Joyo Nur Suyanto Gono
Departemen Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro, Semarang

Published : 102 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 95 Documents
Search
Journal : Interaksi Online

Pengaruh Terpaan Iklan Hijau di Televisi dan Pengetahuan tentang Manfaat Air Putih terhadap Minat Konsumsi Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) Merek Ades pada Komunitas Atlet di Kota Semarang Andhika Putra Nugraha; Adi Nugroho; Agus Naryoso; Joyo NS Gono
Interaksi Online Vol 3, No 2: April 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.588 KB)

Abstract

Peran komunikasi pemasaran semakin penting dalam pengelolaan suatu perusahaan, apalagi di tengah situasi global yang semakin kompetitif. Strategi komunikasi pemasaran juga mengalami perubahan orientasi seiring perkembangan ilmu dan teknologi, serta kesadaran terhadap lingkungan hidup. Salah satu strategi komunikasi pemasaran tersebut adalah strategi pemasaran hijau, yang dianggap memberikan keunggulan bersaing berkelanjutan. Pemasaran hijau dikembangkan tidak hanya bertumpu kepada pemenuhan kebutuhan masyarakat, tetapi juga dapat mensejahterakan masyarakat melalui tanggung jawab terhadap lingkungan hidup sekitar.Tujuan penelitian adalah mengetahui dan menganalisis pengaruh terpaan iklan hijau di TV dan pengetahuan tentang manfaat air putih terhadap minat konsumsi AMDK merek ADES pada komunitas atlet di Kota Semarang. Subjek penelitian adalah 111 orang atlet binaan DINPORA Provinsi Jawa Tengah yang diperoleh secara proportional random sampling. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan analisis regresi linier berganda.Hasil penelitian adalah (1) Terpaan iklan hijau di televisi berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat konsumsi air minum dalam kemasan (AMDK) merek Ades pada komunitas atlet di Kota Semarang (t=3,805 atau p=0,000); dan (2) Pengetahuan tentang manfaat air putih berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat konsumsi air minum dalam kemasan (AMDK) merek Ades pada komunitas atlet di Kota Semarang (t=2,751 atau p=0,007). Saran penelitian adalah kesadaran akan kelestarian lingkungan membawa dampak besar terhadap bentuk komunikasi pemasaran. Pemasaran hijau dianggap sebagai strategi yang unggul untuk meningkatkan minat konsumsi. Implikasi dari pemasaran hijau adalah meningkatkan terpaan iklan hijau.
MEMAKNAI IDENTITAS HIBRIDA DI DALAM KOMIK NUSANTARANGER Rizky Kusnianto; Hedi Pudjo Santosa; Hapsari Dwiningtyas; Joyo NS Gono
Interaksi Online Vol 3, No 3: Agustus 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.35 KB)

Abstract

Penelitian ini mengkaji bagaimana identitas hibrida terbentuk di dalam komikNusantaranger. Identitas hibrida di dalam komik Nusantaranger terjadi karenapertemuan tanda-tanda identitas lokal dan asing melalui unsur-unsur intrinsik padakomik. Identitas lokal di wakili oleh keragaman budaya Indonesia dan identitas asingditampilkan oleh peniruan konsep serial televisi superhero Power Rangers. Adapuntujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini yaitu mendeskripsikan bagaimana prosespertemuan kedua identitas sehingga membentuk identitas hibrida.Penelitian ini menggunakan pandangan poskolonial Homi K. Bhaba yangmembantu untuk melihat sebuah identitas hibrida dapat dibentuk melalui ruang ketigaatau ruang liminal (third place). Ruang liminal ini adalah gambar-gambar pada komiksebagai tanda-tanda yang mengkonstruksi identitas hibrida. Pembentukan tanda-tandaidentitas hibrida ini melalui proses mimikri yang melibatkan peniruan, memunculkanperbedaan melalui keterselipan dan kelebihan dan akhirnya memposisikan keduaidentitas dalam keadaan ambivalen dimana salah satu berada di posisi tunduk untukbisa menjadi hibriditas.Temuan atas penelitian ini menghasilkan, bahwa identitas hibrida yangterbentuk dengan mempertemukan identitas lokal yaitu kebudayaan Indonesia danidentitas asing yang mengangkat konsep pahlawan Power Rangers. KomikNusantaranger menjadi ruang liminal melalui unsur intrisik komik yangmempertemukan kedua identitas.Temuan ini juga mendeskripsikan pula proses mimikri yang mempertemukanantara identitas asing dan identitas lokal di awali dengan peniruan pada tahap vehiclesign yang menjadi ground tanda. Pada tahap tersebut digunakan analisis SemiotikaCharles Sanders Pierce untuk mengenali sign vehicle masing-masing tanda yangmenjadi awal peniruan sebuah identitas. Proses mimikri kemudian dilanjutkan dengandiberi keterselipan identitas lokal di dalamnya sebagai bentuk mimikri yangmewajibkan peniruan namun tetap memperlihatkan perbedaan bentuk berjalannyawacana kolonial. Kemudian akan ada ambivalensi dimana identitas lokal ditempatkandi posisi terjajah karena dominasi identitas asing di dalam sebagai bentuk wacanakolonial yang menjalankan sistem non-kesetaraan dengan strategi membentukidentitas hibrida.
Peran Marketing Komunikasi Media Online wehype.id Bersama Impala Space Muhammad Aldien Priambodo; Joyo NS Gono
Interaksi Online Vol 6, No 2: April 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (144.639 KB)

Abstract

Perkembangan industri kreatif di Semarang semakin baik, dimana semakin banyak para talenta – talenta kreatif muda bermunculan. Namun banyak talenata kreatif khususnya di kota Semarang belum ter-expose sehingga belum banyak dikenal khalayak. Salah satu penggiat industri kreatif di Semarang yaitu Impala Space menyadari bahwa dibutuhkan media yang dapat memberikan apresiasi terhadap industri kreatif di Semarang agar dapat dikenal oleh masyarakat luas. Impala Space adalah ruang kerja kolaboratif atau yang sering disebut sebagai co-working space. Sebuah ruang yang digunakan untuk bekerja bersama – sama dengan komunitas kreatif, Freelancers, Entreupreneurs atau bisnis Starup. Impala space akan menjadi pusat kegiatan dan pengembangan industri kreatif. Oleh karena itu tim karya bidang bekerja sama dengan Impala Space untuk membuat sebuah media online yang membahas segala hal tentang industri kreatif yang ada di Semarang. Wehype.id merupakan sebuah platform yang menjadi wadah untuk berbagi cerita tentang proses kreatif pada suatu karya. Wehype.id percaya dalam setiap penciptaan karya, selalu ada proses panjang yang melibatkan daya kreasi dan daya cipta. Untuk itu Wehype.id berkomitmen untuk menjadi corong komunikasi bagi setiap kreator untuk berbagi cerita sehingga kita dapat memahami proses dan mengapresiasi karya. Marketing komunikasi wehype.id bertanggung jawab melakukan berbagai kegiatan untuk mencapai beberapa objectives yang telah ditetapkan yaitu mencapai seribu followers di Instagram dan mencapai 600 adders pada Official line@. Keseluruhan objectives tersebut telah tercapai dengan rincian, 802 adders Line@ Official dan mencapai 1.013 followers pada Instagram wehype.id. Sementara itu pada viewer website wehype.id telah mencapai 4.240 dari target 3.000 viewers. Selain itu marketing komunikasi wehype.id juga berhasil mencanangkan 2 event yaitu wehype market dan Meet the Creator.
Hubungan Terpaan Iklan JD.ID dan Tingkat Pendapatan dengan Minat Beli di JD.ID Gofita Dharana Zenaislamey Novadhiyavast; Joyo Nur Suryanto Gono
Interaksi Online Vol 6, No 4: Oktober 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.153 KB)

Abstract

JD.ID hadir ditengah-tengah persaingan e-commerce lain yang sudah lebih dulu masuk dan berlomba-lomba menjadi top e-commerce di Indonesia. Belanja iklan televisi yang dilakukan oleh JD.ID selama periode 2017 terhitung tinggi yaitu mencapai Rp215,61 miliar. JD.ID juga mendeklarasikan sebagai e-commerce yang menyediakan barang-barang yang premium, harga yang kompetitif, dijamin keaslian dan kualitasnya. Namun dengan adanya hal tersebut, JD.ID masih belum bisa menjadi top e-commerce di Indonesia. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara terpaan iklan JD.ID dan tingkat pendapatan dengan dengan minat beli di JD.ID. Teori yang digunakan adalah Teori Advertising Exposure dan Teori Kategori Sosial. Tipe penelitian kuantitatif ini adalah eksplanatori. Teknik sampling yang digunakan adalah non probability sampling dengan metode purposive sampling, dan jumlah sampel yang diambil adalah sebanyak 60 orang yang menetap di Kota Semarang, memiliki ponsel pribadi, pernah melihat iklan JD.ID, memiliki pendapatan bulanan dan berusia antara 17-45 tahun. Uji hipotesis dilakukan dengan uji Kendall’s Tau-b. Uji hipotesis pertama yang dilakukan untuk menguji hubungan antara terpaan iklan JD.ID dengan minat beli di JD.ID, menghasilkan nilai koefisien korelasi 0,426 yang menunjukkan kekuatan hubungan agak rendah dan nilai signifikansi sebesar 0,000. Kemudian uji hipotesis kedua yang dilakukan untuk menguji hubungan antara tingkat pendapatan dengan minat beli di JD.ID menghasilkan nilai koefisien korelasi 0,352 yang menunjukkan kekuatan hubungan rendah dan nilai signifikansi sebesar 0,002. Maka semakin tinggi terpaan iklan JD.ID maka akan dikuti pula dengan semakin tingginya minat beli di JD.ID dan semakin tinggi tingkat pendapatan-nya maka akan dikuti pula dengan semakin tingginya minat beli di JD.ID. Berdasarkan hal tersebut, dapat disarankan pada perusahaan JD.ID agar dapat menysusun strategi komunikasi pemasaran yang lebih baik dengan menonjolkan juga sisi harga di JD.ID yang lebih murah, jangan hanya berfokus menonjolkan pada jaminan original dan premium-nya saja seperti yang diterapkan selama ini pada tagline maupun iklan-nya.
PEMAKNAAN KHALAYAK TERHADAP SOSOK HAJI DALAM SINETRON TUKANG BUBUR NAIK HAJI THE SERIES Nurhanatiyas Mahardika; M Bayu Widagdo; Joyo NS Gono; Triyono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.912 KB)

Abstract

Sinetron masih menjadi tayangan televisi paling laris di Indonesia. Hampirseluruh stasiun televisi swasta dan negeri menayangkan sinetron dengan berbagaitema, dan yang sedang marak saat ini adalah sinetron religi dengan menampilkansosok haji. Salah satu sinetron yang menampilkan sosok haji adalah TukangBubur Naik Haji The Seriesdengan Haji Muhidin sebagai pemeran utama. SosokHaji Muhidin merupakan contoh penggunaan identitas keagamaan dalam konteksyang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Haji diidentikkan dengan seseorang yangpaling kaya dan sebutan haji menjadi sebuah gengsi tersendiri.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana pemaknaan khalayak terhadapkonstruksi media atas sosok haji dalam tayangan Tukang Bubur Naik Haji TheSeries. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif denganpendekatan analisis resepsi. Teori dasar yang digunakan adalah teori encoding-decodingyang dikemukakan oleh Stuart Hall tentang bagaimana khalayakmemproduksi sebuah pesan dari suatu teks media. Proses tersebut akanmenghasilkan makna yang tidak selalu sama karena dipengaruhi oleh kapasitassetiap penonton. Data diperoleh dari in-depth interviewterhadap empat informandengan latar belakang berbeda.Hasil penelitian menunjukkan Haji Muhidin dalam sinetron Tukang Bubur NaikHaji The Seriesmerupakan haji yang mempunyai sikap yang cenderungnegatifdibandingkan sifat positif, seperti sombong yang selalu diperlihatkan denganmembanggakan status haji dua kali, iri, dengki, danterlalu mengejar duniawi.Selain itu, sinetron ini hanya menjadi sinetron yang mengedepankan sisi hiburandibandingkan nilai edukasi. Dalam proses konsumsi dan produksi makna terhadapsosok Haji Muhidin, perbedaan latar belakang agama,sosial budaya, danpengalaman empat informan menjadi faktor penting yang membedakanpemaknaan mereka.Kata Kunci : Identitas Keagamaan, Tukang Bubur NaikHaji The Series
Pesan Propaganda Ideologi Imperialisme dalam Film Transformers Dody Pradana Eryanto; Joyo NS Gono; Wiwid Noor Rakhmad; Much. Yulianto
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.128 KB)

Abstract

Film Transformers merupakan salah satu film sukses di tahun 2007, bahkan sempat menduduki 20 besar film terlaris sepanjang masa di Amerika Serikat dan dunia. Bukan hanya itu, film tersebut disukai berbagai orang baik orang dewasa atau anak - anak, terutama karakternya yang keren dan menarik yaitu alien robot yang bisa berubah dari kendaraan manusia menjadi robot canggih dengan perlengkapan perang. Namun film ini diproduksi oleh negara superpower saat ini yaitu Amerika Serikat dimana banyak film - film sebelumnya yang penuh dengan pesan propaganda tersendiri seperti Rambo, Indiana Jones, Independence Day, The Great Dictator, Red Dawn dan lain sebagainya dan ideologi tertentu dibelakangnya seperti kapitalis, komunis dan lain sebagainya. Selain Amerika Serikat, Jerman pada era kepemimpinan Nazi juga pernah membuat film propaganda seperti The Eternal Jews. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan pesan propaganda di dalam film Transformers dan ideologi imperialisme di belakangnya.Penelitian ini menggunakan teori propaganda, modern propaganda theory sebagai pendukung dari permasalahan penelitian ini dalam paradigma kontruktivis melalui metode analisis semiotika model Roland Barthes. Subjek penelitian ini adalah film Transformers.Berdasarakan temuan penelitian, pesan propaganda yang hadir di film ini menunjukkan bahwa terdapat berbagai pesan propaganda yaitu Cina, Rusia, Iran dan Korut yang diidentikan dengan ancaman, Amerika Serikat sebagai negara baik, hebat dan kuat, Laut Kuning dan Teluk Arab merupakan wilayah yang harus diselamatkan Amerika Serikat, produk Amerika Serikat merupakan produk yang bagus dan terkenal, Jepang diidentikkan dengan negara dengan teknologi canggih, dan pakaian kurang sopan itu menarik. Ideologi imperialisme yang melatarbelakangi film ini dikarenakan adanya kepentingan Amerika Serikat dalam melakukan kegiatan dominasinya di wilayah timur tengah, baik dalam bentuk militer atau ekonomi seperti bisnis minyak, memperkenalkan produk Amerika Serikat dan sekutunya agar dapat menguasai ekonomi negara yang dijadikan wilayah kegiatan imperialisme, dan mempopulerkan budaya amerikanisme.
TINGKAT PEMANFAATAN SOCIAL MEDIA TERHADAP BRANDING PARIWISATA JAWA TENGAH OLEH DINAS KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA PROVINSI JAWA TENGAH Fetiyana Luthfi Prihandini; Agus Naryoso; Adi Nugroho; Joyo NS Gono
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.67 KB)

Abstract

Pemanfaatan social media saat ini telah membuat masyarakat kini mengalami perubahan proses komunikasi, tidak hanya secara vertikal hierarkis, namun juga terjadi secara horizontal. Dalam keadaan seperti ini, proses komunikasi yang harus dikembangkan haruslah bersifat interaktif dialogis dengan membangun partisipasi publik. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu instansi yang memanfaatkan social media Twitter dan Facebook sebagai tools branding pariwisata Jawa Tengah.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pemanfaatan social media terhadap branding pariwisata Jawa Tengah. Adapun variabel yang diteliti adalah tingkat pemanfaatan social media sebagai variabel independen (X), dan branding pariwisata Jawa Tengah sebagai variabel dependen (Y). Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Atitude Change Theory oleh Carl Hovland dan Teori Ekologi Media oleh McLuhan.Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis penelitian survei (survey), dimana informasi data dikumpulkan dari sejumlah sampel berupa orang, melalui pertanyaan-pertanyaan berupa kuesioner, kemudian disebarkan kepada 40 responden yang dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling. Untuk menjawab permasalahan yang terdapat dalam perumusan masalah, penelitian ini menggunakan Uji Koefisien Korelasi Pearson sebagai teknik analisis data.Hasil penelitian menunjukkan hubungan antara tingkat pemanfaatan social media dengan branding pariwisata Jawa Tengah sebesar 0,575, sehingga dapat dinyatakan bahwa antara tingkat pemanfaatan social media dengan branding pariwisata Jawa Tengah terdapat hubungan yang cukup kuat dengan arah positif. Melalui perhitungan rumus analisis regresi dengan bantuan program komputer SPSS Release 11,5 diperoleh nilai t sebesar 2,92 dengan probabilitas kesalahan atau signifiknsi (sig) sebesar 0,006. Oleh karena sig sebesar 0,006 < 0,05, maka inferensi yang diambil adalah menerima Ha dan menolak Ho. Semakin tinggi tingkat pemanfaatan social media, maka semakin tinggi tingkat keberhasilan branding wisata Jawa Tengah kepada followers akun social media Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah.
Hubungan Terpaan Pernyataan Kontroversial Anji Mengenai COVID-19 di Media Sosial dan Komunikasi Interpersonal Dalam Keluarga Terhadap Sikap Kedisiplinan Masyarakat Melaksanakan Protokol Kesehatan Pada Masa New Normal Umi Nafiatul Udkhiyah; Joyo Nur Suryanto Gono
Interaksi Online Vol 9, No 3: Juli 2021
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the relationship between exposure to Anji's controversial statement regarding COVID-19 on social media and interpersonal communication in the family with community discipline in implementing health protocols. This study uses quantitative research methods with an explanatory approach. The data collection technique used non-probability sampling with a sample of 50 respondents. The theory used is Information Integration Theory and Pragmatic Theory of Communication. Hypothesis testing uses Kendall's analysis and the results of hypothesis testing show a significance value for the variable. The exposure to Anji's statementregarding COVID-19 is 0.917 and the correlation coefficient is 0.01, so it means that there is no relationship between Anji's controversial statement exposure (X1) and the disciplined attitude of the community in implementing health protocols (Y) and the correlation is very low. While the results of hypothesis testing for interpersonal communication variables in the family show a significance value of 0.037 and a correlation coefficient of 0.228, so that it means that there is a relationship between interpersonal communication in the family (X2) and community discipline in implementing health protocols (Y) and the correlation is low.
PENGARUH FREKUENSI AKSES BBM, PATH, FACEBOOK TERHADAP INTENSITAS KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI Dinda Dwimanda Wahyuningtias; Agus Naryoso; Sri Budi Lestari; Joyo NS Gono
Interaksi Online Vol 3, No 3: Agustus 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.56 KB)

Abstract

Komunikasi menjadi hal yang tidak dapat dihindari selama kita melakukan aktivitas.Semakin seringnya seseorang berkomunikasi informasi yang dipertukarkan semakin dalam dan luas.Tingginya frekuensi komunikasi melalui alat komunikasi yang disebabkan banyak faktor menjadikan orang lebih sering bertukar informasi melalui aplikasi yang tersedia, terlebih lagi kecanggihan teknologi membuat aplikasi komunikasi semakin baik hanya dengan memiliki smartphone sudah tersedia aplikasi seperti BBM, Path dan Facebook yang dijadikan sebagai media untuk bertukar cerita maupun informasi yang bersifat formal.Penelitian ini menggunakan teori CMC (Computer Mediated Communication) teori dimana program-program suatu aplikasi yang dapat menghubungkan dua orang atau lebih dengan suatu jaringan komputer atau format komputer di berbeda tempat. Sedangkan menurut Fulk dan Collins teori Computer Mediated Communication adalah teori yang dimaksudkan bukan tentang bagaimana dua atau lebih mesin saling berhubungan atau berinteraksi tetapi bagaimana dua atau lebih manusia bisa saling berubungan atau berinteraksi dengan dibantu menggunakan alat komputer pada program aplikasi tertentu yang tersedia pada komputer (Fulk dan Collins, 2001). Computer Mediated Communication juga melihat dan mempelajari cara membentuk kepribadian seseorang dengan pertukaran informasi melalui komputer khususnya pada jaringan internet pada komputer. Computer Mediated Communication memberikan dampak sosial kepada manusia. Rice dan Gattiker (2001) menyatakan bahwa Computer Mediated Communication berbeda dari komunikasi tatap muka. Computer Mediated Communication membatasi tingkat interaksi yang bisa menyebabkan penurunan aktifitas. Computer Mediated Communication dapat mengatasi masalah waktu dan keberadaan. Secara keseluruhan penggunaan Computer Mediated Communication menghasilkan beberapa perbedaan dalam komunikasi tatap muka yang dalam hal ini menjelaskan mengenai frekuensi tingginya orang menggunakan aplikasi BBM, Path, Facebook sehingga mengurangi intensitas komunikasi antar pribadi pada mahasiswa perantau yang ada di Semarang. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 50 orang.Analisis yang digunakan adalah korelasi kendalls dengan spss. Hasil uji hipotesis pertama menunjukan bahwa variabel frekuensi akses BBM berpengaruh terhadap variabel intensitas komunikasi antar pribadi dan signifikan (sig.= 0,000) dengan koefisien korelasi -,509. Hasil uji hipotesis kedua menunjukan bahwa variabel frekuensi akses Path berpengaruh terhadap variabel intensitas komunikasi antar pribadi dan signifikan (sig.=0,000) dengan koefisien korelasi -,403. Dan hasil uji hipotesis ketiga menunjukan bahwa variabel frekuensi akses Facebook berpengaruh terhadap variabel intensitas komunikasi antar pribadi dan signifikan (sig.= 0,000) dengan koefisien korelasi -,536.Saran yang diberikan penelitian ini adalah menjadikan aplikasi media sosial seperti BBM, Path dan Facebook sebagai media komunikasi dengan menjaga intensitas komunikasi antar pribadi terutama komunikasi pribadi tatap muka agar mampu menghasilkan kualitas komunikasi yang jauh lebih baik.
Interpretasi Khalayak Pria terhadap Sosok Perempuan dalam Tayangan Mata Lelaki Rindhianti Novita Sari; Joyo Noer Suryanto Gono; Triono Lukmantoro
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.606 KB)

Abstract

Nama : Rindhianti Novita SariNIM : D2C009009Judul : Interpretasi Khalayak Pria terhadap Sosok Perempuandalam Tayangan Mata LelakiABSTRAKProgram acara televisi yang menonjolkan kesensualan perempuan sebagai dayatarik utamanya, menjadi ajang bisnis bagi pekerja media untuk meraup untungsebesar-besarnya. Kata “pengetahuan” dan “hiburan” dijadikan alasan dalampenyajian tayangan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuibagaimana interpretasi khalayak pria terhadap sosok perempuan dalam tayanganMata Lelaki. Selain itu juga untuk mengetahui bagaimana para penonton programacara Mata Lelaki menggunakan materi acara tersebut sebagai rujukanpembicaraan dalam kehidupan sehari-hari. Teori yang digunakan yaitu encodingdecoding(Stuart Hall, 1980), everyday life (David Chaney, 2002), dan teorinormatif (McQuail,1987). Tipe penelitian ini adalah deskriptif kualitatif denganpendekatan resepsi dan dikaitkan dengan analisis ekonomi politik media. Teknikpengumpulan data dilakukan dengan menggunakan indepth interview kepadaempat informan yang telah dipilih oleh peneliti, yakni khalayak pria yang aktifatau pernah aktif menonton tayangan Mata Lelaki.Hasil penelitian ini menunjukkan khalayak menganggap bahwa tayangan MataLelaki merupakan sebuah tayangan yang menghibur, yang berorientasi padaseksualitas. Selain itu, ada pula keberagaman pendapat mengenai eksploitasisensualitas dan tubuh perempuan yang digunakan dalam tayangan Mata Lelaki.Secara keseluruhan khalayak setuju bahwa apa yang disajikan dalam tayanganMata Lelaki sudah sesuai dengan Pedoman Perilaku Penyiaran dan StandarProgram Siaran (P3SPS) yang ditetapkan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).Dalam hal ini tayangan Mata Lelaki dianggap materi yang ringan, sehingga bisadijadikan pembicaraan dalam konteks bercanda atau selingan ketika waktu sela ditengah-tengah kesibukan bekerja. Tayangan Mata Lelaki digunakan sebagairujukan pembicaraan dalam kehidupan sehari-hari, meskipun hal tersebut tidakdilakukan oleh semua khalayak. Penelitian ini menunjukkan bahwa khalayakmengetahui adanya istilah khusus yang digunakan dalam tayangan Mata Lelaki.Namun, meskipun hampir semua informan menggunakan tayangan Mata Lelakisebagai bahan pembicaraan sehari-harinya, mereka tidak serta mertamenggunakan istilah yang ada dalam tayangan tersebut ke dalam pembicaraansehari-harinya.Kata kunci: Sensualitas perempuan, everyday life, tayangan malam Indonesia.ABSTRACTTelevision programs that highlight the sensuality of women as the main attraction,also become a business event for media workers to reap maximum profit. Theword "knowledge" and "entertainment" as a reason in the presentation of theshow. The purpose of this study was to determine how the public interpretation ofthe figure of a man in a women's show Mata Lelaki. In addition, to know how toprogram the audience the show Mata Lelaki using the event as a referencematerial talks in everyday life. The theory used is encoding-decoding (Stuart Hall,1980), everyday life (David Chaney, 2002), and normative theory (McQuail,1987). This type of research is a qualitative descriptive approach was associatedwith the reception and analysis of the political economy of media. Data wascollected using in-depth interviews to four informants who had been chosen bythe researchers.The results showed that the audience assumes impressions Mata Lelaki is anentertaining show, which is oriented towards sexuality. In addition, there is also adiversity of opinion regarding the exploitation of sensuality and women's bodiesare used in the show Mata Lelaki. Overall the audience agreed that what ispresented in the Mata Lelaki impressions are in accordance with the BroadcastingCode of Conduct and Broadcasting Program Standards (P3SPS) established by theIndonesian Broadcasting Commission (KPI). In this sense impressions MataLelaki is considered as a lightweight material, so that it can be used in the contextof the conversation everyday or distraction joking in the spare time in the middleof busy work. Impressions Mata Lelaki is used as a reference in the conversationof everyday life, even if it is not done by all audiences.This study shows that theaudience aware of any specific terms used in the show Mata Lelaki. However,although almost all informants using impressions Mata Lelaki as a day-to-dayconversation, they do not necessarily use the term contained in these show intoeveryday conversation.Keywords: Sensuality women, everyday life, evening shows in Indonesia.Interpretasi Khalayak Pria terhadap Sosok Perempuan dalam TayanganMata LelakiSummary SkripsiPenyusunPENDAHULUANMenayangkan materi bermuatan seksualitas di media massa, memangmemiliki tujuan yang jelas dan hampir selalu disadari oleh pengelola media, yaituuntuk menarik perhatian pembaca, pendengar, atau penonton untuk membaca,mendengar, dan menonton materi tersebut. Jika perhatian khalayak telah berhasildirebut, hal ini selanjutnya dapat dijual ke pengiklan, yang artinya membawakeuntungan ekonomis bagi organisasi media. Jadi, memang tidak dapat dipungkiribahwa seks dan semua bentuk serta penggambarannya (yang memiliki unsurkenikmatan) akan selalu membangkitkan rasa ingin tahu khalayak dan juga dapatmembangkitkan fantasi pada khalayak tertentu. Salah satu isu utama dalam studipenonton menyangkut hubungan antara produser, teks, dan penonton. Dalambanyak persamaan ini adalah tentang keseimbangan kekuatan yakni menilaisejauh mana khalayak dipengaruhi dan terpengaruh oleh teks media (Rayner,Wall, dan Kruger, 2004: 96).Program tayangan televisi Indonesia yang sengaja disajikan pada tengahmalam seringkali mengusung tema seksualitas. Perempuan yang ditampilkanselalu menggunakan busana mini yang ditujukan agar penonton yangmenyaksikan tayangan tersebut semakin terbelalak, terutama pada kaum lelaki.Hal ini tidak terlepas dari adanya komodifikasi dari pihak-pihak tertentu yangmemiliki kepentingan untuk memperoleh keuntungan secara materi. John Dovey(dalam Rayner, Wall, dan Kruger, 2004: 126) berpendapat bahwa kita hidupdalam masyarakat pengakuan dan menggambarkan fenomena genre baru televisisebagai 'media orang pertama' di mana subjektivitas, personal, dan intim menjadiprioritas. Mata lelaki seringkali dibuat terbelalak manakala menyaksikan kamerayang menelusuri tubuh perempuan dari ujung kaki hingga ujung rambut, ditambahpula si perempuan yang dengan sengaja melekukkan tubuhnya agar terlihat lebihsensual dan menarik hasrat kaum lelaki.Perempuan yang kemudian dijadikan objek untuk dieksploitasi seakanakanpasif dan menerima saja atas perlakuan pihak-pihak yang berkepentingan.Dalam hal ini perlindungan hak-hak perempuan justru dikesampingkan danmengutamakan profit yang akan didapatkan pihak media. Perempuan dijadikankonsumsi khalayak dan dipandang sebagai makhluk yang lemah, sebagaikeindahan yang dinikmati oleh barbagai khalayak yang berbeda-beda, dan darilatar belakang yang berbeda pula.Dari uraian di atas, serta mengingat bahwa penelitian ini ingin mengupasruang pemaknaan, maka peneliti ingin melihat bagaimana pemaknaan khalayakterhadap sosok perempuan dalam tayangan Mata Lelaki berkaitan dengan gayahidup masyarakat di era modern saat ini. Selanjutnya masalah yang diteliti dalampenelitian ini dirumuskan ke dalam pertanyaan sebagai berikut:1. Bagaimana interpretasi lelaki terhadap sosok perempuan dalam tayanganMata Lelaki?2. Bagaimana para penonton program acara Mata Lelaki menggunakanmateri acara tersebut sebagai rujukan pembicaraan dalam kehidupansehari-hari?ISIPenelitian ini merupakan kajian interpretatif atas content media berupateks, yang merupakan kombinasi tanda-tanda yang berupa tanda visual dan audio,dengan analisis yang bersifat kualitatif. Penelitian kualitatif memerlukanketerlibatan yang lebih mendalam dengan penonton itu sendiri. Ini termasukteknik seperti wawancara dalam rangka untuk sampai pada kesimpulan tentangperilaku penonton dalam kaitannya dengan konsumsi media (Rayner, Wall danKruger, 2004: 96).Jika dikaitkan dengan tema tersebut, penelitian ini menggunakanparadigma interpretatif untuk melakukan interpretasi dan memahami alasan darisubyek penelitian terhadap tindakan sosial yang mereka lakukan, yaitu bagaimanamereka mengonstruksikan kehidupan yang ditampilkan dalam sebuah tayangantelevisi Mata Lelaki dan memberikan makna dari tayangan tersebut. Penelitian inimenggunakan analisis resepsi yang memiliki cara pandang khusus mengenaikhalayak. Dalam hal ini khalayak adalah sebagai penghasil makna, bukan hanyapengonsumsi media semata. Tujuan resepsi secara umum adalah untukmenemukan bagaimana khalayak dengan konteks sosial dan latar belakang yangberbeda membuat bermacam-macam pengertian mengenai teks media.Televisi merupakan salah satu bentuk komunikator massa, di mana dalamhal ini khalayak adalah sebagai komunikan. Proses komunikasi massa padahakekatnya merupakan proses pengoperan lambang-lambang yang berarti(mengandung arti atau makna) yang dilakukan melalui saluran-saluran (chanel),biasanya dikenal dengan media cetak, media auditif (radio), media visual (gambar,lukisan), atau media audio visual seperti televisi dan film.Dalam hal ini hubungan antara media dan khalayak dijelaskan Stuart Halldalam model encoding dan decoding. Encoding, yang merupakan domain dariproduser, dan decoding domain dari penonton. Proses mengkomunikasikan pesanmensyaratkan bahwa dikodekan sedemikian rupa sehingga penerima pesanmampu untuk memecahkan kode itu (Rayner, Wall, dan Kruger, 2004: 97).Misalnya, pesan televisual dikodekan melalui penggunaan teknologi kamera,ditransmisikan sebagai sinyal dan kemudian diterjemahkan dengan menggunakantelevisi, kemudian khalayak memberikan pemaknaan atas tanda-tanda dan pesanyang disampaikan oleh media. Dalam hal ini pesan yang disampaikan oleh mediakepada khalayak mengandung sebuah ideologi. Sebagai salah satu media massa,televisi membawa ideologi-ideologi tertentu yang berusaha ditanamkan kepadakhalayak melalui teks. Model encoding dan decoding yang diajukan oleh StuartHall dan David Morley berpusat pada gagasan bahwa penonton bervariasi dalamrespon mereka terhadap pesan media. Hal ini karena khalayak dipengaruhi olehposisi sosial mereka, jenis kelamin, usia, etnis, pekerjaan, pengalaman dankeyakinan serta di mana mereka berada dan apa yang mereka lakukan ketikamereka menerima pesan.Dalam perspektif active audience khalayak dipandang sebagai penciptamakna yang aktif. Khalayak Mata Lelaki adalah khalayak yang aktif. Merekatidak langsung secara mentah-mentah menerima apa yang mereka tonton dalamsebuah tayangan televisi. Khalayak merupakan penerima pesan dan pengolahinformasi. Ien Ang menyebutkan bahwa khalayak media bukanlah sebagai“masses” yaitu sekumpulan orang anonym dan pasif yang tidak beridentitas.Bukan pula sebagai “market” yang menjadi target industri media. Namunkhalayak media aktif dalam menggunakan, menginterpretasikan dan menikmatiproduk media. (Ang, dalam Downing, Mohammad, dan Sreberny Mohammad,1990 : 165). Dalam pelaksanaannya, mereka seakan terlihat pasif dan hanya diamketika menonton sebuah tayangan televisi, namun pada kenyatannya banyak halyang sedang berlangsung dalam pikiran mereka (Burton, 2008: 222). Selain itukhalayak menginterpretasikan teks media dengan cara mereka sendiri dandihubungkan dengan keadaan sosial dan budaya mereka serta pengalaman pribadimereka (Ang dalam Downing, Mohammadi, dan Sreberny-Mohammadi [eds],1990: 160).Khalayak yang menjadi informan dalam penelitian ini merupakankhalayak yang masih aktif menonton tayangan Mata Lelaki, dan pernah aktifmenonton tayangan tersebut. Keempat informan memiliki tingkat pendidikan danlingkungan sosial yang berbeda. Dalam wawancara informan menyampaikaninterpretasi mereka masing-masing terkait dengan tayangan Mata Lelaki.Khalayak yang dalam hal ini merupakan penghasil makna, memaknai tayanganMata Lelaki secara beragam, karena teks yang berbeda dapat menghasilkanpemaknaan yang beragam.Berdasarkan hasil penelitian dan wawancara dapat disimpulkan sebagaiberikut:1. Khalayak menganggap bahwa tayangan Mata Lelaki merupakan sebuahtayangan yang menghibur, yang berorientasi pada seksualitas. Meskipundemikian, ada pula anggapan bahwa perempuan yang tampil sensual danterbuka dalam media merupakan hal yang tidak wajar. Adapun yangmengatakan hal tersebut sebagai suatu kewajaran, yakni karena melihatdari pers yang ada di Indonesia. Bahwa pers di Indonesia sudah terbukadan bebas, sehingga hal tersebut merupakan konsekuensi yang harusditerima oleh kita sendiri dari kebebasan pers yang kita anut.2. Penelitian ini menunjukkan adanya keberagaman pendapat mengenaiekploitasi sensualitas dan tubuh perempuan yang digunakan dalamtayangan Mata Lelaki. Ada pendapat tidak setuju, dengan alasan haltersebut sama saja merendahkan derajat kaum perempuan. Namun adapula pendapat yang setuju mengenai hal tersebut, dikarenakan apa yangditampilkan dalam tayangan Mata Lelaki tidak sekadar seksualitas saja.Tetapi juga ada informasi baru yang diberikan kepada penonton. Meskipundemikian, secara keseluruhan khalayak setuju bahwa apa yang disajikandalam tayangan Mata Lelaki sudah sesuai dengan Pedoman PerilakuPenyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) yang ditetapkan olehKomisi Penyiaran Indonesia (KPI).3. Dalam hal ini tayangan Mata Lelaki dianggap materi yang ringan,sehingga bisa dijadikan pembicaraan dalam konteks bercanda atauselingan ketika waktu sela di tengah-tengah kesibukan bekerja. TayanganMata Lelaki digunakan sebagai rujukan pembicaraan dalam kehidupansehari-hari, meskipun hal tersebut tidak dilakukan oleh semua khalayak.4. Penelitian ini menunjukkan bahwa khalayak mengetahui adanya istilahkhusus yang digunakan dalam tayangan Mata Lelaki. Namun, meskipunhampir semua informan menggunakan tayangan Mata Lelaki sebagaibahan pembicaraan sehari-harinya, mereka tidak serta merta menggunakanistilah yang ada dalam tayangan tersebut ke dalam pembicaraan sehariharinya.PENUTUPMedia televisi melalui tayangan Mata Lelaki yang disajikan memangbertujuan untuk mengarahkan khalayak ke arah pembacaan yang diinginkan.Makna dominan (preferred reading) dalam sebuah tayangan selalu tersirat denganjelas, dalam hal ini bagaimana produser ingin menuntun khalayak kepadapemaknaan yang sesuai dengan kode-kode dominan tersebut. Dalam hal ini MataLelaki sebagai tayangan malam mempertontonkan kesensualan perempuan,dengan menggunakan busana yang sangat minim dan terlihat pada bagian dadanyadiharapkan dapat menjadi sebuah hiburan bagi khalayak yang menonton. Selainitu, tayangan ini juga menekankan pada sisi informatif untuk memberikanpengetahuan baru bagi khalayaknya seputar dunia malam dan seksualitas.Sosok perempuan dalam media hingga saat ini masih sering digambarkansebagai penarik perhatian. Tayangan televisi sebagai salah satu industri budayaseringkali menggunakan tubuh perempuan lengkap dengan segala“keperempuanannya” sebagai daya tarik yang paling utama. Tubuh perempuandieksploitasi dengan penonjolan pada bagian-bagian tubuhnya yang mampumenimbulkan kesan sensual seperti paha, payudara, rambut yang tergerai, bibir,atau tubuh yang sensusal secara utuh. Hal tersebut masih saja selalu terjadi karenadianggap mampu menaikkan rating program televisi mereka yakni sebagaipekerja media. Meskipun sering mendapat teguran keras dari KPI karenamenyajikan bagian-bagian intim tubuh perempuan seperti belahan dada dan paha.Para pekerja media hanya memikirkan keuntungan untuk mereka sendiri dan tidakpeduli apakah hal tersebut melanggar P3SPS yang sudah ditetapkan KPI. Itulahmengapa tayangan hiburan malam yang berorientasi pada seksualitas masih sajadiproduksi.Peran dari Pedoman Perilaku Penyiaran (P3SPS) terlihat masih sangatlemah. Hal tersebut dapat dilihat dari interpretasi informan yang secarakeseluruhan dari mereka mengatakan tayangan Mata Lelaki sudah sesuai denganP3SPS, karena sudah dilakukan sensor di dalamnya. Padahal jika kita lebihcermat, dalam tayangan tersebut dilakukan sensor hanya untuk melindungiidentitas narasumber yang dirahasiakan. Sedangkan untuk adegan yangmemperlihatkan bagian intim tubuh perempuan, seperti paha, belahan dada, danperut justru sama sekali tidak tersentuh sensor. Dari sini dapat dilihat bahwa perandari P3SPS masih sangat lemah. Selain itu, media seakan-akan masih bebasmelakukan apa pun demi mendapatkan keuntungan. Media sangat cerdas dalammemainkan perannya dan bersembunyi di balik kata sensor yang sudah merekalakukan, meskipun sensor tersebut tidak tepat dalam penggunaannya.Khalayak diharapkan lebih cermat mengkritisi tayangan malam yangdisuguhkan oleh pekerja media yang banyak mengeksploitasi tubuh perempuandan lebih mampu berperan sebagai khalayak aktif dalam menerima pesan yangdisampaikan oleh media.Penelitian terhadap tayangan Mata Lelaki yang mengeksploitasi tubuhperempuan yang menggunakan analisis resepsi, ini diharapkan dapat menjadireferensi untuk penelitian selanjutnya. Dengan menggunakan berbagai teori danpendekatan lainnya yang sesuai, untuk mengkritisi tayangan-tayangan televisiyang ada di Indonesia sesuai perkembangannya.DAFTAR PUSTAKABurton, Graeme. 2000. Membincangkan Televisi: Sebuah Pengantar KepadaStudi Televisi. (Terj.) Bandung: JalasutraDowning, John, Ali Mohammadi, Annabelle Sreberny-Mohammadi. 1990.Questioning The Media a Critical Introduction. USA: Sage PublicationRayner, Philip, Peter Wall dan Stephen Kruger. 2004. Media Studies: TheEssentian Resource. London: Routledge
Co-Authors Abigail Betsy Eliasta Roos Abilangga . Adi Anggoro, Indra Adi Nugroho Adi Nugroho Adi Nugroho Adydhatya Della Pahlevi Agus Naryoso Ahmad Firdaus Faza Aisyah Nur Iswahyudi, Farah Akbar, Bintang Alya Anwar, Rizqika Amanda Meipuspa Nusa Ambar Rakhmawati Anastasia Betsy Palupi Andhika Putra Nugraha Anggita Muti Arani Zulaikho Anike Puspita Yunita Aqila Nur Iswahyudi, Shima Ardani, Fransisca Arif Andhika, Wisnu Arifa Rachma Febriyani Arinda Putri Oktaviani Arma Ngabeti Asri Bryllianissa, Fadhilla Asty Setiandini Ayu Nabilla, Ayu Azalea Puspa Sessarina Bagas Satria Pamungkas Bayu Widagdo, Muhammad Beta Himawan Putra, Beta Himawan Burhanudin Ilham Wibawa, Muhammmad Cokky _ Desy Kurniasari Dinda Dwimanda Wahyuningtias Djoko Setyabudi Dody Pradana Eryanto Elisabeth Putri Widasari Faradila, Sabna Fauzi, Aldi Fetiyana Luthfi Prihandini Feyza Syifa Ashila Fitriani Sholekha, Hillda Fitriyani, Putri Frieda Isyana Putri Gibran, Alvien Gofita Dharana Zenaislamey Novadhiyavast Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas S Hapsari Dwiningtyas S, Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Sulistyani Hayu Pratiwi Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Hidayat Putra, Syahida Alam Gitanjali Himawan, Hilmi Ika Adelia Iswari Ilman Mursid Andaru Irfan Zuldi Jan Khairuzzaman, Alief Khansa Faadilah Krisan Putri, Florentina Kurnia Primareta Langgeng Irma Salugiasih Lintang Ratri Rahmiaji Lovegi David Sanjaya, Lovegi David M Bayu Widagdo M Yulianto Madani, Ndaru Maharani Harris, Marsya Mateus Sianturi, Primus Miratus Sholekhah, Ana Much Yulianto Much Yulianto M.Si Much Yulianto M.Si, Much Yulianto Much. Yulianto Muhammad Aldien Priambodo Muhammad Raditya Dwi Adhyatma Muhammad Wahyu Rizki Waskita Nadia Hutaminingtyas Naufal Farid Jayendar Nicolas Handoko Raharjo, Nicolas Handoko Nisa Bela Dina, Nisa Bela Nur Shafira, Hana Nurhanatiyas Mahardika Nurist Surayya Ulfa Nurul Hasfi Octaviani, Averina Oithona Gracelia R. Hutabarat, Oithona Gracelia R. Otto Fauzie Haloho Pinondang Caroline, Andrea Primada Qurrota Ayun R. Milwanda Nadika S. Rachma Fitriani, Areta Radinda N Harahap Razan Fathantra, Ryan Renata Alma Ratu Nabila Reza Andriana Dewanti Ribka Minatisari Sekeon Rimadhani Putri Budiana Rindhianti Novita Sari Rizky Kusnianto Rumi Aulia Rahmanisa S Rouli Manalu Septiana Wulandari Suparyo Siti Hawa . Sri Budi Lestari Sri Widowati Sri Widowati Herieningsih Sunarto Sunarto Sunarto Sunarto Susi Santiaji Swasti Kirana Putri, Swasti Kirana Syafiq Muhammad Qualitoaji Tandiyo Pradekso Tandiyo Pradekso Taufik Suprihatini Taufik Suprihatini Triono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Turnomo Rahardjo Umi Nafiatul Udkhiyah Wahyu Aji Hernawan, Dhimas Widya K. Siahaan Wimala Wimardana Wiwid Noor Rakhmad Wiwied Noor Rakhmad Yanuar Luqman Yoga Yuniadi Yolanda Christin, Urimiana Yosua, Christian Yuanisa Meistha Yunisa Wirastanti, Tiara Zakira, Tuhfah