Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

PROBLEMATIKA PERS LOKAL DALAM MENGHADAPI KONTESTASI PEMILIHAN KEPALA DAERAH (PILKADA) DI PROVINSI SUMATERA BARAT Icol Dianto
Islamic Communication Journal Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2018.3.2.2942

Abstract

AbstractLocal press problems in facing the contestation of the election of Regional Heads in West Sumatra Province can be grouped into two broad lines: first, the local press is dragged into a conflict of interest in the election of the Regional Head including 1) The Press supports one candidate pair, 2). Incitement of the success team, 3). The interests of media owners and stakeholders in media companies. Second, the intervention of the Regional Head towards local media includes 1). Change the Regional Head changes journalists, 2). Contract termination threats and 3). Media blockade. As for the solution to the problem, an alternative solution can be proposed that: 1). Re-guided Law Number 40 of 1999 concerning Press. 2). Balancing the press as a business industry with the press as a professional institution (social control). 3). The media owner should not use and manipulate his press company into the realm of practical politics. 5). In establishing cooperation with local governments, strive to stick to the principles and ethics of the journalistic profession. 6). Journalists must increase the capacity and quality of journalistic products, adhere to journalists' code of ethics, and not bring the profession into the realm of practical politics. 7). Report regional heads or parties who attempt to intimidate the media and journalists in carrying out their profession, to the Public Information Commission (KIP), police and Ombudsman at certain levels of government.Keywords: Local Press, Problems, Pemilukada Contestation. AbstrakProblematika pers lokal dalam menghadapi kontestasi pemilihan Kepala Daerah di Provinsi Sumatera Barat dapat dikelompokkan pada dua garis besar: yaitu pertama, pers lokal terseret dalam konflik kepentingan pemilihan Kepala Daerah meliputi 1) Pers mendukung salah satu pasangan calon, 2). hasutan tim sukses, 3). kepentingan pemilik media dan pemangku kewenangan pada perusahaan media. Kedua, intervensi Kepala daerah terhadap media lokal meliputi 1). berganti Kepala Daerah berganti wartawan, 2). ancaman putus kontrak dan 3). blokade media. Adapun solusi untuk permasalahan tersebut, dapat diajukan alternative penyelesaiannya bahwa: 1). Mempedomani kembali Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. 2). Menyeimbangkan antara pers sebagai industry bisnis dengan pers sebagai lembaga professional (control social). 3). Pemilik media jangan memanfaatkan dan memperalat perusahaan pers miliknya ke ranah politik praktis. 5). Dalam menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah, upayakan tetap berpegang pada prinsip dan etika profesi jurnalistik. 6). Wartawan mesti meningkatkan kapasitas dan kualitas produk jurnalistiknya, menaati kode etik wartawan, dan tidak membawa profesi ke ranah politik praktis. 7). Melaporkan kepala daerah atau pihak-pihak yang berupaya mengintimidasi media dan wartawan dalam menjalankan profesinya, ke Komisi Informasi Publik (KIP), polisi dan ombusman pada level pemerintahan tertentu.Kata Kunci: Pers Lokal, Problematika, Kontestasi Pemilukada.
Ideological and media discourse study of Nasrudin Joha's political article Icol Dianto; Andi Faisal Bakti; Iding Rosyidin
Islamic Communication Journal Vol 6, No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2021.6.2.8140

Abstract

Nasrudin Joha's ideology and discourse were one of the attempts to compensate for the dominance of rulers and capitalists. The criticism developed by Nasrudin Joha built the consciousness of the oppressed. With that awareness, Nasrudin Joha mobilized the oppressed to form a unified Islamic political identity and establish a caliphate system in Indonesia. This research aims to analyze Nasrudin Joha's strategy in building the ideology of the caliphate system and proclaiming it through social media. The authors used qualitative research methods in the field of mass media and used critical discourse analysis. The focus of his study was ideology and discourse in an article written by Nasrudin Joha on an online media platform. The results of this study found that Joha had used the theory of active reception to the readers. Joha positioned himself as the opposition and voiced the aspirations of the oppressed. In developing ideology and discourse about the caliphate system, Joha has similarities with the flow of Marxism, namely the resistance of the oppressed. On the other hand, Joha has a tendency to follow post-Marxist notions of freedom and oppose the oppression of the regime and capitalist groups.
Moderasi Beragama melalui Film Animasi: Peluang dan Tantangan pada Generasi Digital Icol Dianto
NALAR Vol 5, No 2 (2021): Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23971/njppi.v5i2.2400

Abstract

This research aims to examine the opportunities and challenges in the use of animated films as a medium to instill religious moderation in Indonesia. The method used in this research is literature research by analyzing the results of research, legal text, and information related to religious moderation and animated film media. The results found that Indonesia has a great opportunity to utilize information and multimedia technology, especially in producing animated films. The opportunity can be detailed that Indonesia has a technology infrastructure that is almost evenly distributed in all corners of the country, rich in local culture and wisdom, and has reliable human resources in the field of multimedia technology. On the other hand, the rapid flow of information containing religious conservatism through online media and television media dominated by violence is a challenge for the Government of Indonesia. The ideology of religious moderation must be packaged creatively and attract the interest of the audience. Thus, understand the moderation of religion that is expected to be ingrained in the life of the nation and state.Keyword : Religious Moderation; Animated Film; Religious Conservatism
Hambatan Sosio-Politikal Pembangunan Desa Religius di Kabupaten Mandailing Natal Icol Dianto
Misykat al-Anwar Jurnal Kajian Islam dan Masyarakat Vol 5, No 2 (2022)
Publisher : Faculty of Islamic Studies, University of Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/ma.5.2.291-314

Abstract

Aksi demonstrasi atas pemecatan Muammar sebagai kepala desa telah menjadi akar masalah atas konflik sosial dan politik di Desa Lumban Dolok Kabupaten Mandailing Natal. Masalah ini telah merembes pada program-program pembangunan di tingkat desa (lokal). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hambatan sosio-politik dalam pembangunan desa religius di desa Lumban Dolok. Peneliti menggunakan metode field research dan memakai teknik observasi dan wawancara dalam mengumpulkan data penelitian. Hasil penelitian menunjukan bahwa faktor sosial dan politik memiliki ikatan yang kuat dalam menghalangi pelaksanaan program desa Kampung Al-Quran di Desa Lumban Dolok Kabupaten Mandailing Natal. Sebagai solusi dalam menyelesaikan hambatan tersebut, perlu dilakukan konsensus baru. Kearifan lokal seperti surat tumbaga holing sebagai alat untuk pemersatuan masyarakat. Untuk membantu proses konsolidasi sosial, pendamping desa dapat melakukan langkah-langkah pemberdayaan masyarakat.Kata Kunci : Pembangunan, Pemberdayaan, Kampung Al-Quran, Sosio-Politik.
PARADIGMA PERUBAHAN SOSIAL PERSPEKTIF CHANGE AGENT DALAM AL-QURAN (Analisis Tematik Kisah Nabi Yusuf as) Icol Dianto
Jurnal Sosiologi Reflektif Vol 14, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsr.v14i1.1476

Abstract

Social change can be studied through the classical theory of sociology, which is known as the theory of historical circle. This theory explains that history is a recurring process.Social change is not moving along a straight line but rather it follows a circle. According to the theory, history becomes a decisive factor in the process of social change. Historical events cannot be separated from the actors of history (actor), namely the leaders that ultimately affect the course of changes that occur in society. This paper  attempts to present the study of social change perspective of history of a great man, namely the Prophet Yusuf. The success of the Prophet Yusuf inrescuing the Egyptians from the long drought deserves to be studied, both his position as the messenger of Allah and his status as a human being who has its own charm. Using the thematic interpretation method to interpret Quranic verses and fenomenological analysis methods to analyze topics related to the social phenomena contained in the story of Prophet Yusuf, this research founds that the concept of social change in the story of Yusuf lies on three aspects, namely the integrity of solid sturdiness, the concept of clear social change, and the planned process of social change. Perubahan sosial dapat dikaji melalui teori klasik sosiologi yakni teori lingkar sejarah. Teori ini menjelaskan bahwa sejarah merupakan proses yang berulang, perubahan sosial tidak bergerak menurut garis lurus melainkan melingkar. Menurut teori tersebut, sejarah menjadi faktor penentu dalam proses perubahan sosial. Peristiwa sejarah tidak dapat dipisahkan dari pelaku sejarah (actor), yakni profil orang besar yang pada akhirnya mempengaruhi jalannya perubahan-perubahan yang terjadi pada masyarakat. Dalam paper ini penulis berupaya menyajikan kajian perubahan sosial perspektif sejarah orang besar, yakni Nabi Yusuf as. Keberhasilan Nabi Yusuf as menyelamatkan rakyat Mesir dari masa kemarau yang panjang patut untuk dikaji, baik posisinya sebagai utusan Allah dan statusnya sebagai manusia biasa yang memiliki daya tarik tersendiri. Dengan menggunakan metode analisis tafsir tematik untuk menafsir ayat-ayat al-Quran dan metode analisis fenomenologi untuk menganalisis topik yang terkait dengan fenomena sosial yang ada dalam kisah Nabi Yusuf. Penulis mendapatkan konsep perubahan sosial dari kisah Yusuf as atas tiga aspek, yaitu integritas ketokohan yang mantap, konsep perubahan sosial yang jelas dan proses perubahan sosial yang terencana.
PEMBERDAYAAN KELOMPOK USAHA PENINGKATAN PENDAPATAN KELUARGA SEJAHTERA (UPPKS) DALAM MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN KELUARGA DI PASAMAN Icol Dianto M.Kom.I
Hikmah Vol 10, No 1 (2016)
Publisher : IAIN Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/hik.v10i1.685

Abstract

Kabupaten Pasaman memiliki populasi besar mencapai 263,800 jiwa, dengankomposisi penduduk pasangan usia subur sebanyak 46,311 rumah tangga.populasi yang besar, ada sebuah keluarga yang dikategorikan sangat miskin danmiskin, sebanyak 23,861 rumah tangga. Ancaman overpopulasi dan kemiskinansiap untuk menghantam wilayah tersebut. pengendalian penduduk dapatdilakukan untuk memaksimalkan program keluarga berencana di PemberdayaanPerempuan dan Keluarga Berencana. Di sisi lain, program keluarga berencanamemiliki sekelompok Pendapatan Usaha Kesejahteraan Keluarga untukmenambah sumber pendapatan untuk peserta program keluarga berencana.Dengan asumsi upaya integrasi program keluarga berencana dengan programuntuk meningkatkan pendapatan dari keluarga yang dapat menghemat Pasamandari ancaman kelebihan populasi dan kemiskinan.
Hambatan Komunikasi Antar Budaya: Menarik Diri, Prasangka Sosial dan Etnosentrisme Icol Dianto
Hikmah Vol 13, No 2 (2019): HIKMAH: JURNAL ILMU DAKWAH DAN KOMUNIKASI ISLAM
Publisher : IAIN Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/hik.v13i2.1847

Abstract

Intercultural communication is process of interaction between two groups of different cultures. These differences include differences in ideology, value systems, social organization experience, and history. The complexity of the differences triggers barriers to communication, namely efforts to withdraw, social prejudice, and ethnocentrism. The purpose of writing this article is to reveal how the factors of withdrawal, prejudice and ethnocentrism emerge as barriers to intercultural communication and explain the Islamic approach in resolving these barriers. The author uses a literature study with a qualitative descriptive approach, found that barriers to intercultural communication occur when attempts to withdraw from social life are based on low levels of self-confidence, excessive individual privacy, and differences in the values of individual idealism with social value systems. Meanwhile, social prejudice arises from doctrinal activities through social education and ethnocentrism arises from excessive loyalty to the truth of one's own cultural values. To remove these obstacles, Islam offers a formulation as an alternative to solving the problem, namely the hujuratism approach by making a change of perspective from ‘withdrawing to interaction, ethnocentrism to objectivism, and prejudice to positive thinking.Keywords: Intercultural Communication, Pulling Away, Prejudice, Ethnocentrism, Hujuratism Approach. Komunikasi antar budaya merupakan proses interaksi antara dua kelompok yang berbeda budaya. Perbedaan itu meliputi perbedaan ideologi, sistem nilai, pengalaman organisasi sosial, dan sejarah. Kompleksitas perbedaan itu memicu hambatan-hambatan untuk menjalin komunikasi, yaitu adanya upaya menarik diri, prasangka sosial, dan etnosentrisme. Tujuan penulisan artikel ini untuk mengungkapkan bagaimana faktor menarik diri, prasangka dan etnosentrisme muncul sebagai hambatan komunikasi antar budaya dan menjelaskan pendekatan Islam dalam menyelesaikan hambatan tersebut. Penulis menggunakan studi kepustakaan dengan pendekatan deskriptif kualitatif, ditemukan bahwa hambatan komunikasi antar budaya terjadi jika upaya menarik diri dari kehidupan sosial didasari atas tingkat kepercayaan diri yang rendah, privasi individual berlebihan, dan perbedaan nilai idealisme individu dengan sistem nilai sosial. Sementara itu, prasangka sosial muncul dari kegiatan doktrinisasi melalui pendidikan sosial dan etnosentrisme muncul dari loyalitas berlebihan terhadap kebenaran nilai budaya sendiri. Untuk menghilangkan hambatan-hambatan tersebut, Islam menawarkan formulasi sebagai alternatif penyelesaian permasalahan, yaitu pendekatan hujuratisme (hujuratism approach)dengan melakukan perubahan perspektif dari ‘menarik diri menjadi interaksi, etnosentrisme ke objektivisme, dan prasangka ke berpikir positif.Kata Kunci: Komunikasi Antar Budaya, Menarik Diri, Prasangka, Etnosentrisme, Pendekatan Hujuratisme.
Filantropi Islam untuk Membangun Amal Usaha Muhammadiyah: Studi Kasus Fundrising untuk Pembangunan Masjid At-Tanwir PCM Bojongsari - Kota Depok Syaifullah, Hamli; Kartika, Rini Fatma; Dianto, Icol; Muttaqien, Muhammad Khaerul; Faisol, Moh.
MISYKAT AL-ANWAR JURNAL KAJIAN ISLAM DAN MASYARAKAT Vol 8 No 1 (2025)
Publisher : Faculty of Islamic Studies, University of Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/ma.8.1.45-74

Abstract

This research is a type of qualitative descriptive research with a case study approach to Islamic Philanthropy to Build Muhammadiyah Charity Business: Case Study of Fundraising for the Construction of the At-Tanwir Mosque PCM Bojongsari-Depok City, with a focus on how to carry out effective and efficient fundraising. The data used in this research include: documentation and observation. The data that has been collected will be processed and analyzed using the Miles & Huberman interactive model, which includes: (1) data collection; (2) data reduction; (3) data display; and (4) drawing conclusions from the data/or verification stage. Then, reliability and validity are carried out by, among other things: (1) carrying out careful re-checking procedures; (2) carrying out varied and comprehensive data mining techniques; and (3) increasing the number of research subjects and informants. The focus of questions in this research include: (1) What strategies did the Muhammadiyah Bojongsari Branch Leader use in raising Islamic philanthropic funds to build the At-Tanwir Muhammadiyah Bojongsari Mosque? ; and (2) Does the use of Islamic philanthropic fundraising strategies have a significant impact on raising funds to build the At-Tanwir Muhammadiyah Bojongsari Mosque? From the results of the analysis of the data, answers can be obtained, including: (1) the strategy used is to utilize the internal and external community of Bojongsari, both from Muhammadiyah and non-Muhammadiyah communities; and (2) the use of this strategy was very significant, it was proven that PCM Bojongsari was able to receive funds of more than IDR 1 billion.
Persepsi Mahasiswa Terhadap Penggunaan Emoticon Pesan WhatsApp Pada Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Ningsih, Lesnida; Amran, Ali; Dianto, Icol
INTERAKSI PERADABAN: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 4, No 1 (2024): Interaksi Peradaban Januari-Juli 2024
Publisher : Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/interaksi.v4i1.41227

Abstract

Whatsapp memberikan fitur emoticon mewakili emosi saat bertukar pesan sehingga tercipta komunikasi yang menyenangkan. Namun, pengguna whatsapp sering menggunakan emoticon yang salah untuk menanggapi situasi tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesalahan makna dalam penggunaan emoticon aplikasi whatsapp pada mahasiswa, apa faktor penyebab kesalahan makna dan bagaimana efek yang ditimbulkan atas kesalahan makna tersebut. Penelitian ini menggunakan metode desktiptif kualitatif dengan sumber data primer yaitu percakapan whatsapp grup mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan NIM 2020 hingga 2021. Metode pengumpulan data meliputi observasi digital dan wawancara tidak terstruktur dengan mahasiswa. Data yang terkumpul telah diuji keabsahan data secara triangulasi sumber. Hasil penelitian menemukan bahwa: Pertama, faktor yang mempengaruhi terjadinya kesalahan makna dalam penggunaan emoticon pada aplikasi Whatsapp disebabkan oleh ketidakmengertian (misunderstanding) makna sesungguhnya dari emoticon. Penyebab lain kesalahan makna terjadi karena pengguna whatsapp memiliki anggapan bahwa emoticon mewakili (representatif) perasaan dan trend remaja masa kini sehingga para pengguna emoticon mengabaikan makna yang sebenarnya. Temuan kedua dari penelitian ini bahwa efek dari kesalahan penggunaan emoticon dapat menyebabkan komunikasi yang tidak efektif dan komunikan anggota grup lainnya malas untuk membalas pesan.
Ruang Percakapan Digital Sebagai Limbah Informasi: Analisis terhadap Pengalaman di Media WhatsApp Group Khusairi, Abdullah; Dianto, Icol
Ittishol: Jurnal Komunikasi dan Dakwah Vol 2, No 2 (2024): Ittishol: Jurnal Komunikasi dan Dakwah
Publisher : Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan menggali pengalaman netizen yang terafiliasi dengan whatsapp group sebagai konsumen dan pengguna teknologi informasi. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode pengumpulan data melalui wawancara terhadap netizen yang aktif di WAG. Pengumpulan data didukung dengan metode observasi partisipatif dari peneliti. Sampel penelitian beragam kelompok usia, latar belakang pendidikan dari beragam WAG. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan teori penerimaan dan penggunaan teknologi informasi yang digagas Fred D. Davis. Hasil penelitian ini menemukan bahwa RPD WAG memiliki kecenderungan untuk menjadi gudang sampah informasi. Hal ini disebabkan jumlah pesan yang cepat dan terus-menerus, kurangnya filterisasi informasi, serta kurangnya keterlibatan pengguna dalam memeriksa kebenaran informasi. WAG cenderung terjebak dalam lingkaran informasi yang salah, rumor dan hoaks. Beberapa pengguna mengungkapkan kewalahan atas WAG yang kurang efektif sebagai wadah komunikasi kelompok dan terjadi kebisingan informasi. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya literasi digital dan peran moderator dalam mengelola dan memantau konten yang disebarkan di WAG.