Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Implementasi Program Pembinaan Narapidana Anak di Lembaga Pemasyarakatan Khusus Anak Kelas 1 Palembang Mutiara Oktariani; Saipuddin Zahri; Antoni; Adi Wijaya
AL-MUNAWWIR: Jurnal Komunikasi, Pendidikan, & Syari'ah Vol. 2 No. 1 (2026): AL-MUNAWWIR: Jurnal Komunikasi, Pendidikan, & Syari'ah
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jkps.v2i1.1381

Abstract

Latar belakang penelitian ini berawal dari meningkatnya angka kejahatan yang dilakukan oleh anak di Indonesia, yang menjadi tantangan bagi pemerintah dalam menerapkan sistem peradilan pidana anak berbasis pembinaan, bukan sekadar pemidanaan. Salah satu upaya strategis untuk mengatasinya adalah melalui program pembinaan yang bertujuan mengembangkan potensi, memperbaiki perilaku, serta menumbuhkan tanggung jawab sosial anak binaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi program pembinaan narapidana anak di Lembaga Pemasyarakatan Khusus Anak (LPKA) Kelas I Palembang dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program pembinaan telah dilaksanakan sesuai pedoman, namun belum optimal. Bentuk pembinaan meliputi kepribadian, pendidikan, keterampilan, dan kegiatan keagamaan. Faktor pendukung mencakup kerja sama pihak ketiga dan dukungan staf, sedangkan hambatan utama meliputi keterbatasan sarana, anggaran, serta tenaga pengajar. Kesimpulannya, optimalisasi pelaksanaan program pembinaan memerlukan peningkatan sumber daya, dukungan anggaran, serta penguatan kerja sama lintas lembaga agar tujuan rehabilitasi anak binaan dapat tercapai secara maksimal.
Optimalisasi Pendidikan Akhlak dalam Meningkatkan Kualitas Moral Siswa di Sanggar Bimbingan At-Tanzil Kota Damansara Malaysia Purmansyah Ariadi; Rulitawati; Sri Yanti; Yuniar Handayani; Antoni; Rijalush Shalihin; Fadhilatul Hasanah; Susanto
Suluh Abdi Vol. 8 No. 1 (2026): Suluh Abdi
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/suluhabdi.v8i1.2045

Abstract

Kemerosotan akhlak anak di era digital menjadi tantangan serius bagi lembaga pendidikan Islam, tidak terkecuali di lingkungan sekolah Islam seperti SB At-Tanzil Kota Damansara, Malaysia. Optimalisasi pendidikan akhlak merupakan upaya sistematis dalam meningkatkan kualitas moral siswa di Sanggar Bimbingan (SB) At-Tanzil. Fokus utama program ini adalah memberikan pemahaman mendalam mengenai nilai-nilai etika dasar serta membekali siswa dengan fondasi karakter yang kuat agar mampu memfilter pengaruh negatif dari lingkungan. Selain itu, kegiatan ini bertujuan untuk membantu para pengajar di SB At-Tanzil dalam menyusun strategi pembelajaran yang lebih aplikatif dan efektif bagi peserta didik. Metode pelaksanaan pengabdian ini menggunakan pendekatan pendampingan berbasis coaching yang dikombinasikan dengan tanya jawab. Metode ini mencakup asesmen, diskusi, dan bimbingan terhadap siswa. Luaran dari kegiatan ini adalah adanya perubahan positif pada perilaku harian siswa, yang ditandai dengan peningkatan kedisiplinan, sopan santun dalam berkomunikasi, serta penguatan rasa tanggung jawab. Bagi tenaga pengajar, program ini memberikan manfaat dalam penerapan strategi pembelajaran yang lebih efektif serta penyusunan buku panduan praktis pendidikan akhlak yang dapat digunakan secara berkelanjutan. Secara jangka panjang, pengabdian ini diproyeksikan mampu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan berbasis pada nilai-nilai keislaman, sehingga siswa SB At-Tanzil memiliki akhlak yang mulia sebagai identitas diri, karena nilai seseorang bergantung pada akhlaknya.
Urgensi Kenyamanan Belajar dan Mengajar dalam Islam Serta Kaitannya dengan Al-Qur???an Surat Al-Mudallah Ayat 11 Purmansyah Ariadi; Rulitawati; Antoni
At-Tahfidz: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Vol. 2 No. 02 (2021): Juni 2021
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Learning and teaching activities are processes of activities carried out by humans, both formal and non-formal learning activities, because Islam teaches that humans are obliged to study. In this study, the writer wants to reveal the relationship between the convenience of learning and teaching in Islam and the connection with the Al-Qur'an Surah Al-Mujadalah verse 11, where this urgency discusses and interprets the verse in terms of comfort in the learning and teaching process. Research carried out by the library and the methods used by the Research Library by looking for sources related to education and interpretations related to education. The results of this study, the convenience of the teaching and learning process carried out by educators, is closely related to the environment, facilities and infrastructure, which support teaching and learning activities, the results obtained by the interaction of teachers and students will be better, both the relationship and the relationship with the comfort of learning and teaching. with Al-Qur; an surah Al-Mujadalah verse 11, learning is very important for human life, based on the three interpretations of the Qur'an it is concluded that Allah will raise the rank of those who believe and have knowledge.
Penjatuhan Pidana terhadap Korban Perkosaan yang Melakukan Aborsi Ramiyanto; Antoni
Jurnal Kewarganegaraan Vol 8 No 1 (2024): Juni 2024
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v8i1.6478

Abstract

Abstrak Secara yuridis, korban perkosaan yang melakukan aborsi tidak dapat dijatuhi pidana sebagaimana diatur dalam UU-Kesehatan, UU-Perlindungan Anak dan PP No. 61 Tahun 2014. Secara praktis, ternyata anak korban perkosaan yang melakukan aborsi dijatuhi pidana sebagaimana terjadi di Pengadilan Negeri Muara Bulian, Jambi. Praktik itu kemudian dianulir oleh Pengadilan Tinggi Jambi, sehingga anak korban perkosaan yang melakukan aborsi tidak dijatuhi pidana (dibebaskan). Metode penelitian yang digunakan dalam tulisan ini adalah penelitian hukum normatif (yuridis-normatif) dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual. Kemudian pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik studi dokumen dan dianalisis secara kualitatif dengan teknik penafsiran hukum, serta selanjutnya penarikan kesimpulan dengan metode deduktif. Dari pembahasan dapat diketahui bahwa tidak semua korban perkosaan yang melakukan aborsi tidak dapat dijatuhi pidana yang ditentukan dalam hukum positif. Korban perkosaan yang melakukan aborsi yang tidak memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam ketentuan perundang-undangan tetap dapat dijatuhi pidana sebagaimana ditentukan dalam hukum positif. Kata Kunci: Penjatuhan Pidana, Korban Perkosaan, Aborsi Abstract Juridically, rape victims who have abortions cannot be sentenced to criminal penalties as regulated in the Health Law, Child Protection Law, and PP no. 61 of 2014. In practical terms, it turns out that the child rape victim who had an abortion was sentenced to a criminal sentence as happened at the Muara Bulian District Court, Jambi. This practice was later annulled by the Jambi High Court, so that child rape victims who had abortions were not sentenced to criminal penalties (exonerated). The research method used in this paper is normative legal research (juridical-normative) with a statutory and contextual approach. Then data collection was carried out using document study techniques and analyzed qualitatively using legal interpretation techniques, and then conclusions were drawn using the deductive method. From the discussion, it can be seen that not all rape victims who have abortions cannot be sentenced to criminal penalties specified in positive law. Rape victims who have an abortion that does not fulfill the requirements specified in the statutory provisions can still be sentenced to criminal penalties as determined in positive law. Keywords: Imposing of Criminal, Rape Victim, Abortion
Pendampingan Perencanaan Karier Siswa/Siswi Kelas XII SMA Negeri Tanjung Batu Ogan Ilir Rulitawati; Purmansyah Ariadi; Yuniar Handayani; Ahmad Jumhan; Antoni; Helyadi
Journal of Community Development Vol. 6 No. 3 (2026): April
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47134/comdev.v6i3.1866

Abstract

Perencanaan karier menjadi isu yang semakin urgen bagi siswa kelas XII sekolah menengah atas seiring dengan kompleksitas pilihan pendidikan lanjutan dan dinamika dunia kerja di era modern. Kurangnya pemahaman siswa terhadap potensi diri, informasi karier, serta arah masa depan seringkali menimbulkan kebingungan dalam pengambilan keputusan pasca-sekolah. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan dan manfaat program pendampingan perencanaan karier bagi siswa kelas XII SMA Negeri Tanjung Batu dalam meningkatkan kesiapan karier mereka. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif melalui kegiatan pendampingan yang bersifat interaktif dan partisipatif, dengan mengombinasikan ceramah, tanya jawab, serta diskusi klasikal dan individual. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan dokumentasi selama pelaksanaan kegiatan, sedangkan analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pendampingan perencanaan karier membantu siswa meningkatkan pemahaman terhadap minat, bakat, nilai-nilai pribadi, dan keterampilan yang dimiliki, sehingga siswa memiliki arah dan keyakinan yang lebih jelas dalam menentukan pilihan pendidikan lanjutan maupun karier. Program ini memberikan kontribusi praktis dalam layanan bimbingan karier di sekolah dengan menegaskan pentingnya pendampingan terstruktur bagi siswa pada fase transisi pendidikan. Disimpulkan bahwa pendampingan perencanaan karier berperan penting dalam membekali siswa dengan kesiapan menghadapi masa depan, dan disarankan agar pengabdian selanjutnya mengembangkan instrumen evaluatif yang lebih sistematis untuk mengukur dampak jangka panjang program ini.
Pernikahan Ulang Terhadap Pasangan Suami Istri Nikah Dini Di Desa Gumai Kecamatan Gelumbang Anggun Sapitri; Antoni; Adi Wijaya; Yahya
AL-MUNAWWIR: Jurnal Komunikasi, Pendidikan, & Syari'ah Vol. 2 No. 2 (2026): Al-Munawwir: Jurnal Komunikasi, Pendidikan, & Syari'ah
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jkps.v2i2.1757

Abstract

Praktik pernikahan dini masih menjadi fenomena yang cukup umum, terutama di daerah pedesaan seperti Desa Gumai, Kecamatan Gelumbang. Pernikahan dini sering kali dipicu oleh berbagai faktor, termasuk norma sosial, tekanan ekonomi, dan kurangnya pendidikan. Meskipun diatur oleh perundang-undangan, banyak pasangan yang terjebak dalam ikatan pernikahan pada usia yang sangat muda, yang sering kali mengakibatkan berbagai tantangan dalam hubungan mereka. Dengan rumusan masalah sebagai berikut: 1). Apa Faktor Yang Menyebabkan Pernikahan Ulang Pasangan Suami Istri Nikah Dini di Desa Gumai. 2). Bagaiman Pandangan Hukum Islam Dan Hukum Positif Terhadap Pernikahan Ulang di Masyarakat Desa Gumai. 3). Bagaimana Status Anak Hasil Pernikahan Usia Dini Menurut Hukum Islam dan Positif? Berdasarkan penelitian ini penulis bertujuan untuk mengetahu: Untuk Mengetahui Faktor Yang Menyebabkan Pernikahan Ulang, Pasangan Suami Istri Nikah Dini. Untuk Mengetahui Pandangan Hukum Islam Dan Hukum Positif Terhadap Pernikahan Ulang dan untuk Mengetahui Status Anak Hasil Pernikahan Usia Dini Menurut Hukum Islam dan Positif. Adapun hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut: 1). Faktor Yang Menyebabkan Pernikahan Ulang Pasangan Suami Istri Nikah Dini di Desa Gumai dipengaruhi oleh Dari hasil wawancara di atas dapat di simpulkan bawahfaktor-faktor yang yang Menyebabkan Pernikahan Ulang Pasangan Suami Istri Nikah Dini di Desa Gumai Kecamatan Gelumbang Kabupaten Muara Enim adalah faktor pendidikan, faktor keluarga atau orang tua, faktor lingkungan, dan faktor ekonomi. 2). Pandangan Hukum Islam terhadap pernikahan ulang di perbolehkan asal memenuhi syarat ketentuan syariah dan Pandangan Hukum Positif Terhadap Pernikahan Ulang di Masyarakat Desa Gumai Kecamatan Gelumbang Kabupaten Muara Enim, tetap sah jika memenuhi tentang perkawinan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan “Perkawinan hanya diijinkan jika pihak pria sudah berusia 19 tahun dan pihak wanita sudah berusia 16 tahun” (Pasal 7 ayat 1). 3). Status Anak Hasil Pernikahan Usia Dini Menurut Hukum Islam dan Positif, Pernikahan usia dini berdampak besar pada pasangan dan anak yang lahir. Anak yang lahir dari pernikahan sah, meskipun dilakukan di usia dini, diakui dalam hukum Islam sebagai anak sah dengan hak waris. surah Alfurqan [25]: 54 Dari penafsiran di atas dapat dipahami bahwa hubungan nasab dan penisbatan anak kepada ayah hanya bisa terjadi dengan sebab pernikahan. Artinya, anak yang lahir sebelum adanya pernikahan tidak bisa dinisbatkan kepada garis keturunan si ayah, meskipun secara medis anak tersebut merupakan ayah biologisnya. Dengan demikian, anak yang dilahirkan dari hubungan luar pernikahan atau zina hanya bisa dinisbatkan kepada jalur ibu. Namun, menurut hukum positif Indonesia, status anak tetap sah meski orang tau mernikahan di bawah umur. Namun Orang tua perlu mengajukan isbath nikah agar status anak diakui oleh negara dan undang-undang.
Family Communication as a Moderator of Children’s Psychological Resilience in Polygamous Families: An Islamic Perspective and Research Agenda Rulitawati Rulitawati; Antoni Antoni; Purmansyah Ariadi; Sri Yanti; Hana Chaillah
Journal of Social Work and Science Education Vol. 7 No. 3 (2026): Journal of Social Work and Science Education
Publisher : Yayasan Sembilan Pemuda Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52690/jswse.v7i3.1552

Abstract

Children in polygamous families face unique psychosocial challenges, yet protective factors such as family communication remain underexplored. This study examined the role of family communication in shaping children’s psychological resilience within polygamous families in Indonesia, using insights from religious court cases. A qualitative phenomenological design was employed. Participants included 12 polygamous families (N=48 individuals: 12 fathers, 24 mothers/co-wives, 12 children aged 10–18 years) identified through records of the Palembang Religious Court Class IA. Data were collected through semi-structured interviews, observations, and document analysis. The Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC) was adapted for child resilience assessment. Data were analyzed using Miles & Huberman’s interactive model. Three communication patterns emerged: open-egalitarian (33% of families), conflict-avoidant (50%), and secretive-hierarchical (17%). Children in open-egalitarian families demonstrated significantly higher resilience indicators (emotional regulation, social adaptability, positive self-concept) compared to those in secretive-hierarchical families, who exhibited social withdrawal, anxiety, and low self-esteem. Islamic communication principles (qawl sadīd, qawl layyin) were practiced only in open-egalitarian families. Open, fair, and emotionally supportive family communication may buffer the negative psychological effects of polygamous family structures on children. Religious courts should consider communication assessments in polygamy approvals. Future research should include larger samples and longitudinal designs.