Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Spatial-Problem Based Learning (SPBL) development (preliminary studies for geography learning) Waode Yunia Silviariza; Budi Handoyo
Jurnal Pendidikan Geografi: Kajian, Teori, dan Praktek dalam Bidang Pendidikan dan Ilmu Geografi Vol 25, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Problem Based Learning (PBL) is one of the scientific learning models that is widely used by teachers to educate students about the subjects they teach. PBL is widely developed and applied in all fields of multidisciplinary science. Therefore, PBL in learning geography needs to be developed to fit the main characteristics of geography, namely the spatial approach. In geography learning, the Spatial Based Learning (SBL) model is often used. SBL is a model that can encourage students to think in space. Therefore, integrating PBL and SBL will create a new learning model that is more in line with the characteristics of geography learning that presents spatial phenomena or problems. The purpose of this research is to develop a PBL model for learning geography. Design research development using Borg and Gall [1] with eight steps, namely: (1) needs analysis, (2) planning, (3) developing initial product forms, (4) initial field testing, (5) major product revisions, ( 6) carrying out field testing, (7) product revisions, and (8) final product revisions. The subjects of the study were geography students, Universitas Negeri Malang, and the validator was a doctor in geography education. Data collected by in-depth interviews and questionnaires. In-depth interviews are used to collect data from expert validators, while questionnaires are used to collect data from students. Data from expert validation is used to improve the learning model developed. Data from students is used to determine the feasibility of the resulting model. Data analysis was performed descriptively and statistically. The results of the development mentioned Spatial Problem Based Learning (SPBL). It has five steps, namely: (1) spatial problem orientation, (2) formulating spatial problems, (3) collecting and organizing spatial data, (4) analyzing spatial data and discussion, and (5) communication. The results of validation by experts showed a score of more than 65%. Field test results show that the average score of the five development steps is 93.2. Based on trials that the SPBL syntax is feasible
Pengembangan Wisata Berkelanjutan di Desa Kupang Kecamatan Jetis Mojokerto Wildan Satya Anendra; I Komang Astina; Yuswanti Ariani Wirahayu; Waode Yunia Silviariza
Altasia Jurnal Pariwisata Indonesia Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal ALTASIA (Februari)
Publisher : Program Studi Pariwisata - Universitas Internasional Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37253/altasia.v7i1.10021

Abstract

Ciri khas dari Desa Kupang ini yaitu memiliki potensi daya tarik pemandangan alam dan religinya dengan topografi wilayah di dominasi kawasan perbukitan terutama dimininati oleh masyarakat perkotaan. Terdapat beberapa tantangan seperti kapasitas pengunjung, infrastruktur pendukung, kemampuan sumber daya manusia (SDM), dan pemasaran yang hanya mengandalkan mulut ke mulut tentu menjadi kendala bagi pengunjung untuk berwisata ke obyek wisata Desa Kupang. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengkaji strategi pengembangan wisata berkelanjutan yang baru dan inovatif di desa Kupang. Jenis metode penelitian yang diterapkan oleh pengkaji kali ini yaitu deskriptif. Sumber data pengumpulan yang dipakai ialah data primer dengan observasi secara langsung, dan wawancara dengan informan tertentu. Teknik analisis data yang dipakai adalah analisis 4A dan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan adanya potensi kuat dari Desa Kupang namun perlu dimaksimalkan kembali agar dapat menjadi desa wisata maju. Adanya keunggulan daya tarik pemandangan pegunungan dan atraksi wisata edukasi Bukit Kayoe Putih. Strategi pengembangan yang paling efektif menggunakan strategi SO Kuadran 1 Progresif. Seperti melakukan promosi dengan lebih mengeksplor keunikan Desa Kupang, membuat inovasi baru dari segi video maupun gambar, mengajak masyarakat ikut andil dalam kegiatan pemasaran, dan lebih memanfaatkan kemajuan teknologi yang ada. Diharapkan pula dibentuk POKDARWIS agar pengurus pariwisata setempat berjalan dengan optimal.
Menghidupkan Warisan Budaya: Pentas Kesenian Sebagai Magnet Wisata Candi Surowono di Kediri Rhoirudin, Rohmat; Silviariza, Waode Yunia
Altasia Jurnal Pariwisata Indonesia Vol. 7 No. 1 (2025): Jurnal ALTASIA (Februari)
Publisher : Program Studi Pariwisata - Universitas Internasional Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37253/altasia.v7i1.10054

Abstract

Pariwisata merupakan kegiatan untuk melakukan perjalanan atau kunjungan pada suatu tempat dengan tujuan tertentu. Candi Surowono berada di Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri merupakan salah satu candi yang memiliki nilai historis dan budaya dalam setiap relief yang tergambar pada dinding candi. Terdapat empat latar cerita relief yang mengelilingi Candi Surowono antara lain relief Arjunawiwaha, relief Bubuksah-Gagangaking, relief Sri Tanjung, dan relief Tantri. Kurangnya pemahaman dan strategi pengembangan mengenai makna dalam setiap relief membuat menurunnya minat wisatawan untuk mengunjungi Candi Surowono. Tujuan penelitian ini untuk memberikan strategi pengembangan dengan memvisualisasikan relief candi melalui kegiatan pentas kesenian secara berkelanjutan untuk menarik minat wisatawan. Perumusan langkah-langkah pengembangan menggunakan metode SWOT bertujuan untuk mengetahui kekuatan (strength), kelemahan (weakness), peluang (opportunity), dan ancaman (threat) selama proses pengembangan wisata.  Berdasarkan hasil analisis SWOT pengembangan Candi Surowono dapat melalui pentas kesenian yang memadukan cerita relief pada candi. Pentas kesenian tersebut dapat dilakukan dengan bekerjasama antara pihak terkait untuk menarik minat wisatawan dan mendukung kelestarian dari Candi Surowono. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan rekomendasi dari permasalahan pengembangan wisata yang serupa sehingga mampu menciptakan pariwisata yang berkelanjutan.
ANALYSIS OF DIFFERENT LEVEL OF RESILIENCE IN FARMING COMMUNITIES IN FLOOD DISASTER-PROPOSED AREA AT BOJONEGORO REGENCY Widodo, Bambang Sigit; Khusna, Nur Isroatul; Silviariza, Waode Yunia
JURNAL GEOGRAFI Geografi dan Pengajarannya Vol 19 No 2 (2021): JURNAL GEOGRAFI Geografi dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/jggp.v19n2.p37-46

Abstract

Abstract: This study aims to determine the level of resilience in farming communities in flood-prone areas which include Bojonegoro District, Balen District, and Trucuk District. This type of research is quantitative using a survey approach. The sample in this study amounted to 153 respondents with predetermined criteria, namely farmers with land ownership of less than 1 hectare. Collecting data using a resilience instrument developed by CD-RISC, and then modified by the researcher according to the characteristics of the respondents. Data analysis used one way ANOVA test. The results showed a p value < 0.001, so there was a significant difference between the levels of resilience in the three regions with the highest value in the Bojonegoro sub-district, namely 112.805, which means that it has a better resilience level than Balen and Trucuk Districts. The frequency in which the Bojonegoro sub-district receives floods > 2 times a year makes the people in this area have the ability to adapt, so that their resilience is better. Keywords: resilience, farmers, flood disaster
PEMETAAN PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN AREA WISATA PADUSAN MENGGUNAKAN METODE OBIA TAHUN 2013-2023 Muhammad Bimasena Ananda; Yuswanti Ariani Wirahayu; Waode Yunia Silviariza
GEOGRAPHY : Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Vol 13, No 1 (2025): APRIL
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/geography.v13i1.28556

Abstract

Abstrak: Pengembangan pariwisata merupakan hal yang positif karena dapat meningkatkan banyak hal seperti daya tarik, fasilitas, dan sebagainya. Pengembangan wisata juga memiliki dampak lain seperti mempengaruhi tutupan lahan sekitar dan juga berkemungkinan akan mempengaruhi ekosistem di dalamnya, oleh karena itu pengembangan wisata harus dibarengi dengan strategi pengembangan yang tepat. Salah satu wisata yang ada di daerah Pacet, Kabupaten Mojokerto, yaitu area wisata Padusan merupakan wisata yang pembangunan dan perkembangannya juga mempengaruhi tutupan lahan sekitarnya. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis seberapa pengaruh pengembangan area wisata Padusan bagi lahan sekitarnya. Data yang dipakai adalah peta 2013, 2018 dan 2023 yang di dapat dari Google Earth Pro, dan di analisis di software Arcgis menggunakan metode OBIA. Setelah melakukan analisis maka didapatkan hasil jika dalam 10 tahun, luas pembangunan dan pengembangan area wisata Padusan bertambah 1 hektar, dan mempengaruhi perubahan lahan disekitarnya, terkhususnya lahan vegetasi pohon yang luasnya mengalami penurunan. Untuk mencegah pengurangan lahan vegetasi pohon ini diperlukan upaya pencegahan dan strategi pengembangan yang tepat seperti meningkatkan sisi wisata ramah lingkungan, membuat rencana tata ruang yang tepat serta melakukan program penanaman kembali. Abstract:  Tourism development is a positive effort as it can enhance various aspects such as attractions, facilities, and more. However, tourism development also has other impacts, such as influencing surrounding land cover and potentially affecting the ecosystems within it. Therefore, tourism development must be accompanied by appropriate development strategies. One of the tourist attractions in Pacet, Mojokerto Regency, namely the Padusan tourism area, is an example where construction and development also affect the surrounding land cover. This article seeks to analyze the extent to which the development of the Padusan tourism area affects the surrounding land. The data used are maps from 2013, 2018, and 2023 obtained from Google Earth Pro, analyzed using ArcGIS software with the OBIA method. After conducting the analysis, it was found that over 10 years, the area of construction and development of the Padusan tourism area increased by 1 hectare, affecting changes in the surrounding land, particularly tree vegetation areas, which experienced a decrease in size. To prevent the reduction of tree vegetation areas, preventive measures and proper development strategies are needed, such as promoting eco-friendly tourism, creating accurate spatial planning, and implementing reforestation programs.