Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search
Journal : Sintesis

D. N. AIDIT, SASTRA, DAN GELIAT ZAMANNYA Taum, Yoseph Yapi
Sintesis Vol 7, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v7i1.972

Abstract

D. N. Aidit merupakan salah satu pemimpin PKI terpenting dalam sejarah organisasi tersebut. Menurut Hindley (1962: 409), ada tiga periode sejarah PKI yang menarik untuk diperhatikan. Periode I (1920 1927) adalah periode tujuh tahun pertama sampai dengan kegagalan dalam perang 1927. Pada masa ini, aktivitas-aktivitas komunis dipandang sebagai aksi ilegal atau aksi teroris oleh penguasa kolonial. Periode II (1945 1948) adalah periode tiga tahun, sejak kemerdekaan RI sampai dengan September 1948 yaitu masa kegagalan kudeta di Madiun. Periode III (1951-1965) adalah periode sebelas tahun masa kepemimpinan Aidit yang mengontrol partai secara penuh. Jumlah penganut komunis bertumbuh pesat, terutama di bawah kepemimpinan D. N. Aidit. Tidak banyak yang mengenal Aidit sebagai seorang penyair. Tulisan ini bermaksud merunut dan mengungkap puisi-puisi Aidit dari segi struktur maupun gagasangagasannya dalam geliat zamannya untuk memaparkan wajah lain tokoh pengkhianat itu.Kata kunci : Partai Komunis Indonesia (PKI), Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), formasidiskursif, geliat zaman.
IMPALA-IMPALA HINDIA IMPERIAL JATHEE DALAM PERSPEKTIF POSTKOLONIAL HOMI K. BHABHA Taum, Yoseph Yapi
Sintesis Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v11i2.1730

Abstract

Novel Impala-Impala Hindia karya Imperial Jathee mengungkapkan banyak kisah mengenai kehidupanpada zaman kolonialisme Belanda. Kedudukan tokoh utamanya, Maon, ambigu: dia seorangnasionalis tetapi sekaligus merupakan pegawai Belanda. Dia mau memperjuangkan kemerdekaanbangsanya, tetapi juga menyadari peran konstruktif penjajah Belanda. Persoalan yang diangkatdan dibahas dalam tulisan ini berkaitan dengan persoalan postkolonialisme menurut perspektif HomiK. Bhabha. Hasil kajian menunjukkan bahwa Novel Impala-Impala Hindiamerupakan sebuah karyayang bercerita tentang situasi kolonial Belanda di Hindia Belanda pada masa dua puluh tahun.Studi ini membuktikan bahwa novel ini memberikan ruang ambang, ruang liminal, ruang ketigatempat isu-issu kolonial bertemu dan bernegosiasi. Novel ini mengungkapkan keempat persoalanyang dikemukakan Bhabha: stereotipe, ambivalensi, mimikri, dan hibriditas.
KEKERASAN DALAM NOVEL LOLONG ANJING DI BULAN KARYA ARAFAT NUR: PERSPEKTIF JOHAN GALTUNG Sunarto, Scolastika Elsa Resty; Taum, Yoseph Yapi; Adji, Susilawati Endah Peni
Sintesis Vol 15, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v15i2.3816

Abstract

ABSTRAKPenulis menggunakan paradigma Werren dan Wellek yang membagi penelitian sastra atas dua pendekatan, yaitu pendekatan intrinsik dan ekstrinsik. Pendekatan intrinsik digunakan untuk menganalisis struktur cerita dalam Novel Lolong Anjing di Bulan karya Arafat Nur. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode analisis data, deskriptif kualitatif, dan teknik pengumpulan data menggunakan teknik simak catat, dan studi pustaka. Hasil analisis struktur intrinsik pembangun cerita yang terdiri atas alur, tokoh dan penokohan, serta latar dalam Novel Lolong Anjing di Bulan karya Arafat Nur adalah sebagai berikut. Alur dalam novel terbagi atas (1) peristiwa, (2) konflik, dan (3) klimaks. Tokoh dan penokohan terbagi atas (1) tokoh utama, (2) tokoh tambahan. Latar terbagi atas (1) latar tempat, (2) latar waktu, dan (3) latar sosial. Hasil dari penelitian bentuk-bentuk kekerasan sebagai berikut. Kekerasan yang terdapat dalam novel dibagi menjadi tiga, yaitu kekerasan langsung, kekerasan struktural, dan kekerasan budaya. Kekerasan langsung dalam penelitian ini masih dibagi lagi menjadi tiga, yaitu (1) kekerasan langsung terhadap tokoh utama, (2) kekerasan langsung terhadap rakyat Aceh, dan (3) kekerasan langsung terhadap perempuan. Dalam kekerasan struktural, pemerintah menjadi penggerak terjadinya peristiwa kerusuhan di Aceh. Pemerintah melalui kebijakankebijakannya telah membuat alam di Aceh terkuras, rakyat Aceh yang berjuang untuk merebut kembali juga mendapatkan penindasan dari tentara suruhan pemerintah, dan kekerasan budaya dalam penelitian ini juga masih dibagi lagi menjadi tiga, yaitu (1) Gerakan Aceh Merdeka, (2) Ideologi Islam, dan (3) kekerasan terhadap perempuan. Kata Kunci: Kekerasan Langsung, Kekerasan Struktural, Kekerasan Budaya, Johan Galtung, Deskriptif Kualitatif ABSTRACTThe author uses Werren and Wellek's paradigm which divides literary research into two approaches, namely intrinsic and extrinsic approaches. An intrinsic approach is used to analyze the structure of the story in Arafat Nur's Lolong Dog di Bulan Novel. In this study, researchers used data analysis methods, qualitative descriptive, and data collection techniques using note-taking techniques, and literature study. The results of the analysis of the intrinsic structure of the story builder consisting of plot, characters and characterizations, as well as the setting in Arafat Nur's Lolong Dog di Bulan Novel are as follows. The plot in the novel is divided into (1) events, (2) conflict, and (3) climax. Characters and characterizations are divided into (1) main character, (2) additional character. The setting is divided into (1) place setting, (2) time setting, and (3) social setting. The results of the research on forms of violence are as follows. The violence contained in the novel is divided into three, namely direct violence, structural violence, and cultural violence. Direct violence in this study is further divided into three, namely (1) direct violence against the main character, (2) direct violence against the people of Aceh, and (3) direct violence against women. In structural violence, the government became the driving force behind the riots in Aceh. The government through its policies has depleted nature in Aceh, the Acehnese who are struggling to reclaim it have also received oppression from government troops, and cultural violence in this study is still further divided into three, namely (1) the Free Aceh Movement, (2) Ideology Islam, and (3) violence against women. Keywords: Direct Violence, Structural Violence, Cultural Violence, Johan Galtung, Qualitative Descriptive
GAIRAH UNTUK HIDUP DAN GAIRAH UNTUK MATI: PEMBACAAN SIMPTOMATIK ATAS WASIAT KEMUHAR KARYA PION RATULOLY Yoseph Yapi Taum
Sintesis Vol 9, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v9i1.1025

Abstract

Makalah ini membahas Kumpulan Cerpen Wasiat Kemuhar karya seorang sastrawan muda NTT, Pion Ratuloly (2015). Melalui pembacaan simptomatik, makalah ini mengungkapkan dua aspek penting dalam kumpulan cerpen Wasiat Kemuhar, yakni: pembacaan struktur penceritaan (atau puitika) dan dilanjutkan dengan pembacaan tema-tema penting cerpen-cerpen Pion Ratulolly.Struktur penceritaan cerpen-cerpen Pion ditandai dengan kentalnya aroma puisi, kelenturan perpindahan sudut pandang, dan dominannya adegan-adegan dramtis. Tema-tema pokok cerpencerpen Pion adalah: territorial imperative, membongkar kemunafikan, membela yang lemah, dan gambaran tentang Lamalera, Lamahala, dan Laut.Kata kunci: insting hidup, insting mati, kemunafikan, territorial imperative.
TRAGEDI 1965 DALAM KARYA-KARYA UMAR KAYAM: PERSPEKTIF ANTONIO GRAMSCI Yoseph Yapi Taum
Sintesis Vol 8, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v8i1.1015

Abstract

Umar Kayam adalah salah satu cendekiawan dan sastrawan besar Indonesia yang memiliki perhatian istimewa terhadap Tragedi 1965 dalam karya-karyanya. Sekalipun dengan sikap yang berbeda, sepanjang periode pemerintahan Orde Baru, Umar Kayam secara konsisten menghasilkan karya sastra yang mempersoalkan Tragedi 1965. Ditinjau dari segi relasi kekuasaan, sikap Umar Kayam bermula dengan perlawanan humanistik, kemudian perlawanan pasif (pasrah), dan pada akhirnya dia berubah mendukung sikap dan kebijakan pemerintah. Dari dengan perspektif Gramsci, dapat disebutkan bahwa Umar Kayam merupakan seorang cendekiawan dan sastrawan besar yang berkembang menjadi intelektual organik Orde Baru.Kata kunci : Hegemoni, Tragedi 1965, Kekuasaan, Orde Baru
PEMBELAJARAN SASTRA BERBASIS TEKS: PELUANG DAN TANTANGAN KURIKULUM 2013 Yoseph Yapi Taum
Sintesis Vol 11, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v11i1.928

Abstract

Pembelajaran sastra dalam kurikulum 2013 merupakan bagian dari pembelajaran bahasa. Pembelajaran Bahasa, sebagaimana pembelajaran mata pelajaran lainnya dicanangkan sebagai pembelajaran berbasis teks. Teks merupakan ungkapan pikiran manusia yang lengkap yang di dalamnya memiliki situasi, tujuan, dan konteks. Melalui pembelajaran berbasis teks yang diterapkan dalam Kurikulum 2013, siswa dibiasakan membaca dan memahami teks serta meringkas dan menyajikan ulang dengan bahasa sendiri. Siswa dibiasakan pula menyusun teks yang sistematis, logis, dan efektif melalui latihan-latihan penyusunan teks. Untuk itu, siswa dikenalkan dengan aturanaturan teks yang sesuai sehingga tidak rancu dalam proses penyusunan teks (sesuai dengan konteks). Metode pembelajaran semua mata pelajaran menurut Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan saintifik. Pendekatan pembelajaran saintifik merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang menekankan pentingnya penggunaan proses berfikir ilmiah (menalar) sesuai dengan tingkat perkembangan anak.3 Selain memiliki keunggulan, pendekatan ini memiliki keterbatasan, terutama jika diaplikasikan secara mekanistik dalam pembelajaran sastra. Makalah ini membahas peluang dan tantangan pembelajaran sastra berbasis teks, sebagaimana dimaksud oleh Kurikulum 2013.Kata kunci: kurikulum 2013, pendekatan saintifik, pendekatan humanistik.
KONSEP-KONSEP REALISME SOSIALIS DALAM DUA NASKAH DRAMA KARYA UTUY TATANG SONTANI: PERSPEKTIF SOSIOLOGI GEORG LUKACS Michael Yuan Nora; Yoseph Yapi Taum; Susilawati Endah Peni Adji
Sintesis Vol 16, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v16i1.4481

Abstract

Penelitian ini menganalisis konsep-konsep Realisme Sosialis dua naskah drama karya Utuy T. Sontani menggunakan perspektif sosiologi Georg Lukacs. Penelitian ini menggunakan dua pendekatan, pendekatan objektif untuk mengkaji struktur karya sastra yang berupa alur dan tokoh-penokohan dan pendekatan memetik menggunakan teori realisme sosialis Georg Lukacs untuk mengkaji konsep-konsep realisme sosialis yang terkandung dalam dua naskah drama. Metode dan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi pustaka dan teknik catat. Metode analisis data yang digunakan adalah metode deskriptif-analisis. Metode penyajian data yang digunakan adalah metode deskripsi kualitatif. Lukacs membagi realisme sosialis menjadi tiga konsep, konsep realitas objektif, refleksi artistic atas realitas, dan ungkapan kritis emansipatoris. Hasil analisis kedua naskah drama ditemukan   persamaan konsep Realitas Objektif yaitu, nasib tragis orang miskin. Persamaan konsep Refleksi Kritis Atas Realitas yaitu, realita masyrakat yang masih terbelenggu kemiskinan dan kelas sosial. Sementara persamaan konsep Ungkapan Kritis Emansipatoris yaitu, adanya upaya atau gerakan pembebasan yang dilakukan kedua perempuan tokoh utama (Ani dan Mira) dari belenggu yang akhirnya mereka sadari.    
STRUKTURALISME LEVI-STRAUSS SEBAGAI PARADIGMA PENYELESAIAN KONFLIK: STUDI KASUS DUA LEGENDA RAKYAT NUSANTARA Yoseph Yapi Taum
Sintesis Vol 8, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v8i2.1022

Abstract

Claude Lvi-Strauss (1908-2009) adalah pakar strukturalisme terkemuka yang percaya bahwa struktur pemikiran manusia purba (savage mind) sama dengan struktur pemikiran manusia modern (civilized mind) karena sifat dasar manusia sebenarnya sama. Berbagai tradisi lisan, khususnya mitos, memiliki kualitas logisdan bukan estetis, psikologis, ataupun religius. Mitos adalah sebuah dunia yang kontradiktif. Dalam mitos seolah-olah tidak ada logika dan tidak ada kontinuitas. Hakikat mitos adalah sebuah alat logis sebagai upaya untuk mencari pemecahan terhadap kontradiksi-kontradiksi empiris yang dihadapi masyarakat dan yang tidak terpahami oleh nalar manusia. Dengan memahami satuan-satuan naratif (mitheme), pembagian adegan-adegan cerita, dan identifikasi episode-episode cerita, analisis struktururalisme Levi-Strauss dapat menemukan logika di balik mitos tertentu. Karena itulah, bagi Levi-Strauss sastra lisan dan mitos memiliki pesan-pesan kultural terhadap anggota masyarakat.Kajian yang bersifat akademis terhadap persoalan-persoalan masyarakat, termasuk fenomena tradisi lisan, memerlukan landasan teoretis yang memadai. Tulisan ini bermaksud memperkenalkan teori Strukturalisme Levi-Strauss sebagai sebuah paradigma akademis dalam memahami fenomena sastra lisan sebagai sarana penyelesaian konflik-konflik empiris dalam masyarakat. Untuk itu, tulisan ini mengulas dua buah cerita rakyat, yaitu cerita Wato Wele-Lia Nurat (masyarakat Lamaholot Flores Timur) dan legenda Suku Tengger (Bromo, Jawa Timur). Melalui perspektif Levi-Strauss, dapat dipahami bahwa legenda-legeda tersebut merupakan alat logika yang dipergunakan masyarakatnya untuk menyelesaikan kontradiksi-kontradisi empiris yang mereka hadapi.Kata kunci: strukturalisme, konflik empiris, pesan kultural
IDEOLOGI DAN APARATUS NEGARA DALAM TIGA CERPEN KARYA PUTU WIJAYA : PERSPEKTIF LOUIS ALTHUSSER Atria Graceiya; Yoseph Yapi Taum; Susilawati Endah Peni Adji
Sintesis Vol 15, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v15i2.3119

Abstract

ABSTRAK Artikel ini membahas ideologi dan aparatus negara dalam tiga cerpen karya Putu Wijaya. Penelitian ini menggunakan paradigma Abrams, yaitu pendekatan objektif dan pendekatan diskurtif. Pendekatan objektif digunakan untuk menganalisis unsur-unsur intrinsik tiga cerpen Putu Wijaya. Pendekatan diskurtif digunakan untuk membongkar ideologi dengan perspektif ideologi Louis Althusser. Pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka dengan mengandalkan jenis data kualitatif. Hasil penelitian ini menujukkan bahwa bentuk ideologi dan aparatus negara yang ditemukan beragam, yakni (1) tiap tokoh utama direpresentasikan hal-hal yang melekat pada permasalah tokoh utama; (2) ada interpelasi pada tokoh utama agar diakui sebagai subjek; (3) bentuk ideologi yang ditemukan yakni ideologi dominan, ideologi terkungkung, ideologi bebas, ideologi resistensi, dan ideologi tengah terdapat di dalamnya; (4) aparatus ideologi negara (ISA) mendominasi dalam tiga cerpen karya Putu Wijaya.Kata Kunci: ideologi, aparatus negara, Putu Wijaya, Althusser ABSTRACT This article discusses ideology and the state apparatus in three short stories by Putu Wijaya. The study employs the Abrams paradigm, namely an objective and discursive approach. This study applies an objective approach to analyzing the intrinsic elements of three short stories by Putu Wijaya. A discursive approach is used to dismantle ideology with the ideological perspective of Louis Althusser. Qualitative data were collected using library research method. The results of this study show that ideology and state apparatus are represented in a variety of ways; first, each main character is represented by the problems he experiences; second, there is an interpellation on the main character to be recognized as subject; third, the ideological forms found are dominant ideology, confined ideology, free ideology, ideological resistance, and central ideology; last, the ideological state apparatuses are prominent in three of Putu Wijaya's short stories..Keywords: ideology, state apparatus, Putu Wijaya, Althusser
STRATEGI DOMINASI DALAM NOVEL MARYAM KARYA OKKY MADASARI: PERSPEKTIF PIERRE BOURDIEU Maria Novenia; Yoseph Yapi Taum; Susilawati Endah Peni Adji
Sintesis Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Sanata Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24071/sin.v13i2.2298

Abstract

Penelitian ini menganalisis tentang jejaring sosial dan kajian alur menurut teori Franco Moretti serta analisis strategi dominasi menurut perspektif Pierre Bourdieu dalam novel Maryam karya Okky Madasari. Hasil analisis pendekatan objektif, yakni jejaring sosial dan kajian alur adalah sebagai berikut. Dalam novel Maryam, terdapat empat simpul yang memiliki relasi aktif dan intens, yakni Maryam, Pak Khairuddin, Umar, dan Zulkhair. Empat simpul tersebut membentuk jaringan sosial dan relasi (tepi) yang berbeda-beda. Alur dalam novel Maryam menggunakan alur campuran, karena cerita tidak berurutan dan sering menceritakan masa lampau. Hasil analisis pendekatan diskursif tentang strategi dominasi memperlihatkan lima kesimpulan sebagai berikut. 1) Perbedaan kelas dalam novel Maryam terbagi menjadi tiga, yakni kelas dominan, kelas borjuasi baru, dan kelas borjuasi kecil. 2) Modal ekonomi, sosial, dan simbolik kelompok Ahmadiyah lebih besar daripada kelompok Islam. Akan tetapi, modal budaya (agama) kelompok Islam lebih kuat. 3) Arena dalam novel Maryam adalah arena agama dan arena ekonomi. 4) Dominasi simbolik dilakukan kelompok Islam dalam bentuk poligami. 5) Kelompok Ahmadiyah yang termasuk kelas dominan justru mengalami dominasi karena dalam arena agama mereka termasuk dalam kelompok minoritas dan dianggap sesat.