Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Slum Upgrading and Changes in the Welfare of Home-Based Entrepreneurs in Kampung Bahari Tambaklorok, Indonesia Tyas, Wido Prananing; Damayanti, Maya; Hutama, Julius Kevin Putra; Rachma, Renesia
The Indonesian Journal of Planning and Development Vol 7, No 2 (2022): October 2022
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijpd.7.2.77-83

Abstract

This study examines changes in community welfare, especially among home-based entrepreneurs in Kampung Bahari Tambaklorok, Semarang, Indonesia. This study hypothesizes that after planning the development of Kampung Bahari Tambaklorok as a tourist destination for five out of twenty years, there has been a change in the socio-economic welfare conditions of the community, primarily home-based enterprise actors. Research data were obtained through observations, questionnaires, and interviews. In addition, this study conducted a descriptive analysis, scoring, and Likert Scale to obtain an overview of changes in socio-economic conditions based on community perceptions. These two analyses examine the changes in welfare experienced by the Tambaklorok community, especially home-based entrepreneurs. Thus, it may impact the sustainability of development planning for the Kampung Bahari Tambaklorok Semarang. However, the result of this study is that only the environmental aspects have an impact. Meanwhile, the other two economic and social aspects have stayed the same. Therefore, the results show that, in general, the welfare condition of the Tambaklorok community did not change after the development of the Tambaklorok Tourism Village in the first five years. Therefore, it needs further action. Keywords: environmental, home-based enterprises, slum, socio-economic, sustainable settlement 
Analisis Titik Kumpul Dalam Proses Evakuasi Penduduk dan Ternak Ketika Erupsi Gunung Merapi Wilayah Studi Kecamatan Cepogo, Boyolali Anggoro, Bayu Sukma; Tyas, Wido Prananing; Mardiansyah, Fadjar Hari
TATALOKA Vol 26, No 2 (2024): Volume 26 No. 2, May 2024
Publisher : Universitas Diponegoro Publishing Group, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tataloka.26.2.126-142

Abstract

Penelitian tentang titik kumpul di Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali didasari dua latar belakang: Pertama wilayah studi Kecamatan Cepogo berbatasan dengan puncak Gunung Merapi yang sudah mengalami gempa guguran lebih dari seratus kali dari awal tahun 2022; Kedua data mitigasi bencana awan panas akibat Gunung Merapi pada tahun 2010 yang lalu menemukan banyak ternak yang mati setelah ditinggal evakuasi, sehingga hewan ternak dijadikan salah satu objek evakuasi. Penelitian ini bertujuan untuk mitigasi dan penanganan bencana melalui penentuan lokasi titik kumpul sebelum menuju barak pengungsian dan penentuan rute evakuasi. Batasan penelitian ini memprioritaskan hewan ternak dan penduduk sebagai prioritas utama, sedangkan pembahasan terhadap sister village yang lokasinya diluar wilayah studi cukup dalam wujud narasi pemetaan jalur evakuasi sederhana. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Metoda analisis dalam penentuan titik kumpul sementara dengan melakukan pembobotan pada peta-peta yang memiliki sifat-sifat kuantitatif untuk dilanjutkan dengan network analysis jalur evakuasi dari titik kumpul menuju sister village beserta strategi dalam melakukan evakuasi bencana. Kesimpulan yang didapat  adalah titik kumpul dengan hasil pembobotan tinggi terfokus di area jalan ideal dengan lebar jalan diatas 5 meter yaitu jalan kolektor, dan terdapat 3 desa yang tidak terlayani titik kumpul dengan skor ideal yaitu Desa Wonodoyo, Desa Gedangan, dan desa Candi Gatak. Oleh sebab itu perlu adanya pelebaran jalan agar memungkinkan ekspansi titik kumpul baru dan rute evakuasi baru ketika pemobotan di kalkulasi ulang serta menigkatnya performa rute evakuasi yang sudah ditemukan dalam penelitian ini.
Kajian Kemampuan Adaptasi Pelaku Home-Based Enterprises (HBE) Di Kelurahan Gemah Dalam Menghadapi Pandemi Covid-19 Dani, Ina Aulia; Tyas, Wido Prananing
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 13, No 3 (2024): Agustus 2024
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tpwk.2024.35574

Abstract

Kelurahan Gemah memiliki fungsi sebagai sub pusat pelayanan BWK yang berisi sarana perdagangan jasa, pendidikan, kesehatan, peribadatan, dan pelayanan umum. Ini menyebabkan banyaknya aktivitas yang terjadi di Kelurahan Gemah sehingga mempengaruhi perkembangan HBE. Semenjak Covid-19, pemerintah menetapkan pembatasan kegiatan masyarakat dan pemberlakuan kegiatan online. Ini membuat pelaku HBE di Kelurahan Gemah kehilangan sumber pendapatannya. Penelitian ini bertujuan mengkaji kemampuan adaptasi pelaku HBE di Kelurahan Gemah baik dari sisi internal maupun eksternal dalam menghadapi pandemi Covid-19. Faktor internal dilihat dari Sustainable Livelihood Approach (SLA) dan eksternal dari kebijakan pemerintah. Lalu, dilakukan analisis tingkat kemampuan adaptasi berdasarkan tipologi HBE. Penelitian ini menggunakan metode statistik deskriptif dan skoring dengan skala pengukuran yaitu skala likert. Hasil studi menunjukan kemampuan adaptasi tertinggi berdasarkan rata-rata presentase skor tertinggi yaitu modal fisik, modal sosial, kebijakan, modal manusia, modal finansial, dan modal alam. Sedangkan urutan tingkat kemampuan adaptasi HBE yaitu HBE jasa, HBE olahan pangan, dan HBE perdagangan dimana variabel dengan tingkat adaptasi tinggi diketiganya yaitu kebijakan. Pemerintah telah memberikan dukungan kebijakan dimana sebagian besar telah mengetahuinya tetapi sedikit yang merasa kebermanfaatannya. Selain itu, hanya beberapa pelaku HBE yang mendapat bantuan dana dari pemerintah dan terdapat ketidakjelasan alur pembagian bantuan dana.
Karakteristik Lokasi Usaha Kerajinan Monel di Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara Solekhah, Nabiila Nuri; Tyas, Wido Prananing
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 12, No 4 (2023): November 2023
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tpwk.2023.34674

Abstract

Kriyan Village is one of the villages that have regional potential in the form of monel crafts. Monel crafts are Home-based Enterprises (HBE) that have been established since the 1970s and continue to grow today. Fans of monel craft accessories are quite broad because marketing distribution does not only occur in the country but has reached overseas. The number of monel artisans is currently also dominated by the elderly. This is a problem considering that the monel craft business has become the starting point for the development of business centers and is still the economic foundation for the people of Kriyan Village, which should be preserved. The study findings indicate that Kriyan Village has an important role in developing the household business category monel handicraft business in Kriyan Village because it can provide the needs of raw materials and labor. This finding is expected to describe the distribution pattern of the monel craft business and the location advantage factors that affect the existence of the monel craft business in Kriyan.
PERFORMANCES OF CREATIVE HUBS IN INDONESIA: LESSONS FROM SEMARANG’S EXPERIENCE Tyas, Wido Prananing; Surahman, Idha Apriliani
Jurnal Pengembangan Kota Vol 12, No 1: Juli 2024
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jpk.12.1.109-122

Abstract

This study evaluates the performance of Creative Hub Semarang (CHS) in fulfilling its dual objectives as a collaborative space for creative economy actors and a tourism destination. Utilizing a mixed-methods approach, the research combines quantitative surveys with visitors to capture perceptions and satisfaction and qualitative in-depth interviews with government and creative actors. Results reveal that CHS’s strategic location in Kota Lama presents an opportunity to bridge the creative economy with tourism. About its role as a creative hub, while CHS has provided essential infrastructure and networking opportunities, its operational model and fragmented management hinder its ability to foster active collaboration and innovation. Challenges include limited trust between government entities and creative actors, bureaucratic constraints, and restrictive regulations. To strengthen CHS’s role, a more integrated and collaborative management approach is needed, alongside clearer communication of its objectives.
PENGENDALIAN TRANSFORMASI BENTUK RUMAH DI PERUMAHAN KORPRI PRAJAMUKTI, KOTA SALATIGA Sunarti, S; Yuliastuti, Nany; Tyas, Wido Prananing; Putri, Kharunia
Jurnal Pengembangan Kota Vol 13, No 1: Juli 2025
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jpk.13.1.%p

Abstract

Transformasi bentuk rumah merupakan fenomena yang umum terjadi pada perumahan subsidi, termasuk di Perumahan KORPRI Prajamukti, Kota Salatiga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengendalian transformasi bentuk rumah agar tetap sesuai dengan regulasi dan standar yang berlaku. Penelitian ini menggunakan metode campuran (mixed method), dengan pendekatan kuantitatif untuk mengklasifikasikan transformasi bentuk rumah melalui analisis spasial dan pembobotan, serta pendekatan kualitatif untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi transformasi dengan metode observasi, wawancara mendalam, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 85,75% unit rumah mengalami transformasi, dengan rincian 6,75% mengalami transformasi ringan, 66,5% transformasi sedang, dan 12,5% transformasi total. Transformasi ini dipengaruhi oleh kebutuhan ruang akibat bertambahnya anggota keluarga, faktor ekonomi, serta ketidakpuasan terhadap desain awal rumah. Namun, transformasi yang tidak terkendali menyebabkan pelanggaran regulasi tata ruang, khususnya terkait koefisien dasar bangunan (KDB), berkurangnya ruang terbuka hijau, serta menurunnya kualitas lingkungan dan interaksi sosial. Oleh karena itu, diperlukan pengendalian melalui regulasi yang lebih ketat, edukasi kepada penghuni, serta desain perumahan yang lebih fleksibel dan adaptif terhadap kebutuhan masyarakat tanpa melanggar ketentuan tata ruang yang berlaku.