Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

PERSEPSI PENGUNJUNG TERHADAP KEGIATAN WISATA DI TAMAN KUPU-KUPU GITA PERSADA Putri Dwi Mei Kartini; Gunardi Djoko Winarno; Dian Iswandaru; Agus Setiawan
Jurnal Hutan Tropis Vol 9, No 1 (2021): Jurnal Hutan Tropis Volume 9 No 1 Edisi Maret 2021
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v9i1.10469

Abstract

One of the tourist destinations in Wan Abdul Rachman Forest Park in Lampung, which has a variety of butterflies, namely the Gita Persada Butterfly Park. Research development needs to be done so that this park gives visitors satisfaction and the sustainability of butterflies. This study aims to study how visitors perceive tourism activities. The method used through direct observation and closed interviews containing questionnaires with aspects of assessment of facilities and shuttles, accommodation, infrastructure and tourist attractions. The data obtained were analyzed using One Score One Indicator and analyzed using a Likert Scale. The results of the study show that the facilitation and service aspects, as well as infrastructure, are classified as normal, while the tourist objects are classified as good. Visitors' perceptions stated that repairs should be made to the parking area, construction of counters, gift shops, information signs, tourgues, camping ground, homestays, tree houses and photo booths.
PENDUGAAN KARBON STOK DI ATAS PERMUKAAN TANAH PADA HUTAN MANGROVE DI KABUPATEN LAMPUNG TIMUR Agung Tri Cahyo; Arief Darmawan; Dian Iswandaru; Agus Setiawan
Jurnal Hutan Tropis Vol 10, No 3 (2022): Jurnal Hutan Tropis Volume 10 Nomer 3 Edisi November 2022
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v10i3.14969

Abstract

Pendugaan karbon di atas permukaan tanah dari vegetasi mangrove di Kecamatan Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampung Timur penting dilakukan karena memiliki kemampuan mengikat karbon jauh lebih tinggi dibandingkan dengan hutan terestrial dan hutan hujan tropis. Penelitian ini bertujuan untuk menduga stok karbon di atas permukaan tanah dari ekosistem mangrove menggunakan inventarisasi hutan terestrial dan citra satelit resolusi tinggi. Jenis mangrove dipetakan menggunakan citra satelit resolusi tinggi SPOT 6/7 menggunakan metode Object-Oriented Classification (OOC), dan di dalam lokasi mangrove telah dibuat 33 sampel plot masing-masing seluas 400 . Dari hasil analisis citra satelit didapatkan akurasi peta tipe mangrove yang sangat baik (97,75% dari akurasi keseluruhan), sehingga dapat dipetakan sebanyak 486 hektar kawasan mangrove di lokasi penelitian. Kawasan mangrove terluas terletak di Desa Margasari dan Sriminosari. Dari inventarisasi hutan didapatkan rata-rata stok karbon di atas permukaan tanah hutan mangrove adalah 65 tC / ha, dengan total estimasi stok karbon di atas permukaan tanah adalah 25.796,39 tC.
STATUS KETERANCAMAN DAN KOMPOSISI BURUNG YANG DIPERDAGANGKAN DI JALUR TENGAH LINTAS SUMATERA PROVINSI LAMPUNG Agus Setiawan; Putri Nur Syamsia; Dian Iswandaru
Gorontalo Journal of Forestry Research VOLUME 5 NOMOR 1 TAHUN 2022 GORONTALO JOURNAL OF FORESTRY RESEARCH
Publisher : Universitas Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32662/gjfr.v5i1.2079

Abstract

ABSTRAKMemelihara burung saat popular dan menjadi hobi bagi sebagian orang.  Burung yang dipelihara didominasi dari hasil perdagangan yang tidak teregulasi.  Penelitian ini bertujuan menganalisis status keterancaman dan komposisi burung yang diperdagangkan.  Penelitian menggunakan metode observasi.  Analisis deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan status keterancaman, status perdagangan dan status perlindungan. Hasil penelitian menunjukkan burung yang diperdagangkan sebanyak 43 spesies dengan 804 individu dari 18 famili.  Status keterancaman berdasarkan IUCN Redlist ditemukan 86% berstatus (LC), 2% berstatus (NT), 5% berstatus (VU), dan 7% berstatus (EN).  Tidak ditemukan jenis burung berstatus Appendiks CITES, namun menurut Permen LHK No. 106 tahun 2018 terdapat 2 spesies (5%) yang berstatus dilindungi yaitu Chloropsis sonnerati dan Chloropsis cochinchinensis dan 41 spesies lainnya (95%) berstatus tidak dilindungi. Pemerintah dapat memberikan pemahaman dan penyuluhan terkait konsekuensi dan akibat dari perdagangan burung yang masuk daftar terancam berdasarkan IUCN Redlist, CITES dan Permen LHK No.106 tahun 2018 beserta ancaman dan sanksinya.Kata kunci: Perdagangan; komposisi; status konservasi.ABSTRACTKeeping birds is popular and a hobby for some people. Birds kept are dominated by unregulated trade. This study aims to analyze the threat status and composition of traded birds. The research use observation methods. Descriptive analysis is used to describe the status of the threat, trading, and protection. The results showed that 43 species of birds were traded with 804 individuals from 18 families. Threats status based on IUCN Redlist it was found that 86% had LC status, 2% had NT status, 5% had VU status, and 7% had EN status. No birds with Appendix status were found, but according to Permen LHK No 106 in 2018 there are 2 species (5%) that are protected, namely Chloropsis sonnerati and Chloropsis cochinchinensis, and 41 species (95%) are not protected. The government can provide understanding and counseling regarding the consequences of the trade-in birds that are listed as threatened based on the IUCN Redlist, CITES, and Permen LHK No. 106 of 2018 along with the threats and sanctions. Keywords: Trade; composition; conservation status.
CAPACITY BUILDING-BASED LITERATION ON BIRDWATCHING FOR FORESTRY STUDENTS TO SUPPORT BIRD CONSERVATION IN CONSERVATION AREAS Dian Iswandaru
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 7, No 2 (2023): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v7i2.13308

Abstract

Abstrak: Ekspedisi merupakan salah satu kegiatan ilmiah yang berkontribusi terhadap konservasi burung di kawasan konservasi, salah satunya di taman nasional. Namun, pengetahuan dan ketrampilan birdwatching yang terbatas dapat menghambat kegiatan ekspedisi. Tujuan pelatihan ini adalah meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan birdwatching berbasis letirasi. Metode yang digunakan antara lain pemaparan materi teknik identifikasi burung, bioekologi burung, metode pengumpulan data dan analisisnya serta simulasi lapangan yang disampaikan kepada peserta ekspedisi SHOREA yaitu 10 mahasiswa kehutanan perwakilan Himasylva. Penyampaian teori dilakukan di kelas, sedangkan simulasi dilakukan di lapangan. Teknik pengukuran perubahan pengetahuan dan pemahaman dilakukan melalui pre-test dan post-test. Hasil pelatihan menunjukkan peningkatan rata-rata akan pengetahuan dan ketrampilan peserta sebesar 60% dari semua indikator untuk pengetahuan spesies burung dan 46% dari semua indikator untuk pengetahuan metode pengumpulan data dan analisisnya. Abstract: The expedition is a scientific activity that contributes to bird conservation in conservation areas, one of which is in a national park. However, limited birdwatching knowledge and skills can hinder expedition activities. This training aims to increase the knowledge and skills of birdwatching based on lethargy. The methods used included presentations on bird identification techniques, bird bioecology, data collection, analysis methods, and field simulations taught to the SHOREA expedition participants, namely ten forestry students representing Himasylva. Giving theory submissions is made in class, while simulations are conducted in the field. The process of measuring changes in knowledge and understanding is done through a pre-test and post-test.The training results showed an average increase in participants' knowledge and skills by 60% of all indicators for knowledge of bird species and 46% of all indicators for knowledge of data collection and analysis methods.  
GUILD PAKAN SPESIES BURUNG DI EKOSISTEM SAVANA TAMAN NASIONAL WAY KAMBAS Ramadhani Ramadhani; Agus Setiawan; Dian Iswandaru; Yulia Rahma Fitriana
JURNAL HUTAN LESTARI Vol 11, No 1 (2023): JURNAL HUTAN LESTARI
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jhl.v11i1.52003

Abstract

The savanna ecosystem in the Elephant Training Center of Way Kamba National Park has the potential as of habitat the birds. The purpose of this study was to analyze and classify bird species based on the type of feed group or guild. Through the method of counting bird data points are taken and recorded. There are 30 species of birds found in the savanna ecosystem which are divided into six types of guilds with the proportions of insectivores 40%, omnivores 33%, granivores 17%, carnivores 4%, nectarivores 3%, and frugivores 3%. The types of bird guild that dominates the savanna ecosystem is insectivorous (insectivores).Keywords: bird, feeding guild, savannaAbstrakEkosistem savana yang ada di Pusat Latihan Gajah Taman Nasional Way Kambas berpotensi untuk menjadi habitat burung. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dan mengklasifikasikan jenis burung berdasarkan jenis kelompok pakan atau guild. Melalui metode point count data burung diambil dan dicatat. Terdapat 30 spesies burung yang terdapat di ekosistem savana yang terbagi menjadi enam jenis guild dengan persentasenya antara lain insectivore 40%, omnivore 33%, granivoree 17%, carnivore 4%, nectarivore 3%, dan frugivor 3%. Tipe guild burung yang mendominasi ekosistem savana adalah pemakan serangga (insectivore).Kata kunci: burung, pakan, savana
ANALISIS KEANEKARAGAMAN JENIS DAN STATUS KONSERVASI BURUNG PADA AGROFORESTRI BERBASIS KOPI Annisa Annisa; Dian Iswandaru; Arief Darmawan; Yulia Rahma Fitriana
Jurnal Hutan Tropis Vol 11, No 3 (2023): Jurnal Hutan Tropis Volume 11 Nomer 3 Edisi September 2023
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v11i3.17630

Abstract

Tipe habitat utama pada jenis burung sangat berhubungan dengan kebutuhan hidup dan aktivitas hariannya. Agroforestri kopi yang ada di KPHL Batutegi adalah habitat berbagai satwa, khususnya burung. Keanekaragaman jenis burung di agroforestri kopi dapat dijadikan sebagai bioindikator karena kehidupan burung dipengaruhi kualitas lingkungan (faktor biotik dan abiotik). Penelitian bertujuan untuk menganalisis keanekaragaman jenis burung, status perlindungan, konservasi dan status perdagangan burung yang ada di agroforestri kopi pada Desa Penantian dan Desa Sinar Banten di KPHL Batutegi. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode titik hitung (point count). Hasil-hasil yang diperoleh kemudian dianalisis keanekaragaman jenisnya menggunakan indeks Shannon-Wiener. Hasil yang diperoleh mengidentifikasi 80 individu dari 6 Famili di Desa Penantian dan 82 Individu dari 9 Famili di Desa Sinar Banten. Keanekaragaman spesies burung di Desa Penantian termasuk dalam kategori rendah, yaitu 1,437 dan Desa Sinar Banten dalam kategori sedang, yaitu 1,549.
COMPOSITION AND AGE CLASS OF LONG-TAILED MACAQUE (MACACA FASCICULARIS) IN THE TROPICAL PEAT ECOSYSTEM (CASE: In Buffer Village Around Orang Kayo Hitam Forest Park) Yoannisa Egeustin; Dian Iswandaru; Christine Wulandari; Novriyanti Novriyanti; Hendra Prasetia
Jurnal Belantara Vol 6 No 2 (2023)
Publisher : Forestry Study Program University Of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbl.v6i2.979

Abstract

The long-tailed mcaque (Macaca fascicularis) has a fairly wide population distribution in Indonesia. According to IUCN data, the population of long-tailed mcaque is decreasing every year, the cause is a decrease in habitat quality. One of the habitats of long-tailed mcaque which is currently under pressure due to conversion is located in a buffer village around the Orang Kayo Hitam Forest Park (Tahura OKH). This study aims to analyze the composition and age class of long-tailed monkeys. Observation methods were used to observe long-tailed mcaque based on morphological characteristics such as coat color and body size. Based on the results of the study, the composition of long-tailed mcaque was divided into two groups, the residential group (KP) and the river border group (KS). The number in KP is 8 individuals with an age class of 5 adults, 3 immature while the number in KS is 27 individuals with an age class of 18 adults, 4 immature, 3 juvenile, 1 infants. This condition illustrates that the river border habitat is better than the residential habitat. In addition, adults and adolescents are more numerous, indicating individuals who have a function for reproduction and continue reproduction. This breeding rate is the potential for regeneration of long-tailed mcaque and the potential for the regeneration process of peat ecosystems through the role of long-tailed monkeys as pollinators for seed dispersal.
PERSEPSI MASYARAKAT SEKITAR LAHAN GAMBUT TENTANG SIMPANAN KARBON DAN PERUBAHAN IKLIM Wahyu Edi Chandra Pratama; Christine Wulandari; Novriyanti Novriyanti; Dian Iswandaru; Hendra Prasetia
Jurnal Hutan Tropis Vol 12, No 1 (2024): Jurnal Hutan Tropis Volume 12 Nomer 1 Edisi Maret 2024
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v12i1.19031

Abstract

Salah satu fungsi lahan gambut adalah penyimpan karbon. Dengan adanya kegiatan konversi lahan gambut menjadi jenis penggunaan lahan tertentu akan melepas karbon ke atmosfer. Gas Rumah Kaca (GRK) yang tertimbun di atmosfer dapat meningkatkan suhu bumi dan berakibat pada perubahan iklim. Perubahan iklim yang terjadi ini menyebabkan kerugian terutama pada sektor pertanian. Adanya kerugian akibat perubahan iklim ini, petani perlu memiliki persepsi atau pemahaman. Persepsi yang positif akan memunculkan perilaku dan partisipasi yang positif dalam pemulihan ekosistem gambut. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis korelasi antara karakteristik masyarakat dan persepsi masyarakat tentang pengetahuan lahan gambut, persepsi masyarakat tentang simpanan karbon dan persepsi masyarakat tentang perubahan iklim. Penelitian ini melibatkan 30 responden yang tinggal di Desa Jebus sebagai desa penyangga Tahura OKH. Data yang digunakan adalah persepsi masyarakat tentang manfaat lahan gambut, simpanan karbon dan perubahan iklim serta karakteristik responden. Data yang didapat kemudian dilakukan analisis. Hubungan antara persepsi masyarakat tentang lahan gambut, simpanan karbon, dan iklim terhadap karakteristik responden dianalisis menggunakan korelasi Rank Spearman. Masyarakat Desa Jebus memiliki persepsi yang tinggi tentang manfaat lahan gambut, simpanan karbon dan perubahan iklim. Selanjutnya melalui analisis rank spearman, didapatkan bahwa persepsi masyarakat tentang manfaat lahan gambut bernilai signifikan dengan karakteristik pekerjaan dan pendapatan serta persepsi masyarakat tentang perubahan iklim bernilai signifikan dengan karakteristik pekerjaan.
PREFERENSI KONSUMEN TERHADAP PERUBAHAN WARNA PAPAN PARTIKEL HASIL UKIR LASER CO2 Rasyidah Amany; Alim Fadila Rahman; Indra Gumay Febryano; Dian Iswandaru; Intan Fajar Suri; Wahyu Hidayat
Journal of People, Forest and Environment Vol. 2 No. 2 (2022): November
Publisher : University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jopfe.v2i2.5991

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui dan menganalisis pengaruh daya laser CO2 terhadap warna dan preferensi konsumen dari produk papan parikel. Papan partikel tersebut dilakukan pengukiran dengan menggunakan daya laser 2,5 Watt, 5 Watt dan 7,5 Watt. Perubahan warna diuji dengan sistem CIE-LAB dan preferensi konsumen dilakukan dengan wawancara responden. Hasil pengujian kecerahan (L*), kromatisasi merah/hijau (a*) dan kromatisasi kuning/biru (b*) mengalami penurunan seiring dengan naiknya daya laser, sedangkan nilai perubahan warna (∆E*) memperoleh nilai > 12 yang berarti warna berubah total. Preferensi konsumen menunjukkan bahwa laser dengan daya laser 7,5 Watt memiliki hasil yang lebih besar, yang artinya lebih disukai oleh konsumen. Hasil tersebut memperoleh kesimpulan bahwa tingginya daya laser yang dipakai untuk pengukiran menyebabkan warna yang dihasilkan oleh produk papan partikel menjadi lebih gelap, hal tersebut menambah minat para konsumen dalam membeli produk.
KEANEKARAGAMAN MAMALIA BESAR DI RESORT RAWA BUNDER TAMAN NASIONAL WAY KAMBAS PROVINSI LAMPUNG Bainah Sari Dewi; Aldi Alhamda Putra; Evi Damayanti; Dian Iswandaru
Journal of People, Forest and Environment Vol. 4 No. 2 (2024): November
Publisher : University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jopfe.v4i2.8991

Abstract

Mamalia berperan dalam menjaga dan mempertahankan kelangsungan proses-proses ekologis. keberadaan mamalia pada suatu kawasan hutan membantu memulihkan kondisi hutan melalui keberadaan predator alami dan penyebaran (pemencar biji), dan polinator . Mamalia banyak ditemui di Taman Nasional Way Kambas. Mamalia besar memiliki jenis yang berbeda–beda dan mamalia besar juga mengganggu pertumbuhan tanaman yang ada di Resot Rawa Bunder Taman Nasional Way Kambas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui jenis mamalia besar yang ada di wilayah Resort Rawa Bunder TNWK yang menggangu pertumbuhan tanaman yang ada di Resort Rawa Bunder. Pengepulan data menggunakan metode transek jalur dan observasi lapangan. Pengambilan data dilakukan pada pagi hari pukul 05.30-09.00 WIB dan pada sore hari pukul 15.30-18.00 WIB dengan 3 kali kuantitas untuk setiap tipe habitat. Analisis yang digunakan pada penelitian ini menggunakan Indeks Keanekaragaman jenis, Indeks Kekayaan jenis, dan Indeks kemerataan jenis. Hasil penelitian ini menunjukkan Keanekaragaman mamalia besar yang ditemukan di Resort Rawa Bunder, Taman Nasional Way Kambas, Provinsi Lampung terdapat 3 jenis mamalia besar yaitu, Babi hutan (Sus scrofa), Kucing kuwuk (Felis bengalensis) , dan Kijang muncak (Muntiacus muntjak). Selain itu, Pada hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai indeks keanekaragaman jenis pada tipe habitat ketiga termasuk dalam kategori rendah, nilai indeks kekayaan jenis pada tipe habitat ketiga termasuk dalam kategori rendah, dan nilai indeks kemerataan pada tipe habitat ketiga termasuk dalam kategori rendah