Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Optimasi Konsentrasi Paklobutrazol untuk Respons Pembungaan Tanaman Jambu Biji 'Kristal' Siti Sarah Yutamimah; R. A. Diana Widyatuti; Setyo Dwi Utomo; Yohannes Cahya Ginting
JURNAL AGROTROPIKA Vol 22, No 1 (2023): Jurnal Agrotropika Vol 22 No 1, Mei 2023
Publisher : Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/ja.v22i1.7449

Abstract

The advantages of 'Crystal' guava in Indonesia provide opportunities for farmers to cultivate and increase their production. Various methods of cultivation have been developed to increase the production of 'Crystal' guava, one of which is the use of Growth Regulators. Paclobutrazol is a plant PGR that regulates flowering outside the harvest season so that the production of 'Crystal' guava fruit can be maintained. The purpose of this study was to determine the best concentration of the effect of Paclobutrazol treatment in increasing the flowering of 'Crystal' guava plants. The research was conducted from August 2021 to March 2022 in Rajabasa Lama 1 Village, Labuhan Ratu District, East Lampung Regency. The treatment was carried out in a factorial manner using a single factor randomized block design with three replications so that 36 experimental units were obtained. The first factor was Paclobutrazol (A) which consisted of 6 treatment levels, there are A1 (0 ppm), A2 (4000 ppm), A3 (6000 ppm), A4 (8000 ppm), A5 (10,000 ppm), A6 (12,000 ppm). Paclobutrazol treatment with a concentration of 10,000 ppm gave the best results on the variables of flower number, number of ovules, number of harvested fruit and weight of harvested fruit. Keywords : Paclobutrazol, Concentration, ‘Crystal’ Guava Plants
KOMPETISI JENIS DAN KERAPATAN GULMA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI KACANG TANAH (Arachis hypogaea L.) VARIETAS HYPOMA 2 Eka Erliyana; Dad R.J. Sembodo; Setyo Dwi Utomo
Jurnal Agrotek Tropika Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (543.719 KB) | DOI: 10.23960/jat.v3i3.1954

Abstract

Kacang tanah merupakan tanaman kacang-kacangan yang permintaannya menduduki urutan kedua setelah kedelai. Namun, produktivitas kacang tanah yang dihasilkan Indonesia masih rendah. Salah satu faktor penyebab rendahnya produksi tanaman kacang tanah yaitu keberadaan gulma. Gulma dalam budidaya tanaman kacang tanah memiliki daya saing yang bersifat merugikan bagi pertumbuhan dan produksi kacang tanah. Tingginya penurunan hasil terhadap produksi kacang tanah dapat dipengaruhi oleh jenis dan kerapatan gulma. Penelitian ini disusun untuk mengetahui pengaruh jenis gulma terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kacang tanah varietas Hypoma 2, pengaruh kerapatan gulma terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kacang tanah varietas Hypoma 2, dan ada atau tidak adanya interaksi antara jenis dan kerapatan gulma dalam mempengaruhi pertumbuhan dan produksi kacang tanah varietas Hypoma 2. Penelitian dilaksanakan di Lampung Selatan dan Laboratorium Gulma Universitas Lampung dari bulan Januari–Mei 2015. Perlakuan ini disusun secara faktorial dalam Rancangan Petak Berjalur (Strip Plot Design) dengan 3 kali ulangan. Faktor pertama adalah tiga jenis gulma yaitu Asystasia gangetica, Cyperus rotundus, dan Rottboellia exaltata dan faktor kedua adalah kerapatan gulma yaitu 0, 10, 20, 40, dan 80 gulma/m 2 . Data dianalisis dengan analisis ragam, bila terdapat perbedaan dilanjutkan dengan uji BNT pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis dan kerapatan gulma tidak mempengaruhi pertumbuhan dan produksi kacang tanah dan terdapat interaksi antara jenis dan kerapatan gulma dalam mempengaruhi tinggi tanaman kacang tanah, bobot 100 butir kacang tanah, dan bobot polong kering per petak.
DESKRIPSI DAN DAYA HASIL 19 KLON UBIKAYU (Manihot esculenta Crantz) DI KEBUN PERCOBAAN UNILA, NATAR, LAMPUNG SELATAN Eka Setiawati; Setyo Dwi Utomo; Niar Nurmauli; Sunyoto Sunyoto
Jurnal Agrotek Tropika Vol 9, No 1 (2021): JURNAL AGROTEK TROPIKA VOL 9, JANUARI 2021
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jat.v9i1.4782

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mendapatkan deskripsi klon ubi kayu membandingkannya dengan klon unggul nasional yaitu UJ 5. Penelitian dilakukan pada tanaman ubi kayu umur 9 bulan setelah tanam atau saat masa panen yang bertempat di kebun percobaan Desa Muara Putih, Natar, Lampung Selatan.  Berdasarkan pengamatan terhadap 19 klon ubi kayu, didapatkan beberapa klon dengan daya hasil tinggi.  Klon dengan daya hasil tertinggi yaitu Daniel Cabang 40 dengan 49,59 t/ha, BL 8-1 dengan 48,83 t/ha, SL 36 dengan 44,25 t/ha, Mulyo 190516 dengan 39,93 t/ha, MU 35 dengan 31,90 t/ha, serta UJ 5 sebagai pembanding pada urutan 18 dengan hasil 11,37 t/ha.  Terdapat 17 klon ubi kayu yang memiliki potensi panen lebih tinggi dari klon pembanding UJ 5 sebagai klon unggul nasional.
Respon Tanaman Jagung (Zea mays L.) terhadap Sistem Olah Tanah pada Musim Tanam Ketiga di Tanah Ultisol Gedung Meneng Bandar Lampung Ahmad Hidayat; Jamalam Lumbanraja; Setyo Dwi Utomo; Hidayat Pujisiswanto
Jurnal Agrotek Tropika Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (100.508 KB) | DOI: 10.23960/jat.v6i1.2525

Abstract

Jagung merupakan bahan pangan pokok kedua setelah beras dan bahan utama pembuatan pakan. Penelitian bertujuan untuk menetapkan produksi, serapan hara dan nilai ekonomis tanaman jagung. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Lapangan Terpadu, Universitas lampung Bandar Lampung, mulai bulan Mei 2015 sampai Agustus 2015. Analisis tanah dan tanaman dilakukan di Laboratorium Ilmu Tanah Universitas Lampung dari bulan September 2015 sampai dengan Februari 2016. Rancangan penelitian adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan yaitu olah tanah minimum, olah tanah minimum + herbisida, olah tanah sempurna, olah tanah sempurna + herbisida dan masing-masing perlakuan diulang sebanyak 4 kali. Variabel yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, analisis tanah, analisis tanaman, produksi jagung, bobot basah dan bobot kering tanaman jagung, uji korelasi dan uji ekonomis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem sistem olah tanah minimum berpengaruh nyata meningkatkan tinggi tanaman, bobot brangkasan panen dan C terangkut pada bonggol jagung, kandungan P-tersedia dan nilai ekonomis.
TINGKAT KERUSAKAN TANAMAN DAN POPULASI TUNGAU SERTA KUTU PUTIH PADA 23 KLON UBI KAYU ( Manihot Esculenta Crantz ) R.W. Sari; I Gede Swibawa; L. Wibowo; Setyo Dwi Utomo
Jurnal Agrotek Tropika Vol 7, No 3 (2019): JAT September 2019
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (629.113 KB) | DOI: 10.23960/jat.v7i3.3554

Abstract

Hama utama tanaman ubi kayu adalah tungau merah (Tetranychus spp.) dan kutu putih famili Pseudococcidae. Spesies kutu putih yang menyerang tanaman ubi kayu yaitu Phenacoccus manihoti dan Paracoccus marginatus.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kerusakan tanaman dan populasi tungau serta kutu putih pada 23 klon ubi kayu. Penelitian yang menggunakan metode survei ini dilaksanakan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Lampung Kecamatan Natar, Lampung Selatan pada April - Desember 2017. Hasil penelitian menunjukkan : (1). Tingkat kerusakan tanaman karena serangan tungau dan kutu putih pada tanaman ubi kayu bervariasi antar klon dan antar waktu pengamatan. (2). Populasi tungau dan kerusakan tanaman yang rendah terdapat pada klon UJ-3 Emas dan SL-103. (3). Populasi kutu putih rendah terdapat pada klon SL-201, SL- 72, dan 39. Tingkat kerusakan tanaman karena serangan kutu putih rendah terdapat pada klon UJ-5, UJ-5 TBB, Litbang UK-2, dan Mulyo 3. (4). Klon ubi kayu yang tahan terhadap serangan hama tungau yaitu UJ-3 Emas, SL-103, UJ-3 dan UJ-5, sedangkan klon yang tahan terhadap serangan kutu putih yaitu SL-201, SL-72 dan 39.
REGENERASI IN VITRO EMPAT VARIETAS KEDELAI (Glycine max [L.] Merr.) MELALUI ORGANOGENESIS MENGGUNAKAN EKSPLAN BIJI YANG DIIMBIBISI DAN DIKECAMBAHKAN Mohammad Irham Fauzi; Fitri Yelli; Akari Edy; Setyo Dwi Utomo
Jurnal Agrotek Tropika Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.887 KB) | DOI: 10.23960/jat.v2i2.2094

Abstract

Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh metode pra-kultur yang efektif dalam meningkatkan efisiensi regenerasi in vitro terhadap eksplan buku kotiledon pada empat varietas kedelai. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Lampung, dimulai dari Maret sampai dengan Mei 2013. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak kelompok. Perlakuan yang diterapkan merupakan kombinasi dari dua faktor yaitu varietas (Detam 1, Detam 2, Burangrang, Panderman) dan metode pra-kultur (kecambah 6 hari dan imbibisi 20 jam) yang merupakan perlakuan terhadap empat varietas benih kedelai tersebut sebelum ditanam pada media inisiasi tunas. Perlakuan disusun secara faktorial (4x2) dengan 5 ulangan. Setiap satuan percobaan terdiri dari empat eksplan buku kotiledon kedelai. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa rata-rata jumlah tunas adventif per eksplan (RJTAPE) tidak dipengaruhi oleh metode prakultur, varietas dan interaksi antara keduanya. Sedangkan, persentase eksplan yang membentuk tunas adventif (PEMTA) tidak dipengaruhi oleh metode pra-kultur namun dipengaruhi oleh varietas dan interaksi antara kedua faktor tersebut. PEMTA tertinggi didapatkan jika menggunakan varietas Detam 1 melalui perlakuan perkecambahan (70%) dan varietas Pandermanmelalui perlakuan imbibisi (50%). Media pengakaran ½ MS dan ½ MS + NAA 0,5 mg l-1 memiliki efektifitas yang sama terhadap persentase tunas adventif yang membentuk akar fungsional (PTMAF) pada minggu kedua setelah pengakaran. Dengan demikian, teknik regenerasi secara in vitro melalui organogenesis pada varietas Detam 1 dengan perlakuan perkecambahan dan varietas Panderman dengan perlakuan imbibisi lebih efisien digunakan untuk transformasi genetik kedelai.
KERAGAMAN KARAKTER AGRONOMI KLON-KLON F1 UBIKAYU (Manihot esculenta Crantz) KETURUNAN TETUA BETINA UJ-3, CMM 25-27, DAN MENTIK URANG Diana Ika Putri; Sunyoto Sunyoto; Setyo Dwi Utomo
Jurnal Agrotek Tropika Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.521 KB) | DOI: 10.23960/jat.v1i1.1874

Abstract

Penelitian bertujuan mengetahui keragaman karakter agronomi ubikayu (Manihot esculenta Crantz) klon-klon F1 keturunan tetua betina UJ-3, CMM 25 27, dan Mentik Urang. Genotipe yang dievaluasi meliputi berturut-turut 29, 40, dan 25 klon F1 keturunan tetua betina UJ-3, CMM 25-27, dan Mentik Urang. Klon-klon tersebut ditanam di Kelurahan Gedong Meneng, Kecamatan Rajabasa Kota Bandar Lampung, mulai bulan Juni 2011 sampai Maret 2012. Data dianalisis menggunakan statistika deskriptif untuk mengetahui nilai tengah, ragam, simpangan baku, dan dua kali simpangan baku. Hasil penelitian menunjukkan adanya keragaman warna pada variabel pucuk, tangkai atas, tangkai bawah, batang atas, batang bawah, kulit luar ubi (kecuali keturunan UJ 3), kulit dalam ubi (kecuali keturunan CMM 25-27 dan Mentik Urang), daging ubi (kecuali keturunan CMM 2527), jumlah lobus, dan cabang. Tingkat keragaman tinggi pada jumlah daun, panjang tangkai, panjang daun, tinggi tanaman, panjang ubi, bobot ubi, jumlah ubi (kecuali keturunan CMM 25-27), jumlah akar, bobot total dan indeks panen mengakibatkan seleksi menjadi lebih efektif. Sepuluh klon F1 hasil seleksi yaitu UJ-3-10, UJ-3-25, UJ-3-35, UJ-3-52, UJ-3-54, CMM 25-27-25, CMM 25-27-55, Mentik Urang 7, Mentik Urang 11, dan Mentik Urang 32.
PENGARUH SISTEM PERTANAMAN DAN GENOTIPE PADA PRODUKTIVITAS DAN VIABILITAS BENIH SORGUM (Sorghum bicolor (L.) Moench) PRA DAN PASCASIMPAN Edi Susanto; Eko Pramono; Setyo Dwi Utomo; M. Syamsoel Hadi
Jurnal Agrotek Tropika Vol 10, No 1 (2022): JURNAL AGROTEK TROPIKA VOL 10, JANUARI 2022
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jat.v10i1.5656

Abstract

Tanaman sorgum termasuk tanaman yang penting setelah, padi, gandum, jagung, dan barley. Kendala yang dihadapi dalam budidaya tanaman tanaman sorgum secara monokultur adalah ketersediaan lahan yang makin terbatas.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sistem pertanaman pada produktivitas dan viabilitas benih empat genotipe sorgum. Penelitian dilaksanakan pada lahan pertanian di Desa Karang Endah, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan (5,28◦ LS 105,27◦ BT) dengan ketinggian 82,3 mdpl dan di Laboratorium Benih dan Pemuliaan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Lampung pada Januari 2019 sampai Maret 2020. Rancangan percobaan yang digunakan adalah faktorial 2×4 dalam split plot dengan 3 blok sebagai ulangan.  Petak utama yaitu sistem pertanaman yang terdiri dari sistem pertanaman monokultur (s1) dan  sistem pertanaman tumpangsari (s2). Anak petak yaitu genotipe yang terdiri dari GHP-29 (g1), GHP-3 (g2), Samurai-1 (g3), dan GH-11 (g4). Varietas Ubi kayu yang diguanakan adalah adalah varietas UJ 3.  Hasil penelitian menunjukkan produktivitas benih sorgum yang dipanen dari pertanaman monokultur lebih tinggi dibandingkan pertanaman tumpangsari. Produktivitas benih GHP-3 lebih tinggi daripada GHP-29, Samurai-1 dan GH-11. Viabilitas benih sorgum prasimpan dan pascasimpan empat dan delapan bulan menunjukkan tidak berbeda antara benih sorgum yang dipanen dari pertanaman monokultur dan tumpangsari. Viabilitas benih prasimpan dan pascasimpan empat bulan menunjukkan genotipe GHP-3, Samurai-1, dan GH-11 lebih tinggi daripada genotipe GHP-29.