Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUNJUNGAN IBU BALITA KE POSYANDU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS GEROKGAK I: Indonesia Heny Ni Ketut Heny Yogi Pramita; Indrie Lutfiana; Kadek Agustina Puspa Ningrum
PROSIDING SIMPOSIUM KESEHATAN NASIONAL Vol. 2 No. 1 (2023): Simposium Kesehatan Nasional
Publisher : LPPM STIKES BULELENG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.789 KB)

Abstract

Salah satu upaya untuk mengurangi angka kesakitan dan kematian balita adalah dengan melakukan pemeliharaan kesehatannya. Pemeliharaan kesehatan anak balita dititik beratkan kepada upaya pencegahan dan peningkatan kesehatan serta pengobatanan rehabilitasi yang dapat dilakukan di Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Polindes dan di Posyandu, karena Posyandu merupakan tempat yang paling cocok untuk memberikan pelayanan kesehatan pada balita secara menyeluruh dan terpadu. Persentase rata-rata balita yang ditimbang di Bali pada tahun 2021 adalah 74,1% anak per bulan. Persentase tertinggi terdapat di Kabupaten Gianyar yaitu sebesar 91,4%, sedangkan persentase terendah terdapat di Kabupaten Badung yaitu sebesar 59,8%. Di Kabupaten Buleleng sebesar 71,2 %. Jumlah sasaran Balita Tahun 2021 sejumlah 224.419 Balita. Cakupan kunjungan balita di Puskesmas Gerokgak hanya 44,5 % dari target 60 % di tahun 2022. Jenis Penelitian ini adalah diskriptif deskriptif kuantitatif. Dengan Pendekatan retrospektif adalah meneliti kebelakang dengan menggunakan data sekunder untuk mengidentifikasi faktor penyebab kunjungan ibu ke posyandu. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang memiliki balita di wilayah kerja Puskesmas Gerokgak I berjumlah 146 orang. Umur responden 20-35 tahun lebih patuh untuk melakukan kunjungan posyandu yaitu 19 responden (73%) dibandimgkan usia <20->35 tahun 7 repsoden (27%). Jarak rumah ke posyandu < 500 m lebih patuh untuk melakukan kunjungan posyandu 16 responden (61,5%) dibandingkan > 500 m tahun 10 responden (38,5%). Pendidikan dengan kategori tinggi lebih patuh untuk melakukan kunjungan posyandu 17 responden (65) dibandingkan ibu dengan pendidikan rendah 9 responden (35%). Status pekerjaan ibu yang bekerja lebih patuh melakukan kunjungan posyandu 19 responden (73%) dibandingkan ibu yang tidak bekerja 7 responden (27%). Perlu dilakukan sosialisasi kesehatan kepada masyarakat khususnya orang tua yang mempunyai balita mengenai pentingnya Kunjungan Posyandu.
TINGKAT PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG KEHAMILAN RESIKO TINGGI DI UPTD PUSKESMAS TEGALLALANG 1 Desak Ketut Sugiartini; Indrie Lutfiana
PROSIDING SIMPOSIUM KESEHATAN NASIONAL Vol. 2 No. 1 (2023): Simposium Kesehatan Nasional
Publisher : LPPM STIKES BULELENG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.739 KB)

Abstract

Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk melihat salah satu indikator untuk mlihat derajat kesehatan prempuan. Angka kematian ibu juga merupakan salah satu target yang di tentukan dalan tujuan pembangunan millenium yaitu tujuan ke 5 yaitu meningkatkan kesehatan ibu. Angka kematian ibu adalah jumlah wanita yang meninggal mulai dari saat hamil hingga 6 minggu setelah persalinan per 100.000.Penelitian ini dilakukan di UPTD Puskesmas Tegallalang 1, Kabupaten Gianyar. Penelitian ini, peneliti menggunakan jenis penelitian Kuantitatif diskriptif, yang bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu hamil tentang resiko tinggi kehamilan. Populasi pada penelitian ini yaitu seluruh ibu hamil yang ada di desa julah dengan jumlah ibu hamil sebanyak 38 pada bulan mei-juni 2021. Jumlah sampel yang di gunakan pada penelitian ini sebanyak 35 ibu hamil yang didapat dari rumus besarnya sample. Alat yang di gunakan dalam pengambilan data menggunakan kuisioner. Data diolah dan dianalisis sesuai dengan tujuan penelitian, hasil analisa data disajikan dalam bentuk table. Dari hasil penelitian Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Kehamilan Risiko Tinggi Berdasarkan Karakteristik Demografi dapat dibahas bahwa pengetahuan ibu tentang resiko tinggi kehamilan masih kurang. Hal ini dapat berkaitan dengan pendidikan ibu hamil yang masih tergolong rendah,  Pengetahuan ibu tentang kehamilan risiko tinggi sangat dibutuhkan karena pengetahuan tentang kehamilan risiko tinggi sangat penting untuk terbentuknya sikap ibu dalam memahami akan risiko yang akan timbul dalam kehamilan.
HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TERHADAP KEJADIAN STUNTING PADA ANAK BALITA DI DESA PEGAYAMAN KABUPATEN BULELENG Putu Monna Frisca Widiastini; Indrie Lutfiana; Ni Kadek Nadia Sintiadewi
MIDWINERSLION : Jurnal Kesehatan STIKes Buleleng Vol. 8 No. 2 (2023): MIDWINERSLION Jurnal Kesehatan STIKes Buleleng
Publisher : LPPM STIKes Buleleng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52073/midwinerslion.v8i2.369

Abstract

Pendahuluan : Stunting merupakan masalah gizi kronik yang dialami oleh dunia saat ini tidak terkecuali di Indonesia yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi yang diperoleh oleh bayi/janin selama masa 1000 hari pertama kehidupan, dimana hal ini dapat menyebabkan kematian janin. Menurut Profil Kesehatan Provinsi Bali tahun 2019, Kabupaten Buleleng dan Kabupaten Gianyar ditetapkan sebagai Kabupaten stunting. Hal tersebut dikarenakan sebanyak 3.438 balita (20,4%) mengalami stunting di Kabupaten Buleleng (Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng 2020) dan sebanyak 1.668 balita mengalami stunting di Kabupaten Gianyar (Dinas Kesehatan Kabupaten Gianyar 2019). Kabupaten Buleleng merupakan kabupaten dengan tingkat kejadian stunting pada balita terbanyak di Bali, dimana persebaran kasus terbanyak berada di Kecamatan Sukasada (Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng 2020). Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi hubungan pengetahuan ibu dengan kejadian stunting pada anak balita di Desa Pegayaman Kabupaten Buleleng. Metode : Desain penelitian pada penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki anak usia 3-5 tahun di desa pegayaman. Adapun jumlah populasi dalam penelitian ini adalah 412. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu non probability sampling dengan menggunakan teknik Accidental Sampling. Alat ukur dalam penelitian ini yaitu kuesioner dengan teknik analisis data menggunakan uji SpearmanRank. Hasil : Sebanyak 42% responden berusia 26-30 tahun, sebanyak 51% berpendidikan SMA dan sebanyak 75% bekerja sebagai ibu rumah tangga. Sebanyak 66% responden memiliki pengetahuan dengan kategori tinggi. Sebanyak 33% anak usia 3-5 tahun mengalami stunting. Terdapat hubungan positif kuat antara pengetahuan ibu dengan kejadian stunting dengan p value (0.000) < 0.05. Simpulan : Adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu dengan kejadian stunting di Desa Pegayaman.
PELATIHAN PIJAT BAYI UNTUK MENGOPTIMALKAN TUMBUH KEMBANG SI KECIL Kadek Agustina Puspa Ningrum; Ketut Eka Larasati Wardana; Agus Ari Pratama; Indrie Lutfiana; Putu Monna Frisca Widiastini; Desak Ketut Sugiartini
Jurnal Pengabdian Masyarakat Sundaram Vol. 2 No. 1 (2024): JPMS
Publisher : LPPM STIKes Buleleng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52073/jpms.v2i1.28

Abstract

Pendahuluan: Pertumbuhan bayi dan anak merupakan bagian penting dari pengawasan kesehatan anak. Berat badan bayi yang baru lahir saat lahir adalah penting penanda kesehatan ibu dan janin dan nutrisi. Mereka yang bertahan lebih mungkin menderita dari pertumbuhan terhambat dan IQ yang lebih rendah. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah untuk dapat memberdayakan orang tua dalam pelaksanaan dan keikutsertaan pemantauaan pertumbuhan bayi. Metode: Pengabdian masyarakat ini dilakukan di ruang SBCC Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Buleleng. Responden dalam pengabdian ini sebanyak 10 orang. Hasil pengabdian dapat diketahui bahwa terdapat peningkatan Berat Badan Bayi sesudah dilakukannya pijat bayi pada bayi 3-12 bulan. Pemantauan pertumbuhan bayi sebaiknya dilaksanakan secara berkelanjutan untuk meningkatkan Kesehatan anak, dan diharapkan adanya tindak lanjut yang dilakukan oleh dosen STIKes Buleleng dengan temuan gangguan pertumbuhan pada bayi. Pengabdian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai sumber informasi bagi STIKes Buleleng bahwa ada hasil “evidence based” tentang salah satu intervensi kebidanan yang dapat digunakan untuk meningkatkan berat badan bayi melalui pemberian teknik pemijatan, sehingga menjadi pedoman dalam memberikan asuhan pada bayi secara profesional, memberikan pendidikan kesehatan pada ibu bayi untuk perawatan kesehatan bayi dan mencegah masalah-masalah Kesehatan bayi lainnya yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan bayi melalui teknik pijat bayi
PENDAMPINGAN BANTUAN HIDUP DASAR PADA POKDARWIS DI DESA WISATA AIR TERJUN JEMBONG Desak Ketut Sugiartini; Putu Sukma Megaputri; Kadek Rika Lestarini; Indrie Lutfiana; Cindy Meilinda Sari
Jurnal Pengabdian Masyarakat Sundaram Vol. 2 No. 2 (2024): JPMS
Publisher : LPPM STIKes Buleleng

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52073/jpms.v2i2.51

Abstract

Kesehatan daerah wisata merupakan salah satu prioritas yang dikembangkan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Buleleng. Sehingga pelatihan pada pokdarwis utamanya untuk wisata air sangat diharapkan dan diperlukan. Tujuan pengabdian ini adalah untuk melakukan pendampingan kepada pokdarwis dalam pencegahan dan penanaganan awal risiko kejadian kecelakaan di daerah wisata air melalui bantuan hidup dasar (BHD). Metode pengabdian ini menggunakan Teknik identifikasi masalah, perencanaan, pelaksanaan, dan monitoring kegiatan. Sasaranya adalah pokdarwis Air Terjun Jembong sejumlah 28 orang. Pendampingan ini dilaksanakan selama 2 hari dan menilai pre serta posttest dari pendampingan yang dilakukan. Hasilnya bahwa terjadi peningkatan pengetahuan pada pokdarwis setelah diberikan pendampingan mengenai BHD. Selanjutnya jika dilihat dari trend kunjungan tampak peningkatan kunjungan wisatawan ke air terjun jembong. Simpulannya bahwa pendampingan yang dilakukan kepada pokdarwis membawa hal yang baik selain meningkatkan pemahaman pokdarwis mengenai pencegahan kecelakaan wisatawan dan BHD terjadi juga peningkatan kunjungan wisatawan ke air terjun jembong.
Risk Factor Of Substitution ARV First Line People Living With HIV/AIDS In General Hospital Buleleng Bali Luh Putu Desy Puspaningrat; Gusti Putu Candra; Putu Dian Prima Kusuma Dewi; I Made Sundayana; Indrie Lutfiana
STRADA : Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 9 No. 1 (2020): May
Publisher : Universitas STRADA Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30994/sjik.v9i1.240

Abstract

Substitution is still a threat to the failure of ARV therapy so that no matter how small it must be noted and monitored in ARV therapy. The aims was analysis risk factor substitution ARV first line in therapy ARV. This study was an analytic longitudinal study with retrospective secondary data analysis in a cohort of patients receiving ARV therapy at the District General Hospital of Buleleng District for the period of 2006-2015 and secondary data from medical records of PLHA patients receiving ART. Result in this study that the percentage of first-line ARV substitution events is 9.88% (119/1204) who received ARV therapy for the past 11 years. Risk factors that increase the risk of substitution in ARV therapy patients are zidovudine (aOR 4.29 CI 1.31 -2.65 p 0.01), nevirapine (aOR1.86 CI 2.15 - 8.59 p 0.01) and functional working status (aOR 1.46 CI 1.13 - 1.98 p 0.01).