Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Analisis Kelayakan Usaha dan Edukasi Pertanian pada Budidaya Tanaman Tomat Mukhlis Mukhlis; Niken Rani Wandansari; Bambang Priyanto
Agriekstensia : Jurnal Penelitian Terapan Bidang Pertanian Vol. 24 No. 2 (2025): AGRIEKSTENSIA: Jurnal Penelitian Terapan Bidang Pertanian
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34145/agriekstensia.v24i2.3885

Abstract

Kegiatan Program Wirausaha Muda Pertanian (PWMP) bertujuan menumbuhkan jiwa kewirausahaan mahasiswa melalui usaha riil berbasis komoditas unggulan. Penelitian ini berfokus pada budidaya tanaman tomat (Solanum lycopersicum) di lahan terbuka dan pelaksanaan edukasi pertanian kepada siswa SMA. Penelitian dilakukan dalam dua siklus produksi dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Hasil analisis usaha menunjukkan peningkatan R/C ratio dari 1,07 pada siklus pertama menjadi 5,8 pada siklus kedua, dengan tambahan pendapatan Rp 5.466.717. Kegiatan edukasi pertanian meningkatkan pengetahuan siswa dari 66% menjadi 92%. Temuan ini menunjukkan bahwa budidaya tomat layak secara ekonomi serta efektif sebagai sarana pembelajaran kewirausahaan dan penyuluhan pertanian bagi generasi muda.
Plant-based elicitor improves nutrient efficiency and sustains rice yield under reduced fertilizer in a one-season field study HARWANTO HARWANTO; ENY WAHYUNING PURWANTI; JOKO GAGUNG SUNARYONO; NIKEN RANI WANDANSARI
Asian Journal of Agriculture Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : Smujo International

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13057/asianjagric/g100179

Abstract

Abstract. Harwanto, Purwanti EW, Sunaryono JG, Wandansari NR. 2026. Plant-based elicitor improves nutrient efficiency and sustains rice yield under reduced fertilizer in a one-season field study. Asian J Agric 10 (1): g100179. https://doi.org/10.13057/asianjagric/g100179. Excessive dependence on chemical fertilizers raises environmental concerns and reduces long-term soil fertility. A plant-based elicitor containing bioactive compounds (flavonoids, phenols, tannins) and phytohormones (IAA, cytokinins, gibberellins) such as Biosaka, has been promising elicitors to enhance nutrient efficiency and crop resilience. A field experiment was conducted in East Java, Indonesia, using a randomized block design with five treatments: 100% inorganic fertilizer (control), 100% inorganic fertilizer + Biosaka, 75% inorganic fertilizer + Biosaka, 50% inorganic fertilizer + Biosaka, and 25% inorganic fertilizer + Biosaka. Each treatment was replicated four times. Variables measured included plant growth, yield components, straw nutrient content (N, P, K), and soil chemical properties (pH, organic C, available N, P, K). The combination of 50% inorganic fertilizer + Biosaka maintained straw nitrogen comparable to full fertilizer and resulted in higher straw phosphorus content. The combination of 100% inorganic fertilizer + Biosaka produced the highest straw Kalium (0.53%) and milled rice weight (454.41 g 2 m-2). Biosaka treatments were associated with higher soil pH (6.30), organic carbon (0.99%), and available N and K compared to non-Biosaka treatments. Biosaka supplements have not compensated for the nutrient deficiency in the treatments with excessive fertilizer reduction (≤25%). It resulted in lower nutrient content and reduced milled rice weight (265.09 g 2 m-2). This study provides novel evidence that integrating Biosaka treatment with 50% inorganic fertilizer can sustain rice yield equivalently to the conventional 100% inorganic fertilizer application.
Pembuatan kompos dari sampah pasar dengan teknologi open-windrow Rani Wandansari, Niken; Suntari, Retno; Soemarno, S.
AGROINOTEK Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 1 (2020)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pasar sayur tradisional Karangploso Malang merupakan salah satu sumber penghasil sampah organik yang cukup besar sebagai bahan utama pembuatan kompos. Penelitian dilakukan untuk mengetahui potensi pemanfaatan sampah organik sebagai kompos. Metode pelaksanaan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat dengan demonstrasi (praktik) langsung pembuatan pupuk organik di lapangan menggunakan sampah organik pasar sebanyak ± 600 kg dan bioaktivator (EM4) dengan metode pengomposan open windrow. Proses pengomposan dilaksanakan selama 6 minggu. Berdasarkan hasil kajian, kandungan hara pada pupuk organik atau kompos yang dihasilkan dari sampah organik pasar sayur sudah memenuhi prasyarat kualitas kimiawi kematangan kompos SNI 19-7030-2004, berturut-turut untuk nilai C, N, P, C/N, C/P dan pH kompos adalah 12,33 %, 1,07 %, 0,34 %, 11,50, 35,90, dan 8,29. Selain itu juga memenuhi prasyarat kualitas fisik yang ditetapkan antara lain: 1) kadar air 46 %, 2) temperatur 28 0C, 3) berwarna kehitaman, 4) berbau seperti tanah, dan 5) bertekstur halus (remah).
Pupuk organik dan mikoriza untuk memperbaiki pertumbuhan dan produksi tomat Nur Fateha, Riska; Ilhaminnur, Bait; Rani Wandansari, Niken
AGROINOTEK Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 2 (2020)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis pupuk organik dan mikoriza terhadap pertumbuhan tanaman dan produksi buah tomat, serta kandungan hara tanah pada berbagai interval penyiraman. Penelitian dilaksanakan di Green House Polbangtan Malang pada bulan Juli sampai dengan November 2019, menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan perlakuan kombinasi jenis pupuk organik dan interval penyiraman, setiap perlakuan diulang tiga kali. Jenis pupuk organik yang digunakan yaitu: P1 (kompos kaliandra), P2 (kompos eceng gondok dan pahitan), P3 (kompos jerami dan kotoran sapi) dan P4 (vermikompos), sebagai kontrol adalah tanpa kompos (K). Interval penyiraman: 1, 3 dan 7 hari sekali (I1, I2 dan I3). Dosis mikoriza sebesar 2 gr/tanaman, sedangkan pupuk organik 160 gr / tanaman. Berdasarkan hasil penelitian, interaksi antara pupuk organik dengan interval penyiraman tidak memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman tomat, diameter batang, panjang akar, awal berbunga, diameter buah, jumlah buah dan bobot buah segar, serta kandungan hara tanah. Interval penyiraman berpengaruh nyata terhadap semua parameter pengamatan. Penambahan pupuk organik dapat meningkatkan kandungan C-organik tanah sebesar 6.58 % dan P-tersedia sebesar 170.51 % dibandingkan dengan kontrol. Secara umum, produksi buah tomat yang paling tinggi diperoleh pada kombinasi perlakuan P2 (kompos eceng gondok dan pahitan) dan I1 (interval penyiraman 1 hari), yaitu sebesar 231 gr/ tanaman atau setara dengan produksi buah 7,22 ton/ha.
Peningkatan pengetahuan petani padi terhadap pemupukan berimbang di kabupaten Klungkung, Bali Wandansari, Niken Rani; Sylviana, Desy; Soemarno, Soemarno
AGROINOTEK Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2023)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.agroinotek.2023.004.02.02

Abstract

Pemupukan berimbang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan unsur hara dalam tanah guna meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas tanaman, dengan dilandasi ketepatan dalan jenis, dosis, waktu, dan cara pemupukan. Penetapan dosis pupuk hendaknya berdasarkan pada tingkat kesuburan tanah serta kebutuhan hara tanaman. Namun demikian sebagian besar petani masih menerapkan pemupukan secara berlebihan, terutama penggunaan pupuk anorganik dalam budidaya padi sawah. Petani berasumsi bahwa semakin banyak pupuk (urea) yang diberikan, semakin hijau tanamanannya dan semakin tinggi produksi gabah yang dihasilkan. Ketergantungan terhadap pupuk anorganik dialami petani di kecamatan Klungkung, kabupaten Klungkung, Bali. Kebiasaan tersebut berdampak negatif pada kesuburan tanah dan keberlanjutan pertanian, serta peningkatan biaya produksi. Dengan demikian perlu dilakukan penyuluhan untuk mengetahui tingkat pengetahuan petani dan perubahannya mengenai pemupukan berimbang pada budidaya padi sawah. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan petani padi dilakukan dengan uji-t dan penyebaran kuisioner kepada 25 petani. Skala pengukuran yang digunakan yaitu skala guttman. Berdasarkan hasil kuisioner dan uji-t diketahui bahwa tingkat pengetahuan awal petani tentang pemupukan berimbang sebesar 45%, sedangkan peningkatan pengetahuan petani setelah dilakukan penyuluhan sebesar 32%.