Rina Rehayati
Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Published : 18 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Integrasi Teori Linguistik Ferdinand de Saussure dalam Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab pada Pendidikan Agama Islam Juliani, Arsi; Anggraini, Putri; Rehayati, Rina
At-Tarbiyah: Journal of Islamic Religious Research and Education Vol. 2 No. 2 (2025): At-Tarbiyah: Jurnal Penelitian dan Pendidikan Agama Islam
Publisher : STAI Tebing Tinggi Deli

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembelajaran bahasa Arab dalam konteks Pendidikan Agama Islam (PAI) di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk metodologi pengajaran yang cenderung konvensional dan kesulitan siswa dalam menghubungkan struktur bahasa dengan pemahaman makna yang komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji integrasi teori linguistik struktural Ferdinand de Saussure dalam metodologi pembelajaran bahasa Arab pada PAI serta mengembangkan model pembelajaran yang dapat diimplementasikan dalam proses belajar mengajar. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kepustakaan (library research)), studi ini menganalisis konsep-konsep utama Saussure seperti dikotomi langue-parole, signifiant-signifié, serta pendekatan sinkronis-diakronis dalam konteks pembelajaran bahasa Arab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teori linguistik Saussure menawarkan kerangka teoretis yang kokoh untuk mengembangkan metodologi pembelajaran bahasa Arab yang lebih sistematis dan bermakna. Integrasi teori ini memungkinkan siswa tidak hanya memahami struktur kebahasaan (signifiant) tetapi juga makna mendalam (signifié) yang terkandung dalam teks-teks keagamaan. Guru bahasa Arab dalam konteks PAI memiliki peran strategis sebagai fasilitator yang menghubungkan antara sistem langue dengan parole, sehingga siswa dapat mengaplikasikan pemahaman linguistik dalam penghayatan keagamaan. Penelitian ini merekomendasikan reorientasi kurikulum pembelajaran bahasa Arab pada PAI dengan memasukkan aspek-aspek teoretis linguistik modern sebagai landasan pengembangan materi dan metode pembelajaran yang lebih integratif.
Hermeneutika Hans Georg Gadamer Sebagai Pendekatan Kritis Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Cahyadi, Alan; Almahera, Raihan; Julfajri, Resti; Rehayati, Rina
At-Tarbiyah: Journal of Islamic Religious Research and Education Vol. 2 No. 2 (2025): At-Tarbiyah: Jurnal Penelitian dan Pendidikan Agama Islam
Publisher : STAI Tebing Tinggi Deli

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) sering kali masih didominasi pendekatan normatif-doktrinal yang kurang membuka ruang dialog kritis dan reflektif antara peserta didik dengan realitas sosialnya. Dalam konteks ini, hermeneutika filosofis Hans-Georg Gadamer menawarkan pendekatan yang relevan untuk menjembatani teks-teks keagamaan dengan dinamika kehidupan kontemporer. Konsep-konsep kunci seperti pra-pemahaman (prejudices), dialog, dan fusion of horizons (peleburan cakrawala) memberikan kerangka teoritis bagi proses pemaknaan yang bersifat partisipatif dan terbuka. Dengan menerapkan prinsip-prinsip tersebut dalam pembelajaran PAI, guru dan peserta didik dapat membangun interaksi yang lebih dinamis dalam memahami nilai-nilai Islam secara kontekstual dan aplikatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi pustaka untuk mengeksplorasi relevansi pemikiran Gadamer terhadap pengembangan pendekatan kritis dalam PAI. Hasil kajian menunjukkan bahwa hermeneutika Gadamer dapat menjadi dasar filosofis bagi model pembelajaran agama yang lebih dialogis, inklusif, dan mampu merespons tantangan zaman secara bijak.
Pemahaman Mahasiswa Fakultas Ushuluddin UIN Suska Riau Tentang Islam Liberal Di Indonesia Adz Dzahra, Salwaa; Rehayati, Rina; Sukiyat, Sukiyat
At-Tarbiyah: Journal of Islamic Religious Research and Education Vol. 3 No. 2 (2026): At-Tarbiyah: Jurnal Penelitian dan Pendidikan Agama Islam
Publisher : STAI Tebing Tinggi Deli

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Islam liberal merupakan salah satu wacana pemikiran Islam kontemporer yang menimbulkan beragam respons di kalangan akademisi Muslim, termasuk mahasiswa perguruan tinggi Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemahaman mahasiswa Fakultas Ushuluddin UIN Sultan Syarif Kasim Riau terhadap Islam liberal serta faktor-faktor yang membentuk pemahaman tersebut dan implikasinya terhadap sikap keagamaan dan sosial mahasiswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian lapangan melalui wawancara mendalam, observasi terbatas, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman mahasiswa terhadap Islam liberal bersifat beragam, mulai dari sikap terbuka-kritis hingga penolakan teologis, yang dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan, lingkungan kampus, literasi media digital, serta pengalaman keorganisasian. Islam liberal dipahami sebagai wacana intelektual yang relevan untuk dikaji, namun tetap disikapi secara selektif dengan menjadikan akidah sebagai batas normatif. Temuan ini menegaskan bahwa mahasiswa Ushuluddin berada dalam dinamika dialektis antara pemikiran kontekstual dan komitmen terhadap ortodoksi Islam, sehingga hasil penelitian ini penting sebagai kontribusi dalam memahami arah perkembangan pemikiran Islam kontemporer di lingkungan perguruan tinggi Islam.
Scientific Theology: Shift From Epistemological Transformation To Integrative Axiological Transformation Eva Dewi; Nelvawita Nelvawita; Sariah Sariah; Rina Rehayati; Suhertina Suhertina; Mochammad Novendri S
International Journal of Islamic Thought and Humanities Vol. 5 No. 1 (2026): International Journal of Islamic Thought and Humanities
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Taruna Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54298/ijith.v5i1.912

Abstract

positivist or materialistic paradigm assumes that if the progress of science and technology can meet human needs, then society becomes independent of religion in its life. This view is, on one hand, accurate when science and technology are only considered in their material aspects. However, when understood in their immaterial aspects, it can raise issues. In Indonesia, the development of science has faced various challenges, including a shift in the nature of scientific research from being proportional (objective analysis) to becoming intentional within bureaucracy and elitism, which can hinder the performance of scientific exploration. Additionally, there is the issue of the sacralization of science, radicalism, the quest for singular truth, and the dichotomy of knowledge. To address the above-mentioned issues, the researcher employs Pierre Felix Bourdieu's Structuralism-Constructivism theory in this study, which acknowledges the role of both subject and object in the development of knowledge. The objective of this research is to explore how the concept of scientific theology shifts from epistemological transformation to integrative axiological transformation as one of the constructive solutions in the development of scholarship in Indonesia. As for the research method, this study utilizes the library research method (literature review) with a qualitative and descriptive analysis approach.The research findings explain that scholarship must be developed with the paradigm of Scientific Theology by transforming normative thinking traditions into applied theoretical thinking traditions, shifting from a tradition of material mastery to methodological mastery, and changing ideological thinking traditions into rational thinking in achieving the integration of religion and science without sacrificing the autonomy of different disciplines in all aspects of life.
Beyond the Sacred “Peralihan” Ritual: Local Beliefs and Spiritual Negotiations in Malay-Islamic Culture Rina Rehayati; M. Ridwan Hasbi; Martius Martius
ESENSIA: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 26 No. 2 (2025)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/psfq0744

Abstract

This study challenges dominant perspectives that reduce Malay Muslim rites of passage to either residual traditions or fully Islamized practices. Focusing on communities in Siak and Palembang, it conceptualizes ritual as a dynamic arena of negotiation, where Islamic norms and local symbols are continuously reinterpreted rather than simply preserved or purified. Using ethnographic methods, the study demonstrates that practices such as tepung tawar, mandi limau, and doa selamat persist through processes of re-signification. Meanings once associated with magical protection are reframed within a tawhidic logic that shifts efficacy from objects to divine intention. This transformation is not merely theological but also social, as it redistributes authority among religious leaders, customary elites, and participants, producing a negotiated and embodied religiosity. The findings argue that Islamization operates not as a top-down imposition but as a dialogical process in which communities actively recalibrate the boundaries of the sacred. Ritual thus functions as a mediating mechanism that sustains cultural continuity, reinforces social cohesion, and secures religious legitimacy. By foregrounding this process, the study advances the concept of cultural piety, demonstrating that Malay Muslim religiosity is shaped through ongoing negotiation, where meaning remains fluid yet socially grounded.
Leksikostatistik dan Glotokronologi Bahasa Melayu Palembang, Jambi, dan Riau Kepulauan Martius, Martius; Hasbi, M. Ridwan; Rehayati, Rina
GERAM Vol. 14 No. 2 (2026): GERAM (Gerakan Aktif Menulis)
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Islam Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/geram.2026.28976

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengukur persentase kekerabatan kognat, mengestimasi jangka waktu perpisahan (time depth), serta merekonstruksi silsilah kebahasaan (subgrouping) antara Bahasa Melayu Palembang (BMP), Bahasa Melayu Jambi (BMJ), dan Bahasa Melayu Riau Kepulauan (BMRK) melalui pendekatan linguistik historis komparatif. Menggunakan instrumen 300 kosakata dasar Swadesh-Keraf. Data lapangan diperoleh melalui metode simak dan cakap dari penutur asli berkriteria Nonmobile, Older, Rural, Males (NORMs) di wilayah periferi situs-situs bersejarah Melayu. Analisis kualitatif dioperasionalkan melalui teknik Pilah Unsur Penentu (PUP), Hubung Banding Menyamakan (HBS), dan Hubung Banding Membedakan (HBB), yang selanjutnya dikuantifikasi menggunakan formula leksikostatistik, glotokronologi Swadesh, serta kriteria pengelompokan Dyen. Hasil analisis leksikostatistik menunjukkan persentase kekerabatan kognat tertinggi terdapat pada pasangan BMJ–BMRK, sebesar 86,67% (87%), disusul pasangan BMP–BMJ sebesar 80,67% (81%), dan pasangan BMP–BMRK sebesar 78,67% (79%). Berdasarkan kriteria Dyen dengan nilai selisih sebesar 8% (10%), ketiga isolek secara sah diklasifikasikan ke dalam satu kelompok bahasa yang sama (co-grouping) dari Proto-Melayu, di mana BMJ dan BMRK membentuk sub-cabang (Proto BMJ-BMRK) terlebih dahulu sebelum menyatu dengan BMP. Rekonstruksi glotokronologis membuktikan bahwa perpisahan BMP–BMRK berlangsung paling awal pada rentang tahun 1407–1517 M, diikuti perpisahan BMP–BMJ pada rentang tahun 1467–1577 M yang selaras secara historis dengan era desentralisasi politik pasca-kemunduran Sriwijaya. Sementara itu, perpisahan BMJ–BMRK terjadi jauh lebih muda pada rentang tahun 1642–1742 M sebagai dampak dari intensnya komunikasi maritim dan jejaring politik antara Kesultanan Jambi dan Kesultanan Johor-Riau. Penelitian ini menghadirkan bukti kuantitatif empiris yang mempertegas historiografi kebahasaan dan dinamika migrasi penutur Melayu di kawasan Sumatra bagian timur dan Kepulauan Riau.
Recontextualizing Maulana Abul Kalam Azad’s Educational Philosophy for AI Ethics and Education Saifullah; Saidul Amin; Deswita; Sukiyat; Dasman Yahya; Rina Rehayati; Dewi Cahyarani; Putri Angraini
RUSYDIAH: Jurnal Pemikiran Islam Vol. 7 No. 1 (2026)
Publisher : STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The increasing use of artificial intelligence (AI), particularly generative AI in educational contexts, raises epistemological and ethical questions concerning how knowledge is produced, evaluated, and used. This study recontextualizes Maulana Abul Kalam Azad’s philosophy of education as a framework for examining these challenges. Employing qualitative library research, the study combines hermeneutic interpretation, conceptual analysis, and philosophical recontextualization. Azad’s Tarjuman al-Qur’an and India Wins Freedom are examined alongside selected works on information philosophy, Islamic epistemology, AI ethics, and AI in education. The analysis reconstructs key dimensions of Azad’s epistemology concerning reason, revelation, knowledge, moral responsibility, and human development, and subsequently brings them into dialogue with contemporary challenges associated with AI-mediated education. The analysis suggests that computational efficiency and functional performance alone are insufficient criteria for educational knowledge and judgment. Based on this conceptual correspondence, the study develops a Synthetic Epistemology Model comprising three interconnected dimensions: technological intelligence, ethical judgment, and spiritual/value-oriented consciousness. The model positions AI as a technological instrument whose educational significance depends on human interpretation, ethical oversight, and the purposes guiding its use. The study does not claim that Azad anticipated contemporary AI; rather, it proposes a normative recontextualization of his epistemological principles for current educational challenges. The study contributes a philosophical framework for integrating technological capability with critical reasoning, ethical responsibility, and human development in AI-mediated education.
Strategi Survive Orang Banjar di Inhil Riau Rina Rehayati
Kutubkhanah Vol. 25 No. 1 (2025): Januari - Juni
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indragiri Hilir atau Inhil berada di Provinsi Riau, tempat bermukimnya mayoritas orang Banjar yang nenek moyangnya berasal dari Banjarmasin. Inhil dikenal sebagai kota “seribu parit”, “negeri hamparan kelapa”,dan “seribu jembatan”, karena terdapat banyak sungai kecil, pohon kelapa dan jembatan ketika memasuki kabupaten Inhil. Transportasi umumnya menggunakan sungai dan laut. Inhil terkesan unik karena mirip dengan kota Banjarmasin. Bahasa Banjar dan budaya Banjar terasa hidup di wilayah ini. Orang Banjar yang ada di Inhil pada umumnya keturunan Orang Banjar dari Banjarmasin. Meskipun orang Banjar di Inhil hidup bergandengan dengan berbagai suku dan etnis lainnya, namun budaya Banjar tetap mereka lestarikan, misalnya pelaksanaan aruh ganal dengan menghadirkan gubernur Kalimantan Selatan ke Tembilahan, ibu kota Inhil. Tujuan penulisan ini mendeskripsikan keagamaan dan budaya Banjar yang tetap bertahan (survive) di Riau. Beragam budaya Banjar di Inhil Riau sarat dengan makna, ini merupakan local wisdom-nya orang Banjar. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, pengumpulan data melalui wawancara, buku, jurnal, hasil penelitian, makalah, dan media sosial terkait orang Banjar. Analisis data melalui teori Georg Simel tentang Kebudayaan Objektif. Hasil dari penelitian ini menggambarkan bahwa orang Banjar di Inhil adalah kumpulan masyarakat sederhana yang religius dan moderat, sehingga mudah diterima oleh masyarakat di sekitarnya. Mereka memiliki “Kebudayaan Objektif” sebagai manifestasi diri yang terintegrasi dengan alam, dan Tuhan. Terdapat energi yang kuat, pada orang Banjar di Inhil dalam mempertahankan identitas diri mereka, yaitu melalui pelestarian budaya warisan nenek moyang mereka yang berasal dari Banjarmasin Kalimantan Selatan, sehingga mereka mampu survive (bertahan), dan menjadi miniaturnya Banjarmasin di Provinsi Riau