Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Pengaruh Kombinasi Biofilter Glacilaria sp. dan Zeolit Terhadap Logam Berat Timbal (Pb) pada Media Air Laut Akhmad Syafroni Affandi; Boedi Setya Rahardja; Hari Suprapto
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 7 No. 1 (2018): JAFH Vol. 7 No. 1 Februari 2018
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.75 KB) | DOI: 10.20473/jafh.v7i1.11231

Abstract

Logam berat yang terdapat di lingkungan dapat berbahaya bagi makhluk hidup. Logam berat yang sering mencemari lingkungan terutama adalah merkuri (Hg), timbal (Pb), arsenik (As), kadmium (Cd), khromium (Cr) dan nikel (Ni). Logam berat tersebut di dalam tubuh suatu individu dapat menggumpal dan tetap tinggal dalam tubuh dalam waktu yang lama sebagai racun yang terakumulasi. Dampak akut logam berat timbal atau plumbism dengan gejala utama meliputi kram perut, gagal ginjal, kemandulan hingga kerusakan otak permanen. Timbal juga merupakan faktor utama terjadinya gejala hiperaktif, penyimpangan tingkah laku dan kesulitan belajar pada anak – anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi Gracilaria sp. dan zeolit terhadap konsentrasi logam berat timbal (Pb). Parameter utama pada penelitian ini adalah konsentrasi logam berat timbal, dan parameter pendukungnya adalah pH, suhu, dan salinitas. Analisis data menggunakan ANOVA untuk melihat apakah terdapat perbedaan pada tiap perlakuan dan Uji Jarak Berganda Duncan untuk melihat perlakuan terbaik dalam penurunan konsentrasi logam berat timbal Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa kombinasi biofilter Gracilaria sp. dan zeolit berpengaruh sangat signifikan terhadap penurunan konsentrasi logam berat timbal (p<0,01). Kombinasi biofilter Gracilaria sp. dan zeolit memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap penurunan konsentrasi Pb. Penurunan konsentrasi Pb oleh kombinasi biofilter Gracilaria sp. dan zeolit ini tercatat memiliki kisaran nilai 0,05 hingga 0,26 ppm. Perlakuan terbaik dalam menurunkan konsentrasi Pb tertinggi terdapat pada perlakuan P2-B (50 gram Glacilaria sp. dan 10 gram zeolit). Perlakuan ini mampu mengeliminasi konsentrasi Pb dalam media air sampai dengan rata rata 0,86% dalam waktu 28 hari. 
TEKNIK PEMBESARAN UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) PADA TAMBAK PENDAMPINGAN PT CENTRAL PROTEINA PRIMA Tbk DI DESA RANDUTATAH, KECAMATAN PAITON, PROBOLINGGO, JAWA TIMUR Muhammad Ghufron; Mirni Lamid; Putri Desi Wulan Sari; Hari Suprapto
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 7 No. 2 (2018): JAFH Vol. 7 No. 2 Juni 2018
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.818 KB) | DOI: 10.20473/jafh.v7i2.11251

Abstract

Udang vaname merupakan salah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Produktivitas dari komoditas ini dapat mencapai lebih dari 13.600 kg/ha dengan permintaan yang selalu meningkat di kalangan masyarakat. Praktek Kerja Lapang (PKL) ini bertujuan untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman mengenai teknik pembesaran udang vaname. Praktek Kerja Lapang dilaksanakan di tambak pendampingan PT Central Proteina Prima Tbk pada tanggal 20 Januari sampai 21 Februari 2017. Lokasi tambak tersebut yaitu di Desa Randutatah, Kecamatan Paiton, Probolinggo, Jawa Timur. Metode kerja yang digunakan yaitu metode deskriptif. Metode tersebut meliputi wawancara, pengamatan, dan partisipasi aktif selama proses kegiatan pembesaran udang vaname. Data yang terkumpul terdiri atas data primer dan sekunder. Data primer berupa pertumbuhan udang vaname, kualitas air, serta pemberian pakan selama proses budidaya. Sedangkan data sekunder berupa hasil studi data literatur mengenai teknis pembesaran udang vaname. Selain itu, data sekunder juga bisa diambil berdasarkan dokumen pendukung mengenai sejarah berdirinya, struktur organisasi, sarana dan prasarana budidaya. Kegiatan pembesaran udang vaname (Litopenaeus vannamei) selama pelaksanaan Praktek Kerja Lapang meliputi persiapan tambak, penebaran benur, manajemen pakan dan kualitas air, pengendalian hama dan penyakit, pemanenan, dan pemasaran.
TEKNIK PEMBESARAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DI INSTALASI BUDIDAYA AIR TAWAR PANDAAN, JAWA TIMUR Meidiana Salsabila; Hari Suprapto
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 7 No. 3 (2018): JAFH Vol. 7 No. 3 September 2018
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (50.857 KB) | DOI: 10.20473/jafh.v7i3.11260

Abstract

Ikan nila merupakan ikan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat di Indonesia. Permintaan pasar akan ikan nila mengalami kenaikan setiap tahunnya, sehingga produksi ikan nila perlu ditingkatkan lagi, terutama pada proses pembesaran ikan nila. Tujuan dari praktek kerja lapang ini adalah mengetahui secara langsung tentang teknik pembesaran secara semi-intesif pada ikan nila (Oreochromis niloticus) di Instalasi Budidaya Air Tawar (IBAT) Pandaan, Jawa Timur dan mengetahui permasalahan yang terjadi dalam teknik pembesaran secara semi-intensif pada ikan nila (Oreochromis niloticus) di Instalasi Budidaya Air Tawar (IBAT) Pandaan, Jawa Timur. Kegiatan pembesaran ikan nila meliputi persiapan kolam, penebaran benih, pemberian pakan, pengelolaan kualitas air, pengendalian hama dan penyakit, serta pemanenan. Persiapan kolam meliputi pengeringan tanah, pembalikan tanah, pengapuran, dan pengisian air. Pengeringan dilakukan selama 1-2 minggu atau tergantung cuaca hingga tanah tampak retak. Pembalikan tanah dilakukan setelah tanah kering dan dicangkul dengan kedalaman 5-10 cm. Pengapuran dilakukan dengan menggunakan kapur dolomit dengan dosis 70 gram per m2 dan dibiarkan hingga 2 hari. Kemudian kolam diisi dengan air hingga mencapai ketinggian 50- 60 cm.Benih yang ditebar di kolam pembesaran memiliki ukuran 3-5 cm dengan padat tebar 30-50 ekor per m2. Dosis pakan yang diberikan sebanyak 3% dari total berat ikan nila. Selama kegiatan Praktek Kerja Lapang tidak ditemukan ikan yang terkena penyakit, namun ditemukan beberapa hama di kolam yang berupa siput air. Kualitas air yang diukur terdiri dari dissolved oxygen atau oksigen terlarut, suhu, pH, dan kecerahan. Kadar oksigen terlarut berkisar antara 4,00-6,50 mg/L, suhu antara 27-30oC, pH 6,0-6,5, dan kecerahan 31 cm. Untuk mengetahui pertumbuhan ikan nila, dilakukan sampling setiap minggunya dengan mengukur panjang dan berat ikan. 
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI PADA BENIH IKAN KERAPU CANTANG (Epinephelus sp.) DARI KOLAM PENDEDERAN BALAI PERIKANAN BUDIDAYA AIR PAYAU (BPBAP) SITUBONDO, JAWA TIMUR Dahlia Dahlia; Hari Suprapto; Rahayu Kusdarwati
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 6 No. 2 (2017): JAFH Vol. 6 No. 2 Juni 2017
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3530.501 KB) | DOI: 10.20473/jafh.v6i2.11280

Abstract

Usaha budidaya ikan kerapu mempunyai prospek yang cukup baik untuk dikembangkan. Perkembangan produksi ikan kerapu cantang (Epinephelus sp.) menunjukkan kinerja yang cukup baik dengan peningkatan produksi rata-rata dari tahun 2010-2014 sebesar 9,61%. Kendala yang sering dihadapi pada kegiatan budidaya ikan kerapu adalah terjadinya serangan bakteri, salah satunya bakteri patogen. Serangan bakteri patogen menimbulkan penurunan kualitas dan tingkat produksi pada usaha pembenihan maupun pendederan ikan kerapu, bahkan kematian serta kegagalan panen dapat terjadi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2016. Penelitian dilakukan di laboratorium Kesehatan dan Lingkungan BPBAP Situbondo dan di Laboratorium Bakteri Balai Karantina Ikan Kelas I Juanda, Surabaya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis bakteri pada benih ikan kerapu cantang di kolam pendederan BPBAP Situbondo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi. Observasi yaitu melakukan pengamatan secara langsung ke objek penelitian untuk melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan. Data yang diperoleh dari penelitian isolasi dan identifikasi bakteri pada benih ikan kerapu cantang dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk gambar dan tabel. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya bakteri pada benih ikan kerapu cantang dari kolam pendederan Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo, Jawa Timur yaitu bakteri Vibrio alginolitycus, Vibrio harveyi dan Streptococcus iniae. Faktor terbesar yang mempengaruhi tertularnya bakteri pada benih ikan kerapu cantang antara lain adanya agen patogen dari pakan ikan rucah yang kualitasnya kurang bagus serta sifat kanibalisme ikan yang menyebabkan luka di permukaan tubuh ikan sehingga bakteri mudah masuk ke tubuh ikan dan menimbulkan infeksi. 
WAKTU HENTI CHLORAMPHENICOL PADA LOBSTER (Cherax quadricarinatus) AIR TAWAR Miftahul Jannah; Hari Suprapto; Kusnoto Kusnoto
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 5 No. 1 (2016): JAFH Vol. 5 No. 1 Februari 2016
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.319 KB) | DOI: 10.20473/jafh.v5i1.11319

Abstract

Permintaan yang tinggi oleh konsumen terhadap produk perikanan terutama lobster (Cherax quadricarinatus) air tawar dari tahun ketahun memacu perkembangan industri budidaya lobster yang sangat pesat. Namun dalam proses budidaya tersebut banyak sekali kendala yang muncul. Salah satu kendala yang umum dihadapi dalam budidaya ikan adalah adanya serangan penyakit yang dise- babkan oleh bakteri. Beberapa strategi pencegahan penyakit yang telah diaplikasikan dalam budida- ya lobster, salah satunya menggunakan antibiotik. Salah satu antibiotik yang sering digunakan pembu- didaya adalah Chloramphenicol. Pada Lobster, penggunaan Chloramphenicol dengan dosis tinggi akan menyebabkan resistensi terhadap bakteri patogen. Pelaksanaan penelitian di Laboratorium Pendidikan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ke- lautan, Universitas Airlangga dan Balai Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamana Hasil Peri- kanan Kelas I Surabaya II. Penelitian ini berlangsung pada bulan November 2013 sampai bulan Ja- nuari 2014. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui lama waktu henti obat yang diperlukanagar residu antibiotik Chloramphenicol yang terdapat pada Lobster (Cherax quadricarinatus) air tawar me- nurun hingga batas aman untuk dikonsumsi. Lobster yang diberi pakan dengan campuran chlo- ramphenicol dengan dosis 2g/kg pakan terdeteksi residu Chloramphenicol tertinggi sebanyak 31,962 ppb pada minggu pertama dan terjadi penurunan residu menjadi 3.53 ppb selama delapan minggu. 
RESPON HEMATOLOGIS IKAN KERAPU TIKUS (Cromileptes altivelis) PADA SUHU MEDIA PEMELIHARAAN YANG BERBEDA Reny Lidhia Widi Samsisko; Hari Suprapto; Setiawati Sigit
Journal of Aquaculture and Fish Health Vol. 3 No. 1 (2014): JAFH Vol. 3 No. 1 January 2014
Publisher : Department of Aquaculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1009.71 KB) | DOI: 10.20473/jafh.v3i1.13018

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu media pemeliharaan yang berbeda terhadap respon hematologis ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental yang terdiri dari tiga perlakuan yaitu, Kontrol (ikan dipelihara pada suhu ruangan 30oC), A (ikan dipelihara pada suhu 32oC) , dan B (ikan dipelihara pada suhu 34oC) dengan masing-masing perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) yang berukuran  10-15 cm sebanyak 72 ekor, air laut, pellet, EDTA, aquades, larutan Hayem’s, dan larutan Turk’s. Ikan kerapu tikus pada perlakuan A (32oC) dan B (34oC) mengalami stres dibandingkan dengan ikan Kontrol (30oC) yang ditandai dengan tingginya kadar glukosa darah hingga akhir pemeliharaan yaitu sebesar 80,7 mg/dL pada perlakuan A (32oC), 88 mg/dL pada perlakuan B (34oC). Nilai tertinggi total eritrosit adalah 2,86x106 sel/mm3 pada perlakuan A (32oC) dan 2,92x106 sel/mm3 pada perlakuanB (34oC); total leukosit sebesar 10,86x104 sel/mm3 pada perlakuan A (32oC) dan 10,93x104 sel/mm3 pada perlakuan B (34oC); persentase hematokrit sebesar 41,7% pada perlakuan A (32oC) dan 44% pada perlakuan B (34oC).
Karakteristik Hematologi Kerang Darah (Anadara granosa) Di Muara Sungai Ketingan, Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia Hari Suprapto; Yenta Kusuma Wardhani; Laksmi Sulmartiwi
Grouper: Fisheries Scientific Journal Vol 11, No 1 (2020): Grouper : Jurnal Ilmiah Fakultas Perikanan Universitas Islam Lamongan
Publisher : Universitas Islam Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30736/grouper.v11i1.60

Abstract

Bivalve dapat ditemukan dengan mudah dan berlimpah di sepanjang pantai, terutama di muara sungai Ketingan Sidoarjo. Secara umum bivalvia adalah indikasi yang tepat untuk pemantauan kesehatan dan keseimbangan ekosistem. Namun kondisi hematologis pada bivalve yang disebabkan oleh efek lingkungan masih terbatas. Dalam hal ini, hanya beberapa spesies bivalve yang memiliki eritrosit dan hemoglobin. Kerang Darah Tropis adalah spesies primer bivalve yang digunakan untuk mengetahui efek pencemaran lingkungan terhadap kondisi hematologi bivalve, selain kondisi fisiologis dan biokimia bivalvia (Eapen and Patel, 1989). Kerang darah (Anadara granosa) adalah salah satu dari sekitar 200 spesies dalam keluarga Arcidae yang memiliki darah di dagingnya atau sering disebut kerang darah (Gabriel, 2011). Warna merah terjadi karena adanya hemoglobin dalam darah. Kerang darah (Anadara granosa) menyebar di perairan tropis dengan kepadatan tinggi yang ditemukan di substrat daerah intertidal dalam bentuk lumpur halus yang berbatasan dengan hutan bakau (Ulysses et al., 2009). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik hematologi kerang darah (Anadara granosa) di muara sungai Ketingan, Sidoarjo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei muara sungai Ketingan secara langsung. Studi ini dimulai dari September 2016 hingga Februari 2017, dalam spesimen yang dipilih secara acak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa darah kerang diambil dari muara sungai Ketingan dan diklasifikasikan menjadi 4 kelompok dengan panjang (2,00 cm), (3,00 cm), (4,00 cm), (4,00 cm), (5,00 cm). Jumlah rata-rata sel darah merah adalah 1,41X109cell / ml, sel darah merah 3,48X106cell / ml. Kandungan hemoglobin (Hb) ditemukan dalam kisaran 3,25 hingga 7,87 gdL-1 dan terlihat meningkat dengan ukuran. Kecenderungan umum dalam hubungan antara parameter darah dan ukuran tubuh adalah bahwa semakin besar hewan, semakin tinggi nilai parameter hematologisnya.
Pemberian Vaksin Formalin Killed Cell (FKC) Vibrio alginolitycus untuk Meningkatkan Survival Rate (SR), Titer Antibodi dan Fagositosis Leukosit pada Kerapu Cantang (Epinephelus sp.) setelah Uji Tantang Bakteri Vibrio alginolitycus [Administration of Vaccine Formalin Killed Cell (FKC) Vibrio alginolyticus to Increase Survival Rate (SR), Antibody Titre, and Phagocytic Leukocytes Cantang Grouper (Epinephelus sp.) Against Bacteria Vibrio alginolitycus] Hari suprapto; Sudarno Sudarno; Nurul Qomariyah
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 9 No. 1 (2017): Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jipk.v9i1.7625

Abstract

                                                                AbstrakVaksinasi merupakan suatu upaya untuk menimbulkan ketahanan tubuh yang bersifat spesifik melalui pemberian vaksin. Vaksinasi digunakan untuk mencegah serangan penyakit infeksi serta efektif untuk mengontrol serangan penyakit ikan seperti bakteri V. alginolyticus. Pengamatan tingkat kelulushidupan (SR) dan pengukuran titer antibody merupakan pengukuran efektivitas vaksinasi, sedangkan tingkat kesehatan ikan dapat dilihat dari hematologi salah satunya adalah fagositosis leukosit. Tujuan dari penelitian ini Untuk mengetahui tingkat kelulushidupan, titer antibodi, dan indeks fagositosis leukosit benih ikan kerapu cantang yang divaksin dengan vaksin FKC bakteri Vibrio alginolyticus. Penelitian ini dilakukan di Balai Perikanan Budidaya Air Payau Situbondo, Jawa Timur. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap dengan lima perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah kontrol negatif, kontrol positif, 0,0125 mg/5 g BB ikan, 0,25 mg/ 5 g BB ikan, 0,5 mg/ 5 BB ikan. Analisis hasil menggunakan ANOVA dan dilanjutkan Uji Jarak Berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemberian vaksinasi memberikan pengaruh terhadap tingkat kelulushidupan (SR), titer antibody, dan indeks fagositosis benih ikan kerapu cantang. Jumlah tingkat kelulushidupan ikan kerapu cantang yang divaksinasi terbaik yaitu 70,0%, titer antibodi yang divaksinasi terbaik yaitu 298,67, dan indeks fagositosis yang terbaik yaitu 52,67%. Hasil penelitian dengan pemberian vaksin formalin killed cell (FKC) Vibrio alginolitycus dapat memberikan proteksi pada ikan dan penggunaan dosis yang berbeda mampu mempengaruhi tingkat kelulushidupan (SR), titer antibodi, dan indeks fagositosis                                                                AbstractVaccination is an attempt to give-specific endurance through vaccine. Vaccination is used to prevent infectious diseases and effective to control fish diseases such as bacterial attack V. alginolyticus. Observations survival rate (SR) and measurement of antibody titre is a measure of the effectiveness of vaccination, while the level of health of the fish can be seen from the hematology one of which is phagocytic leukocytes. The purpose of this research was to determine the effect of the vaccine Formaldehyde Killed Cell (FKC) Vibrio alginolitycus to increase survival rate (SR), antibody titre, and phagocytic leucocytes cantang grouper (Epinephelus sp.) This research used a completely randomized design with five treatments and three replications. The treatment used is the negative control, the positive control, 0.0125 mg / 5 g BB fish, 0.25 mg / 5 g BB fish , 0.5 mg / 5 BB fish. Analysis of the results using ANOVA and Duncan's Multiple Range Test continued. The results showed that the treatment of vaccination impact the survival rate (SR), antibody titre, and phagocytosis index cantang grouper seed. Total survival rate, antibody titre, and the best phagocytosis index cantang grouper with consecutive values as follows70,0%, 298,67, and 52,67%. This research that used the vaccine formaldehyde killed cells (FKC) Vibrio alginolitycus can provide protection to the fish and the use of different doses capable of affecting the survival rate (SR), antibody titre, and the index of phagocytosis
Prevalensi dan Derajat Infestasi Ektoparasit pada Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) di Tambak Intensif dan Tradisional di Kabupaten Gresik [ Prevalence and Degrees of Infestation Ectoparasite on White Shrimp (Litopenaeus vannamei) in Intensive and Extensive Cultivation System in Gresik] Gunanti Mahasri; Hari Suprapto; Abyan Farras
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 9 No. 2 (2017): Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jipk.v9i2.7640

Abstract

                                                          AbstrakUdang putih (Litopenaeus vannamei) adalah komoditas unggulan budidaya yang memiliki harga yang signifikan pada pasar di seluruh dunia. Sepenuhnya permintaan udang, perlu perhatian serius dalam pembenihan vaname, dengan bertujuan untuk mendapatkan panen maksimal dan dapat memenuhi kebutuhan pasar. Tujuan penelitian ini untuk menentukan prevalensi dan derajat infestasi, serta mengetahui perbedaan prevalensi dan derajat infestasi ektoparasit pada udang vaname sistem intensif dan tradisional. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode survei, yaitu metode pengamatan sistematis, faktual, dan akurat tentang fakta dan sifat populasi atau pada wilayah tertentu. Prevalensi ektoparasit yang menyerang udang putih di budidaya intensif 57,5% dan budidaya tradisional 56,6% dan dalam kategori sering (sering kali) tingkat infestasi rata - rata yang menginfeksi vaname putih dalam budidaya intensif adalah 76,56 (berat), sedangkan di budidaya tradisional adalah 43,78 (sedang). Hasil analisis data menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara prevalensi budidaya intensif dan tradisional (p> 0,05), terdapat perbedaan tingkat infestasi ektoparasit antara prevalensi budidaya intensif dan tradisional                                                             Abstract White shrimp (Litopenaeus vannamei) is a species of cultivation and have important value in the worldwide market.Tofully a demand of shrimp, need for serious treatment in prawn hatchery vaname, with the aim that gets the maximum harvest and can fulfill a need market. The aims of this research to determine the prevalence and degree of infestation, as well as know the difference prevalence and degree of infestation ectoparasite on shrimps vaname which are in intensive and extensive cultivation. The method used in this study using survey methods, that is methods to make observation systematical, factual, and accurate about the fact and the nature of the population or to a definite region. The prevalence of ectoparasite that infests white shrimp in intensive cultivation is 57,5% and in traditional cultivation is 56,6% and in category frequently (often times). The average degree of infestation that infects white vaname in intensive cultivation is 76,56 (heavy), while in the traditional cultivation is 43,78 (medium). The results analysis of the data show that there is no difference between the prevalence of intensive and traditional cultivation (p > 0,05), there was difference infestation degree of ectoparasite between the prevalence of intensive and traditional cultivation.
Isolasi dan Identifikasi Bakteri Kitinolitik yang terdapat pada Cangkang Lobster Air Tawar (Cherax Quadricarinatus) [Isolation and Identification of Chytinolitic Bacteria from The Crayfish (Cherax Quadricarinatus) Shell] Hari Suprapto; Sudarno Sudarno; Istikhara Mentari Tito
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 8 No. 1 (2016): JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jipk.v8i1.11186

Abstract

AbstrakIndonesia memiliki potensi perikanan yang sangat tinggi, salah satunya adalah lobster. Ekspor lobster air tawar cenderung meningkat tiap tahun. Total ekspor hasil lobster budidaya mencapai 94.511 ton/tahun. Pangsa pasar lobster air tawar tidak hanya terbatas di dalam negeri saja tetapi juga ke luar negeri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya bakteri kitinolitik dan juga jenis-jenis bakteri kitinolitik yang terdapat pada cangkang lobster air tawar. Penelitian ini menggunakan Penelitian ini menggunakan metode observasi untuk mengetahui adanya bakteri kitinolitik yang ada pada cangkang lobster air tawar. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah secara deskriptif. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif yaitu penyajian data tentang morfologi dan karakteristik dari bakteri kitinolitik yang diisolasi dari cangkang lobser air tawar (Cherax quadricarinatus) dan dibandingkan dengan morfologi dan karakteristik bakteri kitinolitik dengan literatur yang sesuai. Hasil penelitian ini adalah diperoleh bahwa bakteri yang diisolasi dari cangkang lobster air tawar (Cherax quadricarinatus) dapat tumbuh dan berkembang pada media uji. Kemudian hasil uji hidrolisis bakteri kitinolitik ditandai dengan adanya zona bening yang dihasilkan dari bakteri tersebut. Dari hasil pengujian tersebut didapatkan jenis – jenis bakteri yaitu Aeromonas sp., Bacillus sp. dan Pseudomonas sp. AbstractIndonesia have highest potential of fishery. One of them is Lobster. It has increasing slightly, approximately 94.511 ton/years. The aims this research to determine the presence of chitinolytic bacteria and identify its species in crayfish shells. This research was performed via observation method to determine the presence of chitinolytic bacteria, which are exist in crayfish (cherax quadricarinatus) shell. The data used in this research is descriptive. The data descriptively analyzed represented the morphology and characteristics of chitinolytic bacteria isolated from crayfish (Cherax quadricarinatus) and comparison the morphology and characteristics of chitinolytic bacteria with appropriate literature. These results obtained that the bacteria isolated from crayfish (Cherax quadricarinatus) shell can grow and develop in the test medium. Then, chitinolytic activity was signed by the formation of clear zone on the test medium. The results obtained several bacterium species including Aeromonas sp., Bacillus sp. and Pseudomonas sp.