Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Kualitas Spermatozoa Post Thawing dari Semen Beku Sapi Perah Engki Zelpina; Bayu Rosadi; Teguh Sumarsono
Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Peternakan Vol. 15 No. 2 (2012): November 2012
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.474 KB) | DOI: 10.22437/jiiip.v15i2.1796

Abstract

The purpose of this study was to determine the effect of various thawing temperatures to the sperm quality of FH dairy cow frozen semen. The experimental design used was completely randomized design (CRD) with 5 treatments and 5 replications . The thawing treatments were  30 seconds at 33 0C (P1), 35 0C (P2), 37 0C (P3), 39 0C (P4), 41 0C (P5) . Observed variables were sperm motility, viability and recovery rate . Data were analyzed using analysis of variance . The results showed that different thawing temperatures affect the motility , viability, recovery rate of frozen spermatozoa (P<0.05). Motility and  recovery rate of P4 was higher (P< 0.05)  than P2 , P1 and P5  , but did not differ (P>0.05) with P3 . Viability of P4  was higher (P>0.05)  than P1 and P5  but did not differ (P>0.05) with P2 and P3.  In conclusion , thawing at 39 0c and 37 0C for 30 seconds had best semen quality of FH frozen semen.
Motilitas Spermatozoa Kerbau Lumpur pada Penyimpanan Semen Beku dalam Es Bayu Rosadi; Teguh Sumarsono; D Darmawan
Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Peternakan Vol 18 No 2 (2015): November 2015
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.646 KB) | DOI: 10.22437/jiiip.v18i2.2679

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama penyimpanan semen beku dalam es terhadap motilitas spermatozoa kerbau lumpur. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap dengan 5 perlakuan dan 5 kali ulangan. Perlakuan yang dilakukan meliputi: semen beku yang dithawing langsung dari nitrogen air (P0), penyimpanan dalam es selama 15 menit (P1), penyimpanan dalam es selama 30 menit (P2), penyimpanan dalam es selama 45 menit (P3), penyimpanan dalam es selama 60 menit (P4).. Peubah yang diamati adalah motilitas spermatozoa dan recovery rate. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan sidik ragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyimpanan semen beku dalam es mempengaruhi motilitas dan recovery rate spermatozoa kerbau lumpur (P<0,05). Motilitas, dan recovery rate P0 lebih tinggi dibandingkan P1, P2, P3, dan P4 (P<0,05). Motilitas P0, P1, dan P2 masih diatas 40%. Dapat disimpulkan bahwa penyimpanan semen beku dalam es menurunkan kualitas spermatozoa kerbau, semen beku kerbau dapat disimpan selama 30 menit dalam es sebelum dithawing.
Efek Bangsa Sapi Pejantan Terhadap Angka Kebuntingan Dan Rasio Sex Pedet Hasil Inseminasi Buatan Di Kecamatan Pemayung Ade Nopianti; Bayu Rosadi; Darmawan Darmawan
Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Peternakan Vol 25 No 1 (2022): Mei 2022
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.043 KB) | DOI: 10.22437/jiiip.v25i1.14637

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek bangsa sapi pejantan terhadap tingkat keberhasilan IB berupa Service per conseption (S/C) atau pelayanan IB per kebuntingan, Conseption rate (CR) atau angka kebuntingan dan Rasio sex pedet di Kecamatan Pemayung. Materi yang digunakan pada penelitian ini adalah recording inseminasi buatan (IB) Sapi tahun 2018 dan tahun 2019 yang berasal dari sistem Informasi Kesehatan Hewan Indonesia (iSIKHNAS), kemudian kuisioner untuk para peternak. Parameter yang diamati berupa Service per conseption (S/C) atau pelayanan IB per kebuntingan, Conseption rate (CR) atau angka kebuntingan dan Rasio sex pedet. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji-T dan Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bangsa pejantan berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap Service per conseption (S/C) dengan nilai 1,69 2,31, nilai Conseption rate (CR) yang diperoleh bervariasi yaitu berkisar dari (20 - 50%) dan Rasio sex pedet berkisar 0 - 62,5%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa bangsa pejantan tidak mempengaruhi nilai S/C, CR dan Rasio Sex pedet.
Pengaruh Penyimpanan Pada Suhu 5ºC Terhadap Motilitas, Persentase Hidup (Viabilitas) Dan Abnormalitas Semen Sapi Simmental Bayu Islami Pasyah; Bayu Rosadi; Darmawan Darmawan
Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Peternakan Vol. 24 No. 1 (2021): Mei 2021
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.643 KB) | DOI: 10.22437/jiiip.v24i1.15343

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh terhadap penyimpanan pada suhu 5oC selama 3 hari mampu memberikan pengaruh yang baik terhadap motilitas, persentase hidup (viabilitas) dan abnormalitas semen sapi Simmental. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 6 ulangan. Perlakuan terdiri dari P0= tanpa penyimpanan (kontrol), P1= penyimpanan selama 24 jam, P2= penyimpanan selama 48 jam dan P3= penyimpanan selama 72 jam. Peubah yang diamati adalah viabilitas, motilitas dan abnormalitas. Analisis data menggunakan analisis sidik ragam, dengan uji lanjut Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyimpanan pada suhu 5C memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap nilai motilitas dan viabilitas, namun tidak berpengaruh nyata terhadap abnormalitas semen sapi Simmental. Dapat disimpulkan bahwa lama penyimpanan yang dapat mempertahankan motilitas spermatozoa dan persentase hidup semen (viabilitas) sapi Simmental suhu 5ºC adalah 24jam.
Effect of Aloe vera Gel Administrated on Reproductive Performance of Female Rats Gunawan G; Enny T Setiatin; Bayu Rosadi; Thomas Mata Hine; A. Parakkasi
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 1, No 1 (2007): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.922 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v1i1.3101

Abstract

The research was conducted to find out the effect of Aloe vera gel administrated orally onreproductive performance of female rats. Fifteen two months old female rats were alloted to fivetreatments of per oral Aloe vera gel administration: P0 (control), P1(1 mg /g body weight), P2 (2 mg/gbody weight, P3 (3 mg/g body weight), and P4 ( 4 mg/g body weight). The gel were administrated everyday for four weeks. The body weight were measured on the same day as last treatment. The animal thenmated to proven male on 1:1 rasio. Positively mated animals were sacrificed on D-10 after mating tocollect uterus and ovary so the number of fetus, corpus luteum, and ovary weight can be determined. Thetreatments significantly decreased (P0.05) the average body weight gain. The P0 (4.1 g/head/day) wasdifferent to P1 (2.69 g/head/day), P2 (2.87 g/head/day, and P4 (2.68 g/head/day), but was not different toP3 (3.39 g/head/day). The ovarium weight were not different (P0.05) among the treatments, so did thenumber of corpus luteum (CL), the number of fetuses and the CL: fetus rasio.Keywords: Aloe vera, rats, reproductive performance .
Penerapan Teknologi Produksi Permen Kopi di Kecamatan Sungai Bungkal Kota Sungai Penuh Jambi Mursalin Mursalin; Sutrisno Sutrisno; Jodion Siburian; Bayu Rosadi; Guspianto Guspianto
Jurnal Nusantara Mengabdi Vol. 2 No. 3 (2023): Juni
Publisher : Penerbit Goodwood

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35912/jnm.v2i3.1894

Abstract

Purpose: This activity is intended to introduce coffee processing techniques into coffee candy by way of counseling, training and mentoring to the coffee farmer groups in Sungai Penuh City, Jambi. Methodology: The stages of this activity include counseling, training, production demonstrations, and business assistance. Coffee candy is made by boiling a mixture of coffee extract, sucrose and glucose at a ratio of 13:8:6 until it boils. After the mixture thickens, reduce the stove heat until the temperature of the mixture is no more than 1100C. After crystallization is complete, the mixture is put into the mold, cooled, then the coffee candy is removed from the mold, wrapped in plastic and packaged. Result: Counseling, training, mentoring, and technical guidance on how to process ground coffee into coffee candy have succeeded in creating a new source of income for the people of Sungai Ning Village, Sungai Bungkal District, Sungai Penuh City, Jambi. Conclusion: Through this activity, the village community has been able to apply coffee candy manufacturing technology as an effort to diversify their processed coffee products, coffee candy has now become their mainstay commodity, and several assisted farmer groups have now started producing coffee candy and marketing their products at every opportunity.
Identifikasi Morfometri Spermatozoa Sapi Simental dan Sapi Ongole Jalius Jalius; Mustakim Mustakim; Fachroerrozi Hoesni; Bayu Rosadi; Farizal Farizal
Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol 23, No 3 (2023): Oktober
Publisher : Universitas Batanghari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/jiubj.v23i3.4483

Abstract

The aim of the research was to determine the morphometry comparison of spermatozoa of simental cattle and ongole cattle such as head length, head width, head area, middle piece length, tail length and overall body length. This research was carried out at the UPTD Laboratory of the Livestock Breeding Center, Horticulture and Animal Husbandry Food Crops Service, Jambi Province. This methodology uses exploration and observation of spermatozoa, using a microscope with a magnification of 400 times. The samples measured were 480 spermatozoa, taken from frozen semen randomly at the Department of Horticultural Food Crops and Livestock, Jambi Province, then smear preparations were made with eosin dye. The variables observed were head length (PK), head width (LK), head area (LKP), middle piece length (PMD), tail length (PE) and overall body length (PTK). The research results showed that the morphometry of simental cattle spermatozoa PK (9.46 µm), LK (5.11 µm), LKP (41.96 µm), MD (13.77 µm), PE (47.68 µm) and PTK ( 70.92 µm). Meanwhile, the size of the spermatozoa of Ongole cattle PK (9.48 µm), LK (5.17 µm), LKP (42.57 µm), MD (13.83 µm), PE (47.96 µm) and PTK (71.28 µm); The statistical results obtained were not significantly different in the morphology of the two cow spermatozoa. The relationship between PTK parameters of simental cattle spermatozoa and PE was very significant (r=0.870) and likewise for Ongole Cow Spermatozoa, the relationship between PTK and PE was very significant (r=0.953). This situation shows that there is a very close relationship between body length and tail length. The percentage of X chromosome simental cattle spermatozoa was (44.38%) and Y chromosome spermatozoa was (55.62%), while the percentage of X chromosome Ongole cattle spermatozoa was (45.83) and Y chromosome carrying spermatozoa was (54.17).
Puerperium dan Skor Kondisi Tubuh Sapi Peranakan Simmental pada Ketinggian Tempat yang Berbeda: Puerperium and Body Condition Score of Simmental Crossbred Cattle in Different Altitude Musnandar, Endri; Rosadi, Bayu
Journal of Livestock and Animal Health Vol. 5 No. 1 (2022): February
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.196 KB) | DOI: 10.32530/jlah.v5i1.507

Abstract

Puerperium adalah periode mulai melahirkan sampai organ-organ reproduksi kembali ke kondisi fisiologis dan histologis yang normal dalam keadaan tidak bunting. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi status puerperium dan skor kondisi tubuh pada sapi Peranakan Simmental (PS) yang dipelihara pada ketinggian tempat yang berbeda. Penelitian dilaksanakan menggunakan metode survey di tiga kabupaten yaitu Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Kabupaten Tebo (dataran rendah-sedang) dan Kabupaten Kerinci (dataran tinggi). Sampel dipilih secara purposive sampling dengan kriteria induk sapi PS pasca melahirkan, induk yang dipilih diperkirakan minimal mempunyai 75% darah Simmental berdasarkan penampilan eksteriornya. Setiap daerah dengan tinggi yang berbeda masing-masing diambil 20 ekor sampel. Induk yang memiliki masa puerperum lebih dari 60 hari dikategorikan mengalami gangguan reproduksi (gangrep). Untuk menilai kondisi kesehatan secara keseluruhan dilakukan pemeriksaan Skor Kondisi Tubuh (SKT). Data SKT disajikan dalam bentuk rataan ± standar deviasi. Perbedaan lama puerperium dan SKT dianalisis dengan uji-t, sedangkan proporsi induk yang mengalami gangguan reproduksi dilakukan uji khi- kuadrat. Semua perhitungan statistik menggunakan perangkat lunak SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada dataran rendah-sedang gangrep terjadi pada 70% induk lebih banyak dibandingkan dataran tinggi yaitu 25% (P kecil dari 0,05). Masa puerperium sapi PS di daerah dataran rendah-sedang rata-rata 116,4 ± 19,2 hari lebih lama dibandingkan daerah dataran tinggi (71,6 ± 11,7 hari; P kecil dari 0,05). Nilai SKT induk sapi PS yang mengalami gangrep lebih rendah dari nilai SKT induk sapi PS yang normal (P kecil dari 0,05). Di dataran rendah-sedang pada induk yang normal SKT 3,10 ±0,32 dan SKT gangrep 2,17± 0,29, sedangkan di dataran tinggi nilai  SKT yang normal 3,07 ± 0,26 dan SKT gangrep 2,30 ±0,4.
Gambaran Darah dan Status Kesehatan pada Kambing Peranakan Etawa (PE) yang Mengalami Abortus: Laporan Kasus Wibowo, Sarwo Edy; Harahap, Ratna Sholatia; Nugraheni, Yudhi Ratna; Awaludin, Aan; Rahayu, Pudji; Rosadi, Bayu; Yatno, Yatno; Syarifuddin, Ahmad; Damhuri, Dedi; Safitri, Jessica Anggun
Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Peternakan Vol 28 No 1 (2025): Mei 2025
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jiiip.v28i1.36323

Abstract

Latar Belakang: Abortus merupakan masalah reproduksi yang dipengaruhi oleh status kesehatan ternak yang menyebabkan kerugian pada ternak seperti kambing. Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran darah dan status kesehatan pada kambing yang mengalami abortus di Fapet Farm Fakultas Peternakan Universitas Jambi. Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini diawali dengan pencatatan identitas ternak, anamnesa, dan pemeriksaan fisik pada kambing PE yang menunjukkan gejala klinis sakit. Sampel darah dan feses kemudian diambil dari lima ekor kambing yang mengalami abortus untuk dilakukan pemeriksaan telur cacing, parasit darah, dan serologi terhadap Brucella sp yang diduga sebagai penyebab terjadinya abortus. Hasil: Hasil analisis pemeriksaan darah dan kesehatan yang dilakukan ditemukan bahwa adanya infeksi parasit pada pada lima kambing yang mengalami abortus. Empat kambing yang terinfeksi parasit Anaplasma sp., yaitu kambing 2, kambing 3, kambing 4, dan kambing 5. Dua kambing positif terinfeksi parasit gastrointestinal, yaitu ditemukan telur cacing Paramphistomum sp. dan Haemonchus sp., pada kambing 1, sedangkan kambing 2 ditemukan telur cacing Paramphistomum sp. dan Moniezia sp. Hasil pemeriksaan hematologi terdapat peningkatan leukosit pada kambing nomor 5 dan penurunan nilai hematokrit pada kelima kambing dan MCHC pada kambing nomor 3 dan 4. Kesimpulan: Kondisi abortus yang dialami kambing PE di Fapet Farm Fakultas Peternakan Universitas Jambi terjadi karena adanya infeksi parasit, peningkatan leukosit, dan penurunan nilai hematokrit yang ditemukan pada sampel darah dan feses yang diuji.
Effect of Aloe vera Gel Administrated on Reproductive Performance of Female Rats G, Gunawan; T Setiatin, Enny; Rosadi, Bayu; Mata Hine, Thomas; Parakkasi, A.
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 1, No 1 (2007): March
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v1i1.3101

Abstract

The research was conducted to find out the effect of Aloe vera gel administrated orally onreproductive performance of female rats. Fifteen two months old female rats were alloted to fivetreatments of per oral Aloe vera gel administration: P0 (control), P1(1 mg /g body weight), P2 (2 mg/gbody weight, P3 (3 mg/g body weight), and P4 ( 4 mg/g body weight). The gel were administrated everyday for four weeks. The body weight were measured on the same day as last treatment. The animal thenmated to proven male on 1:1 rasio. Positively mated animals were sacrificed on D-10 after mating tocollect uterus and ovary so the number of fetus, corpus luteum, and ovary weight can be determined. Thetreatments significantly decreased (P0.05) the average body weight gain. The P0 (4.1 g/head/day) wasdifferent to P1 (2.69 g/head/day), P2 (2.87 g/head/day, and P4 (2.68 g/head/day), but was not different toP3 (3.39 g/head/day). The ovarium weight were not different (P0.05) among the treatments, so did thenumber of corpus luteum (CL), the number of fetuses and the CL: fetus rasio.Keywords: Aloe vera, rats, reproductive performance .