Claim Missing Document
Check
Articles

Proses Kreatif dalam Komik (Studi Komik Indie Dagingtumbuh dan Komik Industri Juki) Mariana Martha; Gregorius Genep Sukendro
Koneksi Vol 1, No 2 (2017): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v1i2.2026

Abstract

Komik telah menjadi salah satu media cetak yang cukup populer di kalangan masyarakat. Peredaran komik tersebut terbagi menjadi dua jenis, yakni komik indie dan komik industri. Objek penelitian yang dipilih adalah komik indie Dagingtumbuh dan komik industri Juki. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan metode studi kasus dimana penulis harus memahami persoalan lapangan atau lokasi penelitian di internet yang juga didukung dengan melakukan wawancara mendalam dilakukan terhadap dua narasumber, yakni Eko Nugroho, pencetus komik Dagingtumbuh dan Faza meonk, pencetus komik Si Juki. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui perbedaan proses kreatif yang dilakukan oleh komik indie dan komik industri dengan menggunakan teori komik dan kreativitas. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat cukup banyak perbedaan dari proses kreatif yang dilakukan, baik mulai dari pencarian ide, pembuatan komik, makna yang ingin disampaikan, hingga strategi promosi. Namun ternyata terdapat kesamaan persepsi akan kreativitas dan sumber inspirasi komik, yaitu fenomena yang terjadi di masyarakat. Keduanya memakai budaya urban di masyarakat untuk menjadi ide cerita. Adanya persamaan dan perbedaan tersebut membuat masing-masing genre komik mempunyai keunikannya sendiri.
Representasi Identitas Etnis Tionghoa-Indonesia dalam Video Klip Tipikal Chinese Indonesia (Analisis Semiotika Roland Barthes) Chriswira Chaylis; Gregorius Genep Sukendro
Koneksi Vol 1, No 1 (2017): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v1i1.1348

Abstract

Penelitian ini membahas dan berfokus pada topik tentang identitas etnis Tionghoa-Indonesia yang terdapat pada video klip ‘Tipikal Chinese Indonesia’. Video klip ini merupakan sebuah hasil karya dari LastDay Production (LDP). LDP merupakan sebuah channel yang ada di YouTube dan aktif beroperasi di Indonesia. Penelitian dengan metode kualitatif deskriptif ini menggunakan analisis semiotika Roland Barthes sebagai teknik penelitian. Berdasarkan hasil analisis mengenai identitas etnis Tionghoa-Indonesia, membawa peneliti kepada bagaimana sejarah awal-awalnya identitas orang-orang Tionghoa di Indonesia hingga dalam konteks masa kini, yang juga membawa peneliti kepada referensi lainnya juga. Beberapa contoh identitas yang terkuak mengenai orang-orang Tionghoa yang terdapat dalam video antara lain sebagai golongan yang superior dalam hal perekonomian, golongan yang eksklusif, dan golongan yang terdiskriminasi dalam ciri-ciri fisik. Identitas-identitas itu juga menimbulkan beberapa stereotip etnis Tionghoa yang bersifat negatif seperti pelit, licik, tidak mau membaur, dan sifat-sifat negatif lainnya. Topik seperti inilah yang membuat penelitian ini menjadi menarik untuk diteliti.
Pemaknaan Fanatisme Bagi Pengguna Vespa di Kota Tangerang Adhimas Ario Bimo; Gregorius Genep Sukendro
Koneksi Vol 2, No 2 (2018): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v2i2.3886

Abstract

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode deskriptif dengan data kualitatif. Penulis tertarik dengan pemaknaan fanatisme para pengguna Vespa di Kota Tangerang. Penelitian ini menggunakan metode fenomenologi untuk melihat fenomena yang terjadi. Sesuai dengan tujuan penelitian ini maka penulis ingin melihat pandangan pengguna Vespa yang ada di Kota Tangerang mengenai fanatisme itu sendiri. Dengan menggunakan Teori Iklan dan Teori Fanatisme maka penulis memilih objek penelitian yaitu member komunitas Moca Vespa, pengguna Vespa extreme dan Marketing Piaggio Cabang Tangerang.  Hasil analisis dari wawancara yang telah penulis lakukan dengan informan yaitu bahwa kefanatikan membuat member tetap setia menggunakan Vespa di era kemajuan teknologi dan transportasi. Selain itu, Vespa dianggap sebagai sahabat, kekasih bahkan istri. Piaggio sudah beriklan sejak dulu sebelum sempat vakum. Oleh karena itu, Piaggio sudah mendapat nama besar dan pengguna yang fanatik. Faktor komunitas juga sangat mempengaruhi promosi dari produsen dan dealer Vespa yang ada di Tangerang. Seperti yang kita ketahui bahwa di era saat ini sudah jarang dan bahkan tidak ada iklan tentang motor Vespa, namun masih banyak peminat produk tersebut.
Digitalisasi Komunikasi Penggiat Backpacker (Studi Kasus Terhadap Komunitas Backpacker) Nadya Febylia; Gregorius Genep Sukendro
Koneksi Vol 5, No 1 (2021): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v5i1.10130

Abstract

Along with the times, technology is something that we often encounter around us, including in the world of backpackers. In this digital era, backpakers are divided into two types, namely backpackers who use traveling applications and backpakers who don't. This study aims to determine the positive and negative impacts of digitizing communication on backpacker activists. The formulation of the problem is to determine the positive and negative impacts of new media on the backpacker community, therefore researchers will conduct research on the Jakarta backpacker community. Therefore, the researcher wanted to examine the impact resulting from the use of digital media on the backpacker community by using a qualitative descriptive method and using a phenomenological approach to find out firsthand the experiences of backpacker activists, the research location through zoom from their respective homes. From the results of the research that the researchers have done, the researcher can draw the conclusion that the use of technology in the backpaker world is more positive because the informants whom the researchers interviewed through zoom felt very helped by the current travel applications.Seiring dengan perkembangan zaman, teknologi merupakan sesuatu hal yang sering kita jumpai disekitar kita, termasuk kedalam dunia backpacker. Pada era digital seperti ini, para backpaker menjadi dua tipe yaitu backpacker yang menggunakan aplikasi traveling dan backpaker yang tidak menggunakan aplikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak positif dan dampak negatif dari digitalisasi komunikasi terhadap penggiat backpacker. Rumusan masalahnya adalah untuk mengetahui dampak positif dan dampak negatif dari media baru yang masuk ke dalam komunitas backpacker, oleh karena itu peneliti akan melakukan penelitian terhadap komunitas backpacker Jakarta. Maka dari itu peneliti ingin meneliti tentang dampak yang dihasilkan dari penggunaan media digital terhadap komunitas backpacker dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dan menggunakan pendekatan fenomenologi untuk mengetahui secara langsung pengalaman yang dilakukan oleh para penggiat backpacker, lokasi penelitian melalui zoom dari rumah masing-masing. Dari hasil penelitian yang telah peneliti lakukan, peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa penggunaan teknologi pada dunia backpaker lebih mengarah postif karena dari informan yang peneliti wawancarai melalui zoom merasa sangat terbantu dengan aplikasi traveling yang ada saat ini.
Self-Presentation Komunitas Indonesian Subculture Melawan Stigma Kriminalitas Ronald Yehezkiel Jasita; Gregorius Genep Sukendro
Koneksi Vol 6, No 1 (2022): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v6i1.10495

Abstract

In Indonesia, there are still many assumptions that people with tattoos are synonymous with criminal behavior. Seeing the stigma of criminality against tattoos in society, this is the beginning of the formation of the Indonesian Subculture community. Indonesian Subculture is one of the tattoo communities in Jakarta that has been formed since July 9, 2004. This community is slowly changing its assessment of people with tattoos. This is related to the self-presentation displayed by Indonesian Subculture in the community in fighting the stigma of tattooing as one of the characteristics of a criminal in society. Therefore, the authors are interested in conducting research with a qualitative approach and case study research methods. The purpose of this study is to determine the self-presentations presented by Indonesian Subculture in an effort to fight the stigma of crime in society. The data analyzed were the result of interviews, direct observation, and documentation. The results showed that the self-presentation shown by Indonesian Subculture in fighting the stigma of crime in society was to form a positive community concept through the slogan and vision and mission, namely always having safe and healthy tattoos / piercing, holding various positive activities. These activities include a coaching clinic, social service, tattoo and piercing competitions, as well as tattoo / piercing educational activities.Di Indonesia, masih banyak anggapan orang bertato identik dengan perilaku tindak kriminal. Melihat adanya stigma kriminalitas terhadap tattoo di masyarakat, menjadi awal mula terbentuknya komunitas Indonesian Subculture. Indonesian Subculture merupakan salah satu komunitas tattoo di Jakarta yang telah dibentuk sejak 9 Juli 2004. Komunitas ini perlahan mengubah penilaian terhadap orang bertato. Hal ini berkaitan dengan self-presentation yang ditampilkan Indonesian Subculture di masyarakat dalam melawan stigma tattoo sebagai salah satu ciri seorang pelaku tindak kriminalitas di masyarakat. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan pendekatan kualitatif dan metode penelitian studi kasus. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui self-presentation yang ditampilkan Indonesian Subculture dalam upaya melawan stigma kriminalitas di masyarakat. Data yang dianalisis merupakan hasil wawancara, pengamatan langsung, serta dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self-presentation yang ditunjukan Indonesian Subculture dalam melawan stigma kriminalitas di masyarakat adalah membentuk konsep komunitas yang positif melalui slogan dan visi misi yakni selalu bertato/piercing yang aman dan sehat, menyelenggarakan berbagai kegiatan-kegiatan positif. Kegiatan tersebut antara lain coaching clinic, bakti sosial, lomba tattoo dan piercing, serta kegiatan edukasi bertato/piercing.
Analisis Pesan Sosial Pada Film ‘Cek Toko Sebelah’ Nathania Nathania; Gregorius Genep Sukendro
Koneksi Vol 1, No 2 (2017): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v1i2.2031

Abstract

Media massa adalah alat yang digunakan dalam penyampaian pesan dari sumber kepada khalayak sebagai penerima pesan. Film merupakan salah satu media massa yang dapat digunakan sebagai alat untuk menyampaikan pesan. Dalam penelitian ini, film ‘Cek Toko Sebelah’ digunakan untuk menyampaikan pesan sosial budaya kepada masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apa saja pesan sosial budaya yang disampaikan melalui media film ‘Cek Toko Sebelah’ kepada masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis wacana. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara studi kepustakaan, wawancara dan observasi. Sejumlah konsep yang digunakan dalam penelitian ini yakni film, budaya, kreatifitas, hubungan interpersonal, inkulturasi budaya dan pluralisme. Dengan demikian, penelitian ini mampu menganalisis film ‘Cek Toko Sebelah’ dengan rinci dan jelas. Hasil pengumpulan dan analisis data, menunjukkan bagaimana film ‘Cek Toko Sebelah’ mampu menyampaikan pesan sosial budaya seperti nilai moral, sopan santun, menghormati orang tua dan toleransi hidup dalam keberagaman kepada masyarakat sehingga menjadikan industri film di Indonesia semakin berkembang dan tidak monoton.
Analisis Wacana Nasionalisme Dalam Film 5 CM Ovilia Kurniawan; Gregorius Genep Sukendro
Koneksi Vol 1, No 2 (2017): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v1i2.2036

Abstract

Pada umumnya, film berfungsi sebagai media hiburan. Namun kenyataannya, film juga dapat digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan informasi bagi masyarakat, khususnya informasi untuk mengenal bangsa dan negara. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana nasionalisme diperlihatkan melalui sudut pandang generasi muda. Metode yang digunakan dalam penelitian ini merupakan metode penelitian deskriptif kualitatif untuk menjelaskan makna-makna dalam suatu gejala sosial dengan analisis wacana Model Van Dijk. Penelitian ini dibuat dengan maksud mengetahui bagaimana film memberikan penyampaian jiwa nasionalisme melalui sebuah cerita film layar lebar atau yang dapat juga disebut dengan sinema (bioskop). Hasil dari penelitian ini adalah jiwa nasionalisme digambarkan melalui sudut pandang generasi muda melalui sebuah perjalanan alam.
Komparasi Literasi Informasi Generasi Baby Boomers dan Generasi X (Studi pada Pengguna Grup Whatsapp) Kezia Hakim; Gregorius Genep Sukendro
Koneksi Vol 6, No 1 (2022): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v6i1.15537

Abstract

Information literacy is needed, especially in the midst of the era of rapid digital development. Hoaxes can spread easily in the midst of technological developments like now. Information literacy is an ability that can be a filter for all generations to protect themselves from hoax news. In this study, a test was conducted to determine whether there is a comparison or difference in information literacy in the baby boomers generation with generation X, especially WhatsApp group users. The population in this study are parents who are included in the baby boomers generation and generation X who use WhatsApp groups. The data that has been collected is processed using SPSS version 26. The results in this study show that there is no difference in information literacy between the baby boomers generation and generation X, with a significance level of 0.255. Literasi informasi sangat dibutuhkan khususnya di tengah era perkembangan digital yang begitu pesat. Hoaks dapat menyebar dengan mudahnya di tengah perkembangan teknologi seperti sekarang. Literasi informasi adalah kemampuan yang bisa menjadi filter bagi segala lintas generasi untuk melindungi diri dari berita hoaks. Pada penelitian kali ini dilakukan uji untuk mengetahui apakah ada komparasi atau perbedaan literasi informasi pada generasi baby boomers dengan generasi X khususnya para pengguna grup whatsapp. Populasi pada penelitian kali ini adalah para orang tua yang termasuk dalam generasi baby boomers dan generasi X yang menggunakan grup whatsapp. Data yang telah terkumpul diolah menggunakan bantuan SPSS versi 26. Hasil pada penelitian kali ini menunjukan bahwa tidak ada perbedaan literasi informasi generasi baby boomers dengan generasi X, dengan tingkat signifikansi 0.255.
Pola Komunikasi Kelompok Lokananta Record dengan Komunitas Lokananta Project Dalam Membentuk Kohesivitas Kelompok Anastasya Tanti Bintari; Gregorius Genep Sukendro
Koneksi Vol 1, No 2 (2017): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v1i2.1949

Abstract

Komunitas dapat menjadi wadah untuk berjejaring, saling membangun, dan melahirkan perubahan besar yang bersifat positif bagi masyarakat. Kontribusi dan pengaruh positif ditampilkan komunitas yang saling berjejaring di Lokananta. Penelitian ini membahas pola komunikasi Lokananta Record dengan Komunitas Lokananta Project dalam membentuk kohesivitas kelompok. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pola komunikasi antara Lokananta Record dengan Komunitas Lokananta Project dalam menjalin komunikasi yang baik sehingga dapat membentuk kohesivitas kelompok. Lokananta Record mulai berbenah diri menjalin hubungan baik dan komunikasi yang terbuka dengan Komunitas Lokananta Project. Komunitas yang hadir atas kepedulian anak muda pada studio musik rekaman pertama Indonesia, Lokananta Record yang kurang mendapat perhatian. Teori yang digunakan adalah teori komunitas, teori komunikasi organisasi, dan teori komunikasi kelompok, teori pola komunikasi, dan teori kohesivitas kelompok. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian analisis deskriptif. Data yang diperoleh berdasarkan wawancara dengan narasumber. Melalui komunikasi yang baik antara pegawai Lokananta Record maupun anggota Komunitas Lokananta Project dapat berdiskusi sehingga membangun kedekatan dan keakraban pegawai dengan anggota komunitas. 
Representasi Makna Etika Makan Budaya Jawa dalam Film Kersanan Ndalem Muhammad Hendi Malik; Gregorius Genep Sukendro
Koneksi Vol 5, No 2 (2021): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v5i2.10307

Abstract

"Representation of the Meaning of Javanese Culture Eating Ethics in the Kersanan Ndalem Film" which aims to see the connotation meaning, denotative meaning, and myths of Javanese culture eating ethics contained in the film Kersanan Ndalem. This research uses descriptive qualitative method. The subject of this research is the film Kersanan Ndalem which is a 28-minute documentary film. The data collection technique in this study used observation and documentation and analyzed using Roland Barthes' semiotics model. To test the validity of the data, it was done by collecting and checking some of the data which were deemed appropriate with this study. The results of this research are found various kinds of meanings contained such as: the meaning of politeness, the meaning of respect, the meaning of patience, the meaning of devotion to the meaning of resistance. The meaning of politeness and the meaning of patience can be seen in the tradition of “marak dhahar” carried out in the Yogyakarta Palace which teaches the younger about politeness and patience and respects the elders. The meaning of service can be seen in how the Abdi Dalem sincerely carry out the tasks they have served the Sultan last night. In addition, there is a meaning of struggle which can be seen from how the changes in the function of the banquet that are shown on film. It is hoped that this research can be a lesson for the community in interpreting eating ethics in Javanese culture. “Representasi Makna Etika Makan Budaya Jawa Dalam Film Kersanan Ndalem” bertujuan untuk mengetahui makna konotasi, makna denotasi, dan mitos dari etika makan Budaya Jawa yang terdapat dalam film Kersanan Ndalam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Subjek dari penelitian ini adalah Film Kersanan Ndalem yang merupakan salah satu film dokumenter berdurasi 28 menit. Teknik pengambilan data pada penelitian ini menggunakan Observasi dan Dokumentasi dan dianalisis menggunakan semiotika model Roland Barthes. Untuk menguji keabsahan data dilakukan dengan cara tiangulasi dilakukan pengecekan dari beberapa data yang dianggap sesuai dengan penelitian ini. Hasil dari penelitian ini adalah ditemukan berbagai macam makna yang terkandung seperti: makna kesopanan, makna penghormatan, makna kesabaran, makna pengabdian hingga makna perjuangan. Makna kesopanan dan makna kesabaran terlihat pada tradisi marak dhahar  yang dilakukan di Keraton Yogyakarta yang mengajarkan kepada yang lebih muda mengenai kesopan dan kesabaran serta mengormati kepada yang lebih tua. Makna pengabdian terlihat pada bagaimana para abdi dalem dengan tulus menjalankan tugas-tugas yang mereka emban semalam mengabdi kepada Sultan. Selain itu, terdapat makna perjuangan yang terlihat dari bagaimana perubahan fungsi dari jamuan makan yang ditampilkan. Diharapkan penelitian ini dapat menjadi pembelajaran bagi masyarakat dalam memaknai etika makan dalam Budaya Jawa.