Claim Missing Document
Check
Articles

Struktur Komunitas Plankton Tambak Polikultur Bandeng (Chanos chanos) dan Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) di Desa Tebaloan Kecamatan Duduksampeyan Kabupaten Gresik Zumrotul Muaffah; Saimul Laili; Ratna Djuniwati Lisminingsih
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol 4, No 2 (2022)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v4i2.11894

Abstract

AbstractPlankton is an organism that has a very small size or micro-organisms that live floating in the waters. This study aims to compare the abundance, diversity, uniformity, dominance, importance of plankton and water quality in milkfish and shrimp polyculture ponds in the Tebaloan village, Duduksampeyan District, Gresik Regency. This research was conducted in Tebaloan Village, Duduksampean District and sampling was carried out at 08.00-10-00 WIB. The plankton sample method uses purposive sampling. The results showed the diversity of plankton consisting of 20 plankton with 16 phytoplankton and 4 zooplankton. At station I, the most common classes were Bacillariophyceae, Cyanophyceae and Chlophyceae. Meanwhile, at station II, the classes were mostly Cyanophyceae. In the community structure, the Diversity Index (H') value is 1.21-1.97 which is categorized as medium. The Uniformity Index (E) is 0.13-0.21 which is categorized as low. Meanwhile, the Dominance Index (C) is 0.39-0.52, at station I is categorized as high and at station II categorized as low. Parameters carried out during the study were temperature, water brightness, TDS, salinity, pH, DO, dissolved CO2 and nitrate. The results of water quality measurements in both polyculture ponds were categorized as medium or poor pond waters for cultivating milkfish and vannamei shrimp.Keywords: Plankton, Community Structure, Polyculture PondABSTRAKPlankton merupakan organisme yang memiliki ukuran yang sangat kecil atau bisa juga disebut jasad renik yang hidup melayang di perairan.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan kelimpahan, diversitas, keseragaman, dominansi, nilai penting plankton dan kualitas air pada tambak polikultur bandeng dan udang di Desa Tebaloan Kecamatan Duduksampeyan Kabupaten Gresik. Penelitian ini dilakukan di Desa Tebaloan Kecamatan Duduksampean dan pengambilan sampel dilakukan pada pukul 08.00-10-00 WIB. Metode sampel plankton menggunakan purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan keanekaraaman plankton yang terdiri dari 20 plankton dengan 16 fitoplankton dan 4 zooplankton. Pada stasiun I paling banyak ditemukan adalah kelas Bacillariophyceae, Cyanophyceae dan Chlophyceae. Sedangkan pada stasiun II ditemukan paling banyak adalah kelas Cyanophyceae. Pada struktur komunitas nilai Indeks Keanekaragaman (H’) 1.21-1.97 yang dikategorikan sedang. Nilai Indeks Keseragaman (E) 0.13-0.21 yang dikategorikan rendah. Sedangkan nilai Indeks Dominansi (C) 0.39-0.52, pada stasiun I dikategorikan tinggi dan pada stasiun II dikategorikan rendah. Parameter yang dilakukan saat penelitian adalah suhu, kecerahan air, TDS, salinitas, pH, DO, CO2 terlarut dan nitrat. Hasil pengukuran kualitas air pada kedua tambak polikultur dikategorikan sebagai perairan tambak sedang atau kurang baik untuk membudidayakan ikan bandeng dan udang vannamei.Kata kunci : Plankton, Struktur Komunitas, Tambak Polikultur
Uji Efektivitas Daun Maja (Aegle marmelos) Sebagai Bioinsektisida Hama Plutella xylostella pada Tanaman Brokoli (Brassica oleracea var. italica) Silvia Fitrotul Azizah; Saimul Laili; Ratna Djuniwati Lisminingsih
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol 4, No 1 (2021)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v4i1.9965

Abstract

Indonesia has many insecticide producing plants that can be used as a control of plant pests.. Fermentation of squeeze maja leaves is suspected to be used as an herbal insecticide. Broccoli as a vegetable plant brassicacea tribe, one of the pests destroying broccoli plants is the caterpillar Plutella xylostella. The purpose ofthis research is to find out the effectiveness of fermentation of maja leaves as a pest of Plutella xylostella. Experimental research method is done using randomized design group (RDG) with 5 treatment concentrations sprayed fermentation maja leaves that is P0 = control (0%), P1 (25%), P2 (50%), P3  (75%), P4 (100%) and 4 repeats. Data from the analysis using Anova. The results showed Fhit > F(0.05) which is 11.12 > 3.26 there is a significant influence. But for the treatment of group Fhit < F(0.05) which is 1.15 < 3.49. The temporary conclusion of fermentation spraying of maja leaves has an effect  on the mortality of the pest Plutella xylostella, but has no significant effect on the treatment of the group.Keywords: Maja Leaf Fermentation Solution, Herbal Insecticide, Plutella xylostella Pest  ABSTRAKIndonesia mempunyai banyak tumbuhan penghasil insektisida yang dapat dimanfaatkan sebagai mengendalikan hama tanaman. Fermentasi perasan daun maja diduga dapat digunakan sebagai bahan insektisida herbal. Brokoli sebagai tanaman sayuran suku brassicacea, salah satu hama perusak tanaman brokoli adalah ulat Plutella xylostella. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas fermentasi perasan daun maja sebagai mengendali hama Plutella xylostella.Metode penelitian dilakakuan secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan konsentrasi yang disemprot fermentasi perasan daun maja yaitu P0 = kontrol (0%), P1 (25%), P2 (50%), P3 (75%), P4 (100%) dan 4 kali ulangan. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan Anova. Hasil penelitian menunjukkan Fhit > F(0,05) yaitu 11.12 > 3.26 terdapat pengaruh yang signifikan. Tetapi untuk perlakuan kelompok Fhit < F(0.05) yaitu 1.15 < 3,49. Kesimpulan sementara penyemprotan fermentasi perasan daun maja berpengaruh terhadap mortalitas hama Plutella xylostella, tetapi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap perlakuan kelompok.Kata kunci : Larutan Fermentasi Daun Maja, Insektisida Herbal, Hama Plutella xylostella
Uji Limbah Hasil Fermentasi Buah Maja (Aegle marmelos) Terhadap Pertumbuhan Tanaman Sawi Pakcoy (Brassica rapa l.) Silvia Eka Safitri; Saimul Laili; Ratna Djuniwati Lisminingsih
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol 4, No 1 (2021)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v4i1.8853

Abstract

The Maja plant is a plant of the Rutaceae family that from tropical and subtropical regions of America. The benefits of Maja fruit fermentation waste can be used as organic liquid fertilizer. Pakcoy mustard is a vegetable that is needed by humans to meet their daily needs. The need for the vegetable market, especially Pakcoy mustard, has increased from year to year. Fertilizing plants is redundant to replace nutrients transported by plants, especially if the soil used for plant cultivation has a low fertility level, one of which is by utilizing the fermented Maja fruit waste can be used as liquid organic fertilizer containing elements macro and micronutrients needed by plants. This study aims to determine the effect of giving Maja fruit fermentation waste to the growth of mustard Pakcoy and to determine the best concentration for the growth of mustard Pakcoy. The method used in this study was an experimental method using a one-factor completely randomized design study (CRD) with concentrations of 0%, 10%, 20%, 30%, and 40% respectively 4 times with 5 treatments. The parameters observed in this study included plant height, number of leaves, root length, wet weight, dry weight, and abiotic factors. The research data were analyzed using analysis of variance (ANOVA), then if there was a significant difference, the LSD test was continued at 5%. The results showed that giving Maja fruit fermentation waste with a concentration of 40% affected increasing the wet weight of Pakcoy mustard with an average value of 82.50 grams.Keywords: Pakcoy Mustard, Maja Fruit Fermented Waste, Organic FertilizerABSTRAKTanaman maja adalah tumbuhan dari famili Rutaceae berasal dari daerah tropis dan subtropis di Amerika. Manfaat limbah fermentasi buah maja dapat digunakan sebagai pupuk cair organik. Sawi Pakcoy adalah sayuran yang sering diolah oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan pangan. Terjadi peningkatan kebutuhan pakcoy setiap periode tahun. Pemberian pupuk terhadap tanaman mutlak diperlukan untuk menggantikan unsur hara. Media tanam budidaya sawi pakcoy pada tanah dengan tingkat kesuburan rendah perlu pemupukan, salah satu alternatif dengan pupuk cair organik limbah fermentasi buah maja yang mudah diperoleh. Limbah tersebut terbukti mengandung unsur hara makro dan mikro yang dibutuhkan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian limbah hasil fermentasi buah maja terhadap pertumbuhan tanaman sawi pakcoy pada konsentrasi yang paling baik bagi pertumbuhan. Metode penelitian dilakukan secara eksperimen menggunakan desain rancangan acak lengkap (RAL).Perlakuan konsentrasi dimulai dari 0%; 10%; 20%; 30%; 40% dengan 4 kali ulangan. Pengamatan yang dilakukan pada penelitian ini diantaranya tinggi tanaman, jumlah daun, panjang akar, bobot basah, bobot kering, dan faktor abiotik. Analisis anova digunakan dalam penelitian ini untuk mengetahui adanya perbedaan yang nyata pada setiap perlakuan kemudian dilanjut uji BNT 5%. Penelitian ini memberikan hasil bahwa pemberian limbah hasil fermentasi buah maja dengan konsentrasi 40% berpengaruh dalam peningkatan bobot basah sawi pakcoy dengan nilai rata-rata 82,50 g.Kata kunci : Sawi Pakcoy, Limbah Hasil Fermentasi Buah Maja, Pupuk Organik
Eksplorasi Vegetasi Kawasan Hutan Pantai Sebagai Atraksi Edu-Wisata Di Pantai Gatra Dusun Sendang Biru Desa Sitihatjo Kecamatan Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang Sitti Nor Fajariyah; Ratna Djuniwati Lisminingsih; Hasan Zayadi
Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience -Tropic) Vol 5 No 1 (2019): Keragaman Populasi Makhluk
Publisher : Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (422.133 KB)

Abstract

Gatra Beach in Malang Regency has the concept of ecotourism, but the reality is this beach for camping that is at risk of damaging vegetation in Gatra beach. The purpose of this study are to find out the structure and composition of the Gatrah beach vegetation, knowing the perception of tourists on the vegetation of Gatra beach and knowing the potential of Gatra beach vegetation as a tourist attraction. The method used is the belt-transect method with four stations. Analyses are used i.e., RFC analysis and the SWOT analysis. Analysis of the results obtained by the two vegetation formations that make up the beach Gatra i.e. formation Barringtonia and the formation of lowland forests. Formation Barringtonia found 10 species with index value important highest are Barringtonia asiatica (65,9) and Samanea saman (57,6) Formation the lowland forest found 11 species with index value important highes Musa acuminate (80,2) and Samanea saman (59,5). Tourist perceptions of species of interest in the Barringtonia formation is Samanea saman (0,29), while species of interest in lowland forest formation is Musa acuminata (0,11). So that the beach of Gatra has the potential as an edu-tourism attraction area. Keywords: analysis of vegetation, RFC, tourist attractions, ecotourism, Barringtonia ABSTRAK Pantai Gatra di kabupaten Malang memiliki konsep ekowisata, namun kenyataan di lapangan pantai Gatra menjadi tempat berkemah yang beresiko merusak vegetasi pantai Gatra. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur dan komposisi vegetasi pantai Gatra, mengetahui persepsi wisatawan terhadap vegetasi pantai Gatra dan mengetahui potensi vegetasi pantai Gatra sebagai atraksi wisata. Metode yang digunakan yakni metode belt-transek dengan empat stasiun. Analisis yang digunakan melalui analisis RFC dan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan terdapat dua formasi yang menyusun pantai Gatra yakni formasi Barringtonia dan formasi hutan dataran rendah. Formasi Barringtonia dengan 10 spesies, indeks nilai penting tertinggi yakni Barringtonia asiatica (65,9) dan Samanea saman (57,6). Formasi hutan dataran rendah dengan 11 spesies, indeks nilai penting tertinggi spesies Musa acuminata (80,2) dan Samanea saman (59,5). Persepsi wisatawan terhadap spesiesdiminati pada formasi Barringtonia adalah Samanea saman (0,29), sedangkan pada formasi hutan dataran rendah yakni spesies Musa acuminata (0,11). Sehingga pantai Gatra berpotensi sebagai kawasan atraksi edu-wisata. Kata kunci: analisis vegetasi, RFC, atraksi wisata, ekowisata, Barringtonia
Studi Osifikasi Anggota Tubuh Embrio Ayam Buras dengan Pewarnaan Alizarin Red Fatimatuz Zahrotul Husna; Hari Santoso; Ratna Djuniwati Lisminingsih
Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience -Tropic) Vol 5 No 2 (2020): Fase Pembentukan Tubuh dan Sebaran Makhluk
Publisher : Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.558 KB)

Abstract

Free-range chicken is a germplasm whose existence needs to be preserved. The quality of the skeleton (skeleton) in livestock is one of the important factors in determining the quality of livestock chickens, to know the ossification of the wing and leg chicken embryo in the stained area of ​​the bone marked with a change of color to dark red. The results of the observation showed that in the part of 9-days-old embryo wing, the bone that had calcified is carpometacarpo, ulna, radius and humerus at the 13-days-old embryo, in the 2nd digiti, carpometacarpo, pollex, ulna, radius and humerus. At the 17-days-old, 1st digiti, 2nd digiti, carpometacarpo, pollex, ulna, radius and humerus. At the chickens aged 1-day-old 1st digiti, 2nd digiti, 3rd digiti, carpometacarpo, pollex, radius, ulna and humerus. And in the part of the 9-days-old leg embryo found calcified bones were femur bone, tibia and tarsometatarso, at the age of 13-days the femur, tibia, tarsometatarso, digiti 1, digiti 2 and digiti 3, at the age of 17 femur, tibia, tarsometatarso, 1st digiti, 2nd digiti, 3rd digiti, and 4th digiti. And at the chicken aged 1-day-old femur, tibia, tarsometatarso, 1st digiti, 2nd digiti, 3rd digiti, and 4th digiti. The conclusion can be taken is that in wing and leg chicken embryo 9-days-old, 13-days-old, 17-days-old dan the chicken aged 1-day-old is humerus, radius, ulna, carpometacarp, femur, tibiotarsus and tarsometatarsus had osification which differentiation is digiti. Keywords: Chicken, calcification, ossification, alizarin red. ABSTRAK Ayam buras adalah turunan dari proses penyilangan ayam hutan dengan ayam pedaging, yang didomestikasi dan dikembang-biakan. Osifikasi anggota tubuh embrio ayam diawali dari tulang rawan dan berkembang menjadi tulang keras. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui osifikasi embrio ayam umur 9, 13, 17 dan 21 hari. Metode penelitian digunakan deskriptif kuantitatif dengan purposive sampling, dengan pewarna alizarin red. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan warna tulang embrio ayam dari merah muda sampai merah keunguan. Bagian tulang yang terosifikasi meliputi humerus, radius, ulna, carpometacarpo, femur, tibiotarsus, tarsometatarsus dan digiti. Tulang yang berwarna merah keunguan pada embrio umur 9 hari adalah carpometacarpo, ulna, radius, humerus, femur, tibia dan tarsometatarso, yang berwarna merah muda yakni pada seluruh tulang digiti dan pollex. Pada embrio umur 13 hari adalah digiti ke 2, carpometacarpo, pollex, ulna, radius, humeru, femur, tibia, tarsometatarso,digiti ke 1, digiti ke 2 dan digiti ke 3, yang berwarna merah muda yakni digiti ke 1 dan ke 3 pada sayap dan digiti ke 4 pada kaki . Pada umur 17 hari digiti ke 1, digiti ke 2, carpometacarpo, pollex, ulna, radius, humerus, femur, tibia, tarsometatarso,digiti ke 1, digiti ke 2, digiti ke 3 dan digiti ke 4 dan yang berwarna merah muda digiti ke 4 pada kaki. Pada umur 21 hari digiti ke 1, digiti 2, digiti 3, carpometacarpo, pollex,radius, ulna, humerus, femur, tibia, tarsometatarso, digiti ke 1, digiti ke 2, digiti ke 3 dan digiti ke 4. Tulang yang berwarna merah keunguan telah mengalami osifikasi sedangkan tulang yang berwarna merah muda belum mengalami osifikasi. Kata kunci: embrio, osifikasi, alizarin red.
Analisis Struktur Skeleton Embrio Kadal (Mabouya multifasciata) dengan Pewarnaan Alizarin Red Nur Khasanah; Hari Santoso; Ratna Djuniwati Lisminingsih
Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience -Tropic) Vol 5 No 2 (2020): Fase Pembentukan Tubuh dan Sebaran Makhluk
Publisher : Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.761 KB)

Abstract

The bone growth on any organisms have different patterns and equity. In the embryo of ossification lizards happened it during the eggs in the body of the parent before was born. The research aim is to find a bone structure of the embryo that was 48 days old. The method used qualitative with the technique of purposive sampling and alizarin red staining. Using the six embryos of lizards (mabouya multifasciata) and it was taken directly from the mother. The analysis used is counting the long of vertebrae and extremitie. The obtained results were the red colur on limb and vertebrae. Sections of the anterior extremity which undergoes ossification is the humerus, radius, the ulna, phalanges and claws. The posterior extremity which ossification is the femur, the fibula, the tibia, phalanges and claws. The vertebrae bone that it hapened ossification was cervical vertebrae , vertebrae thoracic, lumbar vertebrae , sacralis vertebrae and caudalis vertebrae. Whereas a bone in the part of the limb posterior ones which are not hapened ossification is the carpal and metacarpal. Keywords : lizard, alizarin red, bone structure ABSTRAK Struktur pertumbuhan tulang pada setiap masing-masing organisme mempunyai pola berbeda dan persamaan. Pada embrio kadal osifikasi terjadi semasa fase telur dalam tubuh induk sebelum dilahirkan. Tujuan penelitian untuk mengetahui struktur tulang embrio berumur 48 hari. Metode penelitian menggunakan kualitatif dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling dan pewarnaan alizarin red. Menggunakan embrio kadal (Mabouya multifasciata) sebanyak enam ekor diambil langsung dari perut induknya. Analisis adalah menghitung panjang tulang vertebrae dan ekstremitas. Hasil yang telah didapat adalah tulang ekstremitas dan vertebrae yang telah berwarna merah. Bagian tulang ekstremitas anterior yang telah terosifikasi adalah humerus, radius, ulna, falang dan cakar. Pada tulang ekstremitas posterior yang sudah mengalami osifikasi adalah femur, fibula, tibia, falang dan cakar. Tulang vertebrae yang sudah mengalami osifikasi adalah vertebrae servikalis, vertebrae torakalis, vertebrae lumbalis, vertebrae sacralis dan vertebrae caudalis. Sedangkan tulang di bagian ekstremitas posterior yang belum mengalami osifikasi yaitu carpal dan metacarpal. Kata Kunci : kadal, alizarin red, struktur tulang
Studi Osifikasi dan Morfokinetik Berudu Katak Rana catesbeiana Shaw. dengan Alizarin Red Suryanti Suryanti; Hari Santoso; Ratna Djuniwati Lisminingsih
Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience -Tropic) Vol 5 No 2 (2020): Fase Pembentukan Tubuh dan Sebaran Makhluk
Publisher : Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.952 KB)

Abstract

Tadpole is a phase of frog metamorphosis. The frog tadpoles live in water, before the anterior extremities and posterior extremities are formed. Posterior limb growth is accompanied by calcifications and the anterior extremity followed by shortening of the tadpole tail. The aim research was to determine the ossification and morphokinetics of tadpoles in the posterior extremities, anterior limbs and tadpole tail shrinkage. The frog tadpoles do not have legs and move using tails. The research method uses descriptive quantitative techniques. The tadpoles were used a 4-month-old metamorphosis result. The bones have happened ossification that are marked by a change in the color of the bone to purplish red. The frog tadpoles develop in two phases, including the embryonic phase and the larval phase. The formation of hind limbs occurs in stages of 26-30, followed by toe development in stages of 31-37. The anterior extremities are corroded: the humerus os, the radio –ulna os, the os metacarpal and the falangs os, the posterior limb: the femoral os, the tibio-fibular os, the tarsal os and the metatarsal os. Keywords: Tadpoles, Ossification, extremities ABSTRAK Berudu merupakan salah satu fase dari metamorfosis katak. Berudu katak hidup di air, sebelum ekstremitas anterior dan ekstremitas posterior terbentuk. Pertumbuhan ekstremitas posterior dibarengi dengan kalsifikasi dan ekstremitas anterior diikuti dengan memendeknya ekor berudu. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui osifikasi dan morfokinetik berudu bagian ekstremitas posterior, ekstremitas anterior dan penyusutan ekor berudu. Berudu katak tidak memiliki kaki dan bergerak menggunakan ekor. Metoda penelitian menggunakan Teknik kuantitatif deskriptif. Berudu yang digunakan adalah hasil metamorfosis usia 4 bulan. Tulang yang telah mengalami osifikasi ditandai dengan adanya perubahan warna pada tulang menjadi merah keunguan. Berudu katak mengalami perkembangan dalam dua fase, meliputi fase embrio dan fase larva. Terbentuknya kaki belakang terjadi pada tahap 26-30, dilanjutkan dengan terbentuknya jari kaki (toe development) pada tahap 31-37. Ekstremitas anterior yang terosifikasi : os humerus, os radio-ulna, os metacarpal dan os falangs, ekstremitas posterior : os femur, os tibio-fibula, os tarsal dan os metatarsal. Kata Kunci : Berudu, Osifikasi, Ekstremitas
Keanekaragaman Plankton Di Kolam Pertumbuhan Ikan Bandeng (Chanos chanos Forsskal) Yang Terparasiti Di Desa Balongpanggang Gresik Rizki Kusuma Hantika; Ratna Djuniwati Lisminingsih; Nour Athiroh AS
Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience -Tropic) Vol 6 No 1 (2020): Kondisi Habitat
Publisher : Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.091 KB)

Abstract

The role of plankton in ecology as a parameter of lush or not a waters, because plankton is the basis of the natural feed chain in the waters. The previous research has been done on the morphology and anatomy of milkfish (Chanos chanos Forsskal) at the pond in the village of Balongpanggang, Gresik, where the waters are polluted. Parasitic worms found nematodes in fish intestines have an impact on losses for fish farmers. The purpose of this study is to identify, find out the differences, determine the level of risk of the type of plankton and determine the condition of abiotic factors in the pond. The study used 24 samples from 3 parasites and 1 non-parasite pond using the Randomized Block Design (RBD) method. Based on the results of observations and identification of plankton in the Integrated Milkfish Growth Pool, there were 53 cells of Chlorococcum humicola and 37 individuals of Stentor roeseli. Phytoplankton found in all ponds, namely Chlorella variegatus, Chlorococcum humicola, Navicula cuspidata, Navicula placentula, Nostoc sphaericum, and Protococcus viridis. While Zooplankton is only 1 in all pools, namely Stentor roeseli. Unparasitic ponds have the highest plankton diversity level (5.7), rather than parasitic ponds 2 (5.0). The condition of abiotic factors (pH) in all ponds is still in accordance with water quality standards for aquaculture ponds. Keywords: Plankton, Identification, Diversity level ABSTRAK Peranan plankton dalam ekologi sebagai parameter subur tidaknya perairan, karena plankton merupakan dasar mata rantai pakan alami di perairan Penelitian terdahulu dilakukan pada morfologi dan anatomi ikan Bandeng (Chanos chanos Forsskal) dalam suatu tambak di desa Balongpanggang, Gresik yang perairannya tercemar. Ditemukan cacing parasit nematoda dalam usus ikan yang berimbas pada kerugian bagi petani ikan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi, mengetahui perbedaan, tingkat kenekargaman jenis plankton dan kondisi faktor abiotik kolam. Penelitian menggunakan 24 sampel dari 3 kolam yang terparasiti dan 1 kolam yang tidak terparasiti dengan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK). Berdasarkan hasil pengamatan dan identifikasi plankton pada Kolam Pertumbuhan Ikan Bandeng yang Terparasiti didapatkan spesies Chlorococcum humicola sebanyak 53 sel dan spesies Stentor roeseli sebanyak 37 individu. Ditemukan Fitoplankton yang keberadaannya ada di semua kolam, yaitu Chlorella variegatus, Chlorococcum humicola, Navicula cuspidata, Navicula placentula, Nostoc sphaericum, dan Protococcus viridis. Sedangkan Zooplankton hanya 1 disemua kolam, yaitu Stentor roeseli. Kolam tidak terparasiti merupakan kolam yang memiliki nilai tingkat keanekaragaman plankton tertinggi (5,7), daripada kolam terparasiti 2 (5,0). Kondisi faktor abiotik (pH) pada semua kolam masih sesuai standar kualitas air untuk budidaya tambak. Kata kunci: Plankton, Identifikasi, Indeks Keanekaragaman
Persepsi Masyarakat terhadap Sanitasi Pasar Tradisional Asem Jajar Dan Pasar Kokop di Kabupaten Bangkalan Luluk Atul Ainiyah; Saimul Laili; Ratna Djuniwati Lisminingsih
Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience -Tropic) Vol 6: Edisi Khusus Tafsir I tentang Masyarakat-Lingkungan-Hayati
Publisher : Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (690.559 KB)

Abstract

Traditional markets are places that are always visited by everyone, because the market must be free from all diseases caused by dirt and garbage around. The current traditional market conditions still have a poor and unclean impression. This research was conducted at the Asem Jajar traditional market and Kokop market in Bangkalan Regency. The purpose of this study is to determine the sanitization conditions of the traditional markets of Asem Jajar and Kokop markets, to determine the public perception of the sanitation of the traditional markets of Asem Jajar and Kokop markets. This study uses descriptive quantitative methodology and direct observation, distributing questionnaires or direct interviews and determining the sample of respondents using purposive sampling method. The results of this study are sanitation conditionns that are being or said to be healthy, while for the condition of the draen asem jajar market draenase it is not feasible to say a healthy market, draenase conditions that can cause overflom and flooding during the rainy season. The sanitary conditions of the kokop market is still not clean or unhealthy, for the condition of the kokop market TPS the market is not feasible because there is no availability of temporary landfills. The results of the perception of the asem jajar market are quite good, while the results of public perception in the kokop market are said to be poor. Keywords: Asem Jajar market, Kokop market and sanitation ABSTRAK Pasar tradisional merupakan pasar yang selalu dikunjungi semua orang, karena demikian pasar harus bersih dari segala penyakit yang ditimbulkan oleh kotoran dan sampah disekitar. Kondisi pasar tradisional saat ini masih mempunyai kesan kurang baik dan kurang bersih. Tujuan penelitian yaitu untuk mengidentifikasi kondisi sanitasi pasar tradisional Asem Jajar dan pasar Kokop, untuk menganalisis persepsi masyarakat terhadap sanitasi pasar tradisional Asem Jajar dan pasar Kokop. Penelitian ini menggunakan metodelogi deskriftif kuantitatif dan observasi langsung, membagikan kuesioner atau wawancara langsung dan penentuan sampel responden menggunakan cara purposif sampling. Hasil dari penelitian ini kondisi sanitasi yang sedang atau dikatakan sehat, sedangkan untuk kondisi drainase pasar Asem Jajar tidak layak dikatakan pasar sehat, kondisi drainase yang bisa mengakibatkan luapan air dan terjadi banjir dikala musim hujan. Kondisi sanitasi pasar Kokop masih kurang bersih atau kurang sehat, untuk kondisi TPS pasar Kokop masih kurang layak dikatakan pasar sehat dikarenakan tidak ada ketersediaan tempat pembuangan sampah sementara. Hasil persepsi masyarakat pasar Asem Jajar bisa dikatakan cukup baik, sedangkan hasil persepsi masyarakat di pasar kokop dikatakan kurang baik. Kata Kunci : pasar asem jajar, pasar kokop dan sanitasi
Pengaruh Pemberian Sari Tebu (Saccharum officinarum L.) terhadap Kadar Gula Madu Lebah Apis mellifera Rodhiyatul Maghfiroh; Hari Santoso; Ratna Djuniwati Lisminingsih
Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience -Tropic) Vol 6 No 1 (2020): Kondisi Habitat
Publisher : Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (47.175 KB)

Abstract

The disruption of nectar and pollen providers for honey bees is currently a problem in the availability of natural feed. During the dry season, alternative feed sources are given to bee colonies to increase honey production. The purpose of this study was to determine the effect of feeding of sugarcane juice (Saccharum officinarum) on the sugar content of Apis mellifera honey with a comparison of the original feed in the form of nectar and pollen. This research was conducted at Batu city beekeeping. The method in this study used 4 treatments and 6 replications using the ANOVA test which was processed using SPSS 16 Analysis of the results obtained were PS 881 Sugar Cane, BL Sugar Cane, PSJK Cane is the same, but different from the control. Sugar cane has an influence on increasing sugar levels in honey. Keywords: Artificial feed, refractometer ABSTRAK Terganggunya penyedia nektar dan polen bagi lebah madu saat ini merupakan permasalahan dalam ketersediaan pakan alami. Pada saat musim paceklik, diberikan sumber pakan alternatif kepada koloni lebah untuk meningkatkan produksi madu. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan sari tebu (Saccharum officinarum) terhadap kadar gula madu Apis mellifera dengan perbandingan pakan asli berupa nektar dan polen. Penelitian ini dilakukan di peternakan lebah kota Batu. Metode pada penelitian ini menggunakan 4 perlakuan dan 6 ulangan dengan menggunakan uji Anova yang diolah menggunakan SPSS 16. Analisis hasil yang didapatkan yaitu Tebu PS 881, Tebu BL , Tebu PSJK adalah sama, tetapi berbeda dengan kontrol. Tebu memiliki pengaruh terhadap peningkatan kadar gula pada madu. Kata Kunci: Pakan buatan, refraktometer