Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Socioeconomic factors associated with divorce rates in Indonesia: Education, Employment, and Poverty Fatimah, Olivia Nur; Lestari, Soetji; Martono, Nanang
SOSIOHUMANIORA: Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 12 No 1 (2026): February 2026
Publisher : LP2M Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/sosio.v12i1.20822

Abstract

Divorce is a social phenomenon that remains one of the most important issues in the world, including in Indonesia. Some residents in Indonesia experience divorce. Data on divorces reported by BPS in 2024 shows that the divorce rate varies in each province. This phenomenon of divorce is caused by several underlying factors. This study aims to analyze the factors that influence divorce, such as average length of schooling, female labour force participation rate, unemployment rate in a region, and percentage of poor people. This study uses quantitative secondary data analysis methods. The data was analysed using product moment correlation calculations. The variables analyzed were the divorce rate; average length of unschooling; female labour force participation rate; unemployment rate; and percentage of poor population. Based on the research results, it shows a positive relationship between average years of schooling and divorce rates; there is a positive relationship between female labor force participation rates and divorce rates; there is a positive relationship between unemployment rates and divorce rates; and there is a positive relationship between the percentage of poor population and divorce rates.
Tradition and Technology: The Adaptation of Social Reciprocity in Digital Invitations in Sindangagung Village, Kuningan Regency, West Java Muhammad Ihsan Aulia Rahman; Lestari, Soetji; Sutoyo, Ignatius Suksmadi
Asketik: Jurnal Agama dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): Asketik: Jurnal Agama dan Perubahan Sosial
Publisher : Prodi Sosiologi Agama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/asketik.v9i2.3069

Abstract

This study aims to analyze Generation Z’s perspective in interpreting reciprocity within the Kuningan kondangan tradition in the digital era. This phenomenon is significant to examine following the emergence of digital invitations, which have transformed conventional patterns within the Kuningan kondangan tradition. These changes have created new dynamics in the way Generation Z maintains reciprocal relationships. The theoretical framework used to analyze the findings is the theory of the gift proposed by Marcel Mauss. This research employs a qualitative approach with a descriptive method. Data were collected through non-participant observation, semi-structured interviews, and documentation. Informants were selected using the snowball sampling method, beginning with one member of Generation Z involved in reciprocal practices within the kondangan tradition, with the criterion of having experienced both giving and receiving in the tradition. The initial informant then recommended other participants, gradually forming a network of respondents. Data analysis was conducted using the analytical framework of Miles, Huberman, and Saldaña. The findings indicate that digital invitations have become increasingly widespread, particularly among Generation Z. The emergence of digital invitations has transformed patterns of reciprocity in the Kuningan kondangan tradition, making them more investment-oriented and transactional in nature.
Pengalaman Sosial Lansia dalam Pembentukan Makna Kebahagiaan: Studi Kualitatif di Panti Sahita Mulya Permatasari, Sri Metaria; Lestari, Soetji; Martono, Nanang
Jurnal Ilmu Sosial Humaniora Indonesia Vol 5 No 2 (2025): JISHI - Desember 2025
Publisher : CV Infinite Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52436/1.jishi.346

Abstract

Jumlah lansia semakin meningkat setiap tahunnya. Hal itu menjadi persoalan ketika jumlah lansia lebih banyak daripada usia produktif. Lansia dianggap beban dan keputusan keluarga memasukan lansia ke panti juga dianggap wujud penelantaran. Penelitian ini ingin menunjukkan bahwa terdapat lansia yang merasa lebih bahagia ketika tinggal di panti. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengalaman sosial lansia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Metode pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi, dengan penentuan informan menggunakan teknik purposive sampling.  Analisis data dilakukan menggunakan analisis interaktif, melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa latar belakang keluarga memasukan lansia ke panti dipengaruhi oleh kondisi keluarga, kesehatan fisik dan mental yang membutuhkan perawatan intensif, serta ketiadaan keluarga inti. Lansia juga berhasil menemukan apa yang mereka sukai dan mampu memaknai hidupnya di panti. Lansia tetap bahagia dan mampu beradaptasi. Lansia menerima perubahan hidupnya, menjalankan aktivitas di panti, berbagi cerita dengan penghuni panti dan mampu memenuhi eksistensi diri. Dengan demikian, lansia terbebas dari perasaan terisolasi, keterasingan sosial, dan kurangnya akses layanan kesehatan. Lansia juga berhasil memaknai hidupnya di panti. Temuan ini berkontribusi untuk memperkaya kajian sosiologi keluarga untuk mengubah stigma negatif panti wredha menjadi ruang sosial yang adaptif bagi lansia.
Analysis of Reading Interest Among Adolescents in The Digital Age (A study at Sman 4 Bogor) Insan, Syahrul Maulana; Mintarti, Mintarti; Lestari, Soetji
Indonesian Journal of Digital Society is a scientific journal Vol 2 No 1 (2026): Volume 2, Nomor 1, Tahun 2026
Publisher : Department of Sociology, Universitas Nasional (Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47313/.v2i1.4348

Abstract

This study aims to identify factors that may enhance adolescents’ reading interest amid the current digital transformation. Conducted at SMAN 4, Bogor City, West Java, the research employs a descriptive-quantitative method with a proportionate random sampling technique. The sample includes 152 students drawn from a total population of 635. The findings reveal that education and parental involvement play pivotal roles in fostering reading interests, highlighting the profound impact of socialisation on individual behaviour. Furthermore, the study indicates that students’ reading preferences have expanded beyond traditional printed books to various digital platforms, such as web articles, digital comics, and social media. Finally, the results suggest that students’ habitus deeply influences the formation of reading interest. At the same time, advances in technology and the internet have fundamentally altered how high schoolers access and engage with literary resources.
Praktik Self-reward di Kalangan Mahasiswi FISIP Unsoed Syahla Zein Azizah; Niken Paramarti Dasuki; Soetji Lestari
PADARINGAN (Jurnal Pendidikan Sosiologi Antropologi) Vol 8, No 01 (2026): PADARINGAN : Jurnal Pendidikan Sosiologi Antropologi
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/pn.v8i01.16194

Abstract

Self-reward has become a widespread phenomenon among students, including female students of FISIP Unsoed. Self-reward is a way of self-love by giving rewards, appreciation, giving gifts, and appreciating efforts and achievements that have been passed. This study aims to describe the meaning and practice of self-reward among female students of FISIP Unsoed. This study uses a descriptive qualitative method. Data collection methods include observation, interviews, and documentation. A purposive sampling technique was used to determine informants with a total of 7 female students of FISIP Unsoed. The results of this study indicate that the meaning of self-reward among female students is as a form of appreciation for oneself for past achievements. Then, the practice of self-reward among female students is more often to buy food. In addition, the practice of self-reward is also carried out online, especially on Instagram. Instagram is a medium for self- actualization and self-expression when female students do self- reward. Female students have good control and boundaries in practicing self-reward.
Akses Hak Cuti Melahirkan: Studi Fenomenologi Perempuan Pekerja di Perusahaan Ritel Banyumas Jasmine Alifa Humaira; Tri Wuryaningsih; Soetji Lestari
SUPREMASI: Jurnal Pemikiran, Penelitian Ilmu-ilmu Sosial, Hukum dan Pengajarannya Volume 21, Nomor 2 (April 2026)
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/supremasi.v21i2.83371

Abstract

Penelitian dilatarbelakangi oleh masih ditemukannya ketidaksesuaian antara aturan hukum mengenai hak cuti melahirkan dengan praktik yang terjadi di lingkungan kerja. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pengalaman perempuan pekerja dalam memperoleh hak cuti melahirkan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi, berupaya menggali makna pengalaman informan. Informan dalam penelitian ini adalah perempuan pekerja yang pernah mengambil cuti melahirkan, serta informan pendukung dari pihak HRD. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara deskriptif melalui tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman pekerja dalam mengakses cuti melahirkan tidak seragam. Sebagian informan hanya menjalani cuti sekitar 45 hari di rumah, sementara sisa waktu cuti tetap diisi dengan bekerja. Informan juga tetap terlibat dalam pekerjaan selama masa cuti berlangsung. Pemahaman terhadap hak cuti melahirkan dipengaruhi oleh pengalaman kerja, interaksi dengan atasan, serta situasi di lingkungan kerja. Selain itu, perempuan pekerja menghadapi beban ganda antara tanggung jawab kerja dan domestik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemenuhan hak cuti melahirkan tidak hanya ditentukan oleh regulasi, tetapi oleh pengalaman nyata pekerja dalam memaknai dan menjalankannya di lingkungan kerja. Karena itu, diperlukan adanya pengawasan serta sosialisasi untuk meningkatkan pemahaman pekerja agar hak tersebut dapat diakses secara optimal. Penelitian ini berkontribusi untuk memperkaya kajian sosiologi dengan menunjukkan bahwa akses terhadap hak cuti melahirkan tidak bersifat netral, melainkan dipengaruhi oleh pengalaman sosial, relasi kerja, dan situasi sehari-hari pekerja.