Claim Missing Document
Check
Articles

Pelaksanaan Program UKS Di Sma Negeri 3 Pekalongan Tahun 2017 Fitriani, Eka; Latif, Rr. Vita Nur; Yuniarti, Yuniarti
Pena Medika Jurnal Kesehatan Vol 8, No 1 (2018): PENA MEDIKA JURNAL KESEHATAN
Publisher : Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/pmjk.v8i1.748

Abstract

Kesehatan Sekolah (UKS) bertujuan meningkatkan mutu pendidikan dan prestasi belajar peserta didik dengan meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat serta derajat kesehatan peserta didik dan menciptakan lingkungan yang sehat. (Pedoman Pelaksanaan UKS tahun 2014). Kelemahan UKS yang menjadikannya belum berjalan optimal hingga saat ini adalah masih beranggapan bahwa UKS hanyalah sebuah ruangan berisi tempat tidur dan kotak P3K sebagai tempat istirahat siswa yang sakit. SMA Negeri 3 Kota Pekalongan merupakan salah satu SMA sederajat di Kota Pekalongan dengan strata PHBS Paripurna. Strata paripurna yaitu strata tertinggi dari suatu tingkatan dengan memenuhi 15 indikator PHBS di sekolah. (Pendataan PHBS di sekolah Puskesmas Dukuh 2016). Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui pelaksanaan program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) di SMA Negeri 3 Kota Pekalongan. Metode penelitian yaitu kuantitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa keterlaksanaan Trias UKS : Pendidikan kesehatan 93,8% kategori baik, Pelayanan kesehatan 56,8% kategori baik dan Pembinaan kesehatan lingkungan 93,4 kategori baik. Kata Kunci      : Trias UKS, Program UKS, UKS SMA N 3 Pekalongan School Health (UKS) aims to improve the quality of education and learning achievements of learners by increasing clean and healthy lifestyles as well as the degree of health learners and create a healthy environment. (Guidelines for implementation of the UKS year 2014). The weakness of the INFIRMARY which have not run optimally to this day is still contended that the INFIRMARY is simply a room contains a bed and a first aid box as a place to rest the ill student. SMA Negeri 3 city of Pekalongan is one of equal HIGH SCHOOL in the town of Pekalongan with strata PHBS Plenary. I.e. highest strata plenary strata of a level by meeting the 15 indicators of PHBS in school. (Logging PHBS in school Clinics Dukuh 2016). The purpose of the research is to find out the School Health program implementation (UKS) in SMA Negeri 3 city of Pekalongan. Quantitative research methods IE. Research results show that keterlaksanaan Triassic UKS: 93.8% health education categories good, health services 56.8% category either and the construction of environmental health 93.4 category either. Keywords       : Trias UKS, UKS program, School Health graduate HIGH SCHOOL 3         .                          Pekalongan  
STRATEGI PENGUATAN 8 FUNGSI KELUARGA DALAM PENCEGAHAN TRIAD KRR (Seksualitas, Napza, HIV & AIDS) DI KOTA PEKALONGAN Rahmawati, Indra; Purnomo, Imam; NurLatif, Rr.Vita
Pena Medika Jurnal Kesehatan Vol 6, No 1 (2016): PENA MEDIKA JURNAL KESEHATAN
Publisher : Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/pmjk.v6i1.377

Abstract

Latar Belakang. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) melalui lembaga Pemerintah Kota Pekalongan  memberikan beban tugasnya kepada Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana BPMP2AKB di Kota Pekalongan untuk mengembangkan program Generasi Berencana (GenRe) dalam rangka menghindarkan remaja Kota Pekalongan dari resiko Triad KRR (Seksualitas, Napza, HIV dan AIDS) serta membantu remaja dalam mempersiapkan kehidupan berkeluarga di masa yang akan datang. Pelaksanaan program GenRe melalui substansi 8 fungsi keluarga masih terdapat kontradiksi dengan adanya permasalahan triad KRR di Kota Pekalongan. Pembaharuan Strategi pelaksanaan 8 fungsi keluarga dibutuhkan untuk mencegah kasus triad kkr yang semakin meningkat. Kota Pekalongan adalah salah satu kota kecil di Jawa tengah yang merupakan jalur lalu lintas yang padat dan rawan karena terletak di jalur pantai utara (pantura). Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana Strategi penguatan 8 fungsi keluarga dalam pencegahan Triad KRR (Seksualitas, Napza, Hiv & Aids) di Kota Pekalongan dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Penelitian ini dilakukan di Kota Pekalongan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan 8 fungsi keluarga di Kota Pekalongan belum sepenuhnya diterapkan  pada masing-masing fungsi keluarga, karena dilihat dari hasil yang telah dilakukan terhadap 9 Informan utama yang diambil dari orangtua kelompok remaja rentan triad krr, orangtua kelompok remaja biasa dan orangtua kelompok remaja berprestasi menunjukkan bahwa masih ada beberapa fungsi keluarga belum diterapkan sesuai pedoman 8 fungsi keluarga BKKBN. Terdapat kekurangan dalam penerapan fungsi lingkungan, dan pendidikan seks serta pemahaman tentang sebab akibat penyalahgunaan narkoba, hiv & aids. Pelaksanakan strategi dari pengelola Program GenRe terkendala dana operasional dan media pembelajaran yang kurang efektif. Saran. Dirumuskan 6 Strategi penguatan 8 fungsi keluarga dalam pencegahan Triad KRR.Kata Kunci : Strategi, Penerapan 8 Fungsi Keluarga dalam Pencegahan Triad KRR, Kota Pekalongan
Prevention and control of diabetes mellitus complications in productive population in rural Nurlatif, Rr. Vita; Sumardiyono, Sumardiyono; Rahardjo, Setyo Sri
International Journal of Public Health Science (IJPHS) Vol 13, No 1: March 2024
Publisher : Intelektual Pustaka Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11591/ijphs.v13i1.23424

Abstract

In Pekalongan Regency, Central Java, Indonesia, cases of productive population with diabetes mellitus have rapidly increased over the past three years. With regard to individual-based problems prevention and management, this is not sufficiently balanced. From the standpoint of the provider, this study examines attempts to prevent and control diabetes mellitus in productive population, including obstacles and limitations. With a focus on three rural areas (Wiradesa, Tirto I and Kedungwuni I Sub-Districts), qualitative study included 75 productive-age diabetics and 30 breadwinners. In-depth interviews and focus group discussions were used to gather data, which was then thematically analyzed. Three rural locus with the highest prevalence of diabetes mellitus in productive population were found in the results. Through screening for non-communicable diseases at integrated service post (Posyandu), chronic disease management programs and cross-sectoral activities, there are numerous initiatives for the prevention and management of complications. The challenges include constantly changing programmers, programmers with many assignments, inadequate target awareness and low motivation, as well as a worse recording and reporting system. Such that fundamental information on both individual and public health cannot be accessed. Based on individual emphasis, recording and reporting, several programs for complication prevention and management are required to identify the range of non-communicable diseases.
Boosting Perceptions of the Benefits of Complication Prevention in Reproductive Age Diabetes Mellitus Patients via Self-Talk Affirmation Intervention Vita Nurlatif
Oshada Vol. 1 No. 3 (2024): Oshada Journal - June
Publisher : PT. Anagata Sembagi Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62872/x7szjb48

Abstract

Diabetes mellitus is a chronic disease that lasts a long time and requires high adherence and self-discipline to carry out comprehensive self-care management to control blood glucose levels and prevent further complications. The practice of self-management requires knowledge or literacy and a positive mindset that is supported by good self-confidence for DM sufferers to be able to do it. Several studies have only examined aspects of physical intervention, such as providing physical activity (DM gymnastics) and education on medication adherence, but there are still few interventions that provide mindset strengthening in the form of self-talk affirmations in order to form a positive perspective on the perception of the benefits of preventing DM complications in sufferers. The study's objective was to ascertain whether using self-talk affirmations would improve DM patients' perceptions of the benefits of preventing complications in Pekalongan Regency, Central Java, Indonesia. 158 individuals with DM participated in this study using a cross-sectional quantitative research approach and a pre-post test sample design. A questionnaire was utilized for data collection, and a Paired T-test for data analysis, which assessed patients' perceptions of the benefits of preventing DM complications either before and after receiving affirmative self-talk therapies. Patients' perceptions of the benefits of preventing DM complications are influenced by the results of self-talk and self-affirmation interventions; there is a difference in the mean score of perceived benefits before and after the intervention. For patients with DM who are of working age, self-talk affirmations might be included to a list of self-management interventions.
PENGARUH EDUSTACNO (GAME STACKO UNO) DIABETES MELLITUS TERHADAP PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN SIKAP PADA SISWA SMAN 1 KEDUNGWUNI KABUPATEN PEKALONGAN Priyanto, Edi; Nurlatif, Rr. Vita; Wahyuningsih, Wahyuningsih; Priharwanti, Ardiana
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.47241

Abstract

Kasus diabetes mellitus meningkat selama 2 tahun terakhir di wilayah Kedungwuni. Berdasarkan data skrining kesehatan Puskesmas Kedungwuni tercatat sebanyak 3 remaja SMA yang dikategorikan kedalam prediabetes. Diabetes mellitus berlangsung disebabkan gaya hidup tidak sehat, kurang aktivitas fisik, merokok, serta asupan makanan tinggi kalori. Selain itu, pengetahuan remaja terkait penyakit diabetes mellitus masih kurang. Penelitian ini bermaksud guna mengetahui pengaruh pemberian edukasi kesehatan diabetes mellitus remaja melalui game stacko uno terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap siswa SMAN 1 Kedungwuni. Penelitian ini memakai desain quasi eskperiment one group pre-test – post-test. Penelitian ini dilangsungkan melalui penyebaran kuesioner dengan jumlah responden 60 siswa. Kuesioner mencakup pertanyaan pengetahuan diabetes, faktor resiko, gejala, dan pencegahan diabetes. Data dianalisis univariat dan bivariate (uji Wilcoxon) bersamaan memanfaatkan SPSS 26.0 untuk Windows. Hasil penelitian menandakan jika terdapat peningkatan skor pengetahuan dari rata-rata 10.08 (pretest) menjadi 17.15 (posttest), dengan nilai signifikansi p = 0.000. Peningkatan skor juga terjadi pada variabel sikap dari rata-rata 32.07 (pretest) menjadi 33.58 (posttest), dengan nilai signifikansi p = 0.017. Disimpulkan bahwa terdapat pengaruh dari pemberian edukasi kesehatan diabetes mellitus melalui game stacko uno terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap siswa SMAN 1 Kedungwuni.
Analisis Risiko HIRARC pada Proyek Pembangunan Jalan di PT X Fidya Rahmadani; Rr. Vita Nurlatif; Dewi Nugraheni; Restu Mastuti
Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol. 1 No. 2 (2025): Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan
Publisher : PT Pustaka Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71417/galen.v1i2.112

Abstract

HIRARC adalah metode manajemen risiko dengan cara mengidentifikasi potensi bahaya, menilai risikonya, dan mengendalikannya. Proyek pembangunan jalan di PT X terdiri dari berbagai jenis pekerjaan, yang masing-masing memiliki potensi bahaya dan risiko keselamatan kerja yang perlu diidentifikasi serta dikelola secara sistematis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bahaya, melakukan penilaian risiko, dan mengendalikan bahaya pada proyek konstruksi jalan. Penelitian ini menggunakan metode observasional deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi lapangan, telaah dokumen, dan wawancara mendalam. Informan dalam penelitian ini berjumlah 6 orang, terdiri dari 3 informan utama dan 3 informan pendukung. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa terdapat 4 jenis kegiatan kerja dalam penelitian ini. Identifikasi bahaya dilakukan menggunakan metode HIRARC, yang menghasilkan temuan bahwa jenis dan sumber bahaya pada setiap kegiatan kerja bervariasi sesuai dengan karakteristik masing-masing pekerjaan. Penilaian risiko dilakukan dengan menggunakan kriteria penilaian tingkat keparahan (severity) dan kemungkinan (likelihood), di mana kedua parameter tersebut diukur dan dikombinasikan untuk menentukan tingkat risiko secara kuantitatif. Selanjutnya, langkah-langkah pengendalian risiko disusun berdasarkan prinsip hierarki pengendalian untuk meminimalkan potensi bahaya. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa setiap jenis pekerjaan memiliki karakteristik bahaya dan tingkat risiko yang berbeda, serta hasil penilaian risiko menunjukkan bahwa tingkat risiko dapat diturunkan dari kategori ekstrem dan tinggi menjadi risiko sedang dan rendah.
Empowering Kelon (Oncology Class) in Screening and Early Detection of Breast Cancer in The South Pekalongan Health Centre Working Area Isrofah Isrofah; Dani Prastiwi; Rr. Vita Nurlatif; Irene Dwitasari Wulandari
Journal of Community Service and Empowerment Vol. 6 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/jcse.v6i1.33976

Abstract

Breast cancer has the highest incidence of all cancers in Indonesia. Breast cancer is a type of cancer that often occurs in women, especially in women who are close to 50 years old. Breast cancer in Indonesia is often found in an advanced stage and is already difficult to treat. Efforts can be made to reduce the incidence of advanced breast cancer by conducting routine breast examinations. Early screening measures need to be done to detect abnormal cells before they develop into deadly cancer. With these examinations carried out regularly, the discovery or screening and early detection can reduce the incidence of advanced breast cancer. The aim of this activity is to increase the knowledge and skills of the health cadres so that they can become proficient in conducting the BSE examination. Furthermore, cadres are also expected to be able to teach other women of childbearing age in the area where they live. This activity was carried out at the South Pekalongan Health Center, which was attended by 34 cadres of Posbindu South Pekalongan Health Center in the form of counseling with lecture and question and answer methods and demonstrations on Breast Self Examination (BSE). Pretest and Postest were conducted to measure cadres' knowledge before and after education. The results of this level of service can increase the knowledge of respondents, which initially the majority of respondents' knowledge level in the poor category was 66% in the poor category and after being given education the level of knowledge became 90% in the very good category. Similar activities are needed for coaching posyandu cadres to have health maintenance skills, especially screening and early detection of breast cancer. Of course, support and participation from residents and village officials are needed.
Determinan kemandirian lansia dalam melakukan activity daily living (ADL) Nadia Fudhiati; Rr. Vita Nurlatif; Dewi Nugraheni
JOURNAL OF Qualitative Health Research & Case Studies Reports Vol 6 No 3 (2026): March Edition 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/quilt.v6i3.2507

Abstract

Background: Elderly individuals 60 years experience physical and cognitive decline that may reduce independence in Activities of Daily Living (ADL). Purpose: To identify factors associated with elderly independence in ADL. Method: A quantitative descriptive study with a cross-sectional design was conducted among 82 elderly respondents. Data were collected using questionnaires and analyzed using chi-square tests and contingency coefficients. Results: Analysis indicates significant relationships between the elderly's level of independence and factors such as age (p=0.003<0.05), gender (p=0.037<0.05), physical health (p=0.000<0.05), social aspects (p=0.015<0.05), economic status (p=0.023<0.05), cognitive function (p=0.014<0.05), and family support (p=0.030<0.05). Conclusion: Elderly independence in ADL is influenced by demographic characteristics, physical health, social and economic factors, cognitive function, and family support.   Keywords: ADL; Cognitive Function; Elderly Independence; Family Support.   Pendahuluan: Lansia dengan umur 60 tahun mengalami penurunan fungsi fisik dan kognitif yang dapat memengaruhi kemandirian dalam melakukan Activity of Daily Living (ADL). Tujuan: Untuk mengetahui determinan kemandirian lansia dalam melakukan ADL. Metode: Penelitian kuantitatif deskriptif dengan desain cross-sectional dilakukan pada 82 lansia. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan uji chi-square serta koefisien kontingensi. Hasil: Analisis menunjukkan adanya hubungan signifikan antara tingkat kemandirian lansia dengan faktor umur (p=0.003<0.05), jenis kelamin (p=0.037<0.05), kesehatan fisik (p=0.000<0.05), sosial (p=0.015<0.05), ekonomi (p=0.023<0.05), fungsi kognitif (p=0.014<0.05), dan dukungan keluarga (p=0.030<0.05). Simpulan: Kemandirian lansia dipengaruhi oleh faktor demografis, kesehatan, sosial ekonomi, fungsi kognitif, dan dukungan keluarga.   Kata Kunci: ADL; Dukungan Keluarga; Fungsi Kognitif; Kemandirian Lansia.
Risk factors for infant mortality in the working area of the community health center Lailatul Khofiva; Nur Lu&#039;lu Fitriyani; Rr. Vita Nurlatif; Nur Hilal
THE JOURNAL OF Mother and Child Health  Concerns Vol. 4 No. 11 (2026): February Edition
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mchc.v4i11.2590

Abstract

Background: Infant Mortality Rate (IMR) remains a key indicator of public health and health development. In 2024, Wonopringgo Primary Health Care recorded the highest infant mortality in Pekalongan Regency. Purpose: To identify risk factors associated with infant mortality in the Working Area of the Community Health Center Method: A quantitative case-control study was conducted. Data were analyzed using the chi-square test, Odds Ratio (OR), and 95% Confidence Interval (CI). The study population is all mothers who give birth to babies in the working area of the Wonopringgo Health Center. The research sample consisted of two groups, namely the case group (mothers who experienced infant deaths) and the control group (mothers with live babies). Sampling was carried out using the total sampling technique in the case group and a 1:1 ratio between cases and controls according to the inclusion and exclusion criteria that have been set. Results: Maternal education (p=0.000;OR=21.429),maternal employment (p=0.006; OR=5.950), gestational age (p=0.033; OR=3.852), Antenatal Care (ANC) visits (p=0.014; OR=4.911), maternal health history (p=0.035; OR=4.911), and travel time to health facilities (p=0.007; OR=5.714) were significantly associated with infant mortality. Conclusion: Infant mortality is influenced by maternal social factors, pregnancy conditions, health service utilization, and access to health facilities.
Penguatan Literasi Kesehatan dan Keselamatan Berkendara pada Kader Kesehatan Sebaya sebagai Upaya Pencegahan Perilaku Berisiko di SMAN 1 Bandar Dhiya Ayu Paramitha; Mutiara; Dyah Ayu Nurul Jannah; Imelia Febriliyanti; Elica Qothriena; Naufal Ilham Pangestu; Haritsah Baihaqi; Rr. Vita Nurlatif
PROGRESIF: Jurnal Pengabdian Komunitas Pendidikan Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36406/progresif.v6i1.468

Abstract

Adolescence is a transitional period that is vulnerable to various risk behaviors, including unsafe sexual activity, infectious diseases (HIV/AIDS, tuberculosis, malaria), and traffic accidents. This community service program aims to improve the effectiveness of comprehensive health education in strengthening health and safety literacy among peer health cadres (PMR) at SMAN 1 Bandar as a strategy to prevent risk behaviors. This study employed a quantitative approach using a one-group pretest-posttest design involving 50 PMR members. Data were collected using multiple-choice questionnaires administered via Google Forms. The intervention was delivered through interactive lectures and educational posters. The results showed an increase in knowledge levels, with the “Good” category rising from 62.0% to 88.0%, the “Moderate” category decreasing from 34.0% to 12.0%, and the “Poor” category declining from 4.0% to 0.0%. Comprehensive education has proven effective in consolidating the understanding of peer cadres, enabling them to possess credible literacy to act as peer educators.