Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

PENGALAMAN IBU DALAM MENDAPATKAN DUKUNGAN KELUARGA TERKAIT ANTENATAL CARE K4 DI PUSKESMAS SIDOREJO LOR SALATIGA Elsa Desiyanti Simatupang; Arwyn W Nusawakan; Treesia Sujana
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 13 No. 1, Januari 2022
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.473 KB) | DOI: 10.34035/jk.v13i1.785

Abstract

Antenatal Care atau kunjungan antenatal adalah pemeriksaan kesehatan ibu hamil selama masa kehamilan untuk mencegah terjadinya komplikasi yang dapat membahayakan ibu dan janin. Kualitas Pelayanan antanetal care terhadap ibu hamil perlu perhatian kusus sehingga dapat memenuhi standar pelayanan demi tercapainya tujuan kesehatan sesuai dengan target renstra kemenkes tahun 2017. Kunjungan antenatal oleh ibu hamil dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya faktor keluarga. Dukungan keluarga menjadi salah satu dampak yang dapat mempengaruhi frekuansi dalam pemeriksaan antenatal care. adalah untuk mengetahui pengalaman ibu dalam mendapatkan dukungan keluarga terkait Antenatal care K4 di Puskesmas Sidorejo Lor Kota Salatiga. penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti adalah wawancara mendalam (Deep Interview). sampel ibu dengan anak usia 0-1 tahun pada masa kehamilan tidak mencapai K4 pemeriksaan antenatal care. Pengetahuan ibu, dukungan keluarga dan ekonomi keluarga sangat mempengaruhi ibu dalam melakukan pemeriksaan antenatal care K4. Dukungan keluarga menjadi salah satu masalah, yang dapat mempengaruhi ibu untuk melakukan pemeriksaan antenatal care. Perhatian suami sangat penting untuk memotivasi ibu dalam menjaga kesehatan, serta melakukan pemeriksaan kandungan, dan perhatian suami juga dapat membuat ibu bahagia. Ekonomi keluarga yang rendah juga menjadi salah satu penyebab ibu tidak rutin melakukan pemeriksaan antenatal care. Keadaan sosial ekonomi sangat mempengaruhi kehamilan ibu karena berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan ibu selama kehamilan, kurangnya pengetahuan ibu dan keluarga mengenai pentingnya antenatal care, serta dukungan keluarga dari segi ekonomi dalam mendukukung kesehatan ibu dan janin, mengakibatkan ibu hamil tidak melakukan pemeriksaan antenatal care secara rutin. Antenatal care or antenatal visits are health checks of pregnant women during pregnancy to prevent complications that can harm the mother and fetus. The quality of antenatal care services for pregnant women needs special attention that way; they can meet service standards to achieve health goals following the 2017 Ministry of Health strategic plan targets. Antenatal visits by pregnant women are affected by several factors, one of which is family factors. Family support is one of the impacts that can affect the frequency of antenatal care checks. The purpose of the study was to determine the experience of mothers in getting family support related to K4 Antenatal care at the Sidorejo Lor Health Center, Salatiga City. Research Methods this research uses qualitative research with descriptive methods. The data collection technique used by the researcher is the in-depth interview (Deep Interview). Sample Mothers with children aged 0-1 years during pregnancy did not reach K4 for antenatal care examinations. Research Results Mother's knowledge, family support, and the family economy will affect mothers conducting antenatal care K4 examinations. Family support is one of the problems, which can influence mothers to carry out antenatal care checks. The husband's attention is very important to motivate the mothers in maintaining health, as well as conducting an obstetrical examination, and the husband's attention can also make them happy.The low family economy is also one of the reasons why mothers do not routinely carry out antenatal care checks. Socio-economic conditions will affect the mother's pregnancy because it is related to meeting the needs of the mother during pregnancy, the lack of knowledge of mothers and families about the importance of antenatal care, as well as family support from an economic perspective in supporting maternal and fetal health, resulting in pregnant women not doing antenatal care checks routinely.
SPPQT Program Evaluation for Food Access and Food Choice for the Elderly in the SPPQT Empowerment Areas Beathrix Finelya; Theresia Pratiwi; Arwyn Weynand Nusawakan
Salasika Vol 5 No 1 (2022): Salasika (Indonesian Journal of Gender, Women, Child, and Social Inclusion's Stud
Publisher : Asosiasi Pusat Studi Wanita/Gender & Anak Indonesia (ASWGI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36625/sj.v5i1.80

Abstract

The increasing number of the elderly population also causes an increase in various diseases, including malnutrition. To overcome this, the food choice for the elderly in their environment must be considered. Moreover, the elderly tend to experience decreased access to nutrition and healthy food because of their physical limitations. In 1999, Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah (SPPQT) was formed for farmer groups to connect its members and distribute food through its empowerment program. This study aims to evaluate the role of SPPQT’s empowerment for the elderly to increase the food supply, which impacts access and food choice for the elderly. This study involved five participants. The result is that SPPQT has no responsibility for meeting food needs, including food selection and access for all farmers, including the elderly. The SPPQT program is only limited to farmer empowerment involving elderly farmers. However, access to food for all farmers, including the elderly farmers, is good. Yet, the selection of food for elderly farmers is not yet varied. Therefore, it is recommended that SPPQT should develop an empowerment program for the provision of food for older farmers and an increase in knowledge capacity related to food supply through access and selection of food for SPPQT’s elderly assisted groups.
BUDAYA SIRIH PINANG DI SUMBA DAN KEJADIAN ANEMIA PADA WANITA USIA SUBUR Arwyn Weynand Nusawakan; Irene Rambu Rima; Aprilia Mauren Pariama
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 14 No. 1, Januari 2023
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34035/jk.v14i1.975

Abstract

Penggunaan sirih pinang masih menjadi perdebatan terkait dampaknya bagi tubuh khususnya bagi Wanita Usia Subur (WUS) di Sumba Nusa Tenggara Timur. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi kemaknaan sosiokultural dalam mengkonsumsi sirih pinang dan kaitanny dengan kadar hemoglobin (Hb) dan frekuensi makan Wanita Usia Subur. Metode penelitian ini adalah mix method dengan pendekatan studi kasus (single case study with two embedded unit). Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, pengukuruan Hb perifer dan pengukuran frekuensi makan dan food recall 3x24 jam. Hasil penelitian kualitatif menunjukan tema sirih pinang sebagai material budaya orang sumba, persepsi orang sumba tentang manfaat sirih pinang baik fisik maupun psikis. Kurangnya konsumsi zat besi dan protein, serta hasil pengukuran Hb menunjukan sebanyak 24 dari 50 WUS mengalami anemia. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah makan sirih pinang masih dipertahankan karena memiliki peranan penting bagi pelestarian budaya dan menjadi gaya hidup sehari-hari masyarakat Sumba.Wanita Usia Subur yang memiliki kebiasaan mengkonsumsi sirih pinang sebagian besar mengalami anemia, hal ini kemungkinan dapat dipengaruhi oleh tingkat konsumsi zat besi dan protein kurang dari AKG maupun sebagai dampak dari mengkonsumsi sirih pinang yang berlebihan. Betel nut consumption is still debatable regarding its impact on the body, especially for Women of Reproductive Age (WUS) in Sumba, East Nusa Tenggara. This study aimed to identify the sociocultural significance of consuming betel nut and its relation to hemoglobin (Hb) level and eating frequency of WUS. This is mixed-method research with a case study approach (single case study with two embedded units). Data collection techniques used in-depth interviews, measuring peripheral Hb, and measuring food frequency and food recall 3x24 hours. The results of the qualitative research showed that the themes such as betel nut is a cultural material of the Sumbanese and the perception of Sumbanese about the benefits of betel nut, both physical and psychological. Lack of consumption of Zink and protein, the results of Hb measurements show that 24 out of 50 WUS have anemia. This study concludes that eating betel nut is still maintained because it has an essential role for cultural preservation and has become the daily lifestyle of Sumbanese. WUS who have the habit of consuming betel nut mainly experience anemia that may be influenced by the low level of consumption of Zink and protein than the RDA or might be a result of consuming excessive betel nut.
Village Government's Strategy in Implementing the Maternal and Child Health Revolution Policies Rifatolistia Tampubolon; Arwyn Weynand Nusawakan; Treesia Sujana; Kanako Shinkawa; Gloria Ndoen; Kristiani Desimina Tauho
Indonesian Journal of Global Health Research Vol 5 No 1 (2023): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.436 KB) | DOI: 10.37287/ijghr.v5i1.1638

Abstract

Maternal health in Timor Tengah Selatan (TTS), East Nusa Tenggara Province, Indonesia, remains an unsolved health problem. It needs women's participation in maternal health care and social role and supports to solve the problem. This research aims to identify the role of village leaders and family decision-making concerning the increased utilization of maternal health services. Objective: This case study was conducted in Binaus Village, Mollo Tengah Sub-district, TTS, East Nusa Tenggara, by six village officials. This is qualitative research that employed a case study. The analysis units in the research were village officials and family heads by employing in-depth interviews and thirty-four family heads by employing Focus Group Discussion (FGD). The data was analyzed by using thematic analysis. There were seven themes revealed, mothers' health is essential for Binaus people, the information source comes from Binaus people themselves, most of the people are obedient to village officials' suggestions and instructions, sanctions granting to improve the use of health facilities and services, the implementation of local government's programs related to mother's and child's health, the existence of transition in decision making, and the preference of health workers use. In the end, the impact of the village leader's support towards maternal health causes a transition in Binaus society in terms of optimizing maternal health services and influencing the decision-making process of families to actively support their maternal mothers actively get better health checkups.
Upaya Puskesmas Dalam Meningkatkan Kesehatan Maternal Di Puskesmas Ch M Tiahahu Kota Ambon Novita Natasya Makahity; Arwyn Weynand Nusawakan; Rose Rien Salusi
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah Vol 5 No 1 (2020): JURNAL KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jkm.v5i1.4439

Abstract

Angka kesehatan ibu di Indonesia masih menjadi masalah di Negara ini. Beberapa program yang didirikan oleh Departemen Kesehatan untuk mengurangi masalah adalah Safe Motherhood Initiative, Gerakan Sayang Ibu, Making Pregnancy Safer, dan Expanding Maternal and Antenatal Survival (EMAS), Poskedes, Program perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi (P4K). Sementara itu, peran puskesmas sangat penting dalam kaitanya dengan hal tersebut diatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi upaya Puskesmasdalam meningkatkan kesehatan ibu di Puskesmas Ch M Tiahahu di Kota Ambon. Metode yang digunakan yaitu metode kualitatif dengan melakukan pedekatan studi kasus,. Teknik pengumpulan datanya dengan wawancara kepada tenaga kesehatan terkait dengan upaya – upaya yang sudah dilakukan dalam meningkatkan kesehatan maternal serta melakukan observasi dalam pelaksanaan upaya – upaya yang dilakukan Puskesmas. Analisa data yang dipakai adalah jenis interaktif dengan mengumpulkan hasil wawancara, memilih data, penyajian data, terahkir mengambil kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan dua tema yaitu Puskesmas sebagai pelaksana program yang menjadi mandate dari dinas kesehatan dan tantanganserta upaya dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan ibu. Sebagai kesimpulan upaya yang telah dilakukan Puskesmas dalam meningkatkan kesehatan ibu melalui 4 program kesehatan dengan melaksanakan Program kesehatan ibu dan anak (KIA), Layanan perawatan antenatal (ANC)10T, Perencanaan kehamilan dan pencegahan komplikasi, Program pemberian makanan tambahan. Upaya dilakukan untuk mencapai keberhasilan program dengan menjalankan pekerjaan lintas sector dan lintas program, mengunjungi rumah –rumah, dan menerapkan Program Indonesia sehat (PIS-PK). Namun, upaya tersebut tidak mencapai target yang ditetapkan oleh dinas kesehatan setiap tahun 558 ibu karena dua factor yang mempengaruhinya yaitu mobilitas kota lebih tinggi dan persepsi pemilihan layanan kesehatan.Kata Kunci : Kesehatan Ibu, Upaya, Puskesmas Maternal health issue in Indonesia are still a problem   in this country. Some program that established by Ministry of Health to reduce the problem are Safe Motherhood Initiative, Mother’s Love Movement, Making Pregnancy Safer, and Expanding Maternal and Antenatal survival (EMAS), Poskedes, Program planning for delivery and prevention of complications (P4K). Meanwhile role of community health center is vital in relation with mentioned above. This study ais to identify the efforts of Community Health Center in improving maternal health statue in the Ch M Tiahahu health center in Ambon City. A qualitative methodis applied and approach hed with case studies research. Data collection is done through interviews with healthworkers and also do observations among them. Data is analysed with interactive type by gathering the results of interviews, selecting data, presenting data, finally drawing conclusions. The results showed two themes that are Community Health Center as the primary service program implementer is a mandate from the health department and the challenges and efforts of Community Health Center in improving quality maternal health services. In Conclusion efforts that have been carried out by the Puskesmas in improving Maternal Helath through 4 health program by carrying out the Mother and Child Health Programs(MCH), Antenatal care services (ANC) 10T, Maternity Planning and Prevention of Complications (P4K) programs, supplementary feeding. Efforts were made to achieve the success of the program by running cross-sector and cross-program work, visiting home’s, and implementing a healthy Indonesia program (PIS-PK). However, the efforts did not reach the targets set by health annually 558 mother’s because, of two factors that influence high mobility and the perception of health service choice.Keywords : Maternal Health, Efforts, Community Health Center
Praktik Tradisional Pada Perawatan Masa Nifas Gracia Marceilina Pattinasarany; Arwyn Weynand Nusawakan; Hapsari Probowowati
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah Vol 5 No 1 (2020): JURNAL KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jkm.v5i2.4485

Abstract

Latar Belakang: Praktik tradisional merupakan perawatan turun-temurun sebagai suatu warisan budaya masyarakat yang diyakini berdampak baik terhadap pemulihan kesehatan. Perawatan tradisional terbagi menjadi dua bagian yakni perawatan dari dalam dan perawatan dari luar.  Perawatan dalam seperti minum jamu dari ramuan rempah-rempah pilihan. Setelah bersalin dilakukan perawatan dari luar seperti rahu dan ukup.  Perawatan tradisional memiliki keuntungan yaitu banyak manfaat yang diperoleh ibu nifas dan juga biaya perawatan yang lebih terjangkau selain itu bahan-bahan bisa diambil dari alam yang mudah didapatkan. Tujuan: Dilakukan penelitian ini untuk mengidentifikasi praktik tradisional pada perawatan masa nifas di Kabupaten Seram Bagian Barat (Maluku). Metode:  Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian dilakukan dari Bulan September 2019 di DesaNeniari, Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku. Pengumpulan data diperoleh melalui wawancara dengan panduan interview dalam membantu proses wawancara. Partisipan dalam penelitian ini adalah 8 orang ibu yang pernah menjalani fase nifas. Analisa data yang dipakai adalah Analisa data. Hasil:  Dari penelitian ini mendapati 2 kategori yaitu: 1). Seluruh partisipan yang pernah menggunakan pengobatan tradisional ketika masa nifas. 2). Bahan-bahan pengobatan tradisional. Kesimpulan: Menggunakan ramuan, ukup, dan rahu merupakan praktik tradisional pada perawatan masa nifas di Desa Neniari. Penggunaan pengobatan tradisional ketika masa nifas ini dipercayai berkhasiat.Kata Kunci: Ibu Nifas, Praktik tradisional, Perawatan masa nifas AbstractBackground: Traditional practice is hereditary treatment as the cultural heritage which was believed having good impact towards healthy recovery. Traditional treatment is divided into two parts; treatment from the inside and treatment from the outside. Treatment from the inside is like consuming herbal medicine (jamu) from the best spices. After nursing of maternity will be done treatment from the outside such as rahu and ukup. The advantages from traditional treatment will obtain lot of benefits for puerperal mother, the affordable costs, and the ingredients are easy to get from nature. Purpose: This research aims to identify traditional treatment towards the treatment of puerperium in Neniari Village, The Western of Seram District, Province of Maluku. Method: Since were gathered from analyzing the data, this study was qualitative descriptive which focused on approaching the case study.  It was conducted since September 2019 in Neniari Village, The Western of Seram District, Province of Maluku. The data collection was obtained through interview with the guide of interview. The participants in this study were 8 of puerperal mothers, who ever got parturition phase. Result: This research got 2 categories; 1) All participants who ever used traditional treatment when get puerperium. 2) The ingredients of traditional medicine. Conclusion: Using herbs, ukup, and rahu is traditional practice in treatment of puerperium in Neniari Village. This traditional practice is efficacious. Keywords: Puerperal Mother, Traditional Practice, Treatment of puerperium
PENGALAMAN MENJADI IBU DI USIA DINI DI DESA LEO-LEO RAO, KECAMATAN MOROTAI SELATAN BARAT, KABUPATEN PULAU RAO, PROVINSI MALUKU UTARA Arwyn Weynan Nusawakan
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada: Jurnal Ilmu-ilmu Keperawatan, Analis Kesehatan dan Farmasi Vol 18, No 1 (2018)
Publisher : LPPM Universitas Bakti Tunas Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jkbth.v18i1.306

Abstract

Pernikahan yang ideal bagi seorang perempuan adalah umur 21-25 tahun hal ini dikarenakan pada usia tersebut organ reproduksi perempuan sudah berkembang dengan baik dan matang. Namun pada kenyataannya masih banyak kita jumpai pernikahan pada usia dini atau dibawah umur, padahal perkawinan yang sukses membutuhkan kedewasaan tanggungjawab secara fisik maupun mental untuk bisa mewujudkan harapan yang ideal dalam kehidupan berumah tangga. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan pengalaman menjadi ibu di usia dini di Desa Leo-Leo Rao, Kecamatan Morotai Selatan Barat, Kabupaten pulau Rao, Provinsi Maluku Utara. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif, teknik pengumpulan data yaitu dengan wawancara, dan validasi data menggunakan triangulasi teknik yaitu mengobservasi keseharian partisipan. Penelitian ini dilakukan selama 1 bulan pada Mei 2017. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu yang menikah diusia dini mengalami ketidaksiapan untuk menjadi ibu, dikarenakan usia ibu yang masih muda. Ibu juga dapat mengalami permasalahan saat kehamilan dan persalinan seperti melahirkan sebelum waktunya (prematur), perdarahan dan keguguran akibat kondisi fisik ibu yang belum siap untuk melakukan persalinan. Disisi lain ibu juga mengalami kesusahan saat akan memberi ASI terhadap bayinya karena ibu tidak tahu bagaimana cara memposisikan bayi saat menyusui, dan beberapa ibu mengalami ASI tidak keluar. Pengetahuan mengenai IMD (Inisiasi Menyusui Dini) juga masih sangat kurang karena rata-rata tingkat pendidikan ibu hanya sampai tingkat SD dan SMP.
Penerapan Health Belief Model pada Anak Bawah Lima Tahun (BALITA) Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Salatiga: Model for Stunted Children Under Five Years (Five Years) in the Salatiga City Health Center Working Area Natijati, Arum; Davidson, Sarah Melati; Nusawakan, Arwyn Weynand
JURNAL GIZI DAN KESEHATAN Vol. 16 No. 1 (2024): JURNAL GIZI DAN KESEHATAN
Publisher : UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stunting is a condition where children do not grow well because they do not receive healthy food for a long time, making them shorter than other children their age. The health belief model (HBM) can identify people's health and illness concepts and behavior related to stunting and can be used as a portrait of behavior in reducing stunting. Only now has research on stunting and identifying public health perspectives according to the HBM perspective, especially in Salatiga City. This study looks at the HBM picture of stunted children and the relationship between HBM components and the incidence of stunting through the height for age z-score (HAZ). This research uses numbers and measurements to examine a large group of children simultaneously. The criteria for respondents in this study were children aged 0-59 months and stunted, indicated as -2SD (standard deviation) based on the child's growth curve (WHO, 2020). Data collection occurred in April-May 2023 in the Salatiga City Health Center Working Area. Based on the HBM components, it was found that perceived vulnerability, perceived severity, perceived benefits, perceived obstacles, cues to action, and self-efficacy were higher in the category of stunted children but were not significantly related to the HAZ score (p>0.05). Future research can explore the behavior of children, mothers, and children related to stunting.   ABSTRAK Stunting adalah kondisi dimana anak tidak tumbuh dengan baik karena tidak mendapat makanan sehat dalam jangka waktu lama sehingga membuatnya lebih pendek dibandingkan anak lain seusianya. Model keyakinan kesehatan (HBM) dapat mengidentifikasi konsep dan perilaku sehat dan sakit masyarakat terkait stunting dan dapat dijadikan potret perilaku dalam menurunkan stunting. Belum banyak penelitian mengenai stunting dan identifikasi perspektif kesehatan masyarakat menurut perspektif HBM yang belum banyak dilakukan khususnya di Kota Salatiga. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran HBM anak stunting dan hubungan komponen HBM dengan kejadian stunting melalui z-score height for age (HAZ). Penelitian ini menggunakan angka dan pengukuran untuk meneliti sekelompok besar anak secara bersamaan. Kriteria responden dalam penelitian ini adalah anak usia 0-59 bulan dan stunting yang terindikasi -2SD (standar deviasi) berdasarkan kurva tumbuh kembang anak (WHO, 2020). Pengumpulan data terjadi pada bulan April sampai Mei 2023 di Wilayah Kerja Puskesmas Kota Salatiga. Berdasarkan uji chi-square, penelitian ini tidak menemukan hubungan antara 6 komponen HBM dengan skor HAZ. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi kerentanan, persepsi keparahan, persepsi manfaat, persepsi hambatan, isyarat untuk bertindak, dan efikasi diri terhadap kejadian stunting dengan skor HAZ (p>0,05). Penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi perilaku anak, ibu, dan anak terkait stunting.
Analysis of Factors Influencing Risky Sexual Behavior among Male Students Trisnarizki, Leonardo; Tampubolon, Rifatolistia; Nusawakan, Arwyn Weynand; Letelay, Pieter Bleriof
Journal of Language and Health Vol 5 No 2 (2024): Journal of Language and Health
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jlh.v5i2.4018

Abstract

The adolescent period is characterized by rapid growth and development, which often promotes curiosity and a quest for challenges. This lack of knowledge often results in risky sexual behaviors, which are sexual acts that can lead to pregnancy outside of marriage or sexually transmitted diseases. This study aims to identify the relationship between the role of parents, the use of information media, social norms, religion, and knowledge with risky sexual behavior in male students of Satya Wacana Christian University. This study uses a quantitative method with a cross sectional approach on male students aged 18-24 years at Satya Wacana Christian University, with 372 respondents selected using quota sampling technique. Data were collected using a questionnaire that covered various factors related to risky sexual behavior, such as parental role factors, knowledge, religion, media use, and social norms. All data were analyzed using univariate and bivariate analysis A significant relationship was not found between the role of parents, the use of information media, social norms, and knowledge with risky sexual behavior. However, there was a significant relationship between religious factors and risky sexual behavior, with a p value of 0.001. This study is hopefully able to provide a reference for further research, especially in the context of qualitative research.
Gambaran Manajemen Nyeri Penderita Hiperuricemia Hartono, Budi; Likumahua, Khara Christy Margaretha; Nusawakan, Arwyn Weynand; Kurniasari, Maria Dyah
Journal of Language and Health Vol 5 No 2 (2024): Journal of Language and Health
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jlh.v5i2.4032

Abstract

Hiperurisemia merupakan gangguan metabolisme yang ditandai oleh peningkatan kadar asam urat dalam darah, yang dapat mengakibatkan nyeri berkepanjangan, gangguan tidur, serta penurunan fungsi fisik dan kualitas hidup. Manajemen nyeri pada penderita hiperurisemia sangat penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi upaya manajemen nyeri yang dilakukan oleh penderita hiperurisemia di Kampung Tegirolo, Kabupaten Sorong Selatan, Indonesia, dan dampaknya terhadap penurunan skala nyeri. Metode penelitian ini bersifat kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional, melibatkan 49 sampel yang ditentukan dengan metode purposive sampling yaitu dengan mempertimbangkan kriteria inkulisi dalam penelitian seperti partisipan dengan asam urat tinggi, adanya keluhan nyeri, dan usia 19-59 tahun. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner APS-POQ-R dan dianalisis secara deskriptif. Instrumen penilaian APS-POQ-R yang digunakan adalah versi Indonesia yang telah diuji kesahihan dengan nilai 0,8-1 angka V ge; 0,5 sehingga dapat digunakan dalam penelitian ini. Hasil menunjukkan bahwa rata-rata nyeri terendah adalah 4,33 (SD=1,38) dan tertinggi 8,29 (SD=1,08). Seluruh responden menggunakan manajemen nyeri, baik farmakologi maupun non-farmakologi, dengan efektivitas tinggi (rata-rata keefektifan 70,00, SD=12,42). Responden melaporkan penurunan nyeri yang signifikan melalui kedua metode ini. Kesimpulan: Peran aktif tenaga kesehatan dalam menggabungkan metode farmakologi dan non-farmakologi diperlukan untuk mencapai hasil optimal, mengingat banyak responden tidak mendapatkan anjuran non-farmakologi dari tenaga medis.