Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

AKTIVITAS ANTIOKSIDAN PERASAN JERUK MANIS (Citrus sinensis) DAN JERUK PURUT (Citrus hystrix) MENGGUNAKAN METODE ABTS anita dwi puspitasari
Majalah Farmasi dan Farmakologi Vol. 23 No. 2 (2019): MFF
Publisher : Faculty of Pharmacy, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/mff.v23i2.6978

Abstract

Tubuh membutuhkan antioksidan untuk menangkal bahaya radikal bebas yang berpengaruh terhadap kesehatan. Antioksidan dapat mencegah terjadinya berbagai penyakit degenaratif dan penyakit lainnya. Buah jeruk manis (Citrus sinensis) dan Buah jeruk purut (Citrus hystrix) mengandung senyawa flavonoid dan vitamin C sehingga berpotensi sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan perasan jeruk manis dan jeruk purut dengan metode ABTS (2,2-Azinobis(3-ethylbenzothiazoline)-6-sulfonic acid).Buah jeruk manis dan jeruk purut dicuci bersih dan diperas sehingga dihasilkan perasan jeruk manis dan jeruk purut. Perasan jeruk manis dan jeruk purut diidentifikasi kandungan senyawa flavonoidnya dengan serbuk magnesium dan HCl pekat sebagai pereaksi dan kandungan vitamin Cnya dengan pereaksi benedict. Pengukuran aktivitas antioksidan pada perasan jeruk manis dan jeruk purut dengan metode ABTS dilakukan menggunakan spektrofotometer visibel pada panjang gelombang maksimum 753,2 nm, operating time 30 menit dan vitamin C sebagai kontrol positif.Hasil identifikasi kualitatif menunjukkan bahwa perasan jeruk manis dan jeruk purut mengandung senyawa flavonoid dan vitamin C yang keduanya ditandai dengan perubahan warna dari kuning menjadi jingga. Perasan jeruk manis memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai IC50sebesar 71,34±0,69 ppm, jeruk purut sebesar 67,92±1,75 ppm dan vitamin C sebesar 7,25±0,02 ppm. Perasan jeruk manis dan jeruk purut termasuk antioksidan kuat jika dibandingkan dengan vitamin C.
PERBANDINGAN METODE EKSTRAKSI MASERASI DAN SOKLETASI TERHADAP KADAR FENOLIK TOTAL EKSTRAK ETANOL DAUN KERSEN (Muntingia calabura) Anita Dwi Puspitasari; Lean Syam Proyogo
CENDEKIA EKSAKTA Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.3194/ce.v2i1.1791

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan kadar fenolik total pada ekstrak etanol daun kersen (Muntingia calabura) dengan variasi metode ekstraksi. Ekstraksi daun kersen dilakukan secara maserasi dan sokletasi menggunakan pelarut etanol. Kadar fenolik total ditetapkan menggunakan metode Spektrofotometri visibel dengan pereaksi Folin Ciocalteau. Prinsip dari metode ini adalah terbentuknya senyawa kompleks berwarna biru dari fosfomolibdat-fosfotungstat yang direduksi senyawa fenolik dalam suasana basa yang dapat diukur secara spektrofotometri UV-Visibel. Metode ini dapat digunakan untuk penentuan kadar fenolik total yang dihitung sebagai asam galat dengan persamaan regresi y = 0,05864x + 0,08371 dan koefisien korelasi r = 0,99675. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar fenolik total dalam ekstrak etanol daun kersen dengan metode maserasi adalah 1,163 mg QGA/g ekstrak dan metode sokletasi adalah 2,53 mg QGA/g ekstrak. Dapat disimpulkan bahwa metode ekstraksi berpengaruh terhadap kadar fenolik total dalam ekstrak etanol daun kersen. Kata kunci : daun kersen, fenolik total, maserasi, sokletasi
UJI AKTIVITAS TABIR SURYA EKSTRAK ETANOL DAUN KERSEN (MUNTINGIA CALABURA) Dewi Andini Kunti Mulangsri; Anita Dwi Puspitasari
CENDEKIA EKSAKTA Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.3194/ce.v2i2.2089

Abstract

Penuaan dini adalah proses dari penuaan kulit yang lebih cepat dari seharusnya. Banyak yang mulai melihat timbulnya kerutan kulit wajah pada usia yang relative muda, bahkan pada usia awal 20-an. Ditengah maraknya informasi mengenai bahaya sinar UV yang dipancarkan oleh sinar matahari, tabir surya memang menjadi sebuah solusi tersendiri bagi kita semua. Kemampuan suatu tabir surya dapat melindungi kulit dengan menunda eritema dinyatakan dengan Sun Protection Factor (SPF). Salah satu tanaman yang berkhasiat sebagai tabir surya alami adalah daun kersen (Muntingia calabura). Daun kersen mengandung senyawa flavonoid, saponin, polifenol dan tannin sehingga dapat digunakan sebagai antioksidan dan tabir surya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan aktivitas tabir surya dari ekstrak etanol daun kersen. Daun kersen (Muntingia calabura) yang diekstraksi dengan pelarut etanol 96% menggunakan metode maserasi. Ekstrak etanol daun kersen dibuat dalam seri konsentrasi 100 ppm, 150 ppm, 200 ppm, 250 ppm, dan 300 ppm. Absorbansi diukur pada panjang gelombang 280-400 nm dengan interval 5 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol efektif untuk menangkal radiasi sinar UV. Nilai SPF dari ekstrak etanol daun kersen pada konsentrasi 100 ppm; 200 ppm, 300 ppm, 400 ppm, dan 500 ppm sebesar 1,528; 3,890; 3,971; 4,585, dan 5,252. Ekstrak etanol daun kersen dapat efektif memberikan perlindungan terhadap sinar UV. Kata kunci : daun kersen (Muntingia calabura), metode ekstraksi, nilai SPF
KARAKTERISASI NANOPARTIKEL EKSTRAK DAUN SAWO (Manilkara zapota L.) DAN DAUN SUJI (Pleomole Angustifilia) DENGAN BERBAGAI VARIASI KOMPOSISI KITOSAN-NATRIUM TRIPOLIFOSFAT Elya Zulfa; Anita Dwi Puspitasari
CENDEKIA EKSAKTA Vol 4, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.3194/ce.v4i1.2676

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik nanopartikel dari ekstrak daun suji (Pleomole Anustifolia)(EDSj) dan daun sawo (Manilkara zapota L.) (EDSw)  dengan berbagai variasi konsentrasi kitosan. Sediaan nanopartikel dibuat dengan berbagai variasi komposisi kitosan menggunakan metode gelas ionik. Pada nanopartikel EDSj ada 3 variasi komposisi kitosan yakni rasio (6:1); (12:1); dan (18:1) sedangkan pada nanopartikel EDSw ada 3 variasi komposisi kitosan yakni rasio (FI 10:1, F2 5:1, F3 1:1) . Sediaan nanopartikel dikarakterisasi menggunakan Particle Size Analyzer, Zeta Sizer dan KLT. Hasil pengujian dianalisa deskriptif. Hasil pengujian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menujukkan bahwa karakteristik sediaan nanopartikel EDSj dan EDSw sudah memenuhi memenuhi syarat dan sediaan nanopartikel EDSj dan EDSw positif mengandung Flavonoid. Kata kunci : daun suji, daun sukun, nanopartikel , kitosan
VALIDASI METODE PENETAPAN KADAR ASIKLOVIR DALAM SEDIAAN SALEP MENGGUNAKAN KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI (KCKT) Anita Dwi Puspitasari; Sumantri Sumantri; Putri Nara Aqidah Pawae
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v2i2.1943

Abstract

Asiklovir merupakan derivat guanosin yang berkhasiat untuk pengobatan infeksi virus herpes. Namun penelitian tentang validasi metode penetapan kadar acyclovir masih jarang dilakukan, maka perlu adanya pengembangan. Tujuan penelitian ini adalah melakukan validasi metode penetapan kadar asiklovir menggunakan KCKT dan aplikasinya dalam sediaan salep. Validasi penetapan kadar salep asiklovir menggunakan KCKT dengan kolom C18 dan fase gerak hasil optimasi campuran asetonitril:asam fosfat (80:20 v/v) dan detektor uv-visibel 254 nm. Uji validasi yang dilakukan meliputi akurasi, presisi, selektivitas, linieritas dan sensitivitas. Metode  tervalidasi diaplikasikan pada penetapan kadar salep asiklovir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa uji validasi memenuhi persyaratan sebagai berikut : Uji akurasi dengan perolehan kembali 99,603-101,800 %, uji presisi dengan nilai RSD 0,302 %, selektivitas yang baik, linieritas dengan nilai korelasi (r) 0,9998, LOD sebesar 0,282 µg/mL dan LOQ sebesar 0,635 µg/mL. Hasil penetapan kadar menggunakan metode KCKT pada sediaan salep diperoleh hasil 104,632%. Hal ini memenuhi persyaratan kadar yang ditetapkan Farmakope Indonesia Edisi V (2014). Kata kunci: asiklovir, salep, validasi
PERBANDINGAN KADAR FLAVONOID DAN FENOLIK TOTAL EKSTRAK METANOL DAUN BELUNTAS (Pluchea indica L.) PADA BERBAGAI METODE EKSTRAKSI Ikke Safitri; Maulita Cut Nuria; Anita Dwi Puspitasari
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v3i1.2123

Abstract

Beluntas (Pluchea indica L.) merupakan tumbuhan yang mengandung sterol, flavonoid, tanin, dan fenol hidrokuinon. Flavonoid dan fenolik dapat diekstraksi dengan metode perkolasi, maserasi, soxhlet, dan refluks. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kadar flavonoid dan fenolik total ekstrak metanol daun beluntas (EMDB) pada berbagai metode ekstraksi. Penentuan kadar flavonoid dan fenolik total dilakukan secara spektrofotometri. Pereaksi AlCl3 dan Folin-ciocalteu digunakan pada metode spektrofotometri tersebut dengan senyawa pembanding kuersetin dan asam galat. Seri konsentrasi kuersetin adalah 5, 10, 15, 20 dan 25 µg/mL pada λ=428,90 nm dengan operating time 30 menit. Persamaan kurva baku yang diperoleh adalah y= 0,02001x + 0,10906 (x= kadar flavonoid dalam µg/mL, y= absorbansi) dengan nilai r = 0,99848. Serial konsentrasi asam galat adalah 10, 20, 30, 40 dan            50 µg/mL pada λ= 757,80 nm dengan operating time 2 jam. Persamaan kurva bakunya adalah y= 0,01086 x + 0,12030 (x=kadar fenolik dalam µg/mL, y=absorbansi) dengan nilai r=0,99808. Kadar flavonoid dan fenolik total EMDB dari berbagai metode ekstraksi dianalisis statistik One-Way Anova kemudian dilanjutkan uji Bonferroni pada taraf kepercayaan 95%.Hasil penelitian menunjukkan kadar flavonoid total EMDB dengan metode perkolasi, maserasi, soxhlet dan refluks berturut-turut sebesar 66,75; 51, 80 ; 47,72 dan 38,39 mg/gram ekstrak. Adapun kadar fenolik total berturut-turut sebesar 116,95; 84,11; 67,53 dan 44,36 mg/gram ekstrak. Hasil statistika menunjukkan adanya perbedaan bermakna pada kadar flavonoid dan fenolik total EMDB diantara berbagai metode ekstraksi. Kata kunci: ekstraksi, fenolik, flavonoid
PENGARUH WAKTU PEREBUSAN TERHADAP KADAR FLAVONOID TOTAL DAUN KERSEN (Muntingia calabura) Anita Dwi Puspitasari; Lean Syam Prayogo
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v1i2.1657

Abstract

Daun kersen (Muntingia calabura) merupakan salah satu tanaman yang dapat digunakan sebagai obat analgesik, antiinflamasi, antispasmodik, antidispepsia dan obat aborsi. Penelitian lain juga telah membuktikan bahwa daun kersen berpotensi sebagai anti kanker. Secara empiris, ekstrak air daun kersen telah digunakan oleh masyarakat sebagai obat antidiabetes Beberapa penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa daun kersen mengandung senyawa flavonoid, saponin, tanin, polifenol, steroid dan triterpen. Penelitian mengenai kandungan kimia daun kersen telah banyak dilaporkan dan senyawa yang paling banyak diisolasi adalah flavonoid. Flavonoid berpotensi sebagai antioksidan dan mempunyai aktivitas sebagai anti bakteri, anti inflamasi, anti alergi dan anti thrombosis. Struktur kimia obat dapat menjelaskan sifat obat dan keterkaitan unit struktur dan molekul obat dengan aktivitas biologinya. Senyawa dengan gugus fungsi yang sama dapat memberikan respon biologis yang sama karena bekerja pada reseptor yang sama. Telah dilakukan penentuan kandungan flavonoid total ekstrak air daun kersen dengan variasi lamanya waktu perebusan menggunakan metode Chang, identifikasi menggunakan metode spektrofotometri. Hasil pengukuran menunjukkan kandungan flavonoid total ekstrak air daun kersen pada variasi lamanya waktu perebusan 5 menit, 10 menit, 20 menit dan 30 menit yaitu sebesar 1,163; 1,161; 1,160 dan 1,152 mg QE/g ekstrak Kata kunci: daun kersen, flavonoid total, metode chang, spektrofotometri
Evaluasi Karakteristik Fisika-Kimia dan Nilai SPF Lotion Tabir Surya Ekstrak Daun Kersen (Muntingia calabura L.) Anita Dwi Puspitasari; Eka Intan Kusuma Wardhani
Jurnal Riset Teknologi Industri Vol.12 No.2 Desember 2018
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.233 KB) | DOI: 10.26578/jrti.v12i2.4242

Abstract

Sinar matahari memiliki banyak manfaat kesehatan tetapi juga dapat menyebabkan masalah kulit, mulai dari yang ringan hingga berat, untuk mencegah masalah tersebut upaya yang biasa dilakukan dengan memakai tabir surya. Bahan alam yang diketahui berkhasiat sebagaitabir surya alami adalah daun kersen yang memiliki kandungan flavonoid. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter fisika dan kimia sediaan lotion tabir surya dengan variasi konsentrasi ekstrak etanol daun kersen serta mengetahui nilai SPF sediaan lotion tabir surya dengan variasi konsentrasi ekstrak etanol daun kersen.Daun kersen diekstraksi dengan pelarut etanol 70% dan menggunakan metode maserasi. Pengujian karakteristik dan nilai SPF dilakukan pada 4 formula lotion yang masing-masing mengandung ekstrak konsentrasi 0 gram (Formula 1), 1 gram (Formula 2), 2 gram (Formula 3) dan 3 gram (Formula 4).Keempat formula lotion berwarna putih hingga coklat muda, beraroma khas minyak mawar dan berbentuk semi padat dengan viskositas antara 50-63,33 dPas. Lotion yang dihasilkan memenuhi semua persyaratan fisika dan kimia, serta memiliki nilai SPF berturut-turut 0,62 (tidak efektif); 8,7 (proteksi maksimal); 15,2 (proteksi ultra); 20,8 (proteksi ultra).  SPF menunjukkan seberapa kuat tabir surya dapat memberikan perlindungan dari sunburn.Kata kunci:  SPF, Lotion, Tabir surya, Muntingia calabura L.Besides its many benefits for health, sunlight can also cause health problem, such as mild to severe skin problem.to prevent these problems the usual effort is to use a sunscreen.One of the natural ingredients efficacious for sunscreen is the MuntingiacalaburaL. leaves that contain flavonoids. This study aims to determine the physical and chemical characteristics of sunscreen lotion preparations with variations in the concentration of ethanol extract of MuntingiacalaburaL. leaves and to know the SPF value of sunscreen lotion preparations with variations in the concentration of ethanol extract of MuntingiacalaburaL. leaves.Extraction of MuntingiacalaburaL. leaves was carried out by maceration method using 70% ethanol solvent. Characteristics and SPF values were tested on 4 lotion formulas in which each contained 0 gram (Formula 1), 1 gram (Formula 2), 2 grams (Formula 3) and 3 grams (Formula 4) of the concentration extract.The fourth formula lotion is white to light brown,it has a distinctive aroma of rose oil and is semi-solid with viscosity between 50-63.33 dPas. The resulting lotion meets all physical and chemical requirements, and has an SPF value of 0.62 (not effective); 8.7 (maximum protection); 15.2 (ultra protection); 20.8 (ultra protection). SPF is a measure of how much solar energy is required to produce sunburn on protected skin.Keywords: SPF, Lotion, Sunscreen, Muntingia calabura L.
PERBANDINGAN METODE EKSTRAKSI MASERASI DAN SOKLETASI TERHADAP KADAR FLAVONOID TOTAL EKSTRAK ETANOL DAUN KERSEN (Muntingia calabura) Anita Dwi Puspitasari; Lean Syam Proyogo
Jurnal Ilmu Farmasi dan Farmasi Klinik Jurnal Ilmu Farmasi & Farmasi Klinik Vol 13 No 2 Desember 2016
Publisher : Universitas Wahid Hasyim Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.606 KB) | DOI: 10.31942/jiffk.v13i2.1695

Abstract

INTISARI Telah  dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh metode ekstraksi terhadap kadar flavonoid total ekstrak etanol daun kersen (Muntingia calabura). Ekstraksi daun kersen dilakukan dengan metode maserasi dan sokletasi. Penetapan kadar flavonoid total dilakukan dengan metode spektrofotometri UV-Visibel. Metode ini dapat digunakan untuk penentuan kadar flavonoid total yang dihitung sebagai kuersetin dengan persamaan regresi  y = 0,0560x+0,1198, koefisien korelasi r = 0,9989, simpangan baku 0,00415, batas deteksi 1,24375 µg/mL dan batas kuantifikasi 4,145 µg/mL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar flavonoid total dalam ekstrak etanol daun kersen dengan metode maserasi adalah 0,187947% b/b dan metode sokletasi adalah 0,215835% b/b. Kata kunci :  daun kersen, flavonoid total, maserasi, sokletasi ABSTRACT This research to determine the effect of extraction method on total flavonoids of ethanolic extract of  cherry  leaves.  Cherry  leaves  extraction is done by the method of maceration and soxhletasi. Total flavonoid were evaluated using spectrophotometry UV-Visible. This method can be used for the determination of total flavonoid quercetin which is calculated as the regression equation y = 0,0560x + 0.1198, the correlation coefficient r = 0.9989, 0.00415 standard deviation, the detection limit of 1.24375 mg / mL and the limit quantification of 4.145 mg / mL. The results showed that levels of total flavonoids in ethanol extract of leaves of cherry with maceration method is 0.187947% w / w and methods soxhletation is 0.215835% w / w. Keywords: leaves of cherry, total flavonoids, maceration, soxhletasi
AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN DAN KULIT BATANG BERENUK TERHADAP Bacillus cereus Devi Nisa Hidayati; Cicih Sumiarsih; Umroh Mahmudah; Anita Dwi Puspitasari
Jurnal Ilmu Farmasi dan Farmasi Klinik Jurnal Ilmu Farmasi & Farmasi Klinik Vol 15 No 2 Desember 2018
Publisher : Universitas Wahid Hasyim Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.646 KB) | DOI: 10.31942/jiffk.v15i2.2563

Abstract

ABSTRACTThe plants (Crecentia cujete Linn) Are known to have antibacterial activity and can be used as a diarrhea drug due to microorganisms. Bacillus cereus is one of the bacteria that causes diarrhea.This aims to the study was antibacterial activity of ethanol extract of leaves (EL) and bark broodstock (EB) on Bacillus cereus. EL and EB were extracted with ethanol 96% using maceration method. Antibacterial activity test was carried out with disk diffusion method in EL with a concentration of 30%, 60%, 90%, 120% and 150%, and in EB using concentrations of 60%, 70%, 80%, 90% and 100% then antibacterial activity measurements were taken. by looking at the Diameter of the Inhibitory Area (DDH). The results of the EL and EB of antibacterial activity proved that EL and EB berenuk have antibacterial activity against Bacillus cereus.Keywords: Antibacterial, Crescentia cujete Linn, Bacillus cereus.