Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

The Balinese Ethnic Community's Perceptions in Regards to Modifications in Denpasar's Residential Building Spatial Planning I Kadek Merta Wijaya; Mariana Correia; I Nyoman Warnata; I Ketut Sugihantara
Arsitektura : Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan Vol 20, No 2 (2022): Arsitektura : Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan
Publisher : Universitas Sebelas Maret Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/arst.v20i2.64516

Abstract

The increase influences changes in the spatial layout of Balinese ethnic residences in Denpasar in the number of family members, the growth in the community's economy, and the availability of residential yard land, which is decreasing. On the one hand, the Balinese ethnic community in Denpasar still has a perception of direction and orientation of significant (high) and obnoxious (low) values or luan and teben orientations as the forerunner to the spatial configuration of Balinese ethnic residences with the concept of zoning of the Sanga Mandala tread. This study aims to conceive of the Denpasar community's perception of the arrangement of residential houses amid increasing residential space needs. The method used is descriptive qualitative through empirical studies by conducting in-depth observations and interviews to understand the Denpasar community's understanding of structuring their homes. This study found that the Balinese ethnic community perceives changes in their homes' spatial layout based on literacy and adaptation; the Denpasar community understands the demands of residential space needs through a spatial transformation based on transformation spatial concepts of Balinese architecture.
Dualism in the transformation of Balinese ethnic residential architecture in Denpasar I Kadek Merta Wijaya; I Nyoman Warnata; Ni Wayan Meidayanti Mustika
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur Vol 7 No 3 (2022): ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur | September 2022 ~ Desember 2022
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30822/arteks.v7i3.1225

Abstract

Spatial transformation and building layout of Balinese ethnic dwellings are influenced by the need for residential space and the occupants of the house. The increase in the number of family members in one dwelling impacts increasing the space for living. The development of architectural style as a trend is another factor that changes building layout. This change is a process from the initial state - the spatial and building layout concept of sanga mandala - towards contemporary architecture. These changes are characterized by architectural elements that are subject to change, and the elements that are persistent to change. This research aims to examine the meaning of dualism in the residents of ethnic Balinese residences as a transformation process. The method used in this research is qualitative content analysis, with demographic, economic, and architectural trends approaches and perspectives. The interpretation resulted from the occupants' perceptions of transforming the Balinese ethnic residence in Denpasar. This study's findings are the process of changing the spatial planning and architectural structure of Balinese ethnic houses based on the fundamental concept of dualism in a sanga mandala spatial layout through demographic, economic, and developmental approaches to Balinese architectural trends.
Konsep Skematik Desain pada Perencanaan dan Perancangan Gedung Pameran Seni Kontemporer di Ubud, Gianyar I Wayan Yoga Astra; I Nyoman Warnata; I Wayan Parwata
Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/undagi.10.2.5135.318-326

Abstract

Ubud, Gianyar Bali, has a rapid development in the field of art. The emerging arts are contemporary art, contemporary art, contemporary fine art, contemporary painting, to contemporary installation art. The rapid development of art and the interest of the Balinese people in art are not balanced with the art facilities in Bali. Actually, in terms of the potential of contemporary art, Bali is the most superior in Indonesia. But because they do not have the space to provide facilities to them (artists), then finally many exhibit outside Bali and even abroad, therefore, it is time for Bali to prepare the right space for balinese contemporary artists.The study begins with learning the meaning and basics of the Art Exhibition Building, the understanding of contemporary art itself, standards regarding the layout of the art in the Art Exhibition Building, comparative study of several Art Galleries in Bali and Galleries – Contemporary Art Galleries outside the City of Bali.
Desain Detail Konservasi Pura Pajinengan Gunung Tap Sai Di Kabupaten Karangasem I Putu Andi Wira Adnyana Adnyana; I Nyoman Warnata; I Wayan Runa; I Wayan Gde Erick Triswandana
Jurnal Sutramas Vol. 3 No. 1 (2023): Jurnal Sutramas
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pura Pajinengan Gunung Tap Sai terletak di Dusun Puragae, Desa Pempatan, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem yang selanjutnya disebut Pura Tap Sai. Pura terletak di lereng barat laut Gunung Agung dan banyak umat ke pura untuk memohon keselamatan dan anugerah. Tap Sai berasal dari kata matapa sai sai (bertapa atau semedi setiap hari). Pada halaman utama (utamaning mandala) Pura terdapat pelinggih Lingga Yoni yang dililit akar pohon yang dipercaya umat sebagai tempat memohon anak atau keturunan, jodoh, segala permasalahan kesehatan, memohon obat, dan juga rezeki. Setelah persembahyangan di utamaning mandala, maka setiap umat (pemedek) akan diberikan seikat (11 Buah) dupa untuk melakukan permohonan khusus di Lingga Yoni. Pura juga memiliki tiga palinggih utama untuk memuja Dewi Sri, Dewi Rambut Sedana, dan Dewi Saraswati. Keberadaan pura ini di tengah hutan sehingga suasana alamnya tenang, damai, dan sakral. Oleh karena itu pura ini juga menjadi daya tarik masyarakat untuk kegiatan spiritual maupun untuk berwisata. Dengan jumlah masyarakat yang berkunjung ke Pura Pajinengan Gunung Tap Sai semakin meningkat, maka perlu adanya penataan mandala pura agar mampu menampung jumlah pengunjung secara optimal dan tentunya aman bagi para penyandang disabilitas, mengingat kondisi mandala pura yang cukup tinggi seperti terasering dikarenakan kontur tanah yang miring. Berdasarkan permasalahan di atas maka metode pelaksanaan pada tahun ke-3 ini adalah melalui desain detail konservasi pura. Pengumpulan data berupa penjajakan ke Pura untuk memperoleh data dalam proses desain detail konservasi pura. Desain detail pura agar lebih unik atau khas termasuk desain bangunan penunjang dan material pelinggih serta sirkulasi bagi para penyandang disabilitas. Jajak pendapat/wawancara dan sosialisasi juga dilaksanakan untuk mengoptimalkan desain detail konservasi Pura. Luaran akhir dari Program adalah desain detail konservasi pelinggih pura. Sebagai luaran akademis adalah publikasi pada Jurnal Ilmiah Nasional ber-ISSN. luaran lain seperti video tayang di Youtube dan berita di koran.
Desain Fasilitas Wisata Alam sebagai Program Pengembangan Objek Wisata Pantai Gamat di Desa Sakti, Nusa Penida - Bali I Kadek Merta Wijaya; I Nyoman Warnata; Ni Wayan Meidayanti Mustika
Jurnal Sutramas Vol. 3 No. 2 (2023): Jurnal Sutramas
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pantai Gamat berada di bagian utara Pulau Nusa Penida yang berbentuk teluk, berpasir putih, dengan biota laut yang masih alami, diapit oleh bukit membentuk lembah, serta memiliki view ke arah gugusan pulau kecil (Pulau Ceningan dan Pulau Lembongan). Potensi alam di Pantai Gamat masih belum memiliki fasilitas penunjang wisata sedangkan objek wisata Pantai Gamat diminati oleh wisatawan, sehingga diperlukan pengembangan kawasan melalui rancangan fasilitas wisata alam di Pantai Gamat. Namun pemecahan masalah tersebut jangan sampai membawa masalah baru, karena kawasan Pantai Gamat merupakan hutan desa sebagai penyangga alam di kawasan tersebut. Tujuan kegiatan ini adalah pengembangan wisata alam di Pantai Gamat dalam bentuk desain fasilitas wisata. Dalam pengembangan ini terdapat dua hal yang diperhatikan adalah (1) mengembangkan objek wisata di Kawasan Pantai Gamat, dan (2) mempertahankan kebaradaan keberlanjutan potensi alam yang terdapat di Pantai Gamat dan hutan desa. Oleh karena itu diperlukan solusi yang bijak dalam pengembangan ini yaitu (1) merencanakan fasilitas wisata di Pantai Gamat yang mempertimbangkan ekosistem pantai dan laut bebes dari ekploitasi yang besar dan polusi, dan (2) merencakan fasilitas glamping berkonsep ramah terhadap lingkungan.
Rencana Penataan Ruang Terbuka Hijau Di Desa Siangan, Kecamatan Gianyar, Kabupaten Gianyar Ni Komang Indra Mahayani; I Nyoman Warnata; I.G.A. Ayu Mas Suariedewi
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa Vol. 1 No. 7 (2023): September
Publisher : Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpmba.v1i7.305

Abstract

Tujuan pengbdian kepada masyarakat (PkM) ini untuk mempercepat Desa Siangan Kabupaten Gianyar Bali sebagai Desa Wisata, kegiatan berfokus penataan ruang terbuka hijau yang tidak dimanfaatkan dengan baik. Pemecahan masalah Penataan ruang terbuka yang terkesan sporadis dikarenakan belum ada masterplan penataan termasuk di kawasan Desa Siangan, peletakan dan penataan fasilitas penunjang ruang terbuka hijau kurang memadai karena tercampur dalam prosesi keagamaan, area lapangan berpotensi sebagai good view area layanan informasi dan atraksi sebagai daya tarik wisatawan. Solusi yang ditawarkan pendampingan dalam pembuatan rancangan penataan master plan ruang terbuka hijau gambaran rencana leak fasilitas umum dan sosial sesuai dengan fungsi lahan ruang terbuka hijau. Dalam masterplan ini dilengkapi dengan fungsi kegiatan dan dilengkapi dengan rencana sistem jaringan sarana serta prasarana. Hasil kegiatan penatan ruang terbuka menghasilkan gambar keadaan eksisting, konsep penataan dan site plan ruang terbuka hijau.
Kajian Arsitektur Biophilic pada Arsitektur Tradisional Bali sebagai Pendukung Ekowisata di Bali (Studi Kasus: Rumah Adat Bali) Pande Putu Dwi Novigga Artha; Nyoman Warnata; Anasta Putri
Arsitektura : Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan Vol 20, No 1 (2022): Arsitektura : Jurnal Ilmiah Arsitektur dan Lingkungan Binaan
Publisher : Universitas Sebelas Maret Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/arst.v20i1.55967

Abstract

The development of the times indirectly affects human needs which have an impact on all aspects of human life, psychology, lifestyle to architecture.  There are several rules of Traditional Balinese Architecture that contrast or are not suitable when combined with modern architecture that is in demand by today's society. However, if ecotourism buildings in Bali follow the architectural trend in the world, it will violate the Bali Regional Regulation and Bali will lose its architectural identity. There is a gap between traditional Balinese architecture that must be applied with modern architecture which is the current trend. Biophilic Architecture is building's connection to the environment will affect the health of the community both physically and psychologically. In general, the Biophilic approach and Traditional Balinese Architecture are both environmentally based. Therefore, Biophilic Architecture can be a bridge between Traditional and Modern Architecture. Using comparative quantitative research methods with biophilic as an indicator of assessing traditional Balinese architecture, the results of modern architecture guidelines that have environmental-based traditional rules will be obtained. This research is expected to be a guide or reference in designing ecotourism buildings that are modern but still strong in their traditional Balinese identity.