Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

EFEKTIVITAS MODEL PEMECAHAN MASALAH MENGGUNAKAN MEDIA CATMAT (PMC) DAN TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA DITINJAU DARI GAYA KOGNITIF SISWA KELAS VIII MTSN CARUBAN Rokhani, Ridha; Murdjito, Murdjito; Rachmad, Basuki
JIPM Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : JIPM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berdasarkan data yang diperoleh dari MTsN Caruban menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa pada mata pelajaran matematika belum memberikan hasil yang baik. Hal ini dapat dilihat dari data nilai ulangan harian terakhir siswa kelas VIII MTsN Caruban tahun pelajaran 2013/2014. Dari data tersebut, masih terdapat beberapa siswa yang mendapatkan nilai di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa, maka peneliti mencoba menerapkan model Pemecahan Masalah menggunakan media CatMat (PMC) dan Teams Games Tournament (TGT) ditinjau dari gaya kognitif. Kedua model pembelajaran tersebut sama-sama menitikberatkan pada  aktivitas berpikir sehingga erat kaitannya dengan siswa yang memiliki gaya kognitif Field Independent (FI) dan Field Dependent (FD). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) apakah prestasi belajar matematika siswa yang diajar dengan model PMC lebih baik daripada model TGT, (2) apakah prestasi belajar matematika siswa FI lebih baik daripada siswa FD, (3)  apakah terdapat interaksi antara model PMC dan TGT dengan gaya kognitif FI dan FD terhadap prestasi belajar matematika siswa. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan jenis penelitian kuantitatif. Sumber data diperoleh dari sampel penelitian yaitu siswa kelas VIII E dan VIII A MTsN Caruban tahun pelajaran 2013/2014 yang diambil secara cluster random samplingdengan banyak anggota sampel 72 siswa. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode tes dan dokumentasi, sedangkan teknik analisis data menggunakan metode statistik test (Anava dua jalan sel tak sama). Berdasarkan hasil analisis data menggunakan uji Anava dua jalan sel tak sama, dapat disimpulkan bahwa, (1) prestasi belajar matematika siswa yang diajar dengan model PMC tidak lebih baik daripada model TGT, (2) prestasi belajar matematika siswa FI lebih baik daripada siswa FD, dan (3) tidak terdapat interaksi antara model PMC dan TGT dengan gaya kognitif FI dan FD terhadap prestasi belajar matematika siswa.Kata kunci : Efektivitas, PMC, TGT, Prestasi, Gaya Kognitif.
PEMANFAAAN MEDIA PEMBELAJARAN AUDIO VISUAL FILKARTIKA (FILM KARTUN MATEMATIKA) DENGAN POKOK BAHASAN BANGUN RUANG PADA SISWA KELAS IV SD Hariyanti, Dwi; Rachmat, Basuki; Murdjito, Murdjito
JIPM Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : JIPM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mata pelajaran matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang penting, karena tidak terlepas dari aspek kehidupan sehari-hari. Para siswa sering kali begitu tegang menghadapi pelajaran matematika. Hal ini disebabkan karena siswa sering mendengar bahwa matematika adalah pelajaran yang sulit dan abstrak. Penggunaan media audio visual Filkartika dalam pembelajaran matematika dianggap mampu meningkatkan daya serap siswa terhadap materi pelajaran tersebut. Maka dari itu, peneliti bergagasan untuk menggunakan media audio visual Filkartika sebagai media pembelajaran tontonan edukatif yang menarik dan menyenangkan sehingga membuat siswa menyenangi matematika. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan respon dan hasil belajar siswa dalam pemanfaatan media pembelajaran audio visual Filkartika. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN 01 Josenan yang dikategorikan menjadi tiga yaitu dua subyek dengan kategori kemampuan tinggi, dua subyek dengan kategori kemampuan sedang, dan dua subyek dengan kategori kemampuan rendah. Jenis penelitian yang digunakan dalam peelitian ini adalah kualitatif. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode observasi, tes dan wawancara. Teknik keabsahan datanya yaitu dengan triangulasi data. Sedangkan teknik analisis datanya terdiri dari empat alur yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan serta verifikasi. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah 66,67% siswa menunjukkan respon yang positif terhadap pemanfaatan media Filkartika dan 33,33% siswa menunjukkan respon negatif. Sedangkan ditinjau dari hasil belajarnya, sebanyak 16,67% siswa memiliki tingkat penguasaan materi amat baik, sebanyak 33,33% siswa memiliki tingkat penguasaan materi dengan baik, sebanyak 16,67% siswa memiliki tingkat penguasaan materi cukup, dan sebanyak 33,33% siswa memiliki tingkat penguasaan materi amat kurang.Kata Kunci : Media Pembelajaran, Audio Visual, Filkartika, Bangun Ruang
An Analysis on the Spread Mooring of the Belida FSO Induced by Squall Loads Murdjito, M; Pravitasari, Inneke Yulistanty; Djatmiko, Eko Budi
Kapal: Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kelautan Vol 17, No 1 (2020): February
Publisher : Department of Naval Architecture - Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4655.093 KB) | DOI: 10.14710/kapal.v17i1.27554

Abstract

Squall is the occurrence of a sudden sharp increase in wind speed, thus amplifies sea environmental loads. In the South of Natuna Sea, squall can reach an intensity of up to 50 m/s or close to 100 knots. In this water, the Belida FSO operates at a water depth of 77.0 m, tethered to the seabed by a spread mooring system. Squall’s impacts on the FSO mooring system has been examined by implementing time-domain simulations accommodated in a numerical model based on the 3-D wave diffraction theory. The simulations were performed by varying the squall duration of escalation, i.e. 2.5, 5.0, and 10.0 minutes, for the load cases of 1-year extreme operational and 100-year extreme survival conditions propagating at 0°, 45°, 90°, 135°, 180°. The three squall durations of escalation substantially increase the significant wave height Hs by averagely 60%, 50% and 34%, respectively. The largest of the maximum mooring tension due to the sea load directions is found to be brought about the 45° load when magnified by the squall with a 2.5-minute duration of escalation. In this respect, the largest intensities of the operational and survival tension loads may reach some 2,027 kN and 3,318 kN, respectively, which are eventually far below the MBL of 7,685 kN. The largest x-axis offsets in operational and survival conditions are 3.94 m and 10.21 m, respectively. Whereas the largest y-axis offsets for operational and survival loads are found to be 13.31 m and 15.48 m. These y-axis offset intensities are larger than the limiting criteria, i.e. 15% of the water depth or 11.55 m.
ANALISIS PENGARUH KONFIGURASI CATENARY SPREAD MOORING PADA OPERABILITAS INSTALASI PIPA BAWAH LAUT Asmajuna, Helmi Arif; Murdjito, Murdjito; Djatmiko, Eko Budi
Wave: Jurnal Ilmiah Teknologi Maritim Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (563.669 KB) | DOI: 10.29122/jurnalwave.v13i2.3782

Abstract

Aktivitas instalasi pipa bawah laut memerlukan tingkat keandalan yang tinggi agar tidak mengalami kegagalan. Maka dari itu banyak faktor harus dipertimbangkan saat proses desain sebelum kegiatan instalasi. Metode instalasi adalah salah satu faktor utama yang harus dipertimbangkan. Terkait dengan itu kajian tentang pengaruh konfigurasi penambatan terhadap tegangan pipa dan operabilitas pada saat instalasi pipa bawah laut menggunakan pipelay barge dengan fixed stinger telah dilakukan. Kajian meninjau 4 konfigurasi catenary spread mooring yang berbeda, yakni 4 tali, 8 tali, 6 tali (4 depan dan 2 belakang), dan 6 tali (2 depan dan 4 belakang) dengan dan tanpa pengaturan pretension. Dengan mempertim­bangkan tegangan yang terjadi, konfigurasi yang menggunakan pengaturan pretension akan lebih aman digunakan dan memenuhi kriteria DNV OSF-101 dan API RP2SK, di mana tegangan pipa maksimal yang terjadi 391.5 MPa dan mooring tension 730 kN. Selanjutnya, semua konfigurasi yang menggunakan pengaturan pretension memiliki nilai operabilitas mencapai 100%. Dari seluruh konfigurasi yang dievaluasi, konfigurasi 4 tali direkomendasikan untuk digunakan, dengan mem­pertimbangkan aspek tegangan yang terjadi, operabilitas, jumlah tali, serta waktu operasi dan biaya.
Stress Distribution Analysis of DKDT Tubular Joint in a Minimum Offshore Structure Noviyanti, Irma; Prastianto, Rudi Walujo; Murdjito, Murdjito
Rekayasa Vol 14, No 2: Agustus 2021
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/rekayasa.v14i2.10511

Abstract

A marginal field defines as an oil and/or gas field that has a short production period, low proven reservoir, and could not be exploited using existing technology. As the demand for oil and gas keeps increasing, one of the solutions to tackle the issues is to build the modified platform which came to be more minimalist to conduct the oil and gas production in the marginal field. Naturally, the minimum offshore structures are cost less but low in redundancy, therefore, pose more risks. Although the study on the minimum structures is still uncommon, there are opportunities to find innovative systems that need to have a further analysis toward such invention. Therefore, this study took the modified jacket platform as a minimum structure, and local stresses analysis by using finite element method is applied for the most critical tubular joint with multiplanarity of the joint is taking into account. The analysis was carried out using the finite element program of Salome Meca with three-dimensional solid elements are used to model the multiplanar joint. Various loading types of axial force, in-plane bending moment, and out-of-plane bending moment are applied respectively to investigate the stress distribution along the brace-chord intersection line of the tubular joint. The results show that the hotspot stress occurred at a different point along each brace-chord intersection line for each loading type. Finally, as compared to the in-plane bending moment or out-of-plane bending moment loading types, the axial force loading state is thought to generate greater hotspot stress.
Analisis Fatigue Top Side Support Structure Silindris Seastar Tension Leg Platform (TLP) Akibat Beban Lingkungan North Sea Mirba H. Dwi Sa'dyah; Eko Budi Djatmiko; Murdjito Murdjito
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (688.524 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.1812

Abstract

Tension leg Platform adalah bangunan lepas pantai semi terapung yang ditambat dengan tendon sampai dasar laut. Dalam operasinya, TLP akan mendapatkan beban-beban dinamis yang bekerja pada struktur secara periodik. Ini dapat menyebabkan kerusakan struktur baik struktur primer, sekunder maupun tersier yang akibatnya dapat mengganggu operasional struktur. Dalam penelitian ini bertujuan membahas fatigue life pada top side support structure TLP. Model yang digunakan mengacu pada TLP Seastar Matterhorn dengan similarity parameter displacement, sarat desain kondisi operasional dan instalasi pada TLP A West Seno dan bangunan beroperasi di North Sea. Dengan dimensi support OD = 2 meter dengan ketebalan 20 mm dan brace dengan OD = 1 meter, ketebalan 10mm akan dilakukan analisis kelelahan. Meninjau dari motion struktur menunjukkan RAO maksimum gerakan surge, sway, heave, roll, pitch dan yaw berturut-turut adalah 0.884 m/m, 0.884 m/m, 0.39 m/m, 0.32 m/m, 0.34 m/m, dan 0.16 m/m. Periode natural struktur berada pada frekuensi 0.57 rad/s untuk gerakan heave, dan 0.63 untuk gerakan roll dan pitch. Hal ini berarti amplitudo respon akan selalu lebih kecil dari amplitudo gelombang yang datang. Dengan memperhitungkan motion yang terjadi dari rekaman data gelombang selama 34 tahun didapatkan umur kelelahan top side support structure dengan pendekatan Palmgren-miner adalah 1.54E+09 tahun. Struktur masih dikatakan aman karena umur kelelahannya masih di atas umur desain yaitu 75 tahun
Analisa Umur Kelelahan Sambungan Kaki Jack-Up Dengan Mudmat Pada Maleo MOPU Dengan Pendekatan Fracture Mechanics Abi Latiful Hakim; Eko Budi Djatmiko; Murdjito Murdjito
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (825.845 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.1871

Abstract

Jack-Up adalah suatu struktur bangunan lepas pantai yang terdiri dari lambung (hull), kaki (legs), dan suatu sistem jacking sehingga memungkinkan untuk dipindahkan dari satu lokasi ke lokasi yang lain. Pada penelitian ini akan dilakukan studi kasus struktur Maleo MOPU (Mobile Offshore Production Unit) yang dioperasikan oleh SANTOS (Madura) Pty.Ltd. yang beroperasi di Selat Madura blok Maleo dengan kedalaman perairan di lokasi ini adalah 57 m terhadap MSL (Mean Sea Level). Studi kasus ini dilakukan karena ditemukan indikator retak lelah pada sambungan antara kaki jack-up dan mudmat. Analisa kelelahan dengan pendekatan metode kepecahan (fracture mechanics) akan dilakukan untuk menganalisa retak lelah yang terjadi. Variasi kedalaman retak akan dianalisa untuk menentukan umur kelelahan struktur yang tersisa berdasarkan kriteria kegagalan. Keretakan yang terjadi akan mengalami perambatan retak akibat beban siklis yang diterima, dan terus merambat hingga menembus ketebalan dari kaki Jack-Up atau yang disebut dengan through-thickness crack. Analisa dilakukan dengan bantuan pemodelan elemen hingga secara global dan pemodelan elemen hingga secara lokal. DNV OS C101 menyebutkan bahwa definisi kegagalan kelelahan  terjadi ketika retak merambat hingga mencapai ketebalan. Dari pemodelan metode elemen hingga didapatkan besarnya nilai tegangan di sekitar ujung retakan. Dengan menggunakan persamaan Paris-Erdogan didapatkan sisa umur sambungan tersebut sebesar 5.2 tahun.
Studi Pengaruh Gerak Semi-submersible Drilling Rig dengan Variasi Pre-tension Mooring Line terhadap Keamanan Drilling Riser Arda Arda; Eko Budi Djatmiko; Murdjito Murdjito
Jurnal Teknik ITS Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (994.72 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v1i1.1894

Abstract

Analisis terhadap sistem tambat pada anjungan pengeboran semi-submersible drilling rig perlu dilakukan sebelum dilakukannya operasi di lapangan untuk mengetahui perencanaan sistem tambat yang tepat dan aman. Dalam penelitian ini dilakukan analisa perilaku gerak semi-submersible dengan variasi pre-tension mooring line untuk mengetahui berapa besar pre-tension minimal yang harus digunakan agar operasi pengeboran di lingkungan laut Natuna dapat berjalan dengan aman. Variasi pre-tension yang digunakan adalah sebesar 400kN-2000kN dengan penambahan sebesar 400kN. Karakteristik gerakan semi-submersible diprediksi dengan menghitung RAO free floating dengan pemodelan numerik dalam domain frekuensi. Kemudian dilakukan analisa simulasi sistem lengkap (platform, mooring dan drilling riser) dengan pemodelan numerik dalam domain waktu. Hasil yang didapat yakni nilai maksimum tegangan mooring line memenuhi batas kriteria API-RP2SK untuk semua variasi pre-tension dengan safety factor terkecil 2.44. Sudut flex joint drilling riser yang terjadi melewati batas kriteria API-RP16Q pada pre-tension 400kN-800kN yang mencapai 6.20 untuk sudut maksimum dan 4.80 untuk sudut rata-rata. Tegangan von Mises yang terjadi pada drilling riser melebihi kriteria API-RP16Q pada pre-tension 400kN-1200kN karena nilainya mencapai 369 MPa (0.82 yield stress).
Analisis Dampak Scouring Pada Integritas Jacket Structure Dengan Pendekatan Statis Berbasis Keandalan Edit Prihantika; Murdjito Murdjito
Jurnal Teknik ITS Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1305.523 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v2i2.4785

Abstract

Integritas jacket structure sangat terpengaruh dengan kondisi lingkungan yang dapat menimbulkan masalah tertentu, seperti masalah scouring pada jacket. Jacket APN-A adalah salah satu platform yang mengalami scouring dengan rentan masalah yang cukup dikatakan paling parah. Analisa In-place yang harus dilakukan untuk mengetahui kekuatan struktur dengan masalah scouring adalah dengan menghitung unity check pada member dan safety factor pada bearing capacity. Variasi skenario yang dilakukan untuk menganalisa kekuatan jacket APN-A adalah dengan menvariasikan kedalaman scouring hingga 5 meter dan dengan menvariasikan penambahan beban dead load dan live load hingga 30% dari beban awal. Hasil analisa didapatkan bahwa Jacket APN-A tidak terjadi tegangan yang melebihi batas ketentuan ketika mengalami skenario scouring hingga 5 meter, akan tetapi mulai terjadi tegangan yang melebihi batas ketentuan ketika mengalami penambahan beban 10% yaitu pada member 3 yang termasuk Jacket Brace dengan angka mencapai 1,0031. Bearing capacity pada Jacket APN-A, hasil analisa menunjukkan tidak ada yang melebihi kapaitas Safety Factor yang diijinkan ketika mengalami skenario scouring hingga 5 meter, akan tetapi pondasi tidak memenuhi syarat ketika mengalami skenario penambahan beban hingga 20% dari beban awal dengan angka mencapai 1,7. Keandalan dari platform APN-A mengalami penurunan yang cukup siknifikan ketika mengalami penambahan dead load dan live load.
Ultimate Strength of the Buoy Structure due to the Loads Arise from the Tanker and Mooring Lines Murdjito Murdjito; Resy Agatya; Handayanu Handayanu
International Journal of Offshore and Coastal Engineering (IJOCE) Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : DRPM (Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat) ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (776.473 KB) | DOI: 10.12962/j2580-0914.v1i1.2893

Abstract

A study was conducted to evaluate the ultimate strength of a 40 ton buoy induced by the dynamic loads arising from a 120,000 DWT Aframax tanker and mooring lines. The buoy is operated at Bangka Strait offshore oil terminal. The eva­luation was commen­ced by analyzing the motion characteristics of the buoy and tanker due to environmental excitations, both in free floating conditions. This is continued by the simulation and time-domain analysis of con­nected buoy and tanker to observe the hawsers and mooring line tension intensities. The correspon­ding results show the largest tension occurs in the in-line configu­ration with the tanker in ballast condi­tion, where hawsers tension reaches 1282.58 kN with a safety factor of 2.23 and mooring line tension 1974.18 kN with a safety factor of 3.20. The resulting tensions were further applied as input data for structural modeling using FEM to find out the stresses develop on the buoy structure. Results of this modeling reveal the maximum value of stress experienced by the buoy structure is approaching 184.28 MPa, which is below allowable stress of 200 MPa. Following this, the ultimate stress of 450 MPa will be violated by 143% incremental load above the maximum, namely 3,116.67 kN and 4,797.26 kN due to the hawsers and mooring line. This fact suggests that the structure is unlikely to experience ultimate failure if merely operated in the current operational site.