Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Risiko Konsumsi Western Fast Food dan Kebiasaan Tidak Makan Pagi Terhadap Obesitas Remaja Studi di SMAN 1 Cirebon Lilis Banowati; Nugraheni Nugraheni; Niken Puruhita
MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2011:MMI Volume 45 Issue 2 Year 2011
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.107 KB)

Abstract

ABSTRACTRisks of western fast food consumption and skipping breakfast to adolescents’obesity: Study at SMAN 1 CirebonBackground: Obesity prevalence in adolescents remains high. Western fast food consumption and skipping breakfast were identified as sub-culture among adolescents.The objective of this study was aimed to determine the risk of western fast food consumption in term of frequency of consumption, energy intake and energy contribution to adolescents’ obesity. It was also aimed to determine therisk of skipping breakfast for adolescents’ obesity.Method: It was an observational study using a case-control approach. Stratified random sampling was used to select participants from population. Seventy six secondary students from SMA Negeri 1 Cirebon were involved, divided into two groups; 38 students as case (BMI>95 persentile) and the rest 38 as controls (BMI 5-85 persentile). Chi-square and multiple logistic regression were employed in data analysis.Results: This study found obese students consumed western fast food more than their counterparts (263 kkal versus 140 kkal) (p=0.001). They were less frequent breakfast having (4.5 times per week) than those who were not obese (5,8 times per week) (p=0.019). Energy intake gained from western fast food consumption ≥244 kkal per day was found as the risk factor for obesity among adolescents (p=0,004) whilst frequency of consumption >9.2 times per month, energy contribution to total calorie intake >7.3% and skipping breakfast were failed to predict adolescents’ obesity (p>0.05). The result of multiple logistic regression test showed that the variable which is the most influential to the incident of obesity is energy intake gained from western fast food consumption (OR=6.26).Conclusion: Western fast food consumption ≥244 kkal per day is a risk factor for obesity.Keywords: Western fast food consumption, skipping breakfast, obesity, adolescentABSTRAKLatar belakang: Prevalensi obesitas remaja cukup tinggi. Hal ini disebabkan oleh konsumsi western fast food dan kebiasaan tidak makan pagi yang sudah merupakan kecenderungan di kalangan remaja. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui besar risiko frekuensi konsumsi western fast food, asupan energi konsumsi western fast food, kontribusi energi western fast food dan kebiasaantidak makan pagi terhadap kejadian obesitas remaja SMAN 1 Cirebon.Metode: Jenis penelitian observasional dengan rancangan kasus kontrol. Pengambilan sampel dengan teknik stratified random sampling. Besar sampel 76 orang, terdiri dari 38 orang kasus (IMT >95 persentil) dan 38 orang kontrol (IMT persentil ke-5 -85). Penelitian menggunakan analisis bivariat dengan uji chi square dan analisis multivariat dengan uji regresi logistik ganda.Hasil: Pada remaja obesitas asupan energi konsumsi western fast food (263 kkal) lebih tinggi daripada yang tidak obes (140 kkal) (p=0,001). Sedangkan frekuensi makan pagi lebih rendah (4,5 kali/minggu) daripada yang tidak obes (5,8 kali/minggu) (p=0,019). Hasil analisis menunjukkan asupan energi konsumsi western fast food ≥244 kkal per hari merupakan faktor risiko terjadinyaobesitas (p=0,004). Sedangkan frekuensi konsumsi western fast food >9,2 kali per bulan, kontribusi energi western fast food terhadap total kalori >7,3% dan kebiasaan tidak makan pagi bukan faktor risiko obesitas (p>0,05). Hasil uji regresi logistik ganda menunjukkan bahwa variabel yang paling berpengaruh terhadap obesitas remaja adalah asupan energi konsumsi western fast food(OR=6,26).Simpulan: Konsumsi western fast food ≥244 kkal per hari berisiko untuk terjadinya obesitas.
Risk Factors of Stunting among 1-2 Years Old Children in Semarang City Aryu Candra; Niken Puruhita; JC Susanto
MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2011:MMI Volume 45 Issue 3 Year 2011
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.173 KB)

Abstract

ABSTRACTBackground: Prevalence of stunting in children under five years in Central Java is high, more than 33%. Semarang City has high prevalence of malnutrition therefore there is a need to identify risk factors of stunting in Semarang city.Method: This was a case control study, completed with qualitative study about risk factors of stunting. Samples were 58 cases and 58 controls. Data were analyzed by univariate analysis, bivariate analysis with chi square test, and multivariate analysis with multiple logistic regression. Qualitative study was done by using indepth interview, and presented in narration.Results: The multivariate analysis result showed that risk factors of stunting in children 1-2 years old were short stature father (<162 cm) (p=0.016; OR=2.7; CI=1.2-6), children had history of low birth weight (p=0.028; OR=11.2; CI=1.3-96.3), and children had history of underweight (p=0.006; OR=3.3; CI=1.4-7). Risk factors which were not proven to influence the incidence of stunting were maternal height, history of exclusively breastfed, complementary feeding history; sex, history of infection, and immunization history.Conclusions: Risk factors that influence the incidence of stunting in children 1-2 years olds are having father’s height <162 cm, and positive history of low birth weight, and of underweight.Keywords: Stunting, malnutrition, children, growth, risk factorsABSTRAKFaktor risiko dari stunting pada anak usia 1-2 tahun di kota SemarangLatar belakang: Stunting adalah perawakan pendek yang timbul akibat malnutrisi yang lama. Prevalensi stunting pada balita di Jawa Tengah tinggi, yaitu lebih dari 33%. Kota Semarang merupakan ibukota Jawa Tengah yang memiliki prevalensi malnutrisi cukup tinggi sehingga diperlukan studi untuk mengetahui faktor risiko stunting di Kota Semarang.Metode: Penelitian ini merupakan studi kasus kontrol, dilengkapi kajian kualitatif mengenai stunting pada status ekonomi kurang dan status ekonomi cukup. Jumlah sampel 58 kasus dan 58 kontrol. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dengan chi square test, multivariat dengan metode regresi logistik ganda. Kajian kualitatif denganmetode indepth interview dan disajikan dalam bentuk narasi.Hasil: Hasil analisis multivariat menunjukkan faktor risiko yang berpengaruh terhadap kejadian stunting pada anak 1-2 tahun di kota Semarang adalah tinggi badan ayah <162 cm (p=0,016; OR=2,7; CI:1,2-6), anak yang mempunyai riwayat BBLR (p=0,028; OR=11,2; CI=1,3-96,3), dan anak mempunyai riwayat underweight (p=0,006; OR=3,3; CI=1,4-7). Faktor risiko yang tidak terbukti mempengaruhi kejadian stunting adalah jenis kelamin, tinggi badan ibu, riwayat ASI eksklusif, riwayat infeksi, riwayat imunisasi, dan riwayat makanan pendamping ASI.Simpulan: Faktor risiko yang mempengaruhi kejadian stunting pada anak 1-2 tahun adalah yang mempunyai ayah dengan tinggi badan <162 cm dan mempunyai riwayat BBLR, serta berat badan kurang.
Tinggi Badan yang Diukur dan Berdasarkan Tinggi Lutut Menggunakan Rumus Chumlea pada Lansia Etisa Adi Murbawani; Niken Puruhita; Yudomurti Yudomurti
MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2012:MMI VOLUME 46 ISSUE 1 YEAR 2012
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (75.234 KB)

Abstract

Measured height and calculated height based on knee height using chumlea formula in elderlyBackground: Height is an important anthropometric measurement. Height calculation equation for elderly with dorsal deformity using knee height was developed by Chumlea. However, the equation is not appropriate for elderly in Asian population. The aim of this study was to compare measured height with calculated height based on knee height using Chumlea formula for elderly in Indonesia.Method: A cross sectional study was conducted in 86 elderly in geriatric outpatient clinic in Kariadi hospital, nursing home, and eldery integrated health service (posyandu lansia) in Semarang which were randomly selected in July-September 2009. The inclusion criteria were elderly without deformities and able to stand up straightly. Data collected were demography characteristics, height and knee height. Height was measured using microtoise, knee height was measured using knee calliper. Both microtoise and knee calliper had 0.1 cm accuracy. Data were analysed using Wilcoxon signed rank test.Result: Most samples were female, aged 59-88 years. The average age was 71±8.7 years. The average measured height in female and male subjects were 146.8±5.6 cm and 160.8±6.2 cm respectively. The average calculated height in female and male subjects were 154.3±7.03 cm and and 159.1±6.78 cm respectively. There was no different (p=0.077) in measured height and calculated height using Chumlea formula.Conclusion: There was no different in measured height and calculated height using Chumlea formula.Keywords: Elderly, height, knee height, nutritional assesmentABSTRAKLatar belakang: Tinggi badan merupakan salah satu indikator pengukuran antropometri yang penting. Persamaan perhitungan tinggi badan pada lansia (lanjut usia) dengan deformitas punggung telah dikembangkan oleh Chumlea. Persamaan yang ada saat ini tidak tepat untuk populasi Asia. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kesesuaian antara tinggi badan yang diukur dengan microtoise dengan perhitungan berdasarkan tinggi lutut menggunakan rumus Chumlea untuk lansia di Indonesia.Metode: Desain penelitian ini adalah belah lintang. Subyek penelitian adalah 86 (delapan puluh enam) lansia yang menjadi pasien rawat jalan Poliklinik Geriatri di RSUP Dr. Kariadi Semarang, lansia yang menjadi penghuni panti wredha dan lansia yang menjadi anggota posyandu lansia di Semarang pada bulan Juli-September 2009. Kriteria inklusi pasien adalah tidak ada deformitas pada struktur tubuh dan mampu berdiri tegak. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik demografi, tinggi badan dan tinggilutut. Tinggi badan diukur menggunakan microtoise, sedangkan tinggi lutut diukur menggunakan knee calliper dengan akurasi 0,1 cm. Analisis data menggunakan uji beda Wilcoxon signed rank test.Hasil: Sebagian besar subyek berjenis kelamin perempuan, dengan usia 59-88 tahun. Rerata umur subyek sebesar 71±8,7 tahun. Rerata tinggi badan perempuan dan laki-laki adalah 146,8±5,6 cm, dan 160,8±6,2 cm. Rerata tinggi badan perempuan dan laki-laki dengan rumus Chumlea, adalah 154,3±7,03 cm dan 159,1±6,78 cm, dengan perbedaan yang tidak bermakna (p=0,077).Simpulan: Tidak ada perbedaan pengukuran tinggi badan menggunakan microtoise dan rumus Chumlea.
Pemberian Teh Rosela (Hibiscus sabdariffa Linn), Simvastatin dan Profil Lipid serta Serum ApoB pada Tikus Hiperkolesterolemi Enny Probosari; Hertanto WS; Niken Puruhita
MEDIA MEDIKA INDONESIANA 2011:MMI Volume 45 Issue 1 Year 2011
Publisher : MEDIA MEDIKA INDONESIANA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (101.145 KB)

Abstract

ABSTRACTConsumption of roselle tea and simvastatin, lipid profile and apoB serum in hypercholesterolemic ratsBackground: Roselle is commonly used as herbal beverages in Indonesian that is known have a hypocholesterolemic effect. The study was conducted to determine the efficacy of roselle tea compared to simvastatin on lipid profile and apo B of hypercholesterolemic rats.Methods: This study was an animal experimental with randomized pre test post test control design. Sixteen hypercholesterolemic male wistar rats of 15 week-aged were devided into 3 groups: control groups (K) received normal feeding and water adlibitum, group P1 received normal feeding, water adlibitum and roselle tea 4.5 ml twice a day, group P2 received normal feeding, water adlibitum and simvastatin 0.4 mg daily. Blood samples were collected at baseline and 30 days after administration of roselle tea or simvastatin for the measurement of serum lipids and apoB using ELISA.Results: Administration of roselle tea 1.37gram twice a day decreased trigliserid concentrations from 81.7mg/dl±43.13 to 26.5mg/dl±13.92 (p=0.038), but increased total cholesterol concentrations from 62.1mg/dl±4.25 to 91.9mg/dl±11.74 (p=0.001). Administration of 0.4mg simvastatin didn’t decreased triglicerid concentrations (50.9mg/dl±55.95 to 67.9mg/dl±3.07, p=0.207), total cholesterol concentrations (67.9mg/dl±3.07 to 74.2mg/dl±10.65, p=0.146), LDL cholesterol concentrations (156.8mg/dl±291.9 to 34.0mg/dl±30.06, p=0.686) nor increased HDL cholesterol concentration (58.1mg/dl±12.73 to 60.5mg/dl±8.61, p=0.674).Conclusion: Intake of 1.37 gram rosella tea twice a day decreases trigliserid more effective than simvastatin. Administration of roselle tea and simvastatin are not effective to reduce LDL cholesterol concentrations and apoB concentrations, nor increased HDL cholesterol concentrations.Keywords: Lipid profile, apoB, roselle, simvastatinABSTRAKLatar belakang: Teh rosela merupakan salah satu bahan minuman yang diketahui mempunyai efek menurunkan kadar kolesterol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas pemberian teh rosela dibandingkan simvastatin terhadap profil lipid dan apolipoprotein B pada tikus hiperkolesterolemi.Metode: Penelitian ini adalah penelitian eksperimental laboratorium dengan desain pre-post-test dengan kelompok kontrol. Enam belas tikus putih jantan galur wistar hiperkolesterolemi, usia 15 minggu, dibagi menjadi kelompok kontrol (K) hanya diberi pakan standar dan minum adlibitum, kelompok perlakuan 1 (P1) diberi pakan standar minum adlibitum, seduhan rosela 2x4,5ml per haridan kelompok perlakuan 2 (P2) diberi pakan standar minum adlibitum dan simvastatin 0,4mg per hari, selama 30 hari. Pada awal dan akhir perlakuan diambil serum darah untuk mengetahui kadar trigliserid, kolesterol total, kolesterol LDL, kolesterol HDL, sedangkan kadar apo B diukur pada akhir penelitian menggunakan metode ELISA.Hasil: Pemberian teh rosela (kelompok P1) menurunkan kadar trigliserid dari 81,7mg/dl±43,13 menjadi 26,5mg/dl±13,92 (p=0,038) setelah perlakuan, namun kadar kolesterol totalnya meningkat dari 62,1mg/dl±4,25 menjadi 91,9mg/dl±11,74 (p=0,001) setelah perlakuan. Pemberian 0,4mg simvastatin tidak menurunkan kadar trigliserid (50,9mg/dl±55,95 menjadi 67,9mg/dl±3,07, p=0,207), tidak menurunkan kadar kolesterol total (67,9mg/dl±3,07 menjadi 74,2mg/dl±10,65, p=0,146), tidak menurunkan kadar kolesterol LDL (156,8mg/dl±291,9 menjadi 34,0mg/dl±30,06, p=0,686) dan tidak meningkatkan kadar kolesterol HDL (58,1mg/dl±12,73 menjadi 60,5mg/dl±8,61, p=0,674).Simpulan: Pemberian teh rosela dengan berat rata-rata 1,37 gram yang dikonsumsi dua kali per hari lebih efektif dalam menurunkan kadar trigliserid serum tikus hiperkolesterolemi dibandingkan pemberian 0,4mg simvastatin. Pemberian teh rosela dosis lazim dan pemberian simvastatin dosis 0,4mg sama tidak efektifnya dalam menurunkan kadar kolesterol LDL, kadar apolipoprotein B dan meningkatkan kadar kolesterol HDL.