Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

POTRET EPISTEMOLOGI TAFSIR ERA FORMATIF (Peta Kajian Tafsir Klasik Perspektif Filsafat Ilmu) Fathurrosyid Fathurrosyid
El-Furqania : Jurnal Ushuluddin dan Ilmu-Ilmu Keislaman Vol. 2 No. 01 (2016): Februari 2016
Publisher : STIU Al-Mujtama Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.73 KB) | DOI: 10.54625/elfurqania.v2i01.1419

Abstract

Tulisan ini hendak mengungkap dan meyingkap epistemologi tafsir era formatif dengan mengkonstruksikan pada dua hal; Pertama, bagaimana epistemologi tafsir era klasik. Kedua, bagaimana dialektika tafsir era klasik dengan realitas yang dihadapinya. Kajian ini menghasilkan kesimpulan bahwa tafsir era formatif atau klasik yaitu tafsir yang muncul dan berkembang pada masa Rasulullah hingga munculnya tafsir masa pembukuan (akhir masa Daulah Bani Ummayyah atau awal Daulah Bani Abbasiyyah), yakni abad I H sampai pada abad II H. Adapun salah-satu model berpikir tafsir era formatif yaitu model nalar quasi-kritis yang ditandai dengan; Pertama, penggunaan simbol-simbol tokoh untuk mengatasi persoalan. Kedua, cenderung kurang kritis dalam menerima produk penafsiran; menghindari hal yang konkrit-realistis dan berpegang pada hal-hal yang abstrak-metafisis. Dalam konteks peran dan posisi akal, tafsir era formatif menjadikan peran akal hanya sebagai instrumen yang bersifat partisipatif, sedangkan peran periwayatan diberikan porsi sebagai alat jastifikasi.
Memahami Sûrah Yâsîn (Studi Atas Tafsir Sûrah Yâsîn Karya KH. Abd. Basith AS): (Studi Atas Tafsir Sûrah Yâsîn Karya KH. Abd. Basith AS) Fathurrosyid Fathurrosyid; St. Aziziyah
Tafhim Al-'Ilmi Vol. 9 No. 2 (2017): 18 Oktober 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Aqidah Usymuni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.856 KB)

Abstract

Sebagai bagian dari petunjuk bagi orang yang bertaqwa, maka memahami sûrah Yâsîn dengan baik adalah kebutuhan mutlak. Sangat disayangkan apabila aktivitas keagamaan yang sudah membumi tidak bisa memberikan manfaat secara utuh bagi pembacanya. Yakni bagaimana mereka dapat memahami kandungan firman Tuhan yang dibaca. Pemahaman ini penting, sebab dengan inilah seorang hamba dapat memahami firman atau pesan dari Penciptanya. Inilah yang mendorong penulis untuk melakukan kajian lebih mendalam terhadap tafsir sûrah Yasin. KH. Abd Basith AS menghadirkan tafsir yasin guna memberikan sumbangan pemikiran sehingga umat Islam Indonesia bisa mencintai firman-Nya tersebut dengan sepenuh hati dan mempermudah masyarakat Nusantara memahaminya. Kata kunci: Surah Yasin, Tafsir, Abd. Basith AS.
Tradisi Hataman Qur’an di Madura: Resiliensi dan Agensi Nalar Moderasi Islam Fathurrosyid Fathurrosyid; Abdul Hakim; Moh. Muhyan Nafis
SUHUF Vol 15 No 1 (2022)
Publisher : Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22548/shf.v15i1.713

Abstract

The new media revolution has knocked down religious institutions. Digitization of manuscripts, apart from the positive effect being interactive, is also in the form of impersonalization of the negative effects, resulting in emergency breaking conditions for children to recite the Qur'an. However, in the midst of the siege of the revolution, four districts in Madura demonstrated the resilience of the Hataman Qur'an tradition and became agents of Islamic moderation reasoning. This research will answer two main issues; First, the argument for the resilience of the Hataman Qur'an tradition in Madura. Second, the model of Islamic moderation reasoning agency in the Hataman Qur'an tradition in Madura. This research is a field research work that focuses on kiai langgar, santri, guardians of santri and the community as the subject. While the object is the Hataman Qur'an tradition in Madura. Using the theory of resilience and moderation reasoning, as well as a critical discourse analysis knife, this paper produces conclusions; First, the resilience of the Hataman Qur'an tradition in Madura is due to three factors (a) social capital, the capability of the Madurese who uphold social values ​​(b) community competencies, the character of the Madurese who like to work together and collaborate with others and (c) social connections, the implementation of Hataman Qur'an using a network with family as social bonding; balater and skipper as social bridging and kiai or politician as social lingking. Second, the reasoning agency of Islamic moderation in the Hataman Qur'an in Madura can be found in the implementation of Aparloh, Entar Nyalase and Jheren Kencak.
Nalar Moderasi Tafsir Pop Gus Baha' Fathurrosyid Fathurrosyid
SUHUF Vol 13 No 1 (2020)
Publisher : Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22548/shf.v13i1.528

Abstract

Abstract The new media revolution has given the freedom to the religious authority (Islam), both the old authority and the new one to contest to win the hearts of the people. The fact is that the public sphere is being controlled by the new religious authority with a radical and intolerant face of Islam. Apart from the government and educational institutions, the effort to dispel extremism through counter narratives are also carried out by civil society by campaigning Islamic moderation. This article discusses the dissemination of the moderation reasoning of the Pop Tafsir of Gus Baha’ on YouTube. The focus of this article is on the aspect of contestation to the new authority as an effort to deradicalize the interpretation. Using virtual ethnographic data, this paper draws conclusions. First, the dissemination of the miracle reconstruction of the Qur’an and argumentative logic in preaching. Second, the dissemination of the urgency of the nasikh-mansukh as a critic of the kaffah Islamic movement and as the priority of moderation reasoning in the loyal attitude to maintain the integrity of the Republic of Indonesia from the threat of separatism. Third, disseminating counter-narratives that use God’s status to dispel extremism and radicalism Keywords: Contestation, Gus Baha’, Moderation Reasoning, Pop Tafsīr.
Literasi Media: Pendampingan Moderasi Agama di Kerta Timur Dasuk Sumenep Fathurrosyid; Moh Fadllurrahman
Jumat Keagamaan: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2023): April
Publisher : LPPM Universitas KH. A. Wahab Hasbullah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32764/abdimasagama.v4i1.3016

Abstract

Konflik umat beragama di Indonesia sering terjadi saat ini. Untuk meminimalisir hal tersebut, maka moderasi beragama menjadi salah satu solusi yang terbaik. Di antara tempat yang menjunjung tinggi moderasi beragama adalah Desa Kerta Timur Dasuk Sumenep. Sayangnya, moderasi beragama yang ada di sana terancam hangus oleh pemudanya sendiri. Hal itu dikarenakan kecendrungan pemuda dan masyarakat desa dalam menggunakan android. Dalam konteks ini, kehadiran internet memudahkan masyarakat untuk mendapatkan segala bentuk informasi. Sehingga kecendrungan mereka dalam menggunakan media sosial akan memberikan peluang untuk mereka dalam mengakses pemahaman-pemahaman yang seharusnya tidak mereka pelajari dan dapat merusak kehidupan moderasi beragama yang telah mereka jalani. Oleh karena ini, tim pengabdi berinisiatif untuk memberikan edukasi dan pendampingan litersi media dalam mempertahankan nilai-nilai moderasi beragama di Desa Kerta Timur Dasuk agar mereka dapat mempertahankan kehidupan moderasi beragama yang sudah berjalan atau bahkan mereka dapat menerapkan kehidupan moderasi beragama dengan berbagai kegiatan keagamaan dan yang lainnya. Metode pengumpulan data dan pendampingan yang digunakan dalam pengabdian masyarakat ini adalah PAR (Participatory Action Research). Adapun hasil pengabdian ini adalah pemuda dan masyarakat Desa Kerta Timur Dasuk memperoleh informasi dan pengetahuan tentang bagaimana cara bermedia yang baik di tengah tersebarnya hoaks dan pemahaman-pemahaman yang dapat merusak kehidupan moderasi beragama yang mereka jalani serta mampu mengklasifikasi dan memilah isu-isu terkini tentang keislaman, politik dan sosial ke masyarakatan.
REFORMULASI EPISTEMOLOGI AL-JABIRI: SEBUAH TAWARAN MODEL INTEGRATIF-INTERKONEKTIF Fathurrosyid
Al'Adalah Vol. 14 No. 2 (2011)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebidupan keagamaan kontemporer menawarkan dua pilihan kepada kita; islamis dan sekuler. Memilih sebagai islamis membawa kita kepada pada posisi sebagai “makhluk asing” dalam kehidupan saat ini dan (berpeluang) tergerus zaman, sedangkan pilihan satunya, “sekuler” memang memungkinkan membuat kita secara sosial relevan dengan zaman kontemporer, tetapi pada saat yang sama, timbul konflik batin, goncangan iman, dan kian merasa berjarak dari Islam, sebagai jalan dan keyakinan. Kondisi ini menyebabkan beberapa pemikir Muslim kontemporer terus berusahan dan mencoba menawarkan solusi alternatif. Salah satunya, memanfaatkan kerangka teori dan metodologi yang digunakan oleh ilmu-ilmu sosial dan humaniora yang berkembang sekitar abad ke-18 dan 19. Filsafat Ilmu ala Barat (Rasionalisme, Empirisisme, dan Pragmatisme) dianggap kurang relevan untuk dijadikan sebagai kerangka teori dan analisis terhadap pasang-surut dan perkembagan studi Islam, sehingga diperlukan perangkat kerangka analisis epistemologis yang khas untuk pemikiran Islam. Konsep epistemologi filsafat ilmu yang ditawarkan oleh M. Abid al-Jabiri; episteme Bayani, Irfani dan Burhani menjadi sebuah keniscayaan untuk didesakkan, diterjemahkan, dan diaplikasikan dalam dunia nyata.
Menangkal Gerakan Radikalisme Islam Di Sumenep Melalui Pemberdayaan Takmir Masjid NU Dalam Membentengi Infiltrasi Islam Radikal Warits, Abd; Fathurrosyid, Fathurrosyid
ARSY : Jurnal Aplikasi Riset kepada Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2024): ARSY : Jurnal Aplikasi Riset kepada Masyarakat
Publisher : Lembaga Riset dan Inovasi Al-Matani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55583/arsy.v5i2.1121

Abstract

Masjid berperanan penting bagi masyarakat islam. Ia menjadi sentral kegiatan dalam segala bidang: peribadatan, ritual keagamaan, pendidikan, kegiatan sosial dan budaya keislaman lainnya. Masjid menjadi simbol dari identitas keberagamaan masyarakat tertentu. Maka dari itu, masjid menjadi rebutan sebab dengan menguasai masjid, maka secara otomatis bisa mengendalikan masyarakat di sekitar masjid tersebut. Artikel ini menelaah tentang kegiatan pengabdian yang dilakukan dalam memberdayakan kegiatan masjid yang dilakukan oleh Pengurus Ranting NU Gapura Kabupaten Sumenep sebagai upaya membentengi infiltrasi gerakan Islam Radikal yang sempat masif pada awal tahun 2010 – 2020 di beberapa daerah timur daya Kabupaten Sumenep yang mencakup kecamatan Batuputih, Batang – Batang dan Gapura. Kegiatan ini dimaksudkan agar para aktivis “jihadis” yang sering mendatangi beberapa masjid yang tampak sepi kegiatan, tidak memiliki peluang untuk mengambil alih masjid tersebut. Metode pengabdian ini dilakukan dengan Participatory Action Research (PAR) yang menitikberatkan lahirnya local leader. Hasil dari kegiatan ini antara lain: Tumbuhnya kesadaran pada para pengurus masjid tentang fenomena gerakan Islam transnasional dengan ragam variannya; mampu membedakan isu “Islam yang Murni” dengan isu kepentingan politik yang berkedok penegakan syariah Islam; Tertanamnya semangat nasionalisme untuk tetap mempertahankan ideologi Pancasila dalam bingkai keindonesian, Mampu melakukan analisis SWOT untuk mengukur potensi, tantangan, ancaman serta peluang dalam pengelolaan masjid serta Tersusunnya program strategis dalam mengembangkan kegiatan keagamaan masjid; perpustakaan masjid, lembaga pendidikan dan perekonomian, kajian kitab kuning, bimbingan belajar dan karya tulis bagi anak-anak usia sekolah.
Pragmatics of the Qur'an: Model Pemahaman Kisah Sayyidah Maryam yang Terikat Konteks Fathurrosyid, Fathurrosyid
SUHUF Vol 9 No 2 (2016)
Publisher : Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22548/shf.v9i2.149

Abstract

Textually, Maryam is a phenomenal public figure because her name becomes the name of the sura in the Qur’an namely Sura Maryam. In addition to that, the story is rich with nuances of context, so it is interesting to study it by using the science of pragmatic approach that examines the relationship between the language unit of linguistic and non-linguistic context. This study is a library research using linguistic analysis and critical discourse. This study is significant not only because it justifies the position of the Qur'an that uses the nets device of the Arab localities, but at the same time, also forms the correction of the formal-structural reading which is oriented to the position of the subject, predicate and object, without negotiating the context. This study comes to the conclusion that the speech act of the fragmentation of the story of Maryam in Sūra Āli ʻImrān/3: 36 has its locus to be informative sentence, while its illocus is in the form of assertive sentence whose meaning is to complain. As for the implicature shows the value of courtesy in speaking the word, while the implicature being labeled in the name of Maryam in Sūra Āli ʻImrān/3: 42 is the resistance toward the accusation of pejorative status of Maryam as the "wive" of God.
Pencetakan Al-Qur’an, Isu Gender, dan Komodifikasi Agama: Fathurrosyid, Fathurrosyid; Fairuzah, Fairuzah; Nadhiroh, Wardatun
SUHUF Vol 17 No 1 (2024)
Publisher : Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22548/shf.v17i1.1003

Abstract

The Mushaf for Muslimah printing, an innovation in religious publishing in Indonesia, has garnered attention for presenting the Qur’an with translations and content markers adapted explicitly for women. This research aims to investigate the potential of this publication as an agent of women’s empowerment in the religious context while also exploring the challenges and risks associated with patriarchal ideology and the commodification of religion. Through the theoretical frameworks of religious commodification and feminism, this study will analyze how Mushaf for Muslimah uses religious symbols as commodities and responds to gender issues inherent within it. This research is a case study with primary data collected through observation, documentation, and interviews with the publisher, subsequently analyzed using content analysis approaches. In the context of commodification and feminist theories, this research identifies the complexities in efforts to empower women through religion while highlighting the challenges in maintaining a balance between the sacredness of religion and gender inclusion. These findings enrich our understanding of the dynamics of contemporary Qur’anic printing and the role of religion in shaping gender identities and roles in society.
The Dissemination of Hijrah Doctrine on Social Media: A Study of Negotiation, Contestation, and Commodification of Religion Fathurrosyid; Muthhar, Moh. Asy'ari; Kahar, Abd.; Mokhtar, Wan Khairul Aiman Wan
ESENSIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 25 No. 2 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/esensia.v25i2.5809

Abstract

This research examines the process of disseminating the hijrah doctrine on social media, as well as the themes and motives attached to its dissemination. This study is a literature review using a virtual ethnography research model. Through a traveling theory approach, the study finds that: First, the dissemination of the hijrah doctrine on social media is predominantly carried out and shared by urban Muslims and millennial Muslims. Second, common themes used to disseminate the hijrah doctrine include Islamic clothing, early marriage propaganda, bank interest, and motivation for building an Islamic Caliphate state. These themes are disseminated through Hijrah Fest events, social media study groups, the narrative of agency socialization through artists and celebrities, and Islamist literature. This study argues that the dissemination of the hijrah doctrine on social media constitutes a form of religious commodification, with a larger agenda of promoting the movement to establish an Islamic Caliphate state.