Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

PELIBATAN MASYARAKAT DALAM PENATAAN PERMUKIMAN KAMPUNG NELAYAN Diana Kristina; Wido Prananing Tyas
Jurnal Pengembangan Kota Vol 6, No 1: Juli 2018
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.22 KB) | DOI: 10.14710/jpk.6.1.35-44

Abstract

Kawasan Tambaklorok merupakan permukiman nelayan di Kota Semarang, yang rentan terhadap rob dan penurunan tanah. Laju penurunan tanah saat ini mencapai > 8 cm/tahun dan akan semakin parah. Sebagai satu-satunya permukiman nelayan dan masuk dalam deliniasi kawasan kumuh, pemerintah merencanakan program pembangunan berkonsep kampung nelayan. Program ini diharapkan mampu mengurangi permasalahan lingkungan serta meningkatkan perekonomian. Sebagai program yang direncanakan di kawasan yang sudah terbangun, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelibatan masyarakat dalam proses perencanaan serta preferensi masyarakat terhadap program kampung nelayan. Metode yang digunakan adalah explanatory sequential mixed methods. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak terlibat dalam proses perencanaan. Masyarakat tidak memiliki wadah untuk menyampaikan aspirasinya. Sebagian masyarakat nelayan memiliki preferensi yang berbeda dengan desain yang ditawarkan. Warga lebih memilih penataan kawasan dengan desain yang sederhana. Rekomendasi terkait dengan penelitian ini adalah perlunya bentuk-bentuk pelibatan masyarakat yang lebih banyak melibatkan masyarakat, di antaranya sosialisasi yang lebih intensif. Sudah ada sosialisasi namun perlu lebih ditingkatkan.
KAJIAN KONTRIBUSI UMKM BERBASIS RUMAH ECENG GONDOK MELALUI PENGGUNAAN INTERNET TERHADAP PENDAPATAN PELAKU USAHA DI KAWASAN RAWAPENING Onixtin Octarina Sianturi; Wido Prananing Tyas
Jurnal Pengembangan Kota Vol 6, No 2: Desember 2018
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (564.988 KB) | DOI: 10.14710/jpk.6.2.118-126

Abstract

Rawapening merupakan danau semi alami dengan luas 2.670 hektare yang terletak di 4 wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Ambarawa, Tuntang, Bawen dan Banyubiru. Sekitar 80% dari permukaan air di Rawapening ditumbuhi tanaman eceng gondok yang menyebabkan kondisinya semakin parah akibat penurunan daya tampung. Eceng gondok juga menyimpan potensi bagi upaya pengembangan ekonomi masyarakat melalui UMKM berbasis rumah. Meskipun kerajinan eceng gondok berbasis bahan alam dan cenderung tradisional, namun adanya dukungan internet dalam hal kemudahan komunikasi, transaksi jual beli, dan penyebaran informasi sehingga menarik untuk diteliti lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar kontribusi HBE eceng gondok di sekitar Rawapening berbasis internet terhadap pendapatan pelaku usaha. Penelitian ini dianalisis menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dan didukung oleh data kualitatif berdasarkan hasil wawancara. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kontribusi HBE terhadap pendapatan pelaku HBE non digital yaitu 75% dengan pendapatan Rp1.414.585. Berbeda kondisi, rata-rata kontribusi HBE terhadap pendapatan pelaku HBE digital yaitu 81% dengan pendapatan Rp5.162.500.
ANALISIS KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM PENGEMBANGAN USAHA MIKRO KECIL DAN MENENGAH (UMKM) BERBASIS RUMAH (HOME-BASED ENTERPRISES/HBE) DI KOTA SEMARANG, SURAKARTA, BOYOLALI, SALATIGA, DAN SURABAYA Wido Prananing Tyas; Onixtin Octarina Sianturi; Julius Kevin P H
Jurnal Pengembangan Kota Vol 8, No 1: Juli 2020
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.177 KB) | DOI: 10.14710/jpk.8.1.78-89

Abstract

Home based Enterprises (Usaha Rumah Tangga) yaitu usaha atau aktivitas yang dilakukan dengan menggunakan rumah/bagian rumah dan pekarangan untuk meningkatkan penghasilan keluarga. Perkembangan UMKM berbasis rumah tidak terlepas dari adanya peran pemerintah sebagai stakeholder dalam upaya pemberdayaan UMKM berdasarkan kebijakan dan program yang ada. Oleh karena itu, dibutuhkan analisis kebijakan yang merupakan suatu langkah penting dalam penentuan upaya yang akan dilaksanakan. Keberhasilan dalam kebijakan terhadap penyelesaian satu masalah tertentu sangat tergantung pada stakeholder yang terkait dan berperan langsung dalam pembangunan di wilayah perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan yang mendukung dalam pengembangan UMKM industri berbasis rumah (HBE) dalam meningkatkan usaha.  Melalui analisis ini, dapat dilihat identifikasi kebijakan pendukung dalam berkembangnya usaha. Adapun penelitian ini dilakukan melalui studi kasus 5 kota yaitu industri rumah tangga (IRT) yang berlokasi di Kota Salatiga, Kabupaten Boyolali, Kota Surakarta, Kota Semarang dan Kota Surabaya yang mewakili berbagai tipe industri berbasis rumah (home based industry) yaitu kecil/ tradisional, menengah dan besar/orientasi ekspor di kota kecil, menengah dan besar. Metode yang dilakukan adalah dengan membandingkan berbagai program  dalam mendukung keberadaan UMKM industri di 5 kota berdasarkan telaah dokumen serta FGD atau wawancara. Dokumen berupa kebijakan atau program pendukung UMKM dan FGD dilakukan dengan mengundang pemangku kebijakan terkait pengembangan UMKM serta pelaku usaha dari 4 kota di Propinsi Jawa Tengah tersebut. Hasil dari penelitian ini adalah peran pemerintah berperan dalam pengembangan UMKM industri berbasis rumah ini dengan berbagai program yamg telah dilakukan. Oleh karena itu, peran pemerintah menjadi salah satu kunci berkembangnya UMKM berbasis rumah.
ANALISIS KEBERLANJUTAN HOME BASED ENTERPRISE PENGOLAHAN SINGKONG DI KOTA SALATIGA Dwi Laras Lukitaningrum; Wido Prananing Tyas; Mohammad Muktiali
Jurnal Pengembangan Kota Vol 5, No 2: Desember 2017
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1041.005 KB) | DOI: 10.14710/jpk.5.2.166-180

Abstract

Home Based Enterprise (HBE) develepment of cassava processing in Salatiga City, especially in RW 2 and RW 11, Ledok Sub-district must be optimized and developed in a sustainable manner considering the contribution on social aspect, economic aspect, and region development. This study aims to determine the level of sustainability in HBE of cassava processing in internal factors based on assets analysis in sustainable livelihood approach which includes natural asset, physical asset, human asset, financial capital and social capital and also from external factors such as the availability of policy support in the development of cassava processing HBE at local government level. The method used is mix method with Rapid Appraisal Analysisi called RAP-HBE and kualitative descriptive. The study findings were obtained four (4) of the five (5) of assets in the category of sustainable enough to the value sustainability index consecutive financial capital (72.04), natural capital (67.97), human capital (66.86) and physical capital (53.97). While the social capital obtain the value of sustainability index low of 44.05 and in the category of less sustainable. While external factors such as support by government of Salatiga on the sustainability of HBE in general as well as business training, business assistance, the discussion of business, and others are already there, but HBE processing of cassava that is not a target of the implementation of the policy, so far the sustainability of HBE has not received direct support from the Government of Salatiga.
PEMANFAATAN TEKNOLOGI DAN INTERNET UNTUK PENGEMBANGAN UMKM BERBASIS RUMAH KERAJINAN ECENG GONDOK DI KLASTER KLINTING AMBARAWA Wido Prananing Tyas; Hadi Wahyono; Anita Ratnasari R.; Sariffudin Sariffudin; Julius Kevin Putra Hutama
Jurnal Pasopati : Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Pengembangan Teknologi Vol 2, No 3 (2020)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilatarbelakangi adanya perkembangan pelaku usaha kerajinan eceng gondok melalui klaster usaha yang mendatangkan peningkatan bagi rumah tangga. Perkembangan usaha ini dapat dibarengi dengan adanya penggunaan teknologi informasi juga dapat berdampak terhadap UMKM tersebut. Eksplorasi penggunaan teknologi dan informasi dalam UMKM berbasis rumah tangga sangat penting, karena sangat berpotensi untuk berkontribusi peningkatan ekonomi rumah tangga yang terlibat. Target kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah masyarakat di sekitar Rawapening Kecamatan Ambarawa, Kecamatan Banyubiru, Kecamatan Bawen, dan Kecamatan Tuntang umumnya, dan khususnya adalah anggota Klaster UMKM Klinting. Kegiatan ini dilakukan dengan melakukan sosialisasi melaluipemberian materi dari narasumber dari tim laboratorium pengembangan kotaserta diskusi untuk menjaring aspirasi/pendapat dari seluruh anggota atau peserta diskusi agarmemiliki rencana dan target ke depan berkaitan dengan usaha berbasis rumah yang dimulai dari rumah mereka masing-masing. Berdasarkan kegiatan pengabdian masyarakat ini, diketahui bahwa Klaster Klinting yang berada di sekitar Rawapening memiliki potensi untuk dikembangkan dengan memanfaatkan teknologi dan informasi yang dapat dilihat dari penggunaan website dan sosial mediauntuk pemasaran produknya.  
Dana Desa dan Status Desa di Provinsi Jawa Tengah Yulitasari Yulitasari; Wido Prananing Tyas
Journal of Regional and Rural Development Planning (Jurnal Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan) Vol. 4 No. 2 (2020): Journal of Regional and Rural Development Planning (Jurnal Perencanaan Pembangu
Publisher : P4W LPPM IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (381.326 KB) | DOI: 10.29244/jp2wd.2020.4.2.74-83

Abstract

Village Funds and Village Status in Central Java Province Year 2019 is the fifth year of implementation of village fund in Indonesia. At the beginning of its implementation in 2015, village funds were budgeted at IDR 20.8 trillion, which has increased to 3.5 times and reaching about IDR 70 trillion in 2019. This research is aimed to describe village funds and villages status in Central Java Province and the relationship between them. Data to be used are secondary data consisting of village funds and village status according to IDM year 2018 and 2019 in Central Java Province. The analyses used in this research are descriptive statistics and simple regression. Results show that village funds in Central Java Province increase about 14.7% in 2019 and there is an increase in the aggregate of village status. Regression analysis showed that changes in the amount of village funds did not significantly affect the change of village status in Central Java Province.
Tipologi Home-based Enterprises di Sentra Industri Makanan Olahan Bandeng Kota Semarang Berdasarkan Tiga Modal Sustainable Livelihood Izzah Khusna; Wido Prananing Tyas
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 11, No 2 (2022): Mei 2022
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Center for Milkfish Processed Food Industry are scattered in several areas, three of which are located in Semarang Barat, Gayamsari, and Semarang Utara districts which has the largest milkfish production and investment value in Semarang City. Inside, there are Home-based Enterprises (HBE) for milkfish processing with various characteristics. There are 3 main points indicated that the existence of HBE for milkfish processing is a potential that can be developed, including SMEs, culinary tourism, and thematic villages. To develop that, it is necessary to identify the character of each HBE unit in the three districts. This study aims to identify the typology of HBE at the Center for Milkfish Processed Food Industry in Semarang City to identify the characters and prerequisites for the development of HBE types by using 3 sustainable livelihood asets as the determinant of research variables. The results showed that there were 3 types of HBE which formed by 51 units. Small HBEs is a group that tends to have lower capabilities in natural, human, and financial capital than other types. Middle profile HBEs is a group identified with abilities in a higher educational background and broader marketing. High profile HBEs is a group with higher capabilities in natural, human and financial capital than other types, so that it is possible to have a more stable and sustainable livelihood.
Potensi Kerjasama Antar Daerah Kabupaten Agam dengan Kota Bukittinggi dalam Penyediaan Air Baku Andri Andri; Wido Prananing Tyas
Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota Vol 13, No 2 (2017): JPWK Vol 13 No 2 June 2017
Publisher : Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1235.448 KB) | DOI: 10.14710/pwk.v13i2.15829

Abstract

Agam Regency and Bukittinggi city are the two neighbouring regions and administratively adjoining territory. In order to improve drinking water services, Bukittinggi city has a lack of adequate raw water sources in its jurisdiction. Most of the raw water source used by Bukittinggi city today and the potential raw water sources are in the Agam Regency. Inter-regional cooperation is considered to overcome the problems of inequality between the raw water source between two regions. This study aims to explore and determine the potential of cooperation, stakeholder support and collaboration object capacity on inter-regional cooperation between Agam Regency and Bukittinggi city in providing the raw water supply. This research is using a Quantitative Methode, selection of sampling using a Snowbowling technique. The primary data were collected through questionnaires using Guttman Scale and Likert, the analyses were performed using scoring techniques and AHP. The analysis showed that the relationship between Agam and Bukittinggi in the raw water supply was dominated by a consulting relationship and the formal cooperation has not materialized. All stakeholders strongly supportted the inter-regional cooperation between Agam and Bukittinggi in the raw water supply. The differing views were appeared in seeing the benefits and challenges of cooperation. Utilization of raw water becomes a priority in inter-regional cooperation, meanwhile the raw water service system and the legality of cooperation are the two priorities aspects in the inter-regional cooperation. The availability of raw water sources which are alocated as the object of cooperation is sufficient to meet the current drinking water needs and the 20 years projected needs to come of Bukittinggi and the population needsin sub-districts in Agam Regency adjacent to Bukittinggi.
ANALISIS SEKTOR UNGGULAN KOTA LUBUKLINGGAU SEBAGAI KAWASAN STRATEGIS PROVINSI Rahmaliza; Wido Prananing Tyas
Jurnal Tata Kota dan Daerah Vol. 14 No. 2 (2022): Jurnal Tata Kota dan Daerah
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.takoda.2022.014.02.5

Abstract

Penetapan sektor unggulan pada Kota Lubuklinggau dilakukan untuk mengetahui sektor-sektor yang mendukung penetapan kawasan perkotaan Lubuklinggau sebagai kawasan strategis provinsi dari sudut kepentingan ekonomi. Metode penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan cara analisis sektor basis dengan metode Location Quotient (LQ) dan penentuan sektor unggulan dengan analisis Shift Share. Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 17 sektor PDRB terdapat 11 sektor basis di Kota Lubuklinggau yang didominasi oleh sektor jasa, namun berdasarkan analisis Shift Share ada tujuh sektor yang merupakan sektor unggulan yaitu jasa lainnya, jasa kesehatan,  real estat, penyediaan akomodasi dan makan minum, jasa perusahaan, perdagangan besar dan eceran serta transportasi dan pergudangan; tiga sektor potensial yaitu sektor pengadaan air; pengelolaan sampah, limbah dan daur ulang, kontruksi dan jasa pendidikan; empat sektor berkembang yaitu sektor pertambangan dan penggalian, industri dan pengadaan listrik dan gas, serta dua sektor tertinggal yaitu sektor pertanian, kehutanan, perikanan dan administrasi pemerintahan, pertanahan dan jaminan sosial. Sejalan dengan penetapan sebagai kawasan strategis provinsi hasil analisis dapat menjadi rekomendasi fokus pembangunan agar tepat sasaran dan meningkatkan daya saing ekonomi daerah. Dalam rangka optimalisasi tersebut penyerapan tenaga kerja dan penambahan jumlah penduduk juga perlu diperhatikan sebagai dasar dalam optimalisasi kinerja sektor ekonomi pada masa mendatang sehingga meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Kata kunci : Location quotient, shift share, Kota Lubuklinggau, kawasan strategis provinsi
Aspek Kualitas Rumah Subsidi Pada Program Rumah Murah Berdasarkan Perspektif Penerima Manfaat (Studi Kasus: Perumahan Subsidi Mutiara Hati Semarang) Bramantyo Bramantyo; Wido Prananing Tyas; Arvi Argyantoro
Jurnal Permukiman Vol 14 No 1 (2019)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2019.14.1-9

Abstract

Dilatarbelakangi oleh permasalahan kualitas rumah subsidi yang masih menjadi salah satu hambatan utama bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) untuk memperoleh rumah yang layak huni dan terjangkau, maka kajian ini bertujuan untuk menilai aspek kualitas rumah subsidi pada program Rumah Murah berdasarkan perspektif MBR sebagai penerima manfaat program. Kajian ini menggunakan studi kasus pada Perumahan Mutiara Hati di Kota Semarang, dimana data dikumpulkan melalui kuesioner terhadap 60 responden, dan dianalisis dengan deskriptif-statistik dan pembobotan. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa aspek kualitas rumah subsidi di lokasi studi kasus memperoleh bobot total 1.222 poin yang masuk kategori penilaian “cukup baik”, meski tingkat kepuasan yang didapatkan dari responden hanya 63,65%. Pembelajaran dari studi kasus yang dapat ditarik untuk merepresentasikan kondisi rumah subsidi secara umum pada program Rumah Murah di Indonesia, yaitu mengenai rendahnya kualitas rumah subsidi terkait dengan kondisi fisik bangunan rumah dan kondisi prasarana dasar yang disediakan oleh pengembang, dan masalah keterbatasan suplai rumah subsidi pada pasar perumahan formal akibat minimnya jumlah pengembang swasta yang tertarik untuk membangun rumah subsidi.