Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Kadar Pigmen Total, Antosianin, dan Angka Lempeng Total Ikan Cakalang (Katsuwonus Pelamis L) Asap yang Direndam Larutan Kulit Buah Manggis (Garcinia Mangostana L) Alfianto, Fauzan; Onibala, Hens; Mentang, Feny; Agustin, Agnes Triasih; Sanger, Grace; Makapedua, Daisy Monica; Dotulong, Verly
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.8.2.2020.27115

Abstract

Tujuan penelitian ini. Untuk mendapatkan esktrak kulit buah manggis (Garcinia Mangostana L) yang dikeringkan selama 4 dan 8 hari sebagai bahan pengawet. Hasil yang diperoleh dari ikan cakalang asap yang direndam dalam larutan kulit buah Manggis memiliki nilai Total Plate Count  tertinggi terdapat pada hari ke 10  waktu pengeringan 8 hari lama perendaman 15 menit dengan nilai 1,50 koloni/gram. Sedangkan Nilai terendah 0 hari dengan waktu pengeringan 4 hari lama perendaman 30 menit dengan nilai 2,6 koloni/gram. Data Hasil Pigmen Total kandungan tertinggi terdapat pada pengeringan hari ke 4 dengan nilai 68,67g/g. sedangkan nilai terendah pengeringan 8 hari dengan nilai 19,95g/g. Data hasil Antosianin waktu pengeringan 4 hari memperoleh kadar 191,12 mg/L sedangkan Antosianin waktu pengeringan 8 dengan kadar 62,37 mg/L.
Pengaruh Perbedaan Konsentrasi Asam Asetat dan Lama Ekstraksi Kolagen dari Kulit Ikan Situhuk Hitam (Makaira indica) Tangkaa, Raymundus; Mentang, Feny; Agustin, Agnes Triasih; Onibala, Hens; Kaseger, Bertie Elias; Makapedua, Daisy Monica; Sanger, Grace
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.8.2.2020.27326

Abstract

Kolagen adalah jenis protein berbentuk serabut atau fibril yang merupakan komponen struktural utama dari jaringan pengikat yang meliputi hampir 30% dari total protein pada jaringan organ tubuh vertebrata maupun invertebrata. Kolagen banyak dimanfaatkan dalam berbagai bidang diantaranya dalam industri; pangan, kosmetik, farmasi, kedokteran, fotografi dan sebagainya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan konsentrasi asam asetat dan lama waktu ekstraksi kolagen dari kulit ikan situhuk hitam (Makaira indica). Pada penelitian ini digunakan perlakuan konsentrasi CH3COOH 0,7M (A1) dan CH3COOH 0,9M (A2) dan waktu ekstraksi 24 jam (B1) dan 48 jam (B2). Tahapan pembuatan kolagen ini adalah; pencucian & pemotongan, perendaman (NaOH), pencucian (sampai pH netral), ekstraksi (CH3COOH), pengendapan, salting out, sentrifuse. Hasil penelitian ini diperoleh rendemen terbanyak ada pada perlakuan konsetrasi CH3COOH 0,9M dengan lama waktu ekstraksi 24 jam yaitu sebesar 4,77%.  Kadar air yang paling rendah diperoleh dari perlakuan konsetrasi CH3COOH 0,7M dengan lama waktu ekstraksi 24 jam yaitu sebesar 14,74%. Hal ini diakibatkan karena penyerapan udara dan molekul air di lingkungan yang terjadi pada sampel (hygroscopic). Hasil stabilitas pH berkisar antara 4,6 (perlakuan konsetrasi CH3COOH 0,7M dengan lama waktu ekstraksi 24 jam ) – 6,6 (perlakuan konsentrasi CH3COOH 0,9M dengan lama waktu ekstraksi 48 jam), hal ini membuktikan bahwa semakin lama waktu perendaman berpengaruh pada derajat keasaman kolagen yang dihasilkan.
Kualitas Sensori dan Mikrobiologi Surimi Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis L) yang Dipengaruhi oleh Waktu Pencucian dengan Air Dingin 4°C Simbolon, Sonia Epriana; Onibala, Hens; Pandey, Engel Victor; Taher, Nurmeilita; Mentang, Feny; Dotulong, Verly; Harikedua, Silvana Dinaintang
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.9.1.2021.29560

Abstract

This study aims to obtain the best surimi quality of skipjack that was washed with cold water of 4 ° C with different washing times (5 and 10 minutes). The parameters measured were yield, moisture content and pH (AOAC, 2005), total plate count (TPC) using the modified SNI 2332.3-2015 method, Salmonella detection with SSA Agar, and organoleptic tests according to SNI 2694: 2013. The results showed that the treatment of washing time 5 minutes is the best time in making fish paste and boiling temperature 90 ° C - 20 min is the best time in the formation of fish gel, because it has the highest folding test and bite test values of 6.6 and 8.2. Fish paste has a moisture content of 72.25 and a pH of 5.84. Microbiological test results showed that the TPC in the washing treatment of 5 min and 10 min were still in accordance with Indonesia National Standards for surimi and there was no presence of Salmonella sp. in both treatmentsTujuan penelitian ini untuk mendapatkan mutu surimi ikan cakalang terbaik yang dicuci dengan air dingin 4°C dengan waktu pencucian berbeda (5 dan 10 menit). Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi peneliti dan pengolah ikan tentang waktu pencucian terbaik untuk mendapatkan mutu sensori dan mikrobiologi surimi ikan cakalang sesuai SNI 2694:2013 tentang Surimi. Parameter yang diukur pada penelitian ini adalah rendemen, kadar air dan pH (AOAC, 2005), angka lempeng total (ALT) menggunakan metode SNI 2332.3-2015 yang dimodifikasi, deteksi Salmonella dengan SSA Agar, dan uji organoleptik sesuai SNI 2694:2013. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan lama pencucian 5 menit merupakan waktu terbaik dalam pembuatan pasta ikan dan suhu perebusan 90°C - 20 min adalah waktu terbaik dalam pembentukan gel ikan, karena memiliki nilai uji lipat dan uji gigit tertinggi yaitu 6.6 dan 8.2. Pasta ikan memiliki nilai kadar air 72.25 dan pH 5.84. Hasil uji mikrobiologi memperlihatkan bahwa total mikroorganisme pada perlakuan pencucian 5 min dan 10 min masih sesuai standar SNI untuk produk surimi dan tidak terdapat keberadaan Salmonella sp. pada kedua perlakuan. 
Efek Suhu dan Waktu Simpan terhadap Kualitas Bagian Tengah Yellowfin Tuna Segar (Thunnus albacares) Putra, Debriga; Dien, Henny A; Montolalu, Roike I; Onibala, Hens; Makapedua, Daisy M; Sumilat, Deiske A; Luasunaung, Alfret
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 8, No 3 (2020)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.8.3.2020.29537

Abstract

Decline quality of Tuna as a result of abuse temperature and long shelf life time. Histamine, microbial and sensory odours become one of the global problems that can cause health problems. Large number of bacteria dominated in viscera area rather than other fish parts. This study was conducted to determine the effect of storage temperature on histamine, microbial and sensory odours on middle of Yellowfin Tuna. This study used descriptive explorative method, sampel were periodically taken for analyses at intervals 48 hours (0ºC), 8 hours (10ºC) and 4 hours (25ºC). Yellowfin Tuna was rejected earlier by the sensory odours than TPC and histamine. During storage at 0ºC for 720 hours histamine levels still acceptable for consumption however TPC already exceeded the limit after 672 hours and rejected by sensory odours for 624 hours storage. During storage at temperature 10ºC did not reached the limit for 120 hours while TPC value already reached 2x106 cfu/g for 88 hours storage and rejected by sensory odours for 72 hours storage. During storage at temperature 25ºC histamine reached 67.3 ppm for 32 hours, ALT reached 5.5x105 cfu/g for 24 hours and rejected by sensory odour for 20 hours of storage. Histamine formation correlates with the growth of microbial counts and decrease of sensory odours value. Suhu yang tinggi dalam waktu simpan lama berpengaruh terhadap penurunan kualitas ikan tuna. Histamin, mikroba dan bau busuk menjadi salah satu permasalahan global yang dapat menyebabkan masalah kesehatan. Bagian tengah ikan menjadi sumber bakteri paling tinggi dibandingkan bagian lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perkembangan histamin, ALT dan sensori bau pada bagian tengah Tuna sirip kuning dalam penyimpanan suhu yang berbeda. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif eksploratif, sample di analisis secara berkala pada suhu 0ºC (48 jam), 10ºC (8 jam) dan 25ºC (4 jam). Tuna sirip kuning mengalami pembusukan lebih awal berdasarkan parameter sensori bau, kemudian disusul ALT dan Histamin. Kandungan histamine pada suhu 0ºC masih layak untuk dikonsumsi setelah 720 jam, namun nilai ALT melebihi batas aman setelah 672 jam penyimpanan dan nilai sensori bau setelah 624 jam penyimpanan. Penyimpanan suhu 10ºC tidak menyebabkan peningkatan histamin melebihi batas limit setelah penyimpanan selama 120 jam, sedangkan nilai ALT mencapai 2x106 cfu/g setelah 88 jam dan nilai sensori bau menyatakan ikan busuk setelah penyimpanan selama 72 jam. Penyimpanan suhu 25ºC histamin mencapai 67,3 ppm setelah penyimpanan 32 jam dan nilai ALT 5,5x105 cfu/g pada penyimpanan ke 24 jam serta ikan dinyatakan busuk berdasarkan sensori bau setelah 20 jam penyimpanan. Peningkatan histamin berkorelasi dengan pertumbuhan jumlah mikroba dan penurunan nilai sensori bau.
Ekstraksi Kolagen Tulang Ikan Tuna (Thunnus sp) DENGAN ASAM KLORIDA Sembiring, Tuhu Edi Suranta; Reo, Albert Royke; Onibala, Hens; Montolalu, Roike Iwan; Taher, Nurmeilita; Mentang, Feny; Damongilala, Lena Jeane
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 8, No 3 (2020)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.8.3.2020.29573

Abstract

Previously, commercial collagen are obtained from mammals and poultry. However, there is a huge concern about Bovine Spongiform Encephalopathy (BSE, “mad cow disease”) and avian influenza from the consumers, that is why many researcher are trying to explore the utilization of marine animals as source of collagen. The aim of this study is to gathering information about extraction collagen from Tuna (Thunnus sp.) using 1% and 3% Chloride Acid. The result indicated that the rendement was 1,42 % and 5,65 %, moisture contents 7 % and 12 %, and acidity (pH) 4,30 % and 5,19 %. These results suggested that the using 3% chloride acid in the extraction process produced higher collagen. Sebelumnya, kolagen komersial diperoleh dari mamalia dan unggas. Namun demikian, terdapat kekhawatiran yang sangat besar terhadap Bovine Spongiform Encephalopathy (BSE, “penyakit sapi gila”) dan flu burung dari konsumen, oleh karena itu banyak peneliti yang mencoba untuk mengeksplorasi pemanfaatan hewan laut sebagai sumber kolagen. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi tentang ekstraksi kolagen dari ikan tuna (Thunnus sp.) Menggunakan Asam Klorida 1% dan 3%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen 1,42% dan 5,65%, kadar air 7% dan 12%, serta keasaman (pH) 4,30% dan 5,19%. Hasil ini menunjukkan bahwa penggunaan asam klorida 3% dalam proses ekstraksi menghasilkan kolagen yang lebih tinggi.  
Substitusi Tepung Buah Mangrove Bruguiera gymnorrhiza Pada Camilan Stick Massie, Tita; Pandey, Engel Victor; Lohoo, Helen Jenny; Mentang, Feny; Mewengkang, Hanny; Onibala, Hens; Sanger, Grace
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 8, No 3 (2020)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.8.3.2020.29434

Abstract

Bruguiera gymnorrhiza mangrove plant is one type of mangrove that can be used as a new food source, because this species contains high carbohydrates. The purpose of this study was to treat B. gymorrhiza mangroves into flour and processed into sticks. The study was divided into two stages, first treating B. gymorrhiza mangroves into flour including boiling, cutting, drying and grinding, secondly managing B. gymorrhiza mangrove flour into sticks including mixing ingredients, mixing dough, molding dough and frying. The first research was obtained yield of 27.96%, moisture content greater than SNI flour which was 14%, Total Plate Figures of 2.8x103 colonies/gram, and pH 5.0. The second study carried out organoleptic tests with two mangrove flour treatments namely 50% B. gymorrhiza +50% Wheat flour and 25% B. gymorrhiza +75% Wheat flour, from 41 semi-trained panelists the average value included appearance by 54% (25% B. gymorrhiza +75% Wheat flour), color by 36% (25% B. gymorrhiza +75% Wheat flour), aroma by 54% (50% B. gymorrhiza +50% Wheat flour), taste by 57 % (50% B. gymorrhiza +50% Wheat flour), and 51% texture like sticks of B. gymorrhiza mangrove flour. It was concluded that this study fully fulfilled the requirements for the management of flour and sticks so that it could be produced as a new food substitute for wheat, the B. gymorrhiza mangrove fruit.  Tanaman mangrove Bruguiera gymnorrhiza merupakan salah satu jenis mangrove yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan baru, karena spesies ini mengandung karbohidrat yang tinggi. Tujuan Penelitian ini untuk mengelolah buah mangrove B. gymorrhiza menjadi tepung dan diolah menjadi stick. Penelitian terbagi atas dua tahap, pertama mengelolah buah mangrove B. gymorrhiza menjadi tepung meliputi perebusan, pemotongan, pengeringan dan penggilingan, kedua mengelolah tepung buah mangrove B. gymorrhiza menjadi stick meliputi pencampuran bahan, pengadukan adonan, pencetakan adonan dan penggorengan. Penelitian pertama diperoleh Rendemen sebesar 27,96%, Kadar Air lebih besar dari SNI tepung yaitu 14%, Angka Lempeng Total sebesar 2,8x103 koloni/gram, dan pH 5,0. Penelitian kedua dilakukan uji organoleptik dengan dua perlakuan tepung mangrove yaitu 50% B. gymorrhiza +50% Tepung terigu dan 25% B. gymorrhiza +75% Tepung terigu, dari 41 panelis semi terlatih nilai rataan meliputi kenampakan sebesar 54% (25% B. gymorrhiza +75%Tepung terigu) , warna sebesar 36% (25% B. gymorrhiza +75%Tepung terigu), aroma sebesar 54% (50% B. gymorrhiza +50%Tepung terigu), rasa sebesar 57% (50% B. gymorrhiza +50%Tepung terigu) ,dan tekstur  sebesar 51% menyukai stick dari tepung buah mangrove B. gymorrhiza. Disimpulkan penelitian ini sepunuhnya telah memenuhi syarat untuk pengelolaan tepung dan stick sehingga dapat diproduksi sebagai sumber pangan baru pegganti gandum yaitu buah mangrove B. gymorrhiza.
PROFIL ASAM AMINO KECAP IKAN TONGKOL (Euthynnus affinis) YANG DIFERMENTASI DENGAN PENAMBAHAN NENAS Angela, Gabriella Caristy; Mentang, Fenny; Onibala, Hens; Montolalu, Roike; Sumilat, Deiske; Luasunaung, Alfret
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.9.2.2021.30944

Abstract

Kecap ikan adalah salah satu produk hasil fermentasi dengan bahan baku ikan. Ikan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan tongkol ( Euthynnus Affinis C. ) yang merupakan hasil tertinggi komoditi perikanan di Sulawesi Utara yang memiliki kandungan protein, asam lemak omega-3, vitamin dan mineral yang tinggi dan juga sangat kaya gizi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi terbaik dari buah nenas yang ditambahkan dan meningkatkan pengaruh konsentrasi buah nenas terhadap lama fermentasi dan profil asam amino. Penelitian menggunakan penambahan sari buah nanas dengan konsentrasi (0%, 10%, 15% dan 20%) dan garam 10% dengan lama penyimpanan selama 10 hari dalam inkubator.Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah Asam Amino, Kadar Protein, Kadar Karbohidrat, Kadar Lemak, Kadar Nitrogen, Kadar Abu, Kadar Air, dan pH. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampel kecap ikan sari buah nanas 15% dengan garam 10% dapat mempercepat proses hidrolisis pada hari ke-10. Dari mutu kimiawi, hasil laporan asam amino LC / MS didapatkan 9 kandungan utama yang ada pada kecap ikan tongkol 15% yaitu: L-Leucine, L-Valine, L-Tryosine, L-Cystine, AABA, L-Alanine, L-Glutamic Asam, Glisin, dan L-Serin.Hasil analisis kandungan proksimat (kadar air 61,3%, kadar abu 9,22%, kadar lemak 1,52%, kadar protein 3,98%, kadar karbohidrat 3,11%) pada kecap ikan tongkol 15% masih dalam standar mutu kecap ikan yang baik, dan kandungan nitrogen kecap ikan tongkol 15% dapat memenuhi Standar Industri Thailand Grade 1.
Pengaruh Ekstrak Kulit Manggis terhadap Mutu Ikan Cakalang Asap Gusu, Jahara; Onibala, Hens; Pongoh, Jenki; Taher, Nurmeilita; Dotulong, Verly; Mentang, Feny; Sanger, Grace
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 9, No 3 (2021)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.9.3.2021.29587

Abstract

Tujuan Penelitian ini untuk mendapatkan ekstrak kulit buah manggis yang dikeringkan selama 4 dan 8 hari sebagai bahan pengawet dan melihat pengaruh tingkat kesukaan konsumen terhadap ikan cakalang (Katsuwonus pelamis L.) asap yang direndam dalam ekstrak kulit buah manggis. Data hasil pengamatan uji organoleptik yang tertinggi terdapat pada Aroma dengan nilai 8,1 pengeringan 8 hari dengan perendaman 15 menit (A2B1) dalam penyimpanan 0 hari dan data hasil uji organoleptik yang terendah terdapat pada Rasa dengan nilai 2,5 pengeringan 4 hari dengan perendaman 30 menit dalam penyimpanan hari ke-10. Hasil penelitian TVB-N menunjukkan bahwa larutan kulit buah manggis dengan penyimpanan 0 hari sampai hari ke-10 sudah diatas Standarisasi Nasional Indonesia (SNI) sehingga sudah tidak layak untuk dikonsumsi.
Analisis Kimia dan Uji Organoletik Selai Rumput Laut Euchema Spinosum Damopolii, Niki Sirwanto; Kaseger, Bertie; Damongilala, Lena; Onibala, Hens; Pandey, Engel; Makapedua, Daisy; Sanger, Grace
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 9, No 3 (2021)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.9.3.2021.29920

Abstract

Eucheuma spinosum as a quality processed product that has added value. Jam is an ingredient with a gel or semi-gel consistency that is made from the pulp of the fruit. The gel or semi-gel consistency in jam is obtained from the interaction of pectin compounds derived from fruit or pectin added from outside, sucrose and acid sugars. This study aims to analyze the chemistry, including water content test, ash content test, and crude fiber test and organoleptic test for seaweed Eucheuma spinosum jam. In chemical analysis tests and organoleptic tests of Eucheuma spinosum seaweed jam, the water content in Euchema spinosum seaweed jam obtained the lowest results (A2B3), which was 29.75% while the largest (A2B2) was 34.50%, the ash content In Euchema spinosum seaweed jam got the greatest result from treatment (A1B3) by 1%, the crude fiber content in Euchema spinosum seaweed jam got the greatest result in treatment (A2B2 and A2B3) which was 0.015% and the lowest (A1B2) which was equal to 0 , 05%, the Organoleptic Test for the highest appearance test was found in A1B1 with a mean value of 8.69, A2B2 taste with a mean value of 8.44, A1B3 aroma with a mean value of 8.00 and treatment of 150 gr sugar - 0 ml, and A1B1 texture with a value Average 8.56. Eucheuma spinosum sebagai suatu produk olahan yang bermutu dan memiliki nilai tambah. Selai adalah bahan dengan konsistensi gel atau semi gel yang dibuat dari bubur buah. Konsistensi gel atau semi gel pada selai diperoleh dari interaksi senyawa pektin yang berasal dari buah atau pektin yang ditambahkan dari luar, gula sukrosa dan asam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kimia yang diantaranya  uji kadar air, uji kadar abu, dan uji serat kasar dan uji organoleptik selai rumput laut eucheuma spinosum. Dalam pegujian analisis kimia dan uji organoleptik selai rumput laut eucheuma spinosum di dapatkan hasil kadar air pada selai rumput laut Euchema spinosum mendapatkan hasil terendah (A2B3) yaitu sebesar 29,75% sedangkan yang terbesar (A2B2) yaitu sebesar 34,50%, Kadar abu pada selai rumput laut Euchema spinosum mendapatkan hasil terbesar dari perlakuan (A1B3) sebesar 1%, Kadar serat kasar pada selai rumput laut Euchema spinosum mendapatkan hasil paling besar pada perlakuan  (A2B2 dan A2B3)  yaitu sebesar 0,015% dan terendah (A1B2) yaitu sebesar 0,05%, Uji Organoleptik untuk uji kenampakan tertinggi terdapat pada A1B1 dengan nilai rerata sebesar 8,69 , rasa A2B2 dengan nilai rerata 8,44 , aroma A1B3 dengan nilai rerata 8.00 dan perlakuan 150 gr gula – 0 ml, dan tekstur A1B1 dengan nilai rerata 8.56.  
APPLICATION OF MIXING INDEX (IP) FOR THE EVALUATION OF GEL-FORMING ABILITY IN MYOFIBRIL-PROTEIN GELS OF FISH PASTES Hens Onibala
Jurnal Teknologi dan Industri Pangan Vol. 21 No. 1 (2010): Jurnal Teknologi dan Industri Pangan
Publisher : Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, IPB Indonesia bekerjasama dengan PATPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.103 KB)

Abstract

This study was aimed to evaluate the mixing process effectiveness of fish meat using a mixing index (Ip). Samples used were Tilapia, Oreochromis niloticus, Walleye pollack surimi, and a mixture of both.  The ability of fish meat paste myofibril-protein to form gel was evaluated with a rigidity test and MHC distribution with SDS-PAGE.  The results indicated that the mixing process effectiveness with salt was 3 minutes with an Ip close to 0. This was reflected by a rigidity value >MHC. Hence, this study concluded that mixing index could be used to evaluate the ability of fish meat gel formation.
Co-Authors Adel Tuyu Adnan Wantasen Agnes T. Agustin, Agnes T. Agnes Triasih Agustin Alfianto, Fauzan Alfret Luasunaung Angela, Gabriella Caristy Ansar, Azhar Ariansyah Anti, Richard Suhartono Bentalen, Septian Gedoan Billy Th Wagey Biondi Tampanguma Calvyn F. A. Sondak, Calvyn F. A. Daisy Monica Makapedua Damopolii, Niki Sirwanto Deiske A. Sumilat Deiske Adeliene Sumilat, Deiske Adeliene Dewi Sahnita Elieser Imbir Engel Victor Pandey, Engel Victor Feny Mentang Frans G Ijong Frans G. Ijong, Frans G. Frans Ijong Ginting, Elvy Like Gordianus P Lombongadil Grace Sanger, Grace Grevo S. Gerung Gusu, Jahara Henny A Dien Henny Adeleida Dien I K Suwetja I Ketut Suwetja Imbir, Yakobus Kostan Inneke F. M Rumengan Irandha Citra Marasi Siahaan J Aquarista Ingratubun Jenki Pongoh Joshian N.W. Schaduw Joyce CV Palenewen Kaparang , Frangky Erens Kaseger, Bertie Kaseger, Bertie Elias Lohoo, Helen Jenny Makapedua, Daisy Makapedua, Daisy M Massie, Tita Mentang, Fenny Mewengkang, Hanny Mongi, Eunike L. Mopay, Maratade Nity, Elroi Nurmeilita Taher Pamikiran, Revols Dolfi Ch Pandey, Engel Paputungan, Mohammad Reza Putra, Debriga Reo, Albert Royke Roike Iwan Montolalu Ruslan Daeng Matteru, Ruslan Daeng Saliada, Farnis Salindeho, Netty Samuel Jeujanan, Samuel Sandria Stephanie Pundoko Selfia M. Nara Sembiring, Tuhu Edi Suranta Siegfried Berhimpon Silvana Dinaintang Harikedua Simbolon, Sonia Epriana Singkuku, Febri Triani Stenly Wulllur Stenly Wullur Suria Darwisito, Suria Tangkaa, Raymundus Tappy, Miranto Stevanus Veibe Warouw Verly Dotulong, Verly Wowiling, Fernando Youce M Bintang