Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

‘Sarimin’ Game Petualangan Adaptasi Webtoon Dengan Konsep Discovering The Mythical Creatures Ramadhani, Nugrahardi; Baswedan, Annisa Dhia
Jurnal Bahasa Rupa Vol. 5 No. 1 (2021): Jurnal Bahasa Rupa Oktober 2021
Publisher : Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31598/bahasarupa.v5i1.843

Abstract

This research focused on designing a webtoon adaptation game "Sarimin" based on Indonesian mythical creatures. The purpose of this paper is to introduce various Indonesian mythical creatures as the preservation and appreciation of local mythical culture from the positive side through the player's point of view as Sarimin, who is the personification of the white monkey djinn and the main character of the webtoon 'Sarimin'. The design methods used were literature study, observation of historical physical relics, experimental studies, interviews with game developers, prototyping, and testing. Based on the research results, the "Discovering The Mythical Creatures" design concept was created where players would explore the levels and be introduced to Indonesian mythical creatures and their stories related to the story from the webtoon 'Sarimin' with adventure-platformer gameplay.
PENGUATAN LITERASI KESEHATAN MELALUI MEDIA FILM DOKUMENTER PARTISIPATORI UNTUK ADVOKASI SANITASI LAYAK DI PEMUKIMAN PESISIR KOTA SURABAYA Nugrahardi Ramadhani; Didit Prasetyo Didit Prasetyo; Kartika Kusuma Wardani; Tedi Mursalat Farqo; Yosia Enggar Kurniawan; Imam Wahyudi Farid; Mochamad Hariadi
Jurnal Pengabdian Masyarakat Nasional Vol 6, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/pemanas.v6i1.38496

Abstract

Sanitasi layak merupakan prasyarat utama kesehatan masyarakat dan bagian dari target Sustainable Development Goals (SDGs) poin 6, namun implementasinya di kawasan pesisir Surabaya masih menghadapi kesenjangan antara kebijakan dan praktik masyarakat, terutama pada pengelolaan sampah domestik dan limbah cair rumah tangga. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan literasi kesehatan melalui media film dokumenter partisipatori sebagai instrumen edukasi dan advokasi sanitasi berbasis komunitas. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan masyarakat pesisir dan pemangku kepentingan, serta participatory video making yang melibatkan warga secara aktif dalam proses produksi media. Kegiatan diseminasi dilakukan melalui screening film kepada sekitar 50–60 peserta yang terdiri dari kader lingkungan, karang taruna, dan perwakilan masyarakat wilayah Surabaya. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman masyarakat terhadap isu sanitasi pesisir, terutama terkait bahaya limbah domestik seperti popok sekali pakai yang berkontribusi hingga 31% pencemar sungai, serta meningkatnya partisipasi warga dalam diskusi dan praktik pengelolaan sampah rumah tangga pasca pemutaran film. Data dianalisis menggunakan teknik analisis isi (content analysis) dan triangulasi sumber melalui observasi, wawancara, serta dokumentasi visual kegiatan. Temuan ini menunjukkan bahwa media dokumenter partisipatori efektif sebagai instrumen komunikasi kesehatan lingkungan sekaligus alat advokasi kebijakan sanitasi berbasis komunitas di kawasan pesisir perkotaan.
Perancangan animasi edukatif keamanan siber berbasis storytelling untuk Generasi Z Prasetyo, Didit; Hualakhi, Ersita Aisha; Ramadhani, Nugrahardi; Wardani, Kartika Kusuma
Jurnal Desain Vol 13 No 3 (2026): Jurnal Desain
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/jd.v13i3.2120

Abstract

Tingginya intensitas penggunaan internet dan media sosial pada Generasi Z berbanding terbalik dengan tingkat kesadaran keamanan siber sehingga meningkatkan risiko menjadi korban serangan siber. Media edukasi yang tersedia belum sepenuhnya relevan dengan karakteristik remaja sebagai audiens visual dan digital native. Oleh karena itu, animasi dipandang memiliki potensi sebagai media edukasi yang komunikatif dan kontekstual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode design research yang menekankan proses perancangan sebagai satu kesatuan, meliputi analisis kebutuhan audiens, perancangan konsep animasi, produksi visual, dan evaluasi melalui audiens testing. Objek perancangan berupa animasi edukasi keamanan siber yang ditujukan bagi Gen Z usia 16–18 tahun. Hasil penelitian berupa episode pertama animasi edukasi berdurasi enam menit yang mengangkat tema kebocoran data akibat oversharing dan pengenalan autentikasi. Evaluasi pengguna menunjukkan animasi mampu meningkatkan pemahaman dan kewaspadaan audiens terhadap risiko keamanan siber, dengan desain karakter dan alur naratif berbasis storytelling sebagai elemen paling menarik. Penelitian ini menunjukkan bahwa animasi naratif yang dirancang berbasis karakteristik audiens efektif digunakan sebagai media edukasi keamanan siber. Pendekatan desain yang terintegrasi berkontribusi pada pengembangan praktik desain komunikasi visual dalam konteks literasi digital remaja.
Optimization of Retargeting Motion Capture for Remo Dance Using Fuzzy Logic Didit Prasetyo; Nugrahardi Ramadhani; Kartika Kusuma Wardani; Indriana Dwi Andiany
Kinetik: Game Technology, Information System, Computer Network, Computing, Electronics, and Control Vol. 11, No. 3, August 2026 (Article in Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/kinetik.v11i3.2663

Abstract

Retargeting motion capture for traditional dance animation faces challenges in maintaining biomechanical accuracy while preserving cultural expressiveness, especially when human motion data are transferred to character models with different skeletal structures. This research aims to optimize the retargeting of East Java Remo Dance through an adaptive artificial intelligence-based evaluation approach. The Remo dance movement was recorded using a multi-camera optical motion capture system and retargeted to two types of 3D characters: realistic and stylized. The evaluation was conducted using quantitative metrics (Mean Squared Error, Structural Similarity Index, Dynamic Time Warping, and Kalman Filtering) as well as a qualitative approach through Laban Movement Analysis. Subsequently, Mamdani fuzzy logic was integrated to synthesize all these parameters into the Fuzzy Retargeting Quality Score (FRQS). The results showed that the realistic character had higher movement accuracy (MSE = 0.0032; SSI = 0.89; DTW = 0.92) and obtained an FRQS value of 86.4 (very optimal category), whereas the stylized character obtained an FRQS of 71.2 (moderately optimal), reflecting a compromise between movement precision and visual appeal. The integration of fuzzy logic allows for more contextual and human-centric retargeting evaluation, as well as strengthening the dual-model approach to the preservation and education of traditional dance based on digital animation.
PENGUATAN LITERASI KESEHATAN MELALUI MEDIA FILM DOKUMENTER PARTISIPATORI UNTUK ADVOKASI SANITASI LAYAK DI PEMUKIMAN PESISIR KOTA SURABAYA Nugrahardi Ramadhani; Didit Prasetyo Didit Prasetyo; Kartika Kusuma Wardani; Tedi Mursalat Farqo; Yosia Enggar Kurniawan; Imam Wahyudi Farid; Mochamad Hariadi
Jurnal Pengabdian Masyarakat Nasional Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/pemanas.v6i1.38496

Abstract

Sanitasi layak merupakan prasyarat utama kesehatan masyarakat dan bagian dari target Sustainable Development Goals (SDGs) poin 6, namun implementasinya di kawasan pesisir Surabaya masih menghadapi kesenjangan antara kebijakan dan praktik masyarakat, terutama pada pengelolaan sampah domestik dan limbah cair rumah tangga. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan literasi kesehatan melalui media film dokumenter partisipatori sebagai instrumen edukasi dan advokasi sanitasi berbasis komunitas. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan masyarakat pesisir dan pemangku kepentingan, serta participatory video making yang melibatkan warga secara aktif dalam proses produksi media. Kegiatan diseminasi dilakukan melalui screening film kepada sekitar 50–60 peserta yang terdiri dari kader lingkungan, karang taruna, dan perwakilan masyarakat wilayah Surabaya. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman masyarakat terhadap isu sanitasi pesisir, terutama terkait bahaya limbah domestik seperti popok sekali pakai yang berkontribusi hingga 31% pencemar sungai, serta meningkatnya partisipasi warga dalam diskusi dan praktik pengelolaan sampah rumah tangga pasca pemutaran film. Data dianalisis menggunakan teknik analisis isi (content analysis) dan triangulasi sumber melalui observasi, wawancara, serta dokumentasi visual kegiatan. Temuan ini menunjukkan bahwa media dokumenter partisipatori efektif sebagai instrumen komunikasi kesehatan lingkungan sekaligus alat advokasi kebijakan sanitasi berbasis komunitas di kawasan pesisir perkotaan.
EDUKASI IMUNITAS REMAJA PADA MUSIM PANCAROBA MELALUI MEDIA MOTION COMIC DALAM FORMAT WEBTOON Tania Andini Susanto; Didit Prasetyo; Nugrahardi Ramadhani
ANDHARUPA: Jurnal Desain Komunikasi Visual & Multimedia Vol. 11 No. 03 (2025): Vol. 11 No. 3 (2025): September 2025
Publisher : Dian Nuswantoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33633/andharupa.v11i03.11338

Abstract

Imunitas berperan penting dalam melindungi tubuh dari patogen penyebab penyakit. Di Indonesia, musim pancaroba yang disertai cuaca ekstrem dan perubahan suhu dapat menurunkan daya tahan tubuh. Akibatnya, masyarakat usia produktif yang aktif di luar ruangan dan sering bersosialisasi berisiko tinggi terkena penyakit. Edukasi mengenai imunitas di musim pancaroba menjadi penting dan dapat dimulai dari usia awal masyarakat produktif, yaitu remaja usia 15-18 tahun. Perancangan ini bertujuan untuk merancang media edukatif berupa motion comic untuk meningkatkan pemahaman remaja tentang pentingnya menjaga imunitas tubuh untuk menghadapi musim pancaroba. Metode yang digunakan dalam perancangan ini adalah studi literatur, studi eksisting, wawancara ahli pada dokter, komikus, dan Dinas Kesehatan Kota Surabaya, serta penyebaran kuesioner kepada segmen target. Dilanjutkan dengan studi ekperimental yang dievaluasi oleh narasumber ahli dan diujikan kepada remaja usia 15-18 tahun. Perancangan ini menghasilkan prototipe motion comic dengan format Webtoon yang mengeksekusi tiga episode pertama dengan pembahasan imunitas melalui penyakit influenza. Perancangan ini menunjukkan potensi media motion comic sebagai sarana edukasi kesehatan yang menarik dan mudah dipahami oleh remaja. Dari hasil yang diperoleh, terdapat peningkatan pemahaman materi sebanyak 20%, yaitu dari nilai rata-rata 56,4 ke 72,2.
ANIMASI INTERAKTIF SEBAGAI MEDIA EDUKASI SEKSUAL ANAK USIA DINI DI INDONESIA Sheilya Chuangda Selamat; Nugrahardi Ramadhani; Didit Prasetyo
ANDHARUPA: Jurnal Desain Komunikasi Visual & Multimedia Vol. 11 No. 03 (2025): Vol. 11 No. 3 (2025): September 2025
Publisher : Dian Nuswantoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33633/andharupa.v11i03.11339

Abstract

Tingginya kasus anak sebagai korban kekerasan seksual di Indonesia menunjukan pentingnya Pendidikan seksual meskipun isu tersebut masih dianggap tabu di Indonesia. Studi ini bertujuan untuk merancang animasi interaktif sebagai media pendamping orang tua untuk mengajarkan Pendidikan seksual pada anak berusia 4-6 tahun. Perancangan ini dilaksanakan dengan metode Kualitatif menggunakan studi literatur, studi eksisting, studi komparatif, studi target audiens, studi eksperimental, dan depth interview dengan ahli psikologi, pengasuhan, dan ahli dalam bidang animasi, serta user testing dengan menggunakan kuesioner yang diberikan pada orang tua generasi Y yang memiliki anak usia dini. Temuan ini menunjukkan bahwa animasi interaktif, yang menampilkan karakter yang menarik dan narasi yang sederhana, dapat secara efektif menjembatani kesenjangan komunikasi antara orang tua dan anak-anak, membuat topik yang kompleks lebih mudah dipahami. Kesimpulan yang diambil dari penelitian ini adalah bahwa animasi interaktif dapat berfungsi sebagai media yang efektif untuk mendukung orang tua dalam mendidik anak-anak mereka tentang isu-isu seksual, sehingga berkontribusi positif terhadap pencegahan kejahatan seksual terhadap anak.
Perancangan Film Dokumenter Ekspositori Wayang Orang Sriwedari sebagai Media Pelestarian Budaya bagi Generasi Z Srilendra Agung Ikramawardhana; Didit Prasetyo; Kartika Kusuma Wardani; Nugrahardi Ramadhani
Rekam Vol 22, No 1 (2026): April 2026
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v22i1.13548

Abstract

Designing the Sriwedari Wayang Orang Expository Documentary Film as a Medium for Cultural Preservation for Generation Z. Wayang Orang Sriwedari Surakarta is a traditional performing art that continues to survive amid changes in media consumption and audience preferences. In this context, cultural preservation can no longer be understood solely as maintaining a performance tradition, but also as developing forms of communication that remain meaningful to younger audiences. This study aims to design an expository documentary film about Wayang Orang Sriwedari as a medium of cultural preservation for Generation Z. The design employed four stages: research, pre-production, production, and post-production. Data were collected through field observation, documentation, in-depth interviews, existing studies, and target audience research. The findings indicate that the relevance of Wayang Orang Sriwedari for young audiences is shaped by story adaptation, the use of humor, sensitivity to contemporary issues, and the use of social media. These findings were translated into a documentary with an expository approach and thematic structure to present information in a clear, concise, and communicative manner. The resulting film demonstrates that documentary can function not only as visual documentation, but also as a medium of representation and a cultural communication strategy that is more closely aligned with Generation Z.