Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search
Journal : Bandung Conference Series : Medical Science

Hubungan Religiusitas terhadap Stres Kerja Tenaga Kesehatan di Puskesmas Kalangsari Kabupaten Karawang pada Masa Pandemi COVID-19 Iqbal Miftahul Huda; Caecielia Makaginsar; Dony Septriana Rosady
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.1629

Abstract

Abstract. The Covid-19 pandemic has claimed many victims, both infected and dead, causing panic everywhere, including one in Indonesia. Health workers at the puskesmas as a first-level facility are at the forefront of dealing with the pandemic. Health workers become overwhelmed and worried which has an impact on mental health, one of which is stress. One of the factors that play a role in influencing stress while doing work is religiosity. The purpose of the study was to determine the relationship between religiosity and work stress for health workers at the Kalangsari Public Health Center, Karawang Regency during the Covid-19 pandemic. The design of this study used an analytical observational method with a cross-sectional approach. The sample of this study was health workers who work at the Kalangsari Public Health Center, Karawang Regency as many as 30 respondents who were selected through a total sampling technique using the Slovin formula to determine the number of samples and data collection using The Centrality of Religiosity Scale (CRS) and Depression Anxiety Stress Scale (DASS-42). which have been tested for validity and reliability. The independent variable in this study is religiosity. The dependent variable in this study is work stress. The analysis was carried out univariate and bivariate using the Pearson correlation test. The results of the univariate analysis of religiosity showed that the majority of respondents had religiosity with a high category of 60.0% and the univariate analysis of work stress showed that the results of work stress with a normal degree were 56.7%. The results showed the significance value of religiosity & work stress was 0.727 (> 0.05), there was no relationship between religiosity and work stress on health workers at the Kalangsari Public Health Center, Karawang Regency during the Covid-19 pandemic. The results showed that there was no significant relationship between religiosity and work stress in health workers. A person's work stress is not only influenced by religiosity factors, other factors that influence include age, social support, and stress coping or the ability of individuals to control things that can cause stress. Abstrak. Pandemi Covid-19 telah banyak memakan korban baik yang terinfeksi maupun yang meninggal dunia yang membuat kepanikan dimana-mana termasuk salah satunya di Indonesia. Tenaga kesehatan puskesmas sebagai fasilitas tingkat pertama merupakan garda terdepan menghadapi pandemi. Para tenaga kesehatan menjadi kewalahan dan khawatir yang berdampak pada kesehatan mental salah satu diantaranya adalah stres. salah satu faktor yang berperan mempengaruhi stres saat melakukan pekerjaan adalah religiusitas. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui adanya hubungan religiusitas terhadap stres kerja tenaga kesehatan di puskesmas Kalangsari Kabupaten Karawang pada masa pandemi Covid-19. Rancangan penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian ini adalah tenaga kesehatan yang bekerja di Puskesmas Kalangsari Kabupaten Karawang sebanyak 30 responden yang dipilih melalui teknik total sampling dengan menggunakan rumus Slovin untuk menentukan jumlah sampel dan pengambilan data menggunakan kuesioner The Centrality of Religiosity Scale (CRS) dan Depresion Anxiety Stress Scale (DASS-42) yang sudah diuji validitas dan reliabilitas. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah religiusitas variabel terikat dalam penelitian ini adalah stres kerja. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji korelasi pearson. Hasil analisis univariat religiusitas menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki religiusitas dengan kategori tinggi sebanyak 60,0% dan analisis univariat stres kerja menunjukkan hasil stres kerja dengan derajat normal yaitu sebanyak 56,7%. Hasil penelitian menunjukan nilai signifikansi dari religiusitas & stres kerja yaitu 0,727 (> 0,05), tidak terdapat hubungan antara religiusitas dengan stres kerja pada tenaga kesehatan di Puskesmas Kalangsari Kabupaten Karawang pada masa pandemi Covid-19. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara religiusitas dengan stres kerja pada tenaga kesehatan. Stres kerja seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh faktor religiusitas, faktor lain yang mempengaruhi diantaranya adalah faktor usia, dukungan sosial, dan coping stres atau kemampuan dari individu dalam mengendalikan hal-hal yang dapat menimbulkan stres.
Hubungan Indeks Massa Tubuh dan Aktivitas Fisik dengan Keluhan Low Back Pain pada Mahasiswa Kedokteran di Jawa Barat Alya Kamila Ramadhanty; Titik Respati; Dony Septriana Rosady
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.2289

Abstract

Abstract. Low Back Pain (LBP) is a significant health problem because it can cause disability and impaired quality of life. Medical students have a demanding curriculum that can lead to a sedentary lifestyle. This study was conducted to determine the relationship between body mass index and physical activity with complaints of low back pain in medical students in West Java. The research method used is observational analytic with a cross-sectional approach. Data were obtained through questionnaires using snowball sampling. Data was collected in September–November 2021. Data processing used SPSS version 23 and statistical analysis using the chi-square test. The results showed body mass index mostly normal (45.1%), physical activity mostly sedentary (64.8%), and complaints of low back pain as much as 76.9%. The results of the statistical test showed body mass index and physical activity with complaints of low back pain (p=0.715 and 0.854 respectively). This study concludes that there is no correlation between body mass index and physical activity with the complaints of low back pain. Abstrak. Low Back Pain (LBP) merupakan masalah kesehatan yang sangat penting, karena dapat menyebabkan disabilitas dan gangguan kualitas hidup. Mahasiswa kedokteran memiliki kurikulum yang padat sehingga dapat mengarah pada sedentary lifestyle. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan indeks massa tubuh dan aktivitas fisik dengan keluhan low back pain pada mahasiswa fakultas kedokteran di Jawa Barat. Metode penelitian yang digunakan yaitu analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Data diperoleh melalui kuesioner, dengan cara snowball sampling. Pengambilan data dilakukan pada bulan September–November 2021. Pengolahan data menggunakan SPSS versi 23 dan analisis statistik menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan indeks massa tubuh sebagian besar normal (45,1%), aktivitas fisik sebagian besar ringan (64,8%) dan keluhan low back pain sebanyak 76,9%. Hasil uji statistik indeks massa tubuh dan aktivitas fisik dengan keluhan low back pain (p=0,715 dan 0,854). Simpulan penelitian ini, tidak terdapat hubungan antara indeks massa tubuh dan aktivitas fisik dengan keluhan low back pain.
Hubungan antara Posisi Duduk dengan Keluhan Punggung Bawah pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Selama Study From Home Cantiqya Puti; Budiman; Dony Septriana Rosady
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v2i1.2349

Abstract

Abstract. Low back pain is one of the most common things experienced by most people, especially among teenagers to adults. One of the risk factors for low back pain is sitting position. As many as 60% of adults experience lower back pain due to sitting problems. Since the current state of the pandemic, it has been determined that learning is done online, thus requiring students to sit in front of a laptop for hours. The purpose of this study was to determine the relationship between sitting position and lower back complaints in Unisba Medical Faculty students during study from home. Methods: The research design used an analytical observational method with a quantitative approach and a cross-sectional study design. The data were obtained from the results of filling out a low back pain questionnaire and assessing the image of the sitting position from the photos sent by the respondents. Data analysis using Chi - square test with SPSS software. Results: A total of 159 samples of respondents met the inclusion criteria and exclusion criteria. The results showed that most of the students' sitting positions were not ergonomic and experienced low back pain. Chi-square analysis found that the p-value was <0.001 which indicated that there was a significant relationship between sitting position and lower back complaints. Based on the results obtained, education about an ergonomic sitting position is needed so that it can prevent complaints of low back pain. Abstrak. Nyeri punggung bawah merupakan salah satu hal yang paling sering dialami oleh kebanyakan orang terutama pada kalangan remaja hingga dewasa. Salah satu faktor resiko dari nyeri punggung bawah adalah posisi duduk. Sebanyak 60% orang kalangan dewasa mengalami nyeri punggung area bawah akibat masalah duduk. Sejak keadaan pandemic seperti saat ini telah di tetapkan bahwa pembelajaran dilakukan melalui online sehingga mengharuskan mahasiswa untuk duduk di depan laptop dalam waktu durasi yang berjam – jam lamanya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara posisi duduk dengan keluhan punggung bawah pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Unisba selama study from home. Desain penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan kuantitatif dan rancangan studi cross – sectional. Data diperoleh dari hasil pengisian kuesioner nyeri punggung bawah dan penilaian gambaran posisi duduk dari foto yang dikirimkan responden. Analisis Data menggunakan uji Chi – square dengan perangkat lunak SPSS. Total responden berjumlah 159 sampel yang sudah memenuhi kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Hasil penelitian menunjukan sebagian besar posisi duduk mahasiswa tidak ergonomis dan mengalami nyeri punggung bawah. Analisis Chi – square didapatkan bahwa nilai p sebesar <0,001 yang menunjukan terdapat hubungan signifikan antara posisi duduk dengan keluhan punggung bawah. berdasarkan hasil yang didapatkan diperlukan adanya edukasi mengenai posisi duduk yang ergonomis sehingga dapat mencegah keluhan nyeri punggung bawah.
Coping Strategy, Tingkat Kecemasan Sosial, dan Remaja Pengguna Media Sosial Zahra Kamila Fauziyyah; Zulmansyah; Dony Septriana Rosady
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6831

Abstract

Abstract. The phenomenon of massive social media usage today has eased people to interact. It has started to dominate all ages, from children to the elderly. Its growing use has many impacts and one of them is the social anxiety. In fact, around 39% of Indonesians experience anxiety when they are not on their social media. One of the efforts to reduce that anxiety is the use of coping strategy which includes actions to reduce anxiety or behavioral and mental responses to stress. Based on this phenomenon, the research problems were formulated as follows: (1) How is the level of social anxiety that occurs in adolescents who use social media? (2) How is the coping strategy used by adolescents who use social media? (3) Is there a relationship between coping strategy and level of social anxiety in adolescent social media users? The researcher employed the analytic observational method with SMA Negeri 1 Sukabumi students as the population. The sampling technique used the purposive sampling with a selected sample of 172 respondents. The data was gathered through a google form questionnaire and the data analysis used the Pearson chi-square test. The results of the study have shown that there is a relationship between coping strategies and the level of social anxiety in adolescents who use social media. According to its characteristics, the use of coping strategy that can be used and is more appropriate to use to reduce social anxiety in adolescent social media users is the problem focused coping. Abstrak. Fenomena merebaknya penggunaan media sosial mempermudah masyarakat unutk berinteraksi. Penggunaannya mulai menguasai berbagai kalangan, mulai dari anak hingga orang tua. Penggunaannya yang semakin meningkat menimbulkan dampak salah satunya adalah kecemasan sosial. Sebanyak 39% warga Indonesia mengalami kecemasan apabila tidak bersentuhan dengan media sosial yang dimiliki karena rasa ketergantungan terhadap media sosial. Upaya dalam mereduksi kecemasan tersebut adalah penggunaan coping strategy yang merupakan suatu tindakan untuk mengurangi kecemasan atau respons perilaku dan pikiran terhadap suatu stres. Berdasarkan fenomena tersebut, maka permasalahan penelitian dirumuskan sebagai berikut: (1) Bagaimana gambaran tingkat kecemasan sosial yang terjadi pada remaja pengguna media sosial (2) Bagaimana gambaran coping strategy yang digunakan oleh remaja pengguna media sosial (3) Apakah terdapat hubungan antara coping strategy terhadap tingkat kecemasan sosial pada remaja pengguna media sosial. Peneliti menggunakan metode observasional analitik. Populasi yang dipilih adalah siswa SMA Negeri 1 Kota Sukabumi. Teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampling dengan sampel terpilih sebanyak 172 responden. Pengambilan data melalui kuesioner berbentuk google form dan analisis data yang digunakan adalah uji pearson chi-square. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara coping strategy terhadap tingkat kecemasan sosial pada remaja pengguna media sosial. Berdasarkan karakteristiknya, maka penggunaan coping strategy yang dapat digunakan dan lebih tepat digunakan untuk mengurangi kecemasan sosial pada remaja pengguna media sosial ialah problem focused coping
Efektivitas Susu Tinggi Protein dalam Menurunkan Berat Badan dan Pencegahan Obesitas: Scoping Review Akbar Paulana; Cice Tresnasari; Dony Septriana Rosady
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v3i1.6287

Abstract

Abstract. Obesity is a condition of excess fat accumulation in the body which results in complex multifactorial disease. Obesity can be corrected by providing a low-calorie diet, one of which is milk. This study aims to determine the effectiveness of giving milk as high-protein diet in weight loss therapy in obese patients. The research method used was scoping review, with analytic observational study articles (cohort, case-control and cross-sectional) obtained from ScienceDirect, Springerlink, PubMed Central, BioMed Central and Nature databases. Then the identified journals were screened with inclusion criteria with the number of journals after screening as many as 3,429 articles. After that, it was adjusted for exclusions so the remaining number was 4 articles. Then critical appraisal was carried and final article that met the requirements was obtained with total 4 articles. From the results of the analysis, it was found that there was a significant decrease in body weight in obese adults after being given intervention in form of high-protein milk in the first two years. The conclusion of this study shows that milk with low fat content is effective in causing weight loss in obese adults. Abstrak. Obesitas adalah keadaan penumpukan lemak berlebih di dalam tubuh yang mengakibatkan complex multifactorial disease. Keadaan obesitas dapat diperbaiki dengan cara memberi diet rendah kalori, salah satunya adalah pemberian susu. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas pemberian susu sebagai diet tinggi protein dalam terapi penurunan berat badan pada penderita obesitas. Metode penelitian yang digunakan adalah scoping review, dengan artikel berstudikan observasional analitik (kohort, kasus kontrol dan potong lintang) yang didapatkan dari database ScienceDirect, Springerlink, PubMed, PubMed Central, BioMed Central dan Nature. Kemudian jurnal yang teridentifikasi dilakukan skrining kriteria inklusi dengan jumlah jurnal setelah dilakukan skrining sebanyak 3.429 artikel. Setelah itu disesuaikan dengan kriteria ekslusi sehingga jumlah tersisa 4 artikel. Selanjutnya dilakukan critical appraisal dan didapatkan artikel akhir yang eligible dengan jumlah 4 artikel. Hasil analisis didapatkan penurunan berat badan secara signifikan pada obesitas dewasa setelah diberikan intervensi berupa susu rendah lemak dalam dua tahun pertama. Susu dengan kadar tinggi protein dapat menimbulkan penurunan berat badan pada obesitas pada orang dewasa. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan susu dengan kadar protein tinggi efektif dalam menimbulkan penurunan berat badan.
Gambaran Gejala Pasien Covid-19 dengan Komorbiditas Tuberkulosis di Rumah Sakit Al-Ihsan Kabupaten Bandung 2020-2022 Reynindita Alya Harsyanti; Mia Kusmiati; Dony Septriana Rosady
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.11821

Abstract

Abstract. Coronavirus Disease is an acute respiratory infectious disease. COVID-19 cases are rapidly increasing and spreading throughout Indonesia and have an impact on the number of deaths of the population.. The purpose of this study was to understand the differences in COVID-19 symptoms with Tuberculosis and non-Tuberculosis comorbidities at RSUD Al Ihsan Bandung. The purpose of this study was to understand the differences in COVID-19 symptoms with Tuberculosis and non-Tuberculosis comorbidities at RSUD Al Ihsan Bandung. The research method used in this study was descriptive using the Chi –Square statistical test to see the difference between COVID-19 and Tuberculosis and non-Tuberculosis comorbidities. The subjects of this study were patients confirmed with COVID-19 with Tuberculosis and Non-Tuberculosis comorbidities at RSUD Al Ihsan Bandung 2020-2022. Most tuberculosis patients were male 208 people (57.6%) and non-tuberculosis patients dominated by women 183 people (50.7%), The results showed that patients confirmed positive for COVID-19 with the most comorbid tuberculosis with mild symptoms especially shortness of breath were 202 people (55.9%) while 193 people (53.5%) non-tuberculosis comorbid patienst.It was concluded that there were significant differences between COVID-19 with pulmonary tuberculosis comorbidities and COVID-19 patients with non-tuberculosis comorbidities. Abstrak. Coronavirus Disease adalah penyakit infeksi saluran pernapasan akut. Kasus COVID-19 dengan cepat meningkat dan menyebar ke seluruh Indonesia serta berdampak pada jumlah kematian populasi. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk memahami perbedaan gejala COVID-19 dengan komorbiditas Tuberkulosis dan non Tuberkulosis di RSUD Al Ihsan Bandung. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan menggunakan uji statistik Chi –Square untuk melihat perbedaan antara COVID-19 dengan komorbiditas Tuberkulosis dan non Tuberkulosis. Subjek penelitian ini adalah pasien yang terkonfirmasi COVID-19 dengan komorbiditas Tuberkulosis dan Non Tuberkulosis di RSUD Al Ihsan Bandung sebanyak 722 orang. Sebagian besar pasien Tuberkulosis berjenis kelamin laki-laki 208 orang (57,6%) dan pasien non Tuberkulosis didominasi perempuan 183 orang (50,7%), Hasil penelitian menunjukkan pasien terkonfirmasi positif COVID-19 dengan komorbid Tuberkulosis paling banyak yaitu pada gejala ringan terutama pada sesak nafas sebanyak 202 orang (55.9%) sedangkan pada pasien komorbid Non Tuberkulosis 193 orang (53.5%) Disimpulkan terdapat perbedaan yang signifikan antara COVID-19 dengan komorbiditas Tuberkulosis paru dan pasien COVID-19 dengan komorbiditas non Tuberkulosis.
Gambaran Riwayat Bayi Berat Lahir Rendah dan Pemberian ASI Eksklusif pada Balita Stunting Usia 24-59 Bulan di Puskesmas Kecamatan Pamanukan Nabiel Makarim Shafary; Siska Nia Irasanti; Dony Septriana Rosady
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.12106

Abstract

Abstract. Stunting is a linear growth disorder in children aged 0–59 months. Pamukanukan District is ranked 1st in Subang Regency which has the highest prevalence of stunting, namely 19.7%. Children aged 24–59 months are vulnerable to experiencing nutritional problems. Main determinant factors for stunting are a history of low birth weight (LBW) and a history of exclusive breastfeeding practices. This study aims to determine the description of LBW and the history of exclusive breastfeeding in stunted toddlers aged 24–59 months at the Pamukanukan District Health Center, Subang Regency. Method in this research is observational analytics with a cross-sectional approach. Subjects in this study were 100 stunted children. The independent variables in this study were history of LBW and history of exclusive breastfeeding. Dependent variable in this research is stunting classification (short and very short). To see a picture of the history of low birth weight babies and the history of exclusive breastfeeding in stunted toddlers, data analysis used descriptive frequency analysis. The results of this study were that the majority of respondents had normal birth weight (90%) and had a history of exclusive breastfeeding (90%). The majority of respondents are stunted toddlers in the stunted category (64%). Exclusive breastfeeding and a history of LBW are not the only factors that cause stunting. The determinants of stunting are multifactorial, such as the child's health history, socioeconomic status, family food security, knowledge and attitudes of caregivers, environmental sanitation, personal hygiene, and balanced nutritional intake. Abstrak. Stunting adalah gangguan pertumbunam liner pada anak usia 0–59 bulan. Kecamatan Pamanukan menempati peringkat ke-1 di Kabupaten Subang yang memiliki prevalensi stunting paling tinggi, yaitu sebanyak 19,7%. Anak usia 24–59 bulan merupakan usia yang rentan mengalami masalah gizi. Faktor determinan utama stunting, yaitu riwayat berat badan lahir rendah (BBLR) dan riwayat praktik ASI eksklusif. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran BBLR dan riwayat ASI eksklusif pada balita stunting usia 24–59 bulan di Puskesmas Kecamatan Pamanukan, Kabupaten Subang. Metode pada penelitian ini, yaitu analitik observasional dengan pendekatan potong lintang. Subjek pada penelitian ini sebanyak 100 orang anak stunting. Variabel bebas pada penelitian ini, yaitu riwayat BBLR dan riwayat ASI eksklusif. Variabel terikat pada penlitian ini, yaitu klasifikasi stunting (pendek dan sangat pendek). Untuk melihat gambaran riwayat bayi berat lahir rendah dan riwayat ASI Eklusif pada balita stunting analisis data menggunakan analisa deskriptif frekuensi. Hasil pada penelitian ini, yaitu mayoritas responden memiliki berat badan lahir kategori normal (90%) serta memiliki riwayat ASI Eksklusif (90%). Mayoritas responden merupakan balita stunting dalam kategori stunted (64%). Pemberian ASI eksklusif dan riwayat BBLR bukan faktor tunggal yang menyebabkan stunting. Faktor determinan stunting bersifat multifaktorial, seperti riwayat kesehatan anak, status sosioekonomi, ketahanan pangan keluarga, pengetahuan dan sikap pengasuh, sanitasi lingkungan, higienitas personal, dan asupan gizi yang seimbang.
Medical Emergency Response Plan: Case Study in a Mining Company Dony Septriana Rosady
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.12532

Abstract

Abstract. Medical emergency condition can occur unexpected and caused by human factors or unsafe actions. Mining companies need to have a system for handling medical emergencies that can be caused by physical, chemical, biological or other forms of danger. Lack of medical emergency response plan led to delay in evacuation and risking more lives to the hazards and harmed.The research uses a qualitative research design with a case study approach. The research was conducted at PRN Mining Company. Data collection was carried out using observation techniques, interviews and documentation studies of company regulations. Data collection and analysis was carried out using a focus group discussion method involving 9 people with proportional representation from HSE management elements, company doctors and practitioners in the field of occupational medicine. The research was conducted in the period January – April 2023. A medical emergency response plan is a set of written procedures that guide emergency actions, facilitate recovery efforts, and reduce the impact of emergency events. In mass medical emergencies, triage is an effort to sort and determine priorities for medical emergency response actions based on treatment needs and availability of resources. This mining company use the Simple Triage And Rapid Treatment (START) method for triage system. The work environment must be maintained in a safe condition for workers by implementing hierarchical control. The company needs to prepare policies and standard operational procedures for handling medical emergencies and prevent worsening of medical emergencies. The medical emergency response plan requires regular monitoring and evaluation to make adjustments based on company needs and scientific developments. Abstrak. Kondisi darurat medis dapat terjadi secara tidak terduga dan disebabkan oleh faktor manusia atau tindakan yang tidak aman. Perusahaan pertambangan perlu memiliki sistem penanganan darurat medis yang dapat disebabkan oleh bahaya fisik, kimia, biologi atau bentuk bahaya lainnya. Kurangnya rencana tanggap darurat medis menyebabkan tertundanya evakuasi dan mempertaruhkan lebih banyak nyawa dalam bahaya dan korban jiwa. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian ini dilakukan pada Perusahaan Pertambangan PRN. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara dan studi dokumentasi terhadap peraturan perusahaan. Pengumpulan dan analisis data dilakukan dengan metode diskusi kelompok terfokus yang melibatkan 9 orang dengan keterwakilan proporsional dari unsur manajemen HSE, dokter perusahaan dan praktisi di bidang kedokteran kerja. Penelitian dilakukan pada periode Januari – April 2023. Rencana tanggap darurat medis adalah serangkaian prosedur tertulis yang memandu tindakan darurat, memfasilitasi upaya pemulihan, dan mengurangi dampak kejadian darurat. Dalam kedaruratan medis massal, triage merupakan upaya memilah dan menentukan prioritas tindakan tanggap darurat medis berdasarkan kebutuhan pengobatan dan ketersediaan sumber daya. Perusahaan pertambangan ini menggunakan metode Simple Triage And Rapid Treatment (START) untuk sistem triage. Lingkungan kerja harus dijaga dalam kondisi aman bagi pekerja dengan menerapkan pengendalian hierarki. Perusahaan perlu menyiapkan kebijakan dan standar prosedur operasional untuk penanganan kedaruratan medis dan mencegah memburuknya kedaruratan medis. Rencana tanggap darurat medis memerlukan pemantauan dan evaluasi secara berkala untuk melakukan penyesuaian berdasarkan kebutuhan perusahaan dan perkembangan ilmu pengetahuan.