Afrizal Nur Afrizal Nur
Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Published : 19 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Penafsiran Surat Al Qadar Dengan Corak Al Adabiy Wal Ijtma'iy Muhammad Aulia; Kadar M. Yusuf; Afrizal Nur
Journal of Islamic Law El Madani Vol. 3 No. 1 (2023)
Publisher : Yayasan Marwah Madani Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55438/jile.v2i2.94

Abstract

Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui; 1) Untuk mengetahui Penafsiran Surat Al Qadar dengan Corak Al Adabiy Wal Ijtima’iy; 2) Untuk mengetahui relevansi Penafsiran Surat Al Qadar dengan Corak Al Adabiy Wal Ijtima’iy pada masa kini. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang didesain dalam bentuk penelitian kepustakaan atau Library research. Objek penelitian ini adalah Al-Qur’an. Sejalan dengan itu, maka metode penelitian yang digunakan adalah metode tafsir Maudu'i . Sumber primer adalah Al-qur’an dan sumber-skundernya adalah tulisan yang berhubungan dengan penelitian penulis. Sedangkan teknik analis datanya yang digunakan adalah, Pertama, memilih istilah-istilah kunci (key terms) dari vocabulary Al-Qur’an dalam menjelaskan tentang potensi manusia. Kedua, menentukan makna pokok (basic meaning) dan makna nasabi (relational meaning), Ketiga, menyimpulkan dan menyatukan konsep-konsep itu ke dalam satu konsep umum. Adapun hasil penelitian ini yaitu; 1) Penafsiran Surat Al Qadar dengan Corak Al Adabiy Wal Ijtima’iy adalah Pertama, penetapan. Malam al-Qadr adalah malam penetapan Allah atas perjalanan hidup makhluk selama setahun. Kedua, pengaturan. Yakni pada malam turunnya al-Qur’an, Allah Swt mengatur khittah atau strategi bagi Nabi-Nya Muhammad Saw guna mengajak manusia kepada kebijakan. Ketiga, kemuliaan. Bahwa sesungguhnya Allah telah menurunkan al-Qur’an pada malam yang mulia. Malam tersebut menjadi mulia, karena kemuliaan al-Qur’an. Sebagaimana Nabi Muhammad Saw mendapat kemulian dengan wahyu yang beliau terima. Keempat, sempit. Yakni pada malam turunnya al-Qur’an malaikat begitu banyak yang turun sehingga bumi menjadi penuh sesak bagaikan sempit. 2) Adapun relevansi Penafsiran Surat Al Qadar dengan Corak Al Adabiy Wal Ijtima’iy yaitu dalam bentuk ibadah dan memperbanyak amalan kebaikan seperti, Iktikaf, Perbanyak membaca al-Quran, Menunaikan Shalat malam, Bersedekah, Berdoa, Perbanyak Taubat.
Rekonsilisasi Praktik Sholat: Muhammadiyah dan Nahdhotul Ulama dalam Dinamika Nusantara Rozi, Khoirul; Hasbi, Ridwan; Nur, Afrizal; Wahid, Annur
Jurnal An-Nur Vol 13, No 1 (2024): Jurnal An-Nur Juni 2024
Publisher : UIN SUSKA RIAU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nur.v13i1.28178

Abstract

Umat Islam di nusantara terkenal dengan kemajmukannya dalam banyak aspek, persoalan agama bukan persoalan biasa tapi berkaitan dengan sebuah praktik yang dapat memicu disharmonis. Tulisan ini  merupakan sebuah studi pustaka yang berdasarkan pada observasi dan literatur rivew. Demi terwujudnya kerukunan dalam praktik ibadah tanpa sikut menyikut suatu kelompok terhadap kelompok lainya . rekonsilisasi antara dua muhammadiyah dan nahdhotul ulama (NU) merupakan dorongan dari cinta terhadap sesama berlandaskan ungkapan alquran bahwa korelasi sesama mukmin adalah ukhuwwah.
STUDI APLIKASI METODE KEMIRIPAN REDAKSI PERSPEKTIF FADEL SALEH AS SAMARRAI: Tafsir Surah Al-Tin Rahman, Syahrul; Nur, Afrizal; Abrar, Arsyad
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 21 No. 2 (2022): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.476 KB) | DOI: 10.30631/tjd.v21i2.264

Abstract

This article intends to explain how Fadel as Samarrai applies the al Tasyabuh wa al ikhtilaf method in interpreting surah at-Tin in his book Ta'bir al Qurany. Fadel as Samarrai is a contemporary Arabic language expert who actively teaches on campus and social media. This literature study employs a descriptive analysis method and a historical-philosophical approach. This study shows that the book at Ta'bir al Qurany predominantly used the tafsir bi arra'yi method, which is very strong with the nuances of its lughawi interpretation. This study concludes, first, that the al Tasyabuh wa al ikhtilaf method tends to use the method of interpreting the Qur’an with the Qur’an. For example, as Samarrai interprets verse 6 of surah at Tin by referring to verse 3 of surah al-Asr and also explains the editorial of verse 25 of al Insyiqaq. Second, the al Tasyabuh wa al ikhtilaf method tends to accommodate many verse meanings. Third, the more observant and thorough a mufassir looks at the similarity of the editorial of a verse, the more linguistic secrets are opened that may be closed to others. The more the similarity in the editorial side of the verses of the Qur’an is ignored, the more negative stigma towards the language of the Qur’an is opened. Artikel ini bermaksud menjelaskan bagaimana Fadel as Samarrai mengaplikasikan metode al Tasyabuh wa al ikhtilaf (persamaan dan perbedaan redaksi ayat) dalam menafsirkan surah at-Tin dalam kitabnya Ta’bir al Qurany. Fadel as Samarrai adalah seorang pakar bahasa Arab kontemporer yang aktif mengajar di kampus dan juga aktif di media social. Penelitian ini merupakan studi literatur yang menggunakan metode deskriptif analisis dan pendekatan historical-filosofi. Penelitian ini menunjukkan bahwa kitab at Ta’bir al Qurany secara dominan menggunakan metode tafsir bi arra’yi yang sangat kuat dengan nuansa tafsir lughawinya. Penelitian ini menyimpulkan, pertama siapapun yang menerapkan metode at Tasyabuh wa al ikhtilaf cenderung menggunakan metode penafsiran al Quran dengan al Quran. Contohnya, as Samarrai menafsirkan ayat 6 surah at Tin dengan merujuk ayat 3 surah al Ashr dan juga menjelaskan redaksi ayat 25 al Insyiqaq, analisa as Samarrai menyimpulkan bahwa perbedaan redaksi ayat sejalan dengan konteks surah.  Kedua, menggunakan metode at Tasyabuh wa al ikhtilaf cenderung mengakomodir banyak makna ayat. Ketiga, semakin jeli dan teliti seorang mufassir melihat sisi kemiripan redaksi satu ayat, semakin terbuka rahasia-rahasia kebahasaan yang mungkin tertutup untuk orang lain. Semakin diabaikan sisi kemiripan redaksi ayat al Quran semakin terbuka hadirnya stigma negatif terhadap bahasa al Quran.
Implementasi Nagham dalam Seni Tilawah Al-Qur’an di Pesantren Al-Muhsinin Kec. Rimba Melintang Fatimah, Fatimah; Nur, Afrizal
Al-Muhith: Jurnal Ilmu Qur'an dan Hadits Al-Muhith Vol. 4, No. 1 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/am.v4i1.5168

Abstract

Latar belakang penelitian ini muncul dari kebutuhan untuk mengembangkan metode efektif dalam pembelajaran seni tilawah Al-Qur'an, terutama penggunaan nagham sebagai teknik memperindah bacaan. Di Pesantren Al-Muhsinin, kegiatan seni tilawah menjadi salah satu program unggulan yang tidak hanya ditujukan untuk kompetisi Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ), tetapi juga sebagai sarana mendekatkan santri dengan Al-Qur'an secara spiritual dan emosional. Namun, sebagian santri masih mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan nagham, terutama pemula. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan pembelajaran nagham serta bagaimana implementasinya dalam praktik tilawah Al-Qur'an di pondok pesantren tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif, melalui teknik pengumpulan data observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode halaqah sangat efektif dalam mengajarkan seni tilawah. Metode ini memperkuat hubungan antara guru dan santri, mempermudah penyampaian materi, dan menciptakan lingkungan belajar yang harmonis. Implementasi nagham terbukti meningkatkan kualitas bacaan, kepercayaan diri, serta semangat santri dalam berlatih. Selain itu, pembelajaran nagham juga memberikan dampak sosial positif, di mana santri yang mahir menjadi teladan di masyarakat dan berperan sebagai pengajar tilawah di lingkungannya. Keseluruhan proses ini menunjukkan bahwa pembelajaran seni tilawah berbasis nagham dapat dijadikan model pembinaan keagamaan yang efektif.
Islam dan Kepemimpinan Perempuan: Prototipe Leadership Ratu Balqis Perspektif Tafsir Al-Azhar Setiawati, Poppy; Nur, Afrizal; Khairiah, Khairiah; Amin, Saidul
Al-Qudwah Vol 2, No 2 (2024): December
Publisher : UIN Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/alqudwah.v2i2.27172

Abstract

Women's leadership remains a subject of debate within the Islamic world, leading to various movements advocating for women's rights to be equal to men's. On the other hand, the perception that women prioritize emotions over logic has contributed to the notion that women are unsuitable for leadership roles. However, in reality, many women have proven themselves capable of leading institutions, organizations, and even nations. The Qur'an narrates a story of female leadership through the figure of Queen Balqis, who ruled the kingdom of Saba'. The purpose of this article is to explore the leadership prototype of Queen Balqis as depicted in Buya Hamka's Tafsir Al-Azhar. This research is a library-based study, with the primary data source being the Tafsir Al-Azhar, as well as secondary sources, including books and articles relevant to the research. The results of this study reveal that, from Hamka's perspective, Queen Balqis' leadership prototype embodies several key characteristics that are both relevant and valuable in the context of modern leadership. Analysis of Hamka's works, particularly Tafsir Al-Azhar, reveals that Queen Balqis possessed the following leadership qualities: first, wisdom and democracy. Hamka highlights how Queen Balqis demonstrated intelligence and wisdom in leading her people. Her decision to test the wisdom of Prophet Solomon by sending gifts reflects her ability to think democratically. Second, a diplomatic and peace-loving leader, Hamka, emphasizes that diplomacy is evident when a leader skillfully influences their followers to accept desired agreements and negotiations. Third, an intelligent and meticulous leader: Queen Balqis is portrayed as a smart, quick-thinking, cautious, and meticulous leader in making decisions. These three qualities in Queen Balqis make her a worthy role model for female leaders today.Abstrak: Kepemimpinan wanita masih menjadi suatu perdebatan dalam dunia Islam, akibatnya banyak timbul gerakan-gerakan yang menjunjung hak-hak wanita agar bisa disetarakan dengan laki-laki. Di sisi lain karakter wanita yang mengedepankan rasa dari pada logika membuat wanita seakan tidak layak menjadi pemimpin. Padahal kenyataannya banyak perempuan mampu menjadi pemimpin di suatu lembaga, organisasi bahkan negara. Di dalam Al-Qur’an terdapat kisah tentang kepemimpinan wanita yaitu kepemimpinan Ratu Balqis yang memimpin sebuah negeri bernama Saba’. Tujuan artikel ini untuk mengetahui prototipe leadership Ratu Balqis dalam Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka. Jenis penelitian ini merupakan penelitian pustaka, data primer dalam penelitian ini adalah kitab Tafsir Al-Azhar, sedangkan data sekunder adalah buku-buku dan artikel yang relevan dengan penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prototipe kepemimpinan Ratu Balqis dalam perspektif Hamka mencerminkan beberapa karakteristik utama yang relevan dan berharga dalam konteks kepemimpinan modern. Analisis terhadap karya-karya Hamka, terutama tafsir Al-Azhar, mengungkapkan bahwa Ratu Balqis memiliki sifat-sifat kepemimpinan berikut: pertama, kebijaksanaan dan demokratis: Hamka menyoroti bagaimana Ratu Balqis menunjukkan kecerdasan dan kebijaksanaan dalam memimpin rakyatnya. Keputusan Balqis untuk menguji kebijaksanaan Nabi Sulaiman dengan mengirimkan hadiah menunjukkan kemampuannya untuk berpikir demokratis. Kedua, pemimpin yang diplomatis dan cinta damai, diplomasi seorang pemimpin dapat dilihat ketika ia pandai mempengaruhi orang-orang yang dipimpin supaya bisa menerima suatu kesepakatan dan perundingan yang diinginkan. Ketiga, pemimpin yang cerdas dan teliti, Ratu Balqis adalah pemimpin yang cerdas, berpikir cepat, bersikap hati-hati dan teliti dalam memutuskan suatu perkara. Tiga kriteria tersebut ada dalam diri Ratu Balqis yang layak dijadikan role model oleh para pemimpin perempuan saat ini.
Qur’anic Ecotheology and the Ethics of Forest Protection in Indonesia Nur, Afrizal; bin Husin, Hayati; Alwizar; Yasir, Muhammad
Jurnal Studi Ilmu-ilmu Al-Qur'an dan Hadis Vol. 26 No. 2 (2025): Juli
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/qh.v26i2.6312

Abstract

Indonesia’s alarming rate of forest degradation, amounting to approximately 1.45 million hectares lost in the past five years, has far-reaching ecological, climatic, and socio-cultural consequences. Beyond the environmental dimension, this crisis raises profound theological concerns, especially within the Islamic worldview, which frames human beings as khalifah (stewards) entrusted with preserving the Earth. The Qur’an emphasizes the importance of ecological balance (mīzān) and explicitly condemns destruction (fasād) on Earth, suggesting that environmental care is a moral and spiritual obligation. This study explores the relevance of Islamic Eco theological principles to Indonesia’s Law No. 18 of 2013 on the Prevention and Eradication of Forest Destruction. Using a hermeneutic analysis of selected Qur’anic verses (Al-Baqarah [2]:164, Al-Aʿrāf [7]:56, and Al-Aḥzāb [33]:72), combined with comparative legal analysis, the research highlights the alignment between religious ethics and statutory forest protection. While the law reflects procedural strength, it lacks integration with deeper Eco theological values that could inspire stronger public commitment. It is understandable that legal frameworks often rely on institutional enforcement, yet in religious societies such as Indonesia, faith-based approaches can enhance policy legitimacy and moral motivation. This study argues for the integration of Qur’anic values, such as stewardship, moderation, and accountability, into environmental education and legal application. Doing so may transform forest conservation from a mere regulatory task into an act of spiritual devotion and collective responsibility. Further empirical research is needed to examine how such integration plays out in practice within local communities, offering valuable insights for more holistic and culturally grounded environmental governance.
Pembinaan Spiritual Terhadap Imigran dalam Konteks Moderasi Agama Terhadap Imigran di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Kota Pekanbaru Nur, Afrizal; Hermanto, Edi; Syafiuddin, Fauzan Azima
Al Khidma: Jurnal Pengabdian Masyarakat Al Khidma Vol. 5 No. 2 Juli 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/ak.v5i2.5384

Abstract

Kegiatan pengabdian masyarakat bertema pembinaan spiritual terhadap imigran dalam konteks moderasi agama terhadap imigran di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) kota Pekanbaru. pelaksanaan program pengabdian berbasis metode Participatory Action Research (PAR) dalam berbagai konteks, seperti pemberdayaan masyarakat, pelatihan pendidik, dan penguatan tradisi keagamaan. Fokus utama adalah memberikan solusi aplikatif dalam konteks moderasi beragama, pembinaan spiritual menjadi salah satu upaya penting untuk menjaga keseimbangan pemahaman keagamaan yang inklusif dan toleran. Pengabdian ini dilaksanakan selama 2 hari, kegiatan ini diikuti oleh 27 peserta dari berbagai elemen. Pembinaan spiritual terhadap imigran di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Kota Pekanbaru dalam konteks moderasi agama memiliki dampak yang signifikan bagi para peserta. Melalui kegiatan pembinaan ini, para imigran tidak hanya memperoleh pemahaman yang lebih dalam mengenai moderasi agama, tetapi juga belajar untuk mengelola perbedaan agama dan budaya secara konstruktif. Moderasi agama yang mengedepankan toleransi, keseimbangan, dan penghormatan terhadap keberagaman, terbukti mampu menciptakan suasana yang lebih harmonis di antara para penghuni Rudenim. Selain itu, pembinaan ini juga memberikan dukungan psikologis dan spiritual yang sangat dibutuhkan oleh para imigran, yang sering kali menghadapi tekanan emosional akibat ketidakpastian nasib mereka.
EKOLOGI ISLAM DAN PERUBAHAN IKLIM: TINJAUAN KRITIS TERHADAP PRAKTIK PERKEBUNAN SAWIT DI RIAU Adi Sunarya; M. Ridwan Hasbi; Afrizal Nur
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 1 No. 5 (2024): OKTOBER-NOVEMBER 2024
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The oil palm plantation has been a major concern in discussions on climate change in Riau. The rapid development of the palm oil industry has had serious impacts on the environment, including climate change. Therefore, this study aims to analyze the impact of oil palm plantations on climate change in Riau, as well as to examine the perspective of the Qur’an on climate change. The research aims to explore the environmental impacts of oil palm land expansion, analyze the contribution of oil palm plantations to climate change in Riau, and examine the relevant Qur’anic verses on climate change in this context. This study uses a secondary data analysis approach from scientific literature, field observation data, and a study of Qur’anic verses related to climate change. The results show that the expansion of oil palm plantations has significantly contributed to climate change in Riau. Its impacts include deforestation, increased greenhouse gas emissions, and overall environmental degradation. In addition, the analysis of Qur’anic verses also provides interesting insights into the relationship between humans and nature.
Mawaddah in the Qur'an Perspective of the Tafsir of the Qur'an Al-Majid An-Nur by Hasbi Ash-Shiddieqy Annisa Mawaddah; Afrizal Nur
al-Bunyan: Interdisciplinary Journal of Qur'an and Hadith Studies Vol. 3 No. 2 (2025)
Publisher : Penerbit Hellow Pustaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61166/bunyan.v3i2.62

Abstract

This study examines the concept of mawaddah in the Qur'an by focusing on Hasbi Ash-Shiddieqy's interpretation in his monumental work Tafsir al-Qur'an al-Majid An-Nur. The word mawaddah, which is often translated as affection or deep love, not only has an emotional meaning, but also a broad spiritual and social dimension. Using a descriptive qualitative method and a thematic interpretation approach (maudhu'i), this study explores various verses containing the term mawaddah, and analyzes how Hasbi interprets and contextualizes it in the life of pluralistic and dynamic Indonesian society. The results of the study show that Hasbi does not limit the meaning of mawaddah to the realm of husband and wife relations alone, but expands it as an ethical value in building relationships between humans, including in the context of interfaith tolerance and social solidarity. Hasbi's interpretation combines the richness of classical interpretation with the spirit of Islamic renewal, making mawaddah a spiritual energy that forms a civilization based on affection and civility. This study emphasizes the importance of developing thematic interpretations that are responsive to the challenges of the times and rooted in Qur'anic values.