Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

PEMANFAATAN SAMPAH ORGANIK MENJADI PUPUK KOMPOS Suleman, Rahman; Sambuaga, Joy Victor Imanuel; Jusran, Mokoginta; Layuk, Semuel; Jasman, Jasman; Suwarja, Suwarja
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 3 (2025): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i3.31509

Abstract

Abstrak: Aktivitas rumah tangga tidak terlepas dari timbulan sampah yang dihasilkan, baik limbah cair maupun padat. Sampah organik rumah tangga merupakan salah satu dari jenis timbulan tersebut, yang apabila tidak diolah, dapat mencemari lingkungan sekitar. Kegiatan ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat terkait pengolahan sampah organik rumah tangga dengan menggunakan dekomposer. Pelaksanaan kegiatan ini mengunaakan metode sosialisasi terkait tentang pembuatan alat dekomposer sederhana, dan praktikum cara pemasangannya. Mitra pada kegiatan ini adalah Desa Mapanget, Kec. Talawaan, Kabupaten Minahasa Utara, dengan jumlah peserta sebanyak 20 orang, dan penanaman dekomposer dibagi di tiap-tiap Jaga (lingkungan) dengan total sebanyak 4 Jaga. Setelah dilakukan dekomposer dipasang, tim melakukan evaluasi terkait kondisi dekomposer tersebut dengan metode observasi. Setelah dilakukan kegiatan pengabmas, masyarakat telah memahami betapa bermanfaatnya sampah organik sebagai bahan yang dapat memperkaya unsur hara tanah, sehingga tanah di sekitar rumah merkea menjadi subur. Selain itu, masyarakat juga sudah 100% memahami cara membuat dekomposer sederhana yang dibuktikan dengan kemapuan merakit kembali alat, sehingga dekomposer tersebut dapat diperbanyak secara mandiri.Abstract: Household activities are inseparable from the waste generated, both liquid and solid waste. Household organic waste is one of these types of waste, which if not processed, can pollute the surrounding environment. This activity aims to educate the community regarding the processing of household organic waste using decomposers. The implementation of this activity uses a socialization method related to making a simple decomposer tool, and practicum on how to install it. The partner in this activity was Mapanget Village, Talawaan Sub-district, North Minahasa Regency, with a total of 20 participants, and the decomposer planting was divided in each Jaga (neighborhood) with a total of 4 Jaga. After the decomposers were installed, the team evaluated the condition of the decomposers using the observation method. After the community service activities, the community has understood how useful organic waste is as a material that can enrich soil nutrients, so that the soil around their homes becomes fertile. In addition, the community has also 100% understood how to make a simple decomposer as evidenced by the ability to reassemble the tool, so that the decomposer can be reproduced independently.
Pembentukan Kampung Sanitasi/STBM di Kilu Permai Kelurahan Paniki Bawah Kota Manado Dismo Katiandagho; Steven J. Soenjono; Mokoginta Jusran; Semuel Layuk; Syamsu Alam
Jurnal Pengabdian Masyarakat Cendikia Jenius Vol. 2 No. 1 (2024): Desember 2024
Publisher : CV. CENDIKIA JENIUS INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70920/pengabmaskes.v2i1.96

Abstract

Beberapa program pemerintah untuk memperbaiki perilaku hidup bersih seperti kampanye cuci tangan pakai sabun, tetapi program-program tersebut dirasakan kurang mengena sasaran dan kurang memperhatikan aspek kebiasaan buang air besar, harapan dan investasi. Untuk itu diperlukan kampanye penyadaran perilaku hidup bersih dan sehat untuk dapat menggerakkan pengambil keputusan, sektor swasta dan konsumen (terutama kelompok miskin). Hasil wawancara dengan petugas Puskesmas dan pemerintah Kelurahan, dimana masih pembuangan akhir jamban di sungai karena tidak ada lahan untuk membangun saptic tank, dan hasil pengamatan pada survey awal bahwa rumah penduduk yang berdekatan dengan sungai yang memiliki jamban keluarga makan pembuangan akhir jamban adalah suangi, hal ini menambah pencemaran pada suangai. Untuk mencapai suatu Desa ODF (Open Defecation Free), tahapan yang harus dilalui, yaitu Pra-pemicuan, Pemicuan, Pasca Pemicuan. Hasil dari kegiatan pengabdian kepada masyararakat, yaitu dibangunnya 1 jamban percontohan dan terjadinya perubahan perilaku membuang tinja di suangai. Disarankan bagi pihak puskesmas agar selalu memantau program STBM di wilayah kerja Puskesmas, bagi masyarakat yang belum memiki jamban agar memanfaatkan MCK umum sebagai sarana pembuangan tinja dan bagi masyarakat yang ada di sekitar sungai agar tidak membuang tinja di sungai
Sosialisasi Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Pencegahannya pada Siswa SMA Negeri 4 Manado Jasman; Semuel Layuk; Syamsu Alam; Anselmus Kabuhung
Jurnal Pengabdian Masyarakat Cendikia Jenius Vol. 2 No. 1 (2024): Desember 2024
Publisher : CV. CENDIKIA JENIUS INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70920/pengabmaskes.v2i1.98

Abstract

Dengue hemorrhagic fever (DHF) is a disease caused by the dengue virus, transmitted through the bites of Aedes aegypti mosquitoes. Environmental factors play a significant role in the emergence of outbreaks, particularly in Manado City, which has a high population density and intense community mobility. Insufficient health education among students leads to a lack of understanding regarding DHF. To address this issue, an outreach program was conducted to provide accurate information. This initiative aimed to enhance students' knowledge about DHF and its prevention strategies, utilizing lecture and discussion methods at SMA Negeri 4 Manado. The outreach activity involved a community service team and university students, with 51 students and accompanying teachers participating. The results indicated a notable increase in students' understanding of DHF prevention. It is recommended that all students and teachers at SMA Negeri 4 Manado actively engage in cleaning the school environment to eliminate mosquito breeding sites and prevent the spread of this disease. This outreach is expected to empower students as agents of change in promoting personal and community health.