Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

STRATEGI PENINGKATAN LATIHAN BERSAMA DI ANTARA TNI-AD DAN TENTARA SINGAPURA DALAM RANGKA MENGHADAPI OPERASI MULTI-DOMAIN Tan Yiwen; Arvie Prima Kusuma Sumedi; Immanuel Roy P. Simbolon; Dadan Kurnia; Masduki Masduki
JURNAL EDUCATION AND DEVELOPMENT Vol 12 No 3 (2024): Vol 12 No 3 September 2024
Publisher : Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37081/ed.v12i3.6472

Abstract

Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi untuk meningkatkan Latihan Bersama antara TNI-AD dan Tentara Singapura guna memperkuat interoperabilitas dan kemampuan operasional dalam menghadapi operasi multi-domain (MDO). Dalam peperangan modern yang bersifat multi-domain, multi-nasional, dan multi-geografi, kolaborasi yang efektif di berbagai ranah sangat penting. Studi ini menyoroti pentingnya peLatihan Bersama dan pendidikan strategis untuk menghadapi tantangan ini. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan data diperoleh melalui wawancara dan sumber sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun Latihan Bersama seperti Latma GARUDA SHIELD dan SAFKAR INDOPURA telah dilakukan, fokusnya belum mencakup elemen-elemen penting dari operasi multi-domain. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan pendekatan pelatihan bertahap “Crawl-Walk-Run” yang memungkinkan peningkatan kompleksitas secara bertahap guna mencapai tingkat interoperabilitas yang lebih tinggi. Integrasi teknologi canggih seperti AI, Big Data, dan simulasi Live-Virtual-Constructive (LVC) juga dinilai penting untuk memperkuat evaluasi dan pengambilan keputusan operasional secara real-time. Penelitian ini juga menekankan pentingnya kemitraan internasional, inovasi teknologi, dan latihan eksperimental untuk mengembangkan taktik baru dalam peperangan modern. Meskipun terdapat tantangan dalam hal perbedaan doktrin dan logistik, perencanaan jangka panjang dan Latihan Bersama yang sistematis dapat mengatasi hambatan ini. Kesimpulannya, kolaborasi yang berkelanjutan dan adopsi teknologi mutakhir dalam pelatihan akan meningkatkan interoperabilitas dan kesiapan operasional kedua angkatan dalam menghadapi operasi multi-domain.
Implementasi Kebijakan Program Inovasi Pembangunan dan Pemberdayaan Kewilayahan (PIPPK) di Kecamatan Arcamanik Kota Bandung Silviana Dewi; Atik Rochaeni; Dadan Kurnia
MIMBAR ADMINISTRASI FISIP UNTAG Semarang Vol. 21 No. 2 (2024): Oktober: Jurnal MIMBAR ADMINISTRASI
Publisher : Universitas 17 Agustus 1945

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56444/mia.v21i2.2077

Abstract

One of the efforts by the Bandung City Government to alleviate poverty is through the Regional Innovation and Empowerment Development Program (PIPPK). This program aims to promote equitable development in neighborhood units (RW), PKK groups, Karang Taruna, and Community Empowerment Institutions. In practice, the budget absorption in Arcamanik District has reached 85.02% overall. Preliminary observations indicate that the implementation of PIPPK in Arcamanik District is not yet optimal. The aim of this research is to analyze the implementation of PIPPK policies, the challenges faced, and the efforts made by Arcamanik District. The study uses Thomas B. Smith's policy implementation theory, which includes: 1) Legal Framework; 2) Implementing Organization; 3) Target Groups; and 4) Environmental Factors. The research employs a descriptive qualitative design suitable for the issues to be discussed, as well as the local context in which the study is conducted. Data collection is carried out through interviews, document analysis, and observations, all of which are recorded in field notes. The implementation of the Regional Innovation and Empowerment Development Program (PIPPK) in Arcamanik District faces significant challenges in legal understanding, organizational coordination, target group identification, and environmental conditions. The Arcamanik District Government has taken steps such as training, socialization, and improving coordination to address these challenges. However, ongoing evaluation and monitoring are necessary to ensure the program's maximum benefit and achievement of its goals.