Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Karakteristik Capaian Index Pemberdayaan Gender di Kabupaten/Kota Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dalam Pembangunan Masyarakat Berbasis Gender (PMBG) 2021 Firmansyah, Muhammad Abi; Lestari, Soetji
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v9i2.13822

Abstract

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan wilayah dengan Index Pemberdayaan Gender (IDG) paling baik dibandingkan dengan provinsi lain di Indoensia. Angka Index Pembangunan Manusia (IPM), Index Pembangunan Gender (IPG), Index Pemberdayaan Gender (IDG) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta secara keseluruhan sudah lebih tinggi dibandingkan skala nasional. Index Pemberdayaan Gender merupakan capaian atau indikator untuk mengukur terlaksananya keadilan dan kesetaraan gender berdasarkan partisipasi politik dan ekonomi; perempuan perlu diberdayakan sehingga pengarusutamaan gender (gender mainstreaming) harus menjadi tolak ukur dalam setiap program pemberdayaan manusia. Pengarusutamaan gender merupakan rangkaian strategi untuk mengintegrasikan perspektif gender dalam pengembangan dan pembangunan. Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai provinsi yang mendapatkan penghargaan Anugerah Parahita Ekapraya (APE) sebanyak tiga kali pada tahun 2016, 2018, dan 2021; hal tersebut menandakan bahwa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sudah baik dalam pemberdayaan gender melalui pengarusutamaan gender. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa karakteristik setiap wilayah Kabupaten/Kota di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta berdasarkan Index Pemberdayaan Gender (IPG) pada tahun 2021. Menggunakan metode penelitian studi pustaka. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemerataan belum dilakukan secara signifikan, walaupun pada beberapa wilayah sudah mencapai pembangunan dan pemerataan yang maksimal. Ketimpangan angka pembangunan terjadi di Kabupaten Gunung Kidul karena masih memiliki capaian pembangunan manusia berbasis gender yang sangat rendah (tertinggal) dari wilayah lainnya; sedangkan Kota Yogyakarta sudah memiliki capaian yang lebih tinggi dari akumulasi pembangunan wilayah provinsinya. Wilayah Kabupaten/Kota di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki karakteristk yang berbeda dalam Index Pemberdayaan Gender, pemerataan pembangunan dan pemberdayaan gender di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta belum merata.
Socioeconomic factors associated with divorce rates in Indonesia: Education, Employment, and Poverty Fatimah, Olivia Nur; Lestari, Soetji; Martono, Nanang
SOSIOHUMANIORA: Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 12 No 1 (2026): February 2026
Publisher : LP2M Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/sosio.v12i1.20822

Abstract

Divorce is a social phenomenon that remains one of the most important issues in the world, including in Indonesia. Some residents in Indonesia experience divorce. Data on divorces reported by BPS in 2024 shows that the divorce rate varies in each province. This phenomenon of divorce is caused by several underlying factors. This study aims to analyze the factors that influence divorce, such as average length of schooling, female labour force participation rate, unemployment rate in a region, and percentage of poor people. This study uses quantitative secondary data analysis methods. The data was analysed using product moment correlation calculations. The variables analyzed were the divorce rate; average length of unschooling; female labour force participation rate; unemployment rate; and percentage of poor population. Based on the research results, it shows a positive relationship between average years of schooling and divorce rates; there is a positive relationship between female labor force participation rates and divorce rates; there is a positive relationship between unemployment rates and divorce rates; and there is a positive relationship between the percentage of poor population and divorce rates.
Praktik Self-reward di Kalangan Mahasiswi FISIP Unsoed Syahla Zein Azizah; Niken Paramarti Dasuki; Soetji Lestari
PADARINGAN (Jurnal Pendidikan Sosiologi Antropologi) Vol 8, No 01 (2026): PADARINGAN : Jurnal Pendidikan Sosiologi Antropologi
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/pn.v8i01.16194

Abstract

Self-reward has become a widespread phenomenon among students, including female students of FISIP Unsoed. Self-reward is a way of self-love by giving rewards, appreciation, giving gifts, and appreciating efforts and achievements that have been passed. This study aims to describe the meaning and practice of self-reward among female students of FISIP Unsoed. This study uses a descriptive qualitative method. Data collection methods include observation, interviews, and documentation. A purposive sampling technique was used to determine informants with a total of 7 female students of FISIP Unsoed. The results of this study indicate that the meaning of self-reward among female students is as a form of appreciation for oneself for past achievements. Then, the practice of self-reward among female students is more often to buy food. In addition, the practice of self-reward is also carried out online, especially on Instagram. Instagram is a medium for self- actualization and self-expression when female students do self- reward. Female students have good control and boundaries in practicing self-reward.
Tradition and Technology: The Adaptation of Social Reciprocity in Digital Invitations in Sindangagung Village, Kuningan Regency, West Java Muhammad Ihsan Aulia Rahman; Lestari, Soetji; Sutoyo, Ignatius Suksmadi
Asketik: Jurnal Agama dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): Asketik: Jurnal Agama dan Perubahan Sosial
Publisher : Prodi Sosiologi Agama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/asketik.v9i2.3069

Abstract

This study aims to analyze Generation Z’s perspective in interpreting reciprocity within the Kuningan kondangan tradition in the digital era. This phenomenon is significant to examine following the emergence of digital invitations, which have transformed conventional patterns within the Kuningan kondangan tradition. These changes have created new dynamics in the way Generation Z maintains reciprocal relationships. The theoretical framework used to analyze the findings is the theory of the gift proposed by Marcel Mauss. This research employs a qualitative approach with a descriptive method. Data were collected through non-participant observation, semi-structured interviews, and documentation. Informants were selected using the snowball sampling method, beginning with one member of Generation Z involved in reciprocal practices within the kondangan tradition, with the criterion of having experienced both giving and receiving in the tradition. The initial informant then recommended other participants, gradually forming a network of respondents. Data analysis was conducted using the analytical framework of Miles, Huberman, and Saldaña. The findings indicate that digital invitations have become increasingly widespread, particularly among Generation Z. The emergence of digital invitations has transformed patterns of reciprocity in the Kuningan kondangan tradition, making them more investment-oriented and transactional in nature.
Pengalaman Sosial Lansia dalam Pembentukan Makna Kebahagiaan: Studi Kualitatif di Panti Sahita Mulya Permatasari, Sri Metaria; Lestari, Soetji; Martono, Nanang
Jurnal Ilmu Sosial Humaniora Indonesia Vol 5 No 2 (2025): JISHI - Desember 2025
Publisher : CV Infinite Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52436/1.jishi.346

Abstract

Jumlah lansia semakin meningkat setiap tahunnya. Hal itu menjadi persoalan ketika jumlah lansia lebih banyak daripada usia produktif. Lansia dianggap beban dan keputusan keluarga memasukan lansia ke panti juga dianggap wujud penelantaran. Penelitian ini ingin menunjukkan bahwa terdapat lansia yang merasa lebih bahagia ketika tinggal di panti. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengalaman sosial lansia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Metode pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi, dengan penentuan informan menggunakan teknik purposive sampling.  Analisis data dilakukan menggunakan analisis interaktif, melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa latar belakang keluarga memasukan lansia ke panti dipengaruhi oleh kondisi keluarga, kesehatan fisik dan mental yang membutuhkan perawatan intensif, serta ketiadaan keluarga inti. Lansia juga berhasil menemukan apa yang mereka sukai dan mampu memaknai hidupnya di panti. Lansia tetap bahagia dan mampu beradaptasi. Lansia menerima perubahan hidupnya, menjalankan aktivitas di panti, berbagi cerita dengan penghuni panti dan mampu memenuhi eksistensi diri. Dengan demikian, lansia terbebas dari perasaan terisolasi, keterasingan sosial, dan kurangnya akses layanan kesehatan. Lansia juga berhasil memaknai hidupnya di panti. Temuan ini berkontribusi untuk memperkaya kajian sosiologi keluarga untuk mengubah stigma negatif panti wredha menjadi ruang sosial yang adaptif bagi lansia.