Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Formulasi Strategi Bisnis Gula Aren Berbasis Marketing Mix (11P) Menuju Target SDGs Economic Growth di KTH Buttu Puang Ariesty Fachrysa Halik, Rizky; Pratiwi, Rini
ULIN: Jurnal Hutan Tropis Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32522/ujht.v9i2.22105

Abstract

Kelompok Tan Hutan (KTH) Buttu Puang, Desa Mirring, Kabupaten Polewali Mandar merupakan KTH yang mengelola Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) berupa gula aren. Meskipun produksinya masih menggabungkan metode  tradisional dan menggunakan peralatan canggih, gula aren telah muncul sebagai komoditas utama. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi bisnis yang perlu diterapkan pada usaha garen ini dengan mengacu pada 11P Marketing Mix sebagai alternative strategi untuk mengembangkan usaha gula aren secara berkelanjutan. Pengumpulan data yang berkaitan dengan penelitian dilakukan dengan teknik tinjauan pustaka, observasi lapangan, dan wawancara mendalam untuk memperoleh data atau informasi yang relevan dengan topic penelitian. Analisis deskriptif kualitatif dipilih sebagai metode analisis data dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa elemen dari 11P telah diterapkan, tetapi belum optimal. Aspek kemasan ramah lingkungan, janji merek (terutama untuk produk gula aren), efektivitas promosi, dan perluasan kemitraan perlu ditingkatkan. Dengan memperkuat unsur-unsur tersebut, gula aren dari KTH Buttu Puang memiliki potensi besar untuk menjadi produk lokal unggul yang berdaya saing di pasar nasional dan internasional.
Determinan Pemanfaatan Kartu BPJS Kesehatan Pattinama, Venska; Untari, Jati; Pratiwi, Rini
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol 13 No 01 (2024): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Publisher : UIMA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33221/jikm.v13i01.2383

Abstract

Program jaminan kesehatan merupakan upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan dengan prinsip asuransi sosial, ekuitas, dan gotong royong. Data masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Pengasih 1 belum banyak yang memanfaatkan kartu BPJS Kesehatan. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pemanfaatan kartu BPJS Kesehatan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan, tingkat pendapatan, dan jenis penyakit (kronis/akut) dengan pemanfaatan kartu BPJS Kesehatan. Metode penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan rancangan cross sectional, jumlah responden sebanyak 100 responden yang bertempat tinggal wilayah kerja Puskesmas Pengasih 1, peserta BPJS Kesehata, dan pernah menderita sakit selama 3-6 bulan terakhir. Teknik sampling menggunakan accidental sampling dengan uji statistic chi-square. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan (nilai p = 0,126) dan tingkat pendapatan (nilai p = 0,147). Sedangkan, jenis penyakit menunjukkan ada hubungan dengan pemanfaatan kartu BPJS Kesehatan ( nilai p = 0,000). Penyakit kronis memerlukan waktu penanganan yang cenderung lama membuat para penderita penyakit kronis harus mengeluarkan biaya untuk kesehatan lebih banyak dibandingkan dengan penyakit akut. Selain itu seseorang yang menderita penyakit kronis akan berdampak pada penurunan produktifitas dan meningkatkan biaya kesehatan oleh karena itu dukungan pembiayaan BPJS Kesehatan sangat diperlukan.
Rantai nilai (Value Chain) Usaha Gula Aren di Kecamatan Cenrana Kabupaten Maros Makkarennu, Makkarennu; Sabar, Adrayanti; Nipi, Greys Enafil; Magfira, Wulan; Nurhidayah, Rizki; Vioni Pasau, Teresia; Hasannudin, Dian Ayu Lestari; Pratiwi, Rini
Jurnal Hutan dan Masyarakat VOLUME 15 NO 2, DESEMBER 2023
Publisher : Fakultas Kehutanan, Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24259/jhm.v12i2.32048

Abstract

Gula aren yang berasal dari nira aren merupakan salah satu primadona hasil hutan bukan kayu khusunya bagi masyarakat yang berada di sekitar hutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi rantai nilai usaha gula aren khususnya pelaku pelaku yang terlibat dalam pengelolaan usaha gula aren. Studi ini dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap petani yang melakukan usaha gula aren yang berlokasi berada di Kecamatan Cenrana Kabupaten Maros. Rantai nilai yang diidentifikasi adalah mapping actor dan mapping volume. Melalui identifikasi ini akan melihat pengelolaan usaha gula aren dan keterlibatan pelaku usaha.
Xanthophore Distribution of Nemo (Amphiprion ocellaris) Skin Based on various Concentrations of Carotenoid Sources Pratiwi, Rini; Karim, Muhammad Yusri; Trijuno, Dody Dh
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 16 No. 1 (2024): JURNAL ILMIAH PERIKANAN DAN KELAUTAN
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jipk.v16i1.44935

Abstract

Abstract The decreased color intensity of  Nemo is related to the amount of carotenoid concentration in the xanthophore of Nemo's skin. Therefore, efforts are needed to maintain stable carotenoid production. Tomato is one of the most abundant carotenoid producers. The utilization of carotenoids can maintain the morphological color of aquatic organisms. This study aimed to analyze the effect of carotenoid compounds on total carotenoid content, the size, and distribution of xanthophores on Nemo skin. A total of 60 Nemo with an average initial weight of 0.84±0.14 g and an average length of 2.95±0.08 cm. The research was conducted using a completely randomized design (CRD), consisting of four carotenoid concentrations in addition to fish pellet, 0%, 0.5%, 1%, and 1.5% with three replications. The results showed that the optimum dose of carotenoid compounds in increasing the total carotenoid content in nemo fish skin is 1.5%. Carotenoids added to the fish feed affected the distribution and maturity of xanthophore. However, it did not affect the size of the xanthophore. Highlight Research Nemo contains three types of pigment cells, namely melanophores, xanthophores, and iridophores. Carotenoid supplementation is related to xanthophore in fish skin The pigment pattern is determined mainly by the number, size, and distribution of different cell types xanthophores were not found in the histology HE (hematoxylin-eosin) staining method in fish skin.
Determinan Pemanfaatan Kartu BPJS Kesehatan Pattinama, Venska; Untari, Jati; Pratiwi, Rini
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol. 13 No. 01 (2024): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Publisher : UIMA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33221/jikm.v13i01.2383

Abstract

Program jaminan kesehatan merupakan upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan dengan prinsip asuransi sosial, ekuitas, dan gotong royong. Data masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Pengasih 1 belum banyak yang memanfaatkan kartu BPJS Kesehatan. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pemanfaatan kartu BPJS Kesehatan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan, tingkat pendapatan, dan jenis penyakit (kronis/akut) dengan pemanfaatan kartu BPJS Kesehatan. Metode penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan rancangan cross sectional, jumlah responden sebanyak 100 responden yang bertempat tinggal wilayah kerja Puskesmas Pengasih 1, peserta BPJS Kesehata, dan pernah menderita sakit selama 3-6 bulan terakhir. Teknik sampling menggunakan accidental sampling dengan uji statistic chi-square. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan (nilai p = 0,126) dan tingkat pendapatan (nilai p = 0,147). Sedangkan, jenis penyakit menunjukkan ada hubungan dengan pemanfaatan kartu BPJS Kesehatan ( nilai p = 0,000). Penyakit kronis memerlukan waktu penanganan yang cenderung lama membuat para penderita penyakit kronis harus mengeluarkan biaya untuk kesehatan lebih banyak dibandingkan dengan penyakit akut. Selain itu seseorang yang menderita penyakit kronis akan berdampak pada penurunan produktifitas dan meningkatkan biaya kesehatan oleh karena itu dukungan pembiayaan BPJS Kesehatan sangat diperlukan.
HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN TINDAKAN TENTANG KESEHATAN GIGI MULUT DENGAN STATUS PENYAKIT GINGIVITIS PADA ANAK USIA 10-12 TAHUN Ilmianti, Ilmianti; Pratiwi, Rini; Natsir, Achmad Baiquni; Aprina, Erika; Nur, Nadyah Nadjwa Arfiani
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 10 No. 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v10i1.55201

Abstract

Gingivitis merupakan penyakit periodontal dengan prevalensi tinggi pada anak sekolah dan dipengaruhi oleh kebersihan gigi dan mulut, serta pengetahuan, sikap, dan tindakan dalam pemeliharaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan, sikap, dan tindakan tentang kesehatan gigi dan mulut dengan keparahan penyakit gingivitis pada siswa usia 10–12 tahun di SDN 1 Tamamaung Kota Makassar. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional, melibatkan 107 siswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui pengisian kuesioner pengetahuan, sikap, dan tindakan, serta pemeriksaan klinis menggunakan Modified Gingival Index (MGI), kemudian dianalisis dengan uji Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki tingkat pengetahuan dan sikap yang cukup baik, namun tindakan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut masih didominasi kategori kurang baik. Keparahan gingivitis pada siswa sebagian besar berada pada kategori ringan hingga sedang. Uji Spearman Rank menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara pengetahuan, sikap, dan tindakan tentang kesehatan gigi dan mulut dengan keparahan gingivitis (p < 0,05), dengan variabel tindakan memiliki kekuatan hubungan paling besar dibandingkan pengetahuan dan sikap. Disimpulkan bahwa tindakan kesehatan gigi dan mulut merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan keparahan gingivitis pada siswa usia 10–12 tahun, sehingga diperlukan edukasi yang berkelanjutan untuk meningkatkan perilaku pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut pada anak.
Permainan Edukasi Sigimbang Begesah: Literasi Pengenalan Aktivitas Fisik pada Anak Usia Dini di PAUD KB Al Hidayah Gasing Kabupaten Banyuasin Pratiwi, Rini; Kusumasari, Peni; Widyastuti
Jurnal Abdimas Mandiri Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36982/jam.v10i1.6329

Abstract

Aktivitas fisik merupakan komponen penting dalam mendukung tumbuh kembang anak usia dini, namun perubahan pola bermain akibat peningkatan penggunaan gawai menyebabkan menurunnya aktivitas gerak anak. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan literasi aktivitas fisik dan keterampilan motorik anak usia 3–6 tahun melalui Permainan Edukasi Sigimbang Begesah di PAUD KB Al Hidayah Gasing, Kabupaten Banyuasin. Metode pelaksanaan meliputi literasi cerita edukatif melalui buku serial Sigimbang Begesah berjudul “Aktivitas Fisik”, permainan ular tangga edukatif, demonstrasi gerak sederhana, serta keterlibatan guru dalam integrasi aktivitas fisik ke dalam pembelajaran harian. Sebanyak 73 anak dan 6 guru berpartisipasi dalam kegiatan ini. Hasil menunjukkan peningkatan kemampuan motorik: 90% anak mampu mengikuti gerakan dengan benar, 93% menunjukkan peningkatan koordinasi tubuh, dan 96% mampu melakukan gerakan melompat dan berlari kecil secara stabil. Kegiatan ini juga meningkatkan pemahaman guru mengenai pentingnya aktivitas fisik serta strategi penerapannya di lingkungan PAUD. Program pengabdian ini membuktikan bahwa pendekatan literasi dan permainan edukatif efektif membangun kebiasaan hidup aktif serta mendukung perkembangan motorik, kognitif, dan sosial-emosional anak. Hasil ini menunjukkan bahwa pendekatan sederhana berbasis literasi dan permainan edukatif memiliki potensi besar sebagai intervensi efektif, berkelanjutan, dan mudah diadaptasi untuk membentuk perilaku hidup aktif sejak usia dini. 
Strategi Mitigasi Filariasis Berbasis Integrasi Model Prediksi Ekologi, Analisis Molekuler PCR, dan Manajemen Lingkungan Lahan Basah di Kabupaten Banyuasin Diefani, Ilham; Pratiwi, Rini
BEST Journal (Biology Education, Sains and Technology) Vol 8, No 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/best.v8i1.11690

Abstract

Latar Belakang: Filariasis masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di berbagai wilayah tropis, termasuk Kabupaten Banyuasin. Kompleksitas vektor, kondisi lingkungan lahan basah, serta keterbatasan deteksi dini menyebabkan sulitnya pengendalian penyakit ini secara optimal. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan strategi mitigasi filariasis berbasis integrasi pendekatan ekologi spasial, deteksi molekuler, dan pengelolaan lingkungan. Metode: Studi ini menggunakan pendekatan deskriptif-analitik dengan pemodelan MaxEnt untuk prediksi distribusi vektor berbasis variabel biofisik, serta teknik PCR untuk deteksi molekuler infeksi filarial pada nyamuk. Data lingkungan diperoleh melalui interpretasi citra satelit dan pengukuran lapangan, sedangkan pengelolaan lahan basah dievaluasi melalui analisis kondisi habitat vektor. Hasil: Hasil integrasi menunjukkan bahwa kombinasi faktor kelembaban, indeks vegetasi, dan kedekatan dengan genangan air merupakan prediktor utama keberadaan Mansonia spp. Deteksi molekuler mengonfirmasi adanya infeksi filarial pada nyamuk dari lokasi dengan prediksi tinggi oleh model spasial. Intervensi berbasis ekologi lokal terbukti mampu menurunkan kepadatan vektor.Kesimpulan: Pendekatan integratif antara model ekologi, deteksi molekuler, dan intervensi lingkungan memberikan kerangka kerja yang lebih adaptif dan presisi dalam upaya mitigasi filariasis. Strategi ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam pengendalian penyakit berbasis ekosistem di daerah endemis
Perbedaan Efektivitas Mengunyah Buah Pir (Pyrus) Dan Buah Jeruk (Citrus sinensis) Terhadap Debris Indeks Dan Ph Saliva Angkar, Salsabila Lutfiah; Pratiwi, Rini; Aldila, Sari; Seno Aji, Nur Rahman Ahmad
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 38, No 1 (2026): April 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v28i1.63582

Abstract

ABSTRACTIntroduction: Saliva plays a crucial role in maintaining oral pH balance and influencing debris accumulation on tooth surfaces. Chewing fibrous fruits can stimulate salivary flow and provide a mechanical cleansing effect, which may contribute to changes in the debris index and salivary pH. Pears (Pyrus) contain catechins and dietary fiber (3.1 g per 100 g), while oranges (Citrus sinensis) are rich in vitamins and flavonoids that may support oral health. This study aimed to analyze the effectiveness of chewing pears and oranges on changes in the debris index and salivary pH. Methods: A quasi-experimental study with a two-group pretest–posttest design was conducted among 59 children aged 9–11 years at SD Negeri 39 Cakke. Participants were randomly allocated to two nearly equal groups: the pear-chewing group (n=30) and the orange-chewing group (n=29). The debris index was assessed using standard debris index criteria, and salivary pH was measured using pH paper before and after the intervention. Data were analyzed using the Wilcoxon signed-rank test and the Mann–Whitney U test, with a significance level set at p<0.05. Results: Significant differences were observed in the mean debris index and salivary pH values before and after chewing pears and oranges (p<0.05). However, no significant differences were found between the two groups regarding changes in the debris index and salivary pH (p>0.05). Conclusion: Chewing pears and oranges demonstrated comparable effectiveness in reducing the debris index and altering salivary pH.Perbedaan efektivitas mengunyah buah pir (pyrus) dan buah jeruk (citrus sinensis) terhadap indeks debris dan pH saliva: studi kuasi-eksperimentalPendahuluan: Saliva merupakan cairan mulut yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan pH rongga mulut dan memengaruhi pembentukan debris pada permukaan gigi. Aktivitas mengunyah buah berserat dapat memengaruhi debris indeks dan pH saliva melalui rangsangan produksi saliva serta efek pembersihan mekanis. Buah pir (Pyrus) mengandung senyawa katekin serta serat sebesar 3,1 g per 100 g buah, sedangkan buah jeruk (Citrus sinensis) kaya akan vitamin dan flavonoid yang berpotensi mendukung kesehatan rongga mulut. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan efektivitas mengunyah buah pir dan buah jeruk terhadap perubahan indeks debris dan pH saliva. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuasi-eksperimental dengan rancangan Two Group Pretest Posttest Design. Subjek penelitian adalah 59 anak usia 9–11 tahun di SD Negeri 39 Cakke yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok mengunyah buah pir (n=30) dan kelompok mengunyah buah jeruk (n=29). Debris indeks diukur menggunakan indeks debris, sedangkan pH saliva diukur menggunakan kertas pH sebelum dan sesudah perlakuan. Analisis statistik menggunakan uji Wilcoxon dan uji Mann-Whitney dengan nilai signifikansi p<0,05. Hasil: Uji Wilcoxon menunjukkan terdapat perbedaan signifikan rerata debris indeks dan pH saliva sebelum dan sesudah mengunyah buah pir maupun buah jeruk (p<0,05). Namun, uji Mann-Whitney menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan antara kedua kelompok terhadap debris indeks dan pH saliva (p>0,05). Simpulan: Buah pir dan buah jeruk memiliki efektivitas yang sama dalam menurunkan indeks debris dan menyebabkan perubahan pH saliva setelah dikunyah.
Changes of oral health motivation and knowledge following the implementation of the android-based quitee educational application among children aged 8–11 years: a pre-experimental study Aldilawati, Sari; Pratiwi, Rini; Adawiyyah, Nurul Afni
Padjadjaran Journal of Dentistry Vol 38, No 2 (2026): July 2026
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjd.vol38no2.70334

Abstract

Introduction: Motivation and oral health knowledge among elementary school children remain suboptimal. Interactive digital educational applications, such as the Android-Based Quitee Educational Application, have been developed as engaging learning tools for oral health through visuals, animations, and game-based elements that are appropriate for children’s characteristics. This study aimed to evaluate changes in oral health motivation and knowledge following the implementation of the Android-Based Quitee Educational Application among children aged 8–11 years. Methods: This study employed a pre-experimental one-group pretest-posttest time-series design. The sample size was calculated using the Slovin formula, resulting in 126 participants selected through proportionate stratified random sampling from SD Negeri Tamamaung 1 Makassar. Oral health motivation and knowledge were measured before the intervention and at three post-intervention time points following the implementation of the Android-Based Quitee Educational Application. Data were analyzed using the Friedman test, followed by post hoc Wilcoxon signed-rank tests. Results: Oral health motivation and knowledge scores increased across all post-intervention assessments compared with baseline measurements. The median motivation score increased from 14.0 at pretest to 19.0 at the third posttest, whereas the median knowledge score increased from 9.0 to 12.0. All pairwise comparisons were statistically significant (p<0.001), with Wilcoxon effect sizes indicating large effects for motivation (r=0.63–0.87) and moderate-to-large effects for knowledge (r=0.33–0.84), demonstrating the magnitude of the observed improvements.   Conclusion: The implementation of the Android-Based Quitee Educational Application was associated with significant improvements in oral health motivation and knowledge among elementary school children. However, the findings should be interpreted cautiously due to the absence of a control group.