Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

APLIKASI ASAP CAIR UNTUK MEREDUKSI LOGAM BERAT DAN BAKTERI PADA KERANG HIJAU (PERNA VIRIDIS) Kurniasih, Retno Ayu; Mujiyanto, Nevia Cahyani; Wildan, Muhammad Adam; Elian, Naufal Aufa
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 5 No. 3 (2021): JFMR
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2021.003.05.8

Abstract

Kerang hijau mampu bertahan hidup di perairan tercemar, sehingga daging kerang hijau dapat terkontaminasi baik logam berat maupun bakteri. Oleh karena itu, diperlukan suatu teknologi untuk mereduksi logam berat dan bakteri untuk meningkatkan mutu dan keamanan pangan daging kerang hijau. Salah satu teknologi yang dapat diterapkan adalah perendaman daging kerang dalam asap cair. Senyawa fenol, karbonil, dan asam organik yang terkandung dalam asap cair dapat berfungsi mereduksi logam berat dan sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektifitas jenis asap cair berbeda (bonggol jagung, tempurung kelapa, dan sekam padi) terhadap kadar logam berat (Cadmium  dan Cuprum) dan total bakteri serta pengaruh perendaman asap cair terhadap kadar proksimat dan nilai organoleptik daging kerang hijau. Larutan asap cair 10% (v/v) dengan rasio 1:1 (b/v) digunakan untuk merendam daging kerang hijau selama 30 menit selanjutnya dilakukan pencucian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman asap cair dapat mereduksi kadar Cadmium sebesar 14,58%, kadar Cuprum sebesar 46,29%, dan total bakteri sebesar 34,57 s.d. 50,57% pada daging kerang hijau. Perendaman asap cair tempurung kelapa menyebabkan daging kerang hijau memiliki kadar air terendah dan kadar protein tertinggi. Namun, perendaman asap cair juga menyebabkan penurunan nilai organoleptik terhadap rasa daging kerang hijau.
PRETREATMENT STRATEGIES FOR IMPROVED ASTAXANTHIN RECOVERY FROM CRAB CARAPACE WASTE: ENZYMATIC VS. STEAM-EXPLOSION METHODS Retno Ayu Kurniasih; Sri Raharjo; Rachma Wikandari; Andriati Ningrum
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 22, No 2 (2026): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijfst.22.2.182-189

Abstract

Crab meat pasteurization industries produce carapace waste containing astaxanthin. The carapace composition includes minerals, proteins, and chitin, which can hinder the astaxanthin extraction. This study investigated the effects of alcalase and steam-explosion pretreatments on the astaxanthin yield and antioxidant activity of astaxanthin extracted from the carapace powder. The alcalase pretreatment was determined using OVAT (One-Variable-At-A-Time) in a Completely Randomized Design, including particle sizes (20–100 mesh), carapace-to-alcalase ratios (1:1 up to 1:5 w/v), and hydrolysis times (10–180 min).  The steam-explosion pretreatment was carried out by heating carapace powder in a steam-explosion at 130–140 ºC for 3 min. Subsequently, astaxanthin was extracted using a sonicator with acetone 1:7 (w/v) at 50 ºC for 20 min. The best alcalase pretreatment results were obtained with a particle size of 80–100 mesh, carapace-to-alcalase ratio of 1:2 (w/v), and a hydrolysis time of 40 min, which increased the relative astaxanthin yield by 23.69% and had no significantly effect on IC50 compared to the control (unpretreated carapace). The steam-explosion pretreatment decreased the relative astaxanthin yield by 63.89%, but increased on IC50 by a factor of 2 compared with the control (indicating increased antioxidant activity). HPLC chromatograms showed that the main component of all extracts was trans-astaxanthin. The results suggest that alcalase pretreatment is a potential to increase the yield, whereas steam-explosion pretreatment is a potential to increase the antioxidant activity of astaxanthin extracted. The development of astaxanthin recovery technology and the utilization of carapace waste can support a sustainable blue economy.