Penelitian ini bertujuan untuk mengukur persentase kekerabatan kognat, mengestimasi jangka waktu perpisahan (time depth), serta merekonstruksi silsilah kebahasaan (subgrouping) antara Bahasa Melayu Palembang (BMP), Bahasa Melayu Jambi (BMJ), dan Bahasa Melayu Riau Kepulauan (BMRK) melalui pendekatan linguistik historis komparatif. Menggunakan instrumen 300 kosakata dasar Swadesh-Keraf. Data lapangan diperoleh melalui metode simak dan cakap dari penutur asli berkriteria Nonmobile, Older, Rural, Males (NORMs) di wilayah periferi situs-situs bersejarah Melayu. Analisis kualitatif dioperasionalkan melalui teknik Pilah Unsur Penentu (PUP), Hubung Banding Menyamakan (HBS), dan Hubung Banding Membedakan (HBB), yang selanjutnya dikuantifikasi menggunakan formula leksikostatistik, glotokronologi Swadesh, serta kriteria pengelompokan Dyen. Hasil analisis leksikostatistik menunjukkan persentase kekerabatan kognat tertinggi terdapat pada pasangan BMJ–BMRK, sebesar 86,67% (87%), disusul pasangan BMP–BMJ sebesar 80,67% (81%), dan pasangan BMP–BMRK sebesar 78,67% (79%). Berdasarkan kriteria Dyen dengan nilai selisih sebesar 8% (10%), ketiga isolek secara sah diklasifikasikan ke dalam satu kelompok bahasa yang sama (co-grouping) dari Proto-Melayu, di mana BMJ dan BMRK membentuk sub-cabang (Proto BMJ-BMRK) terlebih dahulu sebelum menyatu dengan BMP. Rekonstruksi glotokronologis membuktikan bahwa perpisahan BMP–BMRK berlangsung paling awal pada rentang tahun 1407–1517 M, diikuti perpisahan BMP–BMJ pada rentang tahun 1467–1577 M yang selaras secara historis dengan era desentralisasi politik pasca-kemunduran Sriwijaya. Sementara itu, perpisahan BMJ–BMRK terjadi jauh lebih muda pada rentang tahun 1642–1742 M sebagai dampak dari intensnya komunikasi maritim dan jejaring politik antara Kesultanan Jambi dan Kesultanan Johor-Riau. Penelitian ini menghadirkan bukti kuantitatif empiris yang mempertegas historiografi kebahasaan dan dinamika migrasi penutur Melayu di kawasan Sumatra bagian timur dan Kepulauan Riau.