Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Strategi Self-Presentation Gibran Rakabuming Raka Sebagai Wali Kota Solo Di Akun Instagram @Gibran_Rakabuming Peter Gerids Leonardo Safkaur; Gatut Priyowidodo; Jandy Edipson Luik
Jurnal e-Komunikasi Vol 10, No 1 (2022): VOL 10, NO 1 MARET 2022
Publisher : Jurnal e-Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Self-presentation adalah sebuah proses tentang bagaimana seseorang membentuk apa yang orang lain pikirkan ataupun apa yang kita pikirkan tentng diri kita sendiri. Self-presentation dibagi menjadi dua jenis yaitu defensive self-presentation yang memiliki 5 sub-indikator (excuse, justification, disclaimer, self-handicapping, apology) dan juga assertive self-presentation yang terdiri dari 8 sub- indikator (ingratiation, intimidation, supplication, entitlement, enhancement, basking, blasting, exemplification). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui strategi self-presentation Gibran Rakabuming sebagai Walikota Solo dalam akun Instagram @gibran_rakabuming. Penelitian ini mencoba menemukan bagaimana Gibran Rakabuming melakukan presentasi diri selama 100 hari pertama ia menjabat sebagai Walikota Solo mulai tanggal 26 Februari sampai dengan 6 Juni 2021. Latar belakangnya yang merupakan seorang pengusaha dan dinilai minim pengalaman politik membuat Gibran Rakabuming banyak diterpa isu negatif serta dinilai belum mampu memimpin sebagai Walikota. Penelitian ini menggunakan metode analisis isi kuantiatif dengan melihat dan menganalisis caption Gibran Rakabuming sebanyak 137 postingan Grid. Temuan dari penelitian ini adalah Gibran Rakabuming lebih sering menggunakan strategi assertive self-presentation pada sub-indikator exemplification dimana Gibran Rakabuming sering mengajak orang untuk melakukan sesuatu yang ia inginkan atau hal-hal positif.
Sikap Konsumen Mengenai Brand Baru Kristal Hotel Kupang Ivena Janice Fulbertus; Jandy Edipson Luik; Agusly Irawan Aritonang
Jurnal e-Komunikasi Vol 10, No 2 (2022): VOL 10, NO 2 SEPTEMBER 2022
Publisher : Jurnal e-Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kristal Hotel Kupang merupakan sebuah brand baru hasil rebranding dari brand sebelumnya yaitu Hotel Swiss-Belinn Kristal Kupang. Penelitian ini dilakukan peneliti dengan tujuan untuk mengetahui sikap konsumen mengenai brand baru Kristal Hotel Kupang. Sebagai hotel berbintang tiga yang sebelumnya bekerja sama dengan Swiss-Bel Hotel International telah berakhir masa kontrak sehingga terjadi rebranding dan terciptanya brand baru. Elemen-elemen brand yang berubah yaitu Brand Name, URL, Logo , Slogan dan Packaging dimana akan menjadi sarana untuk mengkomunikasikannya kepada konsumen. Jenis penelitian ini adalah deskriptif yaitu mendeskripsikan sikap konsumen Kristal Hotel Kupang mengenai brand baru, dengan pendekatan kuantitatif menggunakan metode survei instrumen yang digunakan berupa kuesioner online dan offline. Selain itu penelitian ini akan menggunakan variabel sikap dengan indikator adalah kognitif, afektif, dan konatif dan dimensi adalah elemen-elemen brand yang mengalami perubahan. Peneliti melakukan analisis dengan sampel sebanyak 100 responden yaitu konsumen Kristal Hotel Kupang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa elemen brand yang menghasilkan sikap positif dalam tiga komponen sikap adalah nama brand. Karena nama brand adalah yang paling berhubungan langsung dengan produk dalam ingatan konsumen. Sedangkan elemen brand lainnya yaitu logo brand, slogan, URL, dan packaging hanya dalam salah satu komponen atau pada dua komponen sikap saja yang menghasilkan sikap positif.
Representasi Kekerasan Seksual Dalam Film Penyalin Cahaya Naviri Siswanto; Jandy Edipson Luik; Chory Angela Wijayanti
Jurnal e-Komunikasi Vol 10, No 2 (2022): VOL 10, NO 2 SEPTEMBER 2022
Publisher : Jurnal e-Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana kekerasan seksual direpresentasikan melalui film Penyalin Cahaya. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Metode penelitian yang digunakan adalah metode semiotika kode-kode televisi John Fiske yang dilihat melalui kode level realitas, level representasi, dan level ideologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film Penyalin Cahaya memperlihatkan bagaimana kekerasan seksual yang tanpa kita sadari terjadi dan dilakukan oleh orang terdekat kita. Kekerasan seksual dapat terjadi di manapun dan kapanpun. Dalam penelitian ini, representasi yang muncul yaitu adanya kekuasaan pelaku kekerasan seksual yang lebih tinggi dan perjuangan kelas sosial yang lebih lemah untuk menyuarakan kebenaran kekerasan seksual. Ideologi yang digambarkan dalam penelitian ini adalah ideologi kelas.
Konten Brand Attribute dalam Instagram RANS PIK Basketball Grazindy Clarisa Armand; Jandy Edipson Luik; Daniel Budiana
Jurnal e-Komunikasi Vol 10, No 2 (2022): VOL 10, NO 2 SEPTEMBER 2022
Publisher : Jurnal e-Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan brand attribute yang dilakukan oleh klub basket RANS PIK Basketball. Instagram adalah salah satu media sosial untuk dapat melakukan komunikasi pemasaran. Penelitian ini menggunakan analisis isi kuantitatif. Unggahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah unggahan yang dibagikan oleh akun Instagram RANS PIK Basketball pada tanggal 15 September 2021 hingga 30 Maret 2022. Hasilnya ditemukan, RANS PIK Basketball sering mengunggah pada hari Rabu 17,2% dan pada bulan Maret 26.4%, yang paling sedikit unggahan dilakukan pada hari Sabtu dan bulan September. Konten brand attribute yang paling sering muncul adalah pada indikator product-related dengan perolehan jumlah unggahan 181. Sedangkan, yang paling sedikit unggahan dilakukan pada atribut product-related adalah pada head coach dengan frekuensi 21 unggahan. Selain itu, attribute non product-related yang paling banyak diunggah adalah brand mark dengan 77 unggahan. Sedangkan, unggahan yang sedikit dilakukan adalah pada atribut fans 3 unggahan. Hasil dari penelitian ini adalah RANS PIK Basketball sebagai tim yang baru, banyak mengunggah konten dengan brand attribute product-relation dan menonjolkan para pemainnya (star player). Selain itu, untuk menguatkan identitas RANS PIK Basketball juga menonjolkan pada brand mark yang dimiliki dalam indikator non product-related. Konten brand attribute yang dilakukan oleh RANS PIK Basketball berkaitan dengan sport communication as sport in industry.
Penerimaan Citra Windah Basudara oleh Penonton Pada Konten Charity di Youtube Daniel Sefrandov; Jandy Edipson Luik; Astri Yogatama
Jurnal e-Komunikasi Vol 10, No 2 (2022): VOL 10, NO 2 SEPTEMBER 2022
Publisher : Jurnal e-Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Windah Basudara merupakan channel Youtube gaming yang dibuat oleh seorang pria yaitu Brando Franco Windah. Brando memulai channel nya di akhir Desember 2018 dan mulai aktif pada tahun 2019. Windah Basudara dalam perjalanannya sudah meraih banyak penghargaan, salah satunya adalah “Content Creator Gaming Terfavorit 2021” yang diadakan oleh GlobalTV. Windah Basudara tidak membuka donasi selama melakukan live streaming YouTube selain di konten charity. Windah Basudara sudah mengadakan 13 kali live streaming tentang konten charity dan mengumpulkan ratusan hingga milyaran rupiah untuk disumbangkan kepada orang yang membutuhkan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana penonton yang memiliki pengalaman berbeda dalam memaknai citra Windah Basudara pada konten charity, yang akan diteliti menggunakan metode analisis resepsi. Informan dalam penelitian ini adalah penonton konten charity Windah Basudara yang memiliki latar belakang dan umur yang berbeda. Hasil dalam penelitian ini, terdapat penerimaan dominant dan negotiated atas citra yang ditampilkan Windah Basudara pada konten charity. Penerimaan dominant dikarenakan tidak ada gap antara preferred reading komunikator dan penonton. Citra Windah Basudara adalah orang yang membedakan cara pembawaan diri pada konten charity dan diluar charity yang dinilai baik, jujur, dan bertanggung jawab. Akan tetapi, terdapat penerimaan negotiated dikarenakan terdapat sedikit gap antara preferred reading komunikator dan penonton yang dimana citra Windah Basudara di konten charity tidak memuaskan karena kehilangan ciri khasnya diluar konten charity yang lebih dulu diproduksi.
Representasi Feminisme dalam Film Serial Layangan Putus Griselda Sampurno; Jandy Edipson Luik; Desi Yoanita
Jurnal e-Komunikasi Vol 10, No 2 (2022): VOL 10, NO 2 SEPTEMBER 2022
Publisher : Jurnal e-Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Film serial “Layangan Putus” merupakan film yang membahas mengenai keluarga dan rumah tangga. Film ini menceritakan mengenai kehidupan seorang istri dan seorang ibu dengan tokoh Kinan yang berjuang dalam mencari keadilan bagi dirinya dalam hubungan rumah tangganya, serta bagi keluarga kecil yang ia bangun. Berdasarkan hal tersebut, peneliti ingin meneliti bagaimana representasi feminisme dalam film serial “Layangan Putus”? Dalam meneliti, peneliti menggunakan metode semiotika, khususnya kode-kode televisi John Fiske. Temuan dalam penelitian ini memperlihatkan bahwa feminisme digambarkan dalam tiga bentuk yaitu: perempuan yang berusaha mendobrak higemoni pria, feminisme yang digambarkan oleh perempuan yang mempertahankan harga dirinya dan feminisme yang digambarkan oleh perempuan yang berjuang untuk kesetaraan haknya. Melalui penelitian ini, peneliti melihat bahwa seluruh aspek, elemen, dan proses enkoding dari sebuah film sama-sama memiliki makna dan berperan penting dalam membentuk muatan ideologi atau pesan dari film. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah adanya penggambaran feminisme dalam tokoh Kinan dan Lydia yang digambarkan melalui teks-teks tersembunyi dalam film. Hal ini juga membuktikan bahwa film dapat menjadi media untuk menyampaikan sebuah pesan representasi atau fenomena sosial dari kesetaraan hak antara perempuan dan laki-laki dalam hubungan rumah tangga.
Penggambaran Bangsawan Kulit Hitam dalam Serial Netflix “Bridgerton” Audrey Laksmono; Jandy Edipson Luik; Daniel Budiana
Jurnal e-Komunikasi Vol 10, No 2 (2022): VOL 10, NO 2 SEPTEMBER 2022
Publisher : Jurnal e-Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ras kulit hitam seringkali dipandang sebelah mata sehingga banyak bermunculan stereotip dikalangan masyarakat yang menyatakan bahwa ras kulit hitam menduduki strata yang paling rendah dari segala bidang (ekonomi, sosial, budaya) jika dibandingkan dengan kulit putih. Tayangan media biasanya digambarkan sesuai realita yang terjadi dalam sosial. Kebanyakan kulit hitam digambarkan sebagai perilaku kriminal, masyarakat budak yang selalu disalahkan. Fenomena ini dikemas ke dalam dunia sinemas. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana penggambaran bangsawan kulit hitam dalam serial “Bridgerton”. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Metode yang digunakan adalah semiotika televisi milik John Fiske dengan tiga level, yaitu level realitas, level representasi, dan level ideologi. Berdasarkan kode-kode tersebut, peneliti menggunakan konsep blackness dalam media milik Ed Guerrero yang melihat kulit hitam memiliki strata lebih rendah daripada kulit putih dari sisi behavior, intelligence, dan emotion. Hasil penelitian ini menunjukkan bangsawan kulit hitam di abad ke-18 tidak digambarkan sepenuhnya sesuai dengan konsep Guerrero. Mereka digambarkan sebagai kaum kapitalis yang memiliki intelegensi tinggi, sangat ekspresif, dan tidak dapat berpikir panjang. Namun hal tersebut tidak terlalu berpengaruh dalam kehidupan sosialnya apabila kulit hitam menduduki strata tertentu, memiliki peran penting dalam masyarakat. Ideologi yang ditemukan dalam penelitian ini adalah kapitalisme.
Tingkat Brand Awareness Masyarakat Surabaya Terhadap Casa Mille Events Yunchita Limanto; Ido Prijana Hadi; Jandy Edipson Luik
Jurnal e-Komunikasi Vol 10, No 2 (2022): VOL 10, NO 2 SEPTEMBER 2022
Publisher : Jurnal e-Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Casa Mille Events salah satu Brand Event Organizer yang baru di Surabaya. Sebagai Brand baru, peneliti tertarik untuk meneliti Brand Awareness. Casa Mille Events mengkomunikasikan mengenai Brand-nya yang meliputi lima Brand Element yang terdiri dari Brand Name, URL, Logo & Symbol, Slogan, dan Packaging melalui media sosial Instagram. Penelitian ini bertujuan untuk melihat Brand Awareness masyarakat Surabaya terhadap Casa Mille Events yang diukur dari kesadaran masyarakat terhadap lima element Brand. Adapun penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode survei. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tingkat Brand Awareness masyarakat Surabaya terhadap Casa Mille Events ada pada tingkat Recall Brand
Proses Adopsi Inovasi New Media oleh Pengurus Gereja GKI Darmo Satelit di Tengah Pandemi COVID-19 Evalyn Mayrilia Soetanto; Jandy Edipson Luik; Chory Angela Wijayanti
Jurnal e-Komunikasi Vol 10, No 2 (2022): VOL 10, NO 2 SEPTEMBER 2022
Publisher : Jurnal e-Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gereja GKI Darmo Satelit merupakan salah satu Gereja GKI di Sinode Wilayah Jawa Timur yang paling awal dalam melakukan peralihan ke dalam ruang daring. Gereja GKI yang sangat lekat dengan kultur tatap muka harus beradaptasi dengan pertemuan via daring. Melalui pra-observasi awal peneliti, terdapat lima jenis new media yang diadopsi yang antara lain WhatsApp, Instagram, Facebook, Youtube dan Zoom sebagai saluran mediasi informasi maupun misi gereja yang dilakukan secara online. Sehingga penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana proses adopsi new media oleh Gereja GKI Darmo Satelit di tengah pandemi COVID-19. Dimana penelitian terkait adopsi inovasi dalam bidang new media masih jarang ditemukan. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini memperlihatkan lima tahapan proses adopsi yang terdiri dari pengetahuan, persuasi, keputusan, implementasi, dan konfirmasi. Dimana pada ke-3 tahapan awal, pejabat gereja memiliki kemiripan proses adopsi. Dalam tahap implementasi, misi-misi Gereja tetap dapat tersalurkan dan terlaksana melalui penggunaan ke-5 jenis new media. Meskipun new media hanya dapat berperan sebagai alternatif, pelengkap, dan tambahan, kondisi pandemi membuat kemudahan dan kelebihan yang ditawarkan new media sangat membantu aktivitas Gereja.
Parasocial Relationship between Parents Viewers with Korean Drama Actors Aurelia Angelica Ng; Jandy Luik; Chory Angela Wijayanti
Journal of Content and Engagement Vol 1 Issue 1 (2023): April 2023
Publisher : Communication Science Department - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9744/joce.1.1.1-17

Abstract

Hallyu or Korean wave has been rapidly growing on the last few decades. Hallyu has brought South Korea’s cultures including Korean dramas worldwide, including Indonesia. The rise of technology and new media has also given more space for content distribution and access for media actors and audiences. Hence, Korean drama has a high popularity in Indonesia, with audiences from various kinds of demographic backgrounds, including parents. One of the reasons of the high interest towards Korean drama is due to the interesting actors. The high interest towards Korean drama actors are often related to the concept of parasocial relationship, which is a one-sided relationship between audiences and media persona. This research aims to determine the parasocial relationship that exists between parents viewers and Korean drama actors. The research method that is used in this study is qualitative case study with semi-structured interview as the data gathering technique. The result of this study shows that the parasocial relationship that exists belongs in the entertainment-social value level due to the informants who find the personas to be entertaining, attractive, and as references for their daily decisions. The parasocial relationship is also found as a form of media effect especially in terms of media cultivation and third person effect.