Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Aksara

MASKULINITAS TOKOH TARŌ DALAM MUKASHI BANASHI Sari, Ida Ayu Laksmita
Aksara Vol 28, No 1 (2016): Aksara: Edisi Juni 2016
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1126.837 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v28i1.13.15-24

Abstract

Penelitian ini mengkaji maskulinitas tokoh Tarō dalam mukashi banashi, cerita rakyatJepang. Mukashi banashi yang menjadi objek kajian ini adalah Momotarō, Kintarō, Kotarōto Haharyū, Sannen Netarō, dan Urashima Tarō. Pada kelima mukashi banashi ini terdapattokoh yang bernama Tarō dengan peranannya masing-masing. Fokus penelitian ini adalahanalisis gambaran tokoh Tarō, fungsi, dan nilai budaya Jepang yang terdapat dalam mukashibanashi. Penelitian ini menggunakan teori sosiologi sastra dan teori maskulinitas denganmetode deskriptif analisis. Hasil penelitian ini menunjukkan lima tokoh Tarō, yaitu Momotarō,Kintarō, Kotarō, Sannen Netarō, dan Urashima Tarō yang memiliki ciri fisik maskulin dansifat bushido ‘kesatria’. Namun, terdapat juga beberapa sifat yang sedikit bertentangan dengankonsep maskulin. Selain itu, melalui kelima mukashi banashi ini diketahui pula fungsi danunsur-unsur budaya yang terdapat dalam cerita rakyat Jepang.
MASKULINITAS TOKOH TARŌ DALAM MUKASHI BANASHI Ida Ayu Laksmita Sari
Aksara Vol 28, No 1 (2016): Aksara: Edisi Juni 2016
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1126.839 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v28i1.13.15-24

Abstract

Penelitian ini mengkaji maskulinitas tokoh Tarō dalam mukashi banashi, cerita rakyatJepang. Mukashi banashi yang menjadi objek kajian ini adalah Momotarō, Kintarō, Kotarōto Haharyū, Sannen Netarō, dan Urashima Tarō. Pada kelima mukashi banashi ini terdapattokoh yang bernama Tarō dengan peranannya masing-masing. Fokus penelitian ini adalahanalisis gambaran tokoh Tarō, fungsi, dan nilai budaya Jepang yang terdapat dalam mukashibanashi. Penelitian ini menggunakan teori sosiologi sastra dan teori maskulinitas denganmetode deskriptif analisis. Hasil penelitian ini menunjukkan lima tokoh Tarō, yaitu Momotarō,Kintarō, Kotarō, Sannen Netarō, dan Urashima Tarō yang memiliki ciri fisik maskulin dansifat bushido ‘kesatria’. Namun, terdapat juga beberapa sifat yang sedikit bertentangan dengankonsep maskulin. Selain itu, melalui kelima mukashi banashi ini diketahui pula fungsi danunsur-unsur budaya yang terdapat dalam cerita rakyat Jepang.
BENTUK DEKONSTRUKSI IDEOLOGI GENDER DALAM NOVEL OUT DAN GROTESQUE KARYA NATSUO KIRINO I Gusti Ayu Andani Pertiwi; I Nyoman Darma Putra; Ida Ayu Laksmita Sari
Aksara Vol 32, No 1 (2020): AKSARA, Edisi Juni 2020
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (701.559 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v32i1.487.15-30

Abstract

Novel Bebas dan Grotesque: Gaib adalah karya sastra Natsuo Kirino yang mengangkat topik mengenai realita sosial di Jepang. Isu-isu yang diangkat di dalam novel tidak jauh dari bahasan mengenai gender di Jepang serta narasi seksualitas yang dihadirkan melalui isu enjokousai (prostitusi). Penelitian ini berusaha mengungkap bentuk-bentuk dekonstruksi ideologi gender yang dilakukan oleh pengarang dalam novel tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode pengumpulan data studi pustaka. Data-data dikumpulkan dari kedua novel dan selanjutnya dianalisis dengan menggunakan teori dekonstruksi dan teori feminisme. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa pengarang mendekonstruksi wacana-wacana ketimpangan gender dan seksualitas di Jepang kemudian menuangkannya ke dalam bentuk teks-teks sastra. Bentuk-bentuk dekonstruksi ideologi gender yang ditampilkan pengarang dalam kedua novel tersebut yaitu ideologi gender yang memertahankan peran gender konvensional dan ideologi gender yang mengikuti perkembangan zaman. Natsuo Kirino’s Out and Grotesque raises the topic of social reality in Japan. The issues raised in the novel are not far from the discussion of gender and the narrative of sexuality, which is presented through the issue of enjokousai (prostitution). This research attempts to uncover the forms of gender ideology deconstruction carried out by the author in the novel. This research is a qualitative research with literature study method. Data is collected from both novels and then analyzed using deconstruction theory and feminism theory. The results of the study show that the author deconstructed the discourse of gender inequality and sexuality in Japan and then poured it into the form of literary texts. The form of gender ideology deconstruction is gender ideology that follows the passage of time. Each character depicted is no longer influenced by the conventional order of Japanese society regarding how men and women should be. Instead, they choose to go by their own rules of life.Keywords: deconstruction, ideology, gender, Natsuo Kirino