Muhammad Syarif
Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Makassar

Published : 23 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Perancangan Pusat Rehabilitasi Narkoba dengan Pendekatan Green Architecture di Kabupaten Bulukumba Andi Sulfajri; Irnawaty Idrus; Sahabuddin Latif; Rosady Mulyadi; Siti Fuadillah; Muhammad Syarif
Journal of Muhammadiyah’s Application Technology Vol 1, No 3 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/jumptech.v1i3.8826

Abstract

Dewasa ini, Kasus penyalahgunaan Narkotika, Obat-obatan dan Psikotropika (Narkoba) beberapa tahun terakhir ini menjadi masalah serius dan telah mencapai keadaan yang memprihatinkan di Indonesia oleh karena itu dibutuhkan perancangan Pusat Rehabilitasi Narkoba dengan konsep green architecture di Bulukumba untuk memberikan suatu kesembuhan baik mental atau spiritual bagi para korban NAPZA. Penelitian ini bertujuan untuk Membuat desain bangunan pusat rehabilitasi narkoba di Kabupaten Bulukumba dengan konsep Green Architecture serta Menentukan tata ruang dan fasilitas penunjang gedung pusat rehabilitasi narkoba di Kabupaten Bulukumba dengan konsep Green Architecture. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode observasi dan perancangan. Hasil penelitian ini adalah Perancangan pusat rehabilitasi narkoba dengan konsep green architecture. Pada bangunan dapat terdapat 4 ciri Green Architecture, diantaranya yaitu Penggunaan panel surya, penggunaan bukaan atau jendela yang lebar, Pemanfaatan material dari daerah sekitar dan Pengolahan air hujan dan air buangan yang di gunakan kembali untuk kebutuhan Flushing toilet dan menyiram tanaman.
Perancangan Makassar Art Center dengan Konsep Arsitektur Metafora Nurkhafifah Nurkhafifah; Muhammad Syarif; Rasmawarni Rasmawarni; Nurhikmah Paddiyatu; Aris Sakkar Dollah; Citra Amalia Amal
Journal of Muhammadiyah’s Application Technology Vol 1, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/jumptech.v1i1.7316

Abstract

Art Center merupakan suatu tempat atau wadah untuk kegiatan yang berkaitan dengan seni budaya yang biasanya menyediakan fasilitas-fasilitas seni seperti ruang teater, ruang galeri, tempat pertunjukan musik, area bengkel, fasilitas pendidikan, peralatan teknis dan sebagainya. Permasalahan utama kegiatan yang berkaitan dengan seni di adalah kurangnya wadah atau fasilitas yang dapat menampung kegiatan seni atau karya seni yang ada di Kota Makassar. Tujuan penelitian ini adalah untuk merancang bangunan Makassar Art Center yang dimaksudkan untuk memberikan wadah untuk pelestarian dan pengembangan seni serta dapat mejadi sarana edukasi dan rekreasi kepada pengunjung tentang kesenian dan kebudayaan khas Sulawesi Selatan. Metode penelitian yang digunakan dalam perancangan Makassar Art Center ini menggunakan pendekatan arsitektur. Metafora dalam arsitektur merupakan gaya arsitektur yang mengambil bentuk dari sebuah kiasan atau perumpamaan dari sesuatu yang kemudian akan diwujudkan dalam sebuah bentuk bangunan atau karya arsitektur. Hasil perancangan Makassar Art Center ini meliputi konsep tapak seluas 5,05 Ha, yang terdiri dari ruang primer seluas 1340 m², ruang sekunder 951 m², dan ruang penunjang 5490 m², kemudian dilanjutkan dengan gambar perancangan mulai dari denah sebanyak 2 lantai, denah situasi, blok plan, site plan, denah, tampak, potongan, rencana-rencana, detail arsitektur, serta gambar 3D, dan video animasi yang di buat sesuai dengan konsep arsitektur metafora. Kesimpulan dari penelitian maka diperoleh konsep dan desain bangunan berbentuk songkok bone yang dipadukan dengan kipas tarian khas Sulawesi Selatan sehingga pengunjung dapat merasakan kesan budaya yang khas dari kebudayaan daerah Makassar yang beraneka ragam
Arsitektur sebagai Katalis Budaya: Desain Eco-Cultural untuk Pusat Warisan Bugis-Makassar Muhammad Suaib; Muhammad Syarif; Nurhikmah Paddiyatu; Rohana; Andi Yusri; Sahabuddin Latif
Journal of Green Complex Engineering Vol. 3 No. 1 (2025): Agustus
Publisher : Gio Architect

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59810/greenplexresearch.v3i1.201

Abstract

ABSTRAKKabupaten Gowa merupakan wilayah di Sulawesi Selatan yang kaya akan budaya Bugis-Makassar, namun belum memiliki fasilitas representatif untuk pelestarian dan pengembangan budaya lokal secara berkelanjutan. Studi ini merancang sebuah Pusat Kebudayaan dan Seni Lokal dengan pendekatan eco-cultural yang menggabungkan prinsip keberlanjutan lingkungan dengan pelestarian nilai budaya lokal. Metode yang digunakan meliputi observasi tapak, wawancara, studi literatur, serta analisis sosial dan ekologis sebagai dasar perancangan. Hasil desain menunjukkan integrasi lima prinsip eco-cultural—image of space, environmental knowledge, building image, technologies, dan idealized concept of place—ke dalam bentuk arsitektur yang adaptif terhadap iklim tropis serta simbolik terhadap budaya Bugis-Makassar. Zona fungsional disusun secara fleksibel untuk menunjang aktivitas edukasi, pertunjukan, dan interaksi sosial, sementara bentuk bangunan terinspirasi dari topi Patonro dan kipas tradisional. Desain ini tidak hanya menghasilkan fasilitas budaya yang fungsional dan kontekstual, tetapi juga berfungsi sebagai ruang edukasi dan refleksi ekologis. Dengan demikian, pusat kebudayaan ini berperan penting dalam mendukung kontinuitas budaya dan kesadaran lingkungan masyarakat Gowa, serta menjadi model arsitektur berkelanjutan berbasis lokal di Indonesia. ABSTRACTGowa Regency in South Sulawesi is rich in Bugis-Makassar cultural heritage but lacks a representative facility for the sustainable preservation and development of local culture. This study designs a Local Cultural and Arts Center using an eco-cultural approach that combines environmental sustainability principles with the preservation of local cultural values. The methods used include site observation, interviews, literature studies, and socio-ecological analysis as the foundation for design development. The design results demonstrate the integration of five eco-cultural principles—image of space, environmental knowledge, building image, technologies, and idealized concept of place—into architectural forms that are adaptive to the tropical climate and symbolically reflective of Bugis-Makassar culture. Functional zones are organized flexibly to support educational, performance, and social interaction activities, while the building form is inspired by the traditional Patonro headgear and cultural fan motifs.This design not only provides a functional and contextually relevant cultural facility but also serves as an educational space and ecological reflection. Therefore, the cultural center plays a vital role in supporting cultural continuity and environmental awareness in the Gowa community and serves as a model for locally based sustainable architecture in Indonesia.