Moyangku through character dialogues and narratives in several scenes of the film. The research method uses a qualitative approach with a constructivist paradigm. Data collection techniques were employed through documentation, which involved categorizing the data into three types: primary data, secondary data, and supporting data. Data analysis was conducted using Chatman's narrative analysis, which distinguishes between story and discourse to examine the narrative and visual meanings conveyed as messages. The results of the study found that the documentary film Tanah Moyangku constructs indigenous peoples as victims of discrimination and marginalization as a result of the conflicts they face. This film depicts various conflicts faced by indigenous peoples in Indonesia, both violent (arrests, killings, and land seizures) and non-violent (lack of clear legal protection, suppression of land rights, suppression of customary rights, evictions and historical erasure, and lack of adequate mediation). These conflicts are also related to the increasing management and exploitation of natural resources. If this marginalization and discrimination continue, indigenous peoples will be threatened with expulsion from their lands, and in the worst case, they will be threatened with extinction. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana masyarakat adat dikostruksikan dalam teks film dokumenter Tanah Moyangku berupa dialog tokoh dan narasi dalam beberapa adegan film. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma konstruktivisme. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan dokumentasii dengan membagi tiga jenis data yaitu data primer, data sekunder, dan data pendukung. Teknik analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis naratif Chatman yang membedakan antara story dan discourse untuk melihat makna naratif dan visual sebagai pesan yang disampaikan. Hasil penelitian menemukan bahwa film dokumenter Tanah Moyangku mengonstruksikan masyarakat adat yang mendapatkan diskriminasi dan marginalisasi imbas dari konflik yang mereka terima. Film ini menggambarkan berbagai konflik masyarakat adat di Indonesia, baik yang bersifat kekerasan (penangkapan, pembunuhan, dan perampasan tanah) maupun non-kekerasan (tidak ada perlindungan hukum yang jelas, penindasan hak tanah, penindasan hak adat, penggusuran dan penghapusan historis, dan tidak ada ruang mediasi yang layak). Konflik tersebut juga berkaitan dengan pengelolaan dan eksploitasi sumber daya alam yang terus bertambah. Jika marginalisasi dan diskriminasi ini terus berlangsung, maka masyarakat adat akan terancam terusir dari tanah mereka, bahkan hal yang paling buruk adalah mereka terancam punah.