Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

JUMLAH KEHAMILAN DAN KEMATIAN IBU BERDASARKAN LETAK WILAYAH KETINGGIAN DI KABUPATEN PEKALONGAN Rokhani Rokhani; Indri Astuti Purwanti
JKM (Jurnal Kesehatan Masyarakat) Cendekia Utama Vol 5, No 2 (2018): JKM (Jurnal Kesehatan Masyarakat) Cendekia Utama
Publisher : STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (608.115 KB) | DOI: 10.31596/jkm.v5i2.206

Abstract

Angka kematian ibu menjadi salah satu indikator keberhasilan suatu negara. Di Indosesia angka kematian ibu jumlahnya bervariasi setiap tahun, dan salah satu wilayah dengan jumlah kematian ibu yang relatif tinggi adalah Jawa Tengah dengan beberapa daerah kabupaten/kota yang ada dibawahnya. Tingginya angka kematian ibu disebabkan oleh berbagai faktor yang berhubungan dengan proses kejadian kematian ibu (determinan dekat) dan bersama-sama dengan determinan antara dan determinan jauh. Salah satu determinan yang sering diperhatian adalah keadaan geografis yang berhubungan dengan keadaan ketinggian suatu wilayah. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat jumlah ibu hamil, kematian yang terjadi pada ibu hamil dan sebab kematian yang ada pada ibu hamil berdasarkan ketinggian suatu wilayah. Penelitian ini menggunakan explanatory research dengan pendekatan cross-sectional dan analisa deskriptif pada wilayah kecamatan di Kabupaten Pekalongan.. Hasil dari penelitian ini adalah 85,79% ibu hamil ada diwilayah dataran rendah, 88,88% kematian ibu hamil ada diwilayah dataran rendah dan 77,77% kematian ibu hamil disebabkan oleh pre-eklamsia/eklamsia. Kata kunci: Jumlah Ibu hamil, Jumlah Kematian Ibu, Ketinggian Area.
STUDI KUALITATIF TENTANG PERILAKU PACARAN SISWI SMA PASCA TINDAKAN ABORSI DI KECAMATAN BELIK Restia Zulfawati; Fitriani Nur Damayanti; Indri Astuti Purwanti
Jurnal Kebidanan Vol 2, No 2 (2013): August 2013
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (53.752 KB) | DOI: 10.26714/jk.2.2.2013.93-97

Abstract

Latar Belakang : Setiap tahun tercatat 2,6 juta kasus aborsi. Sebanyak 700.000 pelaku aborsi adalah remaja atau perempuan yang berusia di bawah 20 tahun, dimana 11,13% dari semua kasus aborsi yang dilakukan karena kehamilan yang tidak diinginkan (unwanted pregnancy). Terdapat 3 orang siswi SMA di Kecamatan Belik yang pernah melakukan tindakan aborsi. Mereka adalah RM (17), NK (17) dan AP (16). Keterangan dari mereka menyatakan melakukan tindakan aborsi karena rasa takut apabila orang tua tahu, perasaan malu kepada teman-teman atau akan mendapatkan sanksi dari pihak sekolah apabila mereka diketahui sedang hamil. Maka dari itu peneliti tertarik untuk meneliti perilaku pacaran pasca tindakan aborsi yang dilakukan oleh siswi SMA. Tujuan :Mendeskripsikan gaya berpacaran, faktor pemungkin perilaku pacaran dan faktor yang menguatkan perilaku pacaran pasca tindakan aborsi Metode :Jenis penelitian kualitatif dengan teknik snowball sampling. Peneliti mendapatkan tiga informan utama dan tiga informan pendukung. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam (in depth interview). Data dianalisis dengan analisis taksonomi, uji kredibilitas data dengan triangulasi dan perpanjangan pengamatan.Hasil :Hasil penelitian menunjukan dua informan memilih untuk tetap berpacaran sampai tahap intercoursedengan alasan akan dinikahi serta setiap berhubungan selalu memakai kondom, sedangkan satu informan memilih tidak berpacaran dengan alasan dilarang orang tua. Tempat berpacaran kedua informan memilih di villa atau hotel. Faktor penguat perilaku pacaran yang paling berpengaruh dalam hal ini adalah pacar, meskipun ada salah satu teman dekat/sahabat yang tidak mendukung berpacaran lagi.Simpulan :Dua informan melakukan pacaran sampai tahap intercourse sedangkan satu informan tidak melakukan pacaran pasca tindakan aborsi. Tempat pacaran adalah di villa atau hotel. Pacar dan teman dekat adalah penguat.
HUBUNGAN USIA DENGAN CERVICAL INFLAMMATION PADA WANITA USIA SUBUR Nuke Devi Indrawati; Dewi Puspitaningrum; Indri Astuti Purwanti
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2017: Prosiding Seminar Nasional Publikasi Hasil-Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.549 KB)

Abstract

Background: Cervical inflammation is an early stage of cervical cancer, the most cancer that attacks the female reproductive organs in Indonesia. If cervical inflammation can be prevented earlier, the chances of cervical cancer can be significantly reduced (long-term). Research Objectives: This study analyzed the age relationship with cervical inflammation in Kelurahan Kedungmundu Semarang City. Type of research with analytical research. Methods: Univariate analysis with frequency distribution, bivariate analysis with chi square. The number of samples of 40 women participants screening IVA test screening. Result of the research: Total of 40 respondents majority of middle adult age that is 22 woman (55%), majority did not have cervical inflammation and healthy reproductive health equal to 33 woman ((82,5%), no significant relation between age with cervical inflammation (p value = 0,505) Conclusion: there is no significant correlation between age with incidence rate of cervical inflammation.Keywords: age, cervical inflammation
POLA DYSMENORRHEA PRIMER PADA REMAJA DI MAN 1 SEMARANG Ulfatul Mardhiyah; Ali Rosidi; Indri Astuti Purwanti
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2015: Prosiding Bidang MIPA dan Kesehatan The 2nd University Research Colloquium
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.87 KB)

Abstract

Menstruation is a sign of a primary sex for women. The most common menstrual disorders is dysmenorrhea. The average incidence of dysmenorrhea in Indonesia is about 55% of which consists of a primary dysmenorrhea (54.89%) and secondary dysmenorrhea (9.36%). Primary dysmenorrhea happened in MAN 1 Semarang as much as 27%. This research objects to describe the patterns of the primary dysmenorrhea in MAN 1 Semarang. The study was conducted by survey method and approach of cross-sectional. Respondents were selected X-grader is experiencing Dysmenorrhea. Sampling technique is simple random sampling and numbers of sample are 46 respondents. The results showed that most respondents always experiencing dysmenorrhea (65.2%), while respondents perceived dysmenorrhea symptoms are pain in the lower abdomen that extends to the back and leg (91.3%), sore on the leg (73.9 %), and sore at the waist (76.1%). Dysmenorrhea interval that occurred more than 3 years after menarche (47.8%) more than 2-3 years (39.1%) and less than 2 years (13%).Keywords: primary dysmenorrhea, menstrual disorder, teenager.
TANDA BAHAYA KEHAMILAN YANG BELUM DIKETAHUI MASYARAKAT Indri Astuti Purwanti; Nurina Dyah Larasaty
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2016: PROSIDING KONTRIBUSI HASIL PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT DALAM PROGRAM SUSTAINABLE DEVE
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.166 KB)

Abstract

Latar Belakang. Kasus kematian ibu di Kota Semarang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Penyebabnya masih didominasi oleh pereeklampsia/eklampsia dan perdarahan. Kedua hal tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba melainkan didahului tanda-tanda awal penyakit yang dikenal dengan tanda bahaya kehamilan. Tanda-tanda tersebut telah tercantum dalam buku Kesehatan Ibu dan Anak (buku KIA). Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa buku KIA kurang berfungsi sebagai sarana edukasi. Akibatnya, tanda bahaya kehamilan belum banyak diketahui oleh masyarakat. Penelitian diwilayah Kota Semarang yang mempunyai kasus kematian ibu tertinggi membuktikan bahwa masyarakat di sana belum mengetahui tanda bahaya kehamilan dengan baik. Adapun penelitian di wilayah Kota Semarang yang tidak ada kasus kematian ibu belum pernah dilakukan. Salah satu wilayah KotaSemarang yang tidak pernah terjadi kematian ibu adalah wilayah kerja Puskesmas Srondol. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan di wilayah tersebut.Tujuan Penelitian. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi tanda bahaya kehamilan yang belum diketahui masyarakat. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Jenis penelitian ini adalah explanatory research.Populasinya adalah ibu hamil. Jumlah sampel 26 responden. Instrumen penelitian berupa kuesioner terbuka. Analisis univariat dengan analisis konten. Hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanda bahayakehamilan yang belum diketahui masyarakat adalah tanda preeclampsia, tanda infeksi dan tanda bahaya janin. Adapun tanda perdarahan sudah diketahui sebagian besar responden.Kata kunci: kematian ibu, tanda bahaya kehamilan.
PENDAMPINGAN KELAS IBU HAMIL DI KELURAHAN BANDARHARJO DAN KELURAHAN DADAPSARI, SEMARANG Indri Astuti Purwanti; Nuke Devi Indrawati; Arief Tajally Adhiatma
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2017: Prosiding Seminar Nasional Publikasi Hasil-Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.1 KB)

Abstract

Background. The city of Semarang was ranked third highest in terms of the number of maternal mortality cases in 2015. The work area of Bandarharjo Puskesmas has the highest number of deaths among other areas in Semarang City and all pregnant women in this region were classified as high risk during the year. The cause is indifference to pregnancy examination. This is indicated by the low attendance of pregnant class. Objective. The purpose of this activity is to increase the presence of pregnant classes and to increase awareness of pregnancy and high risk pregnancy outcomes. Method. The method used is the empowerment and mentoring of partners, as well as health education for pregnant women (target). Results. The attendance and care of the pregnant class of Bandarharjo Urban Village is still ongoing while the Dadapsari Village has increased.Keywords: class of pregnant women, concern for pregnancy examination.
The Urgency of Pregnancy Risk Factors Booklet Indri Astuti Purwanti; Nuke Devi Indrawati; Arief Tajally Adhiatma
PROSIDING SEMINAR NASIONAL & INTERNASIONAL 2017: Proceeding 3rd ISET 2017 | International Seminar on Educational Technology 3rd 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (447.68 KB)

Abstract

Maternal mortality cases in Semarang city were still high in 2015. Among all district in Semarang city, work area of Puskesmas Bandarharjo had the most maternal mortality cases. All pregnant women there had not beenrealized their risk pregnancy factors. Hence, they need health education about pregnancy risk factors to changetheir mindset. The right media in health education is booklet because it is written, can be colorful, can containpictures to explain the information and not limited by pages. It also can influence behavior intention of thepregnant woman, her husband, her parents, her parents in law and other people who read the book to detect earlypregnancy risk factors.Keywords: maternal mortality, pregnancy risk factors, media health education.
PENINGKATAN PEMAHAMAN BIDAN KOORDINATOR TENTANG STANDAR OPERATING PROSEDUR PREMARITAL SKRINING DI PUSKESMAS SEKOTA SEMARANG Dewi Puspitaningrum; Nuke Devi Indrawati; Indri Astuti Purwanti; Hidayatul Maghfiroh; Alifta Alifta
Jurnal Pengabdian Masyarakat Kebidanan Vol 2, No 1 (2020): Jurnal Pengabdian Masyarakat Kebidanan
Publisher : Jurnal Pengabdian Masyarakat Kebidanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jpmk.v2i1.5371

Abstract

Salah satu indikator kesehatan adalah Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia, dimana menurut SDKI 2012 mengalami peningkatan AKI menjadi 359 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup namun menurut hasil SUPAS 2015 AKI mengalami penurunan menjadi 305 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup. Banyak upaya pemerintah melalui Kementerian Kesehatan yang telah dilakukan seperti program EMAS tahun 2012 yang dimana melakukan peningkatan pelayanan kesehatan dan tenaga kesehatan yang lebih baik. Pada program EMAS pemerintah ada 6 yang diprogramkan yaitu pelayanan kesehatan ibu hamil, pelayanan imunisasi TT, pelayanan kesehatan ibu bersalin, nifas, penanganan komplikasi kebidanan dan pelayanan KB.. Dari program pemerintah tersebut belum ada program pelayanan bagi calon pengantin atau pelayanan pranikah yang bisa menjadi pencegahan adanya angka kematian ibu.Dengan begitu perlu adanya SOP premarital skrining, namun sebelum lebih lanjut program ini dilanjutkan perlu diberikan adanya pemahaman SOP. Tujuan adalah mengetahui karakteristik responden dalam  pemahaman akan SOP premarital. Hasil Mayoritas bidan koordinator setelah dilakukan sosialisasi tentang pemahaman SOP premarital mayoritas Bidan mempunyai respon yang baikpada setiap item pernyataan tentang SOP premarital skrining. Kesimpulan dengan adanya pemahaman SOP ini diharapkan bidan dapat meningkatkan edukasi bagi premarital dan menjadi program preventif nantinya dalam penurunan Angka Kematian Ibu.
PENYULUHAN TENTANG KEHAMILAN RISIKO TINGGI Indri Astuti Purwanti; Nuke Devi Indrawati; Arief Tajally Adhiatma
Jurnal Pengabdian Kesehatan Vol 1, No 2 (2018): Juli 2018
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jpk.v1i2.11

Abstract

Kelurahan Bandarharjo dan Kelurahan Dadapsari, Semarang Utara berada di wilayah kerja Puskesmas Bandarharjo  yang memiliki jumlah kasus kematian ibu tertinggi se-wilayah Kota Semarang pada tahun 2015. Hasil penelitian sebelumnnya tentang pemetaan ibu hamil di wilayah kerja puskesmas tersebut menunjukkan bahwa semua ibu hamil di wilayah tersebut tergolong risiko tinggi dan risiko sangat tinggi. Media promosi kesehatan tentang kehamilan risiko tinggi juga belum tersedia dari kementrian kesehatan. Pelaksanaan pengabdian masyarakat ini memberi dampak. Kader kesehatan setempat pun mahir menyusun media promosi kesehatan tentang kehamilan risiko tinggi setelah mengikuti pelatihan yang merupakan bagian dari kegiatan pengabdian masyarakat ini. Kata kunci: ibu hamil, kehamilan risiko tinggi.
Perbedaan Kadar Hemoglobin Berdasarkan Kebiasaan Konsumsi Kelor (Moringa Oleifera) pada Wanita Usia Subur (Studi di Dukuh Ngawenombo, Blora Jawa Tengah) Alvina Rachmatillah Jamil; Rahayu Astuti; Indri Astuti Purwanti
Amerta Nutrition Vol. 5 No. 1 (2021): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/amnt.v5i1.2021.23-30

Abstract

ABSTRAK  Latar belakang: Anemia pada perempuan terjadi jika kadar Hb (Hemoglobin) < 12 gr/dL. kondisi ini sangat dipengaruhi oleh zat gizi antara lain : zat besi, protein dan vitamin C. Daun Kelor (Moringa oleifera) merupakan tumbuhan kaya akan zat gizi, sehingga menarik diteliti.Tujuan: Mengteahui perbedaan kadar Hb berdasarkan kebiasaan konsumsi kelor di Dukuh Ngawenombo, Desa Ngawenombo, Blora, Jawa Tengah.Metode: Penelitian desain cross sectional ini melibatkan 70 subjek perempuan usia ≥ 20 tahun dipilih secara purposive sampling, pada kelompok konsumsi kelor terus menerus dan kelompok tidak konsumsi kelor sama sekali. Data yang dikumpulkan mencakup kadar Hb diukur dengan alat Easy Touch GHb, kebiasaan konsumsi kelor diukur dengan kuisioner dan asupan makanan diukur dengan metode recall 2x24 jam. Uji statistika yang digunakan : uji T-Independent, One Way Anova dan Kruskal Wallis. Uji kenormalan data digunakan uji kolmogorov smirnov.Hasil: Tedapat 30 orang (42,9%) mengkosumsi kelor dan 40 orang (57,1%) tidak konsumsi kelor. Terdapat 17 orang (56,7%) mengkonsumsi kelor sejak 3 tahun terakhir, 9 orang (30,0%) 2 tahun terakhir dan 4 orang (13,3%) 1 tahun terakhir. Frekuensi konsumsi kelor ≥ 3x per-minggu terdapat 26 orang (86,7%) dan < 3x per-minggu terdapat 4 orang (13,3%). Bentuk kelor yang dikonsumsi yaitu sayur kelor, teh kelor, dan kapsul kelor. Rata-rata kadar Hb perempuan konsumsi kelor 13,4gr/dL dan perempuan tidak konsumsi kelor 11gr/dL dan hasil uji perbedaan menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan (p=0,00).Kesimpulan: Terdapat perbedaan signifikan kadar Hb perempuan konsumsi kelor dan tidak konsumsi kelor. Kata Kunci: Kadar Hemoglobin, Daun Kelor, Wanita Usia Subur ABSTRACT Background: Anemia occurs in women if the amount of hemoglobin is <12 gr/dL. Nutrients including: iron, calcium, and vitamin C greatly affect hemoglobin. The leaves of Moringa oleifera are rich in nutrients so they are interesting for study research.Objective: Knowing the difference in Hb levels in Hamlet Ngawenombo, Ngawenombo Town, Blora, Central Java based on the moringa consumption habits. Method: This cross-sectional design analysis included 70 female participants between the ages of 20 selected by purposeful sampling in the continuous Moringa consumption and the non-Moringa consumption. Data collected included Hb levels measured with Easy Touch GHb, Moringa consumption habits were measured using a questionnaire and food intake was measured using 2x24 hour recall process. The statistical tests used: T-Independent, One Way Anova and Kruskal Wallis. Normality test data used the Kolmogoro Smirnov test.Results: Moringa was consumed by up to 30 people (42,9%), and 40 people (57,1%) did not consume Moringa. Over the last 3 years, there have been 17 people (56,7%) consumed Moringa, 9 people (30,0%) last 2 years and 4 people (13,3%) last 1 year. There are 26 people (86.7%) in Moringa consumption frequency ≥3x/week and 4 people (13.3%) in Moringa consumption frequency <3x/week. Moringa's type that is consumed is vegetable, tea, and capsules. The average Hb levels of female Moringa consumption 13,4gr/dL and females non-Moringa consumption 11gr/dL and the results of the differential test showed differences (p=0,00). Conclusion: The Hemoglobin level of female Moringa consumption and non-Moringa consumption are different.  Keywords: Hemoglobin Levels, Moringa Leaves, Women Reproductive Age