Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Edukasi Anti Bullying Sebagai Upaya untuk Meningkatkan Pengetahuan dan Resiliensi Anak dan Remaja di Panti Asuhan Buanasari, Andi; Renteng, Septriani; Simak, Valen Fridolin
Omni Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2026): Juni
Publisher : Bantayang Omni Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65277/opm.v3i2.280

Abstract

Anak yang tinggal di panti asuhan sering kali mendapatkan stigma dan dianggap sebagai kaum marginal sehingga mereka sering menjadi korban bullying di sekolah ataupun di tempat umum yang kemudian akan mempengaruhi psikologisnya. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan anak dan remaja untuk meningkatkan resiliensi mereka menghadapi bullying. Kegiatan ini dilakukan di dua panti asuhan yang berbeda yaitu Panti Asuhan Terang Titipan Tuhan dan Panti Asuhan Al-Ikhwan dengan memberikan edukasi anti bullying terhadap total 29 anak dan remaja yang tinggal di panti asuhan. Metode pengabdian menggunakan ceramah dan role play. Proses edukasi kesehatan dilakukan dimulai dengan memberikan pre-test sebelum materi edukasi diberikan lalu dilakukan kembali post-test setelah edukasi. Analisis data dilakukan dengan membandingkan nilai pre dan post-test peserta. Hasil pelaksanaan kegiatan menunjukkan bahwa terdapat peningkatan yang signifikan pada hasil post-test pemberian edukasi anti bullying dengan rerata peningkatan pengetahuan adalah 30,8% dari hasil pre-test. Hasil ini menunjukkan bahwa edukasi anti bullying penting dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan anak dan remaja sebagai populasi rentan yang tinggal di panti asuhan sehingga secara tidak langsung juga diharapkan akan meningkatkan resiliensi anak dan remaja ketika menghadapi bullying.
Pengalaman Lansia Menerapkan Protokol Kesehatan di Masa Pandemi Covid-19: Studi Kualitatif di BPLU Senja Cerah Manado: Experiences of the Elderly Implementing Health Protocol During the Covid-19 Pandemic: A Qualitative Study in BPLU Senja Cerah Manado Kristmuliana Kristamuliana; Septriani Renteng; Ronald Joy Datu
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 4 No. 3 (2021)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (537.247 KB) | DOI: 10.56338/mppki.v4i3.1609

Abstract

Penerapan protokol kesehatan di seluruh kalangan masyarakat termasuk lansia merupakan salah satu langkah untuk mencegah penularan COVID-19, namun penurunan fungsi fisik dan psikososial pada lansia dapat menjadi salah satu penghambat bagi lansia dalam menerapkan protokol kesehatan yang dimaksud. Penelitian ini bertujuan untuk mengekplorasi pengalaman lansia dalam menerapkan protokol kesehatan di masa pandemic COVID-19 khususnya di Panti Werdha. Peneltian ini adalah penelitian kualitatif yang dilaksanakan di Balai Penyantunan Lanjut Usia (BPLU) Senja Cerah Kota Manado dengan melakukan indept interview kepada 12 (dua belas) lansia sebagai informan utama dan 2 (dua) informan pendukung yang berasal dari pihak pengelola panti. Terdapat 3 (tiga) tema yang dapat disimpulkan dari penelitian ini yaitu 1) Gambaran berbagai pengalaman lansia dalam menerapkan protokol kesehatan (tidak nyaman menggunakan masker, tidak nyaman sering cuci tangan, menjaga jarak bukan sebuah masalah dan sering lupa menerapkan protokol kesehatan); 2) Motivasi lansia dalam menerapkan protokol kesehatan (demi kesehatan, supaya pandemic cepat berlalu dan aturan pemerintah) dan 3) Dukungan lansia dalam menerapkan protokol kesehatan (dukungan keluarga dan dukungan sosial). Kesimpulan dari penelitian ini adalah berbagai pengalaman yang dirasakan oleh lansia dalam menerapkan protokol kesehatan adalah gambaran dari penurunan fungsi fisik dan pasikososial namun lansia tetap termotivasi karena mengikuti anjuran pemerintah agar tetap sehat dan pendemi segera berlalu serta adanya dukungan baik dari keluarga, dari sesama lansia dan dari pihak pengelola panti.
“Girls need sex education more”: Gendered views of kindergarten teachers on children’s sex education Septriani Renteng; Valen Fridolin Simak; Andi Buanasari
Jurnal Cakrawala Promkes Vol. 8 No. 1 (2026): February
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/jcp.v8i1.14826

Abstract

Preschool-aged children are vulnerable to sexual violence due to limited knowledge of sexual concepts, body autonomy, and personal boundaries. Early sex education is essential to strengthen children’s protective knowledge and help-seeking behaviors. In Indonesia, however, sex education for early childhood is often constrained by social taboos, limited teacher training, and insufficient instructional resources. Teachers play a central role in delivering age-appropriate sex education in schools, yet their perceptions and experiences remain underexplored. Therefore, this study aimed to explore kindergarten teachers' perceptions of sex education for preschool-aged children, including their understanding of sex education concepts, implementation challenges, and expectations for effective delivery. A qualitative study using a descriptive-phenomenological approach was conducted from August to September 2024 in Manado City. Purposive sampling was employed to recruit 15 kindergarten teachers as main informants and 7 preschool-aged children as supporting informants for data triangulation. Data were collected through in-depth interviews and participant observation. All interviews were audio-recorded, transcribed verbatim, and analyzed thematically. Two main themes emerged: (1) sex education for preschool-aged children and (2) challenges and expectations of teachers in conducting sex education. Teachers generally understood sex education as teaching body autonomy, private body parts, gender identity, and safe versus unsafe touch. However, perceptions differed regarding the appropriate age to introduce sex education and whether girls should receive greater emphasis than boys. Children's growth, attention spans, training, and teaching medium were challenges. Teachers stressed interactive methods and engagement with parents, health workers, and government agencies. Early childhood sex education is heavily influenced by teachers' expertise, challenges, and expectations. Effective and sustainable early sex education requires teacher competency, age-appropriate resources, and multi-stakeholder collaboration.
KENALI PUBERTAS DENGAN METODE STORY TELLING DAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE Septriani Renteng; Valen Fridolin Simak; Henry Valentino Florensius Kainde
Journal of Community Empowerment Vol 4, No 3 (2025): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v4i3.36265

Abstract

ABSTRAKAnak usia sekolah harus memiliki pengetahuan yang baik tentang pubertas, namun pada kenyataannya masih banyak anak yang belum memiliki pengetahuan yang tepat tentang pubertas. Keterbatasan pengetahuan anak tentang pubertas juga dialami oleh mitra dimana anak mengungkapkan bahwa pengetahuan pubertas diperoleh dari internet dan anak lebih banyak bercerita tentang pubertas kepada teman, sedangkan orang tua dan guru juga mengungkapkan kesulitan untuk melakukan pendidikan seks tentang pubertas pada anak. Oleh karena itu kegiatan pemberdayaan berbasis masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan anak dan guru terkait pubertas dan keterampilan guru dalam pemanfaatan artificial intelegence dalam pendidikan pubertas kepada peserta didik. Metode dalam pelaksanaan kegiatan dengan tahapan sosialisasi kegiatan; pelatihan dalam bentuk edukasi pubertas kepada anak dengan metode permainan serta pelatihan story telling pada guru; penerapan iptek dalam bentuk pelatihan kepada guru berupa Canva, Chat GPT, dan D-Id; monitoring dan evaluasi. Pelaksanaan kegiatan dilakukan di SD GMIM 32 Manado dengan peserta 29 peserta didik dan 10 orang guru yang dilaksanakan bulan September-Oktober 2024. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan anak (79%) dan guru (100%) terkait pubertas serta peningkatan keterampilan guru dalam membuat media edukasi seperti poster menggunakan canva. Kesimpulan kegiatan ini membawa dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan anak serta peningkatan pengetahuan dan keterampilan guru.Kata kunci: Artificial Intelengence; Anak Usia Sekolah; Guru; Pubertas; Story Telling.ABSTRACTSchool-aged children should have a good understanding of puberty, but in reality, many children still lack adequate knowledge about puberty. Children's limited knowledge about puberty is also experienced by partners, where children reveal that they obtain knowledge about puberty from the internet and talk more about puberty with their friends, while parents and teachers also express difficulty in educating children about puberty. Therefore, this community-based empowerment activity aims to increase children's and teachers' knowledge related to puberty and teachers' skills in utilising artificial intelligence in puberty education for students. The method in implementing activities with the stages of socialisation of activities: training in the form of puberty education to children with game methods and storytelling training for teachers; application of science and technology in the form of training for teachers in the form of Canva, Chat GPT, and D-Id; monitoring and evaluation. The implementation of activities took place at GMIM 32 Manado Elementary School, involving 29 students and 10 teachers, from September to October 2024. The results of the activity showed an increase in children's (79%) and teachers' (100%) knowledge related to puberty, as well as an improvement in teachers' skills in creating educational media, such as posters, using Canva. The conclusion of this activity has a positive impact on increasing children's knowledge and increasing teachers' knowledge and skillsKeywords: Artificial Intelligence; Puberty, School Age Children; Story Telling; Teacher.
Optimalisasi Stroke Primary Prevention melalui Edukasi Kesehatan dan Pelatihan Senam Anti-Stroke sebagai Upaya Meningkatkan Kesadaran dan Kesehatan Masyarakat Gratsia Victoria Fernandez; Septriani Renteng; Alfonsius Ade Wirawan
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 1 (2026): Volume 9 Nomor 1 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i1.23213

Abstract

ABSTRAK Upaya pencegahan timbulnya penyakit stroke harus dimulai dengan meningkatkan kesadaran masyarakat dan melakukan perubahan pola hidup kearah yang lebih sehat. Untuk meningkatkan kesadaran dan kesehatan masyarakat terkait pencegahan primer penyakit stroke, khususnya pada masyarakat yang menderita penyakit kronis. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Puskesmas Teling Atas pada tanggal Jumat 22 Agustus dan 29 Agustus 2025, dengan jumlah peserta sebanyak 54 anggota prolanis. Kegiatan ini dilakukan melalui tahap persiapan, pelaksanaan dan evaluasi. Hasil evaluasi kegiatan menunjukkan bahwa terjadi peningkatan nilai rata-rata pengetahuan peserta, yang ditunjukkan dari perubahan nilai rata-rata dari pengetahuan peserta sebelum dan sesudah pelatihan. Selain itu, nilai signifikansi analisa rerata pengetahuan peserta sebelum dan setelah pelatihan menunjukkan nilai p 0,000 (p value 0,05), hal ini juga menjelaskan bahwa peningkatan pengetahuan peserta karena pelatihan berpengaruh secara signifikan. Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan di Puskesmas Teling Atas Kota Manado dapat terlaksana dengan baik serta bermanfaat bagi peserta dalam meningkatkan pengetahuan dan perilaku dalam melakukan pencegahan primer penyakit stroke. Kata Kunci: Stroke, Pencegahan, Primer, Edukasi, Senam.  ABSTRACT Efforts to prevent the onset of stroke had to begin with increasing public awareness and promoting lifestyle changes toward healthier habits. This community service activity aimed to improve public awareness and health related to primary prevention of stroke, particularly among individuals suffering from chronic diseases. This community service activity was carried out at Puskesmas Teling Atas in Manado City on Friday, August 22 and August 29, 2025, with a total of 54 Prolanis members as participants. The activity was conducted through three stages: preparation, implementation, and evaluation. The evaluation results showed an increase in the participants’ mean knowledge scores, as indicated by the difference between the average knowledge scores before and after the training. In addition, the significance value of the analysis comparing participants’ knowledge before and after the training showed a p value of 0.000 (p 0.05), indicating that the increase in participants’ knowledge due to the training was statistically significant. The community service activity conducted at Puskesmas Teling Atas, Manado City, was successfully implemented and provided benefits to participants in improving their knowledge and behavior regarding primary prevention of stroke. Keywords: Stroke, Prevention, Primary, Education, Exercise.
Kesejahteraan Psikologis sebagai Prediktor Kontrol Glikemik pada Diabetes Melitus Tipe 2 Gloria Elisabet Sjawal; Juwita Moreen Toar; Septriani Renteng
Khatulistiwa Nursing Journal Vol. 7 No. 2 (2025): July 2025
Publisher : STIKes YARSI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53399/knj.v7i2.346

Abstract

Latar Belakang: Kontrol glikemik yang baik penting untuk mencegah komplikasi dan menurunkan angka kematian akibat diabetes. Pencapaian kontrol glikemik ini tidak hanya bergantung pada aspek medis, tetapi juga pada faktor psikologis. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kesejahteraan psikologis dengan kontrol glikemik pada pasien diabetes melitus tipe 2. Metode: Desain penelitian menggunakan studi cross-sectional. Penelitian dilakukan di Klinik Imanuel Manado. Sebanyak 87 sampel pasien diabetes melitus tipe 2 dipilih secara purposive dengan kriteria inklusi penelitian ini yaitu pasien diabetes melitus tipe 2 yang berusia 30 tahun keatas, pasien yang terdiagnosis diabetes melitus tipe 2 lebih dari 1 tahun, dan melakukan pemeriksaan kadar HbA1c selama 3 bulan terakhir. Pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian yang terdiri dari kuesioner Ryff’s Scale of Psychological Well-Being (SPWB) yang diadaptasi oleh peneliti sebelumnya. Hasil: Hasil uji statistik dengan korelasi Spearman rhoo menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kesejahteraan psikologis dengan kontrol glikemik pada pasien DM Tipe 2 dengan kekuatan hubungan (r = -.753) dengan nilai p = 0,038 (p < 0,05). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara kesejahteraan psikologis dan kontrol glikemik pada pasien DM tipe 2, dengan korelasi negatif yang kuat.
Hubungan Penggunaan Gadget dengan Aktivitas Fisik pada Anak Usia Sekolah Shania Lomboan; Septriani Renteng; Hendro Bidjuni
Mapalus Nursing Science Journal Vol. 3 No. 3 (2025): Mapalus Nursing Science Journal (Jurnal Ilmu Keperawatan Mapalus)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/pea7p861

Abstract

Latar belakang: Kemajuan teknologi dapat mempengaruhi perilaku dan kehidupan generasi sekarang, termasuk anak-anak. Salah satu bentuk kemajuan teknologi adalah gadget. Penggunaan gadget yang lama pada anak dapat berdampak pada aktivitas anak. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan penggunaan gadget dengan aktivitas fisik anak usia sekolah di SD Negeri 36 Manado.Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain penelitian korelasi dan pendekatan cross-sectional, sampel diambil menggunakan teknik stratified random sampling didapatkan jumlah sampel sebanyak 129 responden dari kelas IV, V dan VI di SD Negeri 36 Manado. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner Physical Activities Questionnaire for Children (PAQ-C) dengan kuesioner penggunaan gadget. Hasil:  Uji pearson product moment dengan tingkat kemaknaan 95 % didapatkan bahwa nilai signifikan adalah (p value =0,000) atau lebih kecil dari nilai signifikan 0,05 (0,00<0,05) dan nilai r = -0,737. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara pengggunaan gadget dengan aktivitas fisik anak usia sekolah.
Risk and Protective Factors of Adolescents' Risky Sexual Behavior: A Cross-Sectional Study in Manado, Indonesia Simak, Valen Fridolin; Renteng, Septriani; Nisa, Khairun; Dalawa, Farsyi Novelia
IJNP (Indonesian Journal of Nursing Practices) Vol. 10 No. 1 (2026): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/ijnp.v10i1.30899

Abstract

Background: The prevalence of risky sexual behavior among adolescents has become a global challenge, contributing to rising rates of sexually transmitted infections, including HIV, gonorrhea, and chlamydia. Multiple factors shape the occurrence and consequences of adolescent sexual behavior. Objective: This study aimed to identify the prevalence and determinants of risky sexual behavior among adolescents. Method: This community-based, cross-sectional study involved 692 adolescents from 15 subdistricts in Manado City, Indonesia. A multistage random sampling method was used. The study included questions on demographic data, knowledge, self-esteem, peer influence, and risky sexual behavior. Data analysis in this study used the chi-square (χ²) test, and hierarchical logistic regression was also conducted to identify factors influencing risky sexual behavior among adolescents. Results: The findings indicate that 32.7% of individuals engaged in risky sexual behaviors. A statistically significant correlation (p<0.05) was observed between risky behavior and variables such as age, gender, access to sexual information, exposure to pornographic films, and peer influence. The most significant predictors of risky sexual behavior included age (OR=1.982, p=0.001) and peer influence (OR=2.883, p=0.01). Conversely, access to sexual information (OR= 3.556, p=0.043 and family size (OR=1.583, p=0.048) were identified as key factors associated with protective behavior. Conclusion: Peer influence, age, and exposure to pornographic films are strongly associated with risky sexual behavior among adolescents and should be carefully considered in developing public health interventions. Moreover, future research should investigate parental perspectives on adolescent risky sexual behavior through qualitative approaches that integrate local cultural values to strengthen evidence-based interventions.