Desa Doplang di Kabupaten Semarang memiliki potensi besar pada komoditas bunga sedap malam, namun pemanfaatannya selama ini terbatas pada produk hias dengan nilai ekonomi rendah. UMKM setempat menghadapi kendala inovasi produk, akses pasar, dan kelembagaan ekonomi yang lemah. Program pengabdian multi-tahun sebelumnya (2023–2024) telah menghasilkan pelatihan dasar dan diversifikasi produk awal, tetapi aspek keberlanjutan kelembagaan, penerapan teknologi hemat sumber daya, dan strategi branding desa wisata belum terwujud optimal. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan transformasi UMKM Desa Doplang pada tahun 2025 sebagai puncak program pemberdayaan melalui penguatan koperasi digital, pengembangan produk wellness, dan inovasi IoT smart watering. Kegiatan dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif melibatkan UMKM, PKK, Karang Taruna, Pokdarwis, dan BumDes, melalui tahapan sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan, dan evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan terbentuknya koperasi digital SIRATIH dengan anggota awal pelaku UMKM desa sebagai wadah distribusi dan transaksi kolektif, peluncuran tiga produk wellness baru (lilin aromaterapi, body butter, dan lulur) yang memperluas portofolio UMKM, serta implementasi prototipe IoT smart watering yang mampu mengurangi penggunaan air hingga sekitar 20% pada lahan uji coba. Selain itu, booklet promosi wisata Jendela Doplang diterbitkan untuk memperkuat citra desa sebagai destinasi wisata berbasis wellness. Program ini membuktikan bahwa integrasi kelembagaan digital, inovasi produk, dan penerapan teknologi tepat guna mampu memperkuat daya saing UMKM sekaligus mendorong keberlanjutan ekonomi lokal. Implikasi lebih luas dari program ini adalah perlunya dukungan lintas sektor untuk mempercepat sertifikasi produk dan replikasi model ke desa lain yang memiliki potensi serupa.