Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

THE CORRELATION BETWEEN TOOTH LOSS AND NUTRITIONAL STATUS IN ELDERLY IN SOUTH DAHA DISTRICT Benedictus Dimas Aryo Prakoso; Rahmad Arifin; Fajar Kusuma Dwi Kurniawan
Dentin Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v7i2.9715

Abstract

Background: Aging is a biological process that will occur in every human individual. According to the Law of the Republic of Indonesia, the elderly is someone who reached age of 60 years and over. Based on data from BPS Indonesia in 2021, there are 29.3 million elderly in Indonesia and in South Daha District 3,534 elderly. Tooth loss can make the elderly vulnerable to decreased quality of life. Tooth loss cases will interfere with masticatory function and decreasing nutritional status. Objective: This study aims to analyze the correlation between tooth loss and nutritional status in the elderly in South Daha District. Methods: This study is a correlational analytic study with a cross sectional approach. The research sample are 105 elderly. Data collection includes primary data that obtained through direct examination of the number of tooth and BMI. Data analysis used univariate and bivariate with the Spearman’s test. Results: The results showed that most of the respondents had a low level of tooth loss (43.8%) and normal nutritional status (58.1%). The Spearman test showed that there was a significant correlation between tooth loss and nutritional status. Conclusion: There is a significant correlation between tooth loss and nutritional status in the elderly in South Daha  DistrictKeywords: Elderly, Nutritional Status, South Daha District, Tooth Loss
MAXILLARY FRENECTOMY IN PEDIATRIC PATIENT USING ELECTROCAUTERY TECHNIQUE : REPORT OF 2 CASES Nurdiana Dewi; Rahmad Arifin; Beta Widya Oktiani
Dentino : Jurnal Kedokteran Gigi Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : FKG Unlam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentino.v8i2.17530

Abstract

Background : The frenum is defined as a mocous membrane fold that attaches the lip and the cheek to the alveolar mucosa, the gingiva and the underlying periosteum.  The unsual frenum need treated by frenectomy or by frenotomy procedure. Conventional technique of frenectomy carries the risks of surgery like bleeding and patient compliance with favorable healing. Electrocautery technique provide bloodless area and clear view of the operative field. Case : The present article is a report of two cases of frenectomy using electrocautery technique. Case management : Maxillary frenectomy of 2 patients was carried out using electrocautery technique after the area was anesthetized with 4% articaine. Continuous saline irrigation was given while using the electrocautery. Minimal bleeding was seen during the procedure. No sutures were placed after the treatment. One week recalled visit showed almost complete healing in both cases. No discomfort was complained by patinet during and after the treatment. Conclusion : Electrocautery is recommended for performing frenectomy due to its effectiveness and safety. The procedure causes light bleeding and does not have postoperative complications. The use of electrocautery in frenectomy provides a reduction in work time as well as greater comfort and safety for the patient dan dentist. Keywords : Frenectomy, Frenum, Pediatric Patient
HUBUNGAN KUALITAS PELAYANAN DOKTER GIGI MUDA TERHADAP KEPUASAN PASIEN GIGI TIRUAN DI RSGM GUSTI HASAN AMAN BANJARMASIN Antung Lutfiliawan; Debby Saputera; Aulia Azizah; Rahmad Arifin; Riky Hamdani
Dentin Vol 7, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v7i3.10745

Abstract

Latar Belakang: Keberhasilan pelayanan kesehatan adalah terpenuhinya harapan pasien akan mutu kualitas pelayanan. Salah satu indikator yang digunakan untuk mengevaluasi kualitas pelayanan adalah dengan mengukur kepuasan pasien. Kepuasan pasien merupakan baik atau buruknya pelayanan yang diterima pasien. Indikator kepuasan pasien dapat dilihat dari kualitas pelayanan dalam teori Parasuraman et.al (1998) yang dibagi menjadi lima dimensi, dimensi tampilan (tangible), kehandalan (reliability), ketanggapan (responsiveness), jaminan (assurance), dan perhatian (empathy). Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kualitas pelayanan dokter gigi muda terhadap kepuasan pasien gigi tiruan sebagian lepasan Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian ini adalah pasien gigi tiruan sebagian lepasan dokter gigi muda sebanyak 38 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Analisi data menggunakan analisis univariat dan bivariate menggunakan aplikasi SPSS dengan metode somers’D Hasil: Hasil penelitian didapatkan kualitas pelayanan dokter gigi muda termasuk dalam kategori baik (81,6%), kepuasan pasien gigi tiruan sebagian lepasan termasuk dalam kategori puas (71,1%) dan terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas pelayanan dengan kepuasan pasien gigi tiruan sebagian lepasan di RSGM Gusti Hasan Aman Banjarmasin (p = 0,000).Kesimpulan: Semakin  baik kualitas pelayanan dokter gigi muda yang diberikan maka akan semakin tinggi tingkat kepuasan yang  dirasakan  pasien. Kata kunci: Gigi Tiruan Sebagian Lepasan, Kepuasan Pasien, Kualitas Pelayanan
HUBUNGAN PENGETAHUAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT DENGAN KEHILANGAN GIGI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEMANGAT DALAM Akhmad Akhdiannoor Ramadhan; Rahmad Arifin; Isnur Hatta; Riky Hamdani; Nurdiana Dewi
Dentin Vol 7, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v7i3.10746

Abstract

Latar Belakang: Tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut berpengaruh pada perilaku menjaga kesehatan gigi dan mulut yang berujung pada kejadian karies dan penyakit periodontal. Selain perilaku menyikat gigi, usia juga berperan penting dalam faktor risiko terjadinya kehilangan gigi. Usia 35-44 tahun adalah usia yang ideal dilakukan pengawasan kesehatan gigi dan mulut. Tujuan: Menganalisis hubungan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut dengan kehilangan gigi di wilayah kerja Puskesmas Semangat Dalam (tinjauan pada masyarakat usia 35-44 tahun). Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik korelasional dengan metode cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan probability sampling  dengan teknik cluster sampling. Subjek penelitian adalah masyarakat usia 35-44 tahun yang tinggal di wilayah kerja Puskesmas Semangat Dalam sebanyak 107 responden. Pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan pemeriksaan tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut menggunakan kuesioner dan pemeriksaan jumlah gigi yang hilang pada rongga mulut responden. Analisis data menggunakan dengan uji Somers’D. Hasil: Mayoritas masyarakat usia 35-44 tahun yang tinggal di wilayah kerja Puskesmas Semangat Dalam memiliki tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut dengan kategori sedang (57,94%) dan memiliki tingkat kehilangan gigi dengan kategori rendah (52,34%). Uji korelasi Somers’D menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut dengan kehilangan gigi (p=0,000). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan kesehatan gigi dan mulut dengan kehilangan gigi, Pengetahuan kesehatan gigi dan mulut baik dapat membentuk perilaku menjaga kesehatan gigi dan mulut yang baik. Perilaku yang baik akan mengurangi terjadinya kehilangan gigi seseorang. Kata Kunci: Kehilangan Gigi, Pengetahuan kesehatan gigi dan mulut
HUBUNGAN TEMPOROMANDIBULAR DISORDERS TERHADAP ORAL HEALTH RELATED QUALITY OF LIFE Maulida Hasanah; Rahmad Arifin; Irham Taufiqurrahman; Galuh Dwinta Sari; Alexander Sitepu
Dentin Vol 7, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v7i3.10747

Abstract

Latar Belakang: Temporomandibular disorders (TMD) merupakan gangguan pada sendi temporomandibula (STM) ditandai rasa sakit pada otot pengunyahan dan STM; bunyi ‘klik’ pada STM; dan adanya defleksi, deviasi serta keterbatasan membuka mulut. TMD banyak dijumpai pada usia dewasa dengan rentang 20-40 tahun termasuk pada mahasiswa.  Gejala yang disebabkan TMD dapat berdampak negatif pada kualitas hidup dan kualitas hidup terkait kesehatan rongga mulut. Oral health related quality of life (OHRQoL) merupakan konstruksi multidimensi yang mencerminkan kesehatan mulut seseorang; fisik, psikologis dan kesejahteraan sosial; harapan dan kepuasan perawatan; dan harga diri. Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan TMD terhadap OHRQoL pada mahasiswa preklinik FKG ULM. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional. Penelitian ini dilakukan pada 37 mahasiswa FKG ULM Angkatan 2019-2022 yang berusia 18 tahun ke atas dengan teknik pengambilan sampel stratified random sampling dengan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Pemeriksaan TMD menggunakan metode diagnosis RDC/TMD sedangkan pemeriksaan OHRQoL menggunakan kuesioner OHIP-14. Data hasil penelitian terkait TMD dan OHRQoL dianalisis dengan uji spearman. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa TMD dialami oleh 51,4% responden dengan gejala yang paling banyak dialami adalah nyeri miofasial (57,9%) dengan tingkat OHRQoL yang  terbanyak adalah baik (81%). Hasil uji korelatif spearman menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara TMD terhadap OHRQoL pada mahasiswa preklinik Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Lambung Mangkurat (ρ < 0,05). Kesimpulan: Peningkatan gejala TMD meningkatkan keparahan OHRQoL pada mahasiswa preklinik Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Lambung Mangkurat Kata Kunci: nyeri miofasial, oral health related quality of life (OHRQoL), temporomandibular disorders (TMD)
ANALISIS PERSAMAAN PERSEPSI REMAJA TENTANG KEBUTUHAN PERAWATAN ORTHODONTI TERHADAP KONDISI SEBENARNYA (Tinjauan pada Pelajar SMA/Sederajat di Banjarmasin Kawasan Non Perkotaan) Najma Nor Shalehah; Diana Wibowo; Rahmad Arifin; Aulia Azizah; Alexander Sitepu
Dentin Vol 9, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i1.16561

Abstract

Background: In dental and oral health, malocclusion is an occlusal disorder that affects appearance and psychological well-being, especially among adolescents. There are two categories of contributing factors to malocclusion: general and local factors. Local factors directly impact the condition of the teeth, while general factors do not have a direct effect. Objective: Analyzing the congruence between adolescents' perceptions of orthodontic treatment needs using IKPO and their actual dental conditions measured by ICON. Methods: In this study, 175 randomly selected high school (or equivalent) students from non-urban areas of Banjarmasin were observed using a cross-sectional methodology. Results: The findings of this study indicate that the majority of participants fell into the category of requiring orthodontic treatment based on both IKPO and ICON. Cohen’s Kappa analysis showed a fair level of agreement between IKPO and ICON, with a value of 0.238. Conclusion: The conclusion of this study is that there is a fair level of agreement between adolescents’ perceptions of the need for orthodontic treatment and their actual dental conditions. ABSTRAKLatar Belakang: Pada kondisi kesehatan gigi dan mulut, maloklusi merupakan kelainan oklusi yang mempengaruhi penampilan dan kesejahteraan psikologis, terutama pada remaja. Terdapat dua kategori penyebab yang berkontribusi terhadap maloklusi, yaitu faktor umum dan faktor lokal. Faktor lokal berdampak langsung pada kondisi gigi, sedangkan faktor umum tidak berdampak langsung. Tujuan: Menganalisis persamaan persepsi remaja tentang kebutuhan perawatan orthodonti menggunakan IKPO terhadap kondisi sebenarnya menggunakan ICON. Metode: Dalam penelitian ini, 175 siswa SMA/sederajat yang dipilih secara acak di Banjarmasin kawasan non-perkotaan, diobservasi menggunakan metodologi cross-sectional. Hasil: Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas peserta masuk dalam kategori membutuhkan perawatan orthodonti berdasarkan IKPO maupun ICON. Uji analisis Cohen’s Kappa menunjukkan adanya nilai persamaan yang masuk dalam kategori cukup antara IKPO dan ICON dengan nilai 0.238. Kesimpulan: Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat tingkat persamaan yang cukup antara persepsi remaja tentang kebutuhan perawatan orthodonti terhadap kondisi gigi geligi yang sebenarnya.Kata Kunci: Maloklusi, Perawatan Orthodonti, Indeks Kebutuhan Perawatan Orthodonti, Index of Complexity, Outcome, and Need
PERBANDINGAN TINGKAT KEPUASAN MASYARAKAT YANG MEMAKAI GIGI TIRUAN BUATAN DOKTER GIGI DAN TUKANG GIGI DI BANJARMASIN Muhammad Arfah Akbar; Rosihan Adhani; Rahmad Arifin; Ika Kusuma Wardani; R. Harry Dharmawan Setyawardhana
Dentin Vol 8, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v8i1.12196

Abstract

Background: Riskesdas data for South Kalimantan Province for 2018 stated that 3.3% of the population who received denture installation treatment in the last 12 months in Banjarmasin, 22.9% of the population in Banjarmasin received treatment at dentists and 0.79% received treatment at dental artisans. There are differences in the manufacture of dentures made by dentists and dental artisans, both in terms of quality, indications, contraindications, and cost. Purpose: To analyze the comparison of the level of satisfaction of people who use dentures made by dentists and dentists in Banjarmasin. Method: Using a comparative analytical method with a cross-sectional approach. The sampling technique uses quota sampling. The population is Dentist and Dentist patients in Banjarmasin City. The minimum sample size is calculated using the Lemeshow formula and the results are 100 samples. Results:. Analysis of the Mann Whitney test data yielded a significant value of 0.000 <0.05 which indicated that the H0 decision was rejected or meant that there was a difference in satisfaction with dentures made by dentists and dental artisans. Conclusion: There is a difference in satisfaction with dentures made by dentists and dentists, where the satisfaction level of users of dentures made by dentists is higher than the level of satisfaction made by dentures made by dentists in Banjarmasin City.Keywords: Artisan Dental, , Dentist, Denture, Satisfaction.
GAMBARAN TINGGI WAJAH ANTERIOR BAWAH PADA MAHASISWA SUKU BANJAR FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT Reni Amirah Salsabila Fitri; Fajar Kusuma Dwi Kurniawan; Rahmad Arifin; Sherli Diana
Dentin Vol 8, No 3 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v8i3.14232

Abstract

Background: LAFH (Lower Anterior Facial Height) is the vertical distance between the ANS and Menton. Measurement of LAFH is one of the vertical evaluations of the person's aesthetics and orthodontic treatment. One of the factors that differentiates the dentocraniofacial growth development of an individual is in the type of race, race then divided into ethnic. Purpose: Describe the LAFH in the Banjar ethnic students and describe the LAFH  based on Gender and Age. Methods: The study is using a descriptive method with a cross-sectional approach to describe the LAFH in students of the Banjar ethnic, Faculty of Dentistry, University of Lambung Mangkurat. Using total sampling with a total of 33 samples. Data obtained after 3 measurements then processed with a data processing application. Results: The average value of the LAFH in all samples is 68.49 mm. LAFH value of the female sample is 67.21 mm. Male sample value is 71.42 mm. The LAFH based on age shows, the 19-year-old group has an average value of LAFH 67.78 mm. 20 years old group has an average LAFH of 68.29 mm. 21 year old group has an average LAFH of 68.35 mm. The 22 year old sample has an average LAFH of 69.66 mm. Conclusion:  Based on race, the mean of the LAFH students of the Banjar ethnic Students is 68.49 mm. Based on gender, LAFH on male was higher than female. Based on age, the 22-year-old group had the largest LAFH , while the smallest LAFH was in the 19-year-old group.Keyword : Age, Gender, Growth Hormone, Growth Spurts, Lower Anterior Facial Height, ABSTRAK Latar Belakang: Ketinggian wajah anterior bawah atau  LAFH (Lower Anterior Facial Height) adalah jarak vertikal antara titik ANS dan menton. Pengukuran tinggi wajah anterior bawah merupakan salah satu evaluasi vertikal yang memiliki hubungan erat dengan estetika dan perawatan ortodontik. Tinggi wajah pada orang dewasa menjadi hal yang penting dalam pertumbuhan dan perkembangan keharmonisan wajah. Salah satu faktor yang membedakan pertumbuhan dan perkembangan dentokraniofasial adalah pada jenis rasnya, ras kemudian terbagi menjadi Suku. Tujuan: Mengetahui gambaran tinggi wajah bawah anterior pada mahasiswa Suku Banjar, mengetahui tinggi wajah anterior bawah berdasarkan Jenis Kelamin dan Usia. Metode: Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif dengan pendekatan cross-sectional untuk mengetahui gambaran tinggi wajah anterior bawah pada mahasiswa Suku Banjar FKG Universitas Lambung Mangkurat. Menggunakan total sampling dengan jumlah 33 sampel. Data yang didapat setelah 3 kali pengukuran diolah dengan aplikasi pengolah data.  Hasil: Nilai rata-rata tinggi wajah anterior bawah adalah 68,49 mm. Nilai pada sampel Perempuan sebesar 67,21 mm. Nilai pada sampel laki-laki 71,42 mm. Gambaran tinggi wajah anterior bawah berdasarkan usia menunjukan, nilai rata-rata kelompok usia 19 tahun sebesar 67,78 mm.nilai rata-rata kelompok usia 20 tahun 68,29 mm. Nilai rata-rata kelompok usia 21 tahun 68,35 mm. Nilai rata-rata kelompok usia 22 tahun 69,66 mm. Kesimpulan: Berdasarkan ras, nilai tinggi wajah bawah anterior pada mahasiswa Suku Banjar FKG ULM rata-rata sebesar 68,49 mm. Berdasarkan jenis kelamin, nilai pada sampel laki-laki lebih tinggi daripada  perempuan.  Berdasarkan usia, nilai tinggi wajah bawah anterior terbesar adalah kelompok usia 22 tahun sedangkan nilai terkecil ada pada kelompok usia 19 tahun.Kata kunci : Hormon, Jenis kelamin, Pacu tumbuh, Tinggi wajah anterior bawah, Usia
PERBANDINGAN RUGAE PALATINA BERDASARKAN JENIS KELAMIN SEBAGAI IDENTIFIKASI ODONTOLOGI FORENSIK PADA ETNIS BANJAR Eugenia Clairine; Bayu Indra Sukmana; Melissa Budipramana; Renie Kumala Dewi; Rahmad Arifin
Dentin Vol 8, No 3 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v8i3.14234

Abstract

Background: Forensic odontology focuses on the management, investigation, evaluation and presentation of dental cases to support criminal cases. The science of forensic dentistry develops based on the fact the anatomical shape of the entire mouth and the morphological appearance of the face can be used as references in the individual identification process. Forensic odontology plays an important role in determining the sex of the victim using the craniofacial area. Gender identification can use soft tissue in the oral cavity, one of which is palatine rugae. Identification of palatal rugae, known as rugoscopy, is useful for helping detect a person's identity, one of which is gender.  Objective: Compare of palatine rugae pattern based on gender in the Banjar ethnic community as a forensic identification tool Methods: This research is an analytical observational study with a cross-sectional approach, consisting of 2 groups, namely 18 pairs of men and women, students at the Faculty of Dentistry, Lambung Mangkurat University. Data collection was carried out by molding the jaw using irreversible hydrocolloid followed by plaster casting. The palatine rugae pattern will be drawn using a pencil. Palatine rugae patterns were analyzed using the Thomas and Kotze classification. Results: The Fisher exact test results showed there was no significant difference (>0.05) between the 2 groups. The dominant palatine rugae pattern in both groups is wavy. Conclusion: There was no significant difference between the palatine rugae patterns of women and men.Keywords : Banjar Ethnic, Gender, Rugae Palatine ABSTRAKLatar belakang: Odontologi forensik berfokus pada manajemen, penyelidikan, evaluasi dan presentasi kasus dental untuk menunjang investigasi kasus kriminal. Ilmu forensik kedokteran gigi berkembang berdasarkan pada kenyataannya bahwa bentuk anatomi dari keseluruhan mulut dan penampilan morfologi wajah merupakan karakteristik yang dapat dipakai sebagai acuan dalam proses identifikasi investigasi kasus. Odontologi forensik memainkan peranan yang penting untuk menentukan jenis kelamin korban menggunakan area kraniofasial.Identifikasi jenis kelamin dapat menggunakan bagian jaringan lunak yang ada di dalam rongga mulut salah satunya rugae palatina. Identifikasi rugae palatina disebut rugoscopy. Rugoscopy bertujuan membantu mengidentifikasi identitas seseorang salah satunya jenis kelamin. Tujuan: Mengetahui perbandingan rugae palatina berdasarkan jenis kelamin pada masyarakat etnis Banjar sebagai alat identifikasi forensic Metode: Penelitian ini bersifat analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional dimana terdiri dari 2 kelompok yaitu 18 pasang laki-laki dan perempuan. Pengambilan data dilakukan dengan melakukan pencetakan rahang menggunakan irreversible hydrocolloid dilanjutkan dengan pengecoran gips. Pola rugae palatina akan digambar menggunakan pensil. Pola rugae palatina dianalisis menggunakan klasifikasi Thomas dan Kotze. Hasil: Hasil uji Fisher exact menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna (>0,05) antara 2 kelompok jenis kelamin. Pola rugae palatina yang dominan di kedua kelompok adalah wavy.  Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan bermakna antara pola rugae palatina perempuan dan pola rugae palatina laki-laki.Kata kunci :        Jenis Kelamin, Rugae palatina, Suku Banjar
EFEKTIVITAS DENTAL HEALTH EDUCATION MENGGUNAKAN PERMAINAN TRADISIONAL BADAMPRAK TERHADAP PENGETAHUAN DAN SKOR OHI-S (Tinjauan Pada Siswa Umur 10-14 Tahun di Sekolah Buddhis Dhammasoka Kota Banjarmasin) Yudha Fatahillah Syahari; Aulia Azizah; Sherli Diana; Rosihan Adhani; Rahmad Arifin
Dentin Vol 9, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i1.16564

Abstract

Background: Based on the Indonesian Health Survey (SKI 2023) South Kalimantan Province has a proportion of oral and dental problems (57.7%), the largest (59.56%) of which is in children aged 10-14 years, this indicates a lack of dental health education (DHE) in this age group. According to Bloom, behavior influenced by knowledge is an important factor in oral health status. One method to improve this knowledge is through the traditional game Badamprak. Objective: The effectiveness of DHE using Badamprak games in increasing knowledge and reducing OHI-S scores in students aged 10-14 years at Dhammasoka Buddhist School in Banjarmasin City. Purpose: Proving that DHE using traditional badamprak games increases knowledge and reduces OHI-S scores in students aged 10-14 years at Dhammasoka Buddhist School in Banjarmasin City. Methods: This study used quasi experimental with pre and posttest group design with non probability sampling on 58 students. Results: Wilcoxon test showed that there was a difference in tooth brushing knowledge before and after DHE using Badamprak traditional games in 58 samples (p = 0.001). Conclusion: DHE using the traditional game Badamprak is effective in increasing knowledge and reducing OHIS scores.Keywords: Badamprak, Dental Health Education, Knowledge, Oral Hygiene Index Simplified, Tooth Brushing ABSTRAKLatar Belakang: Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI 2023) Provinsi Kalimantan Selatan memiliki proporsi masalah gigi dan mulut (57,7%), yang terbesar (59,56%) yaitu pada anak usia 10-14 tahun, Hal ini menunjukkan kurangnya edukasi kesehatan gigi dan mulut (Dental Health Education/DHE) pada kelompok usia tersebut. Menurut Bloom, perilaku yang dipengaruhi oleh pengetahuan merupakan faktor penting dalam status kesehatan gigi dan mulut. Salah satu metode untuk meningkatkan pengetahuan ini adalah melalui permainan tradisional Badamprak. Tujuan: Efektivitas DHE menggunakan permainan Badamprak dalam meningkatkan pengetahuan dan menurunkan skor OHI-S pada siswa usia 10-14 tahun di Sekolah Buddhis Dhammasoka Kota Banjarmasin. Tujuan: Membuktikan bahwa DHE menggunakan permainan tradisional badamprak meningkatkan pengetahuan dan menurunkan skor OHI-S pada siswa umur 10-14 tahun di Sekolah Buddhis Dhammasoka Kota Banjarmasin. Metode: Penelitian ini menerapkan pendekatan kuasi eksperimen melalui rancangan pengukuran sebelum dan sesudah intervensi (pretest-posttest group design). Pemilihan sampel menggunakan teknik non probability sampling dengan jumlah responden sebanyak 58 siswa. Hasil: Uji Wilcoxon menunjukkan terdapat perbedaan pengetahuan menyikat gigi sebelum dan setelah DHE menggunakan permainan tradisional Badamprak pada 58 sampel (p=<0,001). Kesimpulan: DHE menggunakan permainan tradisional Badamprak efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan menurunkan skor OHIS. Kata Kunci: : Badamprak, Dental Health Education, Menyikat Gigi, Oral Hygiene Index Simplified, Pengetahuan > <0,001). Kesimpulan: DHE menggunakan permainan tradisional Badamprak efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan menurunkan skor OHIS.Kata Kunci: : Badamprak, Dental Health Education, Menyikat Gigi, Oral Hygiene Index Simplified,Pengetahuan