharu Saddhono; Sri Hastuti; Nela Rizqiya Fitri
Edukasi Islami : Jurnal Pendidikan Islam Vol 11, No 02 (2022): Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/ei.v11i02.5033

Abstract

Sanggring is a food served every 23rd of Ramadan at the Jami' Sunan Dalem Mosque in Gumeno Village, Gresik Regency, as a joint iftar menu. The Sanggring tradition is unique and still exists today. Thus, researchers considered it essential to be studied further. This research focused on three issues, as stated in the problem formulation: The history of the Sanggring tradition in Gumeno Village, the implementation process, and symbols of religiosity, values, and functions. In the present study, researchers employed a qualitative research method. The findings revealed that the tradition of fast-breaking with the Sanggring menu was encouraged by Sunan Dalem's illness while doing da'wah (inviting or calling people to embrace Islam) in Gumeno Village, which was later reinforced by the community's magical experiences and beliefs. In the life of the local community, the Sanggring was initially an expression of gratitude for the recovery of Sunan Dalem. Nowadays, its functions have developed into social, cultural, and political.
Sanggring Tradition as A Symbol of Religiosity of The Community of Java Indonesia : Regional Cultural Exploratory Studies Raheni Suhita; Kundharu Saddhono; Sri Hastuti; Nela Rizqiya Fitri
Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 11 No. 02 (2022): Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/ei.v11i02.5033

Abstract

Sanggring is a food served every 23rd of Ramadan at the Jami' Sunan Dalem Mosque in Gumeno Village, Gresik Regency, as a joint iftar menu. The Sanggring tradition is unique and still exists today. Thus, researchers considered it essential to be studied further. This research focused on three issues, as stated in the problem formulation: The history of the Sanggring tradition in Gumeno Village, the implementation process, and symbols of religiosity, values, and functions. In the present study, researchers employed a qualitative research method. The findings revealed that the tradition of fast-breaking with the Sanggring menu was encouraged by Sunan Dalem's illness while doing da'wah (inviting or calling people to embrace Islam) in Gumeno Village, which was later reinforced by the community's magical experiences and beliefs. In the life of the local community, the Sanggring was initially an expression of gratitude for the recovery of Sunan Dalem. Nowadays, its functions have developed into social, cultural, and political.
Merti Desa Tradition As The Local Wisdom of The Java Community in Indonesia Kundharu Saddhono; Raheni Suhita; Titi Setyoningsih
Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 11 No. 02 (2022): Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/ei.v11i02.5034

Abstract

Suruhan Hamlet, Rogomulyo Village is an area in Central Java, precisely in Kaliwungu District, Semarang Regency. People in this region continue to preserve traditions, one of which is the Merti Desa tradition. This research was conducted to determine (1) the meaning of the Merti Desa tradition (uborampe, art performance) for the residents of Suruhan Hamlet, Rogomulyo Village; (2) the differences between the Merti Desa and the other traditions intended to pray for the ancestors in the same area, and their comparison with other regions; (3) the community's efforts in maintaining the Merti Desa tradition. This study employed a qualitative method involving a phenomenology approach. It focused on community activities in carrying out a tradition. The data were collected through journals, news articles, field observations, and interviews. The findings indicated that the people of Suruhan Hamlet, Rogomulyo Village preserved the Merti Desa tradition as local wisdom aimed to express public gratitude to God Almighty. Besides, several other traditions were also being preserved, including the Nyadran, to express gratitude and pray for the ancestors. The implementation of the Merti Desa tradition contained many values or meanings in each of its stages.
Implementasi Modul Ajar Laporan Hasil Observasi Kurikulum Merdeka Bahasa Indonesia di Surakarta: Studi Kasus Colin Widi Widawati; Raheni Suhita; Muhammad Rohmadi
SEMINAR NASIONAL SOSIAL, SAINS, PENDIDIKAN, HUMANIORA (SENASSDRA) Vol 2, No 1 (2023): Implementasi kurikulum merdeka menuju transformasi pendidikan dalam mempersiapka
Publisher : SEMINAR NASIONAL SOSIAL, SAINS, PENDIDIKAN, HUMANIORA (SENASSDRA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berkontribusi dalam mendeskripsikan penerapan modul ajar materi laporan hasil observasi kurikulum merdeka mata pelajaran bahasa Indonesia di Surakarta. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui cara guru dalam menerapkan modul ajar yang dibuat pada kurikulum merdeka yang baru diterapkan. Data disajikan dan dianalisis menggunakan narasi deskriptif, studi kasus, analisis dokumen, dan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan pengimplementasian modul ajar pada materi laporan hasil observasi di sekolah yang merapkan kurikulum merdeka kategori mandiri berubah. Penggunaan modul ajar secara teori sudah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Namun, pada praktinya masih ada kegiatan pembelajaran yang melebihi batas waktu yang ditentukan. Hal tersebut mengakibatkan antara rencana dan praktik melebihi jam pembelajaran. Selain itu, modul ajar yang memuat pembelajaran berdiferensiasi belum dilakukan secara optimal. Praktiknya guru masih menggunakan metode pembelajaran yang sama pada murid yang karakteristik gaya belajarnya berbeda-beda. Keterbatasan buku teks yang dimiliki  cukup menjadi kendala dalam pelaksanaanya.