Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

HOTEL RESORT di TOMOHON, Asitektur Neo Vernakular Josia O. Ering; Roosje J. Poluan
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 2 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 2, November 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i2.34669

Abstract

Kota Tomohon sebagai salah satu kota di Sulawesi Utara memiliki perkembangan pariwisata yang sangat pesat. Peningkatan tersebut dapat dilihat pada event Tomohon International Flower Festival dimana kunjungan wisatawan di kota Tomohon yang terdata berjumlah 89.736 wisatawan pada 2017, naik 1,3% di tahun 2018 sebesar 90.907. Hal tersebut berdampak pada kebutuhan akan sarana akomodasi untuk menunjang para wisatawan yang datang berkunjung ke Kota Tomohon. Hotel Resort sebagai jawaban akan sarana akomodasi penunjung pariwisata di Kota Tomohon dengan berbagai ciri khas dan daya tarik yang dimiliki. Metodologi yang dilakukan dalam perancangan Hotel Resort ini adalah dengan pendekatan tipologi objek, pendekatan tapak dan lingkungan serta pendekatan tematik. Dan data-data tersebut didapatkan melalui wawancara, studi literatur, studi komparasi yang kemudian dianlisis dan memperoleh sistesa yang berujung pada hasil desain Hotel Resort di Kota Tomohon. Hasil perancangan kemudian dituangkan kedalam bentuk gambar arsitektural yakni Hotel Resort di Kota Tomohon sesuai dengan ketentuan dan syarat yang ada. Pada akhirnya desain Hotel Resort di Kota Tomohon yang dirancang dengan pendekatan arsitektur Neo Vernakular ini menjadi salah satu langkah awal untuk menunjang pariwisata di Kota Tomohon. Selain daripada itu dengan adanya objek arsitektural ini diharapkan bisa menjadi ikon baru dan menambah daya tarik Kota Tomohon dalam sektor pariwisata.Kata Kunci : Hotel Resort, Kota Tomohon, Arsitektur Neo Vernakular
PUSAT KERAJINAN KARAWANG DI GORONTALO, Arsitektur Neo Vernakular Maulydia Wakid; Roosje J. Poluan; Michael M. Rengkung
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 10 No. 1 (2021): DASENG Volume 10, Nomor 1, Mei 2021
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v10i1.39060

Abstract

Kerajinan merupakan suatu benda hasil karya seni Manusia yang berkaitan dengan keterampilan tangan. Pada umumnya, karya kerajinan terbuat dari material (bahan) yang mudah didapatkan lewat proses alamiah atau rekayasa. Dari kedua material tersebut hasilnya memiliki fungsi sebagai benda hias maupun benda pakai. Bidang kerajinan pada saat ini telah masuk kepada Handmade (buatan tangan). Kerajinan sendiri diminati oleh semua kalangan dan tidak dibatasi oleh usia dan jenis kelamin. Dengan meningkatnya permintaan dan kebutuhan masyarakat dan penggemar kerajinan tangan saat ini, maka dibutuhkan fasilitas atau sarana yang dapat memenuhi permintaan dan kebutuhan tersebut. Dalam hal ini untuk melestarikan dan mengembangkan kerajinan tangan, diperlukan pembagian fungsi ruang seperti tempat pembuatan dan distribusi kerajinan, area pameran, tempat kursus dan toko souvenir.Indonesia memiliki berbagai macam daerah dimana setiap daerah pasti memiliki ciri khas dan nilai kebudayaannya masing-masing, yang seharusnya tetap dilestarikan sehingga nilai kebudayaan tiap daerah tetap terjaga. Dalam hal ini, salah satu kerajinan Kerawang (Karawo) adalah kain tradisional khas Gorontalo yang pembuatannya merupakan hasil kerajinan tangan. Karawo lahir dari proses panjang yang merupakan buah dari ketekunan para perajin. Seni membuat karawo disebut ‘Makarawo’. Keindahan motif, keunikan cara pengerjaan, dan kualitas yang bagus membuat karawo bernilai sangat tinggi, sehingga keunikan dan kualitas tersebut diminati oleh banyak kalangan, baik dari dalam maupun luar negeri.Kata kunci : Pusat Kerajinan, Karawang, Neo Vernakular, Gorontalo
ANALISIS DAYA DUKUNG LAHAN DALAM PENGEMBANGAN PERMUKIMAN DI KOTA TOMOHON Dandy F. Tulung; Roosje J. Poluan; Vicky H. Makarau
MEDIA MATRASAIN Vol. 17 No. 2 (2020)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35792/matrasain.v17i2.37036

Abstract

Peningkatan jumlah penduduk kawasan perkotaan di Kota Tomohon mengakibatkan peningkatan kebutuhan masyarakat seperti Kawasan permukiman. Seiring dengan adanya pertumbuhan jumlah penduduk, menyebabkan penambahan jumlah kawasan terbangun, untuk itu perlu diidentifikasi daya dukung lahan di Kota Tomohon. Tujuan penelitian untuk menganalisis daya dukung lahan dan menganalisis arahan pengembangan permukiman berdasarkan daya dukung lahan di Kota Tomohon. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara survey langsung untuk melihat kondisi eksisting dan pengambilan data sekunder di instansi yang berkaitan. Metode analisis yang digunakan adalah metode analisis spasial dan analisis proyeksi geometri guna mendapat hasil proyeksi 20 tahun kedepan. Dari hasil analisis didapatkan hasil daya dukung lahan kelas 1 (kawasan pengembangan) memiliki luas ratio tutupan lahan eksisitng 99.42% atau 535.97 Ha, kelas 2 (kawasan kendala I) 8.48% atau 291.76 Ha, kelas 3 (kawasan kendala II) 7.63% atau 551.52 Ha, kelas 4 untuk ratio tutupan lahannya 0%, ditetapkan sebagai kawasan lindung dan limitasi. Diketahui kebutuhan luas lahan permukiman pada tahun 2039 di Kota Tomohon adalah 48.04 Ha dan luas daya dukung lahan yang masih dapat dikembangkan sebagai kawasan permukiman ada pada kelas 2 dan kelas 3 dengan total luasanya adalah 2320.12 Ha sehingga Kota Tomohon masih dapat memenuhi kebutuhan lahan untuk pengembangan permukiman.
ANALISIS DAYA DUKUNG LAHAN KAWASAN PERMUKIMAN DI KECAMATAN LUWUK DAN LUWUK UTARA KABUPATEN BANGGAI Andre P. Satolom; Sonny Tilaar; Roosje J. Poluan
MEDIA MATRASAIN Vol. 18 No. 1 (2021)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35792/matrasain.v18i1.37055

Abstract

The rapid development of settlements in Luwuk and North Luwuk Subdistricts has an impact on the physical condition of the land so that the demand for residential land needs increases. The purpose of this study is to analyze the carrying capacity of residential areas using the concept of building coverage and to analyze the direction of settlements based on the carrying capacity of residential areas in Luwuk and North Luwuk Districts. The research method used is descriptive quantitative, using a spatial analysis approach with the help of a Geographic Information System (GIS). In data analysis using technical guidelines for analysis of physical and environmental, economic and socio-cultural aspects in the preparation of spatial plans (Minister of Public Works Regulation No.20/PRT/M/2007). The analytical technique used is overlay and scoring analysis for assigning values to each parameter. The results of the analysis of the carrying capacity of residential areas in Luwuk and North Luwuk sub-districts are by establishing a protected area based on the physical condition of the environment. The direction of settlement development in Luwuk District for Class 1 is 20.16 Ha/48% land cover ratio, North Luwuk District 176.60 Ha/42% cover ratio. Class 2 in Luwuk District is 92.13 Ha/19% land cover ratio, North Luwuk District is 3588.01 Ha/50% cover ratio. Class 3 is 168.10 Ha/20% cover ratio, North Luwuk District 1866.62 Ha/20% cover ratio. and Class 4 Luwuk District 5080.15 Ha/0% cover ratio, North Luwuk District 23355.84 Ha/0% cover ratio.
CREATIVE HUB DI KOTA TOMOHON: High-Tech Arsitektur Kenny M. Pangkerego; Suryono; Roosje J. Poluan
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 12 No. 1 (2023): DASENG Volume 12, Nomor 1, Januari 2023
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Unit pelayanan yang mewadahi kegiatan industri kreatif pada lingkungan perkotaan dikenal dengan Pusat Industri Kreatif atau Creative Hub. Fasilitas ini menjadi rang bagi para pelaku kreatif untuk mengelola, memproduksi, dan memasarkan usahanya. Selain itu, dalam Creative Hub, aktivitas seperti pembekalan yang tertuang dalam program entrepreneurship bersama para pakar dalam bidangnya yang berfungsi sebagai pendamping dan kurator. Potensi yang cukup besar untuk pengembangan industri kreatif dinilai sangat cocok bagi kota Tomohon yang merupakan salah satu kota pendidikan dan kreatif di pulau Sulawesi. Hal ini dibuktikan dengan berbagai event kreatif dan edukatif yang sering diadakan di kota Tomohon. Oleh sebab itu, perlu disediakan sarana bagi para pelaku kreatif yang berada di kota Tomohon. Contohnya, TIFF (Tomohon Internasional Flower Festival) yang diadakan setiap tahun, ada juga event-event pawai yang diadakan pada 17 agustus, dengan menerapkan tema High-Tech disesuaikan dengan rencana objek yaitu pusat industri kreatif (Creative Hub) di mana bangunan harus terlihat menarik sebagai pusat pengembagan ekonomi dan kreatifitas. Dari lokasi juga penting mengingat Kota Tomohon belum tersedianya bangunan Creative Hub untuk mewadahi aktifitas ekonomi dan kreatif. Disisi lain juga Tomohon memiliki suasana yang asri dan sejuk sehingga membuat aktivitas diluar ruangan maupun di dalam ruangan terasa lebih nyaman. Kata Kunci : Kota Tomohon, Creative Hub, High-Tech Arsitektur
WOMEN’S SHELTER di TOMOHON (Arsitektur Feminisme) Mangoendap, Yohane A.; Poluan, Roosje J.; Sela, Rieneke L. E.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 4 No. 1 (2015): Volume 4 No.1 Mei 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v4i1.9657

Abstract

Kasus kejahatan terhadap perempuan telah banyak didengar dan dilihat dalam berbagai media sosial bahkanpun yang dilihat secara langsung dengan mata kepala sendiri. Secara keseluruhan, kasus kejahatan terhadap perempuan baik wanita dewasa maupun anak-anak telah sering diberitakan dan dilaporkan Selain kasus-kasus yang dilaporkan tersebut, masih ada juga banyak kasus kejahatan atau kekerasan terhadap perempuan yang tidak dilaporkan kepada pihak berwajib. Pemerintah khususnya Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta Kepolisian Republik Indonesia bahkan organisasi-organisasi terkait,telah melakukan berbagai upaya untuk masalah kekerasan terhadap perempuan ini. Baik dalam pelaporan, pendampingan sampai kepada pemulihan korban. Dalam hal ini, dirancanglah bangunan yang mewadahinya yaitu Women’s Shelter. Women’s shelter merupakan tempat perlindungan sementara berupa dukungan bagi perempuan yang melarikan diri dari situasi kekerasan, seperti perkosaan dan kekerasan dalam rumah tangga. Sering juga diperluas untuk menangani isu-isu terkait seperti perumahan korban anak-anak, baik laki-laki dan perempuan serta menyediakan bantuan hukum bagi korban kekerasan dalam rumah tangga, dan layanan lainnya. Bangunan ini dirancang dengan menggunakan tema arsitektur feminisme. Hasil perancangan Women’s Shelter ini pada akhirnya menghadirkan objek yang mengapdosi sifat perempuan dan karakter serta kecintaannya dalam bentuk-bentuk keindahan. Feminisme itu sendiri mempunyai arti yang lebih dalam yaitu kebebasan dan kesejajaran dalam mengekspresikan ide dan desain bangunan. Hal ini terbukti dari terbentuknya paham baru yang mengutamakan kebebasan berekspresi serta berteknologi. Kata kunci : Perempuan, Shelter, Feminisme
FASILITAS WISATA BUNGA di KOTA TOMOHON. Analogi Biologis Organik Joni, Tulus J.; Poluan, Roosje J.; Lahamendu, Verry
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 6 No. 2 (2017): DASENG Volume 6, Nomor 2, November 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v6i2.18385

Abstract

Bunga pada dasarnya merupakan alat perkembangbiakan pada tumbuhan, dengan bentuk dan warna yang indah sehingga disukai banyak orang. Namun tidak bagi masyarakat Kota Tomohon. Kota Tomohon disebut kota bunga disebabkan oleh kondisi iklim dan topografi yang baik untuk bercocok tanam. Kota Tomohon bahkan menggelar festival bunga setiap tahun yang bertujuan untuk meningkatkan pariwisata kota Tomohon. Meski demikian, masih banyak masyarakat yang kurang pengetahuan khususnya tentang bunga. Oleh karena itu, dibutuhkan fasilitas wisata bunga yang bisa menjadi tempat untuk bersenang-senang ataupun belajar tentang bunga.Tujuan Penelitian yaitu untuk merancang Fasilitas Wisata Bunga di Kota Tomohon dengan pendekatan tema Analogi Biologis Organik sebagai sarana untuk pelaksanaan kegiatan dengan fungsi bersenang-senang atau memperluas pengetahuan bunga. Fasilitas wisata bunga dirancang dengan menggunakan tema Analogi Biologis Organik, dengan memperhatikan aspek lingkungan sekitarnya. Sebagai tempat wisata bunga, hendaknya bangunan memperhatikan kebutuhan-kebutuhan tumbuhan dalam proses perancangannya. Sehingga Analogi Biologis Organik oleh Frank Lloyd Wright, dianggap cocok untuk diterapkan pada bangunan jenis ini. Hasil penelitian yaitu Fasilitas Wisata dengan bentukan yang terinspirasi dari bunga, terpusat di tengah dan menyebar ke luar.Kata kunci : Bunga, Kota Tomohon, Wisata, Analogi Biologis Organik
MUSEUM KEBUDAYAAN DI KOTA TERNATE. The Marriage of Old and New Van Den Bokshouw, Andry A.; Rondonuwu, Dwight M.; Poluan, Roosje J.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 1 (2018): DASENG Volume 7, Noomor 1, Mei 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i1.20459

Abstract

Di Kota Ternate terdapat sebuah kota tua yang sekarang telah di jadikan sebuah Kawasan Konservasi Kebudayaan, lebih tepatnya di kawasan Kedaton Kesultanan Ternate di Kelurahan Soa Sio Kecamatan Ternate Utara. Di kawasan tersebut dulunya menjadi titik central Kerajaan Kesultanan Ternate. Terdapat banyak sekali peninggalan sejarah Kesultanan Ternate di daerah tersebut, ditetapkanlah oleh Pemerintah Kota Ternate sebagai Kawasan Konservasi. Seiring berjalannya waktu timbulnya masalah - masalah seperti kurang diminati pengunjung yang datang dari luar Kota Ternate maupun dari dalam Kota Ternate, eksistensi Kawasan Konservasi sekarang kurang memberikan pengaruh terhadap tujuan pemerintah Kota Ternate “World Herritage City” dan berkurangnya unsur Kesultanan Ternate  dalam kawasan Konservasi.Tujuan dari perancangan Museum Kebudayaan di Kota Ternate adalah dengan Merancang Museum Kebudayaan dengan pendekatan tema The Marriage of Old and New agar bisa menghadirkan sebuah desain perancangan yang Unik dalam Kawasan Konservasi Daerah Kedaton Kesultanan Ternate agar dapat mendukung Pemerintah Kota Ternate untuk bisa mewujudkan Kota Ternate sebagai “World  Heritage City” dan juga Merancang Museum Kebudayaan yang berada dalam Kawasan Konservasi Daerah Kedaton Kesultanan Ternate di Kota Ternate dengan pendekatan The Marriage of Old and New. Perancangan Museum Kebudayaan di Kota Ternate menggunakan metode Proses Desain Generasi II dengan 3 aspek pendekatan yaitu Pendekatan Tematik, Pendekatan Tipologi Objek serta Pendekatan Analisa Tapak dan Lingkungan. The Marriage of Old and New adalah jenis desain perancangan yang mengkombinasikan intervensi arsitektural yang berasal dari arsitektural yang tua dengan intervensi arsitektural yang modern.Penerapan Konsep Perancangan menghasilkan dua unsur perancangan yaitu Ruang Dalam dan Ruang Luar yang di desain dengan transformasi dari kata “Kebudayaan” yaitu ‘bersahabat’ dengan alam dan ‘terbuka’ kepada sesama, yang merupakan ciri utama dari sifat Kebudayaan. Untuk bentuk bangunan sendiri di rancang dengan mengawinkan bentuk arsitektural lama yaitu Kedaton Kesultanan Ternate dengan bentuk arsitektural modern yaitu pengkajian-pengkajian tentang bentuk arsitektural modern serta pengguanan material-material. Ruang Dalam meliputi Lay Out Plan, Denah Bangunan, Utilitas Bangunan, Potongan Bangunan dan Spot Interior. Sedangkan Ruang Luar meliputi Site Plan, Tampak Bangunan, Tampak Site, Spot Eksterior serta Perspektif.Kata Kunci : Kota Ternate, Museum Kebudayaan, The Marriage of Old and New
RENTAL OFFICE DAN HOTEL BUSINESS DI MANADO. Arsitektur Bioklimatik Gorung, Michael S.; Kindangen, Jefrey I.; Poluan, Roosje J.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 1 (2018): DASENG Volume 7, Noomor 1, Mei 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i1.20823

Abstract

Mengantisipasi pertumbuhan ekonomi yang kian meningkat di Sulawesi Utara, akibat pemberlakuan sistem MEA (Masyarakat Ekonomi Asean), jumlah wisatawan pebisnis lokal maupun mancanegara yang semakin bertambah dan masih kurannya fasilitas yang mewadahi untuk kegiatan di bidang ekonomi atau bisnis. Serta masalah dari segi arsitektural menyangkut tentang Arsitektur Bioklimatik, dimana kota Manado yang beriklim tropis lembab sangat sensitif terhadap kenyamanan penghuni maupun bangunannya, dimana pada bulan-bulan tertentu juga memiliki temperatur suhu maksimum 31oC dan minimum 25oC dengan kelembapan yang relative tinggi 60%-100% dan rata-rata – rata kecepatan angin yang paling dominan pertahun yaitu atas 12 km/jam - 19 km/jam, merupakan angin  lemah – angin sedang  dari berbagai arah. Dengan demikian kota Manado harus memerlukan adanya fasilitas berupa Rental Office dan Business Hotel dengan tema Arsitektur Bioklimatik. diharapkan dari tema arsitektural ini bisa menjadi jawaban tentang bangunan yang memperhatikan hubungan antara bentuk bangunan dengan lingkungannya, dimana objek Rental Office dan Business Hotel yang dirancang lebih memperhatikan orientasi bangunan terhadap matahari, angin serta penekanan terhadap penerapan sistem fasade, orientasi dan lansekap pada objek rancangan. Dengan adanya Rental Office dan Business Hotel di kota Manado dengan penerapan konsep - konsep Arsitektur Bioklimatik diharapkan mampu menampung wisatawan pebisnis dalam hal akomodasi, mampu menarik minat para infestor -infestor maupun pengusaha -pengusaha yang belum memiliki kantor, serta memberi nilai tambah dalam hal kenyaman dan peminimalisiran pemakaian energi bangunan.Kata Kunci : Arsitektur Bioklimatik, Rental Office dan Hotel Business, Facade, Ekonomi dan Bisnis
GRAHA ANIMASI DI MANADO. Surrealisme dalam Arsitektur Lintong, Lucky A.; Poluan, Roosje J.; Rogi, Oktavianus H. A.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 2 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 2, November 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i2.20828

Abstract

Perkembangan sains dan teknologi semakin pesat tiap tahunnya. Terlebih dalam bidang multimedia yaitu produksi animasi yang mengalami kemajuan pesat. Maka dibutuhkan sebuah fasilitas yang dapat memfasilitasi hal-hal yang berhubungan dengan animasi tersebut. Perancangan Graha Animasi di Manado yang berfungsi sebagai wadah yang menampung aktifitas-aktifitas yang berhubungan dengan dunia peranimasian di Manado. Bangunan ini memiliki fungsi majemuk yaitu sebagai area hiburan, eksibisi, edukasi, komunitas, dan produksi animasi dengan tema Surrealisme dalam Arsitektur yang merupakan upaya menampilkan suatu visual diluar alam nyata kedalam gaya arsitektur yang diimplementasikan kedalam bangunan Graha Animasi tersebut. Saat ini, tingginya minat masyarakat Sulawesi Utara khususnya kota Manado dalam peranimasian sangat tinggi. Tujuan Penulisan ini untuk merancang bangunan Graha Animasi yang dapat menampung minat-minat akan peranimasian tersebut di kota Manado. Metode yang Digunakan dalam penulisan ini adalah studi literatur, observasi/surveying,studi kasus pada tipologi bangunan, tema arsitektur dan tapak. Hasil yang dicapai, bangunan Graha Animasi memiliki unsur Surrealisme melalui bentuk maupun pada fasade bangunan.Perancangan Graha Animasi di Manado dapat memiliki unsur konservasi, preservasi, edukasi, informasi, relaksasi, eksplorasi dan investasi. Kata kunci      : Graha Animasi, Surrealisme, Manado