Claim Missing Document
Check
Articles

Determination of Sun Protection Factor and Antioxidant Properties of Cream Formulation of Kencur (Kaempferia galanga L) and Temu Kunci (Boesenbergia pandurata (Roxb.) Schlecht) Rhizomes Extract Charisma, Shintia Lintang; Rahayu, Wiranti Sri; Wahyuingrum, Retno
Pharmaciana Vol 8, No 2 (2018): Pharmaciana
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (658.191 KB) | DOI: 10.12928/pharmaciana.v8i2.11891

Abstract

Kencur (Kaempferia galanga, L.) rhizome contain ethyl-p-methoxycinnamate (EPMS) which has sunscreen properties. Temu kunci (Boesenbergia pandurata (Roxb) Schlecht) rhizome contains  flavonoid and essential oils with oxidant radical scavenging properties. The aims  of this study were  to obtain the optimum physical properties of sunscreen and antioxidant cream and to compare the sun protection factor (SPF) values and antioxidant activity of kencur and temu kunci rhizomes extract before and after formulated.This research used Simplex Latice Design (SLD) model with 2 components of kencur extract and temu kunci extract. Based on the SLD model obtained optimum formula design, then the SPF values and antioxidant activity were studied by UV spectrophotometric method and DPPH method respectively.Based on SLD model obtained optimum formula that containing kencur : temu kunci extract 80%:20% (formula A) and 70%:30% (formula B). The SPF values of  kencur extract, formula A and formula B were  4.505, 5.024 and 4.511 respectively. Antioxidant activity showed that the IC50 of formula A, formula B, temu kunci extract, BHT and Vitamin E were 109.15 µg/ml, 95.23 µg/ml, 10.20 µg/ml, 22.33 µg/ml and 8.78 µg/ml respectively.Cream formula A and formula B have optimum physical properties. The SPF value of the optimum formulations were higher than SPF value of kencur extract. Antioxidant activity of that combinations were  lower than temu kunci extract, BHT and Vitamin E.
PENGARUH PEMBERIAN SEDIAAN CURCUMA DALAM SUSU DAN EMULSI TERHADAP PARAMETER FARMAKOKINETIKA PARASETAMOL Kusuma, Anjar Mahardian; Rahayu, Wiranti Sri; Maryati, Siti; Sobarani, Rini Afini
Media Farmasi: Jurnal Ilmu Farmasi Vol 10, No 2: September 2013
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.848 KB) | DOI: 10.12928/mf.v10i2.1169

Abstract

ine"> </Penggunaan lebih dari satu macam obat dapat menimbulkan terjadinya interaksi. Pemberian multivitamin dan susu yang mengandung kurkumin, apabila diberikan dengan parasetamol secara bersamaan dimungkinkan dapat menimbulkan interaksi yang dapat berpengaruh terhadap parameter farmakokinetika parasetamol. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian curcuma emulsi dan susu curcuma yang mengandung kurkumin terhadap parameter farmakokinetika parasetamol pada tikus jantan wistar. Jenis metode penelitian yang digunakan yaitu jenis eksperimental dengan rancangan penelitian posttest only control group design dan metode analisis data yang digunakan adalah one way anova. Parameter farmakokinetika pada tiap kelompok mengalami perubahan. Nilai Cpmax untuk kelompok I dengan pemberian parasetamol peroral dosis 150 mg/kgBB yaitu 4,129 µg/ml, kelompok II dan III dengan pemberian parasetamol dosis 150 mg/kgBB dan curcuma emulsi dosis 0,9 mg/kgBB dan 1,8 mg/kgBB yaitu 3,904 µg/ml dan 3,894 µg/ml, pada kelompok IV dan V dengan pemberian parasetamol dosis 150 mg/kgBB dan susu curcuma dosis 0,9 mg/kgBB dan 1,35 mg/kgBB yaitu 3,942 µg/ml dan 3,916 µg/ml. Nilai klirens mengalami penurunan, yaitu pada kelompok I 88 ml/menit, pada pemberian curcuma emulsi kelompok II dan III 87 ml/menit dan 84,8 ml/menit, pada kelompok IV dan V dengan pemberian susu curcuma yaitu 87 ml/menit dan 85,2 ml/menit. Penurunan klirens menyebabkan terjadinya peningkatan nilai AUC kelompok II, III, IV dan V. Hasil secara statistika menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan (p>0.05).Kata kunci: curcuma emulsi, susu curcuma, parasetamol, interaksi.
Determination of sun protection factor and antioxidant properties of cream formulation of kencur (Kaempferia galanga L) and temu kunci (Boesenbergia pandurata (Roxb.) Schlecht) rhizomes extract Shintia Lintang Charisma; Wiranti Sri Rahayu; Retno Wahyuingrum
Pharmaciana Vol 8, No 2 (2018): Pharmaciana
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (658.191 KB) | DOI: 10.12928/pharmaciana.v8i2.11891

Abstract

Kencur (Kaempferia galanga, L.) rhizome contain ethyl-p-methoxycinnamate (EPMS) which has sunscreen properties. Temu kunci (Boesenbergia pandurata (Roxb) Schlecht) rhizome contains flavonoid and essential oils with radical scavenging properties. The aims of this study were to obtain the optimum physical properties of sunscreen and antioxidant cream and to compare the sun protection factor (SPF) values and antioxidant activity of kencur and temu kunci rhizomes extract before and after formulated. This research used Simplex Latice Design (SLD) model with 2 components of kencur extract and temu kunci extract. Based on the SLD model obtained optimum formula design, then the SPF values and antioxidant activity were studied by UV spectrophotometric method and DPPH method respectively. Based on SLD model obtained optimum formula that containing kencur : temu kunci extract 80%:20% (formula A) and 70%:30% (formula B). The SPF values of kencur extract, formula A and formula B were 4.505, 5.024 and 4.511 respectively. Antioxidant activity showed that the IC50 of formula A, formula B, temu kunci extract, BHT and Vitamin E were 109.15 μg/mL, 95.23 μg/mL, 10.20 μg/mL, 22.33 μg/mL and 8.78 μg/mL respectively. Cream formula A and formula B have optimum physical properties. The SPF value of the optimum formulations were higher than SPF value of kencur extract. Antioxidant activity of that combinations were lower than temu kunci extract, BHT and Vitamin E.
PENGARUH PEMBERIAN SEDIAAN CURCUMA DALAM SUSU DAN EMULSI TERHADAP PARAMETER FARMAKOKINETIKA PARASETAMOL Anjar Mahardian Kusuma; Wiranti Sri Rahayu; Siti Maryati; Rini Afini Sobarani
Media Farmasi: Jurnal Ilmu Farmasi Vol 10, No 2: September 2013
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.848 KB) | DOI: 10.12928/mf.v10i2.1169

Abstract

Penggunaan lebih dari satu macam obat dapat menimbulkan terjadinya interaksi. Pemberian multivitamin dan susu yang mengandung kurkumin, apabila diberikan dengan parasetamol secara bersamaan dimungkinkan dapat menimbulkan interaksi yang dapat berpengaruh terhadap parameter farmakokinetika parasetamol. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian curcuma emulsi dan susu curcuma yang mengandung kurkumin terhadap parameter farmakokinetika parasetamol pada tikus jantan wistar. Jenis metode penelitian yang digunakan yaitu jenis eksperimental dengan rancangan penelitian posttest only control group design dan metode analisis data yang digunakan adalah one way anova. Parameter farmakokinetika pada tiap kelompok mengalami perubahan. Nilai Cpmax untuk kelompok I dengan pemberian parasetamol peroral dosis 150 mg/kgBB yaitu 4,129 µg/ml, kelompok II dan III dengan pemberian parasetamol dosis 150 mg/kgBB dan curcuma emulsi dosis 0,9 mg/kgBB dan 1,8 mg/kgBB yaitu 3,904 µg/ml dan 3,894 µg/ml, pada kelompok IV dan V dengan pemberian parasetamol dosis 150 mg/kgBB dan susu curcuma dosis 0,9 mg/kgBB dan 1,35 mg/kgBB yaitu 3,942 µg/ml dan 3,916 µg/ml. Nilai klirens mengalami penurunan, yaitu pada kelompok I 88 ml/menit, pada pemberian curcuma emulsi kelompok II dan III 87 ml/menit dan 84,8 ml/menit, pada kelompok IV dan V dengan pemberian susu curcuma yaitu 87 ml/menit dan 85,2 ml/menit. Penurunan klirens menyebabkan terjadinya peningkatan nilai AUC kelompok II, III, IV dan V. Hasil secara statistika menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan (p>0.05). 
Analisis Asam Lemak Daging Anjing pada Bakso Sapi Menggunakan Gas Chromatography Mass Spectrometry (GCMS) yang Dikombinasikan dengan PCA (Principal Component Analysis) Irfan Nugraha; Pri Iswati Utami; Wiranti Sri Rahayu
Indonesia Journal of Halal Vol 1 (2) 2018
Publisher : Pusat Kajian Halal Undip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.979 KB) | DOI: 10.14710/halal.v1i2.3668

Abstract

 Tingginya perbedaan harga daging, membuat beberapa penjual yang tidak etis mengganti daging sapi dengan daging anjing secara sengaja untuk mendapatkan keuntungan ekonomis. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan GCMS yang dikombinasi dengan kemometrika PCA untuk analisis cepat dari asam lemak anjing pada bakso formulasi dan bakso sapi di pasaran. Metode penelitian ini adalah non eksperimental berupa identifikasi profil asam lemak daging anjing  pada bakso sapi formulasi dan bakso sapi di pasaran. Hasil penelitian yang didapat berupa profil kromatogram GCMS menunjukkan bahwa terdapat perbedaan komposisi asam lemak antara daging anjing dan sapi. Pada lemak daging anjing muncul beberapa asam lemak yang tidak dimiliki oleh lemak daging sapi diantaranya asam kaproat, asam siklopentanetridekanoat, asam arakhidonat, asam 7,10,13- eikosatrienoat, asam 9,12,15- oktadekatrienoat. Analisis kualitatif dari kromatogram GCMS menggunakan PCA menunjukkan lemak sapi, anjing, kambing, babi dan ayam dapat diidentifikasi dan dibedakan. Analisis kualitatif kandungan lemak anjing dalam bakso sapi formulasi menunjukkan perbedaan antara bakso formulasi yang memiliki kedekatan mirip dengan lemak sapi serta yang mirip dengan lemak anjing. Analisis kualitatif lemak anjing pada bakso sapi di pasaran menunjukkan sampel tidak mengandung lemak anjing.Kata kunci : bakso, GCMS, lemak daging anjingABSTRACTDue to the high difference of meat price, some unethical seller replaces beef intentionally with dog meat to get economical profits. The objective of this study is to assess the capability of GCMS coupled with chemometrics of PCA for rapid screening of dog fat in beef meatball formulation and beef meatballs in the market. The method of this research is non experimental that is identification of fatty acid profile of dog meat in beef meatball simulation and beef meatballs in the market. The result obtained from GCMS chromatogram profile showed that there is a difference in fatty acid composition between beef and dog meat. In dog meat fat appears some fatty acids that are not owned by beef fat i.e caproic acid, cyclopentanetridecanoic acid, arachidonate acid, 7,10,13-eicosatrienoic acid, 9,12,15-octadecatrienoic acid. Qualitative analysis from GCMS chromatogram using PCA showed that beef, dog, goat, pork and chicken can be identified and differentiated. Qualitative analysis of dog fat in simulated beef meatballs showed difference between simulated meatballs that have similar proximity to beef's fat as well as those that are similar to dog fat. Qualitative analysis of dog fat in beef meatballs in the market showed the sample doesn't contain dog fat. Keywords : dog meat fat, GCMS, meatball
The Use of Real-Time Polymerase Chain Reaction Combined with Specific-Species Primer for Analysis of Dog Meat DNA in Meatball Abdul Rohman; Wiranti Sri Rahayu; Sudjadi Sudjadi; Sudibyo Martono
Indonesian Journal of Chemistry Vol 21, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/ijc.48930

Abstract

The presence of dog meat is a crucial issue because dog meat is non-halal meat for Muslims. The objective of this study was to design and validate species-specific primer for the identification of dog meat DNA in meatball using real-time polymerase chain reaction (real-time PCR). The specific primer targeting mitochondrial cytochrome c oxidase subunit 1 (CO1) was validated. The specific primers used were designed using Integrated DNA Technologies (IDT) software and subjected to NCBI BLAST procedure. The candidate primers were tested for specificity study using several DNAs from fresh meat of pork, chicken, beef, lamb, and rat. The method was also validated by determining several parameters of linearity, sensitivity, precision, and efficiency. The results showed that primer could amplify specifically DNA target at an optimized annealing temperature of 56.6 °C. The limit of detection (LoD) obtained was 5 ng DNA, corresponding to 2.5% of dog meat in a meatball. The repeatability evaluation, expressed with relative standard deviation (RSD), and efficiency value was in the acceptable range (RSD < 25% and efficiency (90–105%). This method was successfully used for the analysis of marketed samples. Real-time PCR can be used as a standard method in halal authentication analysis through DNA analysis.
PENGARUH LAMA DAN TEMPAT PENYIMPANAN TERHADAP KADAR KURKUMINOID PADA SEDIAAN JAMU SERBUK MERK ”A” YANG MENGANDUNG SIMPLISIA RIMPANG KUNYIT (Curcuma domestica, Val.) Wiranti Sri Rahayu; Dwi Hartanti; Melani Setiowati
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 07 No. 02 Agustus 2010
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pji.v7i1.555

Abstract

ABSTRAK Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh lama dan tempat penyimpanan terhadap kadar kurkuminoid pada sediaan jamu serbuk yang mengandung simplisia rimpang kunyit (Curcuma domestica, Val). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh lama dan tempat penyimpanan terhadap kadar kurkuminoid dalani jamu serbuk yang mengandung simplisia rimpang kunyit yang diambil dari Purbalingga. Dalam penelitian ini, sampel disimpan di ruangan yang sama, satu pada tempat yang terkena sinar matahari langsung dan yang satu pada tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung. Penyimpanan dilakukan selama dua bulan diuji setiap dua minggu sekali, sampel setiap perlakuan diambil dua bungkus, satu bungkus dari tempat yang terkena sinar matahari langsung dan satu bungkus dari tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung. Pengujian sampel dimulai dari nol penyimpanan sampai delapan minggu kedepan. Dalam penelitian sampel diekstrak lalu direfluk dan penetapan kadarnya menggunakan metode Spektrofotometri Ultraviolet-Visibel. Hasil diperoleh nilai KV pada uji presisi adalah 5,6025 % (< 2%). Nilai persen perolehan kembali ( Recovery) rata-rata pada uji akurasi adalah 101,99 % (80-120 %). Linieritas ditunjukan dengan nilai koefisien korelasi ( r = 0,9849 > r tabel). Limit Deteksi (LOD) dan limit Kuantitasi (LOQ) yang diperoleh adalah 0,9622 ppm dan 3,2079 ppm. Hasil penelitian menunjukan bahwa lama dan tempat penyimpanan tidak mempengaruhi kadar kurkuminoid pada sediaan jamu serbuk yang mengandung rimpang kunyit dengan sebelum perlakuan tidak berbeda bermakna menurut anava dua arah d engan taraf kepercayaan 95%. Kata Kunci: Kurkuminoid, Jamu Serbuk, Kunyit, Spektrofotometri UV-VIS. ABSTRACT Has conducted research on the influence of time and place storage of kurkuminoid content in jamu containing turmeric rhizome (Curcuma domestika, Val) simplisia. The purpose of this study was to determine the effect of time and place storage of kurkuminoid content in jamu containing turmeric rhizome. Simplicia taken from Purbalingga. In this study, samples were stored at the same room, one of them at the place with direct sunlight and the other at the place with no direct sunlight. Samples was tested every two weeks for two months, samples of each treatment taken two packs, one pack from the place with direct sunlight and one other pack from the place with no direct sunlight. Extracted samples in the study was determined using Ultraviolet-visible Spectroscopy. KV value of the results obtained in the test precision is 5.6025% ( r tables). Limit of detection (LOD) and limit Kuantitasi (LOQ) obtained were 0.9622 ppm and 3.2079 ppm. The results showed that time and place of storage did not affect kurkuminoid content in jamu containing turmeric simplisia with before treatment do not differ to have a meaning of according to anava two direction with the trust level 95%. Keywords: Kurkuminoid, Herbal Powder, Turmeric, Spektrofotometri UV-VIS
PENGARUH METODE PENGERINGAN TERHADAP KADAR ANTOSIAN PADA KELOPAK BUNGA ROSELA (Hibiscus sabdariffa L.) Wiranti sri Rahayu; Dwi Hartanti; Nasrun Hidayat
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 06 No. 02 Agustus 2009
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pji.v6i2.412

Abstract

ABSTRAK Simplisia rosella merupakan salah satu simplisia dari tanaman yang berkhasiat sebagai anti hipertensi dan senyawa yang berperan adalah antosianin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah metode pengeringan kelopak bunga rosella (Calyx Hiriscus sabdariffa L) dapat mempengaruhi kadar antosianin. Metode pengeringan yang digunakan adalah dengan sinar matahari langsung, ditutup kain hitam dan oven. Ekstraksi kelopak bunga rosella menggunakan metode maserasi dan uji kadar antosianin ekstrak kelopak bunga rosella menggunakan metode KLT densitometry. Hasil yang diperoleh dari data KLT densitometry adalah kadar total antosianin pada pengerinagn sinar matahari langsung 6,25 g antosianin, pengeringan dengan ditutup kain hitam 4,7553 g antosianin dan pengeringan oven 5,916 g antosianin. Tes anava menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan bermakna pada kandungan antosianin dengan menggunakan metode pengeringan yang berbeda. Kata kunci: Calyx Hibiscus Sabdariffa L, antosianin, KLT densitometry ABSTRACT Rosela herbs is active as anti hypertention and the compound responsible for this activity is antosianin. This research is aimed to know whether the method of drying rosella calyx can influence the content of antosianin. Methods of drying use in this research were by direct sunlight, undirect sunlight and oven. The used extraction method was maseration and the antosianin content was determined by TLC densitometry method. The result of TLC densitometry data showed that the content of total antosianin rosella calyx by direct sunlight drying was about 6.25 g antosianin, by undirect sunlight was 4.7553 g antosianin and by oven was 5.916 g antosianin. Anova test showed there were not significant differences in antosianin content among the different drying method. Key words: Hibiscus Sabdariffa L, antosianin, TLC densitometry
PERBANDINGAN KADAR EUGENOL MINYAK ATSIRI DAUN CENGKEH (Syzygium aromaticum (L) Merr & Perry) YANG TUMBUH DI DATARAN TINGGI DAN DATARAN RENDAH Ari Kurniawan; Wiranti Sri Rahayu; Retno Wahyuningrum
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 06 No. 03 Desember 2009
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pji.v6i3.879

Abstract

ABSTRAK Minyak cengkeh diproduksi oleh para pengrajin penyuling daun cengkeh dan tangkai cengkeh di daerah-daerah yang banyak tanaman cengkehnya. Sama halnya dengan bunga cengkeh, daun cengkeh (Syzygium aromaticum (L) Merr & Perry ) memiliki komponen utama yang sama yaitu Eugenol. Kadar eugenol dapat mencapai 70-90% dari minyak cengkeh, sehingga mendominasi sifat-sifat minyak cengkeh. Daun cengkeh yang disuling dapat diperoleh dari daun yang sudah gugur yang diambil pada dataran tinggi Desa Banjarsari wetan (800-900 mdpl) dan dataran rendah Desa Pringtali Kebarongan (200-300 mdpl). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kadar eugenol minyak daun cengkeh yang tumbuh di dataran tinggi dan dataran rendah. Dalam penelitian ini digunakan penyulingan dengan destilasi uap dan air. Hasil destilat yang didapat dianalisis menggunakan Kromatografi Gas Spektroskopi Massa (KGSM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar eugenol minyak atsiri daun cengkeh yang tumbuh di dataran tinggi yaitu 0,76% dan 0,69% pada dataran rendah yang terlihat pada satu puncak yang dominan pada kromatogram. Berdasarkan uji T dapat disimpulkan bahwa kadar eugenol minyak atsiri daun cengkeh yang tumbuh di dataran tinggi dan dataran rendah tidak berbeda bermakna. Kata kunci : Daun cengkeh (Syzygium aromaticum (L) Merr & Perry), Kromatografi Gas Spektroskopi Massa (KGSM) ABSTRACT Clove oil is produced by instrument to refine clove leaf and clove stem in the areas that many clove’s trees. Same with clove leaf, the clove leaf (Syzygium aromaticum (L) Merr & Perry) has main component is eugenol. Eugenol degree can attain 70 – 90 % from clove oil until dominate the characteristic of oil clove. Clove leaf which is distilled can got from the leaf fall that take in up land Desa Banjarsari wetan (800-900 mdpl) and low land Desa Pringtali Kebarongan (200-300 mdpl) . The aim of this research to know the compare eugenol degree in the clove leaf in the up land trees and low land. In this research used instrument to refine distillation vapor and water. The result of distillated which is got analyzed in using Chromatography Gas Spectroscopy Mass (GCMS). The result show that eugenol degree in the clove leaf that grown place in the up land 0,76% and 0,69% low land which is seen in one top dominant at chromatogram. Based on t test can concluded that eugenol degree in the clove leaf that grown place in the up land and low land are not significant deference. Keyword : The clove leaf (Syzygium aromaticum (L) Merr & Perry), Gas Chromatography Mass Spectroscopy (GCMS).
PENGARUH BEBERAPA METODE PENGERINGAN TERHADAP KADAR FLAVONOID TOTAL HERBA SAMBILOTO ( Andrographis paniculata) Arif Dwi Utomo; Wiranti Sri Rahayu; Binar Asrining Dhiani
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 06 No. 01 April 2009
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pharmacy.v6i01.402

Abstract

ABSTRAK Sambiloto merupakan tanaman yang sejak dahulu digunakan sebagai obat tradisional karena khasiatnya yang sangat banyak diantaranya adalah perangsang daya kekebalan tubuh. Telah dilakukan pengeringan terhadap tanaman sambiloto dengan beberapa metode. Penelitian bertujuan untuk mengetahui apakah metode atau cara pengeringan dapat mempengaruhi kadar flavonoid total pada ekstrak herba sambiloto (Andrographis paniculata). Ekstraksi herba sambiloto menggunakan metode sokletasi dan uji kadar flavonoid total ekstrak herba sambiloto dilakukan dengan menggunakan metode KLT Densitometri. Hasil data KLT Densitometri menunjukkan bahwa kadar flavonoid total herba sambiloto dengan pengeringan sinar matahari langsung sebesar 24%, pengeringan dengan kain hitam 33,3% dan pengeringan dengan oven sebesar 29%. Kata Kunci: Andrographis paniculata, Flavonoid, KLT Densitometri. ABSTRACT Sambiloto is a plant which has been used as a traditional medicine since a long ago, because of activity as immunomodulator. It has been done the research of drying of sambiloto plant by some methods. This research was aimed to know whether the method of drying of sambiloto plant can influence the content of total flavonoid in extract sambiloto herb ( Andrographis paniculata ). The extraction of sambiloto herb was used by soxhletation method and the content total of flavonoid extract sambiloto herb were determined using by TLC Densitometry. The result of TLC Densitometry data showed that the content of total flavonoid sambiloto herb by direct sunlight drying was abaout 24%, by black cloth was about 29% and by oven was about 33,3%. Keywords: Andrographis paniculata, flavonoid, TLC Densitometry.
Co-Authors Abdul Rohman Ade Rusman Agung Dimas Jatmiko Agus Mulyono Agus Mulyono Aidatul Mufidah Anak Agung Istri Sri Wiadnyani Ani Puji Lestari Anis Kurniawati Anjar Mahardian Kusuma Anjar Mahardian Kusuma Anwar Ma’ruf ARI KURNIAWAN Ari Kurniawan Arif Dwi Utomo Arif Dwi Utomo Asih Mahmudah Sanusi Asmiyenti Djaliasrin Djalil Asmiyenti Djaliasrin Djalil Asmiyenti Djaliasrin Djalil Asmiyenti Djaliasrin Djalil Binar Asrining Dhiani Binar Asrining Dhiani Charisma, Shintia Lintang Devi Ratnawati Dewi Indriyani Dewi Indriyani, Dewi Dian Pratiwi Diniatik Dwi Hartanti Dwi Hartanti Dwi Nur Meilaningrum Dwi Nur Meilaningrum, Dwi Nur Eddy Soemardi Erlin Nur Azizah, Erlin Nur Erlin Nurul Azizah Esti Damayanti Fahmi Haryadin Fauziah Fauziah Githa Fungie Galistiani Hamami Alfasani Dewanto Handoyo Handoyo Handoyo Handoyo Hasnita Heri Maryanto, Cahyono Purbomartono, Heri Maryanto, Ika Yuni Astuti Ika Yuni Astuti Indah Puji Lestari Indriyani Irfan Nugraha Juniati Juniati Listiowati Listiowati Luthvia Novita Sari Luthvia Novita Sari, Luthvia Novita Maryati, Siti Melani Setiowati Mulyani, Ayu Muslim Sukri Muslim Sukri, Muslim Nasrun Hidayat Nasrun Hidayat, Nasrun Nervita Noor Izzati Nervita Noor Izzati, Nervita Noor Neti Cahyaningsih, Neti Paryatun Najilah Paryatun Najilah, Paryatun Pri Iswati Utami Pri Iswati Utami Pri Iswati Utami Pri Iswati Utami Pribadi, Teguh Rahmani Prastiwati Regawa Bayu Pamungkas Retno Wahyuingrum Retno Wahyuningrum Retno Wahyuningrum Rini Afini Sobarani Rini Afini Sobarani Riyad Khomsidin Riyad Khomsidin, Riyad Shintia Lintang Charisma Siti kholifatun Juniati Siti Maryati Siti Maryati Sobarani, Rini Afini Sochib Ibnu Fajar Sudibyo Martono Sudibyo Martono Sudjadi Sudjadi Suparman Supriyadi Supriyadi Teti Sunarti Titik Aisyah Titik Aisyah, Titik Titik Sunarti, Titik Tjiptasurasa Tjiptasurasa Tjiptasurasa Tjiptasurasa Tjiptasurasa Tjiptasurasa, Tjiptasurasa Wahyu Utaminingrum Wahyu Utaminingrum Wahyu Utaminingrum Wahyuingrum, Retno Wahyuingrum, Retno