Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Transformasi Peran Guru Pendidikan Kristen Sebagai Mentor Spiritual : Di Sekolah Kristen Berasrama Kumowal, Royke Lantupa; Kalintabu, Heliyanti
Edukris: Jurnal Pendidikan Agama Kristen Vol. 1 No. 02: Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Bethel The Way

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54793/edukris.v1i02.232

Abstract

Perguruan tinggi Kristen berasrama menghadapi krisis spiritualitas remaja, alienasi iman, dan merosotnya peran dosen sebagai pembina rohani di era digital. Penelitian ini bertujuan merumuskan model transformasi peran dosen dari pengajar menjadi mentor spiritual yang aktif secara relasional dan kontekstual. Dengan pendekatan kualitatif studi pustaka, penelitian ini menganalisis literatur teologis dan pedagogis untuk membangun kerangka berbasis prinsip biblika dan pedagogi Kristen. Tinjauan menunjukkan adanya kekosongan kajian mengenai integrasi peran dosen sebagai mentor spiritual dalam kehidupan harian kampus. Pembinaan rohani selama ini cenderung normatif dan tidak menyentuh relasi mendalam. Hasil kajian menekankan pentingnya pembekalan dosen, reformulasi kurikulum iman, dan penguatan sistem mentoring institusional. Kebaruan penelitian terletak pada model mentoring berbasis praktik harian seperti interaksi informal dan keteladanan hidup, yang menawarkan paradigma baru pembinaan iman yang relevan bagi pendidikan Kristen berasrama.
PENGELOLAAN PEMBELAJARAN SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN LAYANAN PENDIDIKAN BAGI ANAK PUTUS SEKOLAH PADA KOMUNITAS DINDING MANADO Kalintabu, Heliyanti; Palar, Yolanda Nany
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 10 No 13 (2024): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan 
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.13218977

Abstract

Learning management is a crucial strategy for enhancing educational services, particularly for out-of-school children. This study focuses on the Dinding community in Manado, which faces significant challenges in accessing education. The objective of this research is to analyze the learning management strategies that can be implemented in the non-formal education setting of the Dinding community. The research employs a qualitative methodology utilizing interviews and observations. The findings indicate that, although the Dinding community serves as a non-formal educational platform, learning management and classroom management are not markedly different from those in formal education. Each learning session concludes with an evaluation to assess the achievement of learning objectives, identify challenges faced, and collaboratively discuss potential solutions. Evaluations are conducted with the involvement of the teaching staff present at the time. The conclusion emphasizes the importance of adaptive and collaborative learning management as a strategic effort to provide better educational services for children in underserved communities. Recommendations are intended to offer insights for policymakers in designing inclusive and sustainable educational programs.
MODERASI BERAGAMA SEBAGAI JALAN MENUJU TOLERANSI Kumowal, Royke Lantupa; Kalintabu, Heliyanti
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 10 No 17 (2024): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan 
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.14027191

Abstract

Religious moderation teaches the importance of tolerance, dialogue, and mutual understanding among religious communities. In the context of Tumaluntung Village, religious moderation can serve as a solution to address the contestation surrounding the establishment of places of worship. With an inclusive and dialogue-based approach, it is hoped that conflicts and tensions can be minimized. However, implementing religious moderation is not without challenges. One of the greatest challenges is overcoming the distrust and prejudice that have already taken root in the community. Additionally, commitment from all parties, including the government, religious leaders, and the community, is essential to promote religious moderation.This research employs a qualitative method with a retrospective case study approach to examine religious moderation as a pathway to tolerance in the context of contestation over the establishment of places of worship in Tumaluntung Village, North Sulawesi. The objective of this study is to observe the dynamics of religious contestation in the establishment of places of worship in Tumaluntung Village, the factors influencing acceptance or rejection of these establishments, and the role of religious moderation in resolving conflicts that have arisen, thereby facilitating the establishment of places of worship in the village.The findings indicate that the efforts made by the government and the community of Tumaluntung Village have, in effect, practiced the values of religious moderation, which are also supported by the Minahasa philosophy of sitou timou tumou tou, which contains Christian values. In other words, the life of tolerance, mutual respect, and acceptance between different religions, along with a peaceful and harmonious existence that has been cultivated by the government and the community of Tumaluntung, reflects the integration of Christian values, the philosophy of sitou timou tumou tou, and the values of religious moderation.
Kepemimpinan Yesus Sebagai Model Bagi Pemimpin Kristen Di Sekolah Tinggi Teologi Heliyanti Kalintabu; Royke Lantupa Kumowal
Jurnal Manajemen Pendidikan Kristen Vol. 3 No. 1 (2023): Juni: Jurnal Manajemen Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/jmpk.v3i1.1347

Abstract

Dalam sekolah tinggi teologi terdapat seorang pemimpin yang akan memimpin jalannya system Pendidikan sekolah tersebut. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa masih banyak para pemimpin Kristen yang masih menggunakan kepemimpinan otoriter yang tidak mengacu pada kepemimpinan yang Alkitabiah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tentang model kepemimpinan Yesus dan implikasinya bagai pemimpin Kristen di sekolah teologi. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif, dimana peneliti mengkaji tentang bagaimana kepemimpinan Yesus, pemimpin Kristen, kepemimpinan Yesus dapat menjadi model bagi pemimpin Kristen khususnya di sekolah teologi. Adapun hasil penelitian yaitu pemimpin Kristen di sekolah teologi layaknya menerapkan model kepemimpinan Yesus untuk rekan-rekan sekerjanya guna tercipta hubungan yang harmonis dan dapat bersama memajukan institusi. Adapun kepemimpinan Yesus meliputi: kepemimpinan sebagai pelayanan, kepemimpinan berlandaskan kasih. Artinya bahwa kepemimpinan bukanlah ajalah kesombongan, mencari nama atau ke-akuan, namun kepemimpinan Kristen adalah sebuah pelayanan untuk Dia, oleh Dia dan Bagi Dia yang diimplementasikan dalam sebuah organisasi, institusi, gereja.
KAJIAN TEOLOGIS TENTANG TRADISI MABARIS’SA DALAM MENINGKATKAN SOLIDARITAS DI GERMITA SION KALONGAN Alex Lodweik Krisye Tulis; Heliyanti Kalintabu
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 5 No. 2 (2024): Juli 2024
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/djtk.v5i2.1903

Abstract

Tujuan penulisan ini adalah untuk menganalisa tradisi Mabaris’sa di GERMITA Sion Kalongan. Serta mendeskripsikan nilai teologis tradisi Mabaris’sa dalam meningkatkan rasa solidaritas di GERMITA Sion Kalongan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif menguraikan secara deskriptif, dengan menggunakan pendekatan etnografi realis yang dilaksanakan di jemaat GERMITA Sion Kalongan Wilayah 12 Kalongan 2024. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen. Dari hasil analisis dan interprestasi data diperoleh indikasi bahwa pertama persepsi yang dimiliki oleh anggota jemaat mengenai tradisi Mabaris’sa sama, jemaat sudah memahami akan tradisi Mabaris’sa. Kedua kajian teologis tentang tradisi Mabaris’sa dalam meningkatkan solidaritas ini pun membuktikan bahwa tradisi dan agama memanglah merupakan suatu hal yang saling berhubungan. Kesolidaritasan Kristiani terwujud dalam kemurahan hati, pengampunan, rekonsialisasi, dan persahabatan. Ini telihat ketika tegur sapa satu diantara lain menjadikan tradisi Mabaris’sa lebih bermakna secara teologis sebab semua kalangan sama-sama menjadi satu kesatuan dalam tradisi Mabaris’sa. Dari hasil temuan tersebut maka direkomendasikan untuk gereja agar bisa mengupayakan untuk memberikan perhatian secara khusus pada tradisi ini, mulai dari meningkatkan pemahaman jemaat, hingga membuat aturan-aturan khusus yang tegas dalam pelaksanaan tradisi Mabaris’sa dalam perayaan gerejawi. Sehingga dampak dari tradisi ini memanglah jelas mampu meningkatkan solidaritas diantara jemaat sehingga mencerminkan perayaan Kristen yang sesungguhnya dan berkenan dihadapan Tuhan.
ANALISIS SEMANTIK TERHADAP KATA 'QADOSH' DALAM HUKUM TAURAT DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KONSEP KEKUDUSAN DALAM PERJANJIAN BARU Royke Lantupa Kumowal; James Andris Landele; Heliyanti Kalintabu
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 7 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/djtk.v7i1.2276

Abstract

Penelitian ini menganalisis perkembangan makna qadosh (קָדוֹשׁ) dalam hukum Taurat dan implikasinya terhadap konsep kekudusan dalam Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Lama, qadosh digunakan dalam berbagai konteks, termasuk kekudusan Tuhan, tempat ibadah, umat Israel, dan hukum ritual. Pergeseran konsep ini terlihat dalam Perjanjian Baru, di mana kekudusan (hagios, ἅγιος) tidak lagi berfokus pada status hukum atau ritual, tetapi menjadi bagian dari identitas spiritual orang percaya melalui iman kepada Kristus. Penelitian ini menggunakan pendekatan semantik, leksikal, dan taksonomi untuk mengklasifikasikan makna qadosh dalam berbagai kategori teologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekudusan dalam Perjanjian Lama menekankan pemisahan dari hal yang najis secara hukum dan ritual, sedangkan dalam Perjanjian Baru, kekudusan dipahami sebagai transformasi etis dan spiritual yang diberikan melalui anugerah keselamatan dalam Kristus. Temuan ini memberikan perspektif baru dalam studi biblikal dengan mengisi kesenjangan penelitian sebelumnya yang lebih banyak menyoroti aspek teologis tanpa pendekatan linguistik yang mendalam.