Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review Wahyuni, Anna Tri; Masfuri, Masfuri -; Arista, Liya -
Jurnal Keperawatan Widya Gantari Indonesia Vol 6 No 2 (2022)
Publisher : Nursing Department, Faculty of Health, Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52020/jkwgi.v6i2.4151

Abstract

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature  Review Anna Tri Wahyuni1), Masfuri2),  Liya Arista3)1,2,3 Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia  ABSTRAK  Cedera paling umum yang terjadi pada trauma tumpul adalah fraktur costa (patah tulang iga/rusuk) dimana mekanisme cedera berpotensi mengancam jiwa. Pasien fraktur costa yang menunjukkan tingkat keparahan trauma lebih dari 90% melibatkan kepala, perut dan ekstremitas. Nyeri yang dirasakan akibat dari fraktur costa berkontribusi pada gangguan pernafasan, peningkatan resiko pneumonia dan gagal nafas yang meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas. Pedoman penanganan fraktur costa sangat dibutuhkan untuk terjadinya komplikasi.  Studi literature ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi mortalitas pada pasien fraktur costa. Metode penulisan artikel ini menggunakan literature review yang didapat melalui 5 online database yaitu Sage Publishing, Science Direct, SpringerLink, Pub Med dan Google Scholar. Kriteria inklusi jurnal terkait meliputi: free fulltext, berbahasa Indonesia atau Bahasa asing lainnya, metode penelitian prospective, retrospective, case-control, cohort dan terbit antara tahun 2004-2021. Kata kunci yang yang digunakan dalam pencarian adalah “Respiratory depression OR Respiratory failure AND fraktur ribs AND Mortality”. Dari pencarian artikel diperoleh hasil akhir sebanyak 7 artikel yang relevan dan dilakukan proses review. Artikel tersebut menunjukkan hasil bahwa angka mortalitas dipengaruhi oleh faktor usia, skor keparahan cedera, jumlah patah tulang rusuk, dan implementasi penanganan infeksi. Faktor usia, tingkat keparahan cedera dan jumlah tulang rusuk yang patah menentukan tinggi rendahnya angka mortalitas pasien fraktur costa. Penanganan yang tepat dan manajemen nyeri yang sesuai dapat mempengaruhi penurunan angka morbiditas dan mortalitas pasien dengan fraktur costa. Pengembangan intervensi perawatan pasien fraktur costa terkait manajemen nyeri dan kontrol infeksi menjadi penelitian menarik selanjutnya.Kata kunci : Depresi pernafasan, gagal nafas, fraktur iga, angka kematian, angka kesakitanABSTRACT The most common injury in blunt trauma is a rib fracture, where the mechanism of injury is potentially life-threatening. Patients with rib fracture whose severity of the injury is greater than 90% are associated with damage to the head, abdomen, and extremities. Pain from rib fractures contributes to respiratory failure, increasing the risk of pneumonia and respiratory failure, which increases morbidity and mortality. Recommendations are needed for the treatment of complicated rib fractures. This literature study aims to analyze the factors that influence mortality in rib fracture patients. The method of writing this article uses a literature review sourced from 5 online databases, namely Sage Publishing, Science Direct, SpringerLink, Pub Med, and Google Scholar. The inclusion criteria for related journals included: free full text, in Bahasa  or another foreign language, prospective, retrospective, case-control, cohort study method, and published between 2004 and 2021. Keywords used in the search were: "respiratory depression OR respiratory failure AND rib fractures AND death." From the article search results, we obtained 7 relevant articles which are the final results and a review process is carried out. The article showed that mortality was influenced by age, injury severity score, number of rib fractures, and infection control practices. The mortality rate of patient with rib fracture is determined by Factors such as age, severity of injury, and number of rib fractures. Appropriate care and adequate pain management can help reduce morbidity and mortality in patients with rib fractures. Another interesting research is the development of interventions in the treatment of rib fracture patients related to pain management and infection control.Key words: respiratory depression; respiratory failure; rib fracture; mortality; morbidity.  Alamat korespondensi: RSUD Dr.Kanujoso Djatiwibowo Jalan MT.Haryono No 656 Ringroad BalikpapanEmail: annazahra30@gmail.com  PENDAHULUAN Fraktur costa adalah cedera pada dada karena trauma tumpul, tajam atau kondisi patologis angka morbiditas dan mortilitas. Berdasarkan Western Trauma Association (WTA) sekitar 10% kematian pada orang dewasa muda disebabkan oleh cedera patah tulang rusuk yang melibatkan kepala, perut dan ekstremitas. Sebaliknya, pasien lanjut usia dengan patah tulang rusuk memiliki setidaknya 20% kematian yang secara langsung menyebabkan gagal napas progresif dan pneumonia (Brasel et al., 2017). Risiko pneumonia meningkat sebesar 27%, dan kematian meningkat sebesar 19% untuk setiap fraktur costa lebih dari 2 pada kelompok lanjut usia (Wanek & Mayberry, 2004).  Pasien dengan trauma dada atau fraktur costa harusnya dilakukan pemantauan ketat sejak masuk rumah sakit, 24 jam pertama merupakan identifikasi awal adanya komplikasi yang menyebabkan depresi pernafasan. Menurut penelitian Coary, et.al (2020) fraktur costa adalah cedera paling serius pada 55% pasien berusia di atas 60 tahun yang menyebabkan kematian karena 90% dari patah tulang rusuk menunjukkan cedera tambahan pada pemeriksaan sistemik. Trauma langsung dan hipoventilasi yang diinduksi nyeri menyebabkan komplikasi pernafasan sehingga menjadi beban morbiditas dan mortalitas. Komplikasi yang sering terjadi adalah pneumotoraks diikuti hemothoraks, kontusio paru dan flail chest.Nyeri adalah suatu pengalaman sensorik yang multidimensional dengan fenomena yang berbeda dalam intensitas (ringan,sedang, berat), kualitas (tumpul, seperti terbakar, tajam), durasi (transien, intermiten,persisten), dan penyebaran (superfisial atau dalam, terlokalisir atau difus) (Bahrudin, 2018). Induksi nyeri pada pasien dengan fraktur costa menyebabkan pasien kesulitan bernafas dimana keparahan memar paru yang mendasarinya signifikan dengan terjadinya hipoksemia atau gangguan pernafasan. Hal ini menyebabkan pasien cenderung membatasi pergerakan dan menjadi tirah baring lama. Kondisi tirah baring lama menyebabkan tubuh mengalami penurunan berbagai fungsi secara sistematis, yang disebut dengan sindroma dekondisi dan rentan terjadinya infeksi (Hashem, Nelliot, & Needham, 2016; Hunter, Johnson, & Coustasse, 2014; Phelan, Lin, Mitchell, & Chaboyer, 2018 dalam Ananta & Fitri, 2020).Fraktur costa atau patah tulang rusuk secara klinis penting disebabkan tiga hal yaitu: sebagai penanda penyakit serius cedera intrathoraks dan perut, sebagai sumber rasa sakit yang signifikan, dan sebagai prediktor untuk kerusakan paru, terutama pada pasien usia lanjut. Organ perut yang paling sering terluka adalah hati dan limpa. Pasien dengan patah tulang rusuk kanan, memiliki 19% hingga 56% kemungkinan cedera hati, sedangkan patah tulang sisi kiri memiliki 22% hingga 28% kemungkinan cedera limpa (Wanek & Mayberry, 2004).  Kematian pada orang dewasa dan lansia cenderung terjadi kemudian (≥72 jam setelah masuk) dan biasanya sebagai akibat dari kegagalan multi-organ yang dipicu oleh insufisiensi pernapasan dan pneumonia sehingga tingkat kematian secara keseluruhan, tanpa memandang usia, diperkirakan antara 10 dan 12% (Wanek & Mayberry, 2004). Tingkat mortalitas untuk pasien trauma usia lanjut yang mengalami patah tulang rusuk lebih besar daripada mereka yang tidak mengalami cedera toraks (Coary, et.al, 2020). Penelitian yang dilakukan Marini, et.al, (2021) menyatakan indikator penyebab kematian pada pasien fraktur costa dengan atau tanpa trauma kepala dan cedera organ adalah usia, jenis kelamin, ISS (Injury Severe Score), dan GCS (Glasglow Coma Scale).Berdasarkan uraian diatas maka peneliti ingin menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi angka morbiditas dan mortalitas pada pasien dengan fraktur costa untuk meningkatkan pemahaman tentang penanganan fraktur costa serta mengidentifikasi dari beberapa artikel terkini dalam mengurangi mortalitas. METODE PENELITIAN Metode penulisan artikel ini menggunakan literature review yaitu studi yang berfokus pada hasil penulisan yang berkaitan dengan topik, tema atau variabel penulisan.dan dipakai untuk menghimpun data atau sebuah sintesa sumber-sumber yang  berhubungan dengan topik  penelitian (Nursalam,  2017). Didapatkan   5 database yang dilakukan melalui pencarian elektronik dari yaitu Sage Publishing, Science Direct, SpringerLink, Pub Med dan Google Scholar. Kriteria inklusi telaah jurnal ini adalah free fulltext, berbahasa Indonesia atau bahasa asing lainnya, dengan metode penelitian prospective, retrospective, case-control, cohort dan terbit tahun 2004-2021. Kata kunci yang yang digunakan dalam pencarian adalah “Respiratory depression OR Respiratory failure AND fraktur ribs AND Mortality”. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil studi literature terdapat banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya depresi pernafasan pada pasien fraktur costa yang dapat menyebabkan kematian. Terdapat 17.500 artikel yang muncul setelah dilakukan telusur berdasarkan kata kunci dalam google scholar, 10.000 artikel tidak masuk  kriteria inklusi, 350 artikel duplikat dengan database yang lain. Kemudian sisanya disaring kembali berdasarkan hasil abstrak, metode dan hasil temuan sesuai topik peneliti yang diinginkan dan diperoleh 7 artikel yang relevan dan tersedia dalam bentuk fulltext. Beberapa penelitian terkait pencegahan depresi pernafasan pada fraktur costa berfokus pada manajemen nyeri baik secara farmakologis maupun non farmakologis. Penanganan dan pemantauan yang ketat dapat mengurangi komplikasi yang menyebabkan terjadinya depresi pernafasan. Berikut faktor-faktor yang mempengaruhi angka morbiditas dan mortalitas pada fraktur costa menurut Coary, et.al (2020) yaitu: (1) Usia, pasien berusia > 65 tahun memiliki kematian 2-5 kali lebih tinggi dibandingkan usia dibawahnya pada kondisi fraktur costa lebih dari dua. Pasien dengan komorbid sering menjadi faktor penyulit ditambah dengan kondisi paru-paru yang buruk (misal: perokok). Faktor pemulihan menjadi terhambat disebabkan osteoporosis, sistem pernafasan yang buruk, gangguan pertukaran gas dan tergambar dari lama rawat inap. (2) Jumlah patah tulang, dari beberapa penelitian meta-analisis diperoleh hasil jumlah absolut fraktur tulang rusuk yang berjumlah >2 maka dua kali lebih mungkin meninggal dunia dibandingkan pasien dengan 1-2 patah tulang rusuk. (3) Posisi anatomi patah tulang, Fraktur costa bilateral memiliki resiko kematian lebih tinggi dimana segmen flail chest menghasilkan gerak paradox yang menyebabkan pergerakan dinding dada mengarah kedalam saat inspirasi sedangkan tulang rusuk yang sehat bergerak keluar sehingga ventilasi tidak adekuat dan terjadi depresi pernafasan dan kematian. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan Brasel et al., (2006) faktor yang paling mempengaruhi kematian adalah faktor usia ditandai dengan Injury Severity Score (ISS) jika dikaitkan dengan peningkatan terjadinya pneumonia. Analisis yang menyatakan komorbiditas mempengaruhi kematian hal ini disertai dengan faktor usia bukan karena faktor komorbiditas murni. Komorbiditas yang biasanya menyertai fraktur costa menurut penelitian adalah komorbiditas yang spesifik seperti gagal jantung kongestif, aritmia, gagal ginjal, penyakit hati, kanker metastatik dan  penyakit neurologis.Pada penelitian Bulger et al dalam Wanek & Mayberry, (2004), membandingkan pasien yang berusia minimal 65 tahun keatas dengan usia 18-64 tahun dengan metode cohort pada kasus fraktur costa pada kelompok >65 tahun memiliki dua kali mortalitas dan morbiditas yang tinggi. Risiko pneumonia meningkat sebesar 27%, dan kematian meningkat sebesar 19% untuk setiap fraktur tulang rusuk tambahan pada kelompok lanjut usia.Nyeri adalah keluhan yang paling dirasakan oleh pasien dengan fraktur costa. Oleh sebab itu penanganan manajemen nyeri untuk mengontrol nyeri terus-menerus dan mencegah depresi pernafasan harus diberikan terapi yang agresif dengan pendekatan multimodalitas. Penelitian yang dilakukan oleh Peek, et.al, (2019) dengan membandingkan pemberian analgesik dengan 4 metode yaitu analgesia epidural, analgesia intravena, blok paravertebral dan blok intercostal, diperoleh hasil berdasarkan systematic review  dan meta-analysis analgesia epidural signifikan mengurangi rasa sakit dibandingkan intervensi yang lain. Intervensi keperawatan sendiri menekankan pada terapi non farmakologis untuk kontrol nyeri pada pasien fraktur. Terapi nonfarmakologis dengan guided imagery dapat mengurangi intensitas dan skala nyeri pada pasien fraktur. Guided imagery mempengaruhi hampir semua fisiologis sistem kontrol tubuh yaitu pernapasan, denyut jantung, tekanan darah, tingkat metabolisme dalam sel, mobilitas dan sekresi gastrointestinal, fungsi seksual, dan bahkan respon imun (Rossman, 2000). Intervensi ini juga dapat mempercepat penyembuhan pasien dan mengurangi hari rawat inap (Forward et.al, 2015)           Gambar 1. Algorithma fraktur costa (Brasel K.J, et.al, 2016).Western Trauma Association (WTA) menyatakan algorithma penanganan fraktur costa sebagai suatu observasi atau pemantauan ketat pada fraktur costa lebih dari 2 patah tulang (Brasel et.al, 2017). Berdasarkan algoritma diatas maka pasien dengan patah tulang rusuk >2 dengan usia lebih dari 65 tahun jika pada observasi kurang dari 24 jam menunjukkan peningkatan pada depresi pernafasan maka segera pindahkan ke ICU dan pertimbangkan penggunaan ventilator dan operasi rib fixaxion. Penggunaan terapi analgesia epidural digunakan untuk kontrol nyeri dilanjutkan batuk  efektif, tehnik relaksasi nafas dalam dan mobilisasi dini (Brasel et.al, 2017). Analisis terkait studi literatur untuk memperkuat hasil analisis terdapat pada masing-masing artikel dibawah ini. Tabel 1. Artikel terkait faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya depresi pernafasan pada pasien dengan fraktur costa.Study citationMetode penelitian Desain PenelitianSampel dan Jumlah sampelHasil temuanA multidisciplinary clinical pathway decreases rib fracture–associated infectious morbidity and mortality in high-risk trauma patientsTodd,et.al,(2006)prospective cohort study Non eksperimental150 pasien dari Februari 2002-Oktober 2004 dengan > 45 tahun dan>4 patah tulang rusuk.Diperoleh hasil usia, skor keparahan cedera, dan jumlah patah tulang rusuk, jalur klinis menurunkan mekanisme hari tergantung ventilator, lama rawat inap, morbiditas infeksi, dan mortalitas dengan (interval kepercayaan 95% [CI] P<0.01).Predicting outcome of patients with chest wall injuryPressley, et.al, (2012)retrospectively reviewedNon eksperimental649 pasien (Juni 2008 hingga Februari 2010) termasuk usia, jumlah patah tulang, cedera bilateral, adanya kontusio paru, klasifikasi memar, LOS, masuk ICU, ventilasi mekanikSebuah sistem penilaian sederhana memprediksi kemungkinan bahwa pasien akan memerlukan ventilasi mekanik dan perawatan yang berkepanjangan. Skor 7 atau 8 memprediksi peningkatan risiko kematian, penerimaanke ICU, dan intubasi. Skor 5 memprediksi lama tinggal yang lebih lama dan periode ventilasi yang lebih lama. Factors Affecting Pneumonia Occurring to Patients with Multiple Rib FracturesByun & Kim., (2013).retrospectively reviewedNon eksperimentalData rekam medis 327 pasien laki-laki rata-rata usia 53 tahun dengan fraktur costa akibat kecelakaan dari Januari 2002- Desember 2008.Faktor yang mempengaruhi pneumonia pada pasien dengan fraktur tulang rusuk multipel dalam analisis multivariat termasuk usia (p=0,004), ISS (p<0,001), dan skor tulang rusuk(p=0,038). Penggunaan antibiotik tidak berhubungan dengan kejadian pneumonia (p=0,28).Determinants of Mortality in Chest Trauma PatientsEkpe & Eyo, (2014)Retrospective and prospective Non eksperimental149 pasien dengan trauma thoraks 121 laki-laki, 28 perempuan dari Januari 2007-Desember 2011Variabel bebas, umur, jenis kelamin dan jenis cedera dada tidak terbukti berkorelasi dengan mortalitas dengan nilai P >0,05. Namun adanya cedera organ ekstra toraks terkait, skor MEWS saat masuk tinggi> 9, cedera pada interval presentasi lebih dari 24 jam, dan cedera dada yang parah ditandai dengan keterlibatan dada bilateral yang berkorelasi positif dengan mortalitas dengan nilai P <0,05.The number of displaced rib fractures is more predictive for complications in chest trauma patientsChien et.al, (2017)retrospectively reviewedNon eksperimentalJanuari 2013 -Mei 2015 diperoleh data di rumah sakit dengan total pasien 3151. Pasien yang dirawat dengan trauma dada dan patah tulang rusuk, termasuk cedera otak, limpa, panggul atau hatiJumlah patah tulang rusuk yang bergeser bisa menjadi prediktor kuat untuk berkembangnya penyakit paru-paru komplikasi. Untuk pasien dengan kurang dari tiga patah tulang rusuk tanpa perpindahan tulang rusuk dan paru-paru awal atau cedera organ lainnya, manajemen rawat jalan bisa aman dan efisien.Is the number of rib fractures a risk factor for delayed complications? Flores-Funes, et.al, (2020)Retrospective case–control studyNon eksperimentalPasien yang dirawat dengan diagnosis patah tulang rusuk antara 2010 dan 2014, diperoleh 141 pasien.Tidak ada perbedaan dalam karakteristik dasar pasien (usia, jenis kelamin dan Indeks Komorbiditas Charlson) antara kedua kelompok. Perbedaan ditemukan pada jumlah fraktur pada kelompok tanpa komplikasi p>0,05 (tidak signifikan) pada kelompok dengan komplikasi, (p=0,05) dan pada penurunan kadar hemoglobin  (p=0,01). Hari rawat inap bervariasi pada setiap kelompok tetapi tanpa signifikansi statistik (p=0,11). Kesimpulan: Jumlah fraktur iga yang paling baik memprediksi munculnya komplikasi (delayed pleuro-pulmonary) dan perdarahan yang lebih besar) adalah patah tulang rusuk 3 atau lebihPredictors of mortality in patients with rib fracturesMarini, et.al, (2021) Retrospective review Non eksperimental1188 pasien patah tulang rusuk dan cedera tambahan yang dirawat selama Januari 2013-Desember 2014; 800 laki-laki dan 388 perempuan  Usia, GCS, jenis kelamin laki-laki, dan Injury Severity Score (ISS) tetapi tidak jumlah patah tulang rusuk dan/atau Pulmonary contusion merupakan prediksi kematian. Peningkatan mortalitas pada pasien patah tulang rusuk dimulai pada usia 65-80 tahun tanpa peningkatan lebih lanjut. Jumlah patah tulang rusuk bukan faktor independen peningkatan mortalitas terlepas dari usia. Severe traumatic brain injury adalah penyebab kematian paling umum pada pasien usia 16-65 tahun, dibandingkan dengan komplikasi pernapasan pada pasien berusia 80 tahun atau lebih. Banyak penelitian yang telah dilakukan untuk menentukan faktor prediktor kematian pada pasien fraktur costa. Dari 7 artikel di atas terdapat berbagai bukti yang mempengaruhi kematian akibat fraktur costa dengan metode penelitian yang berbeda.Penelitian Chien, et.al, (2017) dan Flores-Funes, et.al, (2020) menunjukkan hasil yang hampir sama dimana jumlah fraktur costa yang >2 akan meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas dikarenakan faktor komplikasi pada paru. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan Marini, et.al, (2021) yang menyatakan jumlah dari fraktur costa tidak memprediksi peningkatan mortalitas terlepas dari usia. Menurut peneliti faktor usia menjadi prediktor utama dalam menentukan angka mortalitas pada pasien dengan fraktur costa, dimana peningkatan mortalitas pada pasien patah tulang rusuk dimulai pada usia 65-80 tahun ke atas.Penelitian yang dilakukan Todd et.al,(2006) menghasilkan hipotesa bahwa usia, skor keparahan cedera, dan jumlah patah tulang rusuk, dan implementasi jalur klinis signifikan dengan penurunan lama perawatan di unit perawatan intensif, lama rawat inap di rumah sakit, infeksi pneumonia, dan mortalitas. Maka semakin lanjut usia, tingkat keparahan yang tinggi dan jumlah patah tulang rusuk bilateral atau >2 dapat meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas pasien dengan fraktur costa.Penelitian Pressley et.al, (2012) dilakukan dengan melakukan analisis dengan menggunakan trauma dada scoring system dimana skor >7 memprediksi peningkatan risiko kematian, penerimaan ke ICU, dan intubasi. Penilaian scoring system ini dapat digunakan untuk memprediksi kemungkinan pasien akan memerlukan ventilasi mekanik dan perawatan yang berkepanjangan sehingga dapat memperparah penyakit, menimbulkan infeksi oportunistik dan menyebabkan resiko mortalitas.Penelitian Ekpe & Eyo, (2014) menggunakan system MEWS (modified early warning signs) untuk menganalis faktor prognosis pada pasien dengan trauma dada. Sebagai variabel bebas, umur, jenis kelamin dan jenis cedera dada tidak terbukti berkorelasi dengan mortalitas dengan nilai P >0,05. Namun adanya cedera organ ekstra toraks terkait, skor MEWS saat masuk tinggi> 9, dimana  interval presentasi lebih dari 24 jam dengan cedera dada yang parah ditandai dengan keterlibatan dada bilateral, berkorelasi positif pada mortalitas. Berbeda dengan penelitian sebelumnya Byun & Kim., (2013) dimana faktor umur berpengaruh pada terjadinya infeksi pneumonia dan meningkatkan angka mortilitas dengan atau tanpa diikuti tingkat keparahan pada trauma dada.Berdasarkan analisis diatas terdapat persamaan hasil penelitian dimana rata-rata metode penelitian yang dilakukan dengan menggunakan retrospective review non eksperimental. Peneliti mengamati data rekam medis dari beberapa rentang waktu dengan kriteria inklusi menderita patah tulang rusuk lebih dari dua. Namun, terdapat kriteria yang berbeda-beda pula dimana peneliti memasukkan trauma tambahan seperti brain injury dan cedera pada organ yang lain. Jumlah sampel antara penelitian satu dengan yang lain juga berbeda dari ratusan hingga ribuan data yang dianalisis. Hal ini menyebabkan hasil penelitian yang diperoleh sedikit berbeda antara satu dengan yang lain.Manajemen fraktur costa berfokus pada manajemen nyeri yang adekuat, batuk efektif, relaksasi nafas dalam dan mobilisasi dini (Brasel et al., 2017). Berdasarkan beberapa penelitian manajemen nyeri pada pasien orthopedic terutama pasca operasi adalah dengan guided imagery. The American Holistic Nurses Association menyatakan guided imagery adalah modalitas holistik yang membantu klien dalam menghubungkan pengetahuan batin mereka pada pemikiran, perasaan, dan tingkat penginderaan, mempromosikan penyembuhan bawaan mereka dengan kemampuan bersama-sama memandu klien mengatasi  stres; resolusi konflik; masalah pemberdayaan diri; dan persiapan medis-bedah (Integrative & Review, 2016). Oleh sebab itu, guided imagery tepat jika digunakan pada managemen nyeri non farmakologis yang diterapkan dalam intervensi keperawatan.Dalam teori keperawatan Jean Watson tentang Transpersonal Caring mendefinisikan hubungan manusia yang bersifat caring, bersatu dengan orang lain dengan menghargai klien seutuhnya termasuk keberadaannya di dunia (Alligood, 2014). Watson menyatakan kepedulian transpersonal caring adalah dasar dari teori kepedulian manusia dimana fokus dari kepedulian transpersonal adalah pada peduli, penyembuhan, dan keutuhan, bukan pada penyakit, sakit dan patologi yang mencakup 10 faktor karatif dalam konsep utamanya (Integrative & Review, 2016). Sesuai dengan teori Watson, Guided Imagery (GI) menggabungkan kedua sains (melalui praktik berbasis bukti) dan seni (melalui aplikasi untuk berlatih) untuk mengobati rasa sakit pasien menggunakan imaginasi terbimbing dan teknik relaksasi nafas dalam. Kombinasi dengan terapi obat, GI menyediakan rezim pengobatan holistik untuk manajemen nyeri untuk menenangkan pikiran dan merilekskan tubuh mereka, memberikan kesempatan bagi klien untuk menciptakan lingkungan penyembuhan internalnya sendiri (Integrative & Review, 2016).Intervensi keperawatan untuk batuk efektif dan mobilisasi dini termasuk poin penting dalam manajemen perawatan pasien fraktur costa. Batuk efektif adalah suatu metode batuk dengan benar dan pasien dapat mengeluarkan dahak secara maksimal untuk mengeluarkan sekret dari saluran pernapasan bawah (Potter dan Perry, 2006). Mobilisasi sendiri dapat menghasilkan outcome yang baik bagi pasien seperti meningkatkan pertukaran gas, mengurangi angka Ventilator Associated Pneumoia (VAP), mengurangi durasi penggunaan ventilator, dan meningkatkan kemampuan fungsional jangka panjang (Green, Marzano, Leditschke, Mitchell, & Bissett, 2016 dalam Ananta & Fitri, 2020). Oleh sebab itu, kedua intervensi ini perlu diteliti lebih lanjut guna mengembangkan riset terkait manajemen pasien fraktur costa. SIMPULAN Pasien dengan usia lanjut dengan patah tulang rusuk atau fraktur costa biasanya menunjukkan tingkat kelemahan, multi-morbiditas, dan kompleksitas medis yang tinggi (Coary, et.al, 2020). Hal ini tentu menjadi penghambat dalam faktor penyembuhan tulang dan dapat meningkatkan angka mortalitas. Pemaparan hasil analisis menggambarkan faktor usia, cedera tulang rusuk atau costa bilateral lebih dari 2, terjadinya komplikasi dan cedera pada organ lain menyebabkan pasien harus dirawat di ruang ICU lebih lama karena resiko infeksi dan komplikasi yang dapat meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas.Terlepas dari faktor usia, tingkat keparahan cedera dan jumlah tulang rusuk yang patah menentukan haluaran pasien yang lebih baik. Penanganan fraktur costa yang tepat yang berfokus pada kontrol kerusakan, manajemen nyeri, fiksasi seleksi, dan kualitas hidup mempengaruhi penurunan angka morbiditas dan mortalitas pasien dengan fraktur costa. Kedudukan dan peran perawat spesialis dalam tugas mengatur asuhan klien dengan kompleksitas tinggi menjadi sangat penting (Masfuri, et.all, 2019) SARAN             Penelitian klinis terkait implementasi keperawatan berbasis kasus masih jarang dilakukan. Implementasi keperawatan pada pasien dengan fraktur costa terkait manajemen nyeri dan kontrol infeksi menjadi penelitian yang menarik untuk dilakukan karena hal ini menjadi indikator faktor yang mempengaruhi angka mortalitas pasien dengan fraktur costa. DAFTAR PUSTAKA  Alligood Raile Martha,2014, Nursing Theorits and their Work, 8th edition, by Mosby, an imprint of Elsevier IncAnanta Tanujiarso, B., & Fitri Ayu Lestari, D. (2020). Mobilisasi Dini Pada Pasien Kritis Di Intensive Care Unit (Icu): Case Study. Jurnal Keperawatan Widya Gantari Indonesia, 4(1), 59–66.Bahrudin, M. (2018). Patofisiologi Nyeri (Pain). Saintika Medika, 13(1), 7. https://doi.org/10.22219/sm.v13i1.5449Brasel, K. J., Guse, C. E., Layde, P., & Weigelt, J. A. (2006). Rib fractures: Relationship with pneumonia and mortality. Critical Care Medicine, 34(6), 1642–1646. https://doi.org/10.1097/01.CCM.0000217926.40975.4BBrasel, K. J., Moore, E. E., Albrecht, R. A., De Moya, M., Schreiber, M., Karmy-Jones, R., Rowell, S., Namias, N., Cohen, M., Shatz, D. V., & Biffl, W. L. (2017). Western trauma association critical decisions in trauma: Management of rib fractures. Journal of Trauma and Acute Care Surgery, 82(1), 200–203. https://doi.org/10.1097/TA.0000000000001301Byun, J. H., & Kim, H. Y. (2013). Factors affecting pneumonia occurring to patients with multiple rib fractures. Korean Journal of Thoracic and Cardiovascular Surgery, 46(2), 130–134. https://doi.org/10.5090/kjtcs.2013.46.2.130Chien, C. Y., Chen, Y. H., Han, S. T., Blaney, G. N., Huang, T. S., & Chen, K. F. (2017). The number of displaced rib fractures is more predictive for complications in chest trauma patients. Scandinavian Journal of Trauma, Resuscitation and Emergency Medicine, 25(1), 19. https://doi.org/10.1186/s13049-017-0368-yCoary, R., Skerritt, C., Carey, A., Rudd, S., & Shipway, D. (2020). New horizons in rib fracture management in the older adult. Age and Ageing, 49(2), 161–167. https://doi.org/10.1093/ageing/afz157Ekpe, E. E., & Eyo, C. (2014). Determinants of mortality in chest trauma patients. Nigerian Journal of Surgery : Official Publication of the Nigerian Surgical Research Society, 20(1), 30–304. https://doi.org/10.4103/1117-6806.127107Forward, J. B., Greuter, N. E., Crisall, S. J., & Lester, H. F. (2015). Effect of Structured Touch and Guided Imagery for Pain and Anxiety in Elective Joint Replacement Patients--A Randomized Controlled Trial: M-TIJRP. The Permanente Journal, 19(4), 18–28. https://doi.org/10.7812/TPP/14-236Flores-Funes, D., Lluna-Llorens, A. D., Jiménez-Ballester, M. Á., Valero-Navarro, G., Carrillo-Alcaráz, A., Campillo-Soto, Á., & Aguayo-Albasini, J. L. (2020). Is the number of rib fractures a risk factor for delayed complications? A case–control study. European Journal of Trauma and Emergency Surgery, 46(2), 435–440. https://doi.org/10.1007/s00068-018-1012-xIntegrative, A., & Review, L. (2016). jhn. 1–10.Marini, C. P., Petrone, P., Soto-Sánchez, A., García-Santos, E., Stoller, C., & Verde, J. (2021). Predictors of mortality in patients with rib fractures. European Journal of Trauma and Emergency Surgery, 47(5), 1527–1534. https://doi.org/10.1007/s00068-019-01183-5Masfuri Masfuri, Agung Waluyo, Yati Afiyanti, Achir Yani S. Hamid (2019) Educational background and clinical nursing tasks performed by nurses in Indonesian hospitals. Enfermería Clínica. 29 (2), 418-423. https://doi.org/10.1016/j.enfcli.2019.04.061.Nursalam. (2017). Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pendekatan Praktis. (P. P. Lestari, Ed.) (4th ed.). Jakarta: Salemba Medika.Peek, J., Smeeing, D. P. J., Hietbrink, F., Houwert, R. M., Marsman, M., & de Jong, M. B. (2019). Comparison of analgesic interventions for traumatic rib fractures: a systematic review and meta-analysis. European Journal of Trauma and Emergency Surgery, 45(4), 597–622. https://doi.org/10.1007/s00068-018-0918-7Potter&Perry. (2006). Buku ajar Fundamental Keperawatan Konsep, Proses, dan Praktik. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran, EGC.Pressley, C. M., Fry, W. R., Philp, A. S., Berry, S. D., & Smith, R. S. (2012). Predicting outcome of patients with chest wall injury. American Journal of Surgery, 204(6), 910–914. https://doi.org/10.1016/j.amjsurg.2012.05.015Rossman, M. L. (2000). G uided I magery and I nteractive G uided I magery. M. L. Guided Imagery for Self Healing: An Essential for Anyone Seeking Wellness, 930.Simon, B. J., Cushman, J., Barraco, R., Lane, V., Luchette, F. A., Miglietta, M., Roccaforte, D. J., & Spector, R. (2005). Pain management guidelines for blunt thoracic trauma. Journal of Trauma - Injury, Infection and Critical Care, 59(5), 1256–1267. https://doi.org/10.1097/01.ta.0000178063.77946.f5Todd, S. R., McNally, M. M., Holcomb, J. B., Kozar, R. A., Kao, L. S., Gonzalez, E. A., Cocanour, C. S., Vercruysse, G. A., Lygas, M. H., Brasseaux, B. K., & Moore, F. A. (2006). A multidisciplinary clinical pathway decreases rib fracture-associated infectious morbidity and mortality in high-risk trauma patients. American Journal of Surgery, 192(6), 806–811. https://doi.org/10.1016/j.amjsurg.2006.08.048Wanek, S., & Mayberry, J. C. (2004). Blunt thoracic trauma: Flail chest, pulmonary contusion, and blast injury. Critical Care Clinics, 20(1), 71–81. https://doi.org/10.1016/S0749-0704(03)00098-8 
Effectiveness of Telehealth for Self-Care in Stroke Survivors: A Systematic Review Sinaga, Dewi Sartika; Kariasa, I Made; Maria, Riri; Arista, Liya
JURNAL KEPERAWATAN SUAKA INSAN (JKSI) Vol. 10 No. 2 (2025): Jurnal Keperawatan Suaka Insan (JKSI)
Publisher : STIKES Suaka Insan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51143/jksi.v10i2.934

Abstract

Declining self-care ability in stroke survivors impairs recovery and lowers long-termquality of life. This systematic review evaluates the effectiveness of telehealth interventionsin improving self-care capacity. Based on the PRISMA framework, five databases:PubMed, Science Direct, Scopus, Sage Journals, and ProQuest were searched for literaturepublished between 2020-2024. This search returned 387 results, of which 10 randomizedcontrolled trials were selected and evaluated according to a critical checklist. The resultsof this review suggest that self-care telehealth interventions significantly improve physical(mobility and muscle strength, performance of daily activities) and psychologicalcomponents (self-efficacy, depression and anxiety) that constitute a better quality of life.Telehealth technologies promote autonomy in stroke survivors by remote healthmonitoring, and lessen dependence on direct care. Yet, technological barriers and lowerdigital literacy in older and/or marginalized populations are challenges that must beovercome to achieve fair access and impact
Penggunaan Metode Penilaian Trauma Dalam Memprediksi Luaran Pasien : Literatur Review Ristina Fauzia Hernaningrum; Masfuri Masfuri; Liya Arista; Riri Maria
Jurnal Ners Vol. 9 No. 2 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i2.44653

Abstract

Latar Belakang : Trauma menjadi salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas di dunia. Kematian akibat trauma di Indonesia sebagian besar korban terjadi pada usia produktif sehingga dapat mempengaruhi kestabilan keluarga. Penilaian awal di Unit Gawat Darurat menjadi proses penting yang dapat berpengaruh pada hasil perawatan jangka panjang pasien. Membutuhkan kecepatan dan ketepatan mengidentifikasi keparahan trauma untuk dapat segera menentukan prioritas penanganan dan kesesuaian sumber daya. Tujuan : Mengetahui metode penilaian keparahan trauma yang dapat digunakan untuk memprediksi luaran pada pasien trauma. Metode : Telaah sistematis dilakukan dengan pencarian artikel pada basis data dengan kata kunci yang telah ditentukan, yang kemudian dilanjutkan dengan pengecekan, penghilangan duplikasi, dan penyaringan isi sehingga didapatkan 6 artikel untuk ditelaah. Hasil : Dari berbagai penilaian trauma yang digunakan, diketahui TRISS menjadi model terbaik yang dapat memprediksi luaran berupa mortalitas pada pasien trauma. Kesimpulan : TRISS menjadi metode penilaian trauma yang paling sensitif dalam memprediksi potensi mortalitas pada pasien trauma.
Penggunaan Metode Penilaian Trauma Dalam Memprediksi Luaran Pasien : Literatur Review Ristina Fauzia Hernaningrum; Masfuri Masfuri; Liya Arista; Riri Maria
Jurnal Ners Vol. 9 No. 3 (2025): JULI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i3.45052

Abstract

Background: Trauma is one of the causes of morbidity and mortality in the world. Deaths due to trauma in Indonesia are primarily victims of productive age, so it can affect family stability. Initial assessment in the Emergency Unit is an important process that can affect the patient's long-term care outcomes. It requires speed and accuracy in identifying the severity of trauma to be able to immediately determine the priority of treatment and the appropriateness of resources. Objective: To determine the method of assessing the severity of trauma that can be used to predict outcomes in trauma patients. Method: A systematic review was conducted by searching for articles in the database with predetermined keywords, which was then continued with checking, removing duplications, and filtering the content so that six articles were obtained for review. Results: From the various trauma assessments used, it is known that TRISS is the best model that can predict outcomes in the form of mortality in trauma patients. Conclusion: TRISS is the most sensitive trauma assessment method in predicting potential mortality in trauma patients.
Pengaruh Terapi Berbasis Aplikasi Seluler Dalam Menurunkan Nyeri Pada Pasien Osteoartritis Lutut : Systematic Review Ellen Muthia; Masfuri Masfuri; Liya Arista; Riri Maria
Jurnal Ners Vol. 9 No. 3 (2025): JULI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i3.45433

Abstract

Knee osteoarthritis is a degenerative condition that often causes significant pain and thus affects the patient's quality of life. Mobile application-based therapy is a non pharmacological physical rehabilitation method that has emerged as an innovative approach in reducing pain and providing self-management benefits to increase adherence with therapy programs. This systematic review aims to determine the effect of mobile application-based therapy in reducing pain in knee osteoarthritis patients. A literature search was conducted using the EBSCO, Pubmed, ScienceDirect, and Scopus databases from 2020 to 2024 to identify randomized controlled trials (RCT) articles on mobile application-based therapy in knee osteoarthritis patients in the context of knee osteoarthritis pain therapy. Data regarding pain reduction, patient adherence, and functional outcomes were extracted and analyzed. Results obtained from 7 RCT articles showed that mobile application-based therapy significantly reduced pain in knee osteoarthritis patients compared with the control group. Apps that provide exercise programs, education, and self-monitoring have shown that increased patient adherence to therapy has been found to be positively associated with better pain outcomes. The conclusion is that mobile application-based therapy provides benefits in pain management in knee osteoarthritis patients. Further research is needed to explore factors that influence the success of therapy.
Efektivitas Intervensi Keperawatan Ergonomis dalam Mencegah Cedera Muskuloskeletal pada Perawat: Suatu Literature Review Muhammad Irvan Firdausy; Masfuri Masfuri; Liya Arista
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.53665

Abstract

Gangguan muskuloskeletal terkait kerja (work-related musculoskeletal disorders/WMSDs) merupakan masalah kesehatan kerja yang signifikan pada perawat dan berdampak pada keselamatan, produktivitas, serta keberlanjutan sistem layanan kesehatan. Berbagai intervensi keperawatan ergonomis telah dikembangkan, namun bukti mengenai efektivitasnya masih menunjukkan variasi hasil dan kualitas metodologis. Penelitian ini bertujuan untuk menilai secara sistematis efektivitas intervensi keperawatan ergonomis dalam mencegah atau menurunkan risiko gangguan muskuloskeletal pada perawat berdasarkan bukti kuantitatif terkini. Penelitian ini merupakan literature review yang disusun mengikuti panduan PRISMA. Pencarian literatur dilakukan pada lima basis data elektronik (PubMed, Scopus, ProQuest, ScienceDirect, dan SpringerLink) untuk artikel berbahasa Inggris yang dipublikasikan pada periode 2015–2025. Seleksi studi didasarkan pada kerangka PICO dengan kriteria inklusi penelitian randomized controlled trial (RCT) yang melibatkan perawat dan mengevaluasi intervensi ergonomi di tempat kerja. Kualitas metodologis studi dinilai menggunakan PEDro Scale, dan sintesis data dilakukan secara naratif. Dari total 2.263 artikel yang teridentifikasi, lima studi RCT memenuhi seluruh kriteria inklusi. Intervensi ergonomi yang ditelaah meliputi edukasi ergonomi, intervensi ergonomi personal, penggunaan alat bantu pemindahan pasien, serta pendekatan participatory ergonomics. Seluruh studi menunjukkan arah efek positif terhadap penurunan risiko atau keluhan gangguan muskuloskeletal, perbaikan postur kerja, dan/atau peningkatan fungsi kerja. Namun, kualitas metodologis studi bervariasi pada kategori rendah hingga sedang, terutama terkait keterbatasan blinding, allocation concealment, dan durasi follow-up. Intervensi keperawatan ergonomis berpotensi efektif dalam mencegah dan menurunkan risiko gangguan muskuloskeletal pada perawat, khususnya bila diterapkan secara multi-komponen dan didukung oleh sistem organisasi. Diperlukan penelitian RCT dengan kualitas metodologis lebih kuat dan evaluasi jangka panjang untuk memperkuat bukti dan mendukung implementasi berkelanjutan dalam praktik keperawatan.
Ejection Fraction and Age as Predictors of Sleep Quality after CABG Surgery Nadeak, Sari Eprina; Adam, Muhamad; Arista, Liya
JKG (JURNAL KEPERAWATAN GLOBAL) Artikel in Press (JKG) Jurnal Keperawatan Global
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37341/jkg.v11i1.775

Abstract

Background: Coronary Artery Bypass Graft (CABG) requires a longer recovery and high risk of complication including sleep quality. This study aims to identify factors associated with sleep quality in patient post-CABG surgery. Methods: This research used cross-sectional method and consecutive sampling with 100 respondents. The questionnaires used in this study were Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), International Physical Activity Questionnaire (IPAQ), and Depression Anxiety Stress Scale (DASS).  Results: Prevalence of poor sleep quality (51%) was quite high compared to good sleep quality (49%). There was a significant correlation between ejection fraction (p 0,031 OR 4,718), age (p 0,039; OR 3,309), and sleep quality of post-CABG surgery. Results of logistic regression contained 4 variables related to sleep quality: ejection fraction (p 0,017 OR 5,520), age (p 0,026 OR 3,659), beta blockers (p 0,067 OR 8,544) and diabetes mellitus (p 0,145 OR 1,918).  Conclusion: Ejection fraction and age as a predictor of sleep quality. Implication: nurses should assess the sleep quality of post-CABG surgery by considering these four variables: ejection fraction ≤ 40%, middle age, moderate-risk beta blockers and type 2 diabetes mellitus.
Immersive Virtual Reality-Based Distraction in Post-Surgical Pain and Anxiety Management: A Systematic Review Utarti, Susi Dwi; Masfuri, Masfuri; Arista, Liya; Yona, Sri
Journal of Health and Nutrition Research Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : Media Publikasi Cendekia Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56303/jhnresearch.v5i1.933

Abstract

The effective management of postoperative pain and anxiety remains a challenge in patient care. Immersive virtual reality (IVR)-based distraction has been proposed as a non-pharmacological intervention to help reduce these symptoms. This study aimed to evaluate the effectiveness of immersive VR-based distraction in reducing postoperative pain and anxiety. This systematic review followed the PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses) guidelines by identifying studies that assessed immersive VR-based distraction in postoperative patients. Studies published from 2015 to 2025 were searched in ClinicalKey Nursing, EbscoHost, ProQuest, ScienceDirect, Scopus, and Taylor and Francis databases. Fourteen randomized controlled trials (RCTs) were included, covering various surgical contexts such as orthopedic, abdominal, cardiac, and oral surgery. Most studies showed that immersive VR-based distraction effectively reduced postoperative pain and anxiety, although some reported no significant effect. Variations in outcomes were influenced by patient characteristics, duration and frequency of VR use, and the type of VR content. Studies were excluded if they involved non-postoperative populations, pediatric samples, non-immersive VR, or non-interventional designs. Overall, immersive VR-based distraction shows promise in reducing postoperative pain and anxiety, although variability in effectiveness highlights the need for further research on technical parameters and clinical implementation
Meningkatkan Self-Management Pasien Hipertensi melalui edukasi berbasis digital : A Systematic Review Kamahi, Sri Wahyuni; Kariasa, I Made; Arista, Liya
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.56349

Abstract

Latar Belakang : Masalah hipertensi masih menjadi persoalan kesehatan global dengan tingkat kontrol tekanan darah yang masih rendah. Edukasi berbasis digital dinilai memiliki potensi dalam meningkatkan self-management pasien hipertensi, termasuk mengontrol tekanan darah, perubahan gaya hidup dan memberikan pencegahan faktor risiko komplikasi. Metode : Penelusuran literatur dilakukan melalui database ScienceDirect, Sage Journal, Pubmed, Scopus, dan Taylor & Francis. Terdapat total 10.825 artikel yang teridentifikasi, terdapat 8 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dengan mempertimbangkan uji coba terkendali acak (RCT), waktu publikasi, teks lengkap berbahasa inggris, akses terbuka dan hasilnya disajikan. Hasil : Hasil telaah didapatkan 4 artikel mengidentifikasi bahwa edukasi berbasis digital,pengukuran tekanan darah, dan pengingat berpengaruh terhadap pengelolaan hipertensi, kepatuhan pengobatan, penurunan tekanan darah sistolik, pengetahuan, gaya hidup, kualitas hidup, fungsi sosial (peningkatan kemampuan care giver) dengan nilai p-value < 0,05. Terdapat 2 artikel mengidentifikasi bahwa edukasi berbasis digital dan pengukuran tekanan darah berpengaruh terhadap pengelolaan hipertensi, kualitas hidup, pengetahuan, penurunan tekanan darah sistolik dengan nilai p-value < 0,05 dan penurunan faktor risiko kardiovaskuler namun tidak signifikan dengan p-value >0,05. Sedangkan 2 artikel lainnya mengidentifikasi bahwa edukasi berbasis digital dan pengingat pesan berpengaruh terhadap pengelolaan hipertensi, kepatuhan pengobatan, peningkatan faktor sosial (care giver) dengan nilai p-value < 0,05. Secara keseluruhan edukasi berbasis digital memiliki dampak positif dalam meningkatkan self-management. Kesimpulan : Edukasi berbasis digital dapat menjadi pengelolaan hipertensi yang efektif dalam mendukung self-management, penggabungan beberapa intervensi dapat menghasilkan dampak yang lebih optimal. Penelitian lebih lanjut dengan sampel yang lebih besar dan durasi yang lebih lama diperlukan untuk mengkonfirmasi efek jangka panjang pada pengontrolan tekanan darah dan pencegahan komplikasi faktor risiko kardiovaskuler. Kata Kunci : Edukasi Digital, Edukasi tatap muka, Self management
Improving Sleep Quality in Stroke and Chronic Kidney Disease Patients: A Systematic Review of Non-Pharmacological Interventions Eriza, Yudia; Kariasa, I Made; Arista, Liya; Yona, Sri
Nursing Information Journal Vol. 5 No. 2 (2026): In Progress Issue
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STIKES Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sleep disturbances are common in patients with stroke and chronic kidney disease, potentially worsening health conditions and reducing quality of life. Non-pharmacological interventions have received less research attention, despite the potential for non-pharmacological approaches to improve sleep quality without causing side effects. This systematic review aimed to evaluate the effectiveness of non-pharmacological interventions in this population. Randomized controlled trials involving patients with stroke and chronic kidney disease aged >18 years were searched in seven English-language databases. Methodological quality was assessed using the JBI critical appraisal tool, and data were synthesized. 9 RCTs met inclusion criteria and demonstrated significant benefits. Cognitive Behavioral Therapy (4 studies) consistently improved sleep quality and reduced fatigue, anxiety, and depression (p < 0.001). Reflexology (2 studies) decreased anxiety and improved sleep quality (p < 0.001). Acupuncture significantly improved ISI, PSQI, and HADS scores (p < 0.001–0.003). Lavender aromatherapy reduced depression and improved sleep quality (p < 0.001), while spiritual care improved sleep quality and spiritual well-being (p < 0.001). These findings highlight the role of nurses in implementing non-pharmacological interventions to address sleep disturbances and related psychological symptoms in patients with stroke and chronic kidney disease. Cognitive Behavioral Therapy is recommended for patients with insomnia and psychological comorbidities, reflexology and massage may be beneficial for those undergoing hemodialysis, while acupuncture, aromatherapy, and spiritual care can be tailored to individual needs. Further research is needed to assess their long-term effectiveness and their integration into broader clinical practice.