Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

PREVALENSI KEJADIAN ANOREKSIA PADA LANSIA Chrisyen Damanik; Sumiati Sinaga; Maichel Alexander
Jurnal Medika : Karya Ilmiah Kesehatan Vol 2 No 2 (2017)
Publisher : ITKES Wiyata Husada Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.056 KB)

Abstract

The prevalence of anorexia sufferers in the elderly will continue to increase due to the aging process which can be detrimental to quality of life, morbidity, and mortality. By using simple measurements through the anorexia questionnaire, it is known that the elderly who experience good and bad appetite. This study was to determine the prevalence of anorexia in the elderly at the Tresna Werdha Nirwana Social Home Puri Samarinda. This study is a cross-sectional measurement study that is descriptive in nature, random sampling with 80 respondents. The prevalence of anorexia from 80 respondents, mostly women 62.5% with the highest age of 45-59 years, showed that the risk of anorexia was 41.3% and those not at risk 58.8%. In the care of the elderly at social institutions so that they can provide material about anorexia so that they can reduce those that can harm the health of the elderly at the Tresna Werdha Nirwana Social Home Puri Samarinda
SELF MANAGEMENT BEHAVIOUR PADA PASIEN YANG MENJALANI HEMODIALISA Chrisyen Damanik; Runtiani .
Jurnal Medika : Karya Ilmiah Kesehatan Vol 3 No 2 (2018)
Publisher : ITKES Wiyata Husada Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (142.335 KB) | DOI: 10.35728/jmkik.v3i2.42

Abstract

Self management behavior is a way of controlling oneself in order to achieve a desired target, the ability of patients with chronic kidney disease to regulate their lifestyle while experiencing illness conditions and undergoing changes in their lifestyle. The purpose of this study was identify self management behaviour in patients undergoing hemodialisa. This descriptive study was collectedfrom 62 respondent by using univariate analysis. The results of this study showed that average respondents had a maximum self-management behavior of 46.63. This study may be the information and results of the evaluation for nurses on self-management behaviors in patients with chronic kidney disease undergoing hemodialysis.
PENGALAMAN PERAWAT DALAM MELAKUKAN MANAJEMEN NYERI PADA PASIEN SINDROM KORONER AKUT DI RUANG ICCU chrisyen damanik
Jurnal Medika : Karya Ilmiah Kesehatan Vol 4 No 1 (2019)
Publisher : ITKES Wiyata Husada Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.022 KB) | DOI: 10.35728/jmkik.v4i1.72

Abstract

Background: The prevalence of Acute Coronary Syndrome in Indonesia increases and is high every year. Pain is a complaint of SKA patients which can be managed by pharmacological and non-pharmacological interventions. Efforts to improve comfort for patients are non-pharmacological, namely the provision of deep breath relaxation, comfortable position, and guide imagery are the main strategies of independent nursing action in accordance with operational standard procedures. Objective: To explore the experience of nurses in performing pain management on patients with Acute Coronary Syndrome in the ICCU Room. Method: Qualitative research with a phenomenological study approach by sampling, purposive sampling technique, which involved 4 participants with seven-day study duration, data collection was done by in-depth interviewing. The criteria includes nurses who work in the Intensive Cardiac Care Unit (ICCU) with working experience of at least three years, graduates of diploma and bachelor degree in nursing and have the competence in handling critical patients; one of them is acute coronary syndrome. The results of the study: Resulted in three themes: 1) Giving non-pharmacological actions only to mild to moderate pain with accompanying Pharmacological therapy. 2) Giving deep breath relaxation, comfortable position, and guide imagery as non-pharmacological actions. 3) Administration of Thrombolytic, Cedocard and Morphine as pharmacological collaborative actions. Conclusion: The experience of nurses in handling pain in acute coronary syndromes in a non-pharmacological way, namely giving deep breath relaxation, comfortable position, and guide imagery along with pharmacological therapy as a collaborative action.
PENURUNAN INTENSITAS NYERI PADA PASIEN FLEBITIS SETELAH PEMBERIAN KOMPRES HANGAT chrisyen damanik
Jurnal Medika : Karya Ilmiah Kesehatan Vol 2 No 1 (2017)
Publisher : ITKES Wiyata Husada Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (643.049 KB)

Abstract

Background: Intravenous therapy or IV therapy is one of the most used therapy method Thar caused phlebitis. It is an inflammation of the veins tunica intima with the characteristics of a reddish symptoms at insertion area or along the vein, pain and swelling. One of non pharmacological treatment for patient with phlebitis is by giving warm compress. So that, this research aimed to know the effects of warm compress treatment on decreasing pain intensity on patient with phlebitis. Research methods: This researh used quasi-experiments with One Group Pretest Posttest design by using 20 respondents. Each respondents, before and after intervention, are measured by using pain scale observation sheet. Then, the data were analyzed by Wilcoxon Signed Ranks Test with a significant p value ˂ α 0,05. Findings: This research reveals that warm compress treatment decreasing pain intensity on patient with phlebitis, before and after intervention, with p value 0,000 (p ˂ α 0,05), that average value of pain intensity before warm compress treatments intervention is 7,45 and average value of pain intensity after warm compress treatments intervention in 15 minutes is 2,70. Conclusions: There is a relationship between warm compress treatment with decreasing pain intensity in patients with phlebitis. Therefore, nurse, especially in inpatient unit, should give warm compress treatment as alternative method in decreasing pain intensity on patient with phlebitis.
Pengaruh Pijat Laktasi Terhadap Kelancaran Pengeluaran Asi Pada Ibu Post Partum Di Wilayah Kerja Puskesmas Baqa Kota Samarinda Ema Nur Azizah; Asih Prasetiyarini; Chrisyen Damanik; Tuti Meihartati
Mutiara: Multidiciplinary Scientifict Journal Vol. 1 No. 2 (2023): Multidiciplinary Scientifict Journal
Publisher : Al Makki Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57185/mutiara.v1i2.30

Abstract

Latar Belakang : Menyusui terkadang menyebabkan lecet atau luka pada puting ibu karena respon bayi terhadap ASI yang tidak lancar sehingga menyebabkan bayi semakin memperkuat hisapannya untuk mendapatkan ASI yang cukup. Ibu yang mengalami masalah ketidaklancaran pengeluaran ASI maka berpengaruh terhadap pemberian ASI yang kurang optimal. Pijat laktasi merupakan salah satu intervensi yang dapat digunakan untuk meningkatkan produksi ASI. Tujuan : teranalisanya pengaruh pijat laktasi terhadap kelancaran pengeluaran ASI pada ibu postpartum. Metode : penelitian Pre-Eksperiment dengan desain penelitian one group pretest-posttest. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling sehingga responden berjumlah 36 orang. Instrumen menggunakan kuesioner kelancaran pengeluaran ASI Puspitasari, 2016 dalam penelitian Kharisma, 2019 dan SOP pijat laktasi. Analisa data menggunakan uji Paired Samples T-test. Hasil : Hasil penelitian kelancaran pengeluaran ASI sebelum diberikan pijat laktasi, yaitu mempunyai skor rata-rata 62,47. Sedangkan kelancaran pengeluaran ASI setelah dilakukan pijat laktasi memperoleh kenaikan skor rata-rata yaitu 87,17. Hasil analisis uji Paired Samples T-test menunjukkan Sig.(2-tailed) 0.000 < α 0.05, sehingga terdapat pengaruh pijat laktasi terhadap kelancaran pengeluaran ASI pada ibu postpartum di wilayah kerja puskesmas Baqa kota Samarinda. Kesimpulan : skor rata-rata kelancaran pengeluaran ASI pada seluruh responden yang diberikan pijat laktasi mengalami kenaikan oleh karena itu pijat laktasi sangat bermanfaat dalam meningkatkan kelancaran pengeluaran ASI pada ibu postpartum di wilayah kerja Puskesmas Baqa. Disarankan kepada tenaga kesehatan dapat menjadikan pijat laktasi sebagai alternatif non farmakologi dalam upaya meningkatkan kelancaran pengeluaran ASI dan mengedukasi ibu postpartum terkait ASI.
PARTICIPATION OF HEALTH CAREERS AS IMPLEMENTATION OF NURSING CARE WITH COMMUNITY ATTITUDES IN EFFORTS TO PREVENT COVID-19 Sholichin; Damanik, Chrisyen; fittarsih, Niya; Purwanto, Puwanto
Jurnal Kesehatan Vol 11 No 2 (2024): Jurnal Kesehatan
Publisher : STIKES Bethesda Yakkum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35913/jk.v11i2.397

Abstract

Pendahuluan : Upaya pencegahan Covid-19 yang dapat dilakukan adalah dengan pemberdayaan masyarakat dalam hal ini adalah peran aktif kader kesehatan yang dapat menjadi role model dan memberikan contoh ke masyarakat. Sikap masyarakat merupakan faktor penting untuk mewujudkan perilaku yang efektif dalam pencegahan penularan penyakit Covid-19. Metode: Penelitian korelasional melalui pendekatan cross sectional. 109 responden yang terlibat dalam penelitian dengan teknik consecutive sampling. Analisa data dilakukan dengan uji Spearman Rho dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil : Responden penelitian didominasi laki-laki (n=69; 63,3%), berusia 36-45 tahun (n=45; 41,28%), berpendidikan SMA (n=45; 41,3%) dan bekerja petani(n=40; 36,69%). Skor rata-rata partisipasi kader adalah 70,01 dan sikap masyarakat adalah 56,56. Terdapat hubungan yang signifikan antara partisipasi kader kesehatan dengan sikap masyarakat dalam upaya pencegahan COVID-19 di Kecamatan Talisayan (p= 0,000; koefisien korelasi 0,364). Simpulan & Saran: Semakin baik partisipasi kader akan meningkatkan sikap masyarakat dalam pencegahan COVID-19. Diharapkan pemberdayaan masyarakat dilakukan secara optimal dalam pencegahan penularan COVID-19.
GAMBARAN KEMAMPUAN AMBULASI DINI POST OPERASI PADA PASIEN FRAKTUR EKSTREMITAS BAWAH DI RUANG PERAWATAN BEDAH RSUD dr. ABDUL RIVAI BERAU Damanik, Chrisyen; Sinaga, Sumiati; Rosalina, Sara
Jurnal Keperawatan Wiyata Vol. 5 No. 2 (2024): Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan ITKes Wiyata Husada Samarida

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35728/jkw.v5i2.1460

Abstract

Latar Belakang: Penyebab masalah keperawatan post tindakan operasi fraktur ekstremitas bawah adalah gangguan ambulasi atau aktivitas berjalan yang kemudian disertai dengan oedema, keterbatasan luas gerak sendi, dan penurunan kekuatan otot. Kemampuan ambulasi pada pasien post operasi akibat fraktur ekstremitas bawah menjadi dasar dalam menentukan intervensi keperawatan lebih lanjut. Tindakan paling umum dilakukan oleh perawat di RSUD dr. Abdul Rivai pada pasion post operasi fraktur ekstremitas bawah diantaranya adalah latihan miring kanan dan miring kiri. Tujuan: Untuk menganalisa gambaran kemampuan ambulasi post operasi pada pasien fraktur ekstremitas bawah di ruang perawatan bedah RSUD dr. Abdul Rivai Berau. Metode: Penelitian deskriptif kuantitatif yang bertujuan mendeskripsikan gambaran kemampuan pasien ambulasi post oporasi dengan fraktur ekstremitas bawah beserta variabel lain yang mendukungnya, menggunakan 26 responden. Hasil: Kategori ambulasi 6-8 jam terbanyak 42.3% (11 responden) yaitu mampu menggerakkan kaki dan mengkontraksikan otot kaki, kategori ambulasi 12-24 jam terbanyak 57.7% (15 responden) yaitu mampu duduk dengan posisi kaki tergantung dan kategori ambulasi >24 jam terbanyak 65.4% (17 reponden) yaitu dapat melakukan mobilisasi sederhana dengan bantuan. Kesimpulan: Ambulasi >24 jam terbanyak pada responden yang dapat mobilisasi sederhana dengan bantuan 65.4% (17 responden) dan dengan mobilisasi sederhana secara mandiri 34.6% (9 responden).
Pengaruh Pijat Laktasi Terhadap Kelancaran Pengeluaran Asi Pada Ibu Post Partum Di Wilayah Kerja Puskesmas Baqa Kota Samarinda Azizah, Ema Nur; Prasetiyarini, Asih; Damanik, Chrisyen; Meihartati, Tuti
Mutiara: Multidiciplinary Scientifict Journal Vol. 1 No. 2 (2023): Mutiara: Multidiciplinary Scientifict Journal
Publisher : Al Makki Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57185/mutiara.v1i2.30

Abstract

Latar Belakang : Menyusui terkadang menyebabkan lecet atau luka pada puting ibu karena respon bayi terhadap ASI yang tidak lancar sehingga menyebabkan bayi semakin memperkuat hisapannya untuk mendapatkan ASI yang cukup. Ibu yang mengalami masalah ketidaklancaran pengeluaran ASI maka berpengaruh terhadap pemberian ASI yang kurang optimal. Pijat laktasi merupakan salah satu intervensi yang dapat digunakan untuk meningkatkan produksi ASI. Tujuan : teranalisanya pengaruh pijat laktasi terhadap kelancaran pengeluaran ASI pada ibu postpartum. Metode : penelitian Pre-Eksperiment dengan desain penelitian one group pretest-posttest. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling sehingga responden berjumlah 36 orang. Instrumen menggunakan kuesioner kelancaran pengeluaran ASI Puspitasari, 2016 dalam penelitian Kharisma, 2019 dan SOP pijat laktasi. Analisa data menggunakan uji Paired Samples T-test. Hasil : Hasil penelitian kelancaran pengeluaran ASI sebelum diberikan pijat laktasi, yaitu mempunyai skor rata-rata 62,47. Sedangkan kelancaran pengeluaran ASI setelah dilakukan pijat laktasi memperoleh kenaikan skor rata-rata yaitu 87,17. Hasil analisis uji Paired Samples T-test menunjukkan Sig.(2-tailed) 0.000 < α 0.05, sehingga terdapat pengaruh pijat laktasi terhadap kelancaran pengeluaran ASI pada ibu postpartum di wilayah kerja puskesmas Baqa kota Samarinda. Kesimpulan : skor rata-rata kelancaran pengeluaran ASI pada seluruh responden yang diberikan pijat laktasi mengalami kenaikan oleh karena itu pijat laktasi sangat bermanfaat dalam meningkatkan kelancaran pengeluaran ASI pada ibu postpartum di wilayah kerja Puskesmas Baqa. Disarankan kepada tenaga kesehatan dapat menjadikan pijat laktasi sebagai alternatif non farmakologi dalam upaya meningkatkan kelancaran pengeluaran ASI dan mengedukasi ibu postpartum terkait ASI.
Kesiapan Perawat Dalam Mengikuti Asesmen Kompetensi Di Rumah Sakit : Studi Deskriptif PURNOMO, DWI PURNOMO; Damanik, Chrisyen Damanik
Jurnal Keperawatan Dirgahayu (JKD) Vol 6 No 2 (2024): October
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, STIKES Dirgahayu Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52841/jkd.v6i2.430

Abstract

Latar Belakang : Penyelenggaran asesmen kompetensi perawat berdasarkan jenis dan kualifikasi perawat klinis, dengan informasi bagaimana kesiapan perawat dalam mengikuti asesmen kompetensi. Kompetensi seorang perawat memberikan peranan penting untuk meningkatkan kualitas mutu asuhan keperawatan. Tujuan : Terdeskripsikan kesiapan perawat dalam mengikuti asesmen kompetensi di RSUD Malinau tahun 2023 serta karakteristik responden. Objek responden penelitian adalah perawat klinis I-III. Metode : Penelitian kuantitatif dengan rancangan deskriptif. Dalam proses pengumpulan data menggunakan pendekatan secara cross sectional dimana objek penelitian diukur secara bersamaan dalam waktu yang sama. Penelitian dilakukan pada bulan januari 2024 dengan melibatkan 90 responden dengan metode total sampling. Alat ukur menggunakan kuesioner kesiapan perawat dalam mengikuti asesmen kompetensi dengan mengembangkan kalimat modifikasi dari penelitian sebelumnya yang hasil analisis berupa data deskriptif yang dilengkapi dengan tabel. Hasil : Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin perempuan dengan jumlah 63 perawat (70,0%), usia perawat terbanyak yaitu 31–40 tahun sebanyak 58 responden (64,4%), pendidikan terakhir responden sebanyak 63 perawat (70,0%), dan lama bekerja di RSUD Malinau terbanyak 10 tahun sebanyak 52 perawat (57,8%). Kesiapan dikategori berdasarkan jenis kelamin proporsi perempuan paling besar adalah tidak siap dengan (35,6%), usia paling besar adalah tidak siap pada usia 31-40 tahun dengan (36,7%), pendidikan terakhir paling besar adalah siap pada D3 Keperawatan dengan (36,7%), lama bekerja >10 tahun paling besar adalah berbanding sama antara siap dan tidak siap yaitu 26 responden (28,9%). Kesimpulan : Sebagaian besar responden memiliki kategori siap dalam mengikuti asesmen kompetensi, kesiapan ini berjumlah 46 responden dengan persentase 51,1%.
Caregiver Knowledge and Functional Status in Preventing Pressure Ulcers among Stroke Patients: A Cross-Sectional Study Damanik, chrisyen; Pratama, Salwa Setya Anggun
Journal of Applied Nursing and Health Vol. 7 No. 3 (2025): Journal of Applied Nursing and Health
Publisher : Chakra Brahmanda Lentera Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55018/janh.v7i3.408

Abstract

Background: Stroke is a leading cause of death and disability, often reducing patients' quality of life and increasing caregiver burden. Immobility after stroke raises the risk of pressure ulcers, worsening outcomes, and prolonging hospital stays. Caregivers are crucial in prevention, as their knowledge and functional ability affect care effectiveness. However, few studies have explored the direct link between caregiver knowledge and functional status in pressure ulcer prevention, particularly in home or community settings. This study aims to examine that relationship. Methods: This cross-sectional study (June–July 2025) in Indonesia involved 38 primary caregivers of stroke patients, selected via consecutive sampling. Eligible caregivers were ≥18 years old, had ≥1 month of caregiving experience, and consented; professional caregivers and those caring for acute-phase patients were excluded. Data were collected using bilingual questionnaires on caregiver knowledge (15 items, α = 0.739) and functional status (18 items, α = 0.878). Descriptive statistics summarized participant characteristics, and Pearson’s correlation analyzed the relationship between knowledge and functional status. Results: Most caregivers were aged 46–55 (42.1%), female (76.3%), educated to junior/high school level (71.1%), and predominantly housewives (47.4%). A majority (76.3%) had no prior caregiving experience. The mean knowledge and functional status scores were 10.58 ± 1.605 and 61.95 ± 4.550, respectively. Pearson’s correlation revealed a strong, significant positive relationship between caregiver knowledge and functional status (r = 0.634; p < 0.001), suggesting that greater understanding of pressure ulcer prevention is associated with improved caregiving performance in stroke care. Conclusion: Caregivers’ knowledge and functional status directly affect their effectiveness in stroke care. Better-informed caregivers more successfully prevent pressure ulcers, emphasizing the need for structured training programs that build skills and confidence, improve patient outcomes, and reduce complications.