Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Social, Cognitive, Teaching, and Technology Presence in Blended Inquiry Learning: A Higher Education Study Riadi, Bambang; Fuad, Muhammad; Yulianti, Dwi; Firdaus, Rangga
Online Learning In Educational Research (OLER) Vol 4, No 2 (2024): Online Learning in Educational Research
Publisher : CV FOUNDAE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58524/oler.v4i2.507

Abstract

Blended Inquiry Learning (BIL), an approach integrating blended and inquiry-based methods, seeks to enhance higher-order thinking skills (HOTS), including analysis, evaluation, and creation. This study explores the impact of BIL by assessing the roles of social, cognitive, instructional, and technological presence. Employing quantitative methods, data were gathered using a 19-item Likert scale questionnaire and analyzed through Partial Least Squares (PLS) Regression, a structural equation modeling technique. Participants included 222 students from various departments enrolled in the Indonesian Language Education course at the University of Lampung. The findings indicate that all four presences significantly influence BIL effectiveness, with technological presence having the most substantial effect and social presence the least. The study further advocates for incorporating technological presence as a fundamental component in the Community of Inquiry (CoI) framework to enhance the integration of digital technologies in education. This revised framework enables educators to design learning experiences that align with the demands of the technological era, utilizing tools such as Learning Management Systems (LMS), computer-based simulations, and virtual collaboration platforms
Literatur Riview : Nilai Pendidikan Karakter dalam Novel Terhadap Pendidikan Bahasa Indonesia di SMA Latifah, Umun; Riadi, Bambang; Prayogi, Rahmat
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 1: Desember 2024
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v4i1.6586

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji nilai-nilai Pendidikan karakter yang terdapat dalam novel terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA. Pendidikan karakter dalam kurikulum yang sedang berlangsung sekarang yaitu kurikulum merdeka, menkadi sebuah fokus penting dalam upaya membentuk generasi yang berakhlak dan berintergritas. Novel menjadi karya sastra yang memiliki potensi besar untuk menanamkan nilai-nilai moral seperti kejujuran, tanggung jawab, toleransi, dan kerjasama. Melalui analisis yang dilakukan seperti analisis tokoh, alur cerita, dan konflik yang terdapat dalam cerita atau novel tersebut dapat membuat peserta didik belajar tentang dilemma moral serta solusi yang berakar pada nilai-nilai etis. Pembelajaran Bahasa Indonesia di tinggkat SMA dapat menggunakan novel sebagai alat atau sarana dalam memahami nilai karakter sekaligus memperkaya keterampilan berbahasa. Dengan demikian, penggunaan novel dalam pembelajaran tidak hanya meningkatkan keterampilan anilisis sastra peserta didik, tetapi juga berkontribusi dalam pembentukan karakter mereka.
KEMAMPUAN MENERJEMAHAN TEKS ANALYTICAL EXPOSITION SISWA KELAS XII SMA Putrawan, Gege Eka; Riadi, Bambang
Jurnal Pendidikan Progresif Vol 6, No 1 (2016): Jurnal Pendidikan Progresif
Publisher : FKIP Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Ability of Translating Analytical Exposition Text at Twelfth Grade of SMA. This study aimed at describing the ability of the twelfth grade students of SMA Negeri 1 Gadingrejo Pringsewu Academic Year 2015/2016 in translating an analytical exposition text from English into Indonesian. This is a qualitative descriptive research with a total sample of 50 students. The data were collected through a test in the form of translation work of an analytical exposition text. The results showed that in general the ability of the students in translating an analyticalexposition text from English into Indonesian of the twelfth grade students of SMA Negeri 1 Gadingrejo Pringsewu Odd Semester Academic Year 2015/2016 is categorized good with an average score of 76.2 Keywords: translating, translation, text, analytical exposition DOI: http://dx.doi.org/10.23960/jpp.v6.i1.201601
Pemanfaatan Media Digital dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia: Studi Kualitatif terhadap Praktik Literasi Digital di Sekolah Menengah Pertama Putri, Claudiana Omega; Naewa Puarada, Friska Dewi; Riadi, Bambang; Prayogi, Rahmat
Riwayat: Educational Journal of History and Humanities Vol 8, No 4 (2025): Oktober, Social Issues and Problems in Society
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jr.v8i4.50151

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi pemanfaatan media digital dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah menengah. Seiring dengan berkembangnya teknologi digital yang semakin terintegrasi dalam sistem pendidikan, penting untuk memahami bagaimana media seperti Google Classroom, YouTube, dan Quizizz mempengaruhi keterlibatan dan pemahaman siswa. Melalui metode kualitatif, termasuk wawancara dengan 2 guru dan 5 siswa dengan Teknik sampling yaitu purposive sampling, serta observasi di kelas, penelitian ini mengidentifikasi manfaat dan tantangan penggunaan media digital dalam pengajaran Bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media digital secara signifikan meningkatkan keterlibatan siswa, memungkinkan pembelajaran yang interaktif, dan mendukung pengembangan keterampilan literasi digital. Namun, masalah terkait infrastruktur teknologi, seperti keterbatasan perangkat dan koneksi internet yang tidak stabil, menjadi hambatan yang signifikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun media digital memiliki potensi besar dalam pembelajaran, perbaikan infrastruktur dan pelatihan berkelanjutan bagi guru sangat diperlukan untuk mengoptimalkan penggunaannya dalam pendidikan.
MAKNA TARI SEKURA DARI LIWA LAMPUNG BARAT Kurniawan, Rizaldi Yosep; Filmansah, Een; Prayogi, Rahmat; Riadi, Bambang
Jurnal Tiyuh Lampung: Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan Vol 9 No 1 (2025): Jurnal Tiyuh Lampung: Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan
Publisher : FKIP Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/tiyuhlampung.v9i1.803

Abstract

This research was conducted to explain the meaning of the Sekura Dance which originates from Liwa, West Lampung. The purpose of conducting this research is because there is still minimal research on this theme, so it is hoped that with this research readers will be able to find out what they need to know. The research was carried out using descriptive qualitative methods with literature studies. Sekura itself is a tradition that originates from West Lampung too, this is a tradition whose existence is still well known not only by the people of West Lampung, especially Liwa, but has been recognized in the national realm. Sekura dance is a dance originating from Liwa, West Lampung, created by Edwarsyah Ma'as, a dance artist who also comes from West Lampung. Inspired by Sekura fashion.   Penelitian ini dilakukan untuk menjelaskan makna dari Tari Sekura yang berasal dari Liwa, Lampung Barat. Tujuan dilakukannya penelitian ini karena masih minimnya penelitian mengenai tema ini, jadi diharapkan dengan adanya penelitian ini pembaca dapat mengetahui apa yang perlu diketahui. Peneltian dilakukan dengan metode kualitatif deskriptif dengan studi literatur. Sekura sendiri adalah sebuah tradisi yang berasal dari Lampung barat juga, ini merupakan sebuah tradisi yang hingga saat ini keberadaanya masih sangat diketahui bukan hanya oleh Masyarakat lampung barat khususnya liwa saja namun sudah diakui dalam ranah Nasional. Tari sekura merupakan sebuah tarian yang berasal dari Liwa Lampung Barat yang diciptakan oleh Edwarsyah Ma’as seorang seniman tari yang juga berasal dari Lampung Barat. Yang terinspirasi dari busana sekura.
PERAN WAWANCAN DALAM PELESTARIAN KEBUDAYAAN LAMPUNG PADA PEMBERIAN GELAR ADAT DI PEKON KALIANDA Dhalimah, Septia; Safitri, Reni Septi; Prayogi, Rahmat; Riadi, Bambang
Jurnal Tiyuh Lampung: Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan Vol 9 No 1 (2025): Jurnal Tiyuh Lampung: Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan
Publisher : FKIP Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/tiyuhlampung.v9i1.805

Abstract

Oral literature wawancan plays an important role in preserving Lampung culture in Pekon Kalianda. This study aims to explore and document wawancan as a form of cultural heritage that is threatened by modernization and the lack of attention of the younger generation to local traditions. Through qualitative descriptive methods, researchers conducted observations, interviews, and collected documentation data to understand the meaning and function of wawancan in the context of traditional rituals, especially in wedding ceremonies. The results of the study indicate that wawancan is not only entertainment, but also a learning medium that contains moral values and community history. The existence of a cultural gap, where the younger generation is more familiar with pop culture, results in reduced participation in the wawancan tradition. This study emphasizes the importance of education and community involvement in preserving this oral tradition to avoid the loss of cultural identity. Awareness of the value of wawancan can strengthen a sense of togetherness and community pride. By preserving wawancan, not only can the Lampung language and culture be passed on to future generations, but also rich language skills can be fostered. Through this study, it is hoped that knowledge and appreciation of wawancan will continue to grow in society, as well as become a bridge of communication between generations and at the same time revive traditions that are starting to fade. Sastra lisan wawancan memainkan peran penting dalam pelestarian budaya Lampung di Pekon Kalianda. Penelitian ini bertujuan untuk menggali dan mendokumentasikan wawancan sebagai bentuk warisan budaya yang terancam oleh modernisasi dan kurangnya perhatian generasi muda terhadap tradisi lokal. Melalui metode deskriptif kualitatif, peneliti melakukan observasi, wawancara, dan pengumpulan data dokumentasi untuk memahami makna dan fungsi wawancan dalam konteks ritual adat, khususnya dalam upacara pernikahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wawancan tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pembelajaran yang mengandung nilai moral serta sejarah masyarakat. Adanya kesenjangan budaya, di mana generasi muda lebih akrab dengan budaya pop, mengakibatkan pengurangan partisipasi dalam tradisi wawancan. Penelitian ini menggarisbawahi pentingnya pendidikan dan pelibatan masyarakat dalam melestarikan tradisi lisan ini untuk menghindari hilangnya identitas budaya. Kesadaran tentang nilai wawancan dapat memperkuat rasa kebersamaan dan kebanggaan komunitas. Dengan melestarikan wawancan, tidak hanya bahasa dan budaya Lampung dapat diteruskan kepada generasi mendatang, tetapi juga keterampilan berbahasa yang kaya dapat dipupuk. Melalui penelitian ini, diharapkan pengetahuan dan apresiasi terhadap wawancan semakin berkembang dalam masyarakat, serta menjadi jembatan komunikasi antar generasi dan saat yang sama menghidupkan kembali tradisi yang mulai memudar.
PERAN BUDAYA DALAM MEMBANGUN HUBUNGAN ANTARA SUKU LAMPUNG DAN JAWA DI MESUJI Sari, Arivia Tri Novita; Muharidha, Suharti; Prayogi, Rahmat; Riadi, Bambang
Jurnal Tiyuh Lampung: Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan Vol 9 No 1 (2025): Jurnal Tiyuh Lampung: Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan
Publisher : FKIP Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/tiyuhlampung.v9i1.806

Abstract

This article discusses the role of culture in building relationships between the Lampung and Javanese ethnic groups in Mesuji. Through long-standing interactions, both groups demonstrate how cultural diversity can serve as a strength in creating social harmony. The Lampung people, as the indigenous inhabitants, possess rich traditions and values, while the Javanese, as migrants, bring distinct cultures and customs. The adaptation and integration processes between these two groups are evident in various aspects of daily life, including traditional ceremonies and social activities. This research aims to explore the dynamics of this intercultural relationship and its impact on community harmony in Mesuji. Artikel ini membahas peran budaya dalam membangun hubungan antara suku Lampung dan Jawa di Mesuji. Melalui interaksi yang telah berlangsung lama, kedua suku ini menunjukkan bagaimana keberagaman budaya dapat menjadi kekuatan dalam menciptakan harmoni sosial. Suku Lampung, sebagai penduduk asli, memiliki tradisi dan nilai-nilai yang kaya, sementara suku Jawa, yang merupakan pendatang, membawa serta budaya dan adat istiadat yang berbeda. Proses adaptasi dan integrasi antara kedua suku ini terlihat dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari, termasuk dalam upacara adat dan kegiatan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika hubungan antarbudaya ini dan dampaknya terhadap keharmonisan masyarakat di Mesuji.
ANALISIS KONTRASTIF KATA SAPAAN/PANGGILAN DALAM KELUARGA PADA MASYARAKAT LAMPUNG DIALEK A/O Saputra, Dira; Firnanda, M. Evan; Prayogi, Rahmat; Riadi, Bambang
Jurnal Tiyuh Lampung: Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan Vol 8 No 2 (2024): Jurnal Tiyuh Lampung: Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan
Publisher : FKIP Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/tiyuhlampung.v8i2.815

Abstract

This study aims to analyze and explain the function of various greeting words or calls in kinship relations, especially in families in the Lampung community, both in the A/O dialect. This study uses a quantitative approach method. Data analysis used contrastive analysis, namely comparing the similarities and differences of the two languages. The data were obtained from the results of filling out a questionnaire conducted by students of the Lampung Language Education study program at the University of Lampung. The results of the study show that there is a great diversity of greeting words in the midst of the people of Lampung from various regions. This variation of greeting words experiences a balance in the Lampung language, both from dialect A and dialect O.   Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan menjelaskan fungsi ragam kata sapaan atau panggilan dalam hubungan kekerabatan terutama dalam keluarga yang ada di masyarakat Lampung baik dialek A/O. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kuantitatif. Analisis data menggunakan analisis kontrastif yaitu membandingkan persamaan dan perbedaan dua bahasa yang sama. Data diperoleh dari hasil pengisian kuisioner yang dilakukan oleh mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Lampung di Universitas Lampung. Hasil penelitian menunjukkan banyaknya keberagaman kata sapaan yang ada ditengah masyarakat Lampung dari berbagai daerah. Variasi kata sapaan ini mengalami keseimbangan dalam Bahasa Lampung baik dari dialek A maupun dialek O.
Nilai-Nilai Sosial dalam Tradisi Ngantak Bakul Pada Pernikahan Masyarakat Lampung Sai Batin Wahyuni, Lena; Marlisa, Ani; Prayogi, Rahmat; Riadi, Bambang
Jurnal Tiyuh Lampung: Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan Vol 9 No 2 (2025): Jurnal Tiyuh Lampung: Pendidikan Bahasa dan Kebudayaan
Publisher : FKIP Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/tiyuhlampung.v9i2.817

Abstract

The Ngantak Bakul tradition in Lampung Sai Batin communities is an important aspect of the marriage ceremony that is rich in social and cultural values. This study aims to reveal the social values contained in the Ngantak Bakul tradition and understand the impact of modernization on its preservation. This research uses a descriptive qualitative approach, data is collected through interviews and literature studies, which are then analyzed to describe the currentsituation. The results show that Ngantak Bakul contains social values such as helping and reciprocity, which reflect the value of solidarity and trust between community members. However, modernization and financial limitations have caused a shift in the younger generation, which potentially threatens the understanding and preservation of theNgantak Bakul tradition. This research emphasizes the importance ofpreserving the Ngantak Bakul tradition as a means of maintainingcultural identity, and increasing social solidarity in the community. Italso shows that traditions are not just rituals, but also serve tostrengthen universal human values. Tradisi Ngantak Bakul di masyarakat Lampung Sai Batin merupakan aspek penting dalam upacara perkawinan yang kaya akan nilai sosial dan budaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap nila-nilaisosial yang terkandung dalam tradisi Ngantak Bakul dan memahami dampak modernisasi terhadap pelestariannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui wawancara dan studi kepustakaan, yang kemudian dianalisisuntuk mendeskripsikan keadaan saat ini. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa Ngantak Bakul mengandung nilai sosial seperti tolong-menolong dan timbal balik, yang mencerminkan nilai solidaritas dan kepercayaan antaranggota masyarakat. Namun, modernisasi dan keterbatasan finansial menyebabakan pergeseran generasi muda, yang berpotensi mengancam pemahamandan pelestarian tradisi Ngantak Bakul. Penelitian ini menekankan pentingnya melestarikan tradisi Ngantak Bakul sebagai sarana untuk menjaga identitas budaya, dan meningkatkan solidaritas sosial di masyarakat. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa tradisi bukan hanya sekedar ritual saja, tetapi juga berfungsi untuk memperkuat nilai-nilai kemanusiaan yang universal.
Pemilihan Perkawinan: Tradisi Sebambangan di Rakyat Pepadun Lampung di Desa Banjar Ratu Maharani , Syifa; Rahmatika, Zidny Rizka; Prayogi, Rahmat; Riadi, Bambang
Jurnal Punyimbang Vol. 4 No. 2 (2024): Jurnal Punyimbang
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Lampung, FKIP Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/punyimbang.v4i2.1131

Abstract

The purpose of this research is to explore a type of marriage of the Lampung Pepadun people in Banjar Ratu village, Way Pengubuan sub-district, Central Lampung district. This research uses a descriptive method through a qualitative approach, with data collection techniques through interviews and observation. The results show that the Lampung Pepadun people in Banjar Ratu Village tend to decide to conduct Sebambangan marriages. There are several reasons underlying this choice, including: 1) the cost factor, where the cost required for a Begawi marriage can be five times greater than a Sebambangan marriage, which only requires a maximum cost of 30 million. 2) the time factor, where the agenda in a Begawi wedding lasts longer than a Sebambangan wedding, which only takes a maximum of two weeks. 3) the social stratum factor, where Begawi marriages are influenced by occupational factors, education, and the traditional title of a family, which is the reason why Begawi marriages are preferred by families with a certain social status, while Sebambangan marriages are preferred by families with different social backgrounds. Tujuan dari riset ini ialah guna mendalami suatu jenis perkawinan dari suatu rakyat Lampung Pepadun di Kampung Banjar Ratu, Kec. Way Pengubuan, Kab. Lampung Tengah. Riset ini menggunakan metode deskriptif melalui pendekatan kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara serta observasi. Hasil riset menampakkan bahwa rakyat Lampung Pepadun di Desa Banjar Ratu cenderung memutuskan guna melakukan perkawinan Sebambangan. Ada beberapa alasan yang mendasari alternatif ini antara lain: 1) faktor biaya, di mana biaya yang dibutuhkan guna pernikahan Begawi bisa lima kali lebih besar dibandingkan dengan perkawinan Sebambangan, yang hanya memerlukan biaya maksimal 30 juta. 2) faktor waktu, di mana rangkaian agenda dalam pernikahan Begawi berlangsung lebih lama dibandingkan dengan perkawinan Sebambangan hanya membutuhkan waktu maksimal dua minggu. 3) faktor jenjang sosial, di mana perkawinan Begawi dipengaruhi oleh faktor pekerjaan, pendidikan, serta gelar adat suatu keluarga, yang menjadi alasan mengapa perkawinan Begawi lebih dipilih oleh keluarga dengan status sosial tertentu, sementara perkawinan Sebambangan lebih dipilih oleh keluarga dengan latar belakang sosial yang berbeda.