Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Persentase Karkas Ayam Kampung Super Umur 10 Minggu dengan Pemberian Ransum yang Mengandung Tepung Umbi Talas Viktorinus jemanse Jemanse; Ni Ketut Sri Rukmini; Luh Suariani
GEMA AGRO Vol 28 No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/ga.28.1.6381.30-33

Abstract

Super free-range chicken is currently a very promising new business opportunity due to very high consumer demand. To support the demand for super free-range chicken meat, it is necessary to develop super free-range chicken farms in order to meet the increasing demand from year to year. The purpose of this study was to determine the effect of giving rations containing taro tuber flour on the carcass percentage of super free range chickens aged 10 weeks. This study used a completely randomized design (CRD) with 5 treatments and 3 replications. Each replication consisted of 5 chickens so that the number of chickens used was 75. The treatments were R0 control rations without taro tuber flour, R1 rations containing 5% taro tuber, R2 rations containing 10% taro tuber, R3 rations containing 15% taro tuber and R4 rations containing 20% ​​taro tuber. The results showed that the ingredients of taro tuber flour in the ration had a significant effect (P<0.05) on the slaughter weight and carcass weight of super free-range chicken, but did not have a significant effect (P>0.05) on the percentage of carcass and non-carcass percentage. . Giving 10% taro tuber flour (R2) produced the highest slaughter weight and carcass weight. The keywords are: Super Kampung Chicken and Taro Tuber Flou
PKM PEMBUATAN ANEKA NUGGET DI KWT TERATAI 8 DAN 9 DUSUN SEGAH DESA ASAHDUREN PEKUTATAN JEMBRANA Ni Ketut Etty Suwitari; Ni Made Yudiastari; Luh Suariani
WICAKSANA: Jurnal Lingkungan dan Pembangunan Vol. 2 No. 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/wicaksana.2.2.2018.9-17

Abstract

Proses pengolahan yang semakin berkembang dalam bidang pangan, menghasilkan produk produk olahan yang semakin beragam yang banyak beredar dipasaran. Beberapa produk olahan yang sangat digemari oleh konsumen adalah nugget. Nugget adalah produk daging direstrukrisasi dengan adonan dan pelapis untuk mempertahankan kualitasnya. Selain terbuat dari daging maupun ikan, nugget juga dapat terbuat dari bahan non daging (nugget vegetarian) seperti sayuran. Nugget yang terbuat dari sayuran ini juga merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan minat para konsumen terutama anak anak yang tidak menyukai sayuran. Selain daripada itu pembuatan nugget adalah salah satu upaya untuk memperpanjang masa simpan daging ayam. Desa Asahduren terletak di Kecamatan Pekutatan yang berjarak 75 km dari ibukota propinsi Bali dengan jumlah penduduk 892 KK yang terdiri dari 1882 orang laki laki dan 1830 orang wanita, dengan mata pencaharian pokok adalah bertani. Salah satu dusun yang terdapat di desa Asahduren adalah Dusun Segah dimana salah satu tempeknya adalah Tri Karya Utama yang mana ibu ibunya tergabung dalam dua kelompok Wanita Tani yaitu KWT Teratai 8 dan KWT Teratai 9. Lokasi dusun terletak berbatasan langsung dengan Hutan Negara dan Perusahan Daerah (Perusda) membuat dusun jauh dari keramaian. Hal ini mengakibatkan kegiatan KWT hanya berkisar seputar dusun dan membantu suami sebagai petani. Tujuan dari kegiatan adalah meningkatkan motivasi kewirausahaan dengan memberikan pelatihan teknologi untuk membuat aneka nugget meliputi proses produksi aneka nugget, sanitasi dan higienis dan pengemasan dan pemasaran, sehingga peserta pelatihan mampu membuat produk aneka nugget dengan baik, dan selanjutnya mangemasnya menjadi produk yang menarik. Kata Kunci: Nugget, produksi,kewirausahaan
Budidaya Rumput Odot di Desa Sulangai Kecamatan Petang Kabupaten Badung-Bali I Nyoman Kaca; Luh Suariani; Ni Ketut Etty Suwitari; I Gusti Agus Maha Putra Sanjaya
Community Service Journal (CSJ) Vol. 2 No. 1 (2019)
Publisher : Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat, Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/csj.2.1.2019.29-33

Abstract

Penganekaragaman dalam pemberian hijauan sebagai pakan ternak ruminansia penting untuk dilakukan. Dengan adanya penganekaragaman jenis hijauan maka kebutuhan nutrisi ternak ruminansia diharapkan akan terpenuhi. Salah satu varian yang sedang dikembangkan dan diperkenalkan kepada peternak sebagai hijauan pakan ternak-ternak adalah rumput gajah odot atau yang lebih populer dengan rumput odot. Sulangai adalah sebuah desa di Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali yang mempunyai jumlah penduduk 4.649 jiwa dengan luas wilayahnya adalah 12, 59 km2. Gapoktan Simantri 171 Banjar Sandakan Desa Sulangai merupakan salah satu gapoktan yang ada di desa Sulangai. Gapoktan ini khusus tempat berkumpulnya para peternak sapi. Salah satu kendala yang dihadapi adalah sulitnya pakan pada musim kemarau, sehingga perlu dilakukan usaha penanaman (budidaya) pakan unggul, salah satunya adalah rumput odot. Kegiatan ini telah dilaksanakan dengan metode partisipatif aktif dari mitra dan pembuatan demplot. Demplot dilakukan berupa penanaman rumput odot disekitar kandang dan di pematang. Sampai dengan tahap evaluasi, petani sudah mampu memanen rumput odot sebagai pakan ternaknya. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk membudidayakan rumput odot di desa Sulangai. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah metode eksploratif dan partisipasi aktif masyarakat. Hasil kegiatan ini adalah kegiatan program pengabdian ini terlaksana dengan baik dengan mengikuti beberapa tahapan dalam pelaksanaannya. Kesimpulannya, kegiatan ini bisa meningkatkan kualitas SDM kelompok pendamping anggota mitra untuk mebudidayakan rumput odot sebagai usaha pemenuhan kebutuhan pakan ternaknya sehingga diharapkan tidak mengalami kesulitan lagi pada saat musim kemarau ataupun mengurangi waktu untuk menyediakan pakan ternak, karena pakan sudah tersedia disekitar kandang.
APLIKASI TEKNOLOGI TEPAT UNTUK PENGELOLAAN BUDIDAYA DAN PENANGANAN PASCA PANEN KAKAO DI DESA ASAH DUREN Ni Made Ayu Suardani Singapurwa; Ni Wayan Nursini; Luh Suariani; I Ketut Agung Sudewa; I Komang Budi Mulya; Ela Tara Wini Bira; Ni Nyoman Suartini; Maria Reinaldis Jebaut Subin
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 9, No 5 (2026): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v9i5.%p

Abstract

Pengembangan budidaya dan industri kakao sebagai penggerak pertumbuhan dan distribusi pendapatan masih sangat terbuka dan cukup besar. Penerapan teknologi tepat guna dilakukan untuk meningkatkan produktivitas budidaya kakao dan efisiensi penanganan pasca panen bagi petani kakao di desa Asah Duren, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana.  Kegiatan Pengabdian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas teknologi yang diterapkan dalam proses tersebut. Metode yang digunakan meliputi sosialisasi, pengamatan langsung, wawancara dengan petani, pelatihan, praktek langsung, dan analisis data hasil panen sebelum dan sesudah penerapan teknologi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam hasil panen kakao serta pengurangan kerugian pasca panen. Petani melaporkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam penggunaan teknologi yang diterapkan. Terdapat peningkatan keterampilan kelompok petani sebesar 70%, peningkatan produktivitas sebesar 85%, peningkatan pendapatan 75%. Aplikasi teknologi tepat guna dapat memberikan dampak positif bagi pengelolaan budidaya kakao, produk hasil olahan kakao menjadi coklat bubuk dan meningkatkan kesejahteraan petani kakao di Desa Asah Duren.
Peningkatan Keanekaragaman Pangan melalui Pelatihan Dimsum Ikan Nila pada Kelompok Usaha Pangan Lokal di Desa Bebetin, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng Ni Mada Ayu Suardani Singapurwa; Ketut Agung Sudewa; Luh Suariani; Ni Made Darmadi; Andika Umbu Tiba; Amelia Putri Purnomo; Ernesia Kunigunda Lando
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 8 (2026): Volume 9 Nomor 8 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i8.26489

Abstract

ABSTRAK Desa Bebetin, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng memiliki potensi sumber daya perikanan air tawar yang dapat dikembangkan menjadi produk pangan bernilai tambah melalui diversifikasi olahan ikan nila. Namun, kelompok usaha pangan lokal masih menghadapi keterbatasan variasi produk dan strategi pemasaran yang berdampak pada rendahnya peluang peningkatan pendapatan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, pemasaran, dan omzet usaha melalui pelatihan pembuatan dimsum ikan nila. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan, pelatihan, praktik produksi, pendampingan, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test, observasi keterampilan praktik, wawancara, dan analisis omzet usaha. Kegiatan melibatkan 10 anggota Kelompok Usaha Pangan Lokal di Desa Bebetin. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman peserta yang ditunjukkan oleh kenaikan nilai rata-rata dari 41,25 pada pre-test menjadi 78,75 pada post-test atau meningkat sebesar 91,0%. Keterampilan diversifikasi produk juga meningkat dengan kenaikan nilai praktik dari 3,0 menjadi 4,28 (skala 5) atau sebesar 42,7%. Program menghasilkan produk baru berupa dimsum ikan nila dengan berbagai variasi bentuk, ukuran, serta kemasan yang lebih terstandar. Dari aspek pemasaran, kelompok berhasil memperluas kanal promosi, menerapkan pencatatan pesanan, dan menyusun strategi penjualan yang lebih terarah. Dampak ekonomi ditunjukkan oleh peningkatan omzet kelompok dari Rp4.000.000 per bulan menjadi Rp8.000.000 per bulan atau meningkat sebesar 100%. Selain itu, volume penjualan dimsum mencapai 240–540 porsi per bulan dengan frekuensi pesanan 2–4 kali per minggu. Dengan demikian, pelatihan dan pendampingan pembuatan dimsum ikan nila terbukti efektif dalam meningkatkan kapasitas kelompok usaha, memperluas diversifikasi produk pangan lokal, dan meningkatkan pendapatan usaha secara berkelanjutan. Kata Kunci: Desa Bebetin, Dimsum, Ikan Nila, Keanekaragaman Pangan, Pemberdayaan Masyarakat.  ABSTRACT Bebetin Village, Sawan District, Buleleng Regency has considerable freshwater fishery resources that can be developed into value-added food products through tilapia diversification. However, local food business groups face limitations in product variation and marketing strategies. This community service program aimed to improve participants’ knowledge, skills, marketing capacity, and business income through training on tilapia fish dimsum production. Method: The program involved counseling, hands-on training, production assistance, and evaluation using pre-test and post-test assessments, practical skill observations, interviews, and business turnover analysis. A total of 10 members of a local food business group participated in the activity. Participants’ knowledge significantly increased, with average scores rising from 41.25 in the pre-test to 78.75 in the post-test (91.0% increase). Practical skills improved from an average score of 3.0 to 4.28 on a 5-point scale (42.7% increase). The program successfully introduced new diversified products, including tilapia fish dimsum with improved shape, size consistency, and packaging quality. Marketing capacity improved through expanded promotional channels, simple order-recording systems, and more structured sales strategies. Economically, the group’s monthly turnover increased from IDR 4,000,000 to IDR 8,000,000 (100% increase). Furthermore, dimsum sales reached 240–540 portions per month with an order frequency of 2–4 times per week. Training and mentoring in tilapia fish dimsum production effectively enhanced the capacity of local food business groups, promoted food diversification, and increased business income sustainably. Keywords: Bebetin Village, Fish Dimsum, Tilapia, Food Diversification, Community Empowerment.